-Se Na Oh present-
.
.
JUST FRIEND
CHAPTER 6 HERE ! THE LAST CHAPTER HERE!
It's KAISOO fanfic
Start with KAISOO
End with KAISOO
WARNING!
NO gs! It's YAOI ! It's YAOI ! and always YAOI !
PENUH DENGAN MANIS-MANISAN ALA KAISOO, AWAS DIABETES!
Jika tidak berkenan dengan gendre cerita saya, silahkan tekan tombol 'back' .
Jika berkenan, silahkan menikmati. Jangan lupa review juseyo~~~
.
.
.
.
.
Seoul
3 Tahun setelah pernyataan cinta
Kyungsoo gusar, sedari tadi pemuda mungil itu terus melirik jam tangan berwarna silver yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Sudah menunjukan pukul 6 sore, tapi kekasih hitamnya itu belum juga menunjukan batang hidungnya, dan fakta itu membuat Kyungsoo geram, jika ia menghitung maka pria mungil itu telah menunggu Jongin selama kurang lebih 2 jam.
"Jongin sialan!"
Kyungsoo mengambil cangkir kopi americano-nya kemudian menyeruputnya kasar, bahkan kopinya saja sudah sedingin es. Oh! Berapa lama lagi ia harus menunggu Jongin? Dia merasa hanya buang-buang waktu saja, sedangkan pemuda tinggi yang setengah mati ia tunggui tidak tau sedang dimana.
"Hai Kyung?"
Sebuah suara mengintrupsi Kyungsoo dari kekesalannya, mata bulatnya menangkap seorang laki-laki tinggi dengan pakaian waiters tengah menyapanya sambil tersenyum.
"Halo Tao-ya" Kyungsoo membalas dengan senyuman pula
"Sepertinya kau sedang kesal? Apa karena Jongin lagi?" Pemuda tinggi itu tersenyum jahil pada Kyungsoo, mencoba menggodanya.
"Kau tau, akhir-akhir ini Jongin sering sekali mengingkari janjinya padaku, dan seandainya ia datang, dia pasti sangat-sangat terlambat" Kyungsoo mendengus sebal
"Boleh aku duduk?"
Kyungsoo baru sadar kalau sedari tadi Tao –Pemuda tinggi berpakaian waiters- itu masih berdiri. Dan Kyungsoo pun mempersilahkan Tao duduk di hadapannya. Mungkin kehadiran Tao bisa sedikit mengurangi kejenuhannya menunggu Jongin.
"Kau sudah selesai bekerja?" Kyungsoo bertanya
"Ya, Sift ku hari ini hanya sampai jam 6 saja"
Ketika mengatakan itu, Kyungsoo merasa Tao sedang dalam mood yang sangat bagus, terlihat dari senyum pada bibir kucingnya yang sedari tadi tidak luntur-luntur.
"Yah.. padahal aku ingin curhat denganmu, tapi kau sudah mau pulang" Kyungsoo mengerucutkan bibirnya
"Tak apa, aku bisa menemanimu sebentar lagi, sambil menunggu Kris"
Kyungsoo mencebik, jadi ini alasan kenapa Tao terus menerus sumringah sejak pertama kali Kyungsoo memasuki caffe.
"Kris menjemputmu?"
Tao mengangguk imut.
"Benar-benar beruntung, akhir-akhir ini Jongin tak pernah lagi menjemputku. Dia terlalu sibuk dengan urusan kuliahnya" Kyungsoo menggerutu lagi
"Jangan sedih Kyung, kau tau kan Jongin melakukan ini semua untukmu juga—" Tao tersenyum lembut. "—Kau harus mendoakannya supaya ia bisa lulus tahun ini dengan nilai yang memuaskan, supaya kalian tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi pacaran di hadapan ayahmu, hem?"
Kyungsoo melamun, dia sebenarnya sangat-sangat setuju dengan apa yang Tao ucapkan. Kadang Kyungsoo merasa egois dan tak punya hati sendiri ketika harus melihat Jongin setengah mati menuntaskan study-nya dalam jangka waktu yang terbilang cepat dengan hasil yang memuaskan. Ya, walaupun itu bukan keinginan Kyungsoo, itu adalah sebuah syarat yang diajukan ayah Kyungsoo kepada Jongin jika pemuda tan itu benar-benar serius pada Kyungsoo. Dan tidak hanya itu, ayah Kyungsoo juga menghendaki agar selepasnya lulus dari universitas, Jongin harus memiliki pekerjaan yang layak agar bisa menghidupi Kyungsoo. Syarat-syarat itu harus Jongin penuhi agar ayah Kyungsoo mau menerimanya sebagai menantu. Tadinya Kyungsoo memberontak, bagaimana ayahnya bisa jadi pria tua yang begitu matrealistis, setelah tiga tahun yang lalu menjodohkannya dengan Kris, sekarang pria tua itu ingin Jongin memenuhi syarat-syaratnya yang berakhir pada satu kesimpulan, yaitu uang.
Tapi kekasihnya itu meyakinkan Kyungsoo bahwa dia bisa memenuhi syarat-syarat yang ayah Kyungsoo ajukan. Walau ketika pertama kali menjalaninya, Kyungsoo terlihat ragu dan takut.
Hei! Bukankah seharusnya Jongin yang bertingkah begitu, kenapa jadi Kyungsoo yang ikut uring-uringan? Tentu saja pemuda itu juga kalut, bagaimana jika Jongin berhenti ditengah jalan, bagaimana jika Jongin lelah dengan segala permintaan ayahnya yang ini-itu kemudian pemuda tan itu memutuskan untuk berpaling dari Kyungsoo? Hell No! Kyungsoo tak mau itu terjadi. Kadang-kadang pikiran itu membuat kepala Kyungsoo sakit sendiri, dan kemudian lelaki mungil itu akan menangis tapi Jongin selalu tanggap dengan perubahan emosi Kyungsoo.
Pernah suatu malam, hari ke 60 mereka menjalankan syarat-syarat itu, Kyungsoo tak dapat membendung rasa takutnya lagi, jadi dia memutuskan untuk menelpon Jongin.
"Hiks..hikss.. Jong..."
Ketika mendengar suara sedu-sedan Kyungsoo sedetik setelah mengangkat telpon, Jongin tau kekasihnya itu sedang tertekan.
"Sayang, tunggu aku, aku akan segera kesana ne? Uljima babe"
Dan dengan segenap kekuatan yang ia punya, Jongin bangkit dari tempat tidurnya, memakai mantel lalu menyambar kunci motor sport-nya. Matanya membulat kaget ketika ia disambut oleh ledakan guntur diluar disertai tetesan hujan.
"Kenapa harus sekarang?"
Lelaki tinggi itu memandang langit tak suka, tapi hujan atau petir atau pun segala hal yang ingin menjadi penghalang Jongin bertemu Kyungsoo akan ia lewati. Jadi Jongin membuka garasinya dan mengeluarkan motornya tidak mengindahkan mantelnya yang mulai dirembesi air hujan.
Sesampainya di depan rumah Kyungsoo, pemuda itu menekan bel, dan langsung disambut oleh sosok mungil yang begitu ia rindukan.
"Kau kehujanan?"
Kyungsoo terhenyak, pemuda kecil itu baru menyadari bahwa di luar hujan sedang mengamuk. Dan dia merasa begitu bersalah melihat Jongin yang basah kuyup.
"Aku tak apa, hanya basah, sedikit"
Jongin tersenyum lembut, kedua tangannya bergerak membelai kedua pipi tembab Kyungsoo yang tampak basah sehabis menangis.
"Jangan menangis lagi, ne? Aku disini"
Pemuda tan itu mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo lalu mengecup kening pria mungil di hadapannya.
"Ayo masuk Jong, aku tak mau kau sakit, akan kuambilkan baju ganti"
Setelah ciuman mereka terlepas, Kyungsoo menarik lengan Jongin masuk.
"Tunggu!"
Kyungsoo berbalik, Jongin tetap tidak bergerak dari posisinya. Saat itu Kyungsoo sadar bahwa kekasihnya sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Kau mengkhawatirkan ayah?" Kyungsoo bertanya, dan Jongin hanya bisa mengangguk kaku.
