Naruto menatap jam tangannya dengan pandangan kesal. Jarum Jam sudah menunjuk angka 9 dan itu artinya dia sudah sangat terlambat untuk berangkat ke tempat magang barunya.

Sial. Dasar Inu sialan, hardik Naruto dalam hati. Sudah hampir satu jam setengah pemuda tan itu berdiri di halte bus dekat rumahnya menunggu sang sahabat tercinta datang menjemput. Tetapi yang ditunggu malah sama sekali belum terlihat batang hidungnya hingga saat ini. Padahal Kiba sendiri yang memperingati Naruto agar tidak datang terlambat. Fuck! Dan Sekarang siapa yang datang terlambat?!.

Naruto menyenderkan kepalanya kepalang halte kemudian mengambil seputung rokok dari dalam saku dan menyalakannya. Menunggu seperti ini membuatnya cukup bosan. Ditambah sekarang mereka benar-benar sudah terlambat meski nanti berkendara super cepat sekalipun.

Asap rokok perlahan menghembus dari mulutnya, membuat pikiran sang blonde menjadi lebih tenang dan kalem. Efek nikotin bekerja lebih cepat, ehh. Setidaknya itu yang dirasakannya sekarang. Iris shapire nampak kosong, mendongak menatap kelangit.

Sepintas bayangan pemuda bersurai raven itu berkelebatan di otaknya. Naruto menyesap rokoknya dalam dan menghembuskan asapnya cepat, secepat yang ia inginkan untuk menghempaskan bayangan Sasuke dari otaknya. Sayangnya.. Itu tak bekerja.

Ini sudah hari ke 2 sejak pemuda bermarga Uchiha itu tak kembali kerumahnya entah kenapa. Ya terhitung sejak kejadian pada sore itu. Kejadian dimana mereka berdua saling beradu. Kejadian yangmana sukses membuat Naruto menjerit sunyi menerima reaksi frustasi yang didapatinya dari Sasuke. Kejadian yang tak akan pernah bisa dihapus dari memori sang blonde sampai kapan pun.

Oh, yeah! Jika Naruto boleh jujur, sebenarnya kejadian tersebut tak ingin ia lupakan begitu saja. Hal itu terlalu berharga untuk diakhir seperti ini. Dan terlalu nikmat untuk dikubur seorang diri .

Melakukan hal tak senonoh pada seorang artis terkenal, harusnya saat ini Naruto sudah dihabisi oleh anikinya dan lebih parahnya malah jadi bual-bualan nitizen atau juga berurusan dengan pihak berwajib. Membayangkannya saja Naruto merasa mual, but... itu semua hanya dalam benaknya saja.

Pada kenyataannya tidak ada satupun yang terjadi setelah dirinya menggagahi bibir sensual sang Uchihta. Tak ada telpon dari anikinya atau dari pihak manapun. Memang terasa aneh dan mengganjal. Terlebih saat Naruto mendapati kenyataan bahwa pemuda raven itu tak kembali ke rumahnya sejak sore itu.

Naruto tak tahu apa sebab si pangeran angkuh itu menghilang, tetapi yang pasti perasaan bersalah sedikit menghantui Naruto. Apakah dirinya terlalu kasar saat itu hingga membuat Sasuke marah?. Berbagai pertanyaan-pertanyaan semacam itu mengalir disetiap jutaan sel otaknya. Membuat Naruto sulit tidur, tak konsentrasi kuliah bahkan ia menghindari pertemuan dengan sang gadis Lavender-Hinata- secara tidak langsung. Sialnya, tak bisa melihat rupa sang raven barang sehari saja mampu membuat Naruto tak tenang. Keanehan semacam itu terjadi tanpa disadarinya. Well Aku benar-benar sedang sakit rupanya, pikir nya getir.

CIIITTTT...!

Dencitan suara ban mobil dengan aspal terdengar sedikit menyakiti telinga. Sebuah mobil Range Rover silver berhenti tepat dihadapan Naruto. Seorang pemuda berambut spikey coklat keluar dari balik pintunya.

"Naruto!— Gosh! Maafkan aku! Ini semua salah Shika! Salahkan saja dia! Ayo masuklah kita sudah sangat terlambat!", seru pemuda bertato unik itu dengan wajah panik. Ia menunjuk-nunjuk dengan bengis seorang pemuda lainnya yang tengah duduk dikursi kemudi dengan tampang malas ciri khasnya.

Dahi Naruto berkedut kesal. "Baka!kau kira ini jam berapa huh! Dasar tak tepat janji", omelnya kemudian segera mendudukkan dirinya sendiri kedalam kursi penumpang di belakang. Dan kemudian mobil pun kembali melaju.

"Maaf. Ini semua salah Shika! Salahkan dia yang tak membangunkan aku!", ujar Kiba membela diri, membuat pemuda berambut nanas disebelahnya buka suara.

"Aku sudah membangunkan mu, puppy. Kaulah yang malah menarik selimut dan memilih tidur kembali",

Naruto medesah kesal mendengar perdebatan duo lopelope(?) Didepannya tersebut. Ia memakai kembali headsetnya dan memilih untuk memutar sebuah lagu.

"Kau yang salah Shika", Kiba menggeleng kuat. "Kau yang membuatku jadi terjaga semalaman dan itu membuatku susah bangun paginya!",

Shikamaru berkata datar. " ! Aku yang salah, puppy! Tapi kau juga harus ingat siapa yang menggoda ku dengan blowjob semalam,right?",

Wajah Kiba memerah padam, kepulan asap imaginer mengepul dari atas kepalanya.

"Baka", tukasnya kasar. "Shut up your mouth, pervert!", menggembungkan pipinya lucu, Kiba memalingkan wajah untuk menutupi rasa malunya. Sementara Shika terkikik penuh kemenangan.

Pemuda tan dikursi belakang cuma bisa geleng kepala melihat kelakuan dua sejoli teman masa SMA nya itu dengan malas. Tak menyangka jika alasan keterlambatannya kali ini adalah karena pemuda puppy tersebut kelelahan sehabis bercinta. Fuck! sekali bukan.

"Apa blowjob Kiba rasanya sangat enak, Shika?", tiba-tiba pertanyaan semacam itu meluncur dari mulut Naruto. Membuat kedua pemuda dihadapannya itu mendelik kaget.

"Kau—Apa?!", ujar Shikamaru berlagak bodoh.

Naruto menggeram rendah. "Kau mendengarnya, rusa! Aku tanya apa blowjob dari seorang laki-laki rasanya enak?! ",

Baik Shikamaru maupun Kiba hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan absurd yang dilontarkan sahabat pirangnya tersebut. Ini sangat jarang bagi seorang Uzumaki Naruto menanyakan hal-hal semacam itu.

Shikamaru mengusap sedikit lelehan keringat di keningnya."Well..", tukasnya pelan. "Secara teknis kau pun tahu rasanya, Naruto. Blowjob tak melihat pada gander, hal itu hanya mengacu pada — Err — selera kurasa", lanjutnya.

"I see...", Naruto terdiam, otaknya berusaha mengingat kembali bagaimana blowjob yang biasa ia terima dari Hinata. Bagaimana bibir berlipstik pink itu melumat habis batang kejantanannya lalu mengulumnya bak permen loli favoritnya. Yeah, begitu Basah dan hangat. Naruto menyukai itu. Tetapi... Saat bersama Sasuke...

Saat bersama pemuda berwajah pendosa itu... Rasanyaa...

BLUSH!

Dan Kali ini wajah Naruto lah yang memerah dengan sempurna.

Kiba yang menyadari perubahan raut Naruto cuma bisa menjerit histeris. "Huaa, kau baik-baik saja Naruto?! Mukamu merah sekali ne!",

.

.

.

.

.

.

Sasuke terdiam diruangannya dengan wajah tertekuk. Ia sudah membaca berbagai majalah, mengupdate seluruh jejaring sosialnya, mengikuti berbagai treatment perawatan dan semua hal-hal yang dapat membuatnya lupa akan satu hal. Naruto. Tetapi semua usahanya itu semua tak menunjukkan hasil apapun.

