"Apa yang dia tanya barusan? Dan..."Kuroko melihat pergelangan tanganya yang memerah"Sakit, dia mencengkramku dan seakan ingin mengatakan hentikan pertunangan ini bukan hentikan perananku"
"Jika kau merasa begitu hentikan semua ini, Tetsuya!"Kuroko melebarkan matanya heran. Apa yang sebenarnya Akashi inginkan dari Kuroko.
Heart Feeling
Tittle : Heart Felling Chap 2 - END
Author : Se11y4
Genre : Yaoi, Romance, Etc
Leght : Twoshot
Cast :
Kuroko Tetsuya
Akashi Seijuro
Kise Ryota
Midorima Shintarou
Aomine Daiki
Murasakibara Atsushi
Shigehiro Ogiwara
Happy Reading ^^
Kuroko membuka matanya perlahan saat dia merasakan cukup lama memejamkan matanya hari ini bahkan satu pelajaranpun tidak dia ikuti. Mata Kuroko memandang langit-langit ruang UKS yang sejak tadi beralih menjadi kamar tidurnya sementara. Kuroko mencoba untuk bangun dan duduk. Dia masih merasakan sakit di bagian kepalanya walaupun rasa mual itu telah hilang.
"Sudah jam berapa ini?"Gumam Kuroko.
"Jam 5 sore, jika kau merasa lebih baik ayo kita pulang"Kuroko langsung memandang arah pintu yang saat ini berdiri sosok yang setiap hari dia lihat. Mungkin tidak hanya setiap hari, bahkan setiap jam karena mereka selalu bersama dari apartemen mereka hingga kelas dan bangku mereka.
"Akashi-Kun...?"Akashi berjalan kearah Kuroko sambil membawakan tasnya.
"Ayo kita pulang"
"Hm"Kuroko langsung memasang sepatunya dan membereskan buku yang dari tadi menemaninya. Akashi yang melihat Kuroko sudah selesai keluar dari ruang yang berukuran cukup besar untuk ruang kesehatan itu. Sepanjang jalan Akashi melirik kearah Kuroko yang berada di sampingnya mencoba bertanya apa yang dia simpulkan tadi siang, tapi ada rasa ragu jika pun jawaban dari Kuroko sudah dia dapatkan.
Sesampainya Kuroko di Apartemen dia mengucapkan terimakasih pada Akashi dengan gayanya yang sopan kemudian meninggalkan pria berparas tampan itu di depan Apartemenya. Sedangkan Kuroko memilih masuk ke dalam lebih cepat dari biasanya.
"Huft...masih 37 derajat. Apa yang harus aku lakukan? Besok haruskah aku tidak masuk sekolah? Tapi, besok ada ujian sejarah dan tidak mungkin aku menyusul lagi pula, hari ini sikap Akashi-kun berbeda. Apa yang terjadi padanya?"Kuroko membiarkan tubuhnya berbaring di atas sprey berwarna biru muda dengan motiv yang sederhana sedangkan tubuhnya terselimuti kain tebal yang dia bawa dari rumah. Matanya berulang kali berkedip saat merasakan panas ketika dia menatap cahaya lampu kamarnya. Sampai akhirnya Kuroko benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Kringgg!
Kuroko terkejut saat jam berkernya berbunyi, di hari yang biasa dia akan lebih dulu bangun sebelum jam bekernya tapi, kali ini Kuroko bergegas menuju kamar mandi dan bersiap untuk sekolah"Ah, gawat aku terlambat. Akashi-Kun pasti sudah menungguku"Gumam Kuroko dalam hati saat baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan segera mengambil seragam yang akan dia kenakan. Kuroko bahkan mengkancing bagian bawah bajunya hingga 2 kancing bagian atas masih terbuka. Dia juga tidak memakai jas dan dasi sekolahnya"Aku harus cepat jika tidak..."Kuroko melebarkan matanya saat pintu yang dia buka memunculkan Akashi tepat di depan matanya.
