TITIANIC (Krisho version)

story by codenameL

Kris/Suho with support cast EXO & A-Pink Chorong | Boys Love/Romance/Drama | Chaptered

Summary: Make it count

Happy reading!

.

.

.

April 12th 1912

Junmyeon tidak bisa melupakan sosok pria yang menolongnya kemarin malam, Kris Wu. Sosok yang sederhana, tapi meninggalkan kesan mendalam baginya. Mungkin karena kata-kata Kris saat menolongnya atau sentuhan tangannya atau tatapan matanya. Junmyeon tidak tahu istilahnya, berbunga-bunga mungkin? Apapun itu, sebuah perasaan baru bagi Junmyeon. Sebaiknya Junmyeon mencari Kris dan mengucapkan terima kasih padanya. Semoga saja pria itu sedang berada di dek.

Apa ini keberuntungan atau takdir?

Karena sekarang pria itu berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, menyibukkan diri, mencoret sesuatu di sebuah buku yang Junmyeon tebak itu sebuah buku sketsa. Mungkin Kris sedang menggambar. Junmyeon memperhatikan seksama, mata Kris terkadang melihat ke arah seorang ayah dan anak perempuannya lalu kembali menggambar.

Kau bisa Junmyeon, tinggal berjalan mendekatinya, perlahan. Ya, secara perlahan lalu ucapkan terima kasih.

"Wow," sebuah kata terucap dari bibir Junmyeon tanpa sadar, saat melihat gambar yang dibuat oleh Kris. Wajah Kris yang menegang sebelumnya, menjadi rileks ketika melihat Junmyeon datang. "Tuan muda sedang mencari udara segar rupanya," ucap Kris.

Junmyeon mengerutkan dahinya. "Panggil aku Junmyeon,"

"Oke oke, Tuan Mu– Junmyeon,"

Kris kembali melanjutkan kegiatannya dan Junmyeon duduk manis di sebelahnya, memperhatikan tangan Kris membentuk garis-garis baru dengan pensil itu. Junmyeon bukan seorang penikmat seni seperti Jongin, tapi menurutnya itu sebuah gambar yang bagus, sungguh realistik.

"Aku tidak tahu kau mempunyai hobi seperti ini," gumam Junmyeon.

"Aku juga tidak tahu selain hobi ingin melompat, ternyata kau hobi memperhatikan orang,"

"A-aku sedang berjalan-jalan di sekitar sini, d-dan kebetulan melihat kau!" ucap Junmyeon berusaha menyembunyikan kegugupannya. Kris hanya menggeleng-geleng seraya tersenyum. "Kau suka menggambar?" tanya Junmyeon dengan polosnya. "Itu hobi sekaligus pekerjaanku," jawab Kris sambil menutup buku sketsanya dan menyerahkan kepadanya Junmyeon.

Mata Junmyeon sedikit membulat, tapi pandangan Kris memintanya untuk membuka buku tersebut. Di dalam buku sketsa itu terdapat banyak gambar, bermacam-macam orang dengan berbagai pose, bahkan di awal halaman ada gambar yang menurut Junmyeon agak aneh, seperti gambar anak TK. Ada pula gambar mahluk yang tidak pernah muncul di dunia ini.

"I-ini...naga? Da-darimana kau..."

"Sejujurnya aku belum pernah melihat mahluk itu, hanya tertarik saja mendengar kisahnya dan aku mulai menuangkannya ke dalam buku sketsa,"

Kembali mulut Junmyeon mengeluarkan kata wow. Dirinya cukup kaget, karena ada orang yang berimajinasi tinggi seperti Kris ini. Dia sendiri mengetahui bentuk naga dari buku-buku tua di perpustakaan rumah. Junmyeon rasa, Kris sendiri belum pernah melihat naga seperti yang digambar di buku. Setelah itu, Kris pun menceritakan masing-masing kisah dari gambar buatannya dan kebanyakan diambil di Paris.

"Junmyeon?" sebuah suara familiar memanggilnya, Junmyeon menoleh dan mendapati Chorong sedang bersama ibunya dan juga ibu Junmyeon sendiri. Junmyeon berdiri perlahan dan memberi salam kepada tiga wanita tersebut.

"Apa ini orang yang menyelamatkanmu Junmyeonie?" tanya ibu Chorong sambil menatap Kris penasaran.

