-Se Na Oh present-

JUST FRIEND

CHAPTER 3 HERE !

It's KAISOO fanfic

Start with KAISOO

End with KAISOO

NO gs! It's YAOI ! It's YAOI ! and always YAOI !

Jika tidak berkenan dengan gendre cerita saya, silahkan tekan tombol 'back' .

Jika berkenan, silahkan menikmati. Jangan lupa review juseyo~~~

Saya benar-benar memohon kepada para readers untuk tidak menjadi silent readers, ketahuilah bahwa komentar para readers bagaikan nyawa bagi para author. So, Don't be silent readers please

Review yang diterima adalah review yang membangun dan tidak bersifat kasar

Saya kembali sangat berterimakasih kepada readers yang sudah berkenan mereview tulisan saya. Fanfic ini dikhususkan untuk para pencinta KaiSoo.

Okay, last from me

Happy reading yorobun ^^

.

.

.

- JUST FRIEND chap. 3-

.

.

.

.

Kyungsoo dapat merasakan bulir-bulir tipis air hujan turun membelai rambutnya, membuat rambutnya jadi sedikit lepek. Di langit sana, para cahaya tengah bersembunyi dibalik kelamnya awan yang berarak, dengan gerakan lambat berkumpul membentuk gumpalan-gumpalan seperti kapas.

Langit meredup, sama redupnya dengan hati Kyungsoo sekarang. Tidak ada lagi sengatan sinar senja yang menyakiti mata Kyungsoo, tidak ada lagi hembusan angin musim gugur yang mulai menggigit. Sekarang hanya ada warna keabuan di langit dengan tetesan hujan yang gugur. Hujan di musim gugur, sebuah keanehan yang nyata. Kyungsoo tidak berniat berhenti hanya untuk berteduh, tak ada yang perlu dia takutkan. Toh baginya, dia akan tetap basah sampai di rumah nanti. Awan diatas sana terlihat begitu berat, sudah dipastikan awan itu tengah setengah mati menahan genangan air hujan yang ditampungnya. Serasa dia bisa mengguyur seluruh muka bumi dengan itu.

Kyungsoo sudah menginjakan kakinya di halte bis, tak perlu menunggu lama, bis yang ia tunggu datang dengan tenang. Di dalam tampak begitu lengang,penumpang di bus hanya ada Kyungsoo, seorang nenek, seorang ibu yang tengah memangku putrinya yang tengah tertidur, dan Jongin.

Ya, Jongin berada di dekatnya.

Kyungsoo tidak tahu dengan pasti, sudah berapa lama sejak Jongin menemukan dirinya. Namun yang Kyungsoo tahu, sejak Jongin menemukannya, sahabatnya itu tak berkata apa-apa, dan bodohnya, Kyungsoo juga tak sanggup berkata apapun pada Jongin. Begitu banyak, begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Jongin, Bagaimana bisa Jongin menemukannya? Apakah ini hanya sebuah kebetulan? Apakah Jongin melihatnya menangis? Atau, sejak kapan Jongin ada di belakangnya saat itu? Namun dari rentetan pertanyaan yang berdesakan di kepala Kyungsoo, membuat kepalanya terasa ingin pecah, ada satu pertanyaan yang ingin Kyungsoo dengar jawabannya dari Jongin sendiri.

"Kenapa kau disini Jong, bukankah seharusnya kau bersama Krystal sekarang?"

Kyungsoo memilih duduk di barisan bangku paling belakang, menyamankan dirinya duduk di bangku paling pojok sebelah kanan, Jongin masih setia mengekorinya. Hingga akhirnya ekor mata Kyungsoo menangkap Jongin yang memilih duduk bersebrangan dengannya, Jongin duduk di sisi yang lain, walau masih satu barisan tempat duduk yang sama dengannya. Jongin duduk di pojok sebelah kiri.

