TITANIC (Krisho version)

story by codenameL

Kris/Suho with support cast EXO & A-Pink Chorong | Boys Love/Romance/Drama | Chaptered

Summary: Confession from both parties

Happy reading!

.

.

.

13 April 1912

"Junmyeon, kau tidak boleh menemui pria bernama Kris Wu itu lagi,"

Mata Junmyeon membulat ketika mendengar ucapan ibunya saat sarapan. Haruskah menjadi topik awal di pagi hari? Junmyeon baru saja membuka matanya, merasakan udara segar, mengucapkan salam sambil tersenyum lebar kepada para pelayan dan Jongin, tentu saja itu membuat mereka terheran-heran.

Namun, ibunya menghancurkan senyuman itu.

"Ke-kenapa aku tidak boleh bertemu dengannya, ibu?"

"Dia membawa pengaruh buruk bagimu,"

"Jelaskan padaku Bu, hal buruk apa yang Kris bawa?"

Junmyeon menatap ke arah ibunya, namun ibunya tidak menatap balik, matanya tertuju pada sarapannya. Jongin tidak banyak berkomentar, dia menikmati sarapan dan juga pemandangan menarik baginya, ibu dan kakaknya beradu argumen.

"Orang kelas tiga sepertinya tidak berhak berteman dengan orang-orang seperti kta,"

"Aku rasa...seharusnya ibu tidak membeda-bedakan kasta, baik dalam berteman atau memilih pasangan..."

Perkataan Junmyeon sontak membuat ibunya kaget. "Apa maksudmu Junmyeon?"

"Hyung, jangan bilang kau...?" tanya Jongin sambil membenarkan posisi duduknya, menatap heran ke arah Junmyeon.

Junmyeon diam, tidak memberi jawaban. Ibunya berjalan menghampirinya, memegang kedua pundak Junmyeon. "Jelaskan pada ibu, Junmyeon. Apa kau tidak setuju menikah dengan Chorong? Apa itu yang membuatmu tidak senang?" Junmyeon kembali tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya ke arah lantai.

"Ada orang lain yang kau cintai?"

Mata Junmyeon sedikit membulat. Kenapa ibunya bisa berpikiran seperti itu? Enam bulan sejak ditunangkan dengan Chorong, ibunya tidak pernah menanyakan hal itu.

"Lupakan dia, Junmyeon. Lupakan orang yang kau cintai,"

Junmyeon seakan tidak percaya dengan telinganya sendiri.

"Apa dia akan membawa kebahagiaan untukmu Junmyeon? Apa dia akan membawa kebahagiaan untuk keluarga kita? Jelaskan pada ibu, nak! Peninggalan ayahmu sudah hampir tidak tersisa, hutang semakin menumpuk, kita hanya bisa bergantung pada perusahaan kecil milik ayahmu,"

Junmyeon tidak bisa berkata apa-apa.

"Apa kau ingin mempermalukan keluarga kita? Kau ingin membawa keluarga kita jatuh miskin? Kau ingin itu terjadi, Junmyeon?!"

Pertanyaan ibunya seakan tidak memberikannya pilihan.

.

.

.

Kala itu Junmyeon sedang merenung di kamarnya. Junmyeon masih bingung dengan apa yang terjadi pagi ini, dia ingin menenangkan pikirannya.

"Hyung," suara yang sangat familiar, sampai Junmyeon tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.

"Berapa kali kubilang untuk mengetuk pintu, Jongin,"

Jongin hanya mengangkat bahunya dan mengambil posisi duduk di sebelah Junmyeon. "Kalau kau ingin membicarakan tentang hal pagi ini, tidak akan kujawab," ucap Junmyeon sambil mengerucutkan bibirnya. Jongin tertawa melihat itu. Terkadang saudaranya ini dapat terlihat sangat lucu dihadapannya, terkadang bisa terlihat menyebalkan.