"Aku kira kau masih sakit dan tidak berangkat sekolah"
"Aku, aku baik-baik saja Akashi-Kun. Aku akan berangkat sekolah hari ini"
"Jangan membohongiku seperti kemarin"
"Tapi, aku benar..."Kuroko semakin melebarkan matanya kaget ketika tangan kanan Akashi mendarat di keningnya. Mata mereka beradu pandang dengan cara yang berbeda. Jangtung mereka mulai mengacu dengan waktu saat pertemuan singkat ini terjadi. Walaupun setiap hari tapi, ada yang berbeda di antara keduanya hari ini.
"Demamu sudah turun, aku rasa hari ini kau akan baik-baik saja"Akashi melepas tanganya lalu berjalan meninggalkan Kuroko yang sibuk mengkancing baju dan memakai jasnya.
Teikou Koukou, 07 : 55
Classroom 2-1
"Ah, Yokatta. Kurokocchi sudah sehat lagi"Kise mulai bersorak senang.
"Arigatou Kise-Kun"Jawab Kuroko
"Hoy, Tetsu dia senang bukan karena kau sembuh tapi, karena dia bisa mencontekmu nanti"Ejek Aomine.
"Aominecchi! Aku bukan orang seperti itu"Bela Kise
"Kisechin terakhir kali mendapatkan nilai sejarah 30 point paling bagus"Muraskibara tak mau kalah dengan Aomine. Hingga mengundang tawa kecil dari beberapa orang yang ada di dalam kelas 2-1
"Murasakibarachhiiii! _"
"Kise! Jika kau terus seperti ini kau tidak akan masuk Universitas. Berpikirlah sendiri jangan mengambil pikiran orang lain"Bahkan seorang Midorima Shintarou juga membela ejekan kedua temanya.
"Ha? Mengambil pikiran orang lain?"Tanya Kise heran.
"Kise!"Akashi bersuara.
"Ah!, Gomen Akashicchi. Aku tidak akan menganggu konsentrasi belajarmu. Gomen"Kise melakukan wink di depan Akashi hingga membuat yang lain mengalihkan pandangan mereka karena itu sejarahpun di mulai mereka tampak berkonsentrasi dengan soal yang akan mereka kerjakan selama 2jam kedepan. Akashi, Kuroko, Aomine dengan kemampuan mereka. Kise dengan keahlian menconteknya, Muraskibara dengan sisa otak dan makananya dan Midorima dengan pensil Dewa pemalas miliknya.
2 Jam kemudian
Mereka langsung beriap untuk pulang lebih awal karena ujian kali ini para guru akan mengadakan rapat dan besok Ujian ketiga akan di adakan dengan mata pelajaran Bahasa Inggris.
"Akhirnya...! aku seperti lolos dari maut. Iyakan Kurokocchi?"Tanya Kise langsung berbalik ke bangku Kuroko.
"Aku biasa saja"
"Uh, Kurokocchi selalu tidak sependapat denganku"
"Bagaimana juga pendapatmu itu aneh, Kise!"Akashi mengemasi barangnya dan segera keluar dari kelas di ikuti yang lainya. Kuroko melihat Akashi yang belum berbicara denganya sejak kelas di mulai. Kurko segera menyusul Akashi yang menuju parkiran untuk pulang. Kuroko masuk ke dalam mobil Akashi yang berwarna merah itu sambil menatap wajah Akashi yang menurutnya hari ini begitu berbeda"Akashi-Kun tadi pagi baik-baik saja tapi, kenapa sekarang berubah? Apa yang dia pikirkan?"Batin Kuroko hingga Akashi menjalankan mobilnya tidak ada pandangan balasan dari Akashi. Padahal sejak tadi Kuroko memperhatikanya.
"Tetsuya, sampai kapan kau akan melihatiku?"Pertanyaan Akashi membuat wajah Kuroko memerah dan melempar pandanganya keluar jendela mobil.
"Gomen Akashi-Kun"Jawab Kuroko.
"Aku tidak marah padamu, tapi aku bertanya. Kenapa kau melihatiku?"Akashi kali ini yang melihat kearah Kuroko yang mengalihkan pandanganya. Kuroko pun mencoba menjawab Akashi dengan menatap Akashi yang sesekali melihat ke depan sambil menyetir mobil.
"Akashi-Kun, apa yang kau pikirkan? Hari ini kau hanya diam dan tidak menyapaku di dalam kelas. Ada apa?"Kuroko mulai mengeluarkan pertanyaan yang dari tadi tersembunyi di dalam pikiranya.