Insiden kemarin malam cukup membuat shock therapy bagi keluarga Park dan ibunya. Mereka juga ingin mengetahui, siapa orang yang telah menyelamatkan pewaris keluarga Kim ini. Maka Junmyeon mengenalkan Kris kepada mereka. Junmyeon tahu, hanya ibunya yang tidak tertarik. Terlihat jelas dari raut wajahnya. Bagi ibunya, Kris sama seperti hama yang perlu dibasmi.

"Ah, di sini kalian rupanya ladies!" sahut Chanyeol menghampiri. "Oh! Hai Junmyeon dan...err..." Chanyeol berpikir sejenak.

"Kris,"

"Oh, iya. Kris!" Chanyeol menjetikan jarinya seakan dia baru ingat nama itu.

"Ada perlu apa kau mencari kami Yeollie?" tanya Chorong heran. "Begini noona..." belum sempat Chanyeol menyelesaikan kalimatnya sebuah terompet berbunyi, menandakan makan malam akan segera dimulai. "Nah, itu maksudku! Makan malam!" sahut Chanyeol sambil tersenyum lebar. Chorong tertawa pelan melihat tingkah laku adiknya itu. "Haruskah mereka menggunakan cara itu? Seperti akan perang saja," gerutu ibu Chorong yang ditanggapi lucu oleh lima orang di dekatnya.

Kris hendak berjalan, namun tepukan pelan dari Chanyeol menghentikannya. "Apa kau yakin akan mengenakan ini?" tanya Chanyeol sambil mengarahkan pandangannya ke pakaian yang dipakai Kris. Kris hanya mengangkat bahunya, menurutnya ini adalah baju terbaik yang dia pakai. Chanyeol pun menggelengkan kepalanya.

"You need some help, dude. Aku punya beberapa setel pakaian, ayo."

.

.

.

"Tepat seperti dugaanku!" sahut Chanyeol riang ketika melihat Kris memakai tuxedo miliknya, kini pria itu sudah kelihatan rapi dan bahkan terlihat seperti orang kelas satu. "Kau duluan saja, aku menemui kakakku dulu. Junmyeon mungkin sudah di sana," Kris mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan kamar Chanyeol. Laki-laki bernama Park Chanyeol itu tersenyum cukup lebar, tidak lupa mengucapkan 'good luck' untuk Kris.

Satu buah setel baju bisa membuat perubahan besar. Dengan melihat sekilas, orang tidak akan percaya bahwa Kris sebenarnya adalah penumpang dari kelas tiga. Kris bahkan sedikit terkejut, saat seorang pelayan dengan ramahnya membuka pintu ruangan menuju Grand Staircase.

Kris menghentikan langkahnya di dekat jam besar dan mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, mencari sosok pria yang berkulit seputih susu. Kris tersenyum perlahan saat menemukannya. Pria itu baru saja datang bersama ibu dan sudaranya. Memakai setelan tux hitam dengan dasi kupu-kupu, rambut hitam yang disisir rapi dan mata coklat yang indah. Dia sungguh menawan. Di mata Kris, Kim Junmyeon bahkan lebih menawan dari orang-orang yang ditemuinya di Paris.

"Nice suits," ucap Kris ketika Junmyeon menghampirinya. Sebuah senyum dan sedikit rona merah terulas di wajah Junmyeon. "Kau juga," jawabnya. Junmyeon menarik pelan tangan Kris, mengajaknya berjalan ke arah ibunya. Entah kenapa dia ingin menunjukan Kris kepada ibunya.

"Ibu, ingat Kris Wu yang kita temui sore tadi kan?"

Nyonya Kim mengalihkan pandangannya ke arah pria di sebelah Junmyeon. Dia berusaha menyembunyikan keterpukauannya, karena memang Kris terlihat bagus dengan setelan tersebut. "Dia terlihat...bagus. Siapa yang meminjamkan baju padamu?" tanyanya dengan nada sarkastik.

"Chanyeol, Bu," jawab Kris ramah. Nyonya Kim hanya mengangguk dan kembali berbincang dengan keluarga Park.

"Wow, baju pinjaman yang bagus," ucap Jongin sambil tersenyum remeh ketika melewati Kris, dan mendapat tatapan tajam dari Junmyeon. Kris balas tersenyum sambil sedikit menganggukan kepalanya. Ingin sekali Junmyeon memukul kepala Jongin di kala itu.

