Chapter VI: Terbiasa

"Duduklah, sebentar lagi sarapan akan tersaji," suara tegas Hiashi kali ini cukup untuk menekan penolakan Hidan.

Hanya dengan perkataan sederhana mampu mengancam Hidan yang kini terlihat membatalkan niat untuk keluar. Mengetahui dirinya kalah, pria itu merutuk dalam hati. Ia kembali menempati posisinya di sebelah Neji. Daripada mendudukkan diri, lebih pantas dikatakan menjatuhkan diri hingga suara berdebum terdengar.

Bukan tanpa alasan emosi Hidan tersulut pagi itu. Terlepas dari insiden semalam yang membuat dinding mulutnya terkoyak cukup lebar, percakapan beberapa menit lalulah yang berperan menaikkan sentimennya.

"Di perjanjian kita tidak tertulis kalimat yang melarangku untuk mengatakan aku adalah ayahnya Hime," ujarnya, kedua tangan terlipat di dada, bahasa tubuh untuk sebuah penolakan.

"Memang tidak tertulis, tapi kupikir kau tidak akan tega menghancurkan keinginan Hinata."

Alis Hidan menukik tajam. Tidak mungkin ia salah dengar. Bahkan nyeri di mulutnya sirna ditelan enigma. "Maksudmu?"

"Hinata berjanji untuk tidak lagi menghubungimu dan kau tidak boleh mengakui Hime sebagai anakmu; jika salah satu terjadi, maka tidak ada warisan untuk Hime dan kau juga akan—" Hiashi menggantung kalimatnya, tidak tertarik untuk melanjutkan. Naluri Hidan pun cukup kuat untuk segera mengisi kalimat selanjutnya dengan kata "mati". "Kalau kau tidak percaya, Neji akan memperlihatkan kertas perjanjian itu."

"Bahkan dengan anakmu sendiri, kau—!" Mengatakannya saja sudah cukup menguras semua perasaannya sehingga ia tidak sanggup lagi melanjutkan. Lantas yang dilakukan Hidan berikutnya hanya dengan mendelik tajam pada Neji yang cuma mengatakan separuh perjanjian Hiashi-Hinata.

Ketika tatapan Hidan berpindah ke Hiashi, tidak ada tampilan apa pun di wajah penuh garis itu, tetap datar seolah hatinya terbuat dari batu karang. Dari matanya, pancaran kedua ain polosnya tidak beriak sama sekali. Namun Hidan tidak terlalu pintar menangkap perubahan kecil pada pandangan Hiashi yang sejenak mengabur, sebelum kerjapan pelan kembali memfokuskan pandangannya.

"Terima perkataanku baik-baik jika kau memang menyayangi Hime… itu juga kalau kau memang benar-benar menyayanginya," ucap Hiashi datar, menutup kalimatnya, tidak membalas perkataan Hidan.

Hidan pun tidak berselera untuk menyela. Setiap sarafnya dipenuhi dengan cara berpikir Hiashi yang menurutnya tidak wajar. Meskipun ia telah sebatang kara sejak belia, ia tahu keluarga tidaklah sedangkal makna afeksi Hiashi.

Tidak lama, pintu terbuka, menampilkan Hime dalam pakaian terusan merah pudar dengan aksen setrip putih di ujung roknya. Untuk sesaat wajah gadis cilik itu merona karena mendapati dua pasang mata menatapnya, Hidan dan Neji. Sedangkan Hiashi, lebih memilih menenangkan pikirannya dengan memejamkan mata.

"Kau manis sekali."

Hiashi refleks membuka matanya saat suara Hidan meluncur ringan. Kepalanya sedikit bergerak demi melihat senyum tipis yang melengkung di wajah itu. Beberapa detik yang dibutuhkannya untuk menilai ekspresi Hidan sebelum Hidan menyadari atensi Hiashi terhadapnya.

"Apa aku juga tidak boleh mengatakannya?" tukas Hidan pelan namun cukup terdengar oleh dua pria lainnya.

Hiashi tidak menjawab. Setelah Hime mengisi posisinya di depan Neji, Hiashi memanggil dua pelayan untuk segera menyajikan sarapan. Tidak membutuhkan waklu lama hingga semua makanan tersaji. Menu yang tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

marduk 789—

"Pipi Paman kenapa?" Hime ingat betul sebelum ia jatuh tertidur, jejak samar kebiruan di pipi kiri itu belum ada.