"Kenapa?"Tanya balik Akashi.
"Itu harusnya yang aku tanyakan padamu, Akashi-Kun"
"Apa kau mulai menyukaiku?"Akashi melihat kearah Kuroko yang langsung menyemburkan wajah yang merah karena pertanyaan Akashi.
"A-A-pa yang k-kau katakan?"
"Apa kau mulai menyukaiku?"Akashi mulai memperjelas kalimatnya. Kuroko masih terdiam. Akashi tiba-tiba menghentikan mobilnya dan membalas pandangan Kuroko yang penuh dengan kebingungan."Jika, kau masih belum bisa menjawabnya kenapa kau membaca buku itu? Buku yang aku temukan di ruang kesehatan saat kau tidur. Apa kau mencari tau perasaanmu terhadapku, Tetsuya?"Lanjut Akashi bertanya.
"Apa aku menyukai Akashi-Kun? Apa yang dia tanyakan? Jika dia bertanya demikain seharunya akupun bertanya hal yang sama. tapi, apa ini? bahkan menjawab saja aku tidak bisa. Apa benar aku menyukai, Akashi-Kun?"Kuroko terus saja bertanya pada dirinya sendiri, sedangkan Akashi masih mencoba memaksa Kuroko untuk menjawab yang sebenarnya.
"Tetsuya..."
"Gomen, Akashi-Kun. Aku tidak bisa menjawabnya"Kuroko menundukan kepalanya sambil membalas dengan nada yang begitu lirih, jika saja mereka berada di luar mobil mungkin Akashi tidak akan mendengarnya.
"Baiklah, aku akan meyakinkanya sekali lagi padamu"
"Hah?"Akashi langsung mencium bibir Kuroko hingga Kuroko melebarkan matanya untuk yang kesekian kali karena terkejut. Tangan Kuroko mencoba mendorong tubuh Akashi tapi, tangan Akashi mencengkram erat tangan Kuroko kearah sandaran Kursi mobil. Akashi melepas ciuman tiba-tiba itu dari Kuroko saat dia merasakan tidak ada ruang lagi untuk bernafas.
"Akashi-Kun, apa yang kau lakukan?"Tanya Kuroko heran.
"Aku ingin kau menjawab pertanyaanku"Jawab Akashi
"Tapi, apa dengan cara menciumku?"
"Iya, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menemukan jawaban darimu"Akashi kembali menjalankan mobilnya tanpa menunggu jawaban Kuroko. Kuroko terdiam dalam isi kepalanya saat ini hanya ungkapan yang tidak bisa di artikan"Kenapa ini hanya terjadi padaku? Memaksakan perasaan yang tidak aku mengerti. Apa yang harus aku lakukan?"Mereka sampai di apartemen dengan suara yang sunyi. Kuroko berjalan melintasi Apartemen Akashi begitu saja, sebelum Kuroko masuk. Akashi mencoba bicara hal yang sama.
"Tetsuya, jika kau menemukanya kau harus mengatakanya padaku"Ujar Akashi sambil membuka pintu. Kuroko terdiam dan masih memegang kuncinya.
"Ini tidak adil"
"..."
"Akashi-Kun, kau memaksaku untuk mencari tau bagaimana perasaanku padamu. Tapi, apa kau pernah melihatku mencoba memaksamu untuk mencari tahu perasaaanmu terhadapku? Ini sungguh tidak adil"Ucapan Kuroko membuat Akashi tertegun. Kuroko masuk ke dalam Apartemennya dengan meninggalkan suara keras dari pintu yang dia buka. Sedangkan Akashi masih terdiam dan berpikir apa yang Kuroko barusan katakan padanya. Dibalik pintu Kuroko menutup matanya erat ada rasa sakit yang tiba-tiba menyeruak ke dalam tubuhnya, matanya terasa panas hingga mengeluarkan air mata yang sebelumnya tidak dia sadari.
Ddddddrrrrrrr
HP Kuroko berbunyi sebuah pesan masuk dan dia melihat ada nama Ogiwara-Kun di dalam layar Hpnya.
To : Kuroko
Kuroko, aku baru saja pulang dari London
Aku akan mampir ke Apartemenmu
Jadi, tunggu aku ya
Jangan tidur lebih awal. Aku membawakanmu oleh-oleh
From : Ogiwara-kun
To : Ogiwara-Kun
Akhirnya Ogiwara-Kun kau pulang ke Japan.