"Dia sedang di luar kota sekarang, jadi kau tak perlu khawatir" Kyungsoo tersenyum, dan Jongin mendesah lega. Membayangkan calon ayah mertuanya itu memergoki dia yang dengan seenak jidatnya masuk ke rumah Kyungsoo saja sudah membuat bulu kuduk Jongin merinding.
"Jadi kita hanya berdua sekarang?"
Jongin melepas sepatunya asal, lalu membuang mantelnya yang sudah basah sembarangan kelantai. Langkah kakinya perlahan-lahaan mendekati Kyungsoo dengan pandangan seduktif. Oh tidak! Sebuah aungan sirine bahaya mulai meraung-raung di kepala Kyungsoo, dia menyadari kesalahan kalimatnya tadi.
"Jong, bi-bisakah kau berganti pakaian dulu? Kau-kau basah?" Kyungsoo tergagap ketika tangan dingin Jongin telah hinggap di pinggang kecilnya, sedikit meremasnya hingga Kyungsoo bisa merasakan ribuan kupu-kupu menggelitiki perut bagian dalamnya.
"Hmm? Aku memang sudah basah sayang~" Jongin mendayu suaranya yang mulai berat, membisikkan kalimat ambigu itu tepat di telinga Kyungsoo, membuat sang empunya menggeliat resah.
"Aku akan siapkan pakaianmu dulu!"
Dengan sekuat tenaga Kyungsoo mendorong tubuh basah kuyup Jongin menjauh, dengan tergesa melangkah menuju kamarnya, mengambil pakaian ganti untuk kekasihnya. Dan Jongin hanya bisa terkekeh kecil melihat tingkah Kyungsoo, Kyungsoo mudah sekali digoda pikirnya.
Tak sampai 5 menit, Kyungsoo kembali lagi. Pemuda mungil itu sudah membawa baju-nya yang nantinya akan dipakai Jongin.
"Ini!"
Dengan gerakan kasar, Kyungsoo melempar begitu saja satu set pakaian itu ke arah Jongin, untungnya pemuda tinggi itu cukup sigap, jadi pakaian itu tak perlu mencium lantai dulu. Jongin sedikit terkejut melihat tingkah Kyungsoo, disempatkannya melihat raut wajah Kyungsoo sesaat.
"Apa kau lihat-lihat!"
Kyungsoo tiba-tiba melotot kearahnya, mengerucutkan bibirnya sebal. Dan saat itu Jongin tau Kyungsoo masih marah dengan godaan sensualnya tadi.
"Cepat ganti sana! Kamar mandinya dekat dapur!"
Setelah berkata dengan aksen judes yang bagi Jongin mirip sekali dengan seorang istri yang sedang murka karena memergoki suaminya menggoda wanita lain, Kyungsoo pergi meninggalkannya, duduk diruang tengah dengan pandangan tak acuh padanya dan hanya menatap layar tv di depannya. Mau tak mau hal itu membuat Jongin mendesah pasrah. Sungguh, pemuda tan itu tidak bermaksud apa-apa dari kalimat ambigunya itu, dia hanya ingin menggoda Kyungsoo tapi malah berakhir dengan pemuda mungil itu ngambek, dan kalau sudah begitu maka Jongin harus berpikir bagaimana caranya membujuk Kyungsoo.
Dia melirik Kyungsoo sebentar, lalu berjalan gontai ke arah kamar mandi di dekat dapur.
.
.
.
Jongin sudah berganti pakaian dengan sweater hijau lumut dan celana panjang dasar berwarna abu-abu. Dia juga sudah mengeringkan rambutnya dengan handuk di kamar mandi tadi. Dan sekarang inilah saat nya dia membujuk kekasihnya agar tidak marah lagi. Namun ketika ia sampai di ruang tengah, Jongin mengulum senyumnya, lelaki berkulit tan itu menemukan Kyungsoo telah jatuh tertidur di atas sofa.
Jongin menempatkan dirinya di samping Kyungsoo yang rupanya tertidur dapam posisi duduk. Perlahan ia membawa kepala Kyungsoo agar bersandar pada bahunya, satu tangannya ia bawa ke belakang tubuh Kyungsoo, menyentuh pinggang kecil kekasihnya, menarik tubuh Kyungsoo agar semakin jatuh dalam pelukannya.
Hembusan napas Kyungsoo yang hangat menjadi candu sendiri bagi Jongin, laki-laki itu mulai menyusuri wajah sang kekasih dengan tangannya yang lain. Dengan gerakan kelewat lembut, Jongin membelai permukaan wajah Kyungsoo, mulai dari kening, lalu turun ke hidung, ke dua pipi chubby kekasihnya lalu yang terakhir adalah bibir heartlips Kyungsoo.
"Ngghh~"
Mungkin bagi Kyungsoo suara lenguhan itu hanya efek dari tidak nyamannya ia tidur dengan posisi duduk, namun bagi Jongin ini beda kasus. Pria tinggi itu mulai merasakan suhu tubuhnya naik, belum lagi Kyungsoo yang tiba-tiba mengendus-ngendus dadanya bermaksud mencari letak ternyaman untuk tidur, dan Jongin mendapati dirinya mulai berkeringat.
Baiklah, tak ada yang salah disini. Jongin itu pria dewasa dengan kadar hormon yang sedang membludak, belum lagi fakta bahwa ia punya seorang kekasih mungil dengan kadar keimutan tingkat dewa. Dan sialnya kekasihnya itu sedang ada di pelukannya. Apa lagi yang kurang? Apa lagi? Jika Jongin mau, dia bisa saja menerkam Kyungsoo sekarang, walau pun nantinya Kyungsoo akan menolak. Toh, Jongin punya kuasa yang lebih besar, dan pria kulit tan itu juga yakin aksi penolakan Kyungsoo tak akan bertahan lama jika pemuda mungil itu telah merasakan surga dunia.
Tapi, Tidak!
Dia sudah berjanji, Jongin telah berjanji pada Kyungsoo, telah berjanji pada calon ayah mertuanya sendiri, dan pada dirinya sendiri. Dia tidak akan bersetubuh dengan Kyungsoo sebelum mereka menikah, dan Jongin tak mau dianggap seorang pengecut dengan melanggar janjinya sendiri.
"Jong.."
Sebuah suara mengintrupsinya, sedikit mengalihkan Jongin mengenai cara pengendalian hasratnya terhadap kekasih mungilnya ini.
"Hmm?" Jongin berdehem kecil, memberikan senyumnya kepada Kyungsoo yang mulai beranjak dari pelukannya.
"Kau sudah berganti?" Tanya Kyungsoo, suara pemuda mungil itu terdengar parau, khas orang bangun tidur.
Jongin mengangguk. "Syukurlah. Ini baju terbesar yang aku punya" Kyungsoo kemudian tersenyum juga. Sebenarnya Kyungsoo sempat khawatir dengan pakaian gantinya, megingat ia punya postur tubuh yang lebih kecil dari Jongin.
"Kau terlihat lelah?"
Jongin mendekat, hendak menempelkan permukaan tangannya dengan pipi Kyungsoo, namun kekasihnya itu menepis pelan.
"Kenapa?" Jongin bertanya lembut, walau tak memungkiri juga ia terkejut, tak biasanya Kyungsoo menolak untuk disentuh.
Jongin mendapati Kyungsoo dengan kepala yang tertunduk sedangkan tangan mungilnya bertautan, Kyungsoo sedang gugup.
"Jong..aku.."
Ini masih masalah yang tadi, tentang godaan sensual Jongin tadi. Sebegitukah Kyungsoo sampai memikirkannya? Sungguh! Jongin hanya bercanda saja.
"Sayang, soal itu aku hanya bercanda. Oke"
Jongin mendekat lagi, mengangkat dagu Kyungsoo agar manik mata yang sangat ia sukai itu dapat berbenturan dengan matanya sendiri. Raut muka Kyungsoo terlihat takut-takut, dia menggigit pipi dalamnya.
"Bukankah aku sudah berjanji padamu bahwa kita akan melakukan itu ketika kita sudah menikah? Apa kau tak mempercayaiku?" Jongin menatap Kyungsoo lembut, tangannya merambat ke punggung Kyungsoo, mengelusnya dengan sayang.
"Tapi.. apa kau tidak menginginkan itu?"