"Dia terjatuh di kamar mandi." Alih-alih Hidan akan menjawab, ia keduluan Neji.

Hime mengangguk lalu kembali pada puzzle-nya. Sedangkan Hidan merutuk untuk kalimat Neji yang sama sekali tidak terdengar keren. Setidaknya ia bisa memberi jawaban yang lebih menarik perhatian gadis itu.

"Kenapa kau masih di sini?" tanyanya kesal pada Neji. Hidan yang selalu menguasai sofa hitam itu kini harus berbagi dengan Neji yang mengisi sisi kosong di sebelahnya. "Kau harusnya menemani Si Tua itu. Atau setidaknya memastikan jantungnya masih berfungsi dengan baik hingga pulang nanti."

"Kau perhatian juga rupanya." Lantas Neji dihadiahi kata mutiara dari Hidan. Neji menulikan pendengarannya. "Bisa dibilang pekerjaanku lebih fleksibel. Paman Hiashi sudah mempunyai pengacara perusahan, jadi aku hanya dipanggil jika itu berhubungan dengan privasi."

"Pekerjaanmu membosankan juga."

Neji mengangkat bahunya. "Tapi aku digaji, bukan malah berjudi lalu berutang ke mana-mana tanpa bisa membayarnya."

Hidan tertohok tepat di dada, namun cukup sadar untuk tidak mendaratkan pukulannya pada wajah datar Neji. Juga, Hime sesekali memandang ke arah mereka.

"Setidaknya aku pernah memotong lidah orang sepertimu." Neji menatapnya ganjil, merasa Hinata benar-benar gila bisa menyukai orang seperti itu. Hidan memutar kedua bola matanya. "Ya—ya, aku hanya bercanda. Jangan panggil polisi itu lagi." Hidan menyandarkan punggungnya. Kepalanya menumpu pada ujung sandaran sofa.

Tenten datang membawa dua gelas teh hangat dan meletakkannya di atas meja. Neji menjawab singkat dengan "terima kasih" sebelum gadis itu kembali pada Hime. Neji menatapnya cukup lama hingga pandangannya pun berpindah pada gelas tembikar. Di situlah ia seperti melihat senyum Hinata.

"Kenapa Hinata bisa menyukaimu…?" Dengan nada masih agak menggantung di ujung, kalimat itu sempurna menyusuri pendengaran Hidan sebagai satu-kesatuan.

"Kalau kau masih mau menyindirku, lebih baik kita membicarakan ini di tempat lain. Aku tidak sabar ingin memberi tanda yang sama di pipimu," ketusnya, fokusnya masih memantulkan langit-langit sewarna buah pinus muda.

"Aku serius, Bodoh."

"Aku tidak pernah ingat kau pernah memanggil namaku dengan benar."

"Pernah, sekali, waktu kita bertemu di bar pertama kali."

Hidan menegakkan kepala. Tumpukan gondok sudah cukup memberatkan raganya. "Bisakah kau tidak menjawabku terus?"

"Kukira kau butuh respons."

"Brengsek kau…!" Hidan mencoba menekan suaranya agar tidak terlalu terdengar. Nyerinya semakin menggigit saraf.

"Aku hanya teringat dengan wallpaper ponselmu. Selama ini aku mengira dia lebih menyukai orang yang tidak banyak bicara seperti dirinya."

Hidan mendengus, melupakan sejenak rasa perihnya. "Jika saja aku juga tahu jawabannya." Hablur violetnya terhenti pada Hime yang tampak sedang mencocokkan potongan puzzle. "Aku pertama kali bertemu dengannya di dalam gerbong kereta."

Neji menekukkan alis. "Kereta?" Sesuatu yang cukup aneh bagi seorang Hyuuga.

"Jika kau ingin mengetahui kenapa dia berada di kereta alih-alih di mobil mewah Hyuuga, maaf, aku tidak tahu jawabannya," akunya.

Ia pun kembali bercerita.

Pagi datang seperti hari-hari lainnya. Hidan pun terbiasa untuk menaiki kereta pagi, bersama rasa kantuknya setelah semalaman bekerja. Ia jarang mendapatkan tempat duduk, namun kali ini tampaknya hari keberuntungannya.