Tapi, apa kau tau aku dimana sekarang?
From : Kuroko
Kuroko membalas pesan dari teman lamanya itu sambil berjalan menuju kamar dan berganti baju setelah beberapa menit HP Kuroko kembali berbunyi sebuah pesan balasan lagi dari Shigehiro Ogiwara yang sudah 2 tahun meninggalkan Japan dan tinggal di London.
To : Kuroko
Tentu saja
Aku mendapatkan alamatnya dari ibumu
Dia juga senang melihatku datang, aku membawa oleh-oleh untuk ibu, ayah dan nenekmu
Dan untukmu juga. Awas jangan sampai aku menunggumu membukakan pintu
From : Ogiwara-Kun
To : Ogiwara-Kun
Baiklah
Sampai ketemu Ogiwara-Kun
From : Kuroko
Akashi duduk di ruang tamu dan mengingat apa yang Kuroko katakan padanya sebelum masuk ke dalam Apartemen. Akashi melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 8 malam. Dia berdiri dan menuju keluar Apartemen, dia bermaksud untuk membeli makan di Supermarket tapi, Akashi melihat Seseorang masuk ke dalam Apartemen Kuroko saat dia keluar"Siapa dia? Aku seperti pernah melihat dia sebelumnya. Iya waktu SMP dia teman Tetsuya. Untuk apa dia datang kemari?"Hati Akashi mulai bergumam. Dia kembali masuk ke dalam apartemenya.
Sedangkan di dalam Apartemen Kuroko, dia menyambut kedatangan teman lamanya itu sambil menyiapkan beberapa piring yang Kuroko letakann di meja.
"Apa ini?"Tanya Ogiwara.
"Piring"Jawab Kuroko singkat
"Iya, aku tau. Tapi untuk apa?"
"Oleh-oleh yang kau berikan untukku"
"Hahahaha, jadi kau menyiapkan piring saja? Aku kira ada makanan yang lain yang akan kau siapkan"Ogiwara menaruh makanan yang dia bawa di atas piring.
"Aku tidak bisa memasak"
"Aku tau setidaknya kau belikan aku di supermarket"
"Terlalu jauh"
"Baiklah, baiklah tidak perlu membahasnya lagi"Ogiwara duduk sambil melihat Apartemen yang Kuroko tinggali sendiri"Kenapa kau tinggal di sini?"Tanya Ogiwara.
"Apa ibu tidak mengatakan apapun padamu?"
"Tidak, dia hanya memberikan alamat ini"
"Oh, aku pindah kemari karena..."
"Karena Tetsuya sekarang adalah Tunanganku"Ogiwara dan Kuroko terkejut saat mendengar ada suara lain yang datang dari pintu masuk. Akashi masuk ke dalam Apartemen Kuroko begitu saja lalu berjalan kearah Kuroko dan merangkulnya. Kuroko terdiam dan bingung di hadapan Ogiwara.
"Tunangan?"
"Iya, apartemenku di sebelah dan aku juga masuk dengan muda karena kunci Apartemen Tetsuya juga ada padaku"
"Kau bertunangan Kuroko?"
"Hm"
"Ah, Omedetou Gozaimasu. Aku pernah melihatmu?"Ogiwara melihat kearah Akashi.
"Tentu saja, saat pertandingan dan kau ingin menjenguk Tetsuya tapi, aku menghalangimu"
"Ah, Akashi Seijuro. Kiseki no sedai Kapten"Tebakan Ogiwara tepat.
"Benar, duduklah, anggap saja kita sekarang merayakan hari pertunanganku dan Tetsuya"Akashi melepas rangkulanya dari Kuroko dan malah menggandeng tangan Kuroko lembut. Ogiwara yang melihat menghela nafas berat lalu menuruti apa yang Akashi katakan padanya. Dia duduk dan menikmati pemandangan yang sejujurnya tidak ingin dia lihat.
"Kuroko adalah anak yang pendiam"
"Aku tau"
"Dia suka sekali dengan basket dan Vanila Shake"
"Aku juga tau"
"Dia juga sangat pintar melakukan Misdirection"
"Akupun tau itu"
"Tapi, apa kau tau siapa yang Kuroko sukai selama ini?"