Oh tidak lagi! Kyungsoo, jangan menggoda Jongin begitu, pertanyaan Kyungsoo tadi bagai bumerang saja. Tentu Jongin mau, sangat mau malah, tapi ini semua demi kebaikan mereka. Jadi Jongin setengah mati menahan gejolaknya ketika ia mendapati bahwa Kyungsoo juga tampak takut, kekasihnya itu masih jauh dari kata siap untuk melakukan-nya.
"Tentu aku sangat ingin, aku menginginkanmu Kyungsoo—"
Jongin menyempatkan dirinya mencium kedua pipi Kyungsoo, hanya sebuah ciuman lembut.
"—Tapi nanti, setelah kamu benar-benar mengganti namamu menjadi Kim Kyungsoo, arra?"
Kemudian Jongin mencubit pelan hidung mungil Kyungsoo, sedangkan Kyungsoo sudah merona hebat dengan kata-kata Jongin tadi.
"Kau penggombal!"
Jongin terkekeh lagi melihat tingkah malu-malu Kyungsoo, dia membuka lengannya lebar, sebagai kode agar Kyungsoo mengisinya dengan sebuah pelukan. Dan Kyungsoo benar melakukannya. Kyungsoo selalu suka wangi alami Jongin, dia kembali mengendus harumnya ketika pipi chubby-nya bertemu dengan dada bidang sang kekasih.
"Sebaiknya kita ke kamar Kyung, tak baik tidur di sofa, kau bisa pegal-pegal"
Kyungsoo hendak menutup matanya lagi dan bersiap-siap jatuh tertidur di pelukan Jongin, namun Jongin seakan tau hal itu, melarangnya.
"Tapi aku sudah ngantuk~"
Tanpa melepas pelukannya, Kyungsoo merengek. Kyungsoo dapat mendengar suara tawa Jongin, desertai belaian sayang pada surai rambutnya, dan sebuah kecupan pada puncak kepalanya.
"Kau benar-benar manja ya?" Tanpa sepengetahuan Kyungsoo, Jongin tersenyum jahil
"Apa yang kau- Yak! Kim Jongin! Turunkan aku!"
Dengan sigap, Jongin mengangkat tubuh Kyungsoo, menggendongnya seolah-olah Kyungsoo adalah sekarung beras.
"YAK! KIM JONGIN!"
Semakin sering Kyungsoo berteriak dan meronta, maka semakin besar pula tawa Jongin. Kaki-kaki panjang lelaki tinggi itu membawa mereka ke lantai dua, tepatnya ke kamar Kyungsoo.
Sesampainya di kamar, Jongin meletakkan Kyungsoo pelan-pelan. Dan ketika tubuh Kyungsoo telah sepenuhnya menyentuh kasur, sebuah tendangan Kyungsoo layangkan pada Jongin. Namun kekasih tingginya itu tampak dengan mudah menghindar.
"Yak! Kim Jongin bodoh! Kenapa menggendongku begitu hah! Kepalaku jadi pusing tau~"
Jongin masih tetap terkekeh, dia memutuskan tidak menghiraukan protes Kyungsoo dan ikut berbaring di samping kekasihnya itu.
"Aku cuman bercanda Kyungsoo sayang"
Jongin mengecup ujung hidung Kyungsoo, lalu menarik selimut hingga seperutnya, menyelimuti Kyungsoo dan dirinya sendiri.
"Tapi itu tidak lucu, kepalaku jadi pusing" Kyungsoo mengerucutkan bibir penuhnya imut, kembali menyamankan dirinya dalam pelukan Jongin.
"Aku minta maaf ,hmm?" Jongin meletakkan dagunya di puncak kepala Kyungsoo, mendekap kekasih mungilnya dengan posesif, kemudian mencium aroma khas Kyungsoo dalam-dalam.
"Jangan diulangi lagi ya?" Kyungsoo bergumam dalam pelukan Jongin, hingga pemuda tan itu dapat merasakan hembusan napas hangat Kyungsoo pada dadanya.
"Ya, aku janji sayang" Kemudian Jongin menghadiahi kecupan-kecupan kecil pada puncak kepala Kyungsoo.
"Jong—"
Jongin menghentikan aksi mari mencium puncak kepala Kyungsoo ketika ia merasakan pergerakan kekasihnya itu, Kyungsoo tengah mendengak menatapnya.
"—Mengenai tadi aku menelfonmu, sebenarnya itu karena aku khawatir dengan syarat-syarat yang ayah minta padamu"
Kyungsoo memandang Jongin dalam. Dan Jongin bisa membaca kekhawatiran dalam manik mata Kyungsoo.
"Aku hanya takut kalau kamu nanti tidak bisa memenuhinya dan ayah akan memaksaku lagi—"
Kini mata Kyungsoo mulai berkaca-kaca, sirat akan ketakutan dan kehilangan. Jongin terenyuh, sebegitu takutkah Kyungsoo kehilangannya?
"Tidak sayang, tidak.. Apapun itu, aku akan tetap disini, aku akan memenuhi semua syarat yang ayahmu ajukan padaku"
Jongin membawa ibu jarinya pada kelopak mata Kyungsoo yang tampaknya tak bisa menahan air matanya lagi, dia menghapusnya, lalu penggantikannya dengan sebuah kecupan pada ujung mata Kyungsoo.
"Tapi Jongin, bagaimana jika kau tidak bisa? Bagaimana jika nanti kau jadi lelah sendiri, dan aku..aku..aku tidak mau dijodohkan dengan orang lain lagi seperti dulu"
Suara isakan Kyungsoo mulai jelas terdengar, suara yang begitu menyayat hati Jongin. Sebenarnya, dalam hati, kadang Jongin juga goyah dengan kemampuannya memenuhi syarat ayah Kyungsoo, mengingat dia masih begitu muda dan begitu banyak godaan di luar sana. Tadinya Jongin merasa ia akan gagal juga, tapi ketika ia melihat ketulusan Kyungsoo dalam mencintainya, kegoyahannya seakan menguap entah kemana, yang ada dipikirannya sekarang hanya Kyungsoo, Kyungsoo yang akan mendampinginya, Kyungsoo yang akan menjadi pendamping hidupnya, Kyungsoo yang akan menjadi belahan jiwanya, selamanya. Dan Jongin seakan mendapat berjuta-juta kekuatan super dengan membayangkan itu saja.
"Sayang~, my honey, jangan menangis lagi, kumohon"
Jongin kembali mendekap Kyungsoo, di usapnya punggung sang terkasih, berupaya menenangkan ketakutan Kyungsoo.
"Aku bersumpah, aku tak akan pernah meninggalkanmu sayang. Sekalipun nantinya aku gagal, aku akan tetap menikahimu"
Entah apa yang membuat Jongin bicara segamblang itu, namun Jongin tak menyesalinya, dia tak ingin membuat Kyungsoo bimbang dengan segala kemungkinan ia akan gagal. Jongin memang takut jika ia nanti tak bisa bersama Kyungsoo, tapi dia tahu Kyungsoo jauh lebih takut dari itu, pemuda kecil itu sudah menaruh semuanya pada Jongin. Hatinya, jiwanya dan kelak tubuhnya, dan Jongin tak bisa begitu saja mengabaikan ketakutan Kyungsoo.
Kyungsoo mendengak, matanya tampak sembab.
"Jongin"
Namun semburat merah tampak pada kedua pipinya, setelah ia mendengar kalimat kekasihnya.
"Ya, sayang?"
Kyungsoo membawa tubuhnya sejajar dengan Jongin, lalu menangkup wajah Jongin dengan kedua tangannya yang mungil. Jongin memejamkan matanya meningkmati kehangatan telapak tangan Kyungsoo pada kedua pipinya.
Dia membuka matanya lagi, dengan agak terkejut. Ketika sebuah ciuman singkat menghinggapi bibirnya. Dia mendapati Kyungsoo tengah menatapnya dengan senyum yang begitu manis.
"Kau tidak perlu menghawatirkan itu, sayang. Aku akan berhasil, kita akan berhasil" Jongin tersenyum, tangannya membawa tangan mungil Kyungsoo pada dadanya. Menyuruh Kyungsoo untuk merasakan detak jantungnya.
Jongin kembali meringkuk Kyungsoo, wajahnya perlahan-lahan mendekat dengan sang terkasih, ketika napas hangat Kyungsoo kembali menerpa wajahnya, Jongin berbisik.