Ini sudah dua hari dirinya disibukkan syuting ini itu di luar kota. Membuatnya tak bisa berjumpa dengan pemuda blonde itu untuk sementara waktu. Dan entah kenapa batin Sasuke sangat tersiksa karenanya. Kilasan balik kegiatan panasnya bersama Naruto sore itu, seakan sudah menjadi kaset rusak diotaknya karena terus menurus terputar. Rasa kesal sedikit mengusiknya saat mengingat bagaimana Naruto sudah menggagahinya seperti itu, membuatnya menelan habis sperma panas milik pemuda tan tersebut dan memujinya begitu menggairahkan. Hey! Bung! Itu namanya pelecehan bukan?!

Tetapi.., juah dilubuk hatinya entah mengapa Sasuke sangat menikmati sensasi saat dirinya digagahi sedemikian rupa oleh pemuda blonde tersebut . Bagaimana Naruto begitu dominan atas dirinya atau betapa kenikmatan serta kehangatan Naruto begitu menghipnotisnya. Itu semua mampu membuat tubuhnya bergetar seketika.

Sasuke tak tahu mengapa ia masih mengingat peristiwa memalukan tersebut. Bahkan setiap ia terpejam, hanya wajah Narutolah yang terbayang dibenaknya. Entahlah Sasuke tak dapat mengartikan perasaannya saat ini. Apa Sasuke telah jatuh cinta?

Tidak!

Itu tidak benar, dirinya tak mungkin jatuh cinta pada pemuda bodoh seperti Naruto. Dan bahkan kejadian itu hanya berawal dari suatu kecelakaan, bukan karena cinta atau pun rasa suka! Semua itu hanya berlandaskan akan nafsu belaka.

Great! Sekarang barulah Sasuke meruntuki kebodohannya.

Baru pagi ini Sasuke tiba di Tokyo dan sederet jadwal pemotretan sudah setia menunggunya. Ini sangat melelahkan ditambah jika lawan modelnya adalah mantan pacar mu sendiri.

Menjalani satu pemotretan bersama pemuda penebar pesona seperti Neji pasti akan melelahkan, Sasuke tahu itu. Belum lagi berbagai steatment yang mungkin akan muncul dimedia karenanya.

Sasuke jadi heran bagaimana bisa dulu ia berpacaran dengan pemuda penuh sensasi seperti Neji.

Sasori sudah memanggilnya untuk segera bersiap di lokasi. Sasuke pun mulai bersiap berdiri, mengecek lagi penampilannya untuk yang terakhir kemudian bersiap untuk berjalan keluar. Iris obsidiannya menemukan pemuda berambut panjang a.k.a Neji tengah dirias oleh para penata artistik. Ia melambai penuh semangat saat mendapati Sasuke disana.

"Hai, babe. Do you miss me, huh?", mengecup punggung tangan Sasuke lembut, Neji bahkan tak risih jika banyak mata melihat tingkahnya.

"Tak seperti yang kau pikir, Neji", menarik tangannya lembut, Sasuke berusaha tersenyum ramah didepannya meski tak suka.

Melihat hal tersebut Sasori segera membawa Sasuke ke stage yang lain. Menjauhkannya sebisa mungkin dari gangguan lalat pengganggu seperti Neji.

"Ayo Sasuke! Waktunya take pertama",

Sasuke berjalan pelan mengikuti arahan sang manager. Ia pun mulai melakukan pengambilan gambarnya tanpa peduli pemuda iklan shampoo itu masih menatapnya dengan pandangan kagum. Menguliti setiap jengkal tubuhnya yang berbalut kemeja putih tipis sepaha tanpa bawahan lagi itu dengan tatapan penuh nafsu dan hasrat.

Sasuke bergerak sesuai arahan sang fotografer. Membuat image-image seksi yang mendukung tema pemotretan tersebut. Rasanya lehernya sudah sangat kaku. Biasanya Sasuke dapat mengalir begitu saja sesuai dengan tema tanpa harus diarahkan. Hanya saja kehadiran Neji sebagai lawan modelnya, membuat mood Sasuke menghilang, but work must go on, right!.

"Sumimasen! Kami datang terlambat", suara gaduh dari arah pintu masuk sedikit membuat Sasuke teralihkan perhatiannya dari lensa kamera. Nampaknya salah seorang kru datang terlambat, pemuda bertato unik dipipinya dan satu lagi.. Seorang pemuda berambut pirang berkulit tan dengan senyum yang mempesona.

EH?!

Iris sahpire pemuda itu menatap Sasuke dengan begitu terkejut, sama halnya dengan Sasuke yang menyadari keberadaan pemuda tersebut.

Naruto ada disini! Pemuda bersurai pirang itu benar-benar Uzumaki Naruto!

Sasuke berusaha tak terlihat gugup didepannya. Ia tersenyum tipis saat pemuda itu membungkuk memberi salam. Dadanya bergemur.. Dan tubuh Sasuke memanas dengan cepat. Semburat tipis terlukis dikedua pipi pucatnya. Oh. God! Apa lagi ini?!

Jalannya pemotretan untuk sementara berhenti. Yamada-san selaku fotografer utama terlihat tengah berbincang dengan Naruto dan temannya di belakang stage. Sasuke meremas pelan bantalan sutra putih yang diduduki dengan sedikit gugup. Ia masih terlalu terkejut akan kehadiran Naruto disini. Berbagai pertanyaanpun muncul diotaknya, hanya saja ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu semua bukan.

Tak lam Yamada-san kembali tapi kali ini Naruto mengekor dibelakangnya. Dada Sasuke berdegup cepat manakala aroma tubuh pemuda tan itu mulai tercium diindera penciumannya.

"Sasuke, aku akan mengambil satu asisten khusus untuk pemotretan kali ini. Kenalkan dia Uzumaki Naruto-kun. Mulai sekarang dia akan bekerja mengambil gambar dengan ku",

.

.

.

.

.

.

Suara kucuran air terdengar dari arah wastafel toilet. Naruto nampak tengah membasuh wajahnya yang lengket akan keringat disela-sela waktu break. Dinginnya air sedikit bisa mengembalikan kesegarannya barang sesaat. Tubuhnya terasa lelah, lebih-lebih otaknya. Terasa ingin meledak saja.

"Ini sangat hebat bukan!", Kiba yang baru keluar dari bilik toilet berkata dengan penuh semangat. "Kita bisa magang ditempat pemotretan artis sekelas Uchiha Sasuke, wow kita beruntung kawan", tambahnya.

Naruto memutar bola matanya malas dan menjawapi ucapan sahabatnya itu dengan anggukan kecil. Ia masih sedikit shock jika boleh berkata jujur. Sangat-sangat tak menyangka akan bertemu pemuda raven itu disini. Apalagi sekarang Naruto bahkan bekerja untuk mengambil gambarnya. Tentu Ini akan sulit, pikir Naruto lelah.

Naruto mengelap tangannya yang basah dengan sapu tangannya. Ingin rasanya ia merokok barang sebentar, berharap asap nikotin tersebut dapat menjernihkan pikirannya saat ini. Membuatnya rileks barang sejenak. Tetapi ia tahu itu tidaklah mungkin. Ia harus segera kembali ke stage karena pemotretan selanjutnya akan segera berlangsung.

Entah ini kesialan atau justru sebuah keberuntungan. Naruto tidak yakin akan hal tersebut. Dirinya dan Kiba tidak tahu menahu jikalau Sasuke adalah model yang akan ditangani nantinya. Terlebih tema pemotretan kali ini, benar-benar membuat Naruto menggeram frustasi dibuatnya.

Bagaimana tidak, dengan tema dewasa yang sexy, Naruto harus berhadapan dengan Sasuke yang mengenakan wardrobe yang — Err — menggugah selera mungkin(?). Dan entah benar atau tidak. Naruto merasa Sasuke benar-benar tengah mempermainkan iman dan kewarasannya dengan berpose dan mengeluarkan ekspresi pendosa seperti itu. Yeah! Bahkan adegannya tak perlu diulang. Semua lurus dalam satu jalan!

Great! Sekarang wajah sensual Sasuke bahkan bisa membuat Naruto menggila!

