Title: Round Round to You
Author: Arisa Arizawa
Main Cast: HunTao, KrisHo
Slight: LuMin, KaiSoo, ChanBaek, ChenLay, etc
Genre: Family, Romance, Hurt/Comfort
Rated: T-M
Warning!
Incest, BoysxBoys, Complicated, Typo(s), OOC, Crack Pair, Pedophile *smirk*
Don't Like? Read First:3
Flame for my story? Allowed. Flame for the cast? Please don't:)
oOo
Previously on Round Round to You
"Hyung, bukankah itu mobil Chen?"
"Aku takut Kai!"
.
"Apa? Ke rumah sakit?"
"Hyung, siapa yang di rumah sakit?"
"Luhan."
.
"Anda pasti lelah berdiri terlalu lama."
"Sekali lagi, saya meminta maaf."
"Tidak apa, Minho-ssi."
.
"Kenapa ada siluman panda di pangkuanmu?"
"Tao bukan panda,jumma!"
.
"Dia adikku, Lay."
"Hiks, adikmu jahat,hyung."
.
"Taemin-ah. Bisakah kau ambilkan kopi?"
"Oh, ayolah, Hae-hyung. Aku baru saja mendapatkan posisi yang nyaman."
.
"Kajja,hyung, kita ke kantor polisi."
"Kau ingin menyerahkan diri karena membawa narkoba?!"
.
"Sebenarnya, ada apa dengan Luhan?"
"Luhan akan kehilangan pendengarannya di telinga sebelah kiri."
oOo
"Lihatlah, hyung, kau membuat keributan di kantor polisi seperti ini," gerutu Kai. Namja bermata bulat di depannya, Kyungsoo, hanya menundukkan kepalanya. Memang salahnya berteriak tentang tuduhannya pada Kai yang ia pikir membawa narkoba.
"Maaf... aku, kan, tidak tahu kau berkata jujur. Lagi pula kau menarikku seperti itu membuatku panik," balas Kyungsoo. Kai pun tertawa lalu ia mengusak rambut Kyungsoo.
"Iya aku mengerti. Aku lupa kau lambat berpikir," ujar Kai dengan nada gemas tanpa memperhatikan perubahan raut wajah Kyungsoo. Ia, Kyungsoo, walaupun menangkap perkataan Kai dengan lambat, ia mengerti apa arti kata-kata Kai.
Bodoh!
Dengan cepat Kyungsoo menepis tangan Kai yang berada di kepalanya.
"Ada apa, hyung?" tanya Kai bingung. Kyungsoo menundukkan kepalanya.
"Aku tahu aku bodoh, Kai. Tapi aku tidak berharap kau mengatakan itu di depanku," kata Kyungsoo dengan cepat, takut air matanya jatuh.
Kai mengerutkan keningnya. Ia pun mengerti maksud Kyungsoo.
"H-Hyung, bukan itu maksudku," gelagap Kai. Ia panik mendengar perkataan Kyungsoo yang sarat akan sakit hati.
"Sudahlah, aku mengerti sikapmu yang selalu berada di dekatku. Kau hanya tak ingin aku berbuat aneh di depan orang lain dan mempermalukan kalian sebagai sahabatku, kan?" Kai terdiam. Ia berani bersumpah atas nama orang tuanya, ia tidak pernah berpikir seperti itu akan Kyungsoo.
"Aku bersumpah, hyung, aku– "
"Aku mau pulang. Sendiri," tandas Kyungsoo sambil meninggalkan Kai sendiri. Kai menatap punggung Kyungsoo yang menjauh.
Ia tidak pernah mengharapkan hal ini terjadi. Ia benar-benar tulus berada di dekat Kyungsoo. Ia tidak pernah berpikiran Kyungsoo akan mempermalukan ia dan keempat temannya yang lain. Ia ingin menjaga Kyungsoo karena kepolosan dan sifat mudah terpengaruhinya.
Kai pun menyenderkan tubuhnya ke dinding yang berada di sebelahnya. Sambil membisikkan sesuatu pada dirinya sendiri.
"Aku mencintaimu, hyung,"
oOo
"Benar-benar merepotkan. Siapa dia? Sudah suaranya besar ketika berteriak tadi," kata seorang polisi yang sedang bisik-bisik tetangga dengan temannya.
"Sepertinya dia teman pelaku tabrak lari tadi," sahut temannya.
Mereka melanjutkan pembicaraan mereka sampai pembicaraan mereka berhenti saat tak sengaja mereka melihat orang yang dibicarakan lewat.
Kyungsoo, yang tak sengaja mendengar pembicaraan tentang dirinya, berusaha menahan air mata. Ia pun melanjutkan langkah kakinya berusaha tidak memperdulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.
Jika saat seperti ini, Kai selalu ada untuk menjadi tamengnya. Tapi, tamengnya sendiri malah menyakitinya.
