Chapter 6! Nggak kerasa banget ya, kita udah nyampe di chapter 6. Ini semua berkat dukungan dan ripiu sodara – sodara sekalian. Terima kasihhh! Ripiu anda sangat, sangat, sangat, dan SANGAT menyokong. Thank you guys!
Ghyani Ayu Production,
Present
.
.
.
Blank Space
Episode Sebelumnya...
Raut wajah anak-anak murid kelas 7 – 3 berubah menjadi serius setelah menyimak apa yang guru mereka ajarkan. Mungkin tak semuanya, karena 2 wajah di barisan paling depan sedikit memerah dan senyum tak pudar dari wajah mereka berdua. Yah, mungkin ini balasan dari apa yang terjadi saat istirahat tadi. Mungkin Fang tidak perlu memaksakan diri untuk mengobrol dengan Ying. Karena kejadian hari ini cukup membuatnya lebih dekat dengan Ying.
.
.
Fang mengamati kacamata berbingkai biru di tangannya. Ia tersenyum lebar. Sambil membenarkan posisi duduknya, ia membolak-balik kacamata Ying. Wajahnya semakin memerah. Bayangan kejadian tadi siang masih setia mengelilingi otaknya. Ia sedikit mengacak rambutnya dan merebahkan tubuhnya pada kasur ukuran King Size miliknya. Ya, Fang sedang berada di kamarnya, dengan piyama panjang berwarna ungu tua dengan motif kotak-kotak berbingkai kuning favorit nya. Fang menyimpan kacamata ber frame bulat itu di meja di samping tempat tidurnya. Masih dengan senyum lebarnya, ia memejamkan matanya sambil merancang kembali strategi PDKT yang sesuai.
Sementara itu...
Ying masih sibuk membereskan buku-bukunya. Kakinya melesat kesana kemari, memindahkan kertas-kertas ulangan, kumpulan LKS, buku tulis yang sudah habis, dan sebagainya. Ia mengarahkan jarinya pada jadwal pelajaran yang menempel di rak bukunya, mencari mata pelajaran untuk besok, pelajaran untuk besok adalah B. Inggris, Olahraga, dan Biologi. Lalu Ying mengambil buku B. Inggris, Biologi dan juga baju olahraganya. Semuanya ia masukkan ke dalam tasnya. Ia duduk di kasur Queen Size nya sambil menghela nafas. Kegiatan ini cukup melelahkan juga. Ia memeluk dirinya yang dibalut dengan piyama panjang berwarna kuning dengan motif kotak – kotak berbingkai ungu. Tak sengaja tangan kecilnya menyentuh pinggangnya. Seulas senyum tanpa sadar terlukis di wajahnya dan semburat merah kembali merekah di wajah Ying. Ia kembali mengingat kejadian tadi siang, saat Fang menangkapnya di lab. Jantung Ying berpacu ketika ia kembali mengigat kejadian-kejadian tadi siang.
'Haiya, ada apa lagi denganku? Pasti karena tadi aku lupa makan sayur ma. Aku harus segera makan sayuran!' bati Ying. Lalu ia melesat menuju dapur untuk membuat salad dengan porsi yang lumayan 'wow' dan memakannya dengan sedikit bersemangat.
.
.
.
Esok harinya...
"Selamat pagi, Nek. Apa Ying nya ada?" tanya seorang anak dengan rambut raven. Yup, Fang sedang berada di depan rumah Ying. Menjemputnya, tepatnya.
"Oh.. Ada. Sebentar ya, Nenek panggilkan." Lalu Nenek Ying berjalan masuk.
Fang mengamati kotak kacamata bening bergaris kuning yang dibubuhi dengan motif bintang berwarna ungu tua di sudutnya. Ia tersenyum, Ying pasti akan menyukai ini. Lalu Fang meletakkan kacamata Ying di dalamnya dengan hati-hati dan menutupnya. Fang membalikan tubuhnya sambil memakai kacamata lamanya. Ya, untunglah minus nya hanya bertambah sedikit. Jadi ia masih bisa memakai kacamata SD nya. Sebenarnya Fang merasa sedikit kikuk juga. Masalahnya, sudah lama sekali ia tidak memakai kacamata berbingkai oval ini.