"Sasuke-kun sangat menggairahkan bukan", puji Kiba senang. "Dia pasti bersemangat seperti itu karena ada Neji-kun disini, GYAA! Mereka tetap terlihat serasi meski sudah berpisah ne..",

Irish shapire Naruto membulat kaget. "Mereka — apa? Ada hubungan apa Sasuke dengan pemuda iklan shampo itu, Kiba?", tanyanya mendesak.

"Ne.. Sasuke itukan mantan kekasih dari Neji-kun. Apa kau tak tahu?", tukas Kiba heran. "Yatta! Kau kan sibuk kencan dengan wanita-wanita mu itu, berita tentang Sasuke yang seorang Gay tak akan menarik buat mu bukan?!",

.

.

.

.

Sasuke mendesah pelan, iris obsidiannya menatap nanar jauh kedalam sepasang shapire sebiru langit yang entah mengapa menatapnya dengan tatapan yang begitu sulit diartikan.

Suara shutter kamera berbunyi setiap kali ia menggerakkan tubuhnya, begitu kaku dan terasa kikuk didalam dekapan pemuda berambut panjang tersebut.

Sesi kedua adalah pengambilan gambarnya bersama sang personil band—Neji. Dan entah kenapa sehabis break, pemuda blonde itu kembali dengan wajah mendung. Bahkan tak tersenyum sedikit pun saat Sasuke mencoba tersenyum padanya.

Terlebih lagi tatapannya yang tajam dibalik lensa kameranya begitu menusuk Sasuke. Ia bisa merasakan itu. Entah apa arti itu semua yang Sasuke tahu ia begitu merasa tertekan dan tak nyaman. Apalagi Neji selalu berusaha mengambil kesempatan menyentuhnya lebih jauh disetiap sisa pemotretan, membuat Sasuke merasa sangat risih dan tak suka.

"Sasuke! Cobalah lebih fokus! Pandanganmu tak pernah tepat! Mendekatlah ke Neji-kun! Keluarkan ekspresimu!", teriak Yamada-san mengarahkan.

Sasuke mengangguk kecil. Dengan ragu ia pun mengalungkan kedua lengannya ke leher Neji.

"Kita buat mereka puas, babe! Keluarkan ekspresimu ok", Neji berbisik seduktif tepat ditelinga Sasuke.

"Cuma dalam mimpi mu",

Neji menyeringai tipis mendapati penolakan dari sang raven yang justru terdengar manis ditelinganya. Tanpa babibu, tiba-tiba ia menarik tubuh Sasuke lebih mendekat, mendaratkan bibirnya pada leher pucat itu kemudian melumatnya nikmat. Dan suara teriakkan dari Yamada-san terdengar senang akan perbuatan Neji yang memprofokasi Sasuke, menandakan semua orang mendukung perbuatannya.

Onix obsidian itu berkilat marah. "Gkhh — kau..", Sasuke mendesis tajam, berusaha meronta untuk melepaskan dekapan Neji, sayangnya tenaga pria brunette itu terlalu kuat untuk di halaunya.

Naji terkikik pelan. "Diamlah, babe! Mereka sangat suka dengan pose ini bukan? Nikmatilah", tangan putih Neji perlahan mengelus tonjolan pink didada Sasuke. Menekan lalu mencubitnya pelan, membuat Sasuke melenguh tertahan. Neji tahu Sasuke sangat sensitif jika dirangsang dibagian tersebut, menjadi kekasih sang raven selama setahun cukup baginya mengenal pemuda cantik itu luar dalam. Sedikit menyesalkan kejadian lalu yang membuatnya harus kehilangan Sasuke.

Tapi setidaknya ia bisa berusaha untuk mendapatkannya kembali.

Nafas Sasuke terdengar semakin berat mencoba menahan nafsunya yang perlahan bangkit akibat dari sentuhan-sentuhan yang diberikan Neji pada nipple-nya. Sorot matanya mulai sayu, suara shutter terus menerus mengalun sepanjang pose erotisnya bersama Neji. Sedikitnya kewarasan Sasuke masih tersisa di otaknya. Dengan tenaga yang tersisa dia mencoba mengelak dari sentuhan Neji pada tubuhnya namun apa mau dikata tubuhnya mengkhianatinya.

Sial, dasar tubuh pengkhianat, Sasuke meruntuk dalam hati.

Sepasang manik secerah langit itu kini tak lagi tersirat kecerahannya. Naruto menatap setiap gerakkan yang Sasuke buat didepan sana dalam diam, jemari kecoklatannya senantiasa menekan shutter tanpa sedikit pun melewatkan ekspresi yang tertinggal. Sasuke menyadari aura mengerikan yang terpancar dari sang blonde. Ia cuma bisa menelan ludah berat sambil berharap ini semua akan cepat berakhir.

"Yak, cukup!", tepukan dari Yamada-san mengembalikan kesadaran ke 3 orang pemuda yang tengah berada di stage."Bravo! Kerja kalian bagus sekali Sasuke-kun, Neji-kun! Terutama kau Naruto-kun" ujarnya.

Naruto tersenyum tipis saat Yamada-san mengacungkan jempolnya memberikan pujian, ia pun menunduk memberi hormat kemudian meminta ijin untuk istirahat.

Sementara Sasuke yang masih diambang kesadarannya cuma bisa diam saat Sasori menutup tubuhnya dengan mantel tebal kemudian menggiringnya masuk kedalam ruang pribadinya .

"Sudah ku duga Neji akan berbuat aneh-aneh saat pemotretan. Ini benar-benar keterlaluan. Kau tak apa kan, Sasuke", komentar Sasori dengan wajah super jengah.

Sasuke hanya mengangguk dan lebih memilih diam, ia terlalu lelah untuk menjawab. Pikirannya masih dipenuhi oleh tatapan menusuk dari Naruto tadi, hatinya sangat tak enak dan lagi rasa panas ditubuhnya juga belum sepenuhnya hilang. Ia butuh segelas bir dingin setidaknya untuk menyegarkan otaknya.

Sasori mulai merapikan segala barang-barang Sasuke kedalam sebuah koper besar sebelum akhirnya berucap. "Aku tak menyangka bisa bertemu Naruto-kun disini, ini sangat mengagetkan bukan Sasuke? Kulihat dia sangat berbakat dalam memotret, Yamada-san pun mengakui itu",

"Dimana dia?", tanya Sasuke memotong ucapan sang manager

"Mungkin sedang bersiap ke restoran, semua kru akan makan ramen dan karaoke bersama, ada apa?", Sasori mengernyit heran. "Aku sudah bilang kau tak akan datang, kau tak suka tempat seperti itu kan. Setelah ini aku akan langsung mengantar mu pulang. Aku ada janji dengan Dei nanti malam",

"Pesankan satu meja untukku. Aku berubah pikiran",

.

.

.

.

Udara sore mulai menurun seiring dengan terbenamnya sang mentari. Naruto menghisap puntung rokok yang kesekian kalinya dalam diam. Iris shapire nya mendongak menatap langit yang memerah dan kawanan burung-burung yang mulai terbang kembali ketempatnya.

Tubuhnya teramat lelah, rasanya ia ingin sekali segera pulang mandi lalu tidur, sayang sekali para kru lainnya memaksanya untuk ikut berpesta sepulang kerja.

Jujur perasaannya sangat buruk, ia tak ingin ikut jika saja bukan Yamada-san yang meminta. Sedari tadi hatinya berdegup tak karuan, rasanya ingin marah, memukul, menendang, atau apapun yang kiranya bisa mengalihkan emosinya. Setiap kali terpejam didalam bayangnya hanya ada sosok sang raven yang terangsang dalam dekapan pemuda lain. Wajah Sasuke yang bersemu, nafasnya yang terengah, dan bekas merah di lehernya. Holly shit! Itu semua membuat Naruto begitu emosi, melihat Sasuke berada didekapan pria lain; disentuh, dicumbu dan itu sangat memuakkan baginya!

"Naruto-kun", suara lembut yang menyapanya tersebut membuat Naruto mendongak menatap sang pemilik suara.