"Itu Jongin, adikku. Um...maaf, Kris,"

"Tidak apa-apa Junmyeon, setidaknya aku terlihat menawan di mata seseorang,"

Seandainya Kris menyadari rona merah di kedua pipi Junmyeon.

.

.

.

"Bisa kau ceritakan padaku Tuan Wu, bagaimana akomodasi di geladak kapal? Kudengar saat bagus," pertanyaan yang dilontarkan nyonya Kim beberapa saat setelah mereka berkumpul di sebuah meja makan besar. Kris menatap nyonya Kim untuk sesaat lalu membalas, "yang terbaik kulihat, hampir tidak ada tikus, Bu,"

Jawaban itu mendapat respon berbeda dari tiap orang di meja tersebut, ada yang tertawa, ada juga yang terdiam dan nyonya Kim memilih untuk tersenyum, senyum yang dipaksakan.

Pelayan pun datang membawakan hidangan pembuka mereka, Kris sedikit panik saat melihat banyak sekali garpu dan sendok beserta alat makan lainnya yang belum tentu dia tahu fungsinya.

"Hei, Chanyeol. Apa ini semua untukku?" bisik Kris kepada Chanyeol yang duduk di sebelahnya.

"Yep, mulai lah dari yang paling luar, kau nanti mengerti caranya," balas Chanyeol berbisik.

Alangkah sebuah keberuntungan bagi Kris duduk bersama dan menikmati hidangan makan malam yang disediakan di kapal Titanic ini, bahkan Kris satu meja dengan pembuat kapalnya, Thomas Andrews. Orang-orang yang berada di meja itu sibuk membicarakan tentang kemegahan kapal ini.

"Kapal ini sangat menakjubkan, Tuan Andrews," ucap Junmyeon sambil tersenyum terhadap pria yang duduk di sebelahnya, Thomas Andrews balas tersenyum sambil mengucapkan terima kasih kepada Junmyeon.

"Di mana anda tinggal sekarang, Tuan Wu?" pertanyaan lain yang dilontarkan oleh nyonya Kim. Junmyeon melirik ke arah ibunya, lalu ke arah Jongin yang menyeringai. Junmyeon menghela nafasnya, kedua orang ini tidak hentinya ingin menyudutkan Kris.

"Untuk saat ini saya tinggal di RMS Titanic, setelah itu saya akan mengunjungi keluarga saya sementara waktu sampai waktunya dunia membutuhkan saya,"

"Wow, bagaimana bisa kau melakukan perjalanan seperti itu?" kali ini giliran Jongin yang bertanya. Kris mengalihkan pandangannya ke arah Jongin dan berpikir sejenak.

"Ah...soal itu, aku kerja di berbagai tempat bersama sahabat karibku, ya bermacam pekerjaan, bekerja di kapal, melukis...ya hal-hal semacam itu dan aku...aku memenangkan tiket ke Titanic melalui permainan poker, itu merupakan sebuah keberuntungan," ujar Kris sambil melirik ke arah Junmyeon.

"Hidup memang tentang keberuntungan!" sahut Tuan Park riang dan mendapat gelengan dan tawa kecil dari anaknya, Chanyeol.

"Menurutmu kehidupan seperti itu menyenangkan, Tuan Wu?" pertanyaan kali ini berasal dari nyonya Kim dengan nada dan tatapan yang mencemooh.

Kali ini ibunya sudah bertindak terlalu jauh, Junmyeon menatap ke arah ibunya dengan pandangan tidak suka, bahkan Chanyeol sedikit mengernyitkan dahinya dan memandang heran ke arah nyonya Kim.

"Oh iya, tentu saja Bu..." Kris tersenyum. Berpasang mata yang ada di meja itu, menatap ke arah Kris. "Maksudku, aku punya semua yang aku butuhkan sekarang. Seperti oksigen untuk tubuhku, beberapa lembar kertas kosong..." penjelasan Kris menarik perhatian Junmyeon, "ya, aku suka bangun di pagi hari tanpa mengetahui hari apa yang akan kualami, dengan siapa aku bertemu, ke mana angin akan membawaku. Tadi malam, aku masih tidur dibawah kolong jembatan dan sekarang, aku berada di kapal termewah, duduk di sini bersama anda semua dan menikmati sampanye," Kris mengangkat gelasnya seakan memberitahu pelayan disebelahnya untuk mengisi ulang gelas miliknya.