"Aku mencintaimu, Kyungsoo"
Kyungsoo sangat ingin membalas kalimat itu, namun tampaknya Jongin tak membiarkan itu terjadi.
Bibirnya sudah lebih dulu dirasai oleh Jongin. Jongin memulai dengan kecupan-kecupan singkat, lalu bibirnya mulai membuka belahan bibir Kyungsoo, menyesap bibir bawah si pria mungil, lalu beralih menyesap bibir atasnya bergantian. Kyungsoo tak tinggal diam, dia semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Jongin, dengan gerakan lembut, ia membalas kecupan pada bibirnya.
"Akh!"
Kyungsoo terpekik kaget karena tiba-tiba tubuhnya serasa melayang, ternyata Jongin tengah mengangkatnya, lalu mendudukkan tubuhnya diatas perut Jongin. Kyungsoo refleks melepas pangutannya pada bibir Jongin.
Dibawahnya, Jongin tengah tersenyum lebar, hingga Kyungsoo merasa ia ingin menangis sekarang, karena ia begitu bahagia, ia begitu bahagia memiliki Jongin di sisinya, dia begitu bersyukur karena Tuhan telah mempertemukannya dengan pemuda berkulit gelap itu. Entah apa jadinya dia jika tidak bertemu Jongin, segala yang ada pada pemuda tinggi itu selalu Kyungsoo sukai, walau kadang ia sebal dengan sikap Jongin yang bebal dan suka seenaknya dalam bertindak, namun itu semua tak mengurangi rasa kagum Kyungsoo terhadap pria yang dicintainya itu.
Jika orang berkata ada banyak jenis jatuh cinta di dunia ini, jatuh cinta pada pandangan pertama, jatuh cinta karena ketidak sengajaan, jatuh cinta karena terbiasa atau jatuh cinta karena takdir. Kyungsoo menemukan semua jenis jatuh cinta ketika ia menatap mata tajam Jongin, ketika pemuda itu memberinya perhatian, ketika pemuda itu mengucapkan kata cinta hanya untuknya. Kyungsoo merasa semesta telah memilihnya menjadi orang yang paling beruntung karena, dia mencintai Jongin, dan Jongin pun sebaliknya.
"Sayang? Kenapa menangis lagi?"
Kyungsoo dapat menangkap kekhawatiran dari mata Jongin ketika tanpa sadar Kyungsoo menangis lagi, kali ini bukan lagi tangisan ketakutan akan hubungan mereka, kali ini murni tangisan kebahagian.
"Sayangku, Kyungsoo kamu kenapa?"
Jongin terus menerus menyebut namanya dengan panggilan sayang yang menenangkan hatinya, dan mau tak mau tangisannya semakin terdengar. Kyungsoo begitu bahagia. Dan tak tahukah dia bahwa Jongin sudah ketakutan setengah mati melihat Kyungsoo yang tak kunjung berhenti menangis.
"Sayang?"
Jongin hendak menggapai wajah Kyungsoo, menenangkannya kambali, namun kekasihnya itu lebih dulu merunduk untuk menggapai wajahnya. Jongin dapat merasakan tetesan air mata Kyungsoo membasahi wajahnya.
"Jongin, aku mencintaimu..sungguh"
Kyungsoo mengangkat kepalanya sedikit, tangisannya berhenti dan dia tersenyum begitu lebar hingga membuat Jongin yang melihatnya merona. Bagi Jongin, Kyungsoo sekarang begitu terlihat menakjubkan.
"Aku terlalu bahagia, Jong" Kata Kyungsoo parau, senyumnnya masih belum hilang
Jongin bangkit, sambil memangku Kyungsoo ia bersandar pada sandaran tempat tidur. Jongin memberi jarak pada Kyungsoo, lelaki tinggi itu tengah sibuk menyeka air mata Kyungsoo, sambil sesekali mencuri kecupan pada pipi pria-nya.
"Kamu tau, kamu itu begitu menakjubkan Kyungsoo babe"
Kyungsoo menatapnya sambil tersenyum lagi.
"Kamu itu matahariku, duniaku, malaikatku. Dan akan selalu seperti itu, selamanya"
Diantara senyumnya, air mata Kyungsoo mulai menetes lagi. Namun kali ini Jongin tak terlihat takut lagi, karena ia tahu Kyungsoo tengah menangis bahagia.
"Jadi sayang, jangan pikirkan apapun selain tentang ku, tentang kita"
Jongin mengambil tangan kanan Kyungsoo, membawanya mendekati bibirnya, lalu mengecupnya. Kyungsoo merona hebat.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun sayang, karena aku disini, karena kita bersama, karena kita saling mencintai"
Kyungsoo beringsut maju, lengannya telah menggantung indah di belakang leher Jongin. Pemuda mungil itu mendekatkan kembali bibir mereka berdua, dengan rakus ia melumat bibir Jongin, kali ini tidak lagi dimulai dengan perlahan. Jongin sempat syok dengan kelakuan Kyungsoo, tapi itu hanya sebentar, dia sudah terlarut dengan sesapan-sesapan Kyungsoo pada bibirnya, dan Jongin membalasnya lebih gila lagi. Pria tinggi itu meraup bibir atas dan bibir bawah Kyungsoo bersamaan, melepasnya dengan sensual lalu menggigit bagian bawah bibir Kyungsoo, dengan cepat Jongin memasukkan lidahnya ke rongga mulut Kyungsoo, mencari lidah sang kekasih lalu menyedot-nyedotnya.
"Ngehhh~ Jongghhh~"
Itu adalah tanda bahwa Kyungsoo sudah mulai kehabisan napas, walaupun sebenarnya Jongin masih ingin mencicipi rasa Kyungsoo, namun ia berbaik hati melepaskan lumatannya.
"Kita tidur sekarang sayang? Kau tampak lelah"
Kyungsoo tak memberontak lagi ketika Jongin membawanya kembali berbaring, Kyungsoo kembali menyamankan dirinya dipelukan Jongin. Satu tangan Jongin menjadi penyangga kepalanya, sedangkan tangannya yang lain, mengelus punggungnya lembut. Membuat Kyungsoo terbuai dan pemuda kecil itu mulai memejamkan mata. Namun sebelum ia benar-benar jatuh tertidur, Kyungsoo menyempat diri untuk mengucapkan sesuatu pada kekasihnya.
"Jongin?"
"Iya, Sayang?"
Jongin juga tampak mengantuk, tapi ia kembali membalas Kyungsoo.
"Kamu tau, bukan kamu saja yang merasa begitu"
Jongin mengerutkan keningnya, bingung.
"Maksud kamu?"
"Aku, aku juga merasa begitu, aku merasa begitu beruntung karena telah dicintai oleh seorang seperti kamu"
Kyungsoo tau mungkin wajahnya sudah begitu merah sekarang, tapi dia tidak akan menunduk takut-takut lagi, Jongin juga harus tahu bahwa Kyungsoo sama bersyukurnya dengan Jongin. Karena mereka saling memiliki.
"Kata cinta saja tak cukup untuk menggambarkan aku begitu mencintai kamu, Jongin"
Kyungsoo menatap lekat Jongin, dan matanya menangkap sesuatu yang aneh ketika cahaya kamarnya membuat mata Jongin tampak lebih berkilau, berkaca-kaca. Sebelum akhirnya Kyungsoo menyadari bahwa ada setetes air mata yang Jongin tahan di pelupuk matanya.
"Aku mencintaimu Kim Kyungsoo—"
Jongin tiba-tiba memeluknya lagi.
"—Aku tak mau Kyungsoo ku yang manis ini melihat ksatria hitamnya menangis, jadi cepatlah tidur, sayang"
Kyungsoo tersenyum dalam pelukan Jongin. Malam itu dia tidur begitu nyenyak, dengan sebelumnya mendengar isakan tangis bahagia dari pria-nya. Dan jutaan lagu pengantar tidur yang Jongin dendangkan dengan kata-kata...
"Aku mencintaimu Kim Kyungsoo, selamanya.."
.
.
.
"Kyung? Hei! Do Kyungsoo? Kamu gak apa-apa?"
Kyungsoo tersadar ketika sebuah tangan melambai-lambai pelan di depan wajahnya, tangan Tao.