"Tapi kupikir hyung...ada baiknya kau mengikuti saran ibu,"

Junmyeon menatap Jongin heran.

"Kau tidak ingin membuat ibu sedih kan? Apa perlu kubeberkan rahasia kecilmu?" tanya Jongin sambil menyeringai, kali ini tatapan Jongin berbeda dari biasanya. Junmyeon seakan tidak mengenal Jongin yang ini.

"Ra-rahasia? Apa maksudmu, Jongin?"

Jongin bersiul, seringai itu masih terpasang di wajahnya.

"Semalam aku melihatmu berada di pesta kelas tiga..."

Mata Junmyeon membulat, ingin mengeluarkan protes namun Jongin menggerakan jari telunjuknya, seakan menahan Junmyeon untuk tidak bersuara.

"Bersama pria bernama Kris Wu itu daaaan..." Jongin mencondongkan badannya, lalu menatap Junmyeon dalam, "kau menyukai pria tersebut kan?"

Skak mat. Mungkin itu istilah untuk keadaan Junmyeon sekarang. Jongin melihat dia di pesta, Jongin mengetahui bahwa dia menyukai...tunggu! Junmyeon sendiri belum tahu apakah itu suka atau cinta atau lainnya. Dari mana Jongin bisa menebak itu?

"Mata dan ekspresimu menjelaskan semuanya itu hyung,"

Junmyeon terkesiap, rasanya seperti Jongin mendengar isi kepalanya.

"Apa kau tidak berpikir hyung, mungkin saja Kris Wu itu mendekatimu karena ingin hartamu," Jongin sekilas melirik ke arah Heartstring of Dragon yang terletak rapi di meja kerja milik Junmyeon.

"Itu ti-tidak mungkin..."

"Kau yakin hyung? Sudah berapa lama kau mengenalnya?"

Junmyeon terdiam. Dia mungkin baru bertemu Kris, tapi hati kecilnya mengatakan bahwa Kris bukanlah orang seperti itu. Kris berbeda dari orang-orang yang ada di sekitar Junmyeon. Ya, sangat berbeda.

"Haruskah kuingatkan lagi tentang hutang kita yang menumpuk hyung?"

"Tidak perlu, setiap hari kalian mengingatkan itu padaku,"

"Karena itu, kau ingin melihat raut muka sedih di wajah ibu, hyung? Tidak kan?" Jongin memposisikan dirinya berhadapan dengan Junmyeon dan menunjukan senyum ramah, jarang sekali Jongin menampilkan ekspresi seperti itu. Membuat bulu kuduk Junmyeon merinding.

"Ini tidak adil," geram Junmyeon. Jongin menaikan alisnya.

"Kenapa kalian semua menimpakan hal ini padaku? Kenapa tidak kau saja yang ditunangkan dengan gadis itu, kenapa tidak kau saja yang mengurus perusahaan?!"

Sorot mata Junmyeon begitu tajam menatap Jongin. Junmyeon pun beranjak dari tempat tersebut, kekesalan memenuhi pikirannya, meninggalkan Jongin yang terperangah. Baru kali ini saudaranya berkata seperti itu, selama ini Junmyeon hanya mengikuti apa yang dikatakan ibunya.

"Aku sih ingin hyung," Jongin tertawa pelan, "sayangnya, bukan aku yang ditunjuk ayah," gumam Jongin lirih sambil menatap kalung yang sangat diinginkannya.

.

.

.

Siang itu Junmyeon memilih menyegarkan pikirannya dengan berjalan-jalan di dek. Menikmati suara ombak dan hembusan angin laut, melihat anak-anak kecil yang bermain di sekitarnya, pasangan tua yang sedang menikmati indahnya laut, terkadang Junmyeon juga memperhatikan hal kecil lainnya, seperti sekoci.