"..."
"Ah, harusnya aku tidak bertanya ini"
"Apa maksud pertanyaanmu?"Akashi terlihat memendam amarahnya saat penjelasan datang padanya dengan pertanyaan yang sulit dia pahami di akhir kata yang Ogiwara ucapkan.
"Ogiwara-Kun"
"Kuroko,Jika kau tidak menyukainya. Aku harap kau batalkan pertunangan ini. tapi, jika sebaliknya Akashi jagalah Kuroko dengan baik. Oh, sudah malam. Aku tidak bisa lama-lama di sini karena aku belum mengunjungi keluargaku. Kuroko sampai jumpa"Ogiwara mengambil jaketnya yang dia selempangkan di kursi dan keluar, Kuroko mencoba untuk mengantarkan dan meminta maaf akan pernyataan tiba-tiba tentang pertunangannya tapi, tangan Kuroko di genggam erat oleh Akashi.
"Akashi-Kun"Panggil Kuroko.
"Apa ada orang lain yang kau sukai?"
"Akashi-Kun"
"Jangan hanya memanggil namaku. Aku butuh jawabamu"
"Aku tidak bisa menjawab, yang aku bisa katakan hanya aku mencoba mencari bagaimana perasaanku padamu"Jawab Kuroko yang menundukan kepalanya.
"Jika kau tidak menemukanya apa yang kau lakukan?"
"Tentu saja, kita akan membatalkan pertunangan ini"Akashi langsung menatap Kuroko tajam saat Kuroko masih memposisikan kepalanya tertunduk. Akashi tiba-tiba mendorong Kuroko hingga terjatuh ke sofa. Akashi kini berada di atas Kuroko sambil meletakan kadua tanganya di samping kepala Kuroko.
"Akashi-kun, apa yang kau lakukan?"
"Kau tunanganku. Jadi, apapun yang akan aku lakukan itu terserah padaku"
"Pertunangan ini hanya sebagai status. Untuk apa kau melakukannya sampai sejauh ini?"
"Itu menurutmu. Apa kau pernah bertanya bagaimana menurutku?"
"Apa?"
"Aku menyukaimu, Tetsuya"Kuroko melebarkan matanya tepat di depan Akashi yang perlahan menurunkan wajahnya hingga bibir Akashi menyentuh bibir lembut Kuroko. Akashi melepas ciuman singkat itu dan memandang Kuroko.
"Kau mengatakan ini karena Ogiwara-Kun kan?"
"Iie,karena ini yang aku rasakan"
"Tidak mungkin"
"Ini perasaanku Tetsuya, aku memang memaksamu dalam kebimbanganku terhadap apa yang kau rasakan padaku. Tapi, aku yang bodoh memprioritaskan gengsiku. Tapi, lebih lama aku dekat denganmu semakin aku tidak ingin membiarkanmu"
"Akashi-Kun, aku..."Sekali lagi Akashi mencium Kuroko hingga Kuroko menutup matanya.
"Aku menyukaimu Tetsuya"Ucap Akashi lirih saat memeluk hangat tubuh tunanganya itu. Kuroko meneteskan air matanya sambil membalas pelukan Akashi"Aku tidak tau apa ini cinta atau semacamnya tapi, jantungku berdetak kencang saat Akashi-Kun menyentuh tubuhku. Bibirku terasa manis saat bertemu dengan bibir Akashi-kun dan keberadaanya sungguh aku inginkan. Apa ini juga cinta? Akashi-Kun benarkah aku mencintaimu lebih dari kau menyukaiku?"
Teikou Koukou, 6 : 10 AM
Classroom 2-1
Kuroko dan Akashi tampak terdiam, apa yang terjadi tadi malam adalah rahasia yang hanya mereka berdua ketahui, sifat mereka akan berbeda ketika mereka berada di sekolah. Hanya teman. Itu yang terjadi saat 8 jam kedepan selama berada di kelas yang sama. Kuroko yang sedang membaca novel kesukaanya menutup novel yang sudah setengah dia baca kemudian dia berjalan kearah Akashi yang saat ini fokus membaca pelajaran.