Sungguh, Kyungsoo sangat membenci keadaan ini, dia ingin menyapa Jongin lebih dulu, namun mengingat ekspresi Jongin beberapa saat yang lalu, membuat keberaniannya menguap begitu saja. Raut wajah Jongin yang tak pernah ia lihat sebelumnya, selama ini Kyungsoo selalu mendapati air muka Jongin yang lembut dan menghangatkan hati, namun tatapan yang dia dapat dari Jongin di bawah pohon ek tadi, tak dapat ia jelaskan. Kyungsoo merasa begitu takut, untuk pertama kalinya dia tak bisa membaca pikiran Jongin dari raut wajah pemuda tinggi itu, seperi bukan Jongin. Sinar mata Jongin yang tadi mampu membuatnya bergetar, bukan karena terpesona oleh mata itu seperti biasa, faktanya Kyungsoo hanya mendapati Jongin yang tengah menatapnya tajam dengan manik matanya yang dalam dan gelap, membuat Kyungsoo terlalu takut untuk menyelami maksud dibalik tatapan sahabatnya itu, seperti bukan tatapan milik Jongin.

Setelah puas membuat Kyungsoo kebingungan setengah mati hanya karena tatapan dan raut mukanya, rupanya Jongin belum puas. Sejak pertemuan mereka di bawah pohon ek, pemuda berkulit tan itu bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya diam, namun langkah kakinya tetap mengikuti sekarang Jongin masih dengan kebisuannya.

Kyungsoo melirik Jongin sebentar, masih dengan kegelisahannya. Dia mendapati Jongin tengah menatap lurus ke arah kaca bus, bola matanya mengikuti jejak air hujan yang membasahi kaca. Kyungsoo ingin beranjak, mendekatkan tubuhnya pada sang sahabat, namun ketika ia hendak menjauhkan tubuhnya dari kursi, sepasang mata burung hantunya bertabrakan dengan mata elang Jongin.

Tatapan itu lagi, yang Kyungsoo dapatkan beberapa saat lalu. Tatapan yang begitu menakutkan sekaligus menyedihkan. Dengan perlahan, pria kecil itu mengurungkan niatnya, merebahkan tubuhnya di kursi seraya dengan Jongin yang memutuskan pertemuan kedua mata mereka, dan Jongin kembali berkutat dengan kegiatannya mengamati hujan yang mulai mengamuk di luar.

"Jongin..."

Kyungsoo berbisik, tanpa bisa Jongin dengar

.

.

.

Sudah sepuluh menit yang lalu mereka turun dari bis, hujan sudah berhenti beberapa saat lalu, hanya menyisakan bau udara khas bekas hujan dan jalanan yang basah karena tergenang air serta langit yang masih kelabu. Sedangkan Kyungsoo dalam diam terus berjalan menyusuri jalan menuju rumahnya yang terletak beberapa blok dari halte tempat ia berhenti tadi. Dengan Jongin yang berada beberapa langkah di belakangnya. Ya, Jongin tengah mengikuti Kyungsoo.

Ini tentu saja bukan sekedar terkaan Kyungsoo, karena nyatanya rumah mereka berdua berlawanan arah, dan disekitar komplek perumahan Kyungsoo tak ada hal menarik untuk dikunjungi, jadi Kyungsoo menyimpulkan kalau sahabatnya itu tengah mengikutinya.

Langkah Kyungsoo terhenti disebuah rumah minimalis bernuansa barat, dengan pagar setinggi bahunya, yang tersusun rapi dari kayu mahoni dengan warna coklat terang, sebuah warna yang mau tak mau mengingatkan Kyungsoo pada sosok yang masih setia berdiri beberapa langkah dibelakangnya. Dia merogoh kantung blazer seragam sekolahnya, mengeluarkan beberapa kunci yang dia pilin menjadi satu dalam sebuah gantungan kunci.

Kyungsoo membuka kunci gerbangnya, terdengar derak kayu pagarnya dengan tanah sebentar, kemudian hening lagi. Kyungsoo tidak berbalik, tidak berbalik untuk mengunci pintu pagarnya, karena dia tahu Jongin sudah melangkahkan kakinya masuk ke halaman sekarang. Kyungsoo terus beranjak, hingga tangannya menyentuh gagang pintu, mengambil kuncinya lagi, memilih satu kunci yang berbeda dengan kunci yang ia pakai untuk membuka pagar.

"Ayahmu belum pulang?"

Suara Jongin saat itu bagaikan petir disiang bolong, mengintrupsi Kyungsoo untuk berhenti dari niatannya membuka pintu rumah, berbalik ke arah sang pemilik suara, Kim Jongin.