"Tuan Andrews, kalau saya lihat banyaknya sekoci yang ada dengan jumlah penumpang yang anda sebutkan tadi, rasanya...tidak mencukupi,"

Junmyeon tidak sengaja berpapasan dengan Thomas Andrews dan mereka berbincang-bincang tentang kapal Titanic.

"Iya, hanya mencukupi setengah penumpang saja. Pengamatan yang jeli, Junmyeon," balas Andrews sambil tersenyum. "Kenapa tidak ditambahkan saja? Masih ada bagian di dek ini yang kosong," Junmyeon kembali bertanya.

Mendengar pertanyaan Junmyeon, Andrews hanya bisa menghembuskan nafasnya. "Aku pernah meminta agar sekoci-sekoci itu ditambahkan. Namun, tidak disetujui karena akan merusak pemandangan,"

Junmyeon mengangguk, mengerti maksud perkataan Tuan Andrews. Ya, siapa lagi yang mempunyai pemikiran seperti itu selain pemilik kapal dan orang-orang kelas satu yang Junmyeon anggap cukup egois, mereka tidak memikirkan akan fungsi sekoci-sekoci ini nantinya. Mereka hanya peduli akan diri mereka dan harta mereka.

"Jangan khawatir Junmyeon, Titanic adalah kapal yang kuat," ucap Andrews meyakinkan, Junmyeon pun mengangguk. Tanpa Junmyeon sadari, ada sosok lain yang mengikutinya sejak tadi dengan sembunyi-sembunyi.

Kris memperhatikan gerak-gerik Junmyeon dan memutuskan untuk mencari jalan lain agar lebih cepat dari pemuda itu. Jika ada kesempatan berbicara, Kris ingin sekali berbicara pada Junmyeon.

Sejak pesta kemarin malam...ah, tidak sebenarnya sejak pertama kali dirinya melihat Junmyeon hari pertama di kapal ini, bayangan Junmyeon tidak berhenti memenuhi pikiran Kris. Mungkin ini gila, tapi Kris tahu bahwa dirinya mencintai pria kecil bernama Junmyeon itu. Cinta pada pandangan pertama? Mungkin.

Kris sudah berbincang dengan Minseok tadi, dan pria yang tingginya hampir sama dengan Junmyeon itu juga mengatakan bahwa Kris sedang jatuh cinta, bahkan dua orang lainnya, Zitao dan Yixing setuju dengan perkataan Minseok. Kris tidak tahu apa tanggapan Junmyeon nantinya, tapi Kris ingin menyampaikan perasaannya kepada Junmyeon. Dia juga ingin Junmyeon mengutarakan isi hatinya tentang apa yang dirasakannya, karena Kris melihat pemuda itu sangat tertekan.

Kris tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, karena menemui orang kelas satu akan lebih susah dibandingkan memenangkan sebuah game poker. Kris pun mengambil mantel yang tergeletak di sebuah kursi, merapikan sedikit penampilannya agar terlihat minimal seperti orang kelas dua.

Dia pun bersender kepada tiang kapal tersebut, berusaha terlihat normal. Menunggu sampai Junmyeon melewati tempatnya berada, dan saat Junmyeon melewati Kris, tanpa ragu Kris menariknya ke dalam ruangan yang ada di dekat situ. Beruntunglah Thomas Andrews berpapasan dengan kru lain dan sibuk berbincang dengan mereka, hingga dia tidak menyadari kepergian Junmyeon.

"Apa yang kau lakukan, Kris?!"

Kris sedikit tersentak mendengar pertanyaan dengan nada tinggi keluar dari bibir Junmyeon. Pemuda kecil itu sedikit meronta saat Kris menariknya tadi. Kris memaklumi reaksi Junmyeon tersebut. Siapa yang tidak marah jika ditarik paksa?