Ia terus berjalan ke rumahnya, dia lupa kalau ada alat transportasi sekarang. Untungnya ia tidak lupa jalan pulang, walaupun agak tersesat sedikit. Sesampainya di rumah, ia mengurung diri di kamar. Menangis.
"Hiks... hiks..."
Tidak ia pedulikan telepon dan Baekhyun dan Chen. Apalagi Kai. Ia yakin sudah lebih dari 20 panggilan masuk ke telepon genggamnya. Hingga akhirnya, dia tertidur karena lelah menangis. Begitu pula dengan telepon genggamnya, mati karena tak kuat menerima panggilan masuk yang bertubi-tubi menyerang.
oOo
"Chen! Kyungsoo tak menjawab teleponku! Dia dimana?!" teriak Baekhyun panik setelah ia membuka pintu ruangan dimana Chen harus tinggal hingga persidangannya dilaksanakan besok.
Setelah kejadian tadi, Kyungsoo menuduh Kai, Baekhyun memilih pergi kedai kopi di depan kantor polisi sambil menikmati kopi serta cake-nya. Lama ia menunggu, ia pun keluar, setelah sebelumnya ia dipanggil pegawai kedai tersebut karena belum membayar. Tak sengaja, ia melihat siluet seseorang seperti Kyungsoo. Ia berniat memanggil tapi ia urungkan ketika orang tersebut pergi ke arah lain, yang ia tak ketahui kemana.
Ia pun masuk ke dalam kantor polisi, berusaha mencari Kyungsoo. Tetapi ia tidak menemukannya. Pikirnya, adiknya tersesat di dalam kantor polisi. Ia pun mencoba menghubungi Kyungsoo tetapi tidak diangkat. Dengan panik, ia mulai menanyai keberadaan Kyungsoo pada setiap orang yang melewatinya.
Akhirnya, ia memutuskan dirinya pergi ke ruangan Chen berada setelah sebelumnya bertemu Minho, dan Jonghyun sebenarnya, dan menceritakan apa yang terjadi pada mereka. Mereka pun berjanji membantu mencari Kyungsoo kalau benar ia hilang di kantor polisi. Dengan godaan dari Jonghyun, tentunya.
Chen, yang sudah mendengarkan cerita Baekhyun, pun meminta Baekhyun tenang.
"Mengapa tidak kau tanya Kai? Dia yang terakhir bersama Kyungsoo, kan?" tanya Chen. Baekhyun pun mengangguk.
"Tapi aku tidak tahu dia dimana," balas Baekhyun.
Brak
"Hyung! Apa kalian melihat Kyungsoo hyung?!" teriak seseorang di depan pintu yang ternyata adalah Kai.
Setelah lepas dari rasa kagetnya, Chen pun menjawab dengan pertanyaan "Bukankah kau yang bersamanya?"
Kai menghela napas. Lalu ia menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Kyungsoo.
Plak
"Apa yang kau lakukan pada adikku, bodoh?! Kau membuatnya sakit hati!" teriak Baekhyun marah setelah menampar Kai. Chen pun hanya menonton adiknya dimarahi Baekhyun.
"Aku tidak bermaksud begitu, kau tahu, kan?" kata Kai dengan nada memelas. "Kalian tahu yang kurasakan pada Kyungsoo hyung, kan?"
Chen pun menghela napas.
"Ya, dan kau juga tahu, kan, Kyungsoo itu mudah sensi seperti wanita," balas Chen yang kemudian dicubit lengannya oleh Baekhyun.
"Kyungsoo bukan wanita!" teriak Baekhyun posesif. Lalu ia kembali menatap Kai dengan tajam. "Aku tidak mau tahu! Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Kyungsoo, aku akan menjadikanmu Kai goreng untuk makan malamku!" ancam Baekhyun. Ia pun berlalu pergi meninggalkan kedua manusia Kim yang masih terpaku pada pikirannya masing-masing.
"Sepertinya kau harus mendahului Baekhyun dan memastikan Kyungsoo baik-baik saja," ujar Chen memecah keheningan. Kai mengangguk.
"Kurasa seperti itu," balas Kai. Chen mengerutkan keningnya lalu menatap Kai.
"Lalu?"
"Aku akan ke rumah mereka. Kurasa, Kyungsoo ada di sana,"
"Dan dengan berkata saja tidak membuatmu berteleportasi ke rumah keluarga Do mendahului Baekhyun, Kkamjong!" teriak Chen dengan suaranya yang keras karena kesal pada adiknya itu. Kai hanya nyengir lalu pergi meninggalkan hyung-nya.
oOo
"Luhan, ayo bangun. Kamu marah ya sama Xiu? Maafin Xiu kalo Xiu ada salah," ucap seorang anak kecil berumur 10 tahun, Xiumin pada Luhan yang sudah melewati masa kritisnya setelah sebelumnya membuat semua orang panik karena alat pendeteksi detak jantung Luhan berbunyi nyaring dan menampakkan garis lurus yang panjang karena 'tak sengaja' tertarik oleh tangan mungil Tao.