Seorang gadis berambut hitam panjang dengan senyum merekah di bibir pinknya. Begitu manis dan sangat mempesona.

Naruto menaikkan alisnya kaget. "Hinata — sedang apa kau ada disini?",

"Aku kebetulan lewat sini, tak kusangka akan bertemu dengan mu", Gadis manis itu lalu mengalungkan lengan putihnya keleher Naruto malu-malu. "Aku sangat merindukanmu, Naruto-kun",

Naruto hanya diam saat Hinata memeluknya begitu erat, membiarkan begitu saja gadis manis itu bergelayut manja padanya. Aroma parfum Hinata seketika menyeruak ke indra penciuman Naruto. Pemuda blonde itu mengernyit tak suka, baunya sangat aneh dan menyakiti hidung. benar-benar tak seperti bau Sasuke...

EHH?!

"Naruto-kun!", hentakkan dari Hinata membuyarkan segala lamunan sang blonde.

Naruto yang menyadari dirinya tengah melamun hanya bisa terkekeh pelan sambil mengelus pucuk rambut Hinata, mencoba membuat gadis manis itu tak marah karena sudah diacuhkan.

"Hinata-chan kau ada disini?", Kiba yang baru keluar dari kombini sedikit kaget mendapati sahabatnya itu tengah berbincang dengan gadis yang tak asing baginya itu.

"Ne Kiba-kun. Kebetulan aku ada disekitar sini",

menundukkan kepalanya singkat Hinata tersenyum begitu manis pada pemuda bertato unik tersebut.

"Begitu ya!", sahut Kiba paham kemudian melanjutkan ucapannya "Semua sudah menunggu kita di resto, sebaiknya kita segera pergi! Kau juga ikutlah Hinata-chan",

"Bolehkah? Aku senang sekali! Terimakasih Kiba-kun", ujar Hinata senang.

Naruto hanya memutar bola matanya jengah, saat sahabatnya itu memutuskan sesuatu seenak jidatnya. Ia pun membuang putung rokoknya ke tempat sampah saat lengan Hinata mulai merangkulnya mesra, menyeretnya masuk kedalam sebuah resto bersama Kiba disampingnya.

"Hei, kalian lama sekali! Birnya sudah tiba nih", para kru yang melihat Naruto dan Kiba masuk bersorak penuh semangat. Berbotol-botol minuman berbagai merk tersaji diatas meja. "Ayolah! Kita minum! Wah si blonde membawa gadisnya kemari, cantik sekalii! kau beruntung bocah",

Naruto hanya tersenyum simpul menanggapi godaan para kru itu. Ia merangkul bahu Hinata dan membawanya duduk bergabung dengan yang lain.

Sebotol dua botol arak terlihat menggiurkan dimata Naruto. Yupz, mabuk sepertinya hal yang bagus demi kewarasan otaknya. Padahal Hinata ada disampingnya tapi entah mengapa gadis itu sudah tak terlihat menarik lagi dimatanya. Akhh, sial! Kenapa juga Naruto harus terus memikirkan Sasuke! Sasuke itu seorang pria! Meski berwajah manis dan menggoda Sasuke tak memiliki vagina maupun payudara montok seperti yang Hinata punya! Dan lagi, Naruto bukan seorang Gay! Dia bukan Gay! Naruto masih seorang lelaki jantan straight penyuka wanita, dada montok dan tubuh aduhai. Ia masih suka sensasi jepitan perawan dan hal-hal tabu lainnya yang tak perlu dibeberkan satu persatu. Tapi entah mengapa pesona sang uchiha tersebut tak mampu ia tolak mentah-mentah.

Saat tengah menikmati gelas ke duanya, perhatian Naruto terusik oleh kadiran sosok raven yang baru saja tiba bersama dengan pemuda bersurai merah yang Naruto kenali sebagai kekasih sang aniki dan satu lagi pemuda iklan shampoo yang ingin sekali Naruto pukuli .

"Hei, Sasuke-kun! Aku tak menyangka kau akan datang! Suatu kehormatan", para kru yang mengetahui kedatangan mereka bersorak gembira kemudian mempersilahkan tamu kehormatan mereka untuk duduk.

"Hai, Naruto-kun", Sasori menyapa dengan lembut seperti biasa. "Apa kau sehat? Sudah lama kita tak berjumpa bukan?", tanyanya

Naruto tersenyum simpul kemudian menegak habis gelasnya."Yupz, kau benar Saso-nii chan. Kau terlalu sibuk dengan artismu dan aniki", terdengar sedikit penekanan pada kata artis yang Naruto ucapkan. Ia tersenyum remeh memandang pemuda raven yang tengah menundukkan kepalanya dalam.

"Kau bisa saja", Sasori menuangkan bir kedalam gelas Naruto dengan hati-hati. "Sasuke dan Deii adalah prioritas, right?",ujarnya kemudian sorot matanya tertuju pada wanita disebelah Naruto. "Lalu dia? Lover ehh?",

Naruto terkekeh pelan mendengar pertanyaan Sasori, ia tak menyangka akan mendapati pertanyaan seperti itu saat ini.

"Menurutmu?", ia bertanya balik sambil menatap sepasang iris obsidian yang tengah menatapnya nanar, seakan tengah bertanya pada sang pemilik.

Sasuke mendaratkan gelasnya kemeja dengan suara BrAk yang cukup keras. Ia menggeram pelan, mencengkram gelasnya dengan amarah di pucuk kepalanya.

"Aku — mau ketoilet",

Dan tanpa banyak berkata, ia melenggang pergi meninggalkan tempatnya.

.

.

.

Sasuke meruntuki kebodohannya dalam hati, sesekali tangannya yang terkepal itu menghantam ke dinding tanpa takut terluka. Emosinya begitu meluap dan tak dapat dikendalikan. Tubuhnya panas, dadanya sesak, dan hatinya berkedut nyeri. Masih jelas dibagaimana Naruto menggantungkan ucapannya tadi. Sial. Bagaimana bisa Sasuke tak memperhitungkan jikalau si Dobe itu memiliki seorang kekasih! Jerk! Sekarang Sasuke benar-benar merasa bodoh telah menyetujui untuk ikut kepertemuan yang menyebalkan tersebut .

"Kau tak apa..?", suara baritone Naruto menggema disekeliling ruangan toilet. Tubuh jangkung yang terbalut jaket ponco berwarna orange itu menyender sambil bersila tangan diambang pintu.

"Mau apa kau disini?",Sasuke mendesis pelan dan tajam.

Iris obsidiannya berkilat kesal menatap sosok pemuda tan tersebut yang mulai bergerak masuk mendekatinya.

"Tak ada", Naruto menyahut cepat. "Hanya ingin memeriksa mu, itu saja..",

Sasuke memutar bola matanya malas, ia membuka kran air lalu membasuh wajahnya. Merasa akan sangat bodoh jika dirinya terlibat perdebatan bersama Naruto pada saat seperti ini. Sasuke masih terlalu sibuk menyeka wajahnya dengan air, saat lengan tan berotot itu melingkar di pinggang rampingnya. Membuat Sasuke tersentak dan membalikkan tubuhnya.

"Kau — apa maumu?!",

Iris obsidiannya menatap lurus pada sepasang ocean blue dihadapannya itu. Pelukan di pinggangnya membuat Sasuke tak dapat berbuat banyak. Tubuhnya dipaksa mendekat sejajar pada tubuh Naruto. Membuatnya sedikit merasakan kehangatan yang mulai menjalari setiap inchi tubuhnya. Dan bau maskulin Naruto membuat Sasuke diam tak berdaya.

"Apa hari ini kau bersenang-senang, Sasuke?", tanya Naruto penuh penekanan.

Sasuke meronta pelan. "Apa maksudmu?! Lepaskan aku, dobe!", lengan pucatnya berusaha melepaskan rengkuhan Naruto atas pinggangnya, namun Naruto lebih dulu menyudutkannya sebelum menahan kedua pergelangan tangan pucat Sasuke dengan satu tangannya.

"Kau.. benar-benar bocah nakal ne...", seringai tipis terukir diwajah tampan Naruto, membuat Sasuke yang melihatnya hanya bisa begidik ngeri. Aura dominan Naruto tak bisa terbantahkan olehnya.