"Junmyeon, aku ingin bicarakan sesuatu," ucap Kris. Salah satu tangannya diletakan di dinding, tepat di atas pundak Junmyeon. Berjaga-jaga agar pemuda itu tidak kabur saat Kris mengutarakan isi hatinya. Junmyeon sendiri sekarang berhadapan dengan Kris, punggungnya menyentuh dinding ruangan tersebut. Salahkan Kris, dia yang menyudutkan pemuda berkulit putih itu.

"Ma-maaf Kris, aku harus pergi,"

Pemuda kecil itu hendak pergi, namun tangan Kris menahan lengan Junmeyon. "Kumohon Junmyeon, dengarkan aku,"

Junmyeon ingin mengalihkan pandangannya, tapi tatapan lembut penuh harapan dari Kris membuat dirinya berdebar-debar, tidak bisa melepaskan pandangannya dari Kris. Iris coklat itu seakan menghipnotis Junmyeon. Tatapan itu begitu lembut dan tulus, tidak ada maksud lain dari Kris. Dia hanya ingin berbicara dengan Junmyeon. Namun, sedetik kemudian Junmyeon mengingat perkataan ibunya pagi ini.

"Maaf Kris, sebaiknya kita tidak bertemu lagi,"

Kris mengerutkan dahinya. Ekspresinya menunjukan bahwa dia cukup bingung dengan apa yang Junmyeon sampaikan. "Maksudmu? Aku tidak salah dengar kan Junmyeon?" tanya Kris. Junmyeon menatap Kris lekat-lekat, tatapannya sedikit menantang. "Kau dengar ucapanku barusan, Kris. Ah, maksudku Tuan Wu?"

Melihat Kris yang terdiam, Junmyeon mengambil kesempatan itu untuk berjalan menjauhi Kris. Namun apa daya, langkah Kris lebih lebar dibandingkan Junmyeon. "Tu-tunggu dulu, Junmyeon!" sahut Kris menahan lengan Junmyeon, kembali Junmyeon terpojok. "Aku tidak tahu alasanmu untuk berhenti menemuiku, tapi kali ini dengarkan aku. Setelah itu kau bebas untuk menentukan pilihanmu," pinta Kris. Junmyeon menghembuskan nafasnya lalu mengangguk.

"Kim Junmyeon mungkin kau akan kaget atau merasa hal ini aneh tapi ketahuilah, aku mencintaimu. Kau adalah orang terindah yang pernah kutemui, kau menawan. Kau memiliki senyum yang mempesona, matamu akan berubah seperti bulan sabit ketika tertawa. Mata coklatmu yang indah," Kris perlahan menyentuh sudut mata Junmyeon, lalu beralih ke pipinya, "kulitmu yang putih...Zitao memang benar, kau bercahaya. Layaknya seorang malaikat," ujar Kris sambil tertawa kecil. Junmyeon menahan nafasnya saat Kris menyentuh bibirnya. "Suaramu yang halus sampai ke semua tingkah lakumu. Semuanya Junmyeon, aku menyukai semua hal tentang dirimu,"

Tatapan lembut yang Kris berikan pada Junmyeon saat dia mengatakan semua itu, seakan membuat Junmyeon membeku, dirinya tidak bisa bergerak dan sesekali menahan nafas, jantungnya juga berdetak sangat cepat. Junmyeon tidak tahu apakah ada rona merah muncul di wajahnya.

"Kau yakin hyung? Sudah berapa lama kau mengenalnya?"

Pertanyaan itu terlintas di pikiran Junmyeon.

"Kau awalnya pasti berpikir aku ini orang yang bodoh, kan?"

Kris menatap Junmyeon heran. "Ya, pasti. Orang bodoh mana yang ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah kapal dan terjun ke laut, padahal dia kaya dan memiliki segalanya," Junmyeon menatap Kris serius, "lalu kau berpikir pemuda kaya yang malang, apa yang dia tahu tentang penderitaan?" suara Junmyeon bergetar saat mengucapkan kata-kata itu.