"Eh, iya? Memangnya aku kenapa?" Kyungsoo mengerejapkan matanya imut, mau tak mau membuat Tao terkikik kecil. Ya ampun, mungkin ketika Tuhan tengah membagikan kadar keimutan Kyungsoo berdiri di barisan paling depan, hingga cowok yang lebih tua itu memiliki keimutan diatas wajar.
"Kamu tadi melamun, hyung" Kata Tao lagi. Agak sedikit risih juga ia memanggil Kyungsoo dengan sebutan hyung, sedangkan kalo dibandingkan dirinya yang secara fisik lebih manly dari Kyungsoo, seharusnya Kyungsoo lah yang memanggilnya hyung, tapi mau bagaimana lagi, takdir memang tidak sesuai dengan harapan.
"Eh? Benarkah?" Kyungsoo menatap Tao tak percaya.
"Iya, cukup lama malah, aku sampai bosan menunggu kamu selesai ngelamunnya" Ujar Tao menggoda Kyungsoo, tapi dia memang tak berbohong mengenai tenggang waktu yang dipakai Kyungsoo untuk melamun tadi.
"Memang hyung sedang ngelamunin apasih?" Tao menopang dagunya dengan satu tangan.
"Itu.. aku..bukan apa-apa kok, aku gak sedang ngelamunin apa-apa"
Tao tersenyum jahil melihat reaksi Kyungsoo yang menurutnya berlebihan itu, jadi dia mengambil kesimpulan bahwa Kyungsoo sedang melamunkan Jongin, sangat kentara dengan rona merah di pipi si pria mungil ketika Tao bertanya tadi.
"Oh, ini tentang Jongin hyung ya?" Tao menaikan sebelah alisnya
Dan Tao mendapati bola mata Kyungsoo membulat sempurna ketika pemuda berbibir kucing itu dengan sangat-sangat dan sangat benar menebaknya.
"Tu kan! Kau sedang melamunkan apa? Jangan-jangan tentang..."
"Apaan sih! Siapa juga yang ngelamunin orang item yang suka ngingkarin janji kayak Jongin itu!"
Tao mengangguk-ngangguk sok paham, padahal dia tau kalau Kyungsoo sekarang telah merona sampai ketelinga-telinganya. Tadinya Tao hendak kembali menggoda pemuda mungil yang lebih tua darinya itu, sebelum bunyi lonceng dari pintu caffe terdengar, disertai sebuah pelukan pada bahunya.
"Hey my panda~"
Suara berat itu mengintrupsinya, disertai dengan mencuatnya surai-surai blonde milik si pemilik suara, sontak membuat Tao berbalik.
"My lovely gege!" Tao berteriak senang, dengan cepat ia melingkarkan lengannya di belakang leher si blonde.
"Yak! Yak! Ini tempat umum bodoh! Tak usah ber-lovey dovey disini juga!"
Kyungsoo memasang wajah super sebal kepada kedua manusia yang tengah rangkul-rangkulan dihadapannya, tak tahukah mereka kalau Kyungsoo itu sedang tersiksa, dia merindukan Jongin-nya tapi yang dirindukan malah tidak tau masih berpijak di tanah atau tidak.
"Hai Kyung"
Kyungsoo masih memasang wajah masam ketika si pria blonde-Kris- menyapanya.
"Hai juga bule!" Kyungsoo membalas sapaan itu ogah-ogahan
Well, banyak yang terjadi selama rentang waktu 3 tahun ini. Salah satunya adalah mengenai Kris yang sekarang telah resmi menyandang mantan tunangan Kyungsoo dan berganti status menjadi pacar super-duper obsesive nya Tao. Pria yang memiliki darah Kanada itu memutuskan untuk menyerah kepada Kyungsoo, tentu itu membuat Kyungsoo lega setengah mati, tapi Kyungsoo itu bukan tipe orang yang tidak bertanggung jawab, setidaknya setelah ia menolak Kris dia tidak mau pria blonde itu jadi stress apa lagi bunuh diri.
Semua berjalan seolah memang sudah ada sekenario yang ditulis Tuhan untuknya, Kyungsoo tak benar-benar tahu tanggal berapa atau hari apa, kala itu ia memutuskan untuk mengajak Kris jalan-jalan sore, saat itu ayah Kyungsoo belum tau kalau hubungan mereka berakhir. Kyungsoo memutuskan untuk singgah di sebuah caffe yang ia dengar dari temannya punya pelayanan yang ramah serta sajian coffe-nya yang tidak bisa diremehkan.
Kyungsoo dan Kris saat itu duduk dengan begitu canggung, Kyungsoo yang sibuk dengan hot americano-nya dan Kris yang sedang menunggu cold cappucino-nya. Kyungsoo agak mengerenyit aneh juga mendengar pesanan Kris, mengingat saat itu sudah masuk musim gugur dan suhu diluar sudah mendekati nol. Tapi pemuda blonde itu tetep kekeuh memilih minumannya di hidangkan dalam keadaan dingin. Itu jugalah yang membuat pelayan di caffe itu bingung, sedangkan saat itu mereka tak punya cadangan es batu sekalipun. Kyungsoo terus menghitung waktu, tapi pesanan Kris tak juga datang, dengan takut-takut ia menilik ekspresi Kris dan benar saja, pemuda itu sudah memasang wajah tak bersahabat. Kyungsoo menghela napas lega ketika salah satu pelayan datang ke meja mereka, kali ini bukan pelayan yang tadi. Seorang pelayan dengan tinggi yang hampir menyamai tinggi Kris, ya..setidaknya itu yang bisa Kyungsoo analisis.
"Maaf tuan, kami kehabisan stock es batu. Kami juga tidak menduga bahwa anda akan memesan ice-capuccino di suhu sedingin ini"
Pelayan itu tengah mengajak Kris berbicara, mengenai keputusan pemuda itu yang ingin tetap memesan atau tidak, mengingat caffe ini tak punya es.
"Aku tak mau tau! Kalau aku mau ice-cappucino, maka kalian harus menyiapkannya. Kalian benar-benar tidak profesional" Kris mencebik tanpa menatap si pelayan.
"Saya bisa saja memberikan anda ice-cappucino . Tapi, maukah anda menunggu kurang lebih 30 menit lagi agar air-nya membeku Tuan?" pelayan itu menambahi
"Tidak!"
Kyungsoo yang sedari tadi melihat percakapan mereka tampak bergidik ngeri. Ini tidak baik, batinnya.
"Kalau begitu silahkan anda minum cappucino panas ini tuan yang banyak permintaan!"
Kyungsoo membulatkan matanya ketika tiba-tiba si pelayan berteriak ke arah Kris. Dia juga melihat rahang Kris yang mulai mengeras, pertanda bahwa si pelayan berhasil memancing si pemuda blonde. Pelayan itu meletakkan cangkir berisi cappucino panas di atas meja dengan gerakan kasar, walau tak cukup kasar untuk membuat isinya berceceran dimeja. Pelayan itu menunduk sebentar lalu hendak beranjak, namun langkahnya terhenti ketika sebuah tangan menariknya mundur.
"Berani sekali kau berlaku padaku!"
Suara baritone Kris menggema, sedangkan si pelayan yang tangannya tengah ditahan oleh Kris tidak bergeming, dia tidak berbalik. Merasa tak ada sahutan, Kris dengan cepat membalikan tubuh si pelayan tinggi itu, menarik kerah kemeja kerjanya. Kyungsoo hanya bisa berdoa untuk keselamatan si pelayan agar selamat dari bogem mentah Kris. Tapi detik-detik selanjutnya berlalu dengan begitu tenang bagi Kyungsoo, setidaknya ada pekikan kesakitan yang ia dengar, tapi tak kunjung ada. Jadi dia memberanikan diri untuk membuka mata, ketika melihat pemandangan di hadapannya, Kyungsoo hendak tertawa jika dia tidak mengingatkan dirinya sendiri bahwa saat ini ada privasi orang lain yang sedang berjalan.
Kris membeku, tatapan matanya yang marah tadi menguap entah kemana, cengkraman tangannya pada tangan dan kerah kemeja kerja si waiters mengendur.
"Apa yang tuan tunggu? Bukankah tuan tadi mau memukul saya?" Si pelayan bertanya sakratis
Dan seperti orang dungu, Kris hanya diam, bola mata pemuda chinese-canadian itu tak lepas dari wajah si pelayan. Dengan tergagap ia bertanya.
"Si-Siapa na-namamu?"
