-Se Na Oh present-

JUST FRIEND

CHAPTER 5 HERE !

It's KAISOO fanfic

Start with KAISOO

End with KAISOO

NO gs! It's YAOI ! It's YAOI ! and always YAOI !

Jika tidak berkenan dengan gendre cerita saya, silahkan tekan tombol 'back' .

Jika berkenan, silahkan menikmati. Jangan lupa review juseyo~~~

Maaf atas keterlambatan chapter ini, tugas datang silih berganti tanpa saya minta, Jeongmal Mianhae.. Akhir kata dari saya, Happy reading yorobun ^^

.

.

.

- JUST FRIEND chap.5 -

"I know, You can't trust anyone now~

I'm not trying to tell you the truth~

I know, I can't protect you anymore~

I'm not trying to tell you the fact~

I can't find it again, I can't have it again~

The happy days (with you)~"Kim Jongin

-Every single day by Non-fiction

.

.

.

"Kenapa kau datang kemari?"

Kyungsoo bertanya dengan nada sedingin mungkin, ditangan pemuda mungil itu terdapat kain dan sebuah mangkuk berisi air es.

"Mau apa lagi? Tentu saja aku mau menemuimu, Kyung"

Kris mendengakkan kepalanya, menatap Kyungsoo yang masih membeku, berdiri beberapa langkah di depannya.

"Kau tidak mau mengobatiku?" Pria blonde itu berkata sambil menujuk-nunjuk sudut bibirnya yang lebam.

"Kenapa kau datang tanpa memberitahuku dulu? Kenapa kau tidak menelfon dulu?" Kyungsoo tidak mengindahkan perkataan Kris, kedua mata bulatnya menatap marah.

"Memangnya harus ya?" Namun bukannya takut, lelaki jangkung bernama asli Wu Yifan itu terkekeh kecil melihat ekspresi marah Kyungsoo yang menurutnya lucu.

Kyungsoo tetap diam, menunggu jawaban dari Kris yang bisa ia anggap sebagai jawaban, bukan hanya sekedar ingin menggodanya.

"Well, kau tahu kan kita sudah bertunangan itu artinya aku su—"

"Tidak ada yang bilang seperti itu, kau lah yang memutuskan itu secara sepihak Kris"

"Walaupun begitu keluargaku setuju, ayahmu juga, beliau bahkan mendukung kita sebagai pasangan gay" Kris menaikan sebelah alisnya yang berwarna sama dengan rambut pirangnya. Menatap Kyungsoo dengan wajah percaya dirinya.

Ya, ayah Kyungsoo mendukung anaknya untuk menjadi pasangan gay, hanya jika anaknya berpasangan dengan Kris yang notabene adalah anak dari direktur utama perusahaan Wu yang merupakan perusahaan tekstil terbesar dan terkaya di Cina. Dan itu bukan tanpa alasan.

Tadinya Kyungsoo merasa hidupnya akan membaik setelah ia memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya, nyatanya memang keadaannya membaik, pemuda kecil itu tak pernah kekurangan suatu apapun dihidupnya, ayahnya selalu memenuhi kebutuhannya walau bukan garis tanpa pemuda kecil itu sadari, ayahnya telah berubah, dia telah berubah menjadi pria tua yang haus akan ambisi dan kekuasaan. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan ambisinya, termasuk dengan mengorbankan Kyungsoo. Pemuda kecil itu sudah lelah untuk meminta penjelasan pada ayahnya, ketika ia memaksa pada beliau, maka ayahnya itu akan menjawab bahwa itulah tugas Kyungsoo sebagai anak yang telah ia rawat selama ini, Kyungsoo harus tau cara membalas budi baiknya. Dan memang Kyungsoo bisa berbuat apa jika ayahnya telah memerintah, dia masih akan berpikir dua kali jika harus kelaparan dan tidur di jalan.

Sebuah kenyataan yang mau tidak mau harus Kyungsoo telan seperti pil pahit, bahwa kedua orang tuanya bahkan tak benar-benar menganggapnya sebagai anak mereka.

"Bukankah aku sudah katakan padamu bahwa ayahku punya maksud lain dibalik ini semua, dia punya rencana, dan agar rencanyanya terwujud dia menggunakanku, jadi—"

"Aku sudah mendengar itu beratus-ratus atau mengkin beribu-ribu kali darimu Kyung, dan terserah dengan rencana appamu yang kau bilang rencana busuk atau apalah, karena aku tak akan pernah perduli sayang"

Mata Kyungsoo membulat ketika Kris bangkit dari duduknya di sofa, membawa tubuh jangkungnya mendekati Kyungsoo.

"Jadi jangan katakan itu lagi, Oke?"

Kyungsoo bisa merasakan hembusan napas Kris saat pemuda itu berbicara dengan jarak seintim ini dengannya.

Kini giliran Kyungsoo yang mendengak, jarak tinggi mereka yang berbeda hampir 20cm, mengingat tinggi Kyungsoo yang cukup mungil jika dibandingkan tinggi Kris yang hampir menyamai tinggi pintu rumahnya. Bagi Kyungsoo, mendengak dengan jarak sejauh ini membuat lehernya lama-lama terasa kaku.

"Kau akan menyesal Kris, kau akan menyesal karena tidak menghentikan appaku" Kyungsoo berkata sambil berdesis tak suka.

Pemuda chinise itu menggeleng pelan, dengan kedua sudut bibir yang biru lebam dia tersenyum kecil. "Ani, aku tidak akan pernah menyesal selama itu bisa membuatmu menjadi milikku". Tangan kanan Kris terangkat hendak membelai permukaan kulit pipi Kyungsoo yang tembam, namun sedetik sebelum tangan itu dapat merasakan halus kulit Kyungsoo, pemuda mungil itu kembali melangkah menjauh.

Kyungsoo meletakkan mangkuk berisi air es yang sudah mulai cair itu diatas meja di depan sofa, tak menghiraukan desah kecewa dari pemuda jangkung yang berdiri tak jauh darinya.

"Ayahku, dia punya ambisi yang besar. Dan ia ingin menghancurkan perusahaan ayahmu Kris. Dia menggunakanku ketika ia tahu bahwa pewaris tunggal perusahaan Wu adalah seorang gay—"

Kris tak merespon, jadi Kyungsoo memutuskan untuk melanjutkan ceritanya.

"Aku juga sudah pernah beliau gunakan untuk mendapatkan saham perusahaan Lee, dia menjodohkanku dengan putri semata wayang mereka, namun aku beruntung, gadis itu sudah memiliki kekasih, jadi dengan terang-terangan ia menolakku, dan secara otomatis rencana ayah tidak bisa terlaksana, jadi—"

"Jadi apa?"

Kyungsoo menoleh pada Kris, ketika telinganya menangkap nada dingin dan berat dari kalimat pendek yang dilontarkan pemuda chinese itu.

"Jadi aku harap kau melakukan hal yang sama seperti yang nona Lee lakukan"

Kris diam, hanya menatap Kyungsoo tajam. "Jika aku tak mau?" pemuda chinese itu menantang lagi.

Kyungsoo menghembuskan napas pelan, sungguh rasanya ia sangat lelah meyakinkan Kris untuk menolaknya. "Kau harus melakukannya, atau perusahaan ayahmu akan—"

"Akan apa? Akan hancur? Akan bangkrut? Begitu?"

Kyungsoo mengangguk. "Ne" dia menjawab singkat.

"Sebenarnya kau ini bodoh atau apa?"