Kris menggeleng. "Tidak, yang kupikirkan saat itu adalah apa yang terjadi pada pemuda ini sampai berpikir tidak ada jalan keluar lain,"

Junmyeon terdiam, untuk sesaat mereka hanya saling menatap. Sebuah senyum muncul di wajahnya, senyum palsu yang selalu dia tunjukan di depan semua orang. "Terima kasih atas pengakuan anda Tuan Wu, tapi sayang sekali...aku sudah bertunangan," Junmyeon menyingkirkan tangan Kris yang sejak tadi berada di pundaknya, lalu berjalan melewatinya.

"Kau mencintainya?"

Junmyeon menghentikan langkahnya dan menoleh. "Maaf?"

"Apa kau mencintai gadis itu?" kali ini Kris yang menatap Junmyeon tajam. "Te-tentu saja! Kami teman sejak kecil, karena itu sebaiknya kau tidak menganggu kami Tuan Wu," jawab Junmyeon. Kris berjalan cepat menghampirinya, Junmyeon menangkap sedikit amarah di iris cokelat itu.

"Kau tidak mencintainya, Junmyeon,"

"Tapi aku men–"

"Hentikan Junmyeon, siapapun yang melihat bisa mengetahui itu,"

Kris menghela nafasnya. "Aku bukan orang bodoh, aku tahu bagaimana dunia berjalan. Aku hanya mempunyai 12 dollar di sakuku, aku tidak mempunyai apa-apa untuk kutawarkan padamu. Aku tahu itu, tapi sekarang aku sudah jauh terlibat. Kau lompat, aku juga melompat, ingat? Aku tidak bisa memalingkan wajahku tanpa tahu kau akan baik-baik saja..."

"Aku...baik-baik saja...tentu,"

"Kau yakin? Mereka mengurungmu Junmyeon dan kau akan mati jika kau tidak bebas. Mungkin tidak sekarang karena kau kuat, tapi cepat atau lambat cahaya itu...yang aku suka darimu..." Kris menatap iris coklat itu lekat-lekat, "akan padam,"

"Itu bukan keputusanmu untuk menyelamatkanku, Kris,"

Hening sesaat lalu Kris mengangguk. "Kau benar, hanya kau yang bisa melakukannya,"

Junmyeon pun mengangguk. "Aku harap dengan ini kau mengerti," ucapnya dingin sebelum meninggalkan ruangan itu.

.

.

.

Semua ini membuat Junmyeon tidak bisa berpikir dengan jernih. Kepalanya seakan mau pecah karena diisi berbagai macam informasi yang sulit dicernanya. Mulai dari ibunya, adiknya bahkan orang bernama Kris itu. Junmyeon butuh istirahat untuk menenangkan pikirannya.

"Junmyeon?"

Junmyeon tersenyum tipis saat Chanyeol membuka pintu kamar dan mempersilahkan dirinya masuk. "Apa terjadi sesuatu?" tanya Chanyeol sesaat setelah Junmyeon merebahkan dirinya di sofa. Wajahnya terlihat pucat bagi Chanyeol, pria jangkung itu memutuskan untuk mengambil segelas air mineral dan menyerahkannya pada Junmyeon.

"Aku hanya ingin istirahat Chanyeol," itu yang dikatakan Junmyeon setelah meneguk habis minuman tersebut. Chanyeol mengangguk, "anggaplah kamarmu sendiri." Junmyeon tertawa kecil mendengarkan jawaban Chanyeol.

Selama beberapa menit yang Junmyeon lakukan hanya merebahkan dirinya di sofa, memandang langit-langit kamar kabin Chanyeol, sedangkan Chanyeol sendiri sibuk membaca buku. Mereka sudah bersama-sama hampir enam belas tahun dan Chanyeol tidak perlu bertanya lebih jauh tentang apa yang terjadi pada Junmyeon, jika pemuda itu tidak menghendakinya. Begitu pula sebaliknya, Junmyeon tidak akan bertanya sebelum Chanyeol siap untuk menceritakannya.