Kening si pelayan berkerut bingung. Namun ia tak menolak untuk menjawab.
"Tao"
Kemudian kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut tuan banyak tingkah di depannya membuat si pelayan terbakar. Benar-benar terbakar.
"Aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama, Tao—"
Semburat merah tipis menghiasi pipi Kris yang kedinginan.
"—Aku Jatuh cinta padamu, Tao"
Tao terbakar, dengan api dan amarah. Sebuah tamparan hinggap di pipi kiri Kris, dan siraman cappucino-nya yang untungnya sudah mulai mendingin. Kemudian Tao pergi dengan umpatan sepanjang jalan.
"Dasar pemuda gila!" Dia mengatai Kris.
Dan tawa Kyungsoo saat itu ta bisa terbendung lagi.
Begitulah, tau-tau sebulan setelah kejadian siram-tampar itu nyatanya Kris telah berhasil mengambil hati Tao.
.
.
.
"Woah! Kyung, kamu galak banget sih!" Kris menatapnya seolah-olah Kyungsoo itu adalah guru kedisiplinan di sekolahnya, padahal itu akal-akalan si pemuda blonde supaya ia bisa berlindung dibalik bahu kekasihnya –Tao-.
Kyungsoo hanya bisa memutar bola matanya bosan.
"Jangan pasang wajah menakutkan begitu Kyung, sebentar lagi Jongin tiba,kok"
Mendengar nama Jongin disebut, mau tak mau mengambil seluruh perhatian Kyungsoo, tadinya pria mungil itu mau bertanya 'mana?' pada Kris. Namun ia urungkan, karena manik matanya telah menangkap seseorang yang berjalan memasuki caffe. Itu Jongin.
Mata Kyungsoo tak bisa lepas dari sosok tan yang tengah memasuki caffe, sebenarnya Jongin berjalan dengan apa adanya, yah.. maksudnya, pemuda itu tak sengaja melambat-lambatkan langkahnya ke meja Kyungsoo. Tapi entahlah, Kyungsoo merasa gerakan Jongin yang menghampirinya itu begitu lambat, ingin rasanya ia lari ke pelukan pemuda itu segera, namun begini-begini juga Kyungsoo punya harga diri, dan lagi pula pemuda mungil itu tengah memasang siasat ngambek karena keterlambatan Jongin yang sangat keterlaluan.
Jongin tersenyum padanya, beberapa langkah lagi maka pemuda tingg itu dapat menyentuh Kyungsoo. Sungguh! Demi coffe americano-nya yang sudah tak tersisa barang setetes pun, ingin rasanya Kyungsoo membalas senyuman Jongin, lalu segera berteriak kepada pemuda itu bahwa ia sangat merindukannya. Tidak! Tidak! Mana ada orang ngambek yang mau berkelakuan manja begitu dengan orang yang membuatnya sebal kan?
"Halo sayang, lama menunggu?"
Jongin melewati Kris dan Tao begitu saja, pemuda itu langsung beringsut duduk ke kursi tepat disamping kekasih mungilnya duduk.
"Dasar! Seolah kita ini hantu saja, babe" Kris mendecih, dan Tao hanya mengangguk-angguk setuju sambil memasang raut tak suka dengan sikap Jongin yang mengabaikan mereka.
"Baiklah, Kyung. Karena Jongin sudah disini, aku mau mengambil panda manisku dulu ya, annyeong~"
Kris merapatkan tubuhnya pada tubuh Tao, Kyungsoo dapat melihat dengan jelas bagaimana sikap posesif Kris yang tengah menarik pinggang ramping Tao mendekati tubuhnya, memakaikan Tao mantelnya sambil sesekali mencuri kecupan dari perpotongan leher Tao. Mata Kyungsoo tak bisa beralih dari interaksi kedua sejoli itu sampai Tao dan Kris benar-benar hilang dibalik pintu caffe.
"Ekhem!"
Sebuah deheman terdengar, dan Kyungsoo tau dengan sangat jelas, kalau Jongin tengah meminta perhatiannya. Tapi seperti misinya diawal tadi, Kyungsoo tak akan menghiraukan Jongin. Jadi, pemuda mungil itu memilih untuk memfokuskan dirinya menatapi jendela caffe yang mulai menyajikan pemandangan tetesan salju.
"Sayang~"
Jongin merengek, Kyungsoo dapat merasakan lengan kanannya yang mulai ditarik-tarik pelan oleh Jongin.
"Kyungsoo sayang~"
Kyungsoo mulai jengah, dengan cepat ia menatap Jongin, dengan tatapan marah tentunya.
"Kamu marah ya?" Jongin bertanya takut-takut.
"Menurutmu? Kalau aku sudah menunggu disini selama 3 jam, aku harus apa? Tertawa,begitu!" Kyungsoo menjawab sinis. Lalu membuang muka lagi, menghindari tatapan memelas Jongin.
"Kyungsoo honey, mianhaeo.. jeongmal... Sumpah! Aku sangat ingat tempat dan waktu kita janjian, aku juga sudah berusaha untuk tidak terlambat, sayang"
Kyungsoo merasa bahu kanannya memberat, Jongin tengah menyenderkan kepalanya disana.
"Mencoba tidak terlambat apanya?" Gerutu Kyungsoo
Jongin mengangkat kepalanya dari bahu Kyungsoo, ini sudah ke-lima kalinya ia melanggar janji yang ia buat bersama Kyungsoo. Jongin tidak bohong, selama seharian penuh ini, bahkan hari-hari sebelum hari-H mereka berkencan, Jongin selalu ingat tempat dan waktunya, tapi selalu saja pemuda itu menemukan kendala, terutama karena sekarang ia dikejar setoran, lebih tepatnya dikejar setoran syarat-syarat oleh ayah Kyungsoo sendiri.
"Kyung, bisakah kamu mengerti aku sedikit, aku sedang menyelesaikan skripsi-ku. Jadi mau tidak mau aku harus stand by di kampus—"
"Terserah! Kamu selalu bilang begitu—"
Kyungsoo bangkit dari duduknya. Dan Jongin menatapnya dengan pandangan kaget setengah mati.
"—Pokoknya, aku mau pulang!"
Dengan atau tanpa persetujuan Jongin, Kyungsoo melenggang begitu saja dari caffe. Sedangkan Jongin tak kalah sigapnya, pemuda itu langsung bangkit mengejar Kyungsoo.
"Kyungsoo! Kyungsoo! Tunggu!"
Baiklah, ini bukan seperti yang Jongin harapkan. Sejujurnya, tubuhnya sekarang sudah sangat-sangat lelah. Dan sekarang sudah malam, bersalju pula, namun bukannya istirahat dan menghangatkan diri di depan pemanas, pemuda itu harus berkejar-kejaran dengan kekasih mungilnya yang tengah ngambek berat. Tapi bukan Kim Jongin namanya kalau menyerah begitu saja, bagaimana pun ia telah ditakdirkan menjadi seorang seme dari seorang Kyungsoo, jadi secepat-cepatnya si mungil berlari akhirnya akan jatuh juga ke pelukan sang seme.
"Kyung! Hosh..hosshh.."
Dan dia berhasil menggenggam tangan Kyungsoo hingga acara pelariannya berhenti. Bubungan uap dingin berhembus dari mulut Jongin, agak kesulitan juga ia mengatur napas dicuaca sedingin ini.
"Kumohon jangan marah"
Kyungsoo tak meresponnya. Jongin mengarahkan kedua telapak tangannya untuk menyentuh kedua sisi pipi Kyungsoo, membuat si mungil menatap padanya.
Jongin tersentak kaget ketika permukaan tangannya merasakan sesuatu yang basah dari pipi Kyungsoo yang sebenarnya berasal dari mata bulat Kyungsoo.
"Kyung, kenapa menangis?" Jongin bertanya lembut sembari menghapus jejak air mata Kyungsoo dengan pelan. Rasa bersalah kembali melingkupinya, Jongin berfikir bahwa tangis Kyungsoo itu karena sang kekasih sudah terlalu kesal akan sikap Jongin yang akhir-akhir ini suka mengingkari janji mereka.
"Maafkan aku, sungguh–" Jongin merasa dia akan ikut menangis juga kalau Kyungsoo tidak berhenti menangis. "—Maafkan aku, sayang.."