"Dia tidak akan pulang sampai bulan depan"

Kyungsoo tersenyum kecut, dengan takut-takut dia menatap Jongin, ada rasa lega dihatinya ketika Jongin tak lagi menatapnya dengan tatapan menakutkan, hanya ada Jongin dengan tatapan biasa, walau bagi Kyungsoo masih cukup aneh dan dingin.

"Begitu rupanya" Jongin hanya merespon dengan jawaban singkat.

Mungkin, salah satu alasan mengangapa Kyungsoo mencintai Jongin adalah karena dia begitu kesepian. Keluarganya tidak seharmonis keluarga Jongin, ayah dan ibunya bercerai ketika usianya delapan tahun, kurang lebih dua tahun setelah dia pindah dari Jepang dan bertemu Jongin, saat itu Kyungsoo masih terlalu kecil dan bodoh untuk mengetahui apa yang terjadi pada kedua orang tuanya, dia hanya bisa menangis ketika ayah ibunya saling berteriak, atau ketika Kyungsoo kecil mendengar suara debam pukulan yang berakhir dengan wajah ibunya yang cantik ternodai dengan warna kebiruan. Semuanya begitu kacau saat itu, Kyungsoo kecil selalu membenci ayahnya, karena baginya, ayah lah yang membuatnya dan ibu menderita, ayahnya selalu berteriak pada ibunya, memukul ibunya, kemudian pergi dari rumah, kembali esok harinya dengan kondisi mabuk.

Dia sangat membenci ayahnya, setidaknya hingga pada suatu sore dia kembali dari sekolah dan mendapati ibunya tengah bercumbu dengan pria lain, dirumah mereka, dirumah Kyungsoo.

Saat itu, Kyungsoo sadar. Inilah alasannya, ayahnya yang baik itu berubah menjadi seperti iblis, ayahnya pasti menderita dengan semua yang ia lihat tetapi selalu disangkal oleh ibu Kyungsoo, ibunya yang selama ini Kyungsoo iba, ternyata hanya berpura-pura untuk mendapatkan simpatinya. Kyungsoo ingin menangis, tapi rasa panas di dadanya melebihi rasa kecewanya, dia marah. Beginikah yang dirasakan ayah? Apakah itu alasannya ayah selalu pergi? Kenapa Ibu tega melakukan ini semua pada kami? Apa salahku, ibu?. Dan Kyungsoo hanya bisa terus bertanya-tanya tanpa ada jawaban.

Dia jijik, tak ada lagi rasa hormat dan sayang yang tersisa dalam hati Kyungsoo yang hancur ketika anak kecil itu melihat ekspresi kenikmatan ibunya dibawah kukungan pria asing itu. Kyungsoo melangkah mundur, air matanya tak dapat ditahan lagi, dia pergi, berlari sekencang yang ia mampu, walaupun paru-parunya seakan ingin pecah, Kyungsoo tidak memperdulikan itu.

Dia terus berlari dengan air mata dan sesegukan. Kaki-kaki kecilnya membawanya menjauh dari segala penderitaan, Kyungsoo berlari menuju satu tujuan, tempat ia bisa berlindung, tempat ia bisa melepas semua beban hidupnya, tempat ia bisa tertawa bebas seperti anak-anak pada umumnya.

Do Kyungsoo, ia berlari menuju Kim Jongin.

Dan setelah ayah ibunya resmi bercerai, Kyungsoo memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya, walau hak asuh jelas jatuh pada ibunya, Kyungsoo masih sangat ingat bagaimana ibunya menangis sambil terus memohon agar ia tinggal bersama sang ibu dan kembali ke Jepang. Namun sekali pun Kyungsoo berkata mau, luka di hatinya terlalu besar dan mulai membusuk.

Semua berjalan begitu cepat hingga saat ini, Kyungsoo tak pernah menggerutu jika ayahnya hanya sibuk dengan pekerjaannya saja. Toh, selama ini ayahnya tak pernah menelantarkan Kyungsoo, dia bisa sebesar ini juga berkat kerja keras ayahnya,Kyungsoo bukanlah anak manja yang hanya bisa merengek-rengek saja. Bagi Kyungsoo, mungkin ada baiknya memiliki hidup yang kejam, dia jadi bisa belajar untuk bertahan dan berjuang.