"Akashi-Kun..."Panggil Kuroko. Akashi tidak menjawab dia hanya mengarahkan matanya pada mata biru Kuroko. "Nanti sepulang sekolah, aku akan keperpustakaan. Jadi, Akashi-Kun pulang saja duluan"Lanjut Kuroko menjelaskan.
"Aku ikut"
"Ha?"
"Aku ikut denganmu"
"Tapi,hari ini kita tidak membawa mobil. Perjalanan menuju perpustakaan jauh dari stasiun"
"Aku akan tetap ikut"
"Tapi, nanti Akashi-Kun, akan berjalan kaki jauh"
"Bukankah kau juga akan berjalan bersamaku?"Wajah Kuroko seketika langsung memerah padam. Kalimat ini seperti sebuah kata romantis yang dia ucapkan seperti tadi malam. Kuroko hanya diam menatap Akashi yang juga membalas tatapanya.
"Tapi,...Hmph"Belum selesai Kuroko bicara bibir Akashi langsung mendarat di bibir Kuroko untuk menghentikanya. Kuroko melebarkan matanya kaget, ini sekolah. Walaupun hanya ada dia dan Akashi tapi tidak menjamin siswa lain akan tiba-tiba masuk dan melihat mereka. sebelum itu terjadi Akashi melepas lembut ciumanya.
"Jika aku mengatakan ikut, aku harus ikut"Ujar Akashi yang seakan memberi perintah.
"Kurokocchiiiii Ohayo!"Kise berteriak dan langsung berlari memeluk Kuroko di depan Akashi"Ah, Akashichhi Ohayo"lanjut Kise menyapa Akashi.
"Ohayo"Balas Akashi lalu kembali duduk.
"Ohayo Kise-Kun"
"Are? Apa aku datang terlalu pagi? Aominecchi, Midorimacchi dan Murasakibaracchi belum datang?"Kise duduk sambil melihat sekeliling kelas.
"Tumben Kise-Kun berangkat pagi?"
"Ah, tadi malam aku ketiduran lebih awal, aku bermaksud untuk karaoke di dalam kamar dan sudah aku persiapkan tapi,entah kenapa aku tertidur dan saat bangun sudah pagi. Ya sudah aku berangkat sekolah saja. Oh, iya kalian juga pagi. Apa kalian berangkat bersama lagi?"
"Ya"Jawab Akashi
"Apa kalian tinggal bersama juga?"
"Ha?"Kuroko terkejut dengan pertanyaan Kise.
"Tidak"Akashi yang menjawab.
"Kalau begitu kalian pasti tetangga?"
"Iya"Jawab Akashi lagi
"Uwah... lain kali aku akan berkunjung kerumah kalian"
"Tidak perlu!"Jawab Kuroko dan Akashi kompak. Sedangkan Kise yang mendapat kejutan mendadak itu malah melihat keduanya dengan tatapan yang bingung.
"Uwah...kalian kompak"
"Tidak juga"Lagi- lagi Kise di suguhi dengan pembicaraan yang mereka katakan bersama. Kise hanya tersenyum lalu mengambil kotak makanan yang ada di dalam tas.
"Kise-Kun, kau sarapan?"Tanya Kuroko dari belakang.
"Hm, tadi pagi aku tidak sempat makan jadi aku bawa saja. Kurokocchi, kau mau?"
"Iie, Arigataou Gozaimasu. Dozou. Itadakimasu"
"Hm, Itadakimasu...!"Dengan gaya ceria Kise dia membuka bekal sarapanya dan melahap beberapa bagian yang dia sukai.
03 : 15 PM
Kuroko dan Akashi akhirnya turun dari kereta api dan berjalan menuju Perpustakaan yang Kuroko maksud. Mereka masih harus melalui jalan yang cukup panjang dengan udara yang saat ini begitu terasa panas. Dalam langkah Akashi yang menemani Kuroko sepasang mata indahnya menyusuri beberapa daerah yang bahkan belum perrnah dia lihat sebelumnya.
"Perpustakaannya masih jauh?"Tanya Akashi
"Iya, Gomen Akashi-Kun kalau kau lelah kita istirahat saja"Saran Kuroko
"Ini belum seberapa, latihan basket kita jauh lebih parah dari ini. Tapi, kenapa kau memilih perpustakaan yang jauh. Memang hanya disana buku yang lengkap?"Lanjut Akashi bertanya dengan mata yang masih mengitari tempat yang asing untuknya.