Jongin terperanjat, karena tiba-tiba Kyungsoo menubrukan tubuhnya cukup keras ke dada bidang Jongin, dengan cepat kekasih mungilnya itu melingkarkan tangannya di belakang punggung Jongin. Untungnya Jongin punya keseimbangan yang cukup, jika tidak dia dan Kyungsoo pasti sudah jatuh karena serangan mendadak Kyungsoo tadi.
Jongin bisa merasakan kepala Kyungsoo yang bergerak kekanan-kekiri dalam pelukannya. Kyungsoo mendengakkan kepalanya sedikit hingga Jongin bisa melihatnya.
"Tidak, kamu tidak perlu minta maaf Jong"
Bibir Kyungsoo bergetar, antara dingin dan sesegukan bekas menangis tadi. Jongin tersenyum lalu menempelkan bibir tebalnya sebentar dengan bibir Kyungsoo.
"Kamu kedinginan sayang, dan kita masih diluar, apa kamu mau kita jadi tontonan orang?"
Sontak karena kalimat Jongin tadi, Kyungsoo mengedarkan pandangan-nya. Didapatinya beberapa orang yang tengah melintas disamping mereka melihat dengan tatapan macam-macam. Ada yang mengerutkan keningnya bingung, ada yang acuh-acuh saja, ada yang menahan tertawanya ketika melihat mereka berdua, walaupun Kyungsoo tak tahu kenapa dia dan Jongin harus ditertawakan.
"Biar! Apa perduliku!"
Kyungsoo kembali mengeratkan pelukannya pada Jongin, dan Jongin hanya bisa tertawa melihat tingkah menggemaskan Kyungsoo. Jongin melepaskan pelukan mereka lalu dengan pelan ia menggandeng Kyungsoo menuju taman yang letaknya tak jauh dari situ.
"Kurasa tempat ini lebih privasi" Gumam Jongin ketika mereka sampai. Dia kembali menarik lengan Kyungsoo ke arah bangku panjang yang ada di taman itu.
"Kita duduk disini saja Kyung" Katanya lagi.
"Jadi, bisa kau jelaskan sayang. Kenapa kau menangis tadi?"
Kyungsoo yang tadinya hanya duduk disamping Jongin, kini beringsut mendekati kekasih tingginya, kembali menyamankan diri dalam pelukan Jongin.
"Aku menangis karena..."
"Karena?" Jongin menunggu dengan jeda yang cukup lama, hingga akhirnya Kyungsoo menjawab.
"Karena aku merasa kalau aku ini bukan kekasih yang baik, akhir-akhir ini aku tahu kalau kamu sedang sibuk, tapi aku selalu memintamu menemaniku, kamu selalu menyanggupinya walaupun kamu selalu datang terlambat, dan akhirnya malah aku yang kesal dan marah-marah denganmu Jong. Aku...aku hanya merasa kalau aku ini begitu egois, padahal semua kesibukan kamu itu untuk kita juga, aku minta maaf Jongin.."
Kyungsoo merasakan tangan Jongin kini tengah membelai surainya, membuat rasa nyaman yang begitu kentara bagi Kyungsoo, serasa pemuda mungil itu akan jatuh tertidur jika Jongin tidak mendorongnya menjauh. Memang dorongan itu terlampau pelan, tapi itu cukup membuat Kyungsoo mengerutkan kening bingung, mungkinkah Jongin marah padanya?
Namun ketika ia mendengakkan tubuh untuk melihat ekspresi Jongin, tebakan Kyungsoo rupanya meleset 100%. Untuk kesekian kalinya dalam hidup, setelah perjumpaannya dengan seorang Kim Jongin, lagi-lagi Kyungsoo harus mengakui kalau dia kembali jatuh cinta pada sosok dihadapannya. Jongin tengah menatapnya, begitu dalam dan lembut, membuat Kyungsoo dapat meleleh saat itu juga, paras tan-nya yang ditimpa lampu temaran taman membuat kulit Jongin jadi sewarna madu, rambut-nya yang dibelai angin bergerak pelan membelai wajahnya sendiri. Pemuda itu, pria itu, cowok itu, yang tengah ada dihadapan Kyungsoo, hanya Jongin seorang lah yang mampu membuat seorang Do Kyungsoo bertekuk lutut hanya dengan sebuah senyuman dan sebaris kalimat sayang.
"Jangan berfikir begitu Kyung, kamu adalah kekasih terbaik yang pernah aku miliki"
Jongin mendekat, tangannya yang lebar kembali membelai pipi Kyungsoo, membuat Kyungsoo memejamkan mata, meresapi setiap kehangatan dari seorang Kim Jongin.
"Kamu tahu? Hari ini aku berjanji tidak akan pernah melanggar janji pertemuan kita lagi"
Kalimat Jongin itu sontak membuat Kyungsoo membuka matanya. "Maksudmu?" Tanya Kyungsoo bingung.
Jongin menarik tangannya dari pipi Kyungsoo, beralih pada saku mantelnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dan langsung menyerahkannya pada Kyungsoo.
"Bukalah" Pinta Jongin. Dan Kyungsoo hanya bisa menurut, dapat Kyungsoo lihat dengan jelas bahwa amplop itu masih disegel. Dengan perlahan ia membuka amplop itu, hingga ia bisa melihat secarik kertas dengan warna sama putihnya di dalam.
Kyungsoo melihat Jongin sebentar. "Bacakan untukku" Kata Jongin lagi. Dan Kyungsoo kembali menurut.
"Kepada saudara Kim Jongin di tempat, surat ini dimaksudkan sebagai undangan agar dapat dipertimbangkan sebagaimana mestinya agar saudara mau bergabung dalam jajaran manager dari perusahaan kami –El Dorado corp- . Demikian surat ini dibuat, kami sangat mengharapkan anda dapat bergabung di perusahaan kami namun selayaknya kami menghargai keputusan pribadi anda. Hormat kami –El Dorado-"
Kyungsoo membulatkan matanya hingga mode maksimal ketika selesai membaca surat itu. Kemudian menatap Jongin seakan meminta penjelasan.
"Well, itu memang bukan jabatan yang terlalu besar, tapi aku yakin jika aku bekerja lebih keras mereka akan mempertimbangkanku untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi Kyung" Jongin tersenyum.
"Tapi, kuliahmu?" Tanya Kyungsoo.
"Dua bulan lagi aku wisuda sayang, kau lupa?" Jongin mencubit ujung hidung Kyungsoo gemas. "Aku akan mulai bekerja setelah tamat, yah.. itu juga jika aku mau menerima undangan pekerjaan itu.." Lanjut Jongin.
"Kenapa? Kamu tidak mau menerimanya?"
"Aku kan tergantung dengan keputusan istriku yang cantik ini" Jongin mengerling nakal, berniat menggoda Kyungsoo.
"Yak! Pabbo! Kenapa mesti tunggu keputusanku dulu? Ini kesempatan bagus Jong, kau harus menerimanya" Kata Kyungsoo berapi-api.
"Baiklah, kalau itu mau-nya my wifey~"
Kyungsoo tersenyum, dia mendekat kearah Jongin lalu mengecup kedua sisi pipi Jongin. "Terimakasih atas kerja kerasnya, sayang" Bisik Kyungsoo tepat ditelinga Jongin. Kyungsoo terkekeh kecil melihat semburat merah muda yang muncul di pipi Jongin.
"Kau begitu berani menggoda ku Nyonya Kim"
Tapi tawa Kyungsoo tak berlangsung lama, ketika didapatinya mata elang Jongin tengah mengincarnya.
"Jong! Jong! Apa yang kamu lakukan!"
Kyungsoo terperanjat kaget ketika Jongin tiba-tiba mengangkatnya tinggi-tinggi sambil mereka saling berhadapan. Sangking tingginya hingga perut Kyungsoo sudah berhadapan dengan wajah Jongin. Kyungsoo merasa kakinya sudah terlalu jauh dari tanah, dan asal tahu saja Kyungsoo itu takut ketinggian, jadi dengan takut-takut ia menengok kebawah, mendapati Jongin yang tengah menengadah keatas menatapnya.
"Jong, bisa turunkan aku, aku takut" Cicit Kyungsoo.
