TITANIC (Krisho version)

story by codenameL

Kris/Suho with support cast EXO and A-Pink Chorong | Boys Love/Romance/Drama | Chaptered

Summary: Kisah 84 tahun yang lalu pun dimulai

Happy reading!

.

.

.

Southampton, 10 April 1912

Sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh dari tempat masuk kapal Titanic. Tempat masuk yang khusus untuk orang-orang berkelas. Dari dalam mobil keluar seorang pria, memiliki kulit seputih susu, rambut hitam yang disisir rapi dan mata berwarna coklat yang indah. Dia memandangi kapal yang sebentar lagi akan membawanya pergi dari tanah Inggris.

"Jadi ini yang namanya Titanic," gumam Junmyeon sambil memandangi kapal besar dihadapannya. "Tidak lebih besar daripada Mauritania..."

"Ayolah Junmyeon, lebarkan pandanganmu. Titanic lebih panjang bahkan lebih mewah dibandingkan Mauritania!" ucap Chanyeol antusias, Junmyeon hanya mengangguk-angguk ketika sahabatnya itu menceritakan betapa hebatnya Titanic. Dia sendiri tidak terlalu tertarik, kapal ini memang mewah, orang-orang menyebutnya sebagai 'kapal impian' tapi bagi Junmyeon itu sama seperti kapal pesuruh yang merantainya kembali ke Amerika.

Kim Junmyeon, 21 tahun. Anak tunggal dari seorang pengusaha terkenal, ayahnya meninggal setahun yang lalu. Junmyeon yang kala itu beranjak 20 tahun mau tidak mau menggantikan posisi ayahnya untuk mengurus perusahaan. Baginya hidup ini seperti berada dalam sangkar, sejak kecil ibunya mengajari tata krama menjadi seorang yang berkelas mulai dari cara makan sampai cara bersin. Sering kali Junmyeon dan ibunya berbeda pendapat, tapi berakhir dengan Junmyeon menyetujui pendapat ibunya.

"Inikah kapal yang disebut-sebut tidak akan tenggelam itu?" tanya ibu Junmyeon sambil menyerahkan mantelnya pada seorang pelayan. "Ini dia nyonya Kim!" jawab Chanyeol antusias. "Kapal ini tidak akan tenggelam, Tuhan tidak akan bisa menenggelamkan kapal satu ini," lanjut sebuah suara di belakang Chanyeol.

"Wow, pendapat yang penuh kepercayaan diri, Jongin," ucap ibu Junmyeon tersenyum dan Jongin mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Chanyeol mendengus seraya memutar bola matanya, walaupun sudah lama berteman dengan Junmyeon, entah kenapa dia tidak suka dengan adik sahabatnya ini.

"Sesampainya di New York, kita akan melaksanakan pernikahanmu," bisik ibu Junmyeon kepada anaknya, Junmyeon mengangguk seraya tersenyum tipis kepada ibunya.

Sejak kematian ayahnya, Junmyeon tidak lagi beradu argumen dengan ibunya. Dia menyayangi ibunya, dia tidak ingin membuat beliau sedih. Terkadang dia iri dengan teman sejak kecilnya, Chanyeol. Orang tua Chanyeol tidak terlalu mengekangnya, Chanyeol bebas melakukan hal yang dia suka, bahkan untuk memilih pasangan hidupnya.

"Hai dear," sapa Chorong sambil menyentuh bahu Junmyeon, gadis itu tersenyum manis padanya. Junmyeon balas tersenyum. "Kapalnya akan segera berangkat, kita harus naik," ucap Chorong sambil meraih tangan Junmyeon.

Ya, bahkan untuk memilih pasangan hidupnya sendiri Junmyeon tidak bisa. Chorong memang gadis yang cantik dan menawan. Tapi sekeras apapun Junmyeon mencoba, dia tidak bisa. Entah apa yang salah, kalau dipikir-pikir dibandingkan Chorong, matanya melihat bahwa Chanyeol lebih menarik daripada gadis itu. Berkali-kali Junmyeon menepis pikiran itu. Apa dia jatuh cinta pada sahabatnya? Tidak, bukan itu. Hanya saja, matanya melihat bahwa pria lebih menarik dari wanita. Jangan-jangan orientasi seksualnya sudah berubah? Junmyeon sendiri ingin tahu jawabannya.

.

.

.

Hari itu merupakan hari penentuan bagi Kris, hampir tiga jam dirinya berada di meja bundar bersama penjudi lainnya dan ini kesempatan terakhirnya, untuk mendapatkan tiket menuju Titanic, kembali ke rumah keduanya di Amerika.