Selang beberapa menit, kereta mulai bergerak. Setiap gerbong telah disesaki oleh impitan manusia, termasuk gerbongnya. Walaupun begitu, tidak ada penumpang yang berminat untuk berbicara. Begitu hening sehingga rasa kantuk itu semakin mendera.

Sebelum ia benar-benar tertidur, matanya masih sempat menangkap sosok seorang siswi, berdiri di depannya dengan satu tangan menggantung pada pegangan, sedangkan tangan yang lain memeluk erat tasnya di dada. Saat itu Hidan belum mengenal dirinya sebagai Hyuuga Hinata.

Sebagai seorang pria, matanya pun refleks bergerak ke bawah. Rok seatas lututnya semakin tersingkap hingga memperlihatkan sebagian pahanya. Hidan mencoba menahan senyumnya agar terlihat tidak terjadi sedang apa-apa. Namun perempuan yang duduk di sebelah kirinya menyadari gelagat yang dicoba ditahannya. Hidan pun memalingkan wajahnya, malu.

Tidak terlintas sedikit pun niat melepaskan tempat duduknya untuk Hinata. Setidaknya siswi itu masih mampu berdiri, tidak seperti dirinya yang memang pantas mendapatkan tempat duduk.

Saat ujung matanya menangkap gelagat aneh dari Hinata, Hidan bertanya (yang cukup menarik perhatian penumpang lain), "Kau tidak apa-apa?"

Gadis itu hanya menggeleng sebagai respons singkat. Namun jelas wajahnya menampilkan kegelisahan dan Hidan pun cukup mampu menangkap raut itu sebagai sesuatu yang tidak baik.

Hidan mendesah panjang. Ia tahu permasalahnnya, bukan sekali kasus yang sama terjadi. Dan kali ini ia tidak mau menutup mata lagi.

Rasa jengahlah yang menjadi alasan pria itu berdiri. Ia lantas menarik tangan Hinata, membuatnya duduk di kursinya. Tidak bisa dikatakan sebagai tindakan yang halus, atau lebih pantas dikatakan dengan "Hidan mendorongnya hingga Hinata terduduk di kursinya".

Gerakannya yang cepat dan tiba-tiba itu tidak sia-sia. Satu tangan asing melesat cepat, tapi Hidan berhasil menangkapnya sebelum tenggelam dalam kerumunan. Dengan sekali tarikan kuat, sosok pria tua berjas hitam muncul kemudian. Tanpa sempat memberi waktu untuk penumpang lain menerka permasalahannya, Hidan lebih dulu mendaratkan pukulannya, sekali, cukup bertenanga.

Kereta meriuh. Tidak ada yang berani menegur siapa pun hingga keadaan kembali kondusif seperti sedia kala. Sebagai gantinya, mereka harus turun di pemberhentian berikutnya.

"Ma-maaf…."

Alih-alih menjawab, Hidan lebih memilih untuk menghindari pandangan Hinata. Walaupun ia berdiri sekarang, ia tidak yakin harinya tidak seberuntung hari-hari sebelumnya (walaupun setelah turun nanti ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya). Mata itu pun terpejam, dengan tangan yang masih menggantung menggenggam pegangan kereta. Ia benar-benar lelah sekarang.

Di sisi lain, Hinata dapat leluasa menilai pria yang sedang berdiri itu. Pakaiannya begitu berbeda di antara seragam, jas, dan blazer yang didominasi warna hitam. Ia hanya memakai jaket abu-abu dengan kaus biru tua. Tiga tindik logam menembus telinga kanannya dan rambut perak yang juga terlihat mencolok pandangan. Tipe-tipe yang harusnya ia hindari, tapi orang seperti itulah yang telah menolongnya alih-alih orang-orang yang berpenampilan normal lainnya.

Ada penyesalan yang mengintari Hinata. Jika saja ia membiarkan hari-harinya berjalan seperti biasa, tidak akan ada masalah yang terjadi. Apalagi mengingat ayahnya bisa saja akan terlibat dan itu merupakan hal yang buruk.

Namun, pusanya berkata lain. Entah mengapa hatinya menghangat. Mungkin dalam waktu dekat ini ia akan kembali menaiki kereta, hanya untuk menemui penolongnya.

Neji terdiam cukup lama. Sempat tidak memercayai cerita Hidan, namun ia merasa Hidan tidak sedang berbohong. Pastilah ia merupakan orang kedua yang tahu tentang hal itu.