Sasuke bergerak gelisah. "Lepas Dobe! Jika Sasori tau kau..."

"Kau apa Suke?", Naruto memotong seenaknya ucapan Sasuke. "Apa yang akan terjadi? Katakan padaku...", jemari tan Naruto menyentuh wajah pucat Sasuke, merabanya lembut sambil menatapnya intens.

Sasuke menelan ludahnya susah payah. Merasa alarm tanda bahaya dalam tubuhnya berbunyi nyaring. Dan Sasuke harus segera mencari pertolongan sebelum...

"Nar—Uhmp—Ngghh — ", jeritan Sasuke teredam oleh lumatan bringas dibibirnya .

Naruto melumat bibir tipis Sasuke begitu dalam dan bernafsu. Mengecupi setiap sudut bibir pucat itu, menjilatnya, menyesapi setiap saliva yang tercampur didalamnya. Sama sekali tak membiarkan Sasuke bahkan untuk bernafas sekalipun.

Sasuke berusaha berontak, kakinya menendang-nendang kesegala arah. Ciuman dari sang blonde seakan menghisap habis seluruh tenanga yang ia punya. Menyedot seluruh kewarasannya dan yang terakhir ia rasakan adalah rasa ngilu diselakangannya saat lutut Naruto menekan titik nikmatnya itu dengan keras untuk menghambat pergerakkannya. Membuat Sasuke melenguh sunyi dengan air mata dipelupuk matanya.

"Dobehh — Ahhhnn — Ngghhh...",

Suara Sasuke tercekat tersengal, asupan oksigennya terhambat karena Naruto sama sekali tak mengizinkannya untuk lepas dari rengkuhan sepihaknya. Tetesan saliva mengalir begitu saja ditengah lumatan panas itu. Hingga sampai akhirnya ciuman itu berakhir dengan jembatan saliva di masing-masing bibir memerah tersebut.

Naruto menatap pantulan ekspresi kesakitan Sasuke dengan tatapan yang sulit diartikan. Wajah pucat pemuda raven tersebut yang memerah, nafasnya yang panas, bibir tipisnya yang basah dan membengkak, lalu.. Rasa yang tertinggal dari ciuman panasnya tadi. Oh, God! Naruto benar-benar sudah mabuk dibuatnya.

Lengan tannya merangkul pinggang langsing sang raven dalam pelukan. Menyatukan dahinya pada dahi Sasuke sambil menyesap aroma mint dari nafas sang raven.

"Sasuke...", panggilnya lirih. Jemarinya menyisir helaian hitam itu begitu lembut. Menangkup pipi pucat yang kini bersemu merah tersebut kedalam telapak tangannya. "Kau tak apa?", Naruto bertanya lirih.

Sasuke mengangguk pelan, tubuhnya masih lemas akibat aktifitas panasnya bersama Naruto tadi. Telapak tangan sang blonde yang hangat di pipinya membuat Sasuke merasa nyaman. Iris obsidiannya menatap sepasang ocean blue yang sedari tadi menatapnya dalam.

"Dobe...apa kau menyukaiku?", pertanyaan sarkatis itu terlontar begitu saja dari bibir Sasuke tanpa beban.

Iris shapire itu mengerjap kaget. "Eh? A.. Apa?!", suaranya tercekat, Naruto melepas rengkuhannya pada tubuh Sasuke. Maniknya bergerak gusar. "Sepertinya yang lain sudah menunggu, teme. Lebih baik kita kembali segera", ujar Naruto gugup mencoba mengalihkan perhatian.

"Tunggu", Sasuke mencegah. Jemari pucatnya menarik kemeja sang blonde . "Jawab aku dobe", suaranya meninggi satu oktaf. "Apa kau menyukaiku?",

Kedua iris berbeda warna tersebut saling menatap mencari kepastian. Naruto tak bisa membohongi tatapan elang dari sang raven lebih jauh lagi. Jelas Sasuke menuntut jawaban atas pertanyaannya tersebut.

Ia menghela nafas berat, untuk terakhir kalinya Naruto berucap. "Aku tidak tahu apakah aku menyukaimu atau tidak, teme. Gomenne", dan suara pintu toilet yang ditutup dengan kasar terdengar kemudian.

.

.

.

BODY

.

.

.

Jika ada yang mengatakan wanita adalah racun dunia maka dengan tegas seorang Uzumaki Naruto akan mengatakan TIDAK. Itu sangat tidak benar. Sejauh yang pemuda tan itu tahu wanita tak pernah membuat hatinya segalau dan semelankolis ini. Wanita tak pernah membuatnya mati kutu di teritorinya sendiri. Wanita tak pernah bisa membuatnya menggila dan sefrustasi ini. Ya, mereka tak bisa! Karena sejauh yang Naruto ingat, para wanita lah yang menginginkannya bukan sebaliknya. Sejahat sebangsat sehina apapun yang Naruto lakukan, akan tetap manis di mata bersoftlense dan bermaskara itu.

Tak akan ada yang menolaknya. Tak akan ada yang mengacuhkannya. Tak ada! Ya tak ada! Sejauh ini tak ada!

Tapi.. Seorang Uchiha Sasuke sudah berhasil mematahkan itu semua!

Seorang pemuda bermata sekelam malam itu sudah berhasil menghancurkan kewarasannya!

Pemuda berambut raven mencuat melawan gravitasi tersebut sudah membuat dirinya bahkan menanyakan kembali bagaimana orientasi seksualnya sendiri.

Ya Sasuke! Hanya seorang Sasuke yang bisa!

_BODY_

"Tambah lagi arak nya!", seru suara baritone rendah itu lambat-lambat. Naruto mengacungkan gelas nya tinggi-tinggi meminta seseorang untuk menuangkan arak lagi kedalamnya.

Kiba yang duduk di hadapan pemuda tan itu menutup hidungnya dengan tangan saat mencium aroma pekat arak dari mulut Naruto, membuatnya mual seketika.

"Cukup, Naruto! Kau sudah mabuk ne", hardiknya kesal.

"Urusai!", geram Naruto kesal. Ia menggebrak meja kayu tersebut dengan gelas digenggamannya, menimbulkan bunyi BRAK yang cukup keras. "Tambah araknya! Aku mau minum, puppy! Berikan aku araknya!",

"Berhenti minum, baka!",Shikamaru, pemuda berambut nanas yang sedari cuma duduk diam akhirnya membuka suara juga. Diseret paksa oleh sang kekasih untuk menemani sahabat lama mereka mabuk karena galau sebenarnya sangatlah merepotkan baginya. Sayangnya Shikamaru tak punya banyak pilihan jika itu menyangkut sang kekasih tercinta.

"Ayo kita pulang", Merasa Naruto sudah mabuk berat, Shikamaru mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, menaruhnya dimeja, lalu segera menyeret pemuda berisik bermarga Uzumaki tersebut keluar dari kedai detik itu juga dengan sang kekasih yang mengekor dibelakang.

"Shitt! Kau sangat lah berat, baka!", cetus Shikamaru . Menghempaskan tubuh Naruto begitu saja di jok belakang setelah memapahnya keluar membuat Shikamaru misuh-misuh dalam hati. "Ingatkan aku untuk meninjumu saat kau sudah sadar besok, big baby", gerutunya kesal sambil melepas 2 kancing teratas kemejanya.

"Kenapa tak kau lakukan saja sekarang, rusa?!",

Naruto yang tadinya berbaring berusaha untuk menegakkan tubuhnya meski pusing melanda kepalanya dengan sangat. "Sial, kepalaku mau pecah rasanya!", ia meringis menahan sakit.

Shikamaru menyeringai kecut. "Baka! Aku tak suka melawan yang tak sebanding dengan ku tau",

Naruto mendesah tak suka. Ia memijit pelipisnya pelan, "Rasanya aku sudah gila sekarang! Ya, aku sudah tamat! Ini semua adalah karma!",

"Ohh kau masih ingat karma rupanya, tuan donjuan kita masih tau artian itu aku begitu terkejut", ujar Kiba dengan nada mencemooh.