"Full house!" teriak Kris sambil menunjukan kartunya dan mendapat cibiran dari pemain lainnya. Keberuntungan berpihak padanya, dia memenangkan tiket tersebut. "Zitao kita menang!" sahut Kris sambil mengambil taruhan yang berada di atas meja.

"Kita ke Amerika!" seru Kris sambil menghampiri teman seperjuangannya tersebut. "Yeah, Amerika baby!" sahut Zitao sambil mengayunkan tiketnya tinggi-tinggi. "Tidak nak, kecuali kalian berhenti berjingkrak dan segera pergi. Titanic akan segera berangkat," ucap pemilik kedai sambil mengarahkan pandangan ke jam besar yang tertempel di dinding kedai. Tidak lama setelah itu, terdengar suara peluit besar yang berasal dari Titanic, menandakan kapal itu akan segera berangkat.

"Oh, shit. Hurry up Zitao!" teriak Kris sambil mengambil tas miliknya. Zitao mengikutinya dari belakang, berlari melewati kerumunan orang yang berada di pelabuhan tersebut. Mata Zitao membulat dan mulutnya terbuka lebar ketika melihat kapal itu dari dekat. "Whooa...whooa..." hanya itu yang dapat dia katakan. "Yeah, kita orang paling beruntung di dunia ini!" sahut Kris.

Setelah melewati penjaga yang awalnya tidak mempercayai mereka sebagai penumpang, (mereka mengaku-ngaku sebagai orang Amerika dan berkata kalau mereka bersih dari kutu) Kris dan Zitao naik ke atas dek, bergabung dengan penumpang lain yang sedang melambai ke sanak saudaranya.

"Sampai jumpa, aku akan merindukan kalian!" teriak Zitao sambil melambaikan tangannya.

"Apa ada orang yang kau kenal?" tanya Kris. Zitao menggeleng, senyum lebar masih terpampang jelas di wajahnya. "Tidak, tapi aku ingin melakukannya. Good bye!" Kris tertawa kecil dan ikut melambaikan tangan. "Sampai jumpa! Aku tidak akan melupakan kalian!"

"Ge, aku bisa melihat Liberty dari sini...kelihatan kecil tentunya," ucap Zitao ketika Titanic mulai berangkat.

Sore itu, Titanic berangkat membawa 2227 jiwa menuju Amerika, dibagi dalam tiga kelas tidak hanya berdasarkan harga tiket, melainkan juga dengan status sosial. Kapal itu pergi meninggalkan pelabuhan, membawa bermacam impian setiap penumpang, tapi tidak pernah kembali.

.

.

.

"D-20...D-20..." Kris bergumam, matanya mencari-cari nomor yang tertera di tiket. Nomor yang menunjukan tempat tinggal mereka untuk seminggu kedepannya. Untuk kelas tiga, satu kamar terdiri dari dua sampai sepuluh orang penumpang. Kamar D-20 berkapasitas empat orang, di sana Kris dan Zitao bertemu dengan penumpang lainnya, seorang pemain arkodion bernama Kim Minseok dan penari jalanan Zhang Yixing yang ternyata sama-sama orang Asia. Membuat Kris dan Zitao bahagia karena bisa menemukan orang yang sebangsa dengan mereka. Teman sekamar baru, begitu menurut Zitao.

"Hei, siapa bilang kau yang tidur di atas!" sahut Kris sambil menarik Zitao yang akan naik ke tempat tidur tingkat dua. Zitao tertawa dan balas mendorong Kris, namun posisi itu dimenangkan oleh Zitao. Minseok dan Yixing saling berpandangan heran melihat tingkah laku dua penumpang baru ini.

"Ge, bagaimana kalau kita melihat-lihat dek?" usul Zitao yang diikuti anggukan setuju dari Kris. "Kalian juga!" ajak Zitao kepada Minseok dan Yixing. Mereka berempat pun berjalan ke bagian depan kapal, sesampainya di sana mereka disambut dengan angin dan deburan ombak. Banyak orang ternyata di dek, mereka sama-sama menikmati sesuatu. Menikmati matahari senja yang indah.

Kris sedang duduk di sebuah bangku panjang bersama Minseok ketika matanya menangkap sesosok pemuda, pakaiannya rapi, kulitnya bersih seputih susu, berpenampilan kelas satu, terlihat sempurna di mata Kris. Pemuda itu memandang jauh ke arah lautan sana. Mungkin ini gila bagi Kris, tapi dirinya tidak bisa berhenti untuk memandang pemuda tersebut.