"Bukan lengkap, tapi buku yang aku inginkan ada disana. Sejak kecil aku suka membaca dan perpustakaan inilah tempat yang paling aku suka hingga sekarang. Akashi-Kun tidak pernah kemari?"Tanya Kuroko melihat Akashi yang fokus menikmati pemandangan.
"Iya, aku di besarkan dari keluarga yang hanya tau kemewahan dan peraturan. Tempat seperti ini saja aku belum pernah melihatnya"Jawab Akashi. Kuroko sedikit terkejut dengan penjelasan yang baru kali ini dia dengar"Akashi-Kun hidup dalam kemewahan. Ketika dia berjalan seperti ini bersamaku. Aku merasa jika dia bukan Akashi-Kun. Jika bukan Akashi-kun lalu siapa dia? Seijuuro kah? Tidak bagaimanapun juga dia orang yang sama Akashi Seijuuro orang yang bisa membuatku tidak bisa berpaling darinya"
Akhirnya perjalanan mereka terhenti saat Kuroko menunjukan perpustakaan yang selalu dia datangi. Tidak terlalu besar dan juga kecil. Saat Akashi masuk ke dalam ruangan yang hanya beberapa meter persegi itu, Akashi sempat berpikir buku apa yang menarik perhatian Kuroko di dalam perpustakaan yang ini. Sementara Kuroko mengembalikan buku, Akashi melihat buku yang saat ini terpajang rapi di setiap rak yang dia lewati"Ini buku yang sudah lama, mungkin di perpustakaan yang baru tidak akan ada. Wajar saja jika Tetsuya suka pada perpustakaan ini. tapi, aku baru tau kalau dia suka membaca buku yang seperti ini"
"Akashi-Kun apa kau juga mau meminjam buku?"Tanya Kuroko yang datang menghampirinya.
"Boleh, aku akan mencarinya dulu"
"Baiklah, aku menunggumu disana"Kuroko menunjukan sebuah bangku untuk orang yang datang membaca. Akashi mengangguk paham lalu kembali mencari buku apa yang akan dia baca.
Pukul lima sore, Akashi dan Kuroko kembali berjalan pulang. Matahari sudah hampir menenggelamkan dirinya dan perjalanan cukup jauh juga harus mereka tempuh untuk menuju stasiun.
"Apa kau suka kehidupanmu yang dulu?"Akashi memulai pembicaraan
"Hm? Kehidupan yang dulu?"
"Iya, ketika kau masih kecil"
"Tentu saja, ketika aku masih kecil aku adalah orang yang lugu"
"Sepertinya itu benar. Dan ketika aku masih kecil, aku adalah anak yang pendiam dan polos"
"Aku tidak percaya tentang itu"
"Kenapa?"
"Rasanya sulit aku pahami, Akashi-kun"Jawaban Kuroko membuat Akashi tertawa. Kuroko pertama kalinya melihat orang yang dia cintai tertawa begitu lepas dan menikmati setiap perjalan yang dia lalui bersamanya. Sampai percakapan itu membuat mereka menuju stasiun yang cukup padat untuk penumpang. Sore itu adalah waktu dimana para pekerja akan pulang, jadi Akashi dan Kuroko harus berusaha mendapatkan tempat walaupun keduanya harus berdiri di dalam.
"Aku tidak menyangka akan sepenuh ini"Ujar Akashi yang ada di belakang Kuroko.
"Iya, tapi bagaimana lagi. Jika kita menunggu kereta selanjutnya kita akan sampai malam di rumah"Jawab Kuroko yang menoleh kebelakang Akashi sebentar. Akashi melihat Kuroko dari belakang tanpa dia sadari, seulas senyum dia tunjukan dengan wajah yang begitu sulit untuk di artikan"Kuroko Tetsuya kah? Aku bahkan tidak tau saat aku mulai menyukainya. Apa ketika pertunangan itu terjadi? Atau sebelum itu? Aku hanya tau dia adalah temanku. Bahkan dia mendapat undangan pernikahanku dengan Ana beberapa bulan yang lalu. Aku masih sekolah tapi, akan menjadi status seorang suami. Karena saat itu Ana akan pergi dariku. Dia akan meninggalkanku. Sayangnya aku terlambat untuk bersama Ana. Dan akhirnya aku bertemu Tetsuya. Ini kisah yang membuatku tidak tau harus berkata apa"
Akashi dan Kuroko lega ketika mereka turun dari kereta yang telah menyita pernafasan mereka selama beberapa menit. Tapi, untuk sampai keapartemen mereka harus kembali berjalan kaki.