Karena setelah bertemu Jongin, Kyungsoo merasa memiliki nyawa ganda. Jongin selama ini selalu ada untuknya, Jongin lah yang membuatnya tertawa saat suasana rumah membuatnya ingin menangis, Jongin lah yang membuatnya tenang ketika pikiran Kyungsoo sedang runyam, Jongin lah obat bagi Kyungsoo ketika dia sakit. Jongin lah kekuatan Kyungsoo, dan Kyungsoo percaya, dia tak perlu mengkhawatirkan apapun selama Jongin ada disisinya.

"Terimakasih sudah mau mengantarku Jong"

Kyungsoo tersenyum, mendengakkan kepalanya sedikit lebih tinggi agar dapat dengan jelas melihat wajah Jongin, kemudian berbalik lagi menghadap pintu, membuka dengan kunci tadi. Namun, ketika hendak menutup pintunya kembali, Kyungsoo merasa sebuah tangan mencegahnya.

"Jong?"

Jongin telah berdiri di depan pintunya, tangannya terulur ke dalam, menahan pintu Kyungsoo untuk tertutup.

"Kau tidak mempersilahkanku masuk?"

Indra pendengaran Kyungsoo kembali menangkap suara Jongin yang datar dan dingin.

"Ini sudah hampir malam Jong, kau pulanglah.." Kyungsoo berkata lembut

Sejujurnya ia tak tega mengatakan itu pada Jongin, rumah begitu sepi jika hanya dihuni oleh dirinya, tapi Kyungsoo tak bisa mengundang Jongin masuk, Kyungsoo butuh waktu sendiri.

"Kau mengusirku?"

Kyungsoo bisa merasakan Jongin menaikan nada suaranya, terdengar lebih berat.

"Bukan begitu Jong, hari sudah gelap, lebih baik kau pulang sekarang, kau bisa berkunjung lain waktu"

Tangan Kyungsoo bergerak mendorong pintu, hendak menutupnya, tapi tangan Jongin jauh lebih kuat dari tenaga Kyungsoo.

"Biarkan aku masuk"

Sekarang giliran Jongin yang mendorong pintu itu, memaksanya untuk terbuka.

"Tidak Jong, kau harus pulang"

"Aku tidak mau"

"Jongin, kubilang hentikan!"

Kyungsoo berteriak, berbarengan dengan suara debaman pintu yang dibanting. Jongin berhasil membuka pintu Kyungsoo, membawa tubuhnya masuk begitu saja kerumah sahabatnya.

"Jika aku tidak mau berhenti, kau mau apa Kyung?"

Jongin melangkah mendekat, hingga jarak itu mampu membuat Kyungsoo mendengak hanya agar ia bisa melihat Jongin.

"Pergi! Pergi dari rumahku!"

Kyungsoo berteriak tepat di depan wajah Jongin. Air mata Kyungsoo yang mulai menggenang dapat dilihat dengan Jongin dengan jelas, namun pria tinggi itu tetap tidak mau menuruti perintah Kyungsoo.

"Jika aku tak mau menuruti perintahmu, kau mau apa Kyung? Jawab aku!"

Kyungsoo benci Jongin yang seperti ini. Ini pasti bukan Jongin, Jongin yang ia kenal tak akan pernah berteriak kepadanya, Jongin yang ia kenal tak akan sekasar ini padanya. Tanpa sadar, Kyungsoo menangis.

"Kenapa kau berteriak padaku! Ada apa denganmu Jong!"

Jongin tersentak, tatapan kakunya perlahan mengendur, matanya menyusuri air mata Kyungsoo yang perlahan-lahan jatuh, Kyungsoo tengah menangis, dan itu karenanya.

"Kyung.."

Jongin memanggil Kyungsoo pelan.

"Pergi! Aku bilang pergi!"

"Kyung, maafkan aku. Sungguh, aku tidak bermaksud berteriak kepadamu"

Jongin menatap Kyungsoo sendu, namun Kyungsoo tidak memperdulikannya.

"Tolong Jong, kau harus pergi sekarang juga dari sini!"

"Tidak, tidak Kyung. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu"

"Aku tidak mau dengar apapun sekarang, Kumohon Jong!"

Perlahan, Jongin melangkahkan kakinya mundur, menjauh dari Kyungsoo. Hingga ia benar-benar sudah berada di luar, Kyungsoo hendak menutup pintunya.

"Kyungsoo kumohon, ada yang harus aku bicarakan padamu. Biarkan aku masuk"

Kyungsoo tak menjawab.

"Kau akan lihat, aku akan tetap berdiri di halamanmu sampai kau mau membukakan pintu untukku Kyung. Jawab aku Kyung! Kyungsoo! Do Kyungsoo!"

Kyungsoo mengunci pintunya, tubuh mungilnya merosot kelantai, Kyungsoo merasa begitu lelah, dengan pintu sebagai sandaran tubuhnya, dapat ia rasakan getaran di pintu karena Jongin yang terus menerus menggedor pintunya sambil terus berteriak.

"Kenapa kau melakukan ini padaku Jong?"

Kyungsoo kembali menangis karena Jongin.

"Kumohon buka pintunya..."

Dibalik pintu itu, perlahan Jongin berhenti menggedor pintu Kyungsoo, tubuhnya mulai menggigil karena angin malam yang bersatu dengan angin musim gugur sedikit demi sedikit membuat tubuhnya mati rasa.

"Kumohon buka pintunya..."

.

.

.

.

Kyungsoo berguling ke kanan, kemudian berguling ke kiri, dia tampak gelisah. Untuk kesekian kalinya, dia mengintip dari jendela kamarnya di lantai dua, kedua mata bulatnya kembali menangkap sosok Jongin yang masih duduk bersila di halamannya. Kyungsoo menghela napas lelah, dia tahu Jongin adalah salah satu dari banyak orang di dunia ini dengan sifat keras kepala melebihi batu. Tapi kali ini Kyungsoo tidak mau ambil peduli dengan sifat keras kepala Jongin, dia sudah terlalu lelah, jadi dia memutuskan untuk kembali ke tempat tidurnya, merebahkan tubuhnya, mencoba merajut bunga tidur.

Dasarnya Kyungsoo ini memang sial, ketika ia hendak menutup matanya, Kyungsoo dikagetkan dengan suara guntur dan kilatan cahayanya, diiringi dengan ributnya rintik hujan di luar. Dengan cepat, pria kecil itu lompat dari atas tempat tidurnya.

"Ya tuhan, Kim Jongin!"

Kyungsoo dengan cepat menuruni tangga, mengambil kunci diatas bufet, lalu mengambil dua buah jaket tebal anti air yang ia sampirkan di dekat pintu. Ketika Kyungsoo membuka pintu, dia disambut oleh hembusan angin dengan suhu sedingin es, dan tamparan air hujan yang tanpa ampun menghujani tanah. Mata Kyungsoo hanya tertuju pada satu sosok yang dengan bodohnya masih setia duduk di tanah pekarangannya.

"Yak! Jongin pabo!"

Kyungsoo harus berteriak agar suaranya tak dikalahkan oleh bunyi air hujan. Walau hanya ada penerangan yang berasal lampu taman, Kyungsoo dapat melihat Jongin tengah tersenyum sambil menampakan deretan giginya pada Kyungsoo.

"Yak! Dasar Idiot!"

Meskipun Kyungsoo terus menerus mengumpat, tapi pria kecil itu tetap menghampiri Jongin, menyelimuti tubuh pemuda yang sudah basah kuyup itu dengan jaketnya. Tangan Kyungsoo menggenggam pundak Jongin, membawanya bangkit.

"Ya tuhan, Jongin tubuhmu membeku!"

Kyungsoo merasa dirinya tengah memegang bongkahan es. Dengan susah payah, Kyungsoo membawa Jongin masuk, dengan segera Kyungsoo menutup pintunya, mencegah udara dingin lebih banyak masuk ke rumahnya. Kyungsoo dengan hati-hati merebahkan Jongin di sofa.

"Jong.. Jongin"

Kyungsoo mengguncangkan bahu Jongin pelan, dia tidak perduli lagi jika sofanya jadi ikut basah karena Jongin. Yang Kyungsoo khawatirkan sekarang hanya Jongin seorang.

"Akhirnya kau membuka pintu untukku.."

Jongin berkata dengan nada lemah, bibir penuhnya tampak berubah warna menjadi kebiruan, kulit kecoklatannya berkerut pucat.

"Kau benar-benar bodoh atau memang idiot, hah! Kau bisa mati kalau aku tidak segera membawamu masuk Jong"

Kyungsoo berkata dengan nada panik, walaupun begitu, Jongin bisa merasakan kekhawatiran yang mendalam di dalamnya.

"Hehehe... Jika tidak seperti ini, kau tak akan membukakan pintu untukku"

Jongin tersenyum, matanya perlahan-lahan mulai tertutup, dia kedinginan dan juga lelah.

"Tunggu disini Jong, akan kuambilkan baju ganti"

Tanpa menunggu jawaban Jongin, Kyungsoo berlari ke kamarnya, mengobrak-abrik isi lemarinya, hingga akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada kaus bermotif tribal berwarna hitam-putih dan celana kain panjang berwarna abu-abu. Dia hanya memilih baju yang bisa dengan nyaman Jongin pakai.

Kyungsoo kembali turun, mendapati Jongin yang mulai tertidur.

"Tidak Jong, kau akan sakit jika tidur dengan baju basah seperti ini"

Tangan kecil Kyungsoo menopang punggung Jongin, memaksa pria tinggi itu duduk. Jongin hanya memperhatikan gerak-gerik Kyungsoo dari ekor matanya, tubuhnya terlalu lelah untuk sekedar bergerak.

"Apa kau sedang menggodaku Kyung?"

Jongin bertanya dengan nada jahil.

"Apa?"

Kyungsoo yang ditanyai seperti itu, menghentikan aktifitasnya membuka seragam sekolah Jongin yang basah itu. Mata bulatnya mendelik kearah Jongin.

"Awas matamu keluar Kyung" sahut Jongin

"Angkat tanganmu"

Kyungsoo tak menggubris kalimat jahil yang Jongin ucapkan, dia terlalu sibuk melepaskan seragam Jongin, dia telah berasil membuat bajunya melekat pada tubuh Jongin.

"Kenapa diam?"

Jongin menangkap ekspresi Kyungsoo yang kebingungan. Sahabatnya itu telah berhasil melepas seragam bagian atasnya, sekarang hanya tersisa satu, yaitu celana sekolahnya.

"Kau.. kau bisa memakainya sendiri kan Jong?" Kyungsoo bertanya takut-takut

"Tapi Kyung, aku benar-benar kedinginan"

"Tapi aku tidak bisa... aku...aku tidak bisa Jong"

Kyungsoo menyerahkan celana kain panjang berwarna abu-abunya pada Jongin.

"Kenapa? Kau malu? Bukankah kita sama-sama lelaki?"

Jongin kembali menggoda Kyungsoo, dan Jongin rasa dia berhasil, samar-samar dia bisa melihat pipi Kyungsoo yang berubah warna, Kyungsoo merona.

"Aniya! Aku bukannya malu, hanya saja... Ayolah Jong! Kau bisa memakainya sendiri kan?"

"Arasseo, aku akan memakainya sendiri, tapi aku punya syarat"

Jongin menyerah, tapi sebenarnya tidak.

"Apa itu?" Kyungsoo bertanya, dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.

"Jangan palingkan matamu dariku, ketika aku berganti"

Kyungsoo merasa otaknya tersumbat sesuatu, kalimat Jongin yang singkat itu terasa sulit sekali ia cerna. Dan setelah beberapa menit berlalu, dia baru memahami tujuan dari perkataan Jongin.

Dengan mata yang membulat maksimum dan mulut yang terbuka, Kyungsoo menunjukan ekspresi kagetnya.

"MWOYA!"

Dan seorang Kim Jongin hanya tertawa sambil melepas celana sekolahnya.

.

.

.

Kyungsoo memutuskan untuk membawa Jongin ke kamarnya, dia tidak bisa membiarkan Jongin tidur di sofa yang sudah basah kuyup tadi, dan karena di rumahnya hanya ada dua kamar, yaitu kamarnya dan ayahnya, Kyungsoo tidak bisa membiarkan Jongin tidur di kamar ayahnya, karena Jongin itu anarkis, bagaimana jika ketika tidur, Jongin menendang lampu tidur kesayangan ayahnya atau merusak barang-barang yang lain, jadi Kyungsoo memutuskan membawa Jongin ke kamarnya, sedangkan Kyungsoo yang akan pindah tidur di kamar ayahnya.

"Kyung?"

"Hmm?"

Tangan Kyungsoo dengan telaten, menuangkan air hangat serta menyiapkan beberapa pil obat untuk Jongin.

"Bisa ambilkan aku selimut lagi?" Jongin bertanya pada Kyungsoo

Kyungsoo menoleh, didapatinya Jongin yang tengah berbaring di kasurnya dengan selimut tebal berlapis dua miliknya untuk persiapan musim dinginnya.

"Kau masih kedinginan Jong?" Kyungsoo bertanya khawatir

Jongin hanya mengangguk lemah.

"Akan aku ambilkan, tapi sebelumnya, minum obat ini dulu"

Kyungsoo dengan perlahan menyodorkan dua buah tablet obat kepada Jongin, dan dengan begitu penurut, Jongin menelan dua pil obat itu sekaligus, kemudian menegak habis air hangat di gelasnya.

Jongin kembali berbaring.

"Bagaimana?" Tanya Kyungsoo

"Aku rasa, sakit kepalaku mulai berkurang Kyung"

Jongin memberikan senyum terimakasihnya pada Kyungsoo, dan Kyungsoo membalasnya dengan senang hati.

"Tunggu disini, akan aku ambilkan selimut lagi"

Kyungsoo hendak beranjak dari tempatnya untuk mengambil selimut tambahan, namun langkahnya terhenti, saat Kyungsoo merasa sebuah tangan yang terasa dingin, tengah menggenggam pergelangan tangannya dengan cukup kuat, menahan langkahnya untuk pergi.

Kyungsoo memandang sang pemilik tangan bingung.

"Ada apa lagi Jong, aku akan mengambilkan selimut lagi, jadi tunggu di—"

"Jangan pergi"

Kyungsoo membulatkan matanya, dia yakin telinganya masih berfungsi dengan baik, dia mendengar dengan jelas permintaan Jongin.

Melihat reaksi Kyungsoo yang hanya terpaku mendengarnya, Jongin berinisiatif mengulang permintaannya.

"Kubilang, jangan pergi Kyung"

Jongin berbisik lirih, rasa menggigil di tubuhnya membuat kesadarannya perlahan memudar, tenaganya menghilang.

"Kumohon"

Suara Jongin terdengar begitu lemah, wajahnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Dan bagai terhipnotis, Kyungsoo membalas genggaman tangan Jongin pada pergelangan tangannya, menggenggam tangan Jongin sama eratnya. Perlahan, Kyungsoo membawa tangan itu kembali pada pemiliknya, menyembunyikannya kembali dibalik selimut tebal.

Kyungsoo mendekat, jari-jari mungilnya menyisir helai rambut Jongin yang menutupi matanya, seakan menikmati sentuhan Kyungsoo, Jongin perlahan memejamkan matanya.

"Aku tidak akan pergi Jong"

Kyungsoo menjawab permintaan Jongin dengan nada berbisik, tangannya masih asik bermain di anak-anak rambut Jongin.

"Kyung?" Jongin bertanya dengan kedua mata terpejam

"Ne?"

"Aku benar-benar kedinginan. Tak bisakah aku mendapat sebuah pelukan?"

Sebuah senyum terukir diwajah Jongin selesai ia bertanya.

"Tentu, kau bisa mendapatkannya"

Sontak Jongin membuka kedua matanya, reaksi Kyungsoo atas pertanyaannya itu benar-benar berbeda dengan apa yang ia pikirkan.

Kyungsoo naik ke atas tempat tidurnya, untunglah ukuran ranjang Kyungsoo adalah King size, jadi mereka tak perlu tidur berdesakan. Kyungsoo memasukan tubuh mungilnya ke balik selimut, hingga ia dan Jongin sekarang ada dibalik selimut yang sama.

Mereka saling bertatapan. Tanpa suara, Kyungsoo dan Jongin hanya bisa mendengar deru napas mereka masing-masing. Tanpa bicara, mereka saling bertatapan, seakan ada rangkaian kalimat yang tiada habisnya, yang ingin mereka sampaikan satu sama lain. Hingga akhirnya Jongin bergerak, merapatkan tubuhnya pada tubuh mungil Kyungsoo. Karena postur tubuhnya yang lebih tinggi, Jongin meletakkan kepalanya diatas puncak kepala Kyungsoo, kemudian membawa kedua tangannya ke pinggang Kyungsoo, Kyungsoo sendiri melingkarkan kedua tangannya ke punggung Jongin, meletakkan kepalanya di dada bidang sahabatnya itu.

Mereka semakin merapatkan tubuh mereka satu sama lain hingga tak ada celah tersisa, walau pada kenyataannya tampak seperti Kyungsoo yang Jongin peluk, bukan sebaliknya.

Suara detak Jantung Jongin adalah lagu pengantar tidur terbaik yang pernah Kyungsoo dengar, dengan perlahan Kyungsoo memejamkan matanya, menghilangkan segala beban tentang cinta kepada seseorang dipelukannya, pelan-pelan Kyungsoo jatuh tertidur, pria kecil itu mulai merajut mimpinya, dengan Jongin, bersama Jongin dan hanya Jongin. Kyungsoo tersenyum dalam tidurnya, dengan sebuah kalimat, dia bergumam lembut.

"Aku mencintaimu Jongin"

Seseorang lagi, yang belum jatuh terbuai dalam tidur, tengah tersenyum. Hanya kembali mengeratkan pelukannya pada pria kecil di pelukannya. Sebelum akhirnya mengikuti si mungil menuju alam mimpi.

"Selamat malam, Kyungsoo"

.

.

.

.

TBC

.

.

.

-JUST FRIEND Chap.3-

Yeah! Akhirnya Chap 3 up!

To

Mau bilang apa ya yg jelas seru cerita
apa yg terjadi selanjut
ku tunggu next chap
thanks n semngat ya

From author

Kamsahamnieda, chap terbaru sudah update ya ^^

To One

kenapa? apa jongin juga kyungsoo?
thor, jangan buat kyungsoo terlalu mengharapkan jongin dong.. misal nya dia pandai2 gitu nyembunyiin perasaannya.. abis itu jongin nyesel sendiri..

From author

Hahaha, gak gitu kok, Author juga kan sayang Kyungsoo, kita lihat di chapter selanjutnya ya

To parkminoz

jongin apakah udah sadar kalo kyungsoo suka?
gue takutnya,pas kai kai malah jijik sama kyungsoo karna
lanjut terus thor..

From autor

Di chap ini, autor udah ngasih bayangan mengenai reaksi Jongin loh. Sedikit demi sedikit pasti akan terungkap *cielah

To Baby Crong

Holla. Aku reader baru.
Nggak pasaran amat kok. Haha apasih.
Jongin beneran tau soo suka dia ya? Misal udah nggak seru ah ntar alurnya kecepetan. Datengin Sehun buat Soo, ini mah sinetron wkwk. Oiya, keknya pendeskripsian nya jng terlalu detail deh klo gitu kan perbangian antara dialog sama penjelasnya gak terlalu senjang. Itu aja. Kecuali emg niat penulisannya gitu sih.. Keep writing!

From author

Terimasih banyak atas sarannya Crong-shi, saya akan berusaha lebih baik lagi ^^

To Kaisooship

thor thor saranghae.. fast update bener hehe
itu jongin ngapain? bukannya nntn sama krystal?
kyungsoo ketauan kah?

From author

Nado saranghae ^^

Tetap ikuti kelanjutan ceritanya ya, terimakasih

Sekali lagi, Terimakasih kepada semua readers yang sudah mau review cerita saya, saya sangat mengapresiasi segala bentuk review readers yang membangun saya untuk lebih baik lagi dalam menulis fanfic.

Akhir kata, Review for chap.4 please

Kamsahamnieda ^^