Kyungsoo membulatkan mata, barusan dia mendengar Kris menyebutnya bodoh. Yang benar saja?

"Perusahaan ayahku tak akan jatuh hanya karena rencana ayahmu, jika yang ayahmu inginkan adalah jabatan disana, maka aku bisa memberikannya, jika dia ingin saham di perusahaan ayahku, maka aku akan senang hati memberikan bagianku pada ayahmu. Perusahaan Wu bukan perusahaan yang baru berdiri kemarin Kyung, dan gangguan kecil dari ayahmu tak akan menggoyahkan apapun" Kris berkata angkuh, dengan mata yang masih terilhat mengintimidasi Kyungsoo, kaki-kaki panjangnya perlahan menghilangkan kembali jarak diantara mereka.

"Tapi aku masih STRAIGHT!" Kyungsoo berteriak, membuat Kris menghentikan langkahnya mendekat. Kemudian pemuda itu terkekeh kecil kepada pemuda mungil di depannya.

"Jika kau berkata seperti itu saat aku pertama kali mengajakmu berpacaran, mungkin aku akan percaya, tapi sekarang... jangan harap itu terjadi Kyung"

"Aku serius! Aku masih straight! Aku masih menyukai paha mulus dan dada besar!"

"Benarkah?" Kris bertanya dengan nada meremehkan, sesekali pemuda itu mengusap sudut bibirnya. "Benar karena itu? Bukan karena sahabat pecundangmu itu, Kyung?"

"Mwo?! Siapa sebenarnya yang kau sebut pecundang, tuan Wu?!"

"Siapa lagi kalau bukan sahabat tercintamu itu, Kim Jongin"

Kyungsoo terdiam ketika Kris menyebut nama sahabatnya yang ia usir beberapa saat yang lalu karena memukuli Kris.

"Bicara apa kau ini!" Kyungsoo membentak lagi, wajah mungilnya terlihat memerah.

"Kau tidak bisa berbohong padaku Kyung, tak akan bisa" Dengan cepat Kris melangkah, memegang kedua sisi pundak Kyungsoo yang sempit dengan kedua tangannya. "Tatap aku—" Kris meminta, namun Kyungsoo kembali tak mengindahkannya, pemandangan lantai nampaknya lebih memikat hatinya dari pada menatap lelaki Jangkung di hadapannya.

"Kau tidak mau?" Kris bertanya dengan nada kecewa, namun ia tidak kehilangan akal agar Kyungsoo menatapnya, tangan kanannya ia lepaskan pada pudak Kyungsoo, beralih pada dagu pemuda mungil itu, dengan gerakan pelan menarik dagu itu hingga wajah Kyungsoo mau tak mau mengikuti pergerakan dagunya, hingga mata bulatnya bertemu mata Kris.

"Aku melihatmu menangis tadi—"

Kyungsoo dapat mendengar suara pemuda jangkung dihadapannya dengan begitu lirih, mata tajam Kris menyendu, namun pemuda jangkung itu nampak menggantung kalimatnya, jadi Kyungsoo hanya diam, menunggu.

"—tadi, saat Jongin menghajarku. Aku melihat kau menangis, kenapa?"

Ini pertama kalinya sejak Kyungsoo mengenal Kris dari pemaksaan ayahnya, ini pertama kalinya Kyungsoo mendengar suara Kris yang begitu lirih, hingga terasa menggelitik telinga hingga menjalar sampai kehatinya.

"Aku tidak menangis!" Kyungsoo membentak kasar, sama kasarnya dengan dia melepas tangan Kris dari dagu mungilnya.

"Kenapa kau menangis? Apa kau takut? Apa yang kau takutkan? Kau takut aku terluka atau—"

Kris tidak menghiraukan kalimat sangkahan Kyungsoo, dia sudah lebih dulu tau bahwa pemuda mungil itu berbohong. Sepenggal kalimat itu belum ia selesaikan, ketika matanya menangkap gelagat gelisah dari Kyungsoo, nampaknya Kyungsoo tau dengan isi sepenggal kalimat lagi yang akan Kris lontarkan.

"—atau kau takut Jongin terluka?"

Kyungsoo tercekat, dia sudah menebak Kris akan bertanya mengenai itu, dan dia tak bisa menjawabnya tanpa berbohong.

"Kenapa kau diam? Jadi benar kau menangis karena Jongin, bukan karena aku Kyung?"

Kyungsoo ingin lenyap saat itu juga. Pergi dari hadapan pemuda blonde itu secepatnya. Faktanya Kyungsoo memang tak pernah melirik pemuda jangkung itu barang sedetikpun, tidak bisa dia pungkiri bahwa Kris itu mempesona, mempesona dengan semua yang ada pada parasnya, serta mempesona dengan semua latar belakang kehidupannya, seharusnya Kyungsoo bersyukur karena Kris adalah seorang gay dan pemuda itu sangat tergila-gila padanya. Namun Kyungsoo tak merasa itu semua sebagai keuntungan, karena hatinya dengan terang-terangan menolak Kris. Jika saja Kris hanya memintanya menjadi teman atau sahabatnya, maka Kyungsoo tak akan berpikir dua kali untuk mengabulkan permintaan itu, sejujurnya ia nyaman dengan keberadaan pemuda chinese-canadian yang berusia empat tahun lebih tua darinya itu, Kyungsoo rasa mungkin hidupnya akan lebih berwarna jika dia memiliki figur seorang hyung yang bisa ia temukan di diri Kris. Tapi nampaknya Kris sudah lebih dulu terjerat pada pesona pemuda mungil itu, dan tanpa tedeng aling-aling, dia langsung memita ayahnya untuk menunangkannya dengan Kyungsoo. Jelas, ayah Kyungsoo sangat mendukung itu, status anak-anak mereka nantinya akan mempermudah ayah Kyungsoo menjalankan rencanya.

Kyungsoo benar-benar lelah, walaupun dia tidak mencintai Kris sebagaimana pemuda itu mencintainya, Kyungsoo tak sanggup membenci pemuda itu. Baginya, walau ada beberapa orang yang berkata Kris adalah aib bagi keluarga Wu karena dia seorang gay, Kris adalah teman yang baik. Dan Kyungsoo hanya ingin seorang Kris berdiri pada porsinya sebagai teman baik Kyungsoo, tidak lebih. Karena ketika pemuda jangkung itu melangkahkan hatinya lebih jauh untuk mencintai Kyungsoo, hal itu hanya akan semakin menyakiti hatinya. Karena Kyungsoo tak akan pernah bisa membalas perasaan Kris, sekeras apapun dia mencoba. Hati Kyungsoo sudah terkunci, dan kunci untuk bisa membuka hatinya hanya ada pada seorang Kim Jongin.

"Ne, aku menangis karena Jongin. Bukan karenamu"

Sebuah kenyataan pahit yang lagi-lagi menghantam relung hati Kris seperti palu godam yang menyebarkan rasa sakit yang terus-menerus. Membuat tatapan mata Kris yang sudah sendu bertambah remang, pemuda itu melangkah menjauh dari Kyungsoo, dengan lemah mendudukkan tubuhnya di sofa, matanya menunduk kebawah. Dengan gerakan pelan, Kris membawa mangkuk berisi air es beserta kain di meja depan sofa mendekat pada tubuhnya, mencelupkan kain itu dalam mangkuk, memerasnya sedikit kemudian mulai mengompres luka-luka pada sudut bibirnya sendiri.

"Akh! Appo!" Secara tak sengaja, Kris menekan lukanya terlalu kuat, hingga ia sendiri harus mendesis kesakitan.

"Kau tidak harus melakukan itu sendirian"

Kris tidak menghiraukan perkataan Kyungsoo, bahkan ketika pemuda mungil itu sudah duduk disampingnya. Dengan cepat, tanpa meminta dulu kepada Kris, Kyungsoo mengambil kain itu dari genggamannya, lalu mulai menekan-nekan sudut bibir Kris yang tampak sobek.

"Kenapa kau melakukan ini?"

Kyungsoo tau dia sedang ditatap dengan begitu intens oleh Kris, tapi dia tak mau menatap Kris balik, dia hanya fokus untuk mengobati luka di sudut bibir Kris.

"Aku tanya, kenapa kau mempermainkanku Kyung!"

Teriakan Kris itu sontak membuat Kyungsoo menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyecap kain basah itu ke sudut bibir Kris.

"Aku tidak pernah mempermainkanmu Kris. Bukankah aku sudah bilang berkali-kali padamu, jangan mencintaiku, karena aku tak akan pernah bisa membalasnya"

Setelah mendengar penuturan Kyungsoo yang penuh dengan kepastian itu, Kris membuang wajahnya, menatap ke arah lain, menyembunyikan matanya yang kini terasa panas membakar, mempersiapkan setetes cairan air mata untuk ia tumpahkan.

"Tapi, tak bisakah, tak bisakah kau mencobanya Kyung?" Walau pemuda chinese itu tau kenyataan tentang bagaimana perasaan Kyungsoo terhadapnya, ia tak igin menyerah begitu saja.

"Tak bisakah?" Kris menoleh lagi, mempertemukan kedua matanya dengan kedua bola mata bulat favoritnya.

"Mian, tapi aku benar-benar tak bisa... aku, maafkan aku Kris"

Setetes air mata itu turun menggenani rahang tegas Kris, mata pemuda jangkung itu memburam di tutup embun air mata. Dia menatap Kyungsoo dengan tatapan penuh kecewa yang menyesakkan hati. Membuat hati Kyungsoo mendesir sakit juga, sungguh, ia tak mau menyakiti Kris, namun ia juga tak bisa berpura-pura mencintai pemuda itu, karena itu akan semakin menyakiti Kris dan dirinya sendiri.

"Maafkan aku.." Kyungsoo berkata lirih. Sedetik kemudian, Kyungsoo sudah mendapati tubuhnya berada dalam pelukan Kris, Kyungsoo dapat merasakan bahunya yang masih tertutup seragam terasa basah, Kris memeluk Kyungsoo dengan posesif. Dalam diam, Kris menangis di bahu sempit Kyungsoo.

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu Do Kyungsoo, kau tau betapa sakitnya aku sekarang"

Kris berkata dibalik punggung Kyungsoo, suaranya terdengar serak karena menahan tangis.

"Maafkan aku Kris, maaf.. sekali lagi maafkan aku"

Dan Kyungsoo hanya bisa membalas pelukan pemuda jangkung itu sambil kata 'maaf' tetap terukir di bibirnya.

"Maafkan aku, maafkan aku karena tidak bisa menerimamu, maafkan aku karena aku sudah mencintai Jongin"

Kris mendekap Kyungsoo lebih erat, dia ingin melepas semuanya, dia ingin melepas semua rasa sakitnya selama menunggu Kyungsoo, dia ingin kenyataan yang ia terima sama dengan harapannya atas pemuda mungil itu, namun dia sadar bahwa sejak awal mereka bertemu, Kyungsoo hanya ada disana atas paksaan ayahnya, pemuda mungil itu hanya diperalat ayahnya. Kris ingin memungkiri bahwa sesungguhnya Kyungsoo tak pernah lebih memandangnya dari seorang teman, dia berusaha keras agar Kyungsoo jatuh hati padanya, namun dia tau, dia telah kalah telak dengan sahabat Kyungsoo sendiri. Dia mengakui kekalahannya dengan Kim Jongin.

"Aku-aku sangat membencimu, sangat"

Dan Kris kembali menangis dengan bahu Kyungsoo sebagai sandarannya.

.

.

.

Pagi itu Jongin datang ke sekolah dengan penampilan berantakan, sama berantakannya dengan pikirannya. Berkali-kali pemuda bermarga Kim itu bergerak resah di bangkunya, mata tajamnya tak henti-henti memandang pintu kelas, jantungnya berdebar-debar sambil menatapi satu-persatu teman sekelasnya datang melewati pintu. Hanya ada satu orang yang Jongin tunggu, dia hanya menunggu sahabatnya, pemuda itu menunggu Kyungsoo.

Dia punya segudang pertanyaan yang akan ia tanyakan pada Kyungsoo dan Jongin harus bisa mendesak sahabatnya untuk menjelaskan mengenai semua hal yang sudah Kyungsoo sembunyikan darinya serta alasan mengapa Kyungsoo tidak mau membalas semua pesan dan mengangkat semua panggilannya setelah Kyungsoo dengan kejam mengusirnya kemarin.

Pemuda berkulit tan itu mengusap wajah eksotisnya kasar, kalau dipikir-pikir itu memang salahnya juga, siapa suruh dia dengan seenak dahi memukul pemuda chinese bernama Kris itu dengan membabi-buta, di rumah Kyungsoo lagi. Terang saja itu membuat Kyungsoo murka, belum lagi yang dia pukuli merupakan tunangan Kyungsoo. Ya, setidaknya itu informasi yang Jongin dengar dari penuturan Kris kemarin, dan nampaknya Kyungsoo juga membenarkan pernyataan itu walau Jongin setengah mati tidak ingin percaya.

Walau pun Jongin tau bahwa kelakuannya kemarin sudah sangat keterlaluan, tapi dia punya alasan melakukan itu pada Kris. Alasan pertama adalah karena Jongin merasa Kris itu adalah pria kurang ajar yang seenaknya memasuki rumah sahabatnya, dan dia juga sangat kesal ketika pemuda itu memiliki duplikat kunci rumah Kyungsoo. Alasan kedua adalah karena sejak pertama kali Jongin bertemu Kris, pemuda blonde itu selalu menatap Jongin dengan tatapan meremehkan, tatapan benci dan tak suka, memangnya Jongin salah apa sampai pemuda yang aru pertama kali ia temui itu menatapnya dengan tatapan mengejek. Sedangkan alasan terakhir adalah karena Jongin tau ketika melihat Kris, dia merasa terancam. Ketika ia melihat pemuda itu memiliki duplikat kunci rumah Kyungsoo, ketika Kris berkata bahwa ayah Kyungsoo sendiri lah yang mengirimnya untuk menjaga Kyungsoo, dan ketika Kris berkata bahwa ia dan Kyungsoo sudah bertunangan. Jongin tidak tahu, tapi sesuatu tengah berdesir dengan keras dihatinya ketika ia sadar bahwa Kyungsoo tak seterbuka yang ia pikirkan selama ini, Kyungsoo memiliki banyak rahasia yang tidak ia beritahu pada Jongin. Jongin merasa Kyungsoo sengaja melakukan itu semua.

Jongin sadar bahwa kemarin itu dia kehilangan kendali atas tubuh dan fikirannya. Dia tak menepati janjinya untuk tidak membawa Kyungsoo ke masalah yang ia buat. Sungguh, Jongin menyesal atas kelakuannya kemarin. Tapi apa daya, hatinya tengah mengambil alih seluruh kendali Jongin saat itu, Jongin hanya bergerak mengikuti suatu desiran perih di dadanya, membuatnya dengan brutal menghajar Kris yang berakhir dengan Kyungsoo yang menjauhinya. Jongin tau dia telah membuat kesalahan besar, kemarin itu Kris sengaja memancingnya, itulah mengapa Kris hanya diam saja ketika Jongin memukulinya.

"Kyung—"

Mata elang Jongin membulat ketika sosok yang ia tunggu datang. Dengan cepat, ia bangkit dari kursinya, menghampiri Kyungsoo.

"Kyung?" Jongin bertanya takut-takut

"Kyung?" Jongin kembali mengulangi panggilannya ketika ia mendapati Kyungsoo sama sekali tak merespon, hanya berjalan lurus menuju kursi mereka tanpa menoleh pada Jongin yang sedang mengekorinya. Perlu kalian ketahui bahwa Jongin dan Kyungsoo duduk satu bangku.

"Kyung apa yang kau lakukan?!" Jongin bertanya panik ketika sahabatnya itu duduk di meja orang lain.

Seakan Jongin adalah hantu yang tak dapat dilihat, Kyungsoo sama sekali tak memperdulikan pemuda itu, malah sibuk mengeluarkan buku-buku serta alat tulisnya dari dalam tas kemudian menaruhnya diatas meja barunya.

"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau pindah tempat duduk? Itukan tempat duduk Hyejin!"

Seisi kelas menatap Jongin dengan pandangan risih, pagi-pagi begini, pemuda tan itu malah teriak-teriak. Sedangkan Kyungsoo yang merasa tidak enak dengan yang lainnya akhirnya mengalah.

"Hyejin pindah ke Amerika hari ini, jadi aku pindah ke tempat duduknya" Jelas Kyungsoo dengan nada ogah-ogahan.

"Mwo?! Memang siapa yang mengijinkanmu pindah dari tempat dudukmu Kyung?" Jongin membalas perkataan Kyungsoo dengan nada tidak terima.

Kyungsoo menoleh cepat, hingga matanya bertubrukan langsung dengan pandangan Jongin. "Aku tidak harus meminta izin pada siapapun, ini semua atas kemauanku sendiri. Lagi pula Woobin tak keberatan jika aku pindah tempat duduk disebelahnya, menggantikan Hyejin"

Mata Kyungsoo tertuju pada seorang pemuda yang tengah duduk di sebelahnya, teman sekelas Kyungsoo dan Jongin yang bernama Woobin itu hanya duduk diam sambil mendengarkan lagu yang keluar dari earphone yang dengan manis bertengger ditelinganya, pemuda itu tampak tak terlalu memusingkan pertengkaran Jongin dan Kyungsoo pagi ini.

"Tapi..Tapi bagaimana denganku Kyung? Kau bahkan tidak bertanya padaku dulu?" Jongin tetap berdiri dihadapan sahabat kecilnya itu, walau telinganya dapat mendengar bunyi bel masuk beberapa detik lalu.

"Kembalilah ketempatmu, sebentar lagi saem akan masuk" Kyungsoo tidak menjawab pertanyaan Jongin, malah mengitrupsi pemuda tinggi itu pergi dari hadapannya.

"Shireo! Tidak akan, sebelum kau menjelaskan apa alasanmu pindah tempat duduk!"

Jongin kembali berteriak dan sebentar lagi guru mereka akan masuk ke kelas. Dan Kyungsoo tak mau harinya yang lain menjadi hancur karena Jongin, lagi.

"Kau mau tau alasannya?" Kyungsoo menatap mata Jongin. Dan Jongin balas menatapnya, kemudian menganggukan kepalanya pelan.

"Seharusnya kau sudah tau alasan aku pindah tempat duduk. Mulai sekarang, aku akan menghindar darimu—"

Mulut Jongin menganga, pemuda itu tidak percaya dengan yang ia dengar langsung dari mulut Kyungsoo.

"—Dan lagi pula, aku tidak perlu meminta izin padamu mengenai semua hal yang ingin aku lakukan, Memangnya kau ini siapaku, Kim Jongin?"

Selesai mengatakan itu, Kyungsoo membawa matanya kembali pada buku yang baru saja ia buka, tak menghiraukan Jongin yang kini tengah menatapnya marah. Tanpa sadar, tangan pemuda tan itu telah terkepal di kedua sisi tubuhnya.

"Kyung, apa-apa yang sedang kau bicarakan?—" Jongin bertanya dengan nada bergetar, pemuda itu setengah mati menahan emosinya.

"—Jika kau ingin aku meminta maaf maka aku akan meminta maaf atas kejadian kemarin, jadi kumohon jangan membuat ini semakin rumit, Kyungsoo"

Kyungsoo kembali tidak menghiraukannya, dia hanya menatap ke depan kelas. "Saem sudah datang, jadi sebelum kau ditendang keluar, kembalilah ke tempatmu"

Rahang Jongin mengeras, ia ingin sekali membawa wajah mungil Kyungsoo untuk menatapnya, tangan tan-nya mulai terangkat untuk menyentuh permukaan wajah Kyungsoo, namun sebuah intrupsi suara menghentikannya dengan mutlak.

"Kim Jongin! Kembali ketempatmu sekarang juga atau kau keluar dari kelas dengan nilai F di laporanmu!"

Jongin menggeram, kakinya dengan enggan melangkah kembali pada bangkunya yang hanya berjarak dua bangku dibelakang Kyungsoo. Dengan gerakan kasar Jongin mendudukan tubuhnya, kemudian mengumpat.

"Sialan kau Do Kyungsoo!"

.

.

.

Otak Jongin baru bisa berjalan dengan lancar ketika ia hendak beranjak tidur tengah malam kemarin. Kejadian kemarin sore itu membuatnya benar-benar sakit kepala, sakit kepala yang sesungguhnya, mungkin juga karma karena ia sudah membohongi Kyungsoo. Sebodoh-bodonya Jongin atau Se-urakan apapun pemuda berkulit kecoklatan itu, Jongin sendiri tak pernah mendapati dirinya menjadi sebrutal itu. Selama ini, selama ia hidup, Jongin bukanlah tipe orang yang suka menyelesaikan masalah dengan tinju atau tendangan, jika masih bisa dibicarakan baik-baik, maka pemuda itu akan melakukan pilihan yang kedua. Sungguh, Jongin jadi frustasi sendiri mengingat kejadian itu.

Satu hal penting yang sempat pemuda itu lupakan karena luapan emosi atas kebodohannya sendiri adalah mengenai hal besar yang selama ini Kyungsoo simpan darinya, mengenai tunangan sahabatnya itu, sebuah point penting yang tiba-tiba saja mengetuk kepala bekunya, kenyataan bahwa orang yang Jongin hajar habis-habisan itu adalah tunangan Kyungsoo, dengan jenis kelamin yang sama dengannya. Sebuah point yang membuat Jongin tak bisa tidur dengan memikirkan fakta itu saja, sebuah point yang membuatnya bingung setengah mati. Namun tanpa dia sadari, ada sebuah kehangatan yang tercipta di titik hatinya yang sempat tersesat, sungguh dia sangat bahagia.

Jika pemuda blonde itu benar tunangan Kyungsoo, itu artinya Kyungsoo menyukai laki-laki. Ya, dalam artian bahwa sahabatnya itu tidak tertarik dengan lawan jenisnya, dan itu juga berarti seorang Kim Jongin punya kesempatan, karena Jongin juga laki-laki seperti Kyungsoo.

Tidak! Tidak! Bagaimana seorang sahabat bisa senang ketika mengetahui sahabatnya sudah tumbuh menjadi pemuda dengan orientasi tidak normal. Oh! Ayolah, Jongin! Gunakan akal sehatmu walau itu tinggal sejengkal!.

Jongin merutuk dirinya sendiri, Bagaimana ia bisa berpikiran begitu dangkal padahal jelas-jelas ia tahu bahwa Kyungsoo sedang berada dalam jalur yang salah. Sebagai sahabatnya, seharusnya Jongin membawa kembali Kyungsoo ke jalan yang benar. Ya, cara itu akan sangat mudah sekali dilakukan. Jika saja Jongin ada di jalan yang benar itu, Bagaimana mungkin ia bisa menyelamatkan Kyungsoo dari orientasi seksualnya yang menyimpang sedangkan faktanya Jongin juga sama menyimpangnya dengan Kyungsoo.

Sebuah kenyataan tragis di kehidupan pemuda tan itu, bahwa ia juga sama dengan Kyungsoo, tumbuh sebagai pemuda dengan orientasi seksual tak normal, singkatnya, Jongin itu gay.

Alasan itulah yang membuatnya berusaha setengah mati menutupinya. Dengan berkedok sebagai playboy yang suka ganti-ganti pacar sana-sini, tentu saja semua pacar Jongin itu berjenis kelamin perempuan, bisa gawat kalau dia berpacaran dengan laki-laki. Tapi kalau dipikir-pikir lagi mengenai orientasi seksualnya, Jongin tidak akan 'meng-iyakan' jika dia dianggap sebagai gay tulen, pasalnya dia tak pernah tertarik dengan pemuda atu pria manapun selain...

Selain..

Selain..

Kyungsoo.

Ya, Sahabatnya itulah yang membuat Jongin dengan rela melepas rasa cintanya terhadap dada besar dan paha mulus, membuatnya lebih memilih pada penis menegang dan lubang anus. Tapi tentu Jongin tak bisa bertahan sendiri terus dengan fantasi-fantasi gilanya mengenai Kyungsoo, sedangkan dia tak punya kuasa untuk membuat Kyungsoo menjadi gay seperti dirinya, jika sahabatnya itu normal, atau membuat Kyungsoo menerima Jongin jika sahabatnya itu gay.

Sekelebat bayangan mengenai pemuda blonde yang mengaku dirinya sebagai tunangan Kyungsoo terlintas lagi dipikiran Jongin. Jika Jongin sudah menemukan jawaban atas orientasi Kyungsoo yang menyimpang, itu bagus. Tapi bagaimana ia bisa menggantikan posisi pemuda blasteran itu dihati Kyungsoo. Jongin memang belum terlalu yakin dengan hubungan atau perasaan antara Kris dan Kyungsoo, namun melihat Kyungsoo yang begitu murka ketika mengetahui apa yang telah Jongin lakukan pada Kris, Jongin tau ini tak akan mudah untuk ia lalui. Sebuah penyesalan kembali terlukis dihatinya, jika saja ia lebih berani jujur pada perasaannya sendiri kepada Kyungsoo tanpa harus memandang status sahabat yang menurut Jongin mulai memuakan ini, jika saja ia lebih berani membuka hatinya kepada Kyungsoo tanpa harus memperhatikan jenis kelamin mereka atau orientasi-nya yang aneh, jika saja Jongin meneguhkan hatinya dan melangkah lebih depan dibandingkan Kris. Jika saja, hanya jika saja itu terjadi, Jongin pasti bisa mempertahankan Kyungsoo disisinya.

Tapi itu tidak terjadi, dan dia benar-benar sudah terlambat.

Atau mungkin, belum...

.

.

"Lepaskan aku sialan! Kim Jongin bangsat! Aku mau pulang!"

Kyungsoo berteriak-teriak sepanjang lorong sekolah yang mulai sepi semenjak bunyi bel pulang terdengar beberapa menit lalu, beberapa teman sekolahnya yang baru akan pulang menatap Kyungsoo dengan pandangan aneh, beberapa lainnya tampak menahan tawa mereka karena mendapati Kyungsoo meronta-ronta layaknya anak kecil yang tengah dipaksa pergi ke dokter.

Kyungsoo mengumpat dalam hati, dengan pandangan marah dia melihat kearah punggung seseorang yang sekarang tengah menarik pergelangan tangannya dengan kencang, cukup kencang hingga Kyungsoo bisa merasakan sakit dan perih disana, namun tak cukup kuat untuk mematahkan pergelangan mungilnya.

"Kubilang lepaskan berengsek!" Kyungsoo berontak lagi, tubuh mungilnya berjingkat-jingkat sambil terus menarik tangannya yang masih ada dalam genggaman yang tak lain dan tak bukan adalah Kim Jongin.

"Wow! Wow! Kurasa ini rekor pertamamu dalam mengumpat Kyung, kau belajar dari mana?"

Jongin menolehkan sedikit kepalanya ke belakang, kearah Kyungsoo yang terus memberontak dalam genggamannya. Namun tampaknya Jongin tak terusik sama sekali dengan usaha Kyungsoo untuk melepaskan diri darinya, Jongin terlampau tau bagaimana kekuatan pemuda mungil itu.

"Berhenti bergerak atau tanganmu akan semakin sakit" Jongin mengintrupsi lagi, dia berhenti menoleh ke belakang, namun dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan mungil Kyungsoo, pemuda tan itu terus menarik Kyungsoo.

"Sebenarnya kita mau kemana?! Ayolah Jong, aku mau pulang!" Kyungsoo masih berteriak-teriak.

"Kau akan segera tau, jadi diamlah"

"Bagimana aku bisa tinggal diam jika kau tanpa alasan yang jelas menarikku seperti ini!"

Jongin menghentikan langkahnya, lalu berbalik lagi kebelakang dengan gerakan cepat, tanpa melepas genggamannya pada Kyungsoo. Perlahan, langkah pemuda tinggi itu mendekat pada si pemuda mungil, sedikit demi sedikit membunuh jarak diantara mereka berdua. Jongin menghentikan langkahnya ketika ia dapat dengan jelas merasakan kehangatan napas Kyungsoo di sekitar kulit wajahnya.

"Aku punya alasan yang sangat jelas untuk menarikmu seperti ini, Kyung—"

Jongin menatap mata selebar pendulum milik Kyungsoo dengan intens, membuat mata sahabatnya itu sesekali berkedip takut.

"—Kau harus menjelaskan padaku tentang semua rahasia yang telah kau sembunyikan dariku selama ini—"

Kyungsoo memotong kalimat Jongin cepat. "Tapi apa hakmu! Kenapa kau harus tahu raha—"

Dan Jongin menaikan nada bicaranya, ketika lagi-lagi Kyungsoo menyinggung haknya atas hubungan mereka sebagai sahabat yang kian memburuk. "Aku tidak perduli jika aku hanya sahabatmu, atau sekarang kau mau menganggapku sebagai pecundang, itu terserah padamu saja, aku juga tidak perduli dengan hubungan kita lagi sekarang, tapi jangan coba-coba menghentikanku untuk mendapatkan penjelasan darimu untuk semua ini, Kyung—" pemuda itu memberi jeda sedikit dalam kalimatnya, mendapati mata Kyungsoo yang tengah menatapnya, membuat sesuatu dalam hati Jongin berdesir-desir, terasa begitu hangat.

"—Aku juga berhak marah sepertimu Kyung, aku merasa kau telah menipuku, kau telah berbohong padaku. Itu sebabnya, kau harus memberiku penjelasan, setidaknya mengenai pemuda bernama Kris itu"

Kyungsoo melemah, tidak ada pemberontakan lagi setelah Jongin menyelesaikan kalimatnya, dia membiarkan pemuda itu menariknya begitu saja. Kyungsoo tau, dalam hal ini dia juga bersalah, banyak hal yang telah ia sembunyikan dari sahabatnya itu. Jika ia membalikan keadaan, dimana dia yang berada di pihak Jongin, Kyungsoo juga akan merasakan perasaan kecewa sama seperti yang sedang Jongin rasakan sekarang, jadi kali ini Kyungsoo memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Jongin. Tanpa Jongin sadari, Kyungsoo tengah mengamati tangannya yang masih digenggam oleh Jongin, pemuda mungil itu tersenyum dalam hati ketika melihat lengannya yang begitu kecil di genggaman tangan Jongin yang lebar, serta kulitnya yang seputih susu begitu kontras dengan kulit Jongin yang kecoklatan, sebuah perbedaan yang terlihat saling melengkapi.

Kyungsoo mengalihkan pandangan matanya ketika matanya menangkap sebuah anak tangga di depan mereka, dan saat itu juga Kyungsoo tau dia akan dibawa kemana oleh Jongin.

Ke atap sekolah, Dengan salju di awal musim dingin.

Kyungsoo melangkahkan kakinya perlahan menaiki tangga, kali ini dia tak mau protes. Namun ketika tangan Jongin yang tidak menggenggam tangannya membuka pintu yang menghubungkan tangga itu dengan atap sekolah, angin musim dingin membawa serta beku dan butiran salju menyentuh wajah dan tubuh Kyungsoo yang walaupun sudah tertutup mantel masih terasa begitu dingin.

"Tidak bisakah kita berbicara ditempat lain Jong? Kita bisa mati kedinginan disini!" Kyungsoo berkata denga sedikit berteriak karena desiran angin tampak cukup kuat untuk menutupi suaranya.

Dan alis Kyungsoo bertaut tak suka ketika Jongin tidak mengindahkan perkataannya,malah membawa Kyungsoo ke tengah-tengah atap sekolah.

"Kau tunggu disini"

Tiba-tiba Jongin melepas genggamannya pada tangan Kyungsoo, kemudian berbaik lagi menuju pintu, dari saku jaket yang Jongin kenakan, ia mengeluarkan sebuah kunci lalu mengunci pintu tersebut. Membuat Kyungsoo membelalakan matanya kaget.

"Kau gila!? Kenapa menguncinya?!"

Jongin melangkah mendekati Kyungsoo dengan tatapan yang tak bisa Kyungsoo jelaskan. Namun sedetik kemudian, Kyungsoo merasa bulu romanya meremang, dia jelas pernah melihat tatapan milik Jongin itu sebelumnya, tatapan yang ia dapatkan ketika mereka bertemu dibawah pohon ek.

"Cepat jelaskan padaku" Jongin menghentikan langkahnya, menyisakan kira-kira tiga jengkal jarak dari tubuhnya dan Kyungsoo.

"Kau ingin aku mulai dari mana?" Kyungsoo bertanya balik

"Jadi benar kau punya banyak rahasia?" Jongin tersenyum miris. "Sebanyak itukah hingga kau tidak tau harus mulai darimana?" Lanjutnya.

Napas Kyungsoo tercekat, kini Jongin tengah memandangnya dengan mata yang diliputi embun kekecewaan membuat pemuda mungil itu membalas tatapan itu sendu.

"Aku tidak perduli dengan rahasiamu yang lain, aku hanya ingin kau menjelaskan tentang pemuda bernama Kris itu padaku" pinta Jongin.

Kyungsoo menarik napas pelan, lalu menghembuskannya keudara, menimbulkan asap putih keluar dari mulutnya, karena sisa napas Kyungsoo yang hangat bertubrukan dengan udara beku diluar.

"Dia tunanganku, dan itu benar—"

Kyungsoo menunggu reaksi Jongin, namun pemuda itu tak merubah ekspresi atau gerak tubuhnya sedikitpun. Artinya penjelasan Kyungsoo tentu belum cukup untuknya.

"—Setidaknya itulah pengakuannya, ini semua karena ayah, dia menjodohkanku dengan Kris ketika ia tau bahwa Kris adalah seorang gay dan ayah berambisi untuk menguasai perusahaan milik ayah Kris—"

Jongin masih pada ekspresi yang sama, namun Kyungsoo yakin jika pemuda tinggi itu tengah menatapnya lebih intens dari yang tadi.

"—Jadi ayah melakukan apapun untuk mewujudkan ambisinya, dialah yang memberikan kunci duplikat rumah kami pada Kris, aku benar-benar tak tau jika dia akan berkunjung besok, biasanya dia akan menelpon du—"

"Kau menyukainya?" Jongin memotong kalimat Kyungsoo dengan pertanyaan yang membuat Kyungsoo bingung harus menjawab apa.

"Eh? Apa maksudmu?"

"Kutanya padamu, apa kau menyukainya?"

Kyungsoo terdiam, sejujurnya ia ingin menjawab bahwa ia tak memiliki perasaan apapun pada Kris, namun jika ia berkata begitu maka itu artinya akan ada jalan baru lagi baginya untuk berlindung kembali di pelukan Jongin dengan kedok persahabatan.

"Apa kau menyukainya? Apa sekarang kau adalah seorang gay, Kyung?"

Dada Kyungsoo tertohok, pertanyaan yang barusan dilontarkan Jongin itulah yang Kyungsoo hindari dari awal. Pemuda mungil itu menatap mata Jongin lekat, mencari sebuah ketidaknyamanan dari mata elang Jongin ketika bertanya padanya mengenai orientasi seksualnya, ia takut Jongin akan menjadi jijik dengannya, tapi semakin lama Kyungsoo memandang mata itu, dia tak jua menemukan yang ia cari, Kyungsoo malah mendapati dirinya terpesona pada sepasang mata milik Jongin, lagi.

"Aku tidak tahu, tapi.. ya, kau bisa melihatnya sekarang. Aku sudah menyimpang Jong, aku seorang gay" Kyungsoo menjawab dengan apa-adanya, setidaknya ia sudah mengatakan kebenaran mengenai dirinya kepada Jongin, dan itu membuat rongga didadanya melebar, terasa begitu lega.

"Maaf baru memberi tahumu mengenai kondisiku Jong, aku juga tidak tau kapan itu terjadi, aku tak ingin langsung memberitahumu karena aku takut kau akan menatapku dengan padangan jijik" Kyungsoo menunduk, mnyembunyikan wajahnya dalam-dalam, dia tak sanggup melihat reaksi Jongin atas pengakuannya barusan. Dia sudah sangat pasrah bila nantinya Jongin akan merasa jijik karena pernah memiliki sahabat gay sepertinya.

Kyungsoo tersentak ketika dagunya merasakan sebuah sensasi dingin yang berasal dari sebuah tangan yang tengah menuntun wajahnya untuk mendengak. Mata Kyungsoo membulat sempurna ketika ia mendapati Jongin tengah berdiri begitu dekat dengannya, dengan tangan pemuda tan itu yang masih menempel pada dagunya.

"Aku tak pernah mempermasalahkan itu Kyung, jadi sekarang jawab aku, apa kau menyukai pemuda bernama Kris itu?"

Kyungsoo memang pernah mendengar suara lirih milik Kris yang mampu membuat hatinya menghangat, namun suara lirih milik Jongin yang baru ia dengar terasa lebih menyenangkan, serasa indra pendengaran pemuda mungil itu tengah mendengar lagu terindah sepanjang masa.

Kyungsoo kembali memberanikan diri untuk menatap Jongin. Sedangkan pemuda tinggi itu tengah menatapnya dengan lembut, membuat Kyungsoo merasa dia akan meleleh sekarang juga.

"Aku.. aku tidak menyukainya, aku sama sekali tidak menyukainya" Jujur Kyungsoo

Sebuah senyum tulus terukir di wajah Jongin. "Terimakasih karena sudah mau berkata jujur padaku Kyung-" Jongin terkekeh kecil ketika Kyungsoo menatapnya dengan raut wajah kebingungan.

"Kali ini biarkan aku yang memberitahu sebuah rahasia padamu" Jongin melangkah maju sekali lagi, hingga pemuda itu dpat melihat rona merah di pipi chubby Kyungsoo dengan jelas karena efek kedinginan.

"Ini tentang kita yang bertemu di bawah pohon ek kemarin Kyung—"

Kyungsoo memiringkan sedikit kepalanya, Jongin yang melihatnya menangkap bahwa Kyungsoo tengah bertingkah imut, namun sebenarnya tidak, pemuda mungil itu hanya bingung dengan arah pembicaraan Jongin.

"-Itu bukan sebuah kebetulan Kyung, aku mengikutimu" Sebuah senyum jahil muncul di wajah Jongin, ketika ia melihat Kyungsoo membulatkan mata bulatnya dalam mode maksimal, membuat pemuda mungil itu tampak seperti burung hantu sungguhan.

"Apa? Apa yang sedang kau bicarakan?"

"Kubilang, aku mengikutimu—" Jongin mengulang kalimatnya. "—Aku tau semuanya Kyung, aku tau kau bersembunyi ketika aku menungguimu di kelas, aku melihatmu"

Kyungsoo merasa tubuhnya memanas, ia begitu malu.

"Tadinya aku memang berniat mengajak Krystal pergi, tapi ketika melihatmu, aku langsung membatalkan niatku dan meninggalkannya, kemudian aku mengikutimu tanpa kau ketahui"

"Tapi kenapa? Kenapa kau meninggalkan Krystal demi aku?" Kyungsoo bertanya takut-takut.

"Emm.. kenapa ya?" Jongin memasang ekspresi lucunya, seolah pemuda itu tengah berpikir keras. Mengundang Kyungsoo yang cemberut tak suka padanya karena Jongin malah menggoda pemuda mungil itu.

"Mungkin karena Krystal itu masuk dalam daftar wanita brengsek dan juga mungkin karena—" Jongin menggantung kalimatnya, melihat ke arah Kyungsoo yang menungguinya menyelesaikan kalimatnya.

"—Mungkin juga karena kau lebih berarti untukku, Kyung" lanjut Jongin

"Mungkin?" Kyungsoo mengoreksi kalimat Jongin yang sebenarnya sudah membuat dentuman jantungnya berpacu tak menentu.

Jongin terkekeh kecil. "Aku salah, tidak ada kata mungkin, kau memang berarti untukku Kyung, sangat"

Kyungsoo tersenyum mendengar kalimat Jongin barusan.

"Dan juga karena aku menyukaimu—"

Mata Kyungsoo berkedip, dia begitu kaget dengan sepenggal kalimat lagi milik Jongin.

"Apa maksudmu, Jong?" Kyungsoo merasa sesuatu tengah menyumbat kerongkongannya, membuatnya susah bicara.

"Aku menyukaimu Kyungsoo, aku mencintaimu Do Kyungsoo"

Kyungsoo ingin menangis, kini Jongin tengah menatapnya dengan pandangan ketulusan yang membuat Kyungsoo kaku, pemuda itu dengan gerakan perlahan mendekatkan keningnya dengan kening Kyungsoo hingga kening keduanya menyatu.

"Kau tahu Kyung, aku juga punya banyak rahasia sama sepertimu—"

Kyungsoo terdiam, dia masih terlalu kaget untuk menyadari apa yang tengah terjadi, dan aroma tubuh Jongin yang menguar dari tubuh pemuda tinggi itu semakin menghilangkan akal sehat Kyungsoo.

"—Aku juga seorang gay"

Sepenggal kalimat itu membawa Kyungsoo kembali pada kenyataan, dia menjauhkan keningnya dengan kening Jongin.

"MWO?! Jongin jangan bercanda!"

"Aku tidak bercanda, sayang"

Pipi tembam Kyungsoo kembali merona mendengar panggilan sayang dari Jongin, mungkin karena terlalu senang dengan panggilan baru Jongin untuknya, Kyungsoo belum sadar bahwa ada sepasang tangan kekar yang tengah memeluk pinggangnya, dan ketika ia sadar, dia menemukan Jongin yang tengah menatapnya intens tanpa jarak. Kyungsoo bahkan bisa mendengar detak jantung Jongin dengan jelas dari jarak sedekat ini.

"Maafkan aku.. maafkan aku..maafkan aku Kyungsoo"

Bagaikan sedang merapal mantra, Jongin terus menerus mengucapkan kalimat itu, membuat kening Kyungsoo berkerut bingung.

"Hei, kau kenapa Jong?"

Kyungsoo memberanikan diri menankup wajah Jongin dengan kedua tangannya yang mungil, mengehentikan rapalan mantra Jongin tentang permintaan maaf. Mata pemuda tinggi itu perlahan menutup, menyesapi sentuhan tangan Kyungsoo di area wajahnya, satu tangan Jongin terangkat, membawa satu tangan Kyungsoo yang tengah mengkup wajahnya mendekat ke arah mulut Jongin lalu dengan perlahan pemuda tan itu mengecup telapak tangan Kyungsoo kemudian beralih pada punggung tangannya.

"Jong-jongin.."

Jongin tidak menghiraukan panggilan Kyungsoo padanya, pemuda itu kemudian melepaskan tangannya pada tangan Kyungsoo yang tadi ia kecup, menaruhnya kembali pada permukaan wajahnya, ketika Jongin membuka matanya, dia mendapati Kyungsoo dengan wajah semerah kepiting rebus dan setitik air mata yang menggenang di sudut-sudut mata bulatnya.

Jongin kembali menempelkan keningnya dengan milik Kyungsoo. "Maafkan aku karena aku terlalu takut untuk jujur padamu Kyung, maafkan aku karena aku terlambat untuk menyadari perasaanku, maafkan aku yang terlalu bodoh dan tidak peka terhadapmu Kyung—"

Kini giliran Kyungsoo yang memejamkan mata, pemuda mungil itu tersenyum kecil.

"—Maafkan aku jika selama ini aku selalu membuatmu sedih, maafkan aku jika selama ini aku membuatmu menangis—"

Kyungsoo membuka matanya, menjauhkan keningnya dari Jongin namun dengan tangan yang tetap menangkup wajah pemuda tan itu dia berkata. "Tidak, kau tidak harus meminta maaf padaku Jong, mengetahui perasaanmu itu sudah lebih cukup buatku"

"Aku mencintaimu Do Kyungsoo, sungguh.."

Wajah Jongin mendekat, Kyungsoo menutup matanya ketika bibir tebal milik Jongin menngecup kedua kelopak matanya secara bergantian, mengirimkannya sinyal-sinyal kehangatan yang begitu membahagiakan. Jongin menjauhkan wajahnya sedikit usai menciumi kedua kelopak mata Kyungsoo.

"Maafkan aku karena telah membuat kedua matamu terus mengeluarkan air mata, dan sekarang kedua matamu itu hanya boleh melihat padaku saja"

Jongin kembali mendekatkan wajahnya, kini bibir tebalnya mendarat pada permukaan hidung Kyungsoo yang mungil, kemudian mengecupnya.

"Hidung ini, hanya boleh menciumku saja.."

Kemudian dia beralih pada kedua pipi Kyungsoo, menciumi secara bergantian. "Kedua pipi ini, hanya boleh aku saja yang menciumnya"

Jongin kemudian naik, hingga bibirnya berhadapan dengan dahi Kyungsoo, mencium kening itu dalam-dalam. "Kening ini, hanya aku saja yang boleh mengecupnya"

Jongin kembali menjauhkan wajahnya, sedangkan Kyungsoo tengah menatapnya dengan wajah secerah mentari. Jongin terkekeh lagi.

"Kau begitu menyukai ciumanku?" Jongin bertanya jahil

Namun dengan pandangan malu-malu, Kyungsoo mengangguk pelan.

Jongin membawa salah satu tangannya menuju bibir heartlips Kyungsoo, mengusapnya pelan, membuat sang empunya memejamkan mata.

"Dan bibir ini—"

Jongin mendekat, tanpa menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu perlahan menyesap permukaan bibir Kyungsoo, awalnya hanya kecupan singkat, namun lama kelamaan bibir Jongin mulai melumat bibir atas dan bawah Kyungsoo secara bergantian.

"Hmm.. Jong-hhh~"

Dan Kyungsoo mendapati dirinya larut dalam ciuman pertamanya dengan Jongin yang begitu memabukkan, pemuda mungil itu telah membawa tangannya menggantung pada leher Jongin, dengan gerakan perlahan Kyungsoo menggerakan kepalanya berlawanan arah dengan gerakan Jongin, menekan-nekan bibir Jongin dengan bibirnya, menyesap rasa manis dan maskulin sekaligus yang dimiliki Jongin.

"Haahh~"

Kyungsoo lebih dulu melepaskan tautan mereka, dadanya terasa sesak karena ciuman Jongin terasa begitu dalam, hingga ia tidak punya ruang untuk sekedar menarik napas. Jongin kembali menempelkan kening mereka, nampaknya pemuda itu sangat senang dengan kebiasaan yang satu ini.

"Bagaimana, kau menyukainya?" Jongin bertanya, sementara tangannya kini telah bertaut pada pinggang Kyungsoo yang sempit, membawa pemuda mungil itu lebih dekat padanya.

Kyungsoo hanya mengangguk malu-malu.

"Kau mau lagi?" Jongin hendak kembali mempertemukan bibir mereka, namun tangan Kyungsoo mencegah tubuhnya mendekat.

"Tapi disini dingin Jongin" rajuk Kyungsoo

"Oh, kasihan sekali Kyungsoo mungilku ini-" Jongin mengusak rambut Kyungsoo sayang

"—Kajja! Kita pergi" Jongin menggandeng tangan Kyungsoo, mengajaknya beranjak dari atap sekolah, namun langkahnya terhenti ketika Kyungsoo hanya diam saja mengikutinya. Jongin menoleh dengan pandangan bingung.

"Ada apa?" Tanyanya

"Tidak, aku hanya ingin bertanya. Jadi Jongin, hubungan kita sekarang apa?" Tanya Kyungsoo.

Jongin dapat merasakan tangan Kyungsoo yang ia genggam menguat, Kyungsoo sedang gugup rupanya. Jongin melepaskan tautan tangannya pada Kyungsoo, berdiri kembali dihadapan pemuda mungil itu lalu membawa Kyungsoo ke dalam pelukannya.

"Kau masih bertanya tentang hubungan kita sekarang? Yang benar saja Kyung" Jongin tertawa kecil, tangan lebarnya sesekali mengusap punggung sempit Kyungsoo, menenangkannya.

"Tentu saja kita sepasang kekasih, jika kau mau menerimaku"

Sontak Kyungsoo menjauhkan tubuhnya dari Jongin. "Tentu aku menerimamu!" Kyungsoo berkata lantang.

"Oh, benarkah? Tapi aku belum mendengar pengakuan cintamu" Jongin kembali menggoda Kyungsoo, dia tahu kalo Kyungsoo terlalu malu untuk mengaku padanya.

"Aku, aku mencintaimu Jongin" Kyungsoo berkata dengan nada pelan, nyaris berbisik, namun itu sudah cukup bagi Jongin, karena dia tau Kyungsoo memiliki perasaan yang sama dengannya.

"Nado, aku juga mencintaimu Do Kyungsoo"

Jongin kembali membawa tubuh mungil itu dalam pelukannya, menghalau semua rasa dingin yang datang dari angin musim dingin karena kenyataannya mereka masih berada di atap sekolah. Dalam diam, Kyungsoo menangis, dengan bulir air mata bahagia yang hangat di pundak orang yang begitu ia cintai. Kim Jongin.

"Aku mencintaimu Kyungsoo" Jongin berbisik lagi tepat di telinga Kyungsoo

Mendengar itu sekali lagi, membuat Kyungsoo semakin menyembunyikan wajahnya di dada bisang Jongin, meminta agar pemuda yang ia cintai itu semakin memberinya kehangatan.

"Jong.." Panggil Kyungsoo

"Ada apa, sayang?" Jongin membalas panggilan Kyungsoo dengan sayang, membuat pemuda mungil itu merasa semakin nyaman, debaran jantungnya begitu nyaman dan hangat, seakan dinginnya hawa musim dingin dan salju yang mulai jatuh tak berdampak apapun pada tubuh mungilnya selama Jongin ada disini untuk memeluknya serta terus mengucapkan mantra cinta hanya padanya.

"Tetaplah seperti ini Jong, tetaplah mencintaiku saja"

Dan Kyungsoo mendengak, menghadiahi bibir tebal Jongin dengan kecupan manis ditengah angin musim dingin yang menari diantara mereka.

.

.

.

TBC

-JUST FRIEND Chap.5-

Akhirnya! Akhirnya! Akhirnya! Setelah hiatus hampir 1 minggu, chap.5 akhirnya update. Saya mohon maaf sekali lagi untuk para readers, karena keterlambatan updatenya. Rasanya kepala saya mau pecah karena menghadapi tugas-tugas di sekolah yang tidak ada habisnya.

Sesuai saran dan kritik readers saya berusaha semaksimal mungkin memperpanjang cerita dan menjelaskan beberapa misteri dari chapter-chapter sebelumnya hingga jadi lebih kompleks. Maafkan saya jika kerja saya belum maksimal.

Chapter selanjutnya mungkin akan berakhir sebagai Epilog, atau jika otak saya jadi agak oleng, akan ditambah dua chapter lagi dengan satu epilog. Jadi, tetap tunggu kisah manis pasangan terseksi sepanjang masa ini Yorobun ^^

Akhir kata, Review for chap.5 please

Kamsahamnieda ^^