Shikamaru memutar matanya malas. Ia mengambil sebotol air mineral di dasbor lalu melemparnya pada pemuda tan dijok belakang mobilnya tersebut.

"Dinginkan pikiranmu! Sekalipun itu karma, harusnya kau berpikir bukan mengeluh!",

Naruto mencibir tak suka. Ia menegak airnya rakus, membasahi kerongkongannya yang terasa panas dengan air tersebut. Mobil Shikamaru mulai melaju, membawanya melewati jalan-jalan yang berhias lampu-lampu berkelip disana sini. Iris shapirenya menerawang jauh. Memandang kosong keluar jendela, membiarkan pikirannya melayang jauh sejauh yang ia bisa.

Apa kau menyukaiku Naruto?

Pertanyaan Sasuke waktu itu masih menjadi tanda tanya besar yang menganga didalam hatinya.

Harusnya Naruto dapat menjawab itu dengan cepat, tapi.. Entahlah semakin dipikir semakin Naruto tak bisa menemukan jawaban pastinya.

Secara fisik Sasuke sangat menarik, terlalu malah. Dia tampan dan cantik secara bersamaan. Kulitnya pucat dan halus. Rambutnya lembut. Bibirnya merah tipis. Bulu matanya lentik. Gestur tubuhnya begitu menarik, Sasuke — pemuda itu adalah keajaiban.

Naruto menghela nafas panjang dan berat.

"Hei, Shika.. Apakah aku adalah Gay, huh?", tanya Naruto datar.

"Aku tak tahu, dobe",

"Tapi aku masih suka payudara montok Hinata!",

"Itu bukan urusanku",

"Tapi aku juga suka saat Sasuke membuat ku klimaks hanya dengan mulutnya",

Empat siku muncul dipelipis pemuda berambut nanas tersebut. "Berhenti mengomel! Dan segera sadarlah bodoh! Aku bosan mendengar ocehan omong kosong mu itu!" Hardiknya kesal.

Naruto mendesah kecewa. "Puppy, aku tak mau ikut ke pantai untuk pemotretan besok! Aku tak mau melihat Sasuke bersama pemuda iklan shampo itu lagi",

Kiba mencibir kesal."Dewasalah! Jika kau tak suka, rebutlah kembali, kau laki-laki kan",

Naruto menghempaskan tubuhnya pada jok, lalu menutup matanya sejenak. Jika dipikir-pikir sejujurnya dia sudah sangat lelah.

Lelah dengan semua pergulatan dalam dirinya. Lelah dengan semua nasihat yang keluar masuk ditelinganya.

Lelah dengan semua pekerjaannya.

Lelah dengan gesekan amarah tiap melihat Sasuke bersama Neji dilokasi.

Lelah dengan semua kekosongan yang melanda hatinya.

Lelah dengan semua ketidak pastian nya

Dan lelah dengan semua penolakan yang diberikan oleh sang raven padanya.

Naruto sudah sangat lelah. Sangat sangat lelah.

Sudah lebih dari seminggu lamanya, Sasuke menarik diri darinya. Pemuda pucat itu memang kembali ke rumahnya seperti sebelumnya, hanya saja tiap kali mereka tak sengaja berjumpa, Sasuke — pemuda tersebut selalu saja akan segera menyingkir dan menghilang kebelakang pintu kamarnya. Dan jika itu sudah terjadi maka tak akan ada lagi kesempatan bagi Naruto bahkan untuk sekedar berkata-kata. Bahkan saat dilokasi pemotretan pun Sasuke tetap mengacuhkannya.

Ia tahu tindakan yang dilakukannya pada Sasuke beberapa saat yang lalu di toilet resto tentu akan membuat semua orang yang mengalaminya akan berpikiran yang sama seperti Sasuke. Naruto mengakui hal tersebut. Ia sangat bodoh.

Terbawa egonya hingga mencumbu pemuda raven itu dan membuat semuanya jadi berantakan seperti ini.

Naruto tak menyangka pemuda angkuh itu akan menanyakan hal semacam itu begitu gamblang..

Sasuke satu-satunya yang bisa membuat Naruto menggila. Satu-satunya orang yang bisa membuat Naruto begitu ekspresif dalam bertindak. Semua itu karena Sasuke.

Lalu.., apakah Naruto menyukai Sasuke?

Jawabannya masih mengambang di alam bawah sadarnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hembusan angin dan bunyi ombak yang bersautan membuat siapapun yang mendengarnya pasti ingin segera menanggalkan pakaiannya dan bergegas pergi berenang. Rombongan kru pemotretan baru saja tiba setengah jam yang lalu dilokasi set pemotretan selanjutnya. Naruto dan Kiba terlihat tengah sibuk mempersiapkan lighting untuk nanti.

Sementara di ujung gazebo sana, Sasuke tengah bersiap untuk dirias. Pemuda Uchiha itu nampak sangat suntuk dan tak bersemangat. Sedari tadi ia mengabaikan setiap kata-kata yang diucapkan oleh Sasori selaku managernya. Yang ia lakukan sedari tadi hanya berdiam diri membiarkan perias membedaki wajahnya lalu mengamati sang blonde dari pantulan kaca.

Jujur saja, bagi Sasuke mendapatkan penolakan setelah melakukan segalanya sejauh itu begitu menohok hati dan nuraninya. Rasanya begitu bodoh mengira pemuda dobe pecinta oppai itu akan berpaling padanya dan menyukainya seperti dirinya. Ok mungkin disini terlalu banyak imbuhan -nya- yang digunakan. Hanya saja Sasuke masih sangat terlalu sebal akan kedobean seorang Uzumaki Naruto.

Aku mungkin sudah gila, pikir Sasuke. Ya, dia telah gila akan pesona Naruto. Ia sudah begitu terhipnotis oleh pemuda tan berambut keemasan tersebut. Tubuhnya bereaksi penuh akan sentuhan yang diberikan sang blonde. Ia jatuh cinta! Ia Tergila-gila! Dan sayang sekali, Naruto berkata ia tak memiliki hati sepertinya! Yeah! It's Fuckin hell !

"Sasuke, kita akan mengambil gambar pertama, bersiaplah", ujar Sasori mengingatkan.

Sasuke mengangguk pelan, kemudian mulai melepas mantelnya dan segera berjalan ke area pemotretan. Tema terakhir yang diambil kali ini bertemakan hot summer, meski sekarang masih masuk di bulan april toh itu bukan masalah bagi seorang artis yang penting ia bekerja dan dibayar akan hal itu.

Hembusan angin menerpa surai kelam Sasuke, ia mulai menggerakkan tubuhnya sesuai dengan arahan Yamada-san selaku photografer utama. Sebenarnya ini mudah bagi artis setingkat Sasuke hanya saja tatapan tajam dibalik lensa kamera dari sang blonde sedikit banyak mengusiknya. Sial sekali karena Naruto adalah asisten Yamada-san. Mau tak mau ia harus bekerja sama dengannya meski tak ingin.

Suara shutter saling bersaut-sautan. Sasuke akui, Naruto sangatlah profesional dalam bekerja. Ia selalu membidik setiap ekspresi yang Sasuke keluarkan dengan baik. Tak terlihat ada pergulatan batin atau apapun. Membidik dengan baik setiap lekuk tubuh Sasuke dibalik lensa kameranya. Oh, God! Demi apapun itu, bahkan ditatap tak langsung seperti itu selalu bisa membuat tengkuk Sasuke meremang malu.

"Sasuke lebih mendekatlah pada Neji, ok", seruan Yamada-san membuyarkan lamunan Sasuke seketika. Ia mengangguk pelan sebelum akhirnya lebih merapatkan tubuhnya pada dada telanjang Neji. Demi Tuhan, Sasuke yakin pastilah saat ini pemuda iklan shampoo itu bersorak gembira mendapatkan jackpot yang ia inginkan. Memuakkan!

Tanpa terasa matahari sudah tepat diatas kepala sekarang, sesi pemotretan usai untuk sementara. Para kru yang beristirahat tak melewatkan kesempatan untuk makan siang bersama dan tak lupa mengupas semangka dingin untuk camilan.