Beberapa orang yang ada di meja itu tersenyum mendengar jawaban Kris, terlebih lagi dengan Junmyeon.

"Saya pikir, hidup itu adalah anugrah dan saya tidak ingin menyiakannya. Kita tidak tahu hal apa yang akan muncul berikutnya. Kita belajar menerima itu dan menghadapi apa pun yang terjadi. Buatlah hidupmu berarti tiap harinya,"

Chanyeol mengangguk semangat. "Kata-kata yang bagus, Kris!"

Junmyeon mengangkat gelas sampanye milknya dan tersenyum ke arah Kris. "Buatlah hidupmu berarti setiap harinya,"

"Berarti setiap harinya!" sahut yang lainnya dan mereka bersama-sama meminum sampanye. Mata Junmyeon tidak pernah lepas dari Kris, begitu juga sebaliknya.

.

.

"Hei, Kris kau tidak ikut bersama ayahku dan lainnya?"

Seusai makan malam, Chanyeol bermaksud mengajak Kris untuk berbincang-bincang dengan ayahnya beserta penumpang kelas satu yang berada di kapal itu.

"Tidak, terima kasih Chanyeol. Aku akan kembali ke tempatku," Kris menjawab sopan. Chanyeol mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah Junmyeon. "Kau ikut Junmyeon?"

Junmyeon menggeleng pelan sambil memberikan senyum bertandakan maaf. "Aku akan di sini bersama Chorong,"

Junmyeon sebenarnya tidak tahan dengan asap dari cerutu-cerutu tersebut, apalagi tentang topik obrolan mereka. Bisnis dan politik, mendengarnya saja sudah membuat Junmyeon pusing.

"Terima kasih banyak, Chanyeol," ucap Kris seraya berdiri dan mengembalikan pulpen milik Chanyeol. Tidak perlu mengucapkan panjang lebar, karena Kris memang benar-benar berterima kasih pada Chanyeol, pria itu banyak membantunya hari ini.

"Kau akan pergi sekarang?" tanya Junmyeon ikut berdiri.

"Yep, kembali bersama budak lainnya," Kris tersenyum sarkastik dan Junmyeon hanya dapat tertawa kecil. "Well, selamat malam Junmyeon," ucap Kris sambil mengulurkan tangannya dan mereka berjabat tangan. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di tangannya dan saat Junmyeon melihat, ada sebuah kertas kecil. Kris menyelipkannya saat mereka berjabat tangan tadi.

Junmyeon ingin memanggil Kris, namun pria itu sudah pergi duluan, menghilang di antara kerumunan orang-orang yang berada di tempat itu. Junmyeon kembali duduk dan membaca isi pesan yang ada di kertas tersebut.

Buatlah hidupmu berarti, temui aku di dekat jam.

Sebuah pesan singkat dari Kris.

Junmyeon ingin menemuinya, tapi apakah dia harus meninggalkan Chorong? Alasan apa yang harus dikatakannya pada ibunya? Apa Chanyeol akan setuju tentang hal ini?

"Dear," sebuah tepukan lembut di bahunya seakan menyadarkan Junmyeon dari rentetan pemikirannya. Junmyeon menoleh seraya tersenyum, "ada apa Chorong?"

Junmyeon menatap Chorong, begitu pula sebaliknya. Mata yang indah, tapi sayang tidak seindah mata coklat milik Kris. Seperti ada banyak hal yang tersimpan di balik tatapan Chorong, namun Junmyeon tidak begitu memikirkannya.

"Bisa kau antarkan aku kembali ke kamar?"

Junmyeon mengangguk pelan, dia pun berdiri seraya memberikan tangannya kepada Chorong untuk dipegang. "Ibu, bibi Kim, semuanya...aku duluan ya," ucap Chorong berpamitan dan mendapat anggukan dari ibunya dan wanita lain yang berada di meja tersebut. Hanya saja, ada ekspresi berbeda dari ibu Junmyeon, tapi dia tetap mengangguk dan tersenyum ke arah Chorong.

Perjalanan menuju kamar Chorong sedikit sunyi, tidak banyak perbincangan yang terjadi antara Junmyeon dan Chorong. Masing-masing sibuk dengan pemikirannya.

