Chapter VII: Pertanyaan
"Ta-tapi, Tuan Hidan, Hime tidak—"
"Aku yang akan bertanggung jawab, kau tenang saja."
"Tetap saja…."
Hidan baru saja selesai memakai sepatunya ketika Hime muncul dari arah koridor kediaman utama Hyuuga. Gadis itu telah bersiap dengan semangat yang terlukis dari senyum lebarnya. Dari sebalik mantel merah marun seatas lutut, terpasang juga baju terusan ungu yang terlihat padu dengan stocking hitam yang melindungi kaki kecilnya. Ada tas sandang berkepala kucing yang tersampir di tubuhnya.
Hidan membalasnya dengan senyum yang sama, sedangkan perasaan Tenten tidak kunjung membaik melihat nonanya semakin mendekati mereka.
"Tenang saja, kalau kau sampai dipecat, aku akan memberikan sebagian uang per bulanku untukmu. Tapi kupikir, kau tidak akan dipecat."
Tenten tidak mengerti dengan kalimat terakhir Hidan yang terdengar ganjil. Alih-alih memberi jawaban pada alis menekuk Tenten, Hidan beralih pada Hime yang kini sedang memasang sepatu bot berwarna sama dengan mantelnya.
"Kalau begitu aku harus ikut."
Segera saja sebelum Tenten bergerak, Hidan menghentikannya. "Kau tidak boleh ikut." Pria itu lantas mengeluarkan secarik kertas dari saku mantelnya lalu memberikannya pada Tenten. "Segera telepon aku kalau Si Tua atau Neji akan pulang. Selagi kau masih tutup mulut, kita akan aman."
Tenten mendesah. Sesering apa pun Neji memarahi atau Hiashi yang memandang rendah pada Hidan, pria itu tidak sedikit pun memedulikannya.
Ia pun mengarahkan pandangannya pada Hime yang terlihat begitu antusias. Belum pernah ia melihat ekspresi gadis Hyuuga itu begitu cerah hingga sekiranya dapat menguapkan sisa-sisa musim dingin yang baru beberapa hari terlewat.
Ia memejamkan mata sejenak, menghela napas pendek, kemudian berujar, "Setidaknya aku harus tahu Anda akan ke mana." Walaupun sebenarnya, seulas senyum Hime telah cukup untuk menenangkan hatinya.
Hime telah selesai dengan kedua sepatunya. Hidan lantas mengulurkan tangannya yang langsung diterima oleh gadis Hyuuga itu.
"Aku hanya mengajaknya jalan-jalan di sekitar sini. Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya."
Dan tanpa diminta pun, Tenten telah tahu Hidan akan menjaganya, sebagai seorang ayah.
—marduk 789—
Hidan sedang menyeruput minuman hangatnya ketika matanya menangkap pandangan Hime yang mengarah ke luar dinding transparan kafe. Ia pun mengikuti apa yang dilakukan Hime.
Awalnya, ia hanya melihat secara keseluruhan suasana luar ruangan yang tidak begitu ramai. Pikirannya otomatis menyimpulkan tidak ada yang menarik di sana. Namun saat ia kembali memandang anaknya itu, Hime masih terpaku dengan keadaan yang sama. Jelas ada sesuatu yang menahannya di sana yang kini coba dicari Hidan dengan teliti.
Pandangan pertamanya tertuju pada seorang pria berjas hitam yang sedang sibuk menelepon dengan gelagat gelisah dekat tiang kurus lampu jalan, sesekali lengannya terangkat demi menatap jam di tangannya. Rasanya bukan itu penyebabnya.
Pandangan selanjutnya berpindah pada sebuah bus yang baru berhenti di halte yang berada tidak jauh dari kafe. Melihat hanya seorang gadis muda bersama wanita tua yang turun dari bus, Hidan ragu Hime sedang memandang ke sana.