Beberapa kru yang lain malah asik bermain voli pantai tak terkecuali sang bungsu Uzumaki.

Sasuke sedari tadi diam-diam menatapnya dengan wajah bersemu merah, ia memakan semangkanya lahap sementara pikirannya melayang-layang pada dada bidang kecoklatan dan otot perut Naruto yang begitu menggiurkan.

Oh, God! Mengapa pesona Naruto seakan tak terbantahkan sekarang?!

Saat tengah diambang lamunan, sebuah bola voly berwarna biru menggelinding tepat kearahnya. Jantung Sasuke berdegup cepat manakala Naruto lah yang datang mengambil bola tersebut kesana.

"Sumimasen, apakah bolanya mengenaimu Sasuke", tanyanya ragu.

Sasuke mengangguk cepat, bibirnya terkatup tak mampu berucap. Pemuda objek fantasinya kini berdiri tepat di hadapannya. Dada bidang dengan puting kecoklatan tersebut sangat-sangat terlihat menakjubkan jika dilihat dari jarak sedekat ini. Ya tuhan, bagaimana rasanya menyentuh otot-otot seksi itu? , Sasuke mulai menggila dalam hati.

"Sasuke.., emmm.. Bisa kau lempar bolanya kemari?", pinta Naruto ragu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Sasuke mengangguk cepat, ia mengambil bola biru tersebut lalu bermaksud untuk melemparnya. Hanya saja entah bagaimana seluruh energi yang ia punya seakan menguap sia-sia.

Naruto menatap Sasuke dengan pandangan cemas, wajah pucat itu terlihat memerah dan lagi pemuda tersebut terlihat sangat lemas. Ia mengambil bola yang menggelinding tersebut, melemparnya kembali ke arena namun langkahnya beranjak menuju Sasuke.

"Apa kau sakit, teme? Apa kau demam?", tanyanya beruntun.

Sasuke menelan ludah susah payah, Naruto kini didekatnya. Bahkan pemuda tan itu menyentuh dahinya begitu lembut. Ya Tuhan! Jika Sasuke boleh pingsan seharusnya ini adalah waktu yang tepat untuk itu.

"Aku tak apa dobe!", lengan nya menampik halus sentuhan telapak tangan Naruto didahinya.

"Kau tak perlu cemas akan itu", semburat merah jelas ketara dikedua pipi nya.

Naruto mengangguk paham. "Ohh. Ok..", ia menyahut pelan kemudian berbalik melangkah pergi. Jujur sesungguhnya Naruto ingin sekali mengobrol lebih lama dengan pemuda bersurai kelam tersebut. Tapi sepertinya Sasuke masih tetap menutup diri darinya.

"Hei, honey! Mau makan siang bersama ku?", seru Neji.

baru saja Naruto beranjak beberapa langkah. Pemuda brunette bersurai panjang itu berlari kecil mengahampiri Sasuke dengan wajah berbinar. Naruto menatap dingin pada pemuda yang melewatinya itu dalam diam. Jika diizinkan ingin sekali ia menonjok wajah mesum Neji yang selalu berusaha mendekati lelakinya. Eh?! Tunggu! Lelakinya ?

Sasuke yang melihat kehadiran sang brunette hanya bisa berdecak kesal sambil menyilakan lengan mulusnya didada. "Pergilah Neji! Aku sedang diet karbo saat ini", ucapnya tegas.

"Ohh ayo lah sayang. Ini cuma salad. Kau suka kan? Bukankah dulu kau sangat menyukainya?",

BADUMP!

Jantung Naruto berdetak semakin kencang. Jalannya diperlambat agar bisa mendengar percakapan diantara kedua pemuda itu lebih lama.

"Sayang sekali itu cuma masa lalu Neji! Pergilah! Aku sibuk",

God! Itu bagus Sasuke, teriak Naruto dalam hati.

"Oh ayolah! Jangan dingin padaku, bagaimana jika nanti malam kita melihat festival bersama? Ku dengar masyarakat sekitar selalu mengadakan festival setiap 2minggu sekali. Kau tertarik Suke-chan?",

"Kau tak mudah menyerah ya, Hyuuga-kun. Baiklah akan ku pertimbangkan",

.

.

.

.

.

Naruto mendesah dalam diam, ia menghisap batang rokoknya dalam lalu menghembuskan asapnya keudara. Setengah jam yang lalu para kru sudah berangkat menuju festival bersama-sama. Ia tentu diajak, namun datang kesana sama saja dengan melihat ke dua pemuda a.k.a Sasuke dan Neji berduaan dan itu terdengar sangat tak menyenangkan. Naruto menatap kelangit, memperhatikan luas malam bertabur bintang yang sama sekali tak menarik sejujurnya. Hanya saja mungkin ini lebih baik.

"Sial, lebih baik aku pergi berendam saja lah! Menyedihkan!", Naruto mengumpat pelan, mengacak surai keemasannya kesal lalu membuang putung rokoknya keasbak dan melenggang pergi menuju onsen hotel.

Jujur saja. Perasaan sang blonde saat ini sungguh tidak karuan. Dadanya bergemuruh, emosinya meletup-letup dan sejauh yang ia sadari ia sangat tak menyukai kedekatan diantara Neji dan Sasuke. Membuatnya muak dan ingin marah saja. Jika kau bertanya mengapa demikian. Tentu saja jawabannya karena cemburu! Itu sudah mutlak! Dan Naruto tak mampu memungkirinya lagi! Tidak lagi!

Mungkin itu terlambat, dan jujur Naruto masih tidak tahu apakah ia mencintai Sasuke atau tidak. Apakah perasaannya pantas disebut cinta?. Ya, Naruto tak tahu.

Ia hanya berusaha berdamai dengan dirinya, hanya berusaha mengikuti nalurinya. Ia menyukai saat-saat bersama sang raven. Naruto menyukai wajah tersipunya, menyukai tatapan dinginnya, halus rambutnya, lentik bulu matanya, hangat nafasnya, lembut bibirnya. Cukup! Itu sudah membuat Naruto semakin menggila saja.

Sialan, makinya dalam hati. Memikirkan Sasuke seperti itu jelas tak akan ada ujungnya. Ia sadar itu. Lebih baik ia segera berendam lalu meminum sebotol sake untuk menghilangkan penat dikepalanya.

Naruto pun berjalan pelan memasuki onsen, saat tak sengaja ia mendengar sesuatu...

. . .+++BODY+++...

Onsen hotel malam ini nampak sepi, para tamu hotel sepertinya tengah berjalan-jalan ke festival disekitar sini. Sasuke memutuskan untuk tidak pergi. Ya tidak kali ini. Ia memaksa managernya-Sasori- untuk meninggalkannya sendirian dikamar hotel. Ia bersi keras untuk itu dengan menggunakan alasan mencari ketenangan untuk syuting esok, Sasuke berhasil memperdaya nya.

Kepalanya berdenyut pelan, migren yang ia derita hari ini tak kunjung lenyap meski telah meminum vitamin dan obat. Bahkan berendam dionsen pun tak menghilangkannya barang sejenak.

Sasuke menatap layar hp nya malas. Tak ada yang spesial. Sejujurnya pandangannya sama sekali tak terfokus kepada benda berlayar lebar digenggamannya tersebut. Pikirannya melayang-layang sendiri mencari kesibukan dialam bawah sadarnya.

Sasuke menghela nafas berat, ia menenggelamkan tubuhnya sebatas leher kedalam kolam air panas. Sensasi hangat ini seharusnya bisa merilekskannya. Hanya saja itu tidak akan terjadi jika pikirannya masih saja menari-nari disekitar bayangan pemuda dobe a.k.a Naruto.

Ini suatu kesialan ataukah hanya sensasi sesaatnya.., Sasuke tak tahu. Yang ia tahu., ia hanya tertarik pada pemuda blonde tersebut sampai-sampai membuatnya tak waras. Pesona pemuda berkulit tan tersebut tak terbantahkan di indra penglihatannya. Otot tubuh yang sexy, dada bidang yang tegap, kulit kecoklatannya yang lagi benda keras panjang dan berotot yang ia miliki diantara selakangannya. Oh, God! Naruto adalah godaan dan dosa terbesar dalam karir hidupnya.

