Naruto Piece :: The Ninja.

A Naru Piece Fanfiction by Tobi Tobio.

A/N ::

Alur ngarang, sesuai imajinasi Author.

Dunia Naruto adalah sebuah Pulau di Dunia One Piece.

Cerita di Mulai Setelah Protgas D Ace di kalahkan Marshal D Tech (Kurohige).

Rate :: M (untuk kekerasan dan kata yang kurang/tidak pantas untuk diucapkan).

Fict update setiap kamis! (2 minggu sekali, gantian Naruto DxD :: True Longinus).

Yosh cukup dengan satu Bijuu Dama bisa meratakan Marineford haha.

Hahaha iya juga sih, tapi kan masih ada Sengoku dan trio elit Admiral. Jadi Bijuudama tidak terlalu efektif untuk melawan orang-orang kuat macam mereka. Apa lagi Naru kan gak Tobi kasih Haki xD. Ini pasti pengaruh hehe.

Apa yang terjadi pada bijuu bijuu lain dan para Jinchuriki nya ?

Para Bijuu masih hidup, baik dengan sang Jinchuriki atau pun hidup secara liar. Yang jelas akan ada kejutan soal para Bijuu.

Apakah semudah itu para angkatan laut membantai para ninja ?

Entahlah. Niat awalnya Tobi hanya mencoba membuat mini seri. Jadi semuanya tidak terkonsep dengan rinci. Mungkin akan di jelaskan lagi nanti di Season dua (itu pun kalau Tobi minat bikin Season dua dari Fict ini haha).

Dan apakah ada Akatsuki di sini?

Ada. di Bagian tiga, Akatsuki muncul. Tapi tidak semua.

Apa ntar Naruto cs langsung nyampe ke minefort?

Bisa iya bisa juga tidak. Sejauh ini ada dua planing Tobi. Bisa langsung ke Marineford atau ke Pulau Jaya dulu.

Apa Naruto cs ketemu Luffy? Ketemunya di tingkatan berapa? Apa dr tingkat pertama?

Pertemuan dengan Luffy tergantung Alur yang di pilih. Jika di Marineford mungkin tingkat dua atau tiga, tapi jika alur singgah dulu di Pulau Jaya, ya pertemuan mereka disitu.

Apakah masih ada bijuu selain kurama?

Ada. Jelasnya seperti jawaban di atas (meski jawaban di atas sama gak jelasnya. Hahaha)

Ber 3 atau banyak yg jlanin misi?

Mungkin berlima cukup (Luffy tidak di hitung). Tapi entahlah mungkin Tobi berubah fikiran nanti xD.

Yosh. Ini cara baru Tobi dalam membalas pertanyaan dalam Review. Tobi harap tidak akan ada yang terlewat, dengan cara copas seperti untuk sarannya, Reader-San. Maaf Tobi lupa Nickmu, tapi pasti Reader-San akan senyum-senyum sendiri dan 'merasa' saat membaca ini xDv.

Oh iya, terimakasih juga untuk Reader-San yang sudah mendukung dan menunggu kelanjutan Fict ini. Entah karena bagus atau hanya kasihan karena Tobi sudah nulis panjang-panjang.

Tapi apa pun itu, terimakasih atas semua dukungan Reader-San!

Ingin mengenal Tobi lebih jauh silahkan cek ini (ini FB Tobi)

m(titik)facebook(titik)com/profile(titik)php? fref=nf&ref_component=mbasic_home_header&ref_page=%2Fwap%2Fhome(titik)php&refid=8

Atau cek ini (ID FB Tobi)

10007211745260 :: Keristanto (Heru).

Kalau begitu silahkan menikmati dan salam kenal dari Tobi (^_^)

Naruto DxD :: The Ninja.

Misi Balas Budi.

Bagian 3.

Di sebuah Kapal Bajak Laut dengan Lambang Tengkorak bersyal hitam dengan motif Awan merah.

Kapal itu, adalah Kapal Bajak Laut yang terkenal dengan sebutan Akatsuki. Sebuah Bajak Laut yang di rumorkan bekerja sama dengan Bajak Laut Tentara Revolusi. Di Dek Kapal Akatsuki, terlihat seorang pria yang mengenakan Topeng oranye dengan hanya satu Lubang untuk akses pengelihatannya itu, terlihat panik berlari kesana-kemari di atas Kapal. Tentu saja aksinya itu merusak Pagi yang tenang di hari itu.