"Terima kasih sudah mengantarku, Junmyeon," ucap Chorong ketika mereka sudah sampai di depan kamar gadis itu. Junmyeon tersenyum, sedikit membungkukan badannya. "Pleasure, for my lady,"

Chorong menatap Junmyeon sejenak lalu memeluknya, hal itu sedikit membuat Junmyeon kaget dan bingung apakah dia harus balas memeluk atau tidak?

"Bersenang-senanglah. Kau ingin menemui temanmu itu kan?" sebuah senyum tulus terpampang di wajah indah Chorong. Ekspresi kelegaan terlihat di wajah Junmyeon, dia pun tersenyum ke arah Chorong. "Terima kasih, Chorong," jawab Junmyeon sebelum meninggalkan Chorong malam itu.

Junmyeon berlari, lebih cepat daripada yang dia pikirkan. Dia ingin mencobanya, dia ingin membuat hidupnya lebih berarti tiap harinya, dia bosan hidup di dalam sangkar. Dia ingin keluar, ingin keluar dan merasakan bagaimana dunia di luar sana dan dia berharap...

Dia berharap Kris masih di sana menunggunya.

Untuk membawanya.

"Cukup lama,"

Dan Kris masih di sana, di dekat jam. Menunggunya.

"Aku...aku mengantarkan Chorong dulu tadi," jawab Junmyeon sambil tersenyum malu-malu, nafasnya masih sedikit tersengal. Kris tersenyum tipis menanggapi perkataan Junmyeon.

"Ngomong-ngomong, kau ingin merasakan pesta yang sebenarnya?" sebuah pertanyaan dari Kris yang membuat Junmyeon menaikan alisnya.

.

.

.

Alunan musik khas Irlandia juga hentakan kaki dan tepukan tangan memenuhi sebuah ruangan yang berada satu tingkat di bawah dek kapal. Sama halnya seperti penumpang kelas satu, penumpang kelas tiga pun memiliki gayanya sendiri dalam berpesta.

Seorang penari bernama Zhang Yixing dengan energiknya menari di tengah-tengah kerumunan tersebut, sepatunya berbunyi seakan dia sedang menari tap. Tidak jauh dari sana, ada dua orang sedang asyik beradu panco, dikelilingi dengan suporter dari masing-masing pihak. Ada juga seseorang yang terjatuh karena mabuk, lalu ditolong oleh rekannya dan kembali diberikan bir, mereka tertawa besama-sama.

Junmyeon menikmati itu semua.

Terlebih lagi saat melihat Kris yang dengan bebasnya tertawa, menari dan melakukan tindakan lucu di mata Junmyeon.

"Wahaha, tak kusangka di sini menarik juga!" sebuah suara berat mengagetkan Junmyeon, suara itu sangat familiar. Junmyeon pun menoleh dan mendapati Chanyeol yang baru saja datang.

"Chanyeol? Kau sedang apa di sini?"

Chanyeol menarik bangku kosong yang ada di dekat situ dan duduk dekat Junmyeon. "Saat aku kembali ke ruang makan, aku tidak melihatmu dan noona. Mereka bilang kalian kembali ke kamar, tapi kau tidak ada di kamar, lalu aku mencarimu dan bertemu dengan anak itu," tunjuk Chanyeol ke arah pemuda yang memiliki lingkaran hitam di bawah matanya, "dia bilang sedang ada pesta di sini, tentu saja aku ikut! Park Chanyeol tidak akan melewati satu pesta pun!" Junmyeon tertawa mendengar cerita sahabatnya itu.

"Hei, Chanyeol! Tidak kusangka kau sampai sini," sahut Kris seraya memberikan segelas bir ke arah Chanyeol dan dengan senang hati Chanyeol terima. "Park Chanyeol tidak akan melewati satu pesta pun!" kata-kata itu diulang lagi oleh Chanyeol.

"Kenalkan, sahabatku, Zitao. Zitao, ini Kim Junmyeon dan Park Chanyeol," ucap Kris sambil mengenalkan anak yang sebelumnya Chanyeol tunjuk tadi. "Saya Huang Zitao, salam kenal Tuan Kim, Tuan Park," ucap Zitao sambil membungkukan badan.