"Chanyeol-ah," panggil Junmyeon pelan. Chanyeol bergumam seraya menutup buku bacaannya. "Rasanya kepalaku ingin pecah," gumam Junmyeon masih menatap langit-langit kamar. "Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Chanyeol mengernyitkan dahinya.

"Semua yang terjadi hari ini...ah, tidak semua yang terjadi selama ini, rasanya sesak,"

"Kau merasa tertekan?"

Junmyeon mengangguk. "Setidaknya bersamamu aku merasa sedikit lega, tapi semakin ke belakang semakin membuatku sesak. Rasanya aku tidak bebas menentukan pilihanku," Junmyeon pun menoleh ke arah Chanyeol yang sekarang menatapnya serius. "Kau tahu, terkadang aku iri padamu. Kau bebas menentukan pilihanmu, sedangkan aku...diperintah bagaikan robot,"

Junmyeon menghela nafasnya, matanya kembali menatap langit-langit. "Semuanya semakin rumit sejak kedatangan pria itu, dia bahkan mengenalkan bagaimana kebebasan itu dan anehnya aku ingin mencobanya!" Junmyeon mengacak-acak rambut hitamnya. Perkataan Kris tadi masih terngiang di kepalanya.

"Kau mencintainya?"

"Kris? Ja-jangan bercanda!"

Chanyeol memutar bola matanya. Jelas sekali sahabatnya ini gugup menjawab pertanyaannya. "Oh, ayolah Junmyeon, dari tatapanmu sudah terbukti," ucap Chanyeol sambil tertawa. Rona merah timbul di kedua pipi Junmyeon. "Apakah tatapanku sebegitu mudah dimengerti?"

Chanyeol mengangguk. "Aku sudah bersama denganmu selama enam belas tahun, ingat?" tanyanya sambil menaikan sebelah alisnya. Junmyeon sedikit menundukan kepalanya. "Tapi, Kris baru bertemu denganku beberapa hari..."

"Jadi, Kris tahu kalau kau mencintainya?" tanya Chanyeol terkesiap. Junmyeon segera menggelengkan kepalanya. "Bukan, bukan, maksudku...dia bilang kalau aku tidak mencintai..." Junmyeon menghentikan kalimatnya, suaranya yang makin mengecil membuat Chanyeol harus mencondongkan badan agar mendengar dengan jelas. "Tidak mencintai...Chorong," gumam Junmyeon.

Junmyeon menutup matanya rapat-rapat, dia sebenarnya belum siap menghadapi reaksi Chanyeol. Keluarga Park sudah sangat baik padanya dan Junmyeon tidak bisa mengatakan ini sebelumnya karena dia tidak ingin membuat Chanyeol sedih. Chorong adalah kakak kesayangan Chanyeol, yang akan selalu dijaga pria jangkung itu.

Junmyeon menunggu, namun tidak ada jawaban dari Chanyeol. Perlahan, dia pun membuka matanya dan melihat Chanyeol sekarang sedang menatapnya. Ekspresinya terkesan tenang, tidak tersirat rasa kesal atau benci pada mata Chanyeol.

"Kau tahu Junmyeon..." Chanyeol menggantungkan kalimatnya. "Sebenarnya kami tahu hal itu. Kami tahu kau sangat baik dan tidak berniat untuk menyakiti hati ibumu, karena itu kau setuju dengan pertunangan ini,"

"Kami?"

"Ya, aku dan Chorong noona,"

Seketika perasaan bersalah menyelimuti Junmyeon, dia menundukan kepalanya beberapa kali meminta maaf kepada Chanyeol. Pemuda jangkung itu mendekati Junmyeon dan menepuk kepalanya, meyakinkan Junmyeon bahwa hal itu tidak apa-apa, bukan salah Junmyeon sepenuhnya.

