TITANIC (Krisho version)
story by codenameL
Kris/Suho with support cast EXO & A-Pink Chorong | Boys Love/Romance/Drama | Chaptered
Summary: Their first meeting
Happy reading!
.
.
.
11 April 1912
Malam kedua di kapal dengan orang-orang yang sama, topik yang sama, dan rutinitas yang sama, seakan tidak memberikan nafas bagi Junmyeon. Dia ingin melonggarkan dasinya. Namun, walaupun dia sudah melonggarkan dasinya, rasanya masih terasa sesak.
Sejujurnya, Junmyeon tidak menikmati pelayaran ini, ntah apa yang salah. Padahal semuanya terlaksana dengan baik, bahkan sahabat baiknya ada di sini. Mungkin karena banyaknya pertanyaan yang diajukan kepadanya. Junmyeon harus memutar otaknya, mencari jawaban yang tepat agar tidak mempermalukan dirinya, ibunya atau nama baik keluarga Kim.
Terlebih lagi ada keluarga Park, yang nantinya akan menjadi keluarga barunya, jika dia menikah dengan Chorong. Huh, jika? Sepertinya kata itu salah muncul, karena ini memang keharusan. Rasanya dia ingin berteriak, Junmyeon seperti berada di ujung tebing, tidak ada yang memperhatikan bahkan tidak ada yang bersedia menariknya.
"Junmyeon, kamu mau ke mana?" tanya ibunya ketika Junmyeon mulai berdiri. "Aku ingin ke toilet," jawab Junmyeon tanpa basa-basi dan segera meninggalkan ruang makan.
.
.
.
Malam itu langit terlihat indah bertaburan bintang-bintang dan angin berhembus cukup dingin. Kris sedang berbaring di sebuah kursi kayu, menikmati cerutunya ketika dia mendengar derap langkah seseorang, orang itu berlari melewati kursi tempat dia berbaring.
Kris duduk dan mengamati apa yang akan dilakukan orang tersebut. Seorang pemuda sedang berdiri, melihat ke bawah dan memandangi lautan. Perlahan-lahan dia melepas sepatunya dan menaiki pagar pelindung. Sekarang pemuda tersebut telah berada di sisi luar pagar, badannya mulai dia condongkan ke depan, bersiap-siap menjatuhkan diri.
"Jangan lakukan itu," ucap Kris mendekatinya perlahan.
"Jangan mendekat!"
"Ayolah, berikan tanganmu..."
"Tidak! Tetap di tempatmu atau aku akan melepas peganganku!"
Kris mendekatinya perlahan sambil memberikan tanda bahwa dia hanya ingin menjatuhkan cerutunya ke laut. "Kau tidak akan melakukan itu," ucapnya tenang.
"Apa maksudmu? Jangan mengira kau bisa menyuruhku untuk melakukan apa yang akan kulakuan dan yang tidak. Kau tidak mengenalku!"
Junmyeon pun menoleh dan mendapati seorang pria sedikit lebih tinggi darinya, berambut pirang, dan memiliki sebuah piercing di telinga kanannya. Dia terkesima, pria ini jauh lebih menarik perhatian dibandingkan dengan Chanyeol.
"Seharusnya, sudah sejak tadi kau lakukan," pria itu bersandar sambil tertawa kecil.
"Argh! Kau menggangguku! Pergi sana!" Junmyeon tetap bertahan pada posisinya, mengalihkan pandangannya ke arah laut biru.
"Tidak, aku sudah jauh terlibat. Kalau kau melompat, aku juga akan melompat,"
Junmyeon menghela nafasnya, kenapa pria ini menambah tingkat kefrustasiannya. "Kau gila! Kau bisa mati!" teriaknya. Pria itu mengangkat bahu sambil memasang raut wajah bangga, "aku perenang yang handal,"
"Jatuh ke sana akan membuatmu mati," gumam Junmyeon dengan polosnya.
"Ya, itu pasti. Tapi yang lebih kukhawatirkan adalah air lautnya yang dingin," perlahan-lahan pria tersebut melepas tali sepatunya.
"Seberapa dingin?"
"Kau bisa membeku. Err...apa kau pernah ke Vancouver?"
Junmyeon menatapnya heran dan pria tersebut kembali berbicara. "Aku dulu dibesarkan di sana. Musim dingin di sana adalah yang paling dingin, waktu kecil aku dan ayahku sering memancing ikan di danau yang beku. Kau tahu, memancing ikan di es itu seperti..."
"Aku tahu tentang memancing di es!"
Pria itu tersenyum, raut wajahnya sedikit kaget mendengar jawaban dari Junmyeon. "Maaf, aku kira kau tidak tahu. Ya, tampang sepertimu seperti anak laki-laki rumahan dan oh, iya! Aku tidak sengaja terpleset dan kau tahu...air di sana sama dinginnya dengan di bawah sana," jelasnya sambil mengarahkan pandangan ke lautan biru.
"Rasanya seperti tertusuk beribu-ribu pisau. Kau tidak bisa bernafas, kau tidak bisa berpikir hanya rasa sakit yang menghampirimu. Ya... sebenarnya aku tidak ingin melompat ke sana," Junmyeon mengernyitkan dahinya. "Seperti kubilang, aku tidak punya pilihan. Aku hanya berharap kau bisa melupakan ide tentang melompat dan kembali ke sini," lanjutnya sambil mengulurkan tangan.
"Kau gila!"
Pria itu kembali tersenyum. "Orang-orang sering mengatakannya. Tapi dengan segala hormat, Tuan. Aku bukan orang yang sedang berpegangan di ujung kapal seperti yang kau lakukan saat ini," Junmyeon memandangnya ragu-ragu. "Berikan tanganmu. Aku tahu, kau tidak mau melakukan ini,"
Junmyeon terdiam, sebenarnya sudah lama Junmyeon mencari cara untuk mengakhiri segala hal yang merantainya dan hanya ini cara yang terpikirkan olehnya. Sayangnya, orang yang berada di hadapannya, menggagalkan keinginan itu. Entahlah mungkin Junmyeon masih ingin hidup, atau dia ingin mencoba hidup dengan pria di hadapannya.
Love can touch us one time and last for a lifetime
Junmyeon pun meraih tangan pria blonde di hadapannya. "Kris Wu, panggil saja Kris" ucapnya ketika Junmyeon menyambut uluran tangannya. "Kim Junmyeon," balas Junmyeon sambil tersenyum tipis. "Kau tinggal menaiki pagar ini saja tuan muda," ujar Kris masih memegang tangan Junmyeon.
Terkadang Junmyeon membenci kalau kakinya lebih cepat berkeringat dibandingkan tangannya, alhasil dia terpleset. Refleks, Junmyeon berteriak sekencang mungkin, takdir mungkin mengatakan dia harus berakhir di sini.
Tidak.
"Tenang tuan muda! Aku memegangmu!"
Kris di sana, masih memegangnya dengan erat.
"Jangan lepaskan aku!" teriak Junmyeon panik. "Aku tidak akan melepaskanmu. Tenang, jangan panik. Kumpulkan tenagamu dan berusahalah naik," ujar Kris menenangkan. Junmyeon pun mengangguk dan berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat dirinya. Ketika Junmyeon melewati pijakan terakhir, Kris segera menariknya dan mereka sama-sama terjatuh dengan posisi Junmyeon menimpa badan Kris.
Mata mereka saling bertemu, sangat dekat. Untuk pertama kalinya Junmyeon merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, detakan ini berbeda dengan yang dia rasakan saat akan jatuh tadi.
"Junmyeon!" teriak Chanyeol menghampiri mereka, diikuti dengan Jongin dan dua petugas lainnya. Junmyeon segera berdiri dan bergumam maaf kepada Kris. "Kau ke mana saja? Kami mencari-carimu! Apa kau yang berteriak tadi? Apa yang terjadi? Hei, kenapa kau tidak memakai sepatu?" pertanyaan bertubi-tubi datang dari Chanyeol ketika melihat tubuh Junmyeon yang gemetar dan bertelanjang kaki.
"Siapa laki-laki ini?" tanya Jongin mengalihkan pandangan tidak suka ke arah Kris.
"A-aku tidak apa-apa Chanyeol. I-ini Kris, dia membantuku tadi, saat aku hampir terjatuh..." jawab Junmyeon sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Kau hampir jatuh? Yah! Kim Junmyeon kenapa kau begitu ceroboh!"
"A-aku t-tadi ingin melihat...baling-baling kapal," Chanyeol menghela nafas mendengar jawaban bodoh dari temannya itu. Dia pun menoleh ke arah Kris, "terima kasih telah menolong temanku. Ah, sebagai ucapan terima kasih, bagaimana kalau besok kau ikut makan malam bersama kami?"
Raut wajah Jongin menunjukan ketidaksukaan. "A-apa hyung...? Orang kelas tiga ini?" tanyanya sinis yang langsung mendapat tatapan tajam dari Chanyeol. Untuk beberapa saat tidak ada jawaban dari pria blonde tersebut dan Junmyeon pikir Kris pasti tidak mau ikut karena ucapan adiknya ini.
"Well, sebuah kehormatan bagiku untuk bisa makan bersama kalian," jawab Kris sambil tersenyum.
Dugaannya ternyata salah.
Senyum tipis terulas di wajah putih Junmyeon. Chanyeol pun mengangguk semangat dan menepuk bahu Kris sebelum mereka berpamitan.
.
.
.
to be continued
A/N: Salah satu scene favorit saya, yeey mereka ketemu ~ I hope you enjoy this chapter, see you in the next chap! :D
Balasan review untuk yang tidak login
honeykkamjong: shounen-ai yang aku maksud di sini bagian kris sama suho, jadi yang menyimpang ya di bagian mereka dan juga aslinya Rose tunangannya sama pria kan :) thanks for read!
adrien: gak, dia sama cewe ditunanginnya, sho-ai nya di bagian kris sama suho. Thanks for read!
zahra: sudah diupdate yaa