Tidak pun pada kedua aktivitas acak yang dilihatnya, ia mencoba menelisik lebih jauh pada apa-apa saja yang mampu menahan ain ungu anaknya untuk bergulir. Di sanalah ia berhenti, pada sebentuk toko dengan dominasi warna cokelat dan terdapat plang bergambar beberapa cokelat batangan kecil yang dipersonifikasi dalam bentuk karakter lucu. Toko itu tidak berada jauh dari kafe, saling berhadapan, hanya dipisahkan oleh jalan yang membelah jarak mereka.
Agak bergeser sedikit dari plang, terlihat tiga anak perempuan berseragam sekolah dasar yang tampak sedang berdiskusi satu sama lain sebelum akhirnya memasuki pintu toko. Dan Hidan pun teringat dengan pembicaraan beberapa bulan lalu, tentang Hime yang ingin bersekolah.
Hime mendesah pelan. Pandangannya pun kembali pada Hidan. Ketika itu pula ia baru menyadari pria itu sedang melakukan hal yang sama. Wajahnya agak menghangat.
"Apa kau membawa tiketmu?" tanya Hidan.
Hime mengangguk. Tentu saja ia membawanya. Hari ini adalah hari yang dijanjikan Hidan untuk menceritakan tentang ibunya. Tapi ia tidak begitu mengerti mengapa pria itu bertanya tentang tiketnya yang lain.
"Kau mau aku berjanji untuk sesuatu?"
"A-apa?"
"Aku berjanji, dalam dua tahun ini—" Hidan menggantung kalimatnya, terdengar ada yang ganjil dalam kalimatnya, bahkan bagi dirinya sendiri, "ah, maksudku, setidaknya pada musim semi tahun depan kau akan bersekolah seperti mereka."
Mata Hime membulat besar sehingga cincin Kayser-Fleischer-nya terlihat jelas—membuat hati sang ayah agak bergetar.
Kalimat yang diharapkannya sejak lama itu tidaklah datang dari kakeknya—yang memegang mutlak segala keputusan, melainkan dari orang asing yang menumpang di kediamannya dengan kedudukan yang belum jelas. Pun begitu, Hime tidak mempermasalahkannya, bahkan seperti ada yang membantunya untuk menulis ucapan Hidan pada kertas tiket yang sudah berpindah ke atas meja.
Dan Hidan kembali terpana pada senyum yang terpahat di wajah Hime. Ia sadar dengan ucapannya, meskipun itu berarti ia harus lebih giat lagi memperbaiki hatinya. Hal itu jauh lebih baik daripada harus melihat anaknya murung.
Tebakan Hidan memang tepat sasaran, namun ada satu hal yang ia lewatkan. Hime tidaklah sedang memandang pada ketiga murid tadi, melainkan jauh di dalam toko di depannya, pada rak-rak penuh permen dan gula-gula yang tidak pernah ia sentuh.
Lidah Hime pun tampak ragu untuk menyampaikan keinginannya. Hidan tidak mungkin harus terus berjanji untuknya, walaupun hanya Hidan yang dapat memberikan janji padanya. Selama ini, bukan sekali gadis Hyuuga itu secara tidak sengaja menemukan pria itu sedang mengamuk pada kakeknya karena dirinya.
Dengan segala hal yang dilakukan oleh Hidan dan dengan segala pertanyaan yang terus menumpuk, belum cukup memberanikan Hime untuk menanyakan alasannya. Ia merasa akan ada yang hilang nantinya jika terus menggali. Namun ia tidak yakin rasa penasarannya akan dapat tetap tertahan.
"Kenapa Paman bisa mengenal Ibu?"
Hidan menaikkan pandangannya dari pergerakan jemari Hime pada tiket yang baru digarapnya. Lantas tangannya mengusap kepalanya sendiri untuk merajut alasan.
"Hanya kebetulan saja kami bertemu lalu akrab."
"Akrab?" Hime menghentikan pekerjaannya, kepalanya menengadah, berpikir sejenak untuk kata yang belum pernah didengarnya.
"Err—maksudku 'berteman'."
"Kenapa Ibu mau berteman dengan Paman? Kakek tidak menyukai Paman."