'Kira – kira, Ying terkejut tidak ya, melihat kacamata ini?' batin Fang. Fang mulai sibuk menghayal.
"Fang?" suara Ying membuyarkan lamunan Fang.
Fang berbalik, "Hei, Ying. Ayo ki..." Ia tidak bisa meneruskan kalimatnya. Fang sedikit shock melihat apa yang ada di hadapannya. Iya, di hadapannya memang Ying, bukan orang lain. Tapi...
Ying memakai jaket berbulu.
Jaket berbulu yang tebal.
Sampai badannya terlihat seperti bakpao.
Mulut Fang sedikit terbuka. Tentu saja, apa yang merasuki seorang Ying sampai dia bisa memakai jaket penduduk kutub seperti ini?!
Melihat Fang yang 'speechless', Ying pun bertanya, "Fang?" katanya sambil melambai – lambaikan tangannya di depan wajah Fang yang masih shock.
Perlahan Fang mulai sadar, "Eh, apa? Oh itu, aku tidak apa-apa."
Ying masih ragu. Ia memiringkan kepalanya sedikit. Saat itu dia menyadari bahwa Fang memakai kacamata lamanya. Ying tidak menyangka. Pasalnya, kacamata itu sudah lama sekali tidak dipakai.
Ying's POV
'Wah, Fang memakai kacamata itu lagi. Apa minus nya Fang tidak bertambah? Atau karena kacamataku terlalu jelek? Atau mungkin Fang tidak punya uang untuk membeli kacamata yang baru sampai dia memakai kacamata lamanya? Ya ampun, kasihan sekali dia.'
"Ying? Kalau tidak cepat, nanti kita bisa terlambat." Suara Fang memecah lamunanku.
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku mencari kesadaran. Aku merasakan ada tangan yang mengenggam tangan kecilku. Tangan itu mengajakku untuk beranjak dari rumah sederhana ini. Ya, itu Fang. Dia yang memegang tanganku. Aku bisa merasakan degup jantung ku yang berlomba dan panas yang menjalar ke pipiku. Aduh, kenapa perasaan ini muncul lagi sih? Padahal tadi aku sudah sarapan dengan menu yang sangat komplit 4 sehat 5 sempurna dengan porsi yang lebih. Bahkan aku pun sudah memakai jaket super tebal ini. Tapi kenapa perasaan ini tetap saja muncul?
"Ayo naik." Lagi-lagi Fang membuyarkan lamunanku. Wah, Fang menjemputku dengan sepeda ternyata. Aku naik dengan hati-hati. Tentu saja, aku 'kan pakai rok. Dan di sepedanya Fang tidak ada jok untuk penumpang. Hanya ada pijakan kaki di ban belakangnya. Tapi aku lebih suka yang seperti ini. Lalu tanganku memegang bahu Fang.
"Sudah siap?" tanyanya.
"Sudah." Jawabku sambil tersenyum.
Lalu Fang mengayuh pedal sepedanya dengan kecepatan yang sedikit tinggi. Aku bisa merasakan angin pagi yang sejuk menerpa wajahku. Sungguh sangat nyaman. Kedua lenganku melingkar di sekitar leher Fang. Seulas senyum tercipta di wajahku, aku benar-benar menikmati ini!
"Lebih cepat, Fang!" kataku. Fang makin mempercepat laju sepedanya.
"Wohoo!" daun – daun kering sedikit berterbangan ketika kami lewat. Aku benar – benar suka ini! Ya, mengingat dari dulu hingga sekarang aku selalu berjalan kaki. Aku memejamkan mataku, mencoba menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahku. Aku mempererat tautan di jari-jariku. Aku tidak pernah menyangka kalau naik sepeda di pagi hari bisa seperti ini.
.
.
Ckit...
Aku memeluk leher Fang. Kepala dan bahu kami saling menempel, bahkan pipi kami pun bersentuhan, bola mataku membulat sempurna. Beberapa detik berlalu, tidak ada seorangpun dari kami yang mampu beranjak. Rasa panas menjalari pipiku, jantungku kembali derdetak tak karuan.
"Ying?"
