-Se Na Oh present-
JUST FRIEND
CHAPTER 4 HERE !
It's KAISOO fanfic
Start with KAISOO
End with KAISOO
NO gs! It's YAOI ! It's YAOI ! and always YAOI !
Jika tidak berkenan dengan gendre cerita saya, silahkan tekan tombol 'back' .
Jika berkenan, silahkan menikmati. Jangan lupa review juseyo~~~
*Note: Di Chapter ini, mungkin akan ada penambahan tokoh baru*
Akhir kata dari saya, Happy reading yorobun ^^
.
.
.
- JUST FRIEND chap. 4-
Kyungsoo bangun pagi-pagi sekali hari ini, dengan detak jantung yang berpacu, dan wajah semerah kepiting rebus. Dia menemukan Jongin masih memeluknya dari semalam, pemuda itu memeluknya semalaman. Dan karena Kyungsoo tak tega melihat wajah tertidur Jongin yang terlihat berkebalikan ketika ia melihat Jongin bangun, Kyungsoo jadi bingung sendiri menjelaskannya, maksudnya adalah, Jongin menurut Kyungsoo adalah Jongin yang tampan dari segi apapun, ketika ia tertawa, marah bahkan ketika pemuda yang sering dipanggil 'Kai' oleh teman-teman club basketnya itu sedang bertingkah konyol. Jongin tetap mempesona, seperti biasa, bahkan ketika pertama kalinya Kyungsoo melihat pesona sahabatnya itu ketika ia tidur. Ketampanan Jongin ketika ia membuka mata bagi Kyungsoo begitu karismatik, namun ketika tidur, paras wajah Jongin seakan memancarkan aura ketenangan baginya, membuatnya enggan beranjak dari tempat tidur, memandangi wajah itu kalau bisa sambai besok atau besoknya lagi.
Tapi Kyungsoo tak bisa melakukannya, walaupun ia sangat ingin, jadi dia memutuskan menyingkirkan kedua tangan tan yang masih setia memeluknya. Sebelum beranjak, Kyungsoo menyempatkan diri memeriksa suhu tubuh Jongin, dia tersenyum kecil ketika merasakan suhu tubuh Jongin sudah kembali normal. Dengan perlahan, pemuda mungil itu menuruni ranjangnya, berusaha tidak membangunkan pangeran tidurnya, dengan senyum yang semakin mengembang, Kyungsoo keluar dari kamar dan menuruni tangga, menemui ruang dapurnya.
"Baiklah, waktunya memasak"
Kyungsoo mengambil sebuah apron dari laci salah satu lemari dapur, kemudian memakainya dengan cekatan. Dan pemuda mungil itu mulai terhanyut dengan kegiatan memasaknya, masakannya untuk Jongin.
.
.
Ketika bangun, Jongin disambut oleh sebuah aroma yang membuat sesuatu di dalam perutnya bergejolak, membuat ia dapat mendengar suara gemuruh kelaparan dari sana. Asal tahu saja, Jongin itu rajanya kalau soal tidur, yang bisa benar-benar membangunkannya cuman satu, yaitu rasa lapar.
Jongin mengerejapkan matanya, lalu menguap lebar. Detik selanjutnya, pemuda itu merasakan sesuatu telah hilang darinya, dia melirik ke samping, mendapati ruang kosong di tempat tidur yang sekarang tengah ditidurinya, pemuda itu mulai menerka-nerka kemanakah perginya sang sahabat yang memeluknya semalam, Apa dia sudah berangkat sekolah?
Jongin bangkit dari posisi tidurnya, menjadi duduk di pinggir ranjang, mengintip sedikit jam yang terpajang di nakas kamar Kyungsoo.
"Masih setengah tujuh" Jongin bergumam
Dia tahu Kyungsoo, teman mungilnya itu tidak pernah berangkat pagi, bahkan ketika mereka ujian sekali pun, Kyungsoo itu langganan terlambat, jadi Jongin sangat yakin kalau Kyungsoo belum berangkat, tega sekali sahabatnya itu meninggalkannya begitu saja, tanpa membangunkannya, tanpa bertanya bagaimana keadaannya setelah menggigil semalam, dan tanpa membuatkannya sarapan. Jongin yakin Kyungsoo belum berangkat. Dengan cepat dia turun dari tempat tidur, melangkah menuruni tangga, memastikan keberadaan Kyungsoo. Dan aroma menggiurkan yang samar-samar ia hirup tadi semakin jelas, tanpa sadar Jongin menjilat bibirnya sendiri. Langkahnya terhenti ketika ia melewati dapur, mendapati seseorang yang tengah ia cari-cari dan sumber aroma menggiurkan yang membuat air liurnya hampir menetes.
Dengan perlahan Jongin menduduki tubuhnya di atas salah satu kursi yang ada di meja makan yang berhadapan langsung ke arah dapur, membuat pandangan pemuda itu dengan jelas tertuju pada satu sosok yang dengan cekatan berkutat dengan berbagai macam bahan baku masakannya.
Jongin menopang wajahnya dengan kedua tangan. Rasa lapar yang menyerangnya tadi tidak ia hiraukan lagi, dia tidak mau mengganggu Kyungsoo yang terlihat begitu menikmati kebersamaanya dengan alat-alat masak. Walau pemuda itu hanya bisa sesekali melihat wajah Kyungsoo dari samping dan selebihnya hanya punggung Kyungsoo saja, Jongin tetap menikmati pemandangan paginya.
Hingga tanpa ia sadari, matanya telah menjelajah sisi lain dari sosok di hadapannya. Jongin tertegun, apron merah yang membalut tubuh Kyungsoo terlihat begitu menyatu dengan tubuhnya yang mungil, ikatan pada tali belakang apron di tubuh Kyungsoo membuat Jongin bisa dengan jelas melihat lekukan tubuh sang sahabat, menyadarkannya pada banyak hal. Kyungsoo itu terlihat begitu kecil untuk ukuran seorang laki-laki, bahunya yang kecil dan pinggangnya yang sempit. Dulu, ketika mereka beranjak remaja, Jongin sempat berpikir, kenapa Kyungsoo tidak pernah tumbuh dengan baik, dia sempat menerka apakah sahabatnya itu tidak makan dengan baik. Namun ketika melihat Kyungsoo, dia menyadari satu hal, Kyungsoo itu sehat, dia tak kekurangan suatu apapun, kulitnya yang putih cerah, wajahnya yang bersih, matanya yang bulat besar, bibirnya yang penuh. Tapi mengapa tubuh Kyungsoo tak tumbuh setinggi dirinya, kenapa tubuh itu terlihat sangat kecil dan rapuh dimata Jongin, seakan tubuh itu memang diciptakan untuk ia lindungi, untuk dia peluk, untuk selalu berapa di dekapannya.
"Kyungsoo..."
Jongin memanggil Kyungsoo dengan suara rendahnya, dengan jelas, Jongin dapat melihat pergerakan Kyungsoo yang tiba-tiba terhenti, bahunya menjadi tegang, Kyungsoo tampak kaget. Namun itu tak terjadi lama, Kyungsoo kemudian menoleh kebelakang, tempat Jongin yang masih setia memandanginya dengan bertopang dagu.
"Kau sudah bangun Jong?"
Jongin tersenyum, ia sangat tahu kalau Kyungsoo sedang gugup, dapat dia dengar dengan jelas dari nada bicara Kyungsoo yang bergetar.
"Lanjutkan saja acara memasakmu, aku akan menunggu disini" Jawab Jongin
Dan senyum semakin mengembang ketika ia melihat bahu Kyungsoo menegang lagi. Kyungsoo yang tahu dipandangi seperti itu memutar tubuhnya penuh, hingga ia benar-benar berhadapan dengan Jongin.
"Kau, kau tidak mau mandi dulu Jong?" Kyungsoo bertanya takut-takut
Jongin menggeleng, "Ani, aku mau makan dulu, aku sudah sangat lapar Kyung, semalam saja kau tidak memberiku makanan, padahal aku sedang sakit"
Jongin memegang perutnya, bertingkah kesakitan.
"Maafkan aku, hanya saja, kemarin malam itu kau terlihat kelelahan, jadi aku hanya memberi obat. Tenang saja, obat yang kuberikan semalam, aman diminum walaupun kau belum makan"
Jongin dapat melihat Kyungsoo melangkah mendekat, mata bulatnya memancarkan kekhawatiran dan rasa bersalah. Dan Jongin jadi ikut merasa bersalah juga, padahalkan Kyungsoo sudah berusaha keras untuk menyembuhkannya, kenapa dia jadi tak tahu terimakasih begini sih?
"Aku baik-baik saja Kyung, sungguh. Kau tidak perlu merasa bersalah begitu, sekarang ini, aku hanya merasa lapar" Jongin nyengir, menampakkan deretan giginya.
"Kita hanya tinggal menunggu supnya matang, sabarlah sebentar Jong"
Kyungsoo melangkah menjauhi Jongin, menghampiri masakannya yang sebentar lagi lengkap dan siap dihidangkan. Namun langkah pria mungil itu terhenti, dengan cepat ia berbalik lagi, mendekati Jongin.
"Waeyo?" Jongin menatap bingung Kyungsoo yang tengah menatapnya intens.
Kyungsoo terus mendekat, memangkas habis jaraknya dengan Jongin. Karena posisi Jongin yang sedang duduk membuatnya lebih rendah dari Kyungsoo, membuat Jongin harus mendengak. Dan keterkejutan Jongin tak berhenti disitu, tiba-tiba Kyungsoo mendekatkan wajahnya pada wajah Jongin, jarak yang sangat dekat hingga Jongin dapat merasakan hembusan hangat napas Kyungsoo.
"Jong?"
Suara Kyungsoo yang memanggilnya seakan menggelitik indra pendengaran Jongin, Kyungsoo memanggilnya dengan berbisik.
"Ne-ne?"
"Ada kotoran di matamu"
Bagai tersambar geledek di siang bolong, Jongin membulatkan matanya kesal. Memangnya apa yang sudah dipikirkan Jongin terhadap sahabat mungilnya ini?
"Mwo? Hanya itu? Aish!"
Jongin membuang muka, menghidari tatapannya yang tadi terasa begitu intens dengan Kyungsoo.
"Ya! Kim Jongin, ada apa dengamu?" Kyungsoo menatap Jongin bingung
"Ani, bukan apa-apa" Jongin memutar kedua bola matanya, menatap ke arah lain, asal jangan ke arah Kyungsoo yang masih dalam posisinya.
"Kemari"
"Apa yang kau—"
Pertanyaan pemuda berkulit tan itu terhenti ketika dia merasa sebuah tangan mendarat pada dagunya, membuat wajah tampannya harus kembali berhadapan dengan si pemilik tangan mungil itu, Kyungsoo.
Satu tangan Kyungsoo yang lain mengambil selembar tisu yang memang di letakkan di meja makan, membawa tangannya ke arah mata Jongin, kemudian membersihkan kotoran mata di mata Jongin. Dan yang dibersihkan matanya hanya terdiam beku, mau tak mau Jongin harus memejamkan matanya, dia terlihat begitu menikmati perlakuan Kyungsoo padanya.
"Sudah"
Tangan Kyungsoo hendak beranjak dari wajah Jongin, namun tiba-tiba Jongin menahannya, menekan punggung tangan Kyungsoo pada wajahnya sendiri, Jongin masih enggan membuka matanya.
"Sebentar saja Kyung"
Kyungsoo dapat merasakan telapak tangannya menghangat, telapak tangannya yang bersetuhan langsung dengan permukaan kulit wajah Jongin membawa getaran menakjubkan ke seluruh tubuh Kyungsoo. Mata bulat Kyungsoo hanya tertuju pada satu sosok dihadapnnya yang seolah sedang menutup kedua matanya rapat, membuat darah di tubuh Kyungsoo berdesir lagi dengan kebingungan, sensasi yang ia rasakan saat Jongin memintanya untuk tetap berada di sisi pemuda berkulit tan itu begitu menyenangkan dan menyakitkan dalam waktu bersamaan.
"Kurasa, supnya sudah matang Jong" dengan canggung, Kyungsoo menarik tangannya menjah dari dekapan tangan Jongin, berjalan kembali menuju dapur tanpa melihat ekspresi Jongin.
"Maaf, aku hanya—" Jongin melepas genggamannya pada tangan Kyungsoo perlahan, seakan tak rela tangan mungil itu menjauh darinya.
"Tidak, tidak masalah Jong"
Dengan cepat, Kyungsoo memotong kalimat Jongin. Dia tidak ingin tau alasan apapun dibalik itu, dia tidak ingin mendengar alasan Jongin yang bukan karena dirinya. Dan setelah itu semua, hawa canggung terasa menguar diudara, diantara keduanya. Hanya terdengar suara alat masak yang Kyungsoo gunakan untuk menyiapkan sarapan mereka. Semuanya kembali dingin dan diam. Dibalik itu semua, ada sebuah kalimat yang terdengar sayup, namun sayangnya tak sampai pada indra pendengaran Kyungsoo.
"Maafkan aku, Kyung.."
Jongin berbisik begitu lembut, dengan mata nanar yang menatap punggung mungil di depannya.
.
.
.
Kyungsoo dan Jongin makan dengan tenang, sangking tenangnya hingga keduanya bisa hanya bisa mendengar suara detak jam yang tergantung di dinding ruang makan, deru napas mereka yang teratur dan suara denting alat-alat makan. Keduanya sibuk pada pikiran masing-masing.
Hingga Jongin menghembuskan napas jengah, dia tidak suka suasana seperti ini, jadi dia berniat untuk mengakhirinya.
"Kyung, masakanmu sangat enak, aku tidak bercanda" Jongin mengacungkan kedua jempolnya ke arah Kyungsoo
"Terimakasih Jong" dan Kyungsoo hanya membalasnya dengan enggan.
"Kyung, aku sedang bicara padamu" Jongin mengintrupsi Kyungsoo
"Bicaralah.."
Jongin memandang Kyungsoo tajam, dia mulai kesal dengan sikap Kyungsoo yang tiba-tiba mengacuhkannya, lebih memilih bermain dengan makanannya, mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya, tanpa ada niat untuk memakannya.
"Kyung.."
"Ku bilang, bicaralah Jongin" Kyungsoo tampak tak tertarik
"Kyung, kubilang aku sedang bicara denganmu!"
Jongin menaikan nada suaranya, tidak terdengar seperti membentak, bisa dibilang mendekati membentak. Dan suara itu sukses membuat Kyungsoo yang perhatiannya hanya tertuju pada makanannya, beralih pada Jongin. Pemuda mungil itu menatap Jongin dengan tatapan tak suka.
"Ada apasih denganmu?"
"Aku hanya ingin bicara" Jongin telah menormalkan nada suaranya kembali
"Ya sudah, bicara saja. Tidak usah berteriak begitu" Kyungsoo mulai kesal, dia meletakkan sumpitnya asal, hingga menghasilkan dentingan keras, hasil bertubrukan dengan piring makannya.
"Aku ini bicara padamu Kyung, tidak bisakah kau tidak mengacuhkanku?"
Kyungsoo terdiam, dia merasa bersalah juga karena tadi mengacuhkan Jongin. Ya, sebenarnya itu salah Jongin juga sih, insiden sentuh menyentuh yang terjadi beberapa saat lalu membuat otak Kyungsoo jadi mampet dan bingung sendiri tentang bagaimana ia harus bersikap di hadapan Jongin. Merasa Kyungsoo terlalu lama diam, Jongin melanjutkan kalimatnya lagi.
"Tidak adakah yang ingin kau tanyakan padaku?"
Jongin menatap Kyungsoo lagi, kini tepat dimatanya.
"Memang apa yang harus aku tanyakan?" Kyungsoo malah bertanya balik
"Oh ayolah! Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan Kyung"
"Berikan aku contohnya"
Jongin tampak berfikir sebentar. "Misalnya, Kau bertanya bagaimana aku bisa menemukanmu di bawah pohon ek besar itu?" Jongin memberi contoh
"Aku sudah tahu jawabannya"
"Mwo? Kau sudah tahu?" Jongin membulatkan matanya kaget
"Itu hanya kebetulan" Kyungsoo menjawab datar, kemudian dia kembali berkutat pada piring makannya, sama sekali tak tertarik dengan pembicaraan Jongin
"Bagaimana kalau pertanyaan lain?"
Jongin kembali mencoba menarik perhatian Kyungsoo, namun nampaknya pemuda mungil itu tak tertarik lagi. Kyungsoo dengan perlahan menghirup kuah supnya, mengacuhkan Jongin.
"Misalnya pertanyaan tentang bagaimana aku bisa ada disana sedangkan aku seharusnya berkencan dengan Krystal?"
Seketika Kyungsoo terbatuk, cukup kencang hingga kuah sup yang ia hirup muncrat hingga tercecer di meja makan.
"Kyungsoo, kau baik-baik saja?" Jongin tampak khawatir, dengan sigap ia menyodorkan selembar tisu pada Kyungsoo, menyuruhnya untuk membersihkan kuah sup yang mengotori mulutnya dan meja.
"Uhuk-uhuk, Ne, aku baik-baik saja"
Saat itu, hanya ada dua kemungkinan yang ada di pikiran Kyungsoo setelah ia mendengar perkataan Jongin barusan. Kemungkinan pertama adalah, Jongin sengaja mengomporinya dengan memamerkan acara berkencannya dengan Krystal. Dan kemungkinan kedua adalah kemungkinan terburuk yang Kyungsoo takutkan terjadi, kemarin itu bisa jadi Jongin telah melihat Kyungsoo di kelas saat Jongin memilih pergi bersama Krystal dan Jongin mengetahui kalau Kyungsoo juga sudah tau tentang acara berkencannya. Dalam hati Kyungsoo menggeleng, opsi kedua adalah mustahil dan ia sangat tidak mengharapkan itu terjadi, Jongin pasti tidak melihatnya kemarin, kemungkinan kedua hanya halusinasinya saja. Itu yang Kyungsoo pikirkan.
"Kau tidak terlihat baik-baik saja Kyung" Jongin beranjak dari kursinya, mendekati Kyungsoo.
"Aku baik-baik saja, sungguh"
Jongin menghentikan langkahnya ketika Kyungsoo menengadahkan telapak tangan kearahnya, mengisyaratkan Jongin untuk berhenti.
"Kau tahu, Krystal itu seorang Bitch, bahkan baru beberapa hari aku berkencan dengannya, sudah ada tiga pria yang mengaku telah tidur dengannya" Jongin melanjutkan ceritanya, dengan matanya yang memandang sedih.
Kyungsoo tidak suka Jongin yang bersedih karena orang lain, rasanya ia ingin segera memeluk Jongin dan menenangkan sahabatnya itu, namun dengan sadar Kyungsoo tau, ia tak punya hak khusus untuk mendekatkan dirinya kepada Jongin lebih dekat dari sepasang sahabat.
"Kurasa aku sudah hampir terlambat, kau makanlah dulu, aku mau mandi"
Jongin terdiam, terpaku pada posisinya yang tak sampai pada Kyungsoo, bahkan ketika pemuda mungil itu beranjak dari kursinya dan perlahan melangkah menjauh. Namun sebelum sosoknya benar-benar hilang, Kyungsoo sempat berbalik dengan Jongin yang raut wajahnya langsung berubah sumringah menatap sahabatnya.
"Taruh saja piring kotornya di westafel, aku yang akan mencucinya" Kemudian Kyungsoo berbalik lagi, hingga hilang setelah menaiki tangga.
Jongin mendesah lelah, pemuda tinggi itu tanpa sadar menggigit bibir bawahnya, bisa ia rasakan sisa-sisa rasa sup yang masih menempel pada bibirnya. Sungguh, ia sangat menyukai masakan Kyungsoo. Ini memang bukan pertama kalinya Jongin memakan masakan Kyungsoo, tapi bagi Jongin, Kyungsoo adalah koki terhebat yang pernah ia temukan setelah ibunya sendiri, Jongin memang yang dasarnya suka makan akan berubah menjadi rakus jika sudah disuguhi hidangan yang Kyungsoo buat. Selalu begitu, dari dulu selama ia dan Kyungsoo menjadi sahabat. Namun sekarang, napsu makan Jongin menguap entah kemana, bukan karena masakan Kyungsoo yang berubah menjadi tidak enak, hanya saja Jongin terlalu membenci sendirian, dia benci saat Kyungsoo tidak menanggapinya berbicara, dia benci saat Kyungsoo meninggalkannya sendirian seperti sekarang ini, dia benci jika pemuda mungil itu mengacuhkannya.
Kaki-kaki jenjang Jongin mulai bergerak, perlahan menaiki tangga, mengikuti jejak langkah Kyungsoo. Baru dua anak tangga yang ia naiki, Jongin menghentikan langkahnya. Ada sesuatu yang membuatnya tak bisa meneruskan langkah itu, ada sebuah halangan yang tengah membatasi hatinya, sebuah perasaan yang menurut akal sehat Jongin benar-benar gila, sebuah perasaan yang bagi sebagian orang begitu kotor dan menjijikan, dan buruknya, perasaan itu ada sangkut pautnya dengan sang sahabat. Jongin sungguh tidak sanggup jika harus bersikap egois, dia tak mau membuat Kyungsoo kotor, namun dilain pihak, dia tak bisa terus mengingkari hatinya.
Jongin mundur perlahan, kembali duduk pada tempat duduknya di meja makan. Mata elangnya menatap jam yang tergantung di dinding ruang makan.
"Setengah delapan.." Jongin bergumam
Sekali lagi, pemuda itu menghembuskan napas berat. Jika hanya ada satu pilihan yang dapat ia pilih, maka ia akan mengalah, demi Kyungsoo, jadi dia memutuskan untuk kembali melahap supnya yang mulai mendingin, dari lantai satu dengan mulut penuh makanan Jongin berteriak.
"Kyung! Cepat sedikit! Kau bisa terlambat!"
Jongin yakin, Kyungsoo dapat mendengarnya. Dan dia kembali memfokuskan matanya pada sup buatan Kyungsoo yang beberapa sendok lagi akan habis.
"Ini enak sekali, benar-benar enak. Rasanya aku ingin memakan sup ini setiap hari"
Jongin tersenyum lebar sambil memuji masakan Kyungsoo, senyumnya yang begitu lebar membuat kedua mata elangnya hanya tersisa menjadi segaris mata. Namun tanpa ia sadari, setetes bulir bening menyeruak dari balik kelopak matanya, jatuh tanpa ia ketahui, melebur menjadi satu dengan kuah sup bening di mangkuknya.
Faktanya, pemuda berkulit tan itu setengah mati tengah menyembunyikan tangisannya.
.
.
.
Jongin berbohong, dia berbohong pada Kyungsoo sekaligus kepada kedua orang tuanya. Setelah makan, Jongin mendapati Kyungsoo sudah siap dengan seragam sekolah lengkap dan tas ranselnya, dan seketika itu juga, Jongin merasa ia akan segera diusir.
"Bajumu sudah aku keringkan, aku memang belum sempat mencucinya"
Kyungsoo menyodorkan bungkusan putih berisi baju seragam Jongin yang basah semalam. Jongin menegak ludahnya kasar, kalimat Kyungsoo barusan adalah usiran halus yang dapat Jongin pahami. Namun pemuda itu belum mau beranjak.
"Ah.. terimakasih Kyung" Jongin berjalan mendekati Kyungsoo, namun ketika tinggal selangkah lagi ia menggapai bungkusan putih yang ada di tangan Kyungsoo, tubuh Jongin jatuh ke lantai, menghasilkan suara debaman yang sontak membuat pemuda kecil bermata bulat di depannya terkejut setengah mati.
"Jong! Jongin!" Kyungsoo tampak panik, dia berjongkok, meletakkan kedua tangannya pada bahu Jongin, mengguncangnya pelan.
"Kyung~"
Jongin menatap mata Kyungsoo dengan pandangan sayu, sontak membuat pria mungil itu mendekatkan telapak tangannya ke kening Jongin, takut sakit sahabatnya yang semalam itu kambuh lagi.
"Tidak panas, tidak dingin juga" Kyungsoo bergumam
"Kepalaku Kyung, kepalaku sakit sekali" Jongin mengoreksi diagnosa Kyungsoo, Jongin berusaha bangun, membuat tubuhnya terduduk diatas lantai, kedua tangannya memegangi kepalanya.
"Benarkah? Kepalamu masih sakit?" Kini Kyungsoo yang ikut-ikutan memegangi kepala Jongin.
"Ne, neomu appo Kyung" Jongin meringis, membuat tatapan mengiba Kyungsoo padanya semakin menjadi.
"Tapi bagaimana ini Jong? Aku harus berangkat sekolah, aku tak bisa mengantarmu pulang sekarang" Kyungsoo menatap Jongin dengan wajah kebingungan.
"Oh! Atau kutelpon ayah ibumu saja untuk menjemputmu disini"
"Andwae!"
Kyungsoo terkejut, barusan dia mendengar Jongin berteriak, padahal belum semenit yang lalu Jongin berubah jadi tidak berdaya.
"Maksudku, jangan Kyung. Ayahku sedang ada di luar kota, dan ibu sedang menjenguk nenek di Mokpo, aku tak mau membuat mereka khawatir, apalagi harus menjemputku jauh-jauh kesini" Jongin kembali menormalkan suaranya, menormalkan suaranya menyerupai orang sakit.
"Tapi, kau sedang sakit Jong, kau harus beristirahat"
Dalam hati, Jongin tersenyum mendengar kalimat Kyungsoo barusan. Pemuda kecil itu tanpa sadar sedang menyambut rencana seorang Kim Jongin. "Tidak bisakah aku istirahat disini sebentar?" Jongin bertanya dengan nada lemah yang dibuat-buat. Oh, seoarang Jongin nampaknya akan menang kali ini.
"Tapi, apakah tidak apa-apa kau kutinggal sendiri?"
Jongin mengangguk. "Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan hal-hal buruk pada rumahmu ini, kau bisa pegang janjiku" Jongin meyakinkan
"Bukan begitu Jong, aku percaya kau tidak akan melakukan hal buruk di rumahku. Tapi kondisimu, Bagaimana kalau kau butuh sesuatu dan aku tidak ada?"
Jongin tersenyum, kini senyum sungguhan yang dapat Kyungsoo lihat. Jongin merasa lega, ternyata sahabatnya sudah kembali seperti semula, menjadi Kyungsoo yang selalu mengerti dirinya dan perduli padanya.
"Aku baik-baik saja Kyung, aku hanya butuh istirahat sebentar. Kau berangkatlah, aku akan berbaring di sofa saja" Dengan perlahan Jongin bangkit, diikuti Kyungsoo yang juga mengikutinya dari belakang.
"Pelan-pelan Jong" Kyungsoo tanpa sadar memegang lengan Jongin, membantu sahabatnya itu berbaring di sofa. Untunglah sofa Kyungsoo sudah kering, bekas ditiduri Jongin dengan bajunya yang basah kuyup semalam.
"Kau berangkatlah" Jongin tersenyum lagi kepada Kyungsoo, mendapati sahabatnya yang masih menatapnya dengan pandangan khawatir, Jongin ikut merasa bersalah juga.
"Baiklah, aku berangkat dulu Jong. Jika butuh sesuatu langsung telepon aku, ne?" Kyungsoo melepas genggaman tangannya pada lengan Jongin, perlahan tubuhnya menjauh.
"Kyung?"
"Ne?" Dengan cepat Kyungsoo berbalik ketika Jongin memanggilnya
Gerakan Kyungsoo yang terburu-buru ketika dia memanggil pemuda mungil itu membuat Jongin terkekeh. "Aku hanya ingin bilang hati-hati" Jongin berkata sambil memperbaiki letak kepalanya pada senderan sofa.
"Tentu saja" Kyungsoo menghadiahi Jongin dengan senyum heartlipsnya, lalu menghilang dibalik pintu dengan sebelumnya melambaikan tangannya pada Jongin.
Jongin dengan perlahan menutup kedua mata elangnya, namun ketika mendengar bunyi pintu terkunci, dengan segera Jongin bangkit dari tempat duduknya. Dan di dalam rumah Kyungsoo terdengar teriakan.
"AAAAAASSSSSSSHHHHHAAAAAAA!" Jongin melopat-lompat kegirangan.
"Saatnya mengeksplorasi rumahmu Kyung"
.
.
.
"Sudah selesai!"
Jongin berteriak sendiri, tersenyum dengan hasil karyanya, beberapa jam berlalu sejak Kyungsoo meninggalkannya sendirian di rumah, jadi Jongin berniat membalas budi baik Kyungsoo yang sudah mau menampungnya karena tingkah lakunya yang konyol kemarin serta karena ia merasa bersalah telah menipu Kyungsoo dengan berpura-pura sakit lagi. Dia berinisiatif membersihkan beberapa bagian rumah Kyungsoo sebelum sahabatnya itu kembali dari sekolah dan benar-benar menendangnya keluar dari rumah. Jongin sudah selesai mencuci piring bekas mereka sarapan tadi pagi yang belum sempat Kyungsoo cuci, merapihkan bantal-bantal sofa serta mengembalikan beberapa benda yang berserakan di lantai satu. Jongin hanya mengerjakan pekerjaan ringan yang mampu ia kerjakan. Ya, setidaknya pemuda berkulit tan itu telah berusaha semampunya.
Jongin mendudukan tubuhnya di atas sofa, tiba-tiba rasa bosan menyerangnya, dia melirik jam dinding lagi, masih menunjukan angka dua belas, itu artinya masih ada dua jam lagi sebelum Kyungsoo pulang ke rumah. Jongin bangkit lagi dari duduknya, mengitari ruang makan, lalu kembali lagi ke hadapan sofa, matanya berkeliling, sesekali melirik TV plasma besar di ruangan itu, menggodanya untuk menonton, namun nampaknya Jongin tidak tertarik. Dia berbalik lagi, mulai menjejakan kakinya di atas anak-anak tangga. Hingga pemuda itu sampai di depan pintu sebuah kamar tempat ia tidur semalam, kamar Kyungsoo.
Katakan saja kalau Jongin itu lancang, padahal pemuda itu sudah berjanji akan membalas hutang budinya pada Kyungsoo, namun malah dengan seenaknya dia memasuki kamar sahabatnya itu tanpa izin. Mungkin karena semalam tubuhnya terlalu menggigil dan kepalanya terlalu pusing, Jongin tak bisa melihat dengan jelas keadaan kamar yang ia tiduri. Nuansa kamar yang begitu mencerminkan seorang Do Kyungsoo dengan warna biru langit yang mendominasi, warna kesukaan Kyungsoo.
Jongin terlihat begitu menikmati eksplorasi kurang ajarnya pada kamar Kyungsoo, mata elangnya terlihat begitu seksama merekam setiap sudut kamar sahabatnya tersebut, dan mata Jongin berhenti pada meja belajar Kyungsoo yang terletak di sudut kamar, dekat jendela. Matanya menangkap sebuah figura foto yang membikai sebuah foto yang familiar bagi Jongin. Dia mendekat, ketika tangannya meraih bingkai foto itu, Jongin tersenyum. Itu fotonya dengan Kyungsoo dua tahun lalu, tepatnya saat ia dan Kyungsoo lulus sekolah menengah. Jongin jadi tertawa sendiri melihat penampilannya dua tahun lalu, begitu culun pikirnya. Matanya beralih pada sosok yang tengah dirangkulnya di foto itu, seseorang yang sampai sekarang terlihat sangat kecil ketika dia rangkul, Do Kyungsoo tidak pernah berubah, sahabat mungilnya itu tetap mengagumkan seperti biasa. Jongin berniat mengembalikan foto itu ke tempatnya, tapi dasarnya Jongin itu ceroboh, dia salah meletakkan bingkai foto itu hingga membuatnya jatuh. Jongin menerka ia akan segera mendengar bunyi pecahan kaca bingkai, namun dia tak mendengar apapun.
Dibawah, bingkai foto itu jatuh diatas sebuah kotak yang dilapisi kain flanel berwarna biru gelap. Jongin berniat mengambil bingkai itu, mengikutsertakan kain yang menutupi kotak. Ia hendak mengembalikannya, namun ketika matanya melihat sebuah tape recorder dari balik kain biru gelap itu, dia mengurungkan niatnya.
"Tape recorder"
Jongin menatap tape recorder berwarna abu-abu dengan gradasi hitam itu lekat, tepat di sebelah kanan bawah tape recorder itu dia menemukan tulisan yang ditulis menggunakan spidol hitam.
' From DKS for KJI'
Jongin mengerutkan keningnya bingung, tidak mengerti dengan sepenggal kalimat yang Jongin yakini Kyungsoo tuliskan pada tape recorder itu. Jongin jadi semakin penasaran dengan isi tape recorder yang ia pegang, jadi pemuda itu memberanikan diri menekan tombol play. Dan tape recorder Kyungsoo mulai memainkan kenangannya dengan sang pemilik.
'11 Desember 2008. Hai, Do Kyungsoo disini. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan hingga akhirnya aku membeli tape recorder ini dari toko barang bekas, ku kira barang ini akan berguna jika aku sedang kesepian seperti ini, jadi aku—'
Jongin menekan tombol next di tape recorder itu.
'12 Januari 2009. Selamat ulang tahun untukku, semoga aku bisa tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dan tidak cengeng seperti ini lagi. Terimakasih aku ucapkan kepada sahabat baikku, Kim Jongin si kulit hitam itu karena sudah mau membuatkan perayaan kecil dihari ulang tahunku, Terimakasih atas deobokkinynya Jong!'
Hati Jongin berdesir, membawa ingatannya kemasa lalu beberapa tahun lalu, masih ia ingat dengan sangat jelas ketika Kyungsoo berulang tahun yang ke 13. Dia hanya mengucapkan selamat ulang tahun pada sahabatnya itu dan mentraktirnya dengan seporsi deobokki. Bagi Jongin itu hanyalah perayaan ulang tahun yang terlalu biasa untuknya, tapi dia tak pernah menyangka Kyungsoo akan begitu berterimakasih karena dia telah mengingat hari ulang tahun teman mungilnya itu.
Jongin kembali menekan tombol next di tape recorder itu, jari-jari panjangnya menekan tombol itu secara acak, tidak lagi hanya menekan satu kali.
'14 Januari 2013. Selamat ulang tahun ke tujuh belas Jongin, maaf aku hanya bisa memberikanmu syal sebagai hadiah, aku harap kau suka dengan hadiahku. Jong, kita semakin tua ya? Apakah nanti, ketika kita sama-sama beranjak dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing, kau akan melupakannku? Ku harap itu tak akan pernah terjadi Jong, selama kita bersahabat, aku benar-benar berterimakasih pada Tuhan karena Dia telah mempertemukan ku dengan mu. Kamu itu sangat berarti buatku Jong, aku menyayangimu Kim Jongin-'
Jongin tersenyum, suara Kyungsoo di rekaman itu semakin lama semakin terdengar samar, seakan ia tengah menyembunyikan sesuatu ketika mengatakannya. Jongin kira rekaman itu sudah selesai, namun ketika jari telunjuknya hendak menekan tombol 'next', suara Kyungsoo terdengar lagi.
'-Aku tahu ini salah, tapi aku mencintaimu Jongin, tolong maafkan aku'
Dan rekaman itu berhenti, menyisakan keheningan bagi Jongin. Sebagian dari hatinya melonjak-lonjak dengan getaran menggebu yang menyenangkan ketika ia mendengar pernyataan cinta itu sekali lagi, tapi akal sehatnya menarik rasa menyenangkan itu pergi, dia tak boleh begini, Kyungsoo itu sahabatnya dan akan seperti itu selamanya.
'Ting! Tong! Ting! Tong!'
Jongin terperanjat ketika indra pendengarannya mendengar dentang bel dari lantai satu.
"Kyungsoo sudah datang"
Cepat-cepat ia meletakkan tape recorder itu pada tempatnya semula, kemudian bergegas turun ke bawah dengan terlebih dulu menutup pintu kamar Kyungsoo. Ketika Jongin mendengar suara pintu terbuka, ia semakin cepat melangkahkan kakinya.
"Kyung, kau sudah pu-"
Namun kalimat Jongin terhenti ketika yang ia tangkap dalam penglihatannya bukanlah sosok Kyungsoo. Disana, telah berdiri seorang laki-laki tinggi jangkung dengan rambut blonde dan wajah oriental. Laki-laki itu menatap Jongin dengan pandangan aneh dan tak suka, sebelum akhirnya ia membuka suara.
"Siapa kau?" Laki-laki tinggi itu bertanya dingin padanya, dengan tatapan mata yang seakan dapat menelan Jongin hidup-hidup.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu tuan, bagaimana kau bisa membuka pintu rumah orang lain?" Jongin menjawab dengan sama dinginnya.
Lelaki pirang itu tertawa mendengar pertanyaan Jongin. Dia merogoh saku mantelnya dan menunjukan sesuatu ke hadapan Jongin, sebuah kunci. Mata Jongin terbelalak, bukan karena keunikan atau keanehan yang ada pada kunci yang lelaki itu pegang, namun pada bentuknya yang sama persis dengan kunci milik Kyungsoo. Kunci yang sama, yang digunakan Kyungsoo untuk menggunci rumahnya.
"Aku memiliki kunci rumah ini, sama seperti pemilik rumah ini" Lelaki itu menyeringai menang pada Jongin.
Rahang Jongin mengeras, dia merasa tak terima dengan apa yang ia lihat. Bagaimana bisa orang asing itu memiliki kunci rumah Kyungsoo, dan bahkan Kyungsoo sendiri tak pernah memberitahunya sedikitpun mengenai lelaki pirang itu.
"Siapa kau sebenarnya!" Jongin membentak lelaki pirang itu, namun lelaki itu tampak tak keberatan sama sekali dengan bentakan Jongin.
"Calm down buddy, aku akan senang hati mengenalkan diriku padamu Jongin-shi" Lelaki itu menyeringai lagi
"Kau? Darimana kau tau namaku?" Mata Jongin menyalang marah
"Namaku Kris, dan jika kau bertanya bagaimana aku bisa mengetahui namamu, seharusnya kau sudah tahu darimana aku bisa mengetahuinya jika bukan dari Kyungsoo"
Jongin merasa tubuhnya memanas, mendengar lelaki bernama Kris itu menyebut nama Kyungsoo membuatnya serasa ingin meledak.
"Siapa kau? Bagaimana Kyungsoo bisa menceritakan diriku padamu? Sebenarnya apa hubunganmu dengan Kyungsoo?!"
Kris tertawa mengejek kepada Jongin, kemudian pemuda chinese-kanadian itu menjawab pertanyaan beruntut Jongin dengan santai.
"Jadi seperti inilah seorang Kim Jongin, begitu kekanakan. Lucu sekali"
"Cepat jawab pertanyaanku sialan!" Jongin melangkah ke depan, meraih kerah mantel pria blonde yang hanya dua cm lebih tinggi darinya itu.
"Kau benar-benar ingin tahu siapa aku Jongin-shi? Baiklah, jika itu maumu" Dengan kasar, Kris menepis tangan Jongin dari kerah mantelnya.
"Namaku Wu Yifan, tapi kau bisa memanggilku Kris. Aku adalah orang yang diutus oleh appa Kyungsoo untuk menjaganya selama ia tak berada di Korea—"
Tangan Jongin mengepal diudara, dia sudah tidak tahan mendengar penuturan Kris mengenai Kyungsoo dan berbagai kenyataan lain bahwa Kyungsoo telah menyimpan banyak rahasia tanpa Jongin ketahui, dia merasa telah ditipu. Dan satu kalimat selanjutnya yang ia dengar, seakan meruntuhkan kekuatannya seketika.
"—Aku adalah tunangan Do Kyungsoo"
Jongin maju dengan membabi-buta, melepaskan kepalan tangannya yang tadi hanya melayang di udara. Dia memegang kerah mantel Kris lagi, memukul rahang pemuda itu hingga Jongin bisa mendengar suara gertakan tulang.
"Sialan kau! Jangan bicara omong kosong, keparat!"
Dia melepas pukulan keduanya, ketiganya, keempatnya pada wajah Kris, memukul pemuda blonde itu tanpa ampun.
"Tidak! Tidak! Kyungsoo! Kyungsoo milikku, dia hanya milikku sialan!"
Jongin berteriak, disertai dengan darah yang mengalir dari sudut bibir Kris.
"Jangan, jangan lakukan itu kumohon..."
Jongin merasa lelah sendiri, setelah puas menghajar Kris, dia melepas pegangannya pada kerah mantel Kris, membiarkan pria jangkung itu tergeletak dilantai.
"Aku tidak akan memaafkanmu.." Jongin mendesis, memandang Kris dengan pandangan jijik
Kris hanya menyeringai, sesekali mengumpat karena luka yang ia dapatkan dari Jongin barusan "Kau hanya seorang pengecut Jongin-shi. Dan pada akhirnya, akulah yang akan Kyungsoo pilih, bukan pria bodoh sepertimu yang bahkan tak tau perasaannya sendiri!" Kris berteriak
"Sialan kau! Siapa kau sebenarnya! Keparat!"
Kata-kata Kris tadi kembali menyulut amarah Jongin, dia kembali menarik tubuh Kris bangun, menghajar lelaki itu dengan sekuat tenaganya.
Tanpa ia sadari, sepasang bola mata tengah melihatnya dengan air mata yang mulai menggenang. Tanpa Jongin sadari, Kyungsoo telah berdiri diambang pintunya dengan tangis yang nyaris pecah. Ketika Jongin akan melepas pukulan terakhirnya pada wajah Kris, dia mendengar suara Kyungsoo.
"Jongin hentikan! Dasar kau keparat!" Kyungsoo menerjangnya, dengan sebuah pukulan pada sudut bibirnya, ia terhuyung jatuh kebelakang.
Hatinya begitu sakit, ketika ia melihat Kyungsoo membopong tubuh jangkung Kris bangun, Kyungsoo tidak memperdulikannya sama sekali.
"Kyung, jawab aku! Siapa dia sebenarnya!" Jongin dengan susah payah berdiri, menatap punggung Kyungsoo yang perlahan menjauhinya.
"Kris pasti telah mengatakannya padamu Jong, jadi kumohon pergilah sekarang, sebelum kau semakin menyakitinya, kumohon" Kyungsoo berkata dingin, ia kembali berjalan perlahan menjauhi Jongin, tanpa menoleh kebelakang.
"Tidak, aku ingin mendengarnya langsung darimu. Siapa dia sebenarnya Do Kyungsoo?"
Langkah Kyungsoo terhenti, tanpa menoleh pada Jongin di belakang ia berkata lirih.
"Kris adalah tunanganku, jadi pergilah sekarang sebelum aku benar-benar membencimu Kim Jongin"
Langkah Kyungsoo terus menjauhinya, tanpa menoleh pada Jongin, lelaki mungil itu membawa lelaki jangkung yang berstatus sebagai tunangannya ke lantai dua. Menyisakan Jongin dengan keperihan dan penyesalan mendalam.
"Maafkan aku Kyungsoo, aku benar-benar terlambat.."
Pemuda tan itu melangkah perlahan menuju pintu, meninggalkan rumah Kyungsoo dengan sejuta kenangan tentangnya.
"Aku benar-benar sudah terlambat, begitukah Kyung?"
.
.
.
TBC
-JUST FRIEND Chap.4-
Sekali lagi, Terimakasih kepada semua readers yang sudah mau review cerita saya, saya sangat mengapresiasi segala bentuk review readers yang membangun saya untuk lebih baik lagi dalam menulis fanfic.
Akhir kata, Review for chap.4 please
Kamsahamnieda ^^