"Apa akan turun hujan?"Tanya Kuroko melihat langit yang begitu gelap.
"Iya, kita harus segera pulang"Kuroko menyetujui apa yang Akashi katakan. Mereka berjalan menuju apartemen tapi, sayangnya Hujan datang lebih awal. Kuroko dan Akashi yang masih berjalan dan setengah basah memutuskan untuk berteduh di bawah pohon yang mereka lewati karena di sekitar mereka masih belum ada rumah atau tempat berteduh lainya. Yah, karena mereka masih berjarak beberapa meter dari stasiun.
"Hujan turun lebih cepat"Keluh Kuroko
"Yah, dan seperti ini akan lama"
"Apa kita naik taxi saja?"
"Baiklah, kita akan menunggu taxi yang lewat"
"Tapi, mungkin akan lama karena jarang ada taxi yang melintasi daerah ini apa lagi karena hu...Hatcchiiiiii!"Kuroko yang baru beberapa hari ini sembuh dari sakitnya mulai bersin karena udara yang ada di sekitar cukup dingin. Apa lagi baju seragam Kuroko terkena air hujan sebelum mereka mendapatkan tempat berteduh.
"Setidaknya kau harus bawa jaket dalam cuaca seperti ini"Akashi melepaskan jas seragamnya lalu dia berikan pada Kuroko.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Akashi-Kun nanti kedinginan"
"Pakai saja, aku tidak akan kedinginan selama..."Akashi menggenggam tangan Kuroko yang membuat Kuroko langsung menyemburkan raut wajah merah di depan Akashi"Aku merasa hangat. Pakai saja, aku tidak mau kau sakit lagi. Itu akan membuatku repot"Lanjut Akashi menyuruh Kuroko memakai jasnya. Kuroko memakasi jas Akashi walaupun hanya di sandarkan saja tapi, itu cukup hangat untuknya.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu Akashi-Kun"
"Apa?"
"Sejak kapan aku menyukaiku?"
"Apa aku harus menjawabnya?"
"Iya"
"Aku tidak tau"
"Tidak tau?"
"Hm, aku hanya merasakan aku menyukaimu. Itu saja. Lalu bagaimana denganmu? Aku mengungkapkan apa yang aku rasakan malam itu padamu. Tapi, kau belum membalasnya"Akashi melihat kearah Kuroko yang saat itu melebarkan matanya. Kuroko masih bingung untuk menjawab hal yang sudah dia ketahui jawabanya karena"Aku juga menyukaimu Akashi-Kun"Kuroko menundukan kepalanya saat Akashi tak mau lepas memandanginya.
"Apa kau tidak menyukaiku?"Tanya Akashi mendesak
"Mungkin"
"Apa?"
"Mungkin benar, aku tidak menyukai Akashi-Kun tapi mungkin aku mencintai Akashi-Kun"Kali ini mata merah itu yang melebar kaget. Akashi mencoba memahami yang Kuroko katakan padanya. Memang benar lebih kuat kata 'cinta'dari pada kata'suka' jika yang Kuroko itu katakan benar maka, perasaan Kuroko jauh lebih dalam dari pada perasaan Akashi untuknya.
"Tetsuya..."Panggil Akashi. Kuroko menoleh kearah Akashi tanpa melihat wajah tunanganya itu Kuroko kini hanya bisa merasakan ciuman tiba-tiba yang Akashi berikan untuknya. Tangan kiri Akashi menarik tengkuk Kuroko sedangkan tangan kanannya masih menggengam tangan Kuroko. Kuroko yang saat ini tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa diam dan menutup matanya"Iya, aku tidak bisa mengingkarinya. Aku mencintaimu Akashi-kun. Sangat mencintaimu"
END
Review please Arigatou Gozimasu :)