Aku langsung memundurkan tubuhku ketika mendengar suara Yaya. Posisi kami kembali seperti semula. Kepalaku menoleh mencari sumber suara Yaya. Ia ada di depan gerbang sekolah bersama BoboiBoy yang mulutnya terbuka. Tunggu, gerbang sekolah? Aku sudah sampai? Pantas saja tadi Fang berhenti mendadak. Ternyata kami sudah sampai. Tapi kok cepat sekali ya? Yaya menghampiriku dan membantuku turun dari sepeda milik Fang.
"Terimakasih, Yaya." Kataku sambil merapikan bajuku.
"Fang, terima – eh?" aku bingung, jujur saja. Melihat raut wajah Fang yang seperti itu, wajahnya sangat merah, bola matanya membulat sempurna, mulutnya sedikit terbuka. Dia masih shock sepertinya. Aku mengguncangkan tubuhnya.
"Fang? Hei, Fang. Kita sudah sampai di sekolah."
Tapi sepertinya itu tidak berpengaruh. Ia masih mematung, seperti patung. Aku mengguncang tubuhnya semakin kuat.
"Fang. Hei, kita sudah di sekolah. Ayolah!" kataku. Dan akhirnya, cara ini berhasil.
"Eh, iya? Oh sudah sampai ya? Aku mau menyimpan sepeda dulu ya." Katanya sambil masuk ke dalam sekolah. Samar-samar aku bisa mendengar ia sedikit berteriak kegirangan. Ada apa dengan anak itu?
"Ying? Kenapa kamu memakai jaket seperti ini? Ini kan sangat tebal dan udara di sekitar sini pun tidak terlalu dingin. Apa kamu sakit?" tanya Yaya bertubi-tubi.
Oh iya. Jaket ini. "Oh, ini. Tidak apa-apa. Aku hanya merasa ada sesuatu yang aneh saja. Tapi aku tidak sakit kok."
"Oh, begitu." Yaya masih terlihat sedikit khawatir.
BoboiBoy menghampiri kami. Tapi wajahnya sudah kembali normal.
"Kalian sedang apa disini?" tanyaku.
Tiba-tiba pipi BoboiBoy dan Yaya memerah. Reaksi mereka juga kurang meyakinkan. Yaya menundukan kepalanya dan BoboiBoy memalingkan wajahnya sambil menggaruk pipinya. Ya ampun, sebenarnya ada apa dengan teman-temanku ini? Tadi Fang, sekarang Yaya dan BoboiBoy. Apa mereka semua sedang sakit, jadi tingkah lakunya seperti itu? Atau mereka kurang makan sayuran? Sepertinya besok aku akan membawa banyak salad untuk mereka semua.
Beberapa detik berselang, mereka masih dalam posisinya. Bosan, aku menarik tangan Yaya dan mengajaknya masuk ke kelas, "Yaya, ayo masuk ke kelas. Sebentar lagi bel masuk berbunyi."
Yaya hanya mengimbangi langkahku. Aku berjalan sambil sesekali melihat sekitar. Beberapa anak memerhatikan ku. Bahkan ada yang sampai tertawa terbahak-bahak. Huft, pasti gara-gara jaket ini. Ya, mau bagaimana lagi? Aku tidak mau terus-terusan memerah. Itu sedikit memalukan, tahu. Apalagi kalau di depan Fang. Eh, tunggu dulu, aku bicara apa sih, aneh-aneh saja. Tak terasa, kami sudah tiba di depan kelas. Aku berjalan menuju mejaku di barisan paling depan. Aku melihat punggung Fang menyembul di permukaan meja. Penasaran, aku hampiri Fang.
"Fang? Kau sedang apa?" tanyaku.
Fang sedikit terlonjak, lalu ia mendongakkan kepalanya. Aku melihat tangan kirinya sedang menggenggam sebungkus kertas tissue, sementara tangan kanannya mengusap-usapkan selembar tissue di kursi ku. Tunggu, Fang membersihkan kursi ku?
"Tidak, bukan apa-apa." Jawabnya. Ia lalu membuang tissue yang digunakan untuk membersihkan kursi ku. Setelah itu, ia kembali ke kursinya dang mengobrak-abrik tasnya.
Bingung, aku duduk dan menyiapkan buku untuk pelajaran B. Inggris. Tiba-tiba, ada tangan yang menyodorkan kotak kacamata bergaris kuning dengan gambar bintang berwarna ungu tua di sudutnya. Wah, ini bagus sekali.
"Terimakasih." Kata Fang sambil menyodorkan kotak kacamata itu. Eh, maksudnya apa?
"Terimakasih untuk?" tanyaku.
"Untuk kacamatanya. Ini, aku kembalikan." Katanya sambil menaruh kotak kacamata itu di tanganku. Aku membukanya, ternyata ada kacamataku di dalamnya.
"Oh, sama-sama. Tapi, kotaknya?"
"Untukmu." Jawabnya singkat. Untukku?
"Eh, untukku?"
"Iya. Aku tidak menerima penolakan."
Aku sedikit mengerucutkan bibirku. Aku masih heran, apa tidak apa-apa?
"Terima saja. Aku memang sengaja membelinya." Kata Fang lagi. Dia membaca raut wajahku ternyata.
"Um... kalau begitu, terimakasih." Aku tersenyum sambil memakai kacamataku.
"Apa tidak panas?" tanya Fang tiba-tiba.
"Panas? Apanya?" tanyaku.
"Iya, pakai jaket setebal itu dalam cuaca seperti ini. Apa tidak panas?"
"Panas sih, tapi akhir – akhir ini aku merasa ada yang aneh." Jawabku sambil melepas jaket tebal ini. Wah, terasa nyaman sekali tanpa jaket yang menahan panas di tubuhmu.
"Aneh bagaimana?" Fang membetulkan letak kacamatanya.
"Ya, aneh." Entah mengapa, aku sangat malu untuk mengatakan ini pada Fang. Jantungku lagi-lagi berpacu. Ya Tuhan, ada apa denganku sebenarnya?
"Nanti saja aku ceritakan." Aku memalingkan wajahku yang memanas. Fang mengedikan bahunya dan menyiapkan buku untuk pelajaran B. Inggris.
"Stand up, good morning Miss!" Suara Yaya menggelegar. Aku dan murid – murid lainnya berdiri dan memberi salam.
"Good morning, everyone." Jawab Miss Atty. Kami memang memanggil guru Bahasa Inggris kami dengan sebutan Miss.
"Today, we will learning about Past Tense. Open your book at page 46."
Tanpa diperintah 2 kali, kami membuka buku kami dan membaca hal – hal penting tentang Past Tense.
.
.
.
End of Ying's POV
"Ying, ayo!" Yaya memeluk baju seragam olahraga bercorak kuning di tangannya.
"Iya, tunggu sebentar." Yang dipanggil sedang mencari-cari baju seragam olahraganya yang bercorak biru. Setelah menemukannya, mereka berdua berjalan menuju kamar mandi sekolah. Minggu ini, giliran anak perempuan yang berganti baju di kamar mandi. Anak laki-laki? Berganti baju di kelas.
"Jadi, berhasil?" BoboiBoy bertanya pada anak berambut raven yang sedang mencari baju seragam olahraganya yang bercorak ungu.
"Sepertinya, iya." Jawabnya sambil sedikit merapikan kaus abu-abu tanpa lengan yang dipakainya. Ya, Fang memakai kaus lagi. Jadi di double.
"Cie.. Yang sedang PDKT." Anak berkulit coklat dengan aksen India nya yang mencolok ikut nimbrung dalam pembicaraan. Yang menjadi bahan pembicaraan hanya bisa memerah.
"Jadi, apa rencana selanjutnya?" tanya anak bertopi jingga.
"Sebenarnya..." jawab Fang dengan ragu.
"Sebenarnya apa?" tanya Gopal.
"Aku...
.
.
.
.
Hurray! Chapter 6! Yuhuu!
Yup, inilah hasil dari darah, keringat, dan airmata perjuangan Ghy selama ini. Huahahahaha.
Ok, itu sangat lebay.
Sorry aku lama update nyaa. Desakan T.O membuatku tidak bisa berkutik. :v
Jadi intinya, simpulin aja sendiri. XD XD XD
Last! Mind to RnR?