"Gawaaatttt!". "Senpai. Cepat bangun, Senpai!"

"Kita di serang sekawanan Monster Laut!" teriak pria itu, seraya berlarian dengan paniknya di atas Kapal Akatsuki.

"Berisik Tobi!". "Kau ingin aku ledakkan ya?!" desis seorang pria berambut pirang panjang yang menutupi sebagian Wajahnya. pria ini adalah Deidara. Sang Penembak Jitu yang ada di Kapal ini. Deidara baru saja keluar di dalam salah satu Ruangan yang ada di Kapal itu, karena merasa terganggu dengan teriakan pria itu.

"Tapi itu benar Dei-Senpai!". "Lihat itu!" ucap si Topeng oranye, yang agaknya bernama Tobi itu, seraya menunjuk salah satu Arah Mata Angin. Deidara pun mengikuti arah pandangannya ke arah yang di tunjuk Tobi. Dan benar saja, Puluhan Monster Laut terlihat berbondong-bondong berenang ke arah Kapal Akatsuki.

Dan sedetik kemudian ...

"Uwaahhhh!". "Ini gawat. Dosa apa yang kita perbuat hingga Lautan pun marah pada kita!"

"Ketua!"

"Nagato-Senpai!"

"Tolong kami!" dan pada ahirnya, Deidara malah berteriak panik bersama Tobi. Dan tentu saja menambah kegaduhan yang tercipta di Kapal Akatsuki, Pagi itu.

"Wah ... Wah ... Wah ... Kalian kompak sekali!" komentar seorang pria berpenampilan seperti Hiu. Agaknya dia adalah salah satu dari Ras Manusia Ikan, yang bernama Hoshigaki Kisame.

"Cih! Abaikan dulu soal itu. Bagaimana kalian bisa tenang!". "Kita sedang di serang Monster Laut!" desis Deidara yang cukup sewot dengan ucapan Kisame.

"Ah!". "Benar juga, bukankah kita memiliki Kisame-Senpai!" tiba-tiba Tobi bersuara dengan sebuah efek bling-bling di sekitar Wajahnya yang tertutupi Topeng. Dan seketika itu kepanikan terhenti. Deidara dan Kisame kini menatap Tobi dengan pandangan penuh tanya.

"Kisame-Senpai kan Ikan ... Jadi, bisakah Kisame-Senpai pergi kesana dan bernegosiasi dengan mereka?!"

"Tobi pintar kan?!" ucap Tobi dengan entengnya, sementara Kisame terpuruk seketika, Aura suram segera menyelimuti sang Manusia Ikan itu. Sementara Deidara terlihat antusias dengan ucapan Tobi yang terlewat jenius.

"Kau hebat Tobi!". "Tumben kau jenius!"

"Hey, Kisame, ayo lakukan saran Tobi sebelum kita mati!" ucap Deidara mengabaikan kondisi Kisame yang sedang pundung. Agaknya, mereka lupa ucapan rasis seperti itu sangat mengganggu mental sang Manusia Ikan.

Dan ini cukup membuktikan jika Otak mereka berdua konstlet!

"Ayolah Kisame-Senpai, waktu kita tidak banyak" rayu Tobi meski sedikit memaksa tanpa memperdulikan keadaan sang Manusia Ikan.

"Berisik!". "Aku Manusia ..."

'Ikan ...'

"Kalian dengar!". "Aku Manusia ..."

'Ikan ...' ucap Kisame dengan sewotnya. Meski setiap kali menyebutkan kata Ikan, pria itu selalu berteriak di dalam batinnya.

"Errr ... Kisame-Senpai. Kau lupa menyebutkan kata Ikan" komentar Tobi dengan polosnya. Dan ucapan polos itu malah semakin melukai hati Kisame. Dengan berlinang Air Mata dan Aura suram yang semakin menyeruak, Kisame segera menerjang Tobi. Untung saja Deidara masih sempat menahan amukan sang Manusia Ikan.

"Izinkan aku membunuhnya!" teriak Kisame masih dengan berlinang Air Mata. Seraya terus meronta, berusaha melepaskan diri dari Deidara. Sementara itu, saat mereka