"Xiu ge ngapain, sih? Lu ge kan masih bobo," balas Tao yang baru saja bangun dari tidur karena kelelahan setelah menangis karena dimarahi oleh Xiumin karena kegiatan isengnya barusan.
"Aku sedang berbicara dengan Luhan. Mungkin dia akan bangun," kata Xiumin dengan polos. Tao mengangguk-angguk, sok, mengerti.
"Daripada berbicara sendiri, lebih baik kita berdoa," ucap Tao dengan nada gembira. Sepertinya, rumah sakit tersebut sedang kedatangan malaikat baik untuk memberikan bisikan kebaikkan untuk Tao. Semoga tetap berlangsung selamanya. Amin.
"Kau benar Tao! Ayo kita berdoa untuk Luhan," ujar Xiumin dengan gembira.
Hening sejenak.
"Berdoa, mulai!" kata Tao memberi aba-aba dengan suara cemprengnya.
Mereka pun berdoa dengan khusyuk. Ruangan tersebut, tidak seperti biasanya, sunyi.
"Berdoa, selesai!" kembali terdengar lagi suara Tao yang cempreng memberi aba-aba. Xiumin pun menatap Luhan lalu mengusap pipinya pelan.
Tiba-tiba, ia melihat mata Luhan sedikit bergerak. Ia terbelalak lalu melonjak gembira. Tao yang melihat kelakuan Xiumin pun menggelengkan kepala.
'Ckck.. padahal Lu ge masih sakit. Tapi Xiu ge sudah bahagia begitu. Benar-benar tak setia,'
"Tao! Lihatlah! Luhan membuka mata! Terima kasih, Tuhan!" teriak Xiumin. Ia pun menggoncang tubuh Luhan. "Luhan! Kau bisa lihat aku?"
Luhan membuka matanya. Wajahnya pucat menjadi lebih pucat ketika ia merasa kepalanya seperti dihantam dengan sebuah palu seberat 1000 kilogram dan telinganya yang berdenging nyaring.
"Arghh!" teriak Luhan sambil memegangi kepalanya, berusaha menghilangkan rasa sakitnya. Xiumin yang kaget hampir terjungkal dari kursi yang ia naiki dan Tao membesarkan matanya hampir menangis karena kaget.
Tiba-tiba saja, pintu kamar Luhan dibuka paksa dan masuklah Dokter Choi serta Lay dan Suho. Mereka, Lay dan Suho, menarik Xiumin dan Tao keluar. Xiumin berontak karena tak mau meninggalkan Luhan, sedangkan Tao, lagi-lagi, menangis keras karena rasa kagetnya.
Mereka berempat sedang duduk di luar menunggu Dokter Choi keluar memberitahukan keadaan Luhan dengan keadaan Tao dan Xiumin menangis sesenggukan karena alasan yang berbeda. Sedangkan Lay mencoba menenangkan Xiumin sambil menahan tangis. Suho hanya terdiam sambil menggendong Tao.
Ia sudah tahu apa yang terjadi pada Luhan. Ia hanya menatap nanar pada Lay. Ia merasa iba sambil memeluk erat Tao yang sudah mulai tenang.
Flashback
Sejak kepergian Lay dan Dokter Choi, Xiumin ditemani oleh Sehun masuk ke dalam kamar Luhan. Awalnya, Tao ingin ikut. Tetapi, karena memang tidak diperbolehkan oleh suster yang berjaga disitu, maka Tao hanya dapat memajukkan bibirnya dan kembali duduk di sebelah Suho.
"Mama! Tao juga mau lihat Lu ge! Masa gak boleh?!" teriak Tao dengan kesal dengan suara cemprengnya. Suho pun menghela napas.
"Tao masih kecil, sayang. Di dalam sana banyak kuman-kuman. Nanti Tao sakit bagaimana?" Tao mengangguk mendengar penjelasan Mama-nya. Ia pun duduk tenang kembali tetapi diam-diam ia merencanakan sesuatu hal di kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Lay datang dengan mata memerah seperti habis menangis. Suho yang melihatnya dari kejauhan pun segera mendatanginya dan meninggalkan Tao duduk sendirian, mengingat Kris dan Chanyeol pergi untuk membeli makanan.
Suho pun mengajak Lay untuk duduk sambil berusaha mendengarkan alasan mengapa Lay menangis.
Sedangkan, makhluk mungil yang sedang duduk dengan tenang pun menyeringai puas ketika suster yang berada di dalam kamar Luhan keluar. Ia melihat ke arah suster tersebut, meyakini jika suster itu tidak akan melihat apa yang akan ia lakukan. Lalu melihat ke arah dua orang dewasa yang berada tak jauh darinya. Sepertinya mereka sibuk sendiri.
'Aman!'
Diam-diam, Tao menyelinap masuk ke dalam kamar Luhan. Berusaha tidak membuat suara sedikit pun dan berhasil! Walaupun Sehun sedikit menengok ke arah pintu dan beruntung tubuh Tao yang mungil sudah bersembunyi di balik lemari. Ia pun mengendap-endap, merangkak, ke kolong meja dekat lemari yang bersebrangan dengan tempat tidur Luhan.
Sehun, yang sedang menenangkan Xiumin, tidak menyadari jika ada tikus sebesar anak berumur 6 tahun merangkak ke arahnya, tepatnya, alat rumah sakit yang berada di sampingnya. Tao nampak tertarik melihatnya. Kabelnya yang berwarna-warni dan bunyinya, yang mungkin akan berbeda jika diutak-atik.
Dengan cepat, tanpa menimbulkan bunyi, atau kedua orang lainnya tak sadar akan pergerakannya, Tao menarik kabel-kabel berwarna biru, merah dan hijau itu secara bersamaan yang menyebabkan kabel yang menyambung ke dada Luhan juga tertarik tanpa sengaja.
Kedua manusia lain, Sehun dan Xiumin, terlonjak kaget mendengar suara tinggi dan garis panjang di alat pendeteksi detak jantung milik Luhan. Xiumin sudah hampir menangis jika Sehun tidak melihat Tao di bawah kakinya sedang dalam keadaan membeku karena kaget akan suara yang terus berbunyi dari alat yang menarik itu.
"Tao!" teriak Sehun sambil menggendong Tao. Refleks, Tao melepaskan genggamannya pada kabel-kabel tersebut. Ia pun menangis.
"Bu- bukan Tao, hyung.. hiks.. bukan Tao," ucap Tao dengan sesenggukan berusaha menjelaskan pada Sehun.
"Bagaimana bukan kamu?! Kamu yang menarik kabel-kabel itu!" teriak Xiumin sambil menangis berusaha memukul Tao tetapi dihalangi oleh Sehun yang meringis kesakitan.
'Astaga aku lupa, tenaga Xiumin sangat kuat,' sesalnya dalam hati.
Beruntung, tak lama, suster beserta Dokter Choi dan parang orang tua masuk ke dalam ruangan Luhan. Dokter Choi memerintahkan mereka semua untuk keluar.
Chanyeol, yang beruntungnya kembali di saat yang tepat, menggendong Xiumin yang masih ingin memukul Tao. Sementara Lay, yang masih shock, dipapah oleh Suho keluar ruangan. Dan Kris, seperti orang bodoh, hanya menatap dengan pandangan kosong ke arah pintu ruangan Luhan.
"Kau! Kalau Luhan pergi, aku tak akan memaafkanmu!" teriak Xiumin sambil menunjuk ke arah Tao yang menangis semakin keras di pelukan Sehun. Sementara Chanyeol, yang menggendong Xiumin, pergi. Menjauhkan Xiumin dari Tao.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Suho. Sehun pun menghela napas.
"Tao barusan masuk ke kamar Luhan. Lalu, ia menarik kabel yang menempel pada tubuh Luhan. Jadi.. seperti itu," jelas Sehun. Lalu ia menenangkan Tao lagi hingga Tao tertidur digendongannya.
'Astaga, kau jahil sekali Tao,' ujar Sehun dalam hati.
Suho menghela napas. Ia pun menatap Lay yang menatap kosong ke arah lantai di depannya.
"Maafkan Tao. Dia memang terlalu ingin tahu," ujar Suho. Ia memeluk Lay lagi. Lay mengangguk pelan lalu menangis lagi
Flashback off
"Permisi," tiba-tiba suara Dokter Choi menginterupsi mereka berempat. Lay langsung berdiri.
"Luhan, dia tidak apa, kan?" tanya Lay dengan panik. Dokter Choi tersenyum tipis.
"Dia tidak apa. Hanya, mungkin karena efek benturan itu, otaknya menjadi belum stabil. Ditambah retak pada tengkoraknya yang menyebabkan fungsi kerja telinganya tidak berjalan dengan seharusnya menyebabkan telinganya berdenging keras. Hal itu sering terjadi pada korban kecelakaan. Tetapi, kondisi Luhan keseluruhan, ia baik-baik saja," jelas Dokter Choi.
Lay kembali menangis sesenggukan.
"Maaf, Tuan Zhang, anda harus mempertimbangkan saran saya barusan. Saya takut, telinga Luhan tid–"
"Dia akan mempertimbangkannya, Dok. Maaf jika saya memotong. Sepertinya, Lay ingin bertemu dengan Luhan," potong Suho. Ia tidak mau Lay menangis lagi mengingat Luhan akan tuli walaupun sementara.
Dokter Choi mengangguk.
"Baiklah saya permisi. Luhan sedang di bawah pengaruh obat penenang dan akan dipindahkan ke kamar rawat inap. Saya permisi," Suho mengangguk ke arah Dokter muda tersebut.
"Suho umma, ada apa dengan Luhan?" tanya Xiumin. Suho hanya tersenyum.
"Lebih baik, nanti saja kau tahu, oke?" jawab Suho. Xiumin pun terdiam sejenak lalu mengangguk patuh.
oOo
Ting Tong
Kyungsoo terbangun karena bunyi bel yang berdentang dari pintu utama rumahnya. Ia menggerutu pelan karena terbangun secara paksa oleh bel.
"Iya, sebentar!" teriaknya dengan malas. Ia merasa tubuhnya lemas karena tidur siang dadakannya itu. Perlahan ia keluar kamar lalu turun menuju pintu utama setelah sebelumnya merapikan tampilannya sedikit.
Ia membuka kunci pintu dengan kasar lalu membuka pintu itu. Ia melihat sosok yang sangat ia kenali, berdiri di depan pintu.
Mereka berdiam diri selama beberapa saat sampai tamu tersebut membuka mulutnya.
"Hyung, kita butuh bicara."
Kyungsoo menghela napas. Jujur ia sangat mengingat apa yang terjadi antara mereka. Ia sangat ingin menutup pintu dengan keras di depan wajah tamu tersebut. Tapi, jika ibunya melihat CCTV dan menemukannya berlaku tidak baik pada tamu, bisa-bisa ia harus mengepel rumahnya sendirian.
"Bicara," balasnya singkat. Ia tidak ingin bertengkar. Hatinya terlalu sakit. Ia ingin menangis tetapi tubuhnya masih lemas karena dibangunkan secara tiba-tiba.
"Maafkan aku," kata tamu tersebut. Lalu, hening lagi.
Ia sangat frustasi. Ia ingin memeluk Kyungsoo sambil mengatakan kalau ia mencintai makhluk mungil itu. Tapi, ia tak ingin Kyungsoo marah. Ia tahu perasaan Kyungsoo hanya sebatas sahabat saja padanya.
"Sudah?" tanya Kyungsoo. "Jika sudah, aku ingin melanjutkan tidurku," lanjut Kyungsoo sambil menutup pintunya.
"Belum," tukas tamu itu dengan cepat sebelum Kyungsoo menutup pintunya. "Aku sudah tidak tahan lagi," lanjutnya.
"Apa yang tak bisa kau tahan, Kai-ssi? Mengejekku?" tanya Kyungsoo yang mati-matian menahan getaran pada suaranya dibalik pintu yang belum sepenuhnya tertutup.
Hening kembali.
"Aku tidak ingin kau marah padaku. Aku ingin melindungimu. Bukan karena aku ataupun sahabat kita, tapi aku ingin kau baik-baik saja. Aku rela mengikutimu hingga kau sampai pada kelasmu dan terlambat menuju kelasku agar aku yakin kau baik-baik saja. Aku mau mengantarmu kemana saja, membawakan barang-barangmu, membelikanmu ini dan itu asal kau selalu berada didekatku. Aku rela dihukum karena menghajar orang-orang yang mengejekmu. Aku.. akan lakukan apa saja agar kau senang, hyung," jelas Kai panjang lebar.
Di balik pintu, Kyungsoo mulai terisak. Ia merasa bersalah dan tak tahu terima kasih karena ia marah pada Kai yang selama ini melindunginya.
Kai yang mendengar Kyungsoo menangis, merasa semakin terpuruk. Lagi-lagi, Kyungsoo menangis karenanya.
"A– aku sudah selesai. Jika kau ingin menutup pintu dan melanjutkan tidur siangmu, silahkan," kata Kai. Ia berbalik ingin pergi jika ia tak merasakan pelukan di belakangnya serta punggungnya yang basah.
"Jangan... hiks.. pergi," kata Kyungsoo terbata-bata. Ia mengeratkan pelukannya.
Kai melepaskan pelukan Kyungsoo dan sebelum Kyungsoo melayangkan protes, ia berbalik dan memeluk Kyungsoo dengan erat.
"Jika hyung yang meminta, aku tak akan pergi," bisik Kai. Mereka akhirnya saling berpelukan. Saling menyampaikan perasaan satu sama lain dalam diam.
oOo
"Yeoboseyo? Nde, Eomma, waegeurae?" sapa Baekhyun pada eomma-nya via telepon. Ia sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
"..."
"Soo-ie sedang ada di rumah. Memangnya ada apa?"
"..."
"Eomma di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Baekhyun.
"..."
"Arraseo. Kalau begitu, Baekhyun jemput Soo-ie dulu baru nanti kami ke rumah sakit."
Setelah menutup teleponnya, yang bertepatan dengan sampainya ia di tujuan, ia turun dari bus dan berjalan menuju rumahnya.
Di rumahnya, ia bisa melihat motornya, yang tadi dipinjam Kai, sudah terparkir di garasi rumahnya. Berarti, Kai sudah sampai. Dengan marah yang menggelegak, ia masuk ke halaman rumahnya. Lalu ia berhenti.
Ia terdiam memandang dua sejoli yang sedang berpelukan. Ia menghela napas. Tiba-tiba saja kemarahannya hilang ketika ia melihat wajah Kyungsoo yang damai itu terpejam menikmati kegiatannya bersama Kai.
"Sepertinya mereka sudah berbaikkan," kata Baekhyun pada dirinya sendiri. Ia memutuskan untuk mengganggu mereka berdua.
"Hey! Kalian berdua!" teriak Baekhyun dengan suaranya yang keras itu. Suaranya itu mengagetkan Kai dan Kyungsoo sehingga mereka melepaskan pelukannya.
"Hyung! Kau mengagetkanku!" balas Kyungsoo. Sementara Kai menunduk. Sebenarnya, ia masih sedikit takut pada Baekhyun.
Baekhyun pun menghampiri mereka. Ia menatap tajam pada Kai.
"Jadi, kalian sudah berbaikan?" tanya Baekhyun pada mereka berdua. Kyungsoo pun tersenyum senang.
"Iya, hyung! Kami sudah berbaikan!" balas Kyungsoo dengan nada ceria, seperti melupakan beberapa menit yang lalu ia masih menangis di pelukan Kai.
"Baguslah," balas Baekhyun sambil mengirimkan telepati pada Kai kurang lebih seperti 'Jika hal ini terjadi lagi, kupastikan kau sudah berubah menjadi Kai goreng sebelum sempat berkata maaf pada Kyungsoo.'
Dan Kai menerimanya dengan baik dan membalas 'Tenang saja. Tak akan pernah terjadi lagi.'. Kurang lebih.
"Kyungsoo, ayo ke rumah sakit. Eomma berada di sana," ucap Baekhyun.
"Eomma? Mengapa eomma di rumah sakit?" tanya Kyungsoo yang dibalas dengan endikkan bahu dari Baekhyun.
"Katanya, ia akan menjelaskannya di rumah sakit."
Kyungsoo pun menganggukkan kepalanya lalu menatap Kai.
"Kau ikut?" tanya Kyungsoo pada Kai dengan pandangan memohon. Kai, tanpa diragukan lagi, mengangguk. Akhirnya, mereka bertiga pun pergi ke rumah sakit.
oOo
"Ahh! Aku lelah sekali hari ini!" teriak Sehun di dalam mobil milik Kris. Ia menyenderkan seluruh badannya di jok belakang mobil.
"Kau pikir aku tidak? Badanku pegal menahan Xiumin barusan," gerutu Chanyeol yang duduk di sebelah kursi pengemudi.
"Aku ingin cepat-cepat tiduran di kasurku," kata Sehun sambil memejamkan matanya.
Bagaimana ia tidak lelah? Sejak pukul sebelas pagi tadi, ia sudah dihadiahi tugas menjaga Tao. Sebenarnya ia bahagia, sih. Tapi, mengingat Tao adalah anak berumur 6 tahun yang senang berlarian kesana kemari, membuat mau tak mau ia menggerutu juga. Mulai dari ia menenangkan Tao yang berontak karena ia gigit pipinya, lalu tak sengaja melihat Daddy dan calon Mama-nya melakukan hubungan badan, lalu berlari mengejar Tao di rumah sakit, menenangkan Tao lagi, mengajaknya membeli es krim dan, oh, ia sangat berterima kasih pada Daddy-nya karena mengajaknya pulang.
Sedangkan Chanyeol? Sudah sejak pukul 10 ia nangkring di teras rumah Do tanpa ada yang membukakan pintu, karena diyakini kedua orang dewasa di rumah tersebut sudah pergi kerja meninggalkan kedua anak lelaki mereka yang cantik tertidur pulas, lalu menunggu Kyungsoo memakai sepatu, membantu Luhan yang kecelakaan – ia hampir saja menggendong Luhan ke rumah sakit dengan berjalan kaki jika ambulans tidak cepat datang – menenangkan Lay, lalu membawakan makanan dalam jumlah banyak ke rumah sakit, dan menenangkan Xiumin yang mengakibatkan badannya remuk karena terus menerus dipukuli oleh makhluk kecil itu. Ia ingin memeluk pamannya yang mesum sekarang juga karena mengajaknya pulang.
Mereka pun menghela napas. Mereka menunggu sang supir, Kris, yang sedang membujuk Suho untuk pulang, tetapi, sepertinya gagal karena mereka melihatnya keluar sendiri, seperti jomblo.
"Sudahlah, Kris, kita pulang saja. Aku sangat lelah," kata Chanyeol pada Kris saat Kris berhasil masuk ke dalam mobil.
"Panggil aku hyung, Chanyeol-ah," balas Kris. Sementara Sehun tertawa mendengar perintah Daddy-nya.
"Ayolah, Dad. Sadar umurmu," kata Sehun.
"Sudah, aku tak mau berdebat. Aku lelah," kata Chanyeol sambil memejamkan matanya.
"Kau pikir aku tidak?" tanya Kris. Lalu kedua anak muda yang berada di dalam mobil pun memandanginya.
"Pagi tadi semestinya aku mendapatkan 'jatah'ku jika kalian, Sehun, Xiumin dan Tao, tidak menggangguku. Lalu saat ada berita kecelakaan yang dilakukan oleh Chen, aku langsung ditarik kesana kemari oleh Suho, entah apa yang sebenarnya ia lakukan. Lalu membelikan mereka makanan, menenangkan Suho dan Lay yang menangis bersamaan. Meminta maaf pada pengunjung lain karena suara tangisan Tao dan Xiumin. Dan membayar kerusakan yang telah dilakukan Tao pada alat rumah sakit itu. Terima kasih sekali atas apa yang terjadi hari ini," jelas Kris panjang lebar.
Kedua remaja itu pun mengangguk. Ya, walaupun kebanyakan yang Kris ceritakan adalah lelah secara financial, mereka tak sanggup menghitung berapa yang Kris keluarkan untuk membayar alat rumah sakit itu, tetapi mereka mengerti.
Tanpa disangka, Sehun, dari belakang, menyusup ke depan lalu merangkul pundak kedua orang yang ada di depannya lalu memeluk mereka. Dan, seperti sedang dihipnotis, keduanya pun juga saling memeluk. Jadilah mereka bertiga berpelukan seperti teletubies.
"Yang tabah, Dad, Tuhan akan membalas kebaikanmu," kata Sehun menenangkan Daddy-nya.
"Kau juga yang tabah, Chan, semoga badanmu cepat sembuh," kata Kris pada Chanyeol.
"Sehun-ah, tabah, ya, kau mempunyai calon uke yang tidak bisa diam," balas Chanyeol pada Sehun.
Dan mereka melakukan hal itu selama 15 menit karena aktifitas mereka yang terganggu karena diperhatikan oleh pejalan kaki yang tak sengaja melintas di depan mobil mereka.
Like father, like son, like nephew, too.
oOo
Keesokkan Harinya
"Saudara Kim JongDae, Anda dituntut 3 tahun penjara dengan tuduhan pembunuhan tidak disengaja, tidak membawa surat-surat mengemudi, dan mengemudi di atas kecepatan yang seharusnya," ucap seorang hakim membacakan dakwaannya di sebuah pengadilan untuk pengadilan kecil.
Chen hanya menunduk mendengarkan semua argumen yang diberikan oleh pengacaranya dan jaksa penuntut umum. Ia hanya mengeluarkan suaranya saat ditanya oleh jaksa. Hingga keputusan akhir pun dilantunkan oleh hakim dan diakhiri dengan ketukan palu yang menggema.
"Dengan mempertimbangkan segala situasi, Saudara Kim JongDae akan menjalani hukuman 5 bulan penjara dan 4 bulan masa percobaan serta denda. Selama masa percobaan, Saudara Kim JongDae dilarang mengendarai kendaraan serta surat-surat mengemudinya disita oleh pengadilan."
Tok
oOo
Suho menghela napas menghadapi salah satu adiknya ini.
"Apa kau kumat lagi, Chen?" tanya Suho.
Ia benar-benar lelah. Kejadian hari kemarin benar-benar menguras tenaganya. Ia pun hanya bisa tidur lima jam. Dan di pagi hari, ia mendapat telepon dari pengadilan mengenai kasus adiknya, Chen, meminta ia datang ke pengadilan dan membawa pengacara keluarga Kim.
Chen menghela napas.
"Baekhyun yang memasangkan lagu itu," balas Chen. Ia menunduk.
"Dia anak Lay, kau tahu?" tanya Suho lagi.
"Ya, aku tahu dari Kai," lagi-lagi Chen menjawab. Ia tak berani menatap mata hyung-nya saat ini.
"Tatap aku, Kim JongDae!" sentak Suho dengan suara pelan, tak mau mengganggu pengunjung penjara hari ini. Chen pun mengangkat kepalanya.
"Sungguh, hyung, aku tidak sengaja. Kau tahu sendiri penyakitku," kata Chen dengan frustasi. Ia tak tahu jika penyakitnya yang sudah lama tak muncul malah kembali lagi di saat yang tidak tepat.
"Aku mengerti," balas Suho. "Tapi, Lay tidak. Karenamu, Luhan mengalami masalah pendengaran."
Chen mendengarkan penjelasan hyung-nya tentang korbannya dalam diam. Ia benar-benar tak menginginkan semua ini terjadi. Ia tak ingin teman-temannya mengetahui apa yang terjadi dengannya, dirinya yang tak bisa mengendalikan adrenalinnya. Masa lalunya, yang hampir setiap hari mendekam di kantor polisi. Keluarganya, yang tersisa hanya Kai dan Suho karena hanya mereka yang mengerti keadaannya.
'You are forever a beast, Kim JongDae.'
"Chen-ah!" sentak Suho karena adiknya melamun. Chen pun tersadar dari lamunannya. Suho pun menghela napas.
"Doktermu akan datang besok. Dan pengadilan mensetujui kalau kau menjalani pengobatan selama di penjara, oke?" tanya Suho. Chen pun mengangguk.
"Hyung," panggil seseorang pada Chen juga Suho. Mereka menoleh dan melihat Kai sedang berjalan ke arah mereka.
"Kai," balas Suho. Kai mendatangi mereka.
"Chen hyung, Baekhyun hyung menanyai kabarmu," kata Kai. "Dan Sehun bilang, mungkin Lay hyung mau memaafkanmu dan mencabut tuntutannya," jelas Kai.
Chen menggeleng.
"Biarlah, aku memang pantas dihukum," balas Chen.
"Tapi, ini bukan salahmu. Bukan kehendakmu untuk menabrak Luhan," kata Kai.
"Tapi.."
"Sudah aku katakan, jujur saja pada semua orang. Atau, minimal, pada orang-orang di dekatmu, hyung," potong Kai.
"Sudahlah, Kai, jangan memojokkan Chen. Ia bisa tertekan lagi seperti dulu," kata Suho. "Lebih baik, sekarang kita pulang, oke?" Kai pun mengangguk.
"Besok, kami akan mengunjungimu, hyung. Kumohon, jujurlah pada mereka. Aku yakin mereka akan menerimamu," ucap Kai sebelum mereka pergi dan Chen dibawa kembali ke selnya.
"Ya, aku akan jujur pada mereka."
-TBC-
Risa's Cuap-Cuap
Annyeong chingudeul~ Risa balik lagi hehe~ Aduh malu deh udah gak lanjutin ff ini berapa tahun tapi masih bisa cengangas cengenges /.\ mianhae:(
Duh, mana ceritanya makin gaje lagi:( ada beberapa plot yang Risa lupaaa bete deehhh:( huhuhu ToT.
Tapi Risa makasih banget buat yang udah review~ maaf ya mulai sekarang, Risa gak bales satu-satu:( soalnya waktu itu temen Risa bilang jangan banyak-banyakin words pake balesan review, nanti php:( emang iya ya? Risa sedih deh:(
Yaudah, nih Risa jawab ya tapi yang sebagian besar diomongin aja.
1. Ada yang disembunyiin sama Lay/Suho ya?
Yap, benar banget. Mereka berdua punya sesuatu yang disembunyiin masing-masing~ nanti bakal Risa kasih tau kok:3
2. Apa hubungan KrisHoLay?
Well, aku bocorin deeh~ Suho sama Lay udah temenan dari SMA tapi pisah gegara Lay nikah dan diboyong sama aa' tercintanya ke China. Abis itu, Suho nikah. Dan, mereka berdua masing-masing cerai dan punya anak 1 (yah, janda anak 1 nih uhuy~). Terus Kris... ah abaikan aja dia gak penting~ *ditiban saham Papa Kris(?)*
3. Lay suka sama Kris?
Umm.. suka gak yaa? *ditabok* Liat aja ya nanti^^
4. Kenapa Suho nangis?
Gak tau nih:( mungkin karena Papa Kris diem diem suka main lempar-lemparan Iphone6(?) (kenapa merambah ke dunia RP? xD)
5. Sehun sama Kris pedo?
Like what I say~ mereka emang manusia pedo mesum di sini:v tapi menurutku cocok kok kalo diliat dari muka DOANG wkwk~ soalnya kalo pake kelakuan asli.. er...
6. Jadinya ChenBaek atau ChanBaek?
Banyak dari kalian yang mau ChenBaek ya? Risa tahu kok Chen sama Lay gak berhubungan baik gegara Chen nabrak Luhan. Tapi, Risa bakal tetep sama apa yang udah Risa tulis^^" mian~ Tapi nanti kalian akan lihat ChenLay bakal kayak gimana kisahnya~ yay~
Dan well, ada yang nanya mengenai RL-ku-_-" okay aku jawab ya~
Aku yeoja, you can see my pen name okay~ dan umur aku... tahun depan cukup umur kok untuk membuat ataupun baca NC^^" hehehe~
Oh iya, aku minta maaf ya chapter ini full EXO aku janji, chapter depan ada SHINee sama SuJu, okeoke? Hehehe~
Last, review and flame are needed. Thank you^^