Dengan perlahan Kyungsoo dapat merasakan tubuhnya turun, ada sesuatu yang menggelitiknya ketika Jongin menurunkannya, pemuda itu begitu lambat bergerak jadi Kyungsoo bisa dengan jelas merasakan hangat napas Jongin yang membelai perutnya, lalu naik lagi ke dadanya, lalu ke bahunya. Namun tiba-tiba Jongin berhenti menurunkannya. Menyejajarkan bibir mereka agar saling berhadapan. Jika biasanya Kyungsoo akan mendengak, kali ini tidak. Karena Jongin masih setia menopang tubuh Kyungsoo agar tetap menggantung di udara agar bibir mereka dapat bertemu dalam garis yang sama.
Jongin yang memulai pertama kali. Tangannya masih ia simpan dibelakang pinggang Kyungsoo agar sang kekasih dapat menyamai tinggi tubuhnya. Sebelum memulai penyatuan bibir mereka, Jongin lebih dulu menghembuskan napas hangatnya tepat di depan bibir kissable Kyungsoo, membuat sang kekasih secara refleks membuka belah bibirnya, dan Jongin tersenyum karena itu. Pemuda tinggi itu mulai menyesap bibir bawah Kyungsoo, membasahinya dengan salivanya sendiri, sedangkan Kyungsoo mulai mengikuti permainan Jongin dengan menyesap bibir atas si pemuda tan. Mereka terus saling melumat hingga akhirnya Jongin beralih pada bibir atas Kyungsoo, dan Kyungsoo yang menciumi belah bibir bawah Jongin. Merasa cukup, lidah Jongin dengan mudah masuk ke dalam rongga hangat Kyungsoo, mengeksplorasi segala yang ada di dalam mulut sang terkasih, mulai dari gusi Kyungsoo, deretan giginya yang berasa seperti permen mint hingga Jongin menemukan benda tak bertulang yang akan segera ia ajak bertarung. Lidah Jongin dengan sigap menautkan lidah Kyungsoo, memutar-mutar lidah si pemuda mungil sambil sesekali menggelitik langit-langit mulut Kyungsoo.
"Nggehhh~"
Rasa ini begitu memabukkan bagi Kyungsoo, rasa yang membuat ia ketagihan dan ketagihan terus selama ia berciuman dengan Jongin. Kyungsoo berusaha untuk mengimbangi ciuman Jongin, tapi apa mau dikata, uke hanyalah uke, maksudnya mau berbagi kenikmatan eh, malah Kyungso ngos-ngosan sendiri.
"Jonghhhh~"
Cekraman tangan Kyungsoo pada dada Jongin mengerat, pertanda bahwa ia sudah tak sanggup lagi melanjutkan ciuman mereka. Dan Jongin menuruti permintaan dari sang kekasih, dengan perlahan dan tidak rela ia melepaskan tautan bibir mereka.
Sedangkan Kyungsoo bertingkah bagai ikan yang tengah terdampar di darat, bibirnya yang penuh terbuka lebar, meraup oksigen sebanyak yang ia mampu.
Bibir Jongin mendekat lagi, Kyungsoo seakan sudah mengantisipasi, mendorong dada Jongin menjauh.
"Aku hanya mau membersihkan bibirmu,sayang"
Jongin mendekat lagi, dengan sensual ia menjilat bibir bawah Kyungsoo lalu beralih pada bibir atasnya.
"Apa itu yang kamu sebut dengan 'membersihkan'?" Kyungsoo cemberut, inisih namanya akal-akalan Jongin saja supaya bisa mencicipi bibir manis Kyungsoo lagi.
Jongin terkikik, lalu menempelkan kening mereka berdua. "Ya begitulah.." Jongin tersenyum jahil.
"Kamu tahu, aku ini sudah kecanduan bibirmu yang manis itu" Kini Jongin menggesek-gesekan hidungnya dengan Kyungsoo.
"Aku tahu, kamu kan memang mesum" Kyungsoo membalasnya dengan mencuri satu ciuman pada ujung hidung Kyungsoo.
"Tapi kamu suka aku kan?" Jongin mengedipkan matanya
"Tidak!" Kyungsoo menggeleng imut
"Eh? Kok gitu?" Jongin mendadak kaget dengan jawaban Kyungsoo, padahal beberapa detik yang lalu kekasihnya ini begitu menikmati perlakuannya.
"Aku tidak suka, aku cinta" Kyungsoo menunduk malu-malu.
"Oh Kyungsoo sayang, kalau aku tidak ingat janjiku padamu dan ayahmu sebagai seorang lelaki, mungkin aku sudah memperkosamu saat ini juga, kamu begitu imut sayang"
Kyungsoo melotot mendengar kalimat Jongin barusan. "Yak! Dasar mesum! Turunkan aku!" Tiba-tiba Kyungsoo berontak dari gendongannya, Jongin merutuki dirinya yang tidak bisa menjaga bicaranya, Tuh kan! Kyungsoo ngambek lagi.
"Bukan begitu maksudku, honey"
"Lepas! Aku tidak mau dekat-dekat sama orang mesum"
Agak kewalahan juga Jongin dengan berontakan Kyungsoo. Tapi bukan Jongin namanya kalau tidak punya 1001 cara untuk menenangkan Kyungsoo.
"Hmm? Kamu beneran mau turun?" Jongin mendekatkan mulutnya pada telinga Kyungsoo, dan pemuda tan itu langsung menyeringai ketika Kyungsoo berhenti bergerak, hal selanjutnya yang dilakukan Jongin adalah meniup-niup telinga Kyungsoo hingga membuat tubuh kekasih mungilnya kaku.
"Geli Jongin"
Tawa Jongin kembali menggelegar ketika Kyungsoo tiba-tiba merangkul pundaknya, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Jongin.
"Baik..baik.. aku tidak akan melakukannya lagi—"
"—Kyung?" Merasa dipanggil, Kyungsoo tiba-tiba mendengakkan tubuhnya, kembali menatap Jongin.
"Ya?" Kyungoo menjawab seadanya.
"Besok pagi aku akan menemui ayahmu, doakan aku berhasil sayang" Jongin mengecup kening Kyungsoo sebentar.
"Aku akan selalu mendoakanmu Jong, cepatlah terima restu dari ayah dan nikahi aku"
Kyungsoo mengecup bibir Jongin singkat.
"Secepatnya cintaku, secepatnya Nyonya Kim Kyungsoo"
Jongin menciumnya lagi, dalam temaran lampu taman dan kunang-kunang yang menari disekitar mereka. Kyungsoo tersenyum diantara hangat napas Jongin yang membelai wajahnya.
Awalnya ia begitu bingung bagaimana akhirnya dia dengan Kim Jongin, apakah Jongin nantinya hanya akan jadi cameo di kehidupannya atau pemeran utama, apakah mereka akan berakhir dengan setatus just friend atau just married. Dulu, dulu sekali Kyungsoo tidak tahu akan berakhir sebagai apa ia dengan Kim Jongin. Namun sekarang dia tahu bahwa Jongin bukan hanya pemeran utama dalam kisah hidupnya, tapi juga pemegang kendali hatinya, bukan hanya teman baginya tapi juga belahan jiwanya selamanya. Dia mencintai Jongin dan Jongin pun sebaliknya. Begitu selalu, selamanya.
"Aku mencintaimu Jongin"
"Yah, aku tau sweetheart. Aku lebih-lebih mencintaimu, Nyonya Kim"
.
.
.
.
.
.
JUST FRIEND
END!
.
.
.
Apa ini?! Gw kena diabetes gara-gara ngeliat scene yang manis-manis dari KAISOO!
Berakhir dengan 7.121 words. Fiuuuhh~ akhirnya selesai juga OTP gw ini. Jujur author berpikir buat adain sequel, tapi liat permintaan pembaca dulu. Dan author juga minta maaf kalau ada kesamaan cerita dengan cerita milik author lain atau ada yang ngerasa janggal, maaf banget karena author juga manusia biasa. Pokoknya apapun yang terjadi author tetep bakal jadi number 1 –nya KAISOO shippers, berdoa aja semoga mereka beneran kayak gini didunia nyata *nangis terharu bareng Kaisoo shippers*
Makasih untuk semua yang udah mau follow, favorite dan review. Semua yang kalian lakukan itu bagaikan tenaga tambahan bagi author loh.
Well, segini dulu ya bacotannya, nantikan karya-karya saya yang lain ^^
Yorobun, anyeong~ *buing*
.
.
.