"Kau tahu..." suara Minseok menyadarkan Kris.

"Terkadang aku ingin berada di atas sana," ucap Minseok sambil menunjuk ke arah tempat pemuda itu berdiri. "Menikmati sampanye dengan alunan musik, makan-makanan enak, tidak peduli besok tidur di mana, bisa makan atau tidak," lanjut Minseok sambil menggeleng-geleng, otaknya kembali memutar memori masa-masa hidupnya. Kris hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Minseok.

"Gege ada lumba-lumba di sini!" teriak Zitao dari ujung kapal, anak itu melambai-lambai ke arah Kris, menyuruhnya untuk datang ke tempatnya. Kris berjalan menghampiri Zitao dan benar saja ada lumba-lumba yang sedang melompat di dekat kapal tersebut, sebuah pemandangan yang jarang ditemukan dan ini pertama kalinya mereka melihat lumba-lumba.

Kris pun menaiki pinggiran pagar dek sambil berpegangan pada tali yang berada di dekat situ. Tidak ada kapal lain, hanya lautan biru nan luas yang terhampar di depan matanya. Momen terbaik yang pernah dia alami, rasanya seperti terbang.

"I'm the King of the World!" teriak Kris sepenuh tenaga.

.

.

.

Junmyeon menghela nafas seraya bersandar pada kursi kerjanya, hampir dua jam dia memeriksa berkas-berkas ini. Bahkan pekerjaannya sendiri tidak memberikan hari libur. Beruntung telepon rumah tidak berlaku di sini. Kalau tidak, mungkin sejak tadi dia sibuk dengan para klien.

Kapan ini akan segera berakhir?

"Masuk," ucap Junmyeon ketika mendengar pintu ruangannya diketuk. "Junmyeon, kamu masih sibuk nak?" Junmyeon menoleh dan mendapati ibunya tersenyum kepadanya sambil menggenggam sesuatu. "Ibu, ada perlu apa?" tanya Junmyeon sambil tersenyum. Ibunya berjalan, menghampiri meja kerja Junmyeon dan memberikan sesuatu di tangan anaknya itu.

"Ini..." gumam Junmyeon.

"Ini kalung pemberian ayahmu. Dia memberikan ini saat melamar ibu, dan ibu harap bisa kau berikan pada orang yang kau cintai,"

"Orang yang aku cintai?" seakan ada sedikit harapan terlintas di raut wajah Junmyeon ketika menanyakan itu. "Iya, untuk Chorong,"

DEG.

"Selamat bekerja nak. Jangan tidur larut malam," ujar ibunya sambil mengecup kening Junmyeon.

Junmyeon tidak mengerti, kenapa ibunya harus memberikan barang ini. Kalaupun ini untuk Chorong kenapa tidak diserahkan langsung, kenapa harus menyuruhnya secara tidak langsung? Bodoh, dia sempat berpikir kalau ibunya membebaskan dia untuk mencari pasangan.

"Wow, barang yang bagus," gumam Jongin sambil bersiul. "Sudah kubilang untuk mengetuk pintu sebelum masuk," ada nada kekesalan saat Junmyeon mengatakan itu. "Maaf, hyung. Pintumu terbuka sedikit jadi aku masuk saja. Siapa yang memberikan ini?" tanya Jongin sambil memperhatikan kalung itu secara seksama.

"Ibu," jawab Junmyeon pendek, kembali fokus dengan lembar kerjanya. "Ibu memberikan barang ini? Wow! Aku tidak menyangka, ternyata kita punya barang seperti ini," Jongin mengangkat kalung itu tinggi-tinggi, menerawang seakan dia kolektor barang seni.

"Maksudmu?"

"Ini Heartstring of Dragon hyung! Benda terlangka dan hanya satu-satunya di dunia. Ya~ karena pembuatnya meninggal setelah itu,"

"Nama yang aneh untuk sebuah kalung," gumamnya tanpa melihat ke arah Jongin. Junmyeon tidak menyadarinya tapi ada pandangan berbeda saat Jongin melihat kalung itu dan muncul perasaan tidak enak ketika tahu bahwa kalung itu bukan untuknya, melainkan untuk saudaranya yang sudah sempurna ini.

.

.

.

to be continued


A/N: Terima kasih untuk semua komen positif yang diberikan readers /throws heart(?)/ I hope you enjoy this chapter. See you in next chap! :)