"Mungkin jawaban ibumu akan sama dengan jawaban 'kenapa kau mau berteman denganku, padahal kakekmu tidak menyukaiku?'"
Yang Hime tahu, sejak pertama kali bertemu, Hidan telah menarik perhatiannya. Terlepas dari penampilannya yang begitu mencolok pandangan, ia terlihat begitu berbeda di antara penghuni rumahnya; tidak kaku, tidak juga dingin, ia seperti hidup dalam kehidupan tanpa aturan. Namun, untuk anak usia lima tahun sepertinya, cukup sulit menyampaikan semua itu dalam bahasa yang masih terbatas perbendaharaan katanya.
"Karena Paman baik." Itulah jawaban yang dapat diberinya.
Hidan membatu, memandang Hime cukup lama sebelum tawa terlepas dari kerongkongannya yang sempat tercekat. Setelah sadar, ia lantas mengiruh rambut anak itu untuk alasan yang tidak dimengerti. Hime berusaha menghentikan tindakan pamannya, namun gagal.
Kalimat Hime sungguh membawanya pada ingatan yang sempat terlupa.
"Karena kau baik."
Hidan tertawa mengejek. Tidak ada yang pernah memberikan kata "baik" untuknya dan ia pun tidak pernah menginginkannya. Ketika siang hari bisa tampak begitu gelap di matanya, akan terdengar lebih logis ketimbang premis gadis itu.
"Kau tidak mengenalku."
"Tapi kau membuatku mengenalmu, m-mengenal sifat aslimu."
"Itu karena kau terus menemuiku."
"T-tapi kau tidak menolaknya."
"Aku sudah menolakmu dua hari lalu."
Kalimat Hidan tepat mengenai luka batin Hinata yang belum sepenuhnya kering. Ada sedikit rasa bersalah setelah sadar ucapannya kembali menyakiti gadis itu. Ia kini hanya mampu melihat raut Hinata dari ujung matanya. Terlalu menyesal hingga dinginnya kaleng minuman telah berubah kebas di tangannya.
Hinata menunduk. Matanya terpaku pada kaleng minuman pemberian Hidan di tangannya, menggenggamnya kuat agar tidak lolos dari pegangan yang terasa mengendur.
"Ta-tapi sekarang… kau tidak menolak untuk menemuiku," gumam Hinata yang hampir kehilangan suara dan asanya.
"Karena aku tidak bisa melakukannya."Hinata menegakkan kepalanya. Ia seperti melihat harapan lain dari kalimat Hidan barusan. "Bukannya aku tidak senang kau menyatakan perasaanmu—mungkin aku adalah orang terbahagia saat itu, tapi aku tidak pantas mendapatkan orang sepertimu. Bukan sekali kebahagiaan yang datang padaku lenyap begitu saja dan jika kebahagiaanku adalah 'kau', aku tidak ingin kau juga lenyap."
Hinata meletakkan kalengnya pada sisi bangku. Jemarinya lalu beranjak menyentuh telapak tangan Hidan. Dengan gerakan pelan, ia lepaskan genggaman Hidan pada kalengnya. Pemuda itu tidak mengapkir. Ia membiarkan Hinata menghilangkan rasa kebasnya dengan genggamannya yang hangat.
"Dan jika kau tidak mengambil kebahagiaanmu, apa bedanya dengan 'lenyap' itu sendiri?"
Hidan mendesah pelan. Ia belum mampu membalas tatapan Hinata yang kini sedang menggali dalam pada kedua mata redupnya. Ia takut tidak akan dapat terlepas lagi. "Berbeda. Kau hanya menyimpulkan—"
Kehangatan telapak tangan Hinata berpindah pada kedua rahang kakunya hingga mau tak mau harus memandang kedua ain gadis itu. Di sisi lain, hatinya pun ikut menghangat. Ia kembali terperangkap dan kali ini ia harus menerima hatinya telah tertahan.
"Kau hanya menghindar, Hidan."
Hidan tersenyum, tidak tahu harus membalas apa. Tidak lama, gerakan lain datang dari Hinata. Ia memeluknya. Hidan cukup terkejut orang sepasif Hinata dapat melakukannya alih-alih dirinya. Yang ia lakukan selanjutnya hanya dengan menumpu ujung dagu tirusnya pada pucuk kepala Hinata.
Hinata dapat begitu saja membuka semua kartunya, Hidan pun tidak terlalu mahir menyembunyikan segalanya jika yang dihadapinya adalah Hinata, seperti lembaran-lembaran tipis kertas yang ditiup angin.
"Jangan salahkan aku, kau yang memaksaku. Tapi aku akan berusaha agar kau tidak lenyap."
Pelukan Hinata semakin mengerat. Hidan sadar, separuh hatinya telah terambil, namun ia tidak menyesal.
—marduk 789—
"Paman…?"
Hidan mengerjapkan matanya. Bayangan lama berangsur-angsur menghilang; Hime mulai terlihat jelas, menatapnya bingung, ia telah menyelesaikan tiketnya.
"I-iya?"
"Paman melamun."
"Maaf kalau begitu. Kau mirip dengan ibumu soalnya." Hidan pun kembali melepaskan tawanya.
Hime mengerucutkan bibirnya. Apakah hal lucu jika mirip dengan ibu sendiri?
"Tiketnya sudah jadi," gumamnya. Hime lalu menyodorkan tiket baru pada Hidan. Tulisannya masih tetap seramai tiket sebelumnya, kecuali pada isinya yang tertulis berbeda.
"Sepertinya tulisanmu membaik."
Hime mengangguk bangga. Sejak kejadian tulisannya yang diejek oleh Hidan, ia terus berlatih menghapal sebanyak mungkin huruf serta cara penulisan yang benar. Semua itu sudah terlihat hasilnya sekarang.
"Apa Paman membawa tiket Paman?"
"Bawa. Kenapa?"
"Mana?"
Hidan cukup kaget menerima sodoran tangan Hime. Rasanya ia belum bercerita banyak tentang Hinata.
Tanpa menunggu tangan itu menjulur lebih lama—dan bersyukur pertanyaan Hime tidak sesulit perkiraannya, Hidan segera mengambil dompetnya. Ia tidak sadar mata Hime secara tidak sengaja menangkap secarik foto yang tersemat di dompet hitam itu. Foto Hidan dengan… ibunya? Ibunya yang sedang memeluk tangan Hidan?
Hime mengarahkan pandangannya pada Hidan yang masih sibuk mencari-cari tiketnya. Ia lantas mengerjap pelan. Kali ini gadis Hyuuga itu benar-benar tidak ingin bertanya—atau begitulah keinginan yang sedang ia paksakan.
"Ini. Rasanya tidak sabar menerima bintang darimu."
Hime menggelengkan kepalanya pelan, ingin membuyarkan pertanyaan-pertanyaannya. Segera saja ia mengeluarkan stiker bintang dari dalam tas kepala kucingnya. Ia menempel stiker itu pada tiket Hidan lalu kembali menyodorkannya.
"Sekarang Paman boleh meminta sesuatu padaku."
Hidan memajukan tubuhnya. "Apa pun?"
"Apa pun."
Hidan terlihat berpikir. Belum ada gambaran apa yang sedang diinginkannya. Matanya kembali terfokus pada Hime yang sedang menunggu jawaban.
"Aku belum memikirkannya. Tapi suatu saat nanti aku akan menagihnya, jadi bersiaplah."
"Un."
Tidak lama, ponsel Hidan berdering. Layar menampilkan nomor yang tidak dikenal, namun ia dapat langsung menebak siapa si penelepon. Kepergian mereka memang sudah cukup lama.
"Iya?"
"Ini Tenten, Tuan Hidan. Tuan Neji akan segera sampai di rumah sepuluh menit lagi. Kau harus segera pulang atau—"
Belum sempat gadis di seberang menyelesaikan ucapannya, Hidan telah memutuskan sambungannya.
"S-siapa?" tanya Hime ragu.
"Untuk hari ini sampai di sini dulu. Kita harus pulang."
Hidan meninggalkan selembar uang di atas meja. Ia menarik tangan Hime untuk mengikutinya. Walaupun gadis itu belum puas dengan suasana kebebasan yang jarang ia dapatkan, ia tidak mengeluh. Hidan telah cukup baik membawanya keluar bahkan ketika keluarganya sendiri tidak punya waktu untuknya.
Hidan yang awalnya bergerak dengan tergesa-gesa—hingga Hime kesulitan menyamakan pergerakannya, melambat. Seorang pria berambut abu-abu gelap membuat langkah Hidan kini berhenti seketika. Jelas ia mengenal pria itu sebagai Sakon, salah seorang penagih utang yang sempat hampir mengeksekusi salah satu tangannya beberapa bulan lalu. Pria yang dimaksud pun turut merandek dari langkahnya.
"Kalau aku tidak salah, kau seharusnya Hidan," gumamnya dengan sedikit keraguan karena penampilan Hidan yang terlihat lebih segar. Matanya bergulir ke bawah, ke arah Hime yang terlihat bersembunyi di sebalik kaki jenjang Hidan, menganggap Sakon sebagai ancaman. "Pantasan saja kau tidak terlihat lagi tiga bulan belakangan di meja ju—"
"Aku tidak punya urusan denganmu."
Ketika Hidan akan melewatinya, Sakon menarik bahunya hingga ia harus kembali terhenti. "Sombong sekali kau. Apa karena malam itu kau dibantu oleh 'seseorang berjas'?"
Hidan menatapnya tajam, namun arah pandangan Sakon telah berpindah pada Hime. Hime semakin merapatkan dirinya dengan Hidan. Pria asing itu berhasil membuat Hime merasa semakin takut.
"Siapa namamu, Manis? Anak manis sepertimu cocok dengan cokelat. Apa kau mau?" tanyanya dengan sebuah seringai.
Hime tidak menjawab. Cokelat yang disodorkan Sakon mengusik hatinya untuk menerima makanan itu, namun ia tahan hasrat itu.
Tidak ingin Sakon terlalu banyak berkomunikasi dengan anaknya, Hidan lalu menggendong Hime. "Aku bisa membelinya sendiri jika gadis ini menginginkannya. Menyingkirlah."
"Baiklah, baiklah, aku mengerti," dengan nada menyerah, Sakon mundur selangkah, membiarkan Hidan melewatinya. "Kau tidak cocok dengan anak-anak, Hidan," bisiknya pada Hidan. Hime tidak dapat dengan sempurna menarik kalimat Sakon karena saking pelannya. Tapi ia dapat melihat dengan jelas raut pamannya yang berubah, seperti sedang menahan emosi.
Hidan mengabaikannya, walaupun kalimat itu telah menggores hatinya sebagai seorang ayah.
Dari gendongan, Hime memandang ke arah Sakon yang belum bergerak dari tempatnya. Hingga beberapa meter jarak yang telah dihasilkan langkah Hidan, Sakon melambaikan satu tangannya pada Hime. Gadis Hyuuga itu berdesir ngeri. Ia refleks memeluk leher Hidan, menyembunyikan wajahnya.
"Tidak usah takut. Aku akan melindungimu."
Hime mengangguk pelan. Kalimat demi kalimat yang terlontar dari Sakon terkilas di pikirannya. Kenapa Hidan mengenal orang menakutkan seperti itu? Kenapa?
Sayangnya, lagi-lagi Hime lebih memilih menahan pertanyaannya. Setidaknya kalimat terakhir Hidan membuatnya merasa tenang.
—bersambung—
A/N: UAS sudah lewat, tapi tidak yakin akan dapat meng-update dengan cepat setelahnya. Saya kembali ketagihan dengan dunia game. Ah, sial, kenapa kartu-kartu bergambar itu dapat sebegitu menggoda saya….