"Sejak itu, sesekali kami bertemu di kereta dan hubungan kami berjalan begitu saja tanpa begitu kuingat setiap momennya."

"Dan kau tidak tahu dia seorang Hyuuga?"

"Aku tahu. Hinata menyebutkan nama lengkapnya, tapi aku tidak curiga, menganggap Hyuuga-nya hanya nama keluarga biasa yang kebetulan sama dengan nama perusahaan. Siapa pun akan sulit percaya dia Hyuuga yang terkenal itu jika dia tidak pernah mengeluh dengan kehidupanku yang jauh dari mewah."

Neji menangkap sulur-sulur nostalgia dari pandangan Hidan terhadap Hime. Seolah, memori lamanya tertampil begitu saja pada Hime dan seolah dia hanya menceritakan kembali sinema itu pada Neji yang tidak dapat melihat apa pun.

Senyum tipis terbentuk di wajah Neji. Cukup tipis hingga tidak ada yang menyadarinya kecuali dirinya sendiri. Matanya terpejam dan untuk dua detik kemudian terbuka kembali, dengan pandangan yang sama, namun ada beberapa anggapan terhadap Hidan yang berubah, tanda-tanda membaik. Agaknya ia telah menemukan satu alasan bagus kenapa ia harus tetap membantu pria di sebelahnya.

marduk 789—

Malam itu salju turun lagi, sesuatu yang cukup jarang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Hidan terbangun, tidak teringat sudah berapa jam ia tertidur di sofa. Neji telah menghilang entah ke mana, tanda-tanda keberadaannya juga nihil. Hiashi pun sepertinya belum pulang.

Tubuhnya terasa lebih berat dan seperti ada tekanan di perutnya yang membuatnya agak sulit menarik napas. Ketika ia setengah bangkit dengan kedua siku sebagai tumpuan, ia menemukan permasalahannya, kepala Hime dan sebagian tubuh atasnya terbaring di atas perutnya. Satu selimut hijau muda menutupi tubuh bagian belakangnya.

Hidan mengedarkan penglihatan pada sekeliling—barangkali menemukan Tenten yang masih ada dalam jarak pandang, namun tidak menemukan siapa pun. Ia menghela napas sebelum mata itu tertahan pada Hime.

Sofa hitam itu cukup lebar jika hanya menampung Hime, namun dengan tubuh Hidan yang memakan sebagian besar ruang, membuat sebagian tubuh Hime berada di ujung. Hidan bangkit dengan gerakan amat pelan dan hati-hati agar gadis Hyuuga itu tidak terbangun dan terjatuh.

Setelah berhasil mendudukkan diri di atas lantai, Hidan dengan pelan mengubah posisi tidur Hime hingga gadis itu dapat tidur dengan layak. Dengan dagu yang tertahan di atas permukaan sofa, lama pria itu memandangi wajah pulas Hime. Satu tangannya terangkat. Dan ia terkekeh pelan setelah sadar indra perabanya sedang menyentuh pipi kenyal itu. Hime benar-benar mengingatkannya pada Hinata.

"Pasti akan lebih menyenangkan jika kau memanggilku 'Ayah'." Hidan melepas napas panjang. Hanya itu keinginan kecilnya sekarang, tapi tampak begitu sulit dicapai, atau mungkin sama sekali tidak akan tercapai.

Membayangkan dalam beberapa bulan atau tahun ke depan, ketika hatinya telah dinyatakan patut untuk didonorkan, apakah ia akan kembali pada denyut kehidupannya dahulu? Atau mungkin ia akan dilenyapkan dari dunia (mengingat Hyuuga dapat melakukan apa pun yang diinginkan)?

Sayangnya, bayangan Hidan belum mencapai titik itu. Di satu sisi, ia ingin segera mendonorkan hatinya; namun di sisi lain, ia tidak ingin kebersamaan mereka lepas begitu saja, seperti yang terjadi pada dirinya dan Hinata. Jikapun itu harus terjadi, ia sungguh belum mempersiapkan diri. Dan rasanya akan membutuhkan waktu yang amat panjang untuk sekadar menerima kata "terbiasa".

Pilihan untuk dilenyapkan akan terdengar sangat masuk akal demi mengisi alasannya yang tidak dapat berpisah.

bersambung—