"Rasanya aku melakukan hal yang buruk pada Chorong," gumam Junmyeon seraya menghela nafasnya. "Hei, dia juga menyetujui ini kan? Tidak ada paksaan dari orang tuaku,"

Chanyeol meregangkan badannya lalu bersender ke sofa. "Lalu, Junmyeon, apa kau mencintai Kris?" Mata Junmyeon sedikit membulat mendengar pertanyaan itu lagi. "Ke-kenapa kau menebak seperti itu? Aku ini kan straight–"

"Sudah kubilang, tatapanmu itu tidak bisa berbohong,"

Junmyeon menyerah.

Ya, dia mencintai Kris. Dia tidak tahu sejak kapan dia yakin hal ini? Apa sejak Kris menyatakan perasaannya? Atau mungkin jauh sebelum itu...tapi Junmyeon tidak menyadarinya.

"Aku rasa iya...maksudku ini sedikit aneh, bersama Kris aku bisa merasakan kebebasan dan untuk pertama kalinya sejak sepuluh tahun aku mempunyai keinginan. Hidup bersama Kris, mencoba hal-hal baru dan mungkin aku bisa meraih mimpiku," ujar Junmyeon dengan mata berbinar-binar. Chanyeol tersenyum melihat itu, sudah lama dia tidak melihat kilatan-kilatan harapan di mata Junmyeon.

"Mungkin akan banyak rintangan, tapi aku merasa bersama Kris aku bisa menghadapinya. Aku ingin keluar dari semua rutinitas ini dan bebas, aku ingin mencobanya walaupun beresiko, tapi..." Tatapan Junmyeon segera meredup, Chanyeol tahu apa yang dihadapi sahabatnya ini. "Kalau yang kau pikirkan adalah tentang pernikahan ini, akan kuurus,"

"Ta,tapi–"

"Ikuti kata hatimu Junmyeon," Junmyeon ingin membalas ucapan Chanyeol, tapi pemuda itu segera mengacungkan telunjuknya, meminta Junmyeon untuk tidak menginterupsinya. "Aku tidak ingin melihat sahabatku tersenyum tapi jauh di dalam hatinya, dia bersedih. Sudah cukup selama ini aku melihatnya Junmyeon,"

Rasanya Junmyeon ingin menitikan air mata. Dia merasa sangat beruntung punya sahabat seperti Chanyeol.

.

.

.

to be continued


A/N : Halo untuk reader baru dan reader setia(band #gak). Terima kasih sudah review, maaf baru update sekarang T-T. Sudah panjang kah? Kalau lihat dari wordsnya kayaknya lebih pendek ini dari chapter sebelumnya, mianhae (/_\). Okeh, chapter depan kemungkinan akan sampai pada bagian crucial.

Btw, please take time to read this note too.
Mungkin di awal saya lupa nulis untuk "tidak copas atau mengedit ff ini tanpa seijin author" bukan berarti saya gak nulis itu, kalian boleh copas. Bukannya itu sudah jadi rule tidak tertulis setiap author? Walaupun cerita ini berdasarkan film Titanic dan beberapa dialog di Titanic saya pake dan diubah jadi bahasa Indonesia, tapi isi penulisan tiap paragraf murni dari otak saya. Sedih aja tadi nemu ff Titanic yang mirip seperti ini, baru satu chapter memang tapi tingkat kemiripanya bikin gemesss. Kalian bisa kok bikin Titanic versi pair favorit dan dengan imajinasi kalian, di ffn udah banyak Titanic ditulis ulang dan itu beda-beda. Saya juga research kok soal RMS Titanic, faktanya, nonton filmnya dan karna pengen dapet feelnya saya download bgm Titanic, makanya paling sayang banget sama cerita yang satu ini :")

Jadi, kalau anda baca note ini, lanjutin saja cerita Titanicnya, tapi tulis dengan caramu sendiri. Makasih.

See you in next chapter, readers ~