Iris kelam Sasuke bersembunyi dibalik kulit pucat kelopak matanya. Dengan membayangkan Naruto saja entah mengapa membuat tubuhnya sedikit merasa nyaman. Seluruh saraf ditubuhnya seakan kembali mengingat sentuhan-sentuhan dominan dari Naruto tempo hari. Membuat Sasuke meremang..

Sial, ini salah mu dobe, Sasuke membatin dalam diam saat jemari pucatnya menyelinap masuk kedalam air dan mulai memanja kejantanannya sendiri yang sudah setengah berdiri.

Onani.

Tentu itu bukan hal baru bagi semua lelaki tak terkecuali Sasuke. Tapi entahlah, bagi pemuda cantik seperti Sasuke, onani bukanlah pilihan untuk melampiaskan hasrat seks nya. Tentu ia bisa dengan mudah mendapat pemuda yang sesuai dengan keinginannya untuk diajak berhubungan badan. Itu sangat mudah! Contohnya saja seperti si Hyuuga sialan itu. Mantan pacarnya yang masih saja mencuri kesempatan untuk menidurinya meski telah berpisah.

Tapi sekarang...,

Sasuke harus melakukan itu sendirian...

Ia harus bermain solo untuk mengeluarkan cairan miliknya yang ingin mendesak keluar di saluran uretra nya.

Sial! Dan hanya dengan membayangkan sentuhan-sentuhan dari Naruto sudah membuatnya penisnya hard dan ereksi penuh.

Sasuke mengocok penisnya dengan kecepatan konstan, nafasnya memburu dan tubuhnya telah panas sepenuhnya. Ia belum pernah merasakan sebelumnya bahwa penisnya bisa sekeras ini.

Membayangkan telapak tangan tan milik Naruto yang tengah menjamahnya membuat Sasuke semakin bernafsu untuk klimaks. Beruntunglah suasana onsen sedang sepi, setidaknya ia tak akan ketahuan untuk beberapa menit kenikmatan yang ingin ia gapai tersebut .

"Narutoohh..", Sasuke mendesah pelan saat jemari tangan kirinya bermain di sekitar lubang analnya yang mulai gatal.

Ia merasa bagian paling selatan tubuhnya itu sangatlah kosong dan dingin. Sayangnya Sasuke belum pernah melakukan seks yang sebenarnya bersama sang blonde sehingga ia sama sekali tak dapat membayangkan bagaimana rasanya di jamah oleh Naruto. Sial! Sial! Sial! Sasuke benar-benar menginginkan pemuda tan itu menyetubuhinya saat ini juga.

Sasuke mengocok lebih cepat, jemarinya yang terampil menjamah semakin gila pada penisnya. Dan tak lama gelombang kenikmatan itu pun kian menghampirinya.

Sasuke melenguh panjang saat dirasa sperma miliknya ingin menyembur dibawah sana.

"Hyaa! Narutoo...,!Ahhnn...!",

Harusnya itu detik itu Sasuke akan merelease cairan cintanya keluar. Hanya saja...

"Ya, Sasuke! Ada apa memanggilku?!",

Suara baritone yang sangat dikenalnya itu membuat semua fantasi sang raven menguap seketika... Pemuda yang menjadi objek fantasinya tiba-tiba sudah berada dihadapannya saat ini juga...

"GYAA! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI, KELUAR!", Sasuke berteriak histeris dengan tampang pucat pasi.

"Hei, tenanglah Sasuke", Naruto yang tak mengerti kenapa tiba-tiba pemuda raven itu berteriak histeris cuma bisa mundur selangkah sambil berusaha menenangkannya. "Kau kenapa sih?! Aku kan cuma ingin berendam, tak perlu berteriak teme!",

Sasuke menatap sinis kepada pemuda tan dihadapannya tersebut. Sial sekali dipergoki oleh sang objek onani saat hampir mencapai klimaks. Sial sekali bukan! Dan sekarang Sasuke benar-benar tak ada muka bertemu dengannya.

"Kau kenapa sih teme?", tanya Naruto bingung. Ia menatap heran kepada pemuda pucat tersebut yang tampak sangat salah tingkah.

"Nope..", Sasuke berucap pelan sambil memalingkan wajah.

Alis Naruto bertaut bingung. Ia tak mengerti tetapi berdebat dengan keadaan seperti ini jelas tak menyenangkan. Tanpa menunggu lanjutan jawaban dari sang raven, Naruto segera menceburkan dirinya kedalam kolam, bergabung bersama Sasuke didalamnya.

"Puahh! Sugoii! Berendam memang paling nikmat ne..", Naruto memekik pelan merasakan hangat air panas yang memanja otot-otot kaku ditubuhnya.

Tadinya berendam cuma untuk membunuh waktu saja, tanpa diduga Naruto justru bertemu Sasuke di onsen. How lucky you're, dobe-kun! :)

Iris shapire Naruto mencuri tatap kearah sang raven yang masih setia menunduk menyembunyikan wajahnya diantara helaian surai hitam miliknya itu. "Hei, teme!", panggilnya.

"Apa?!",

"Kenapa tak pergi ke festival?"

"Aku tak suka keramaian",

"Tapi.. Bukankah Neji mengajakmu kencan malam ini?",

"Itu bukan kencan, usuranotonkachi!",

"Begitukah?"

"Hnn",

Hening.

Naruto mengakhiri obrolannya dengan diam.

Kedua pemuda itu sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Sasuke masih merasa malu sementara Naruto merasa amat bahagia karena tahu Sasuke sama sekali tak menganggap Neji. Setidaknya serangga pengganggu itu sama sekali tak berharga dimata Sasuke.

Obsidian sekelam malam itu melirik kearah pemuda tan di seberangnya itu ragu-ragu. Kulit kecoklatan dan dada bidang itu kini bisa dilihat secara nyata pada kedua irisnya. Tak perlu lagi berkhayal karena Naruto sudah ada dihadapannya. Oh, God! Ini tidak akan bagus! Jika Sasuke lebih lama lagi berada disini, Ia bisa kembali hard!

"Teme...", Naruto memanggil lagi. Iris birunya menatap tajam kearah kedua manik hitam milik Sasuke. Mematrinya dalam.

"Tadi..., kenapa kau memanggil namaku?",

BADUMP!

Jantung Sasuke berdetak cepat. Semburat merah muda tercetak diwajahnya dengan jelas.

"Tak apa! A..Aku .. Duluan...", Sasuke berucap pelan sambil beranjak dari tempatnya berendam tadi. Ia sudah tak sanggup jika harus berlama-lama, meninggalkan pemuda tan itu pergi tentu adalah jalan terbaik.

"Hei.., tunggu dulu!",

Melihat pemuda raven tersebut beranjak pergi. Naruto refleks mencegatnya dengan menarik lengan Sasuke dengan keras. "Jangan lari teme...",

Dan Sasuke yang tak siap sama sekali mendapat tarikan dari sang blonde cuma bisa terhuyung jatuh terduduk di lantai.

"Hyaaa..", pekik Sasuke kaget. Ia tak menyangka jika Naruto akan menariknya seperti itu. Membuatnya terjatuh dengan pantat menghantam lantai. Dan sialnya hantaman itu justru mengirim arus listrik ke ubun-ubunnya. Membuat penisnya menegak dan bergoyang pelan bersiap untuk ereksi yang sempat tertunda.

Iris shapire Naruto membulat sempurna melihat pemandangan yang tak biasa dihadapannya tersebut. Mulutnya menganga tak percaya hal seerotis itu tersaji di depannya.

"Don't look, dobe..", Tubuh Sasuke bergetar menahan klimaks diujung penisnya. Ia cuma bisa meringis menahan sakit dan malu yang bercampur aduk didirinya.

"Sasuke.. Kau.. Penismu...",

Tidak bisa! Ini sudah batasnya...

"Jangan lihat.. Ngghh — HYAA! NARUTOOOH", dan semburan air mani Sasuke meledak begitu saja bahkan terciprat di wajah dan tubuh Naruto.

GREAT! POOR Sasuke!

TBC