"Ah, tidak usah formal Zitao. Panggil aku Chanyeol! Terima kasih sudah membantuku tadi," jawab Chanyeol sambil menepuk-nepuk punggung anak itu. "Aku juga, panggil aku Junmyeon," Junmyeon mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

"Kau bercahaya seperti malaikat Tuan Kim, ah maksudku Junmyeon," kata-kata Zitao membuat wajah Junmyeon kebingungan juga mengundang tawa dari Kris dan Chanyeol. "Ma-maksudku, lihatlah kulitku coklat terbakar matahari dan Kris-ge pun terlihat dekil. Ya, aku jarang melihat seseorang berkulit bersih dan...bercahaya."

Junmyeon mengangguk dan tersenyum malu-malu, baru kali ini dia mendengar pendapat polos dari orang yang baru ditemuinya.

"Berikan aku minuman!" ucap Yixing sambil menghampiri meja mereka dan tanpa ragu-ragu Chanyeol menyerahkan bir miliknya. "Thanks man," jawab Yixing meneguk habis bir tersebut. Dia terlihat lelah, setelah lama menari tadi.

Tidak lama kemudian, pemain arkodion yang tadi Junmyeon lihat, juga menghampiri meja mereka. "Kerja bagus Minseok-ge!" sahut Zitao sambil memberikan bir padanya. "Mereka tidak henti-hentinya menari," ucap Minseok setelah meneguk bir miliknya. Yixing yang sedang menidurkan kepalanya di meja, mengacungkan sebuah jempol ke arah Minseok.

"Ngomong-ngomong mereka siapa?" tanya Yixing yang baru sadar ada penumpang lain yang belum pernah dia lihat.

"Park Chanyeol!"

"Zhang Yixing,"

"Kim Minseok,"

"Kim Junmyeon,"

"Eh?"

"Jangan-jangan kalian saudara jauh?" tanya Yixing polos. Junmyeon dan Minseok sama-sama tertawa, namun tidak memberikan jawaban apa pun. Kim, merupakan nama yang cukup umum di kala itu.

"Hei, Minseok mainkan lagu itu," usul Kris setelah beberapa menit mereka bercengkrama di meja bundar dan kecil. Minseok pun mengangguk dan kembali ke tempatnya bersama pemusik lain.

Sebuah lagu lain dimainkan, dan orang-orang kembali menari dengan gerakan yang berbeda dari lagu sebelumnya. Kris pun berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Junmyeon.

"Ta-tapi aku tidak tahu gerakannya Kris,"

"Aku pun tidak tahu, ikuti saja!" sahut Kris sambil menarik Junmyeon ke tengah-tengah.

Mereka pun mulai menari, bukan sebuah tarian yang pelan dan elegan, namun enerjik dan penuh hentakan kaki. Junmyeon yang awalnya ragu-ragu mengikuti gerakan Kris, sekarang mulai menikmati, ternyata tidak sesulit yang dia kira. Sebuah momen berharga bagi Kris melihat Junmyeon tersenyum, dia tersenyum lebar saat badannya menari mengikuti irama musik.

"Tarian Junmyeon masih kaku, tapi bagus," gumam Zitao sambil memperhatikan kedua orang tersebut dari sudut ruangan. "Tidak pernah kulihat dia sebahagia itu," timpal Chanyeol. Pria berambut coklat itu tertawa kecil seraya mengambil segelas bir yang disediakan dan meneguknya hingga habis.

Itu merupakan malam yang menyenangkan bagi Junmyeon, malam yang tidak akan pernah dia lupakan, dirinya yang bersenang-senang bersama sahabatnya, Chanyeol dan juga Kris, orang yang baru dia temui tapi Junmyeon tidak bisa melepaskan pandangan dari sosok itu.

Berada di dekat Kris terkadang membuatnya gugup, terkadang dia ingin tersenyum namun Junmyeon menahannya agar tidak terlihat bodoh, bahkan Kris juga membuatnya tertawa dengan lelucon garing. Apakah dia jatuh cinta? Apakah itu berarti dia menyukai pria? Junmyeon sendiri ingin mengetahui jawaban tersebut.

Tanpa Junmyeon sadari, ada mata lain yang memperhatikannya sejak tadi. Zitao tidak hanya mengajak Chanyeol ke pesta penumpang kelas tiga, dia juga tidak sengaja mengajak Kim Jongin bersamanya. Hanya saja, kedua orang tersebut tidak sadar. Jongin tersenyum sinis ke arah kerumunan tempat Junmyeon berada, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

.

.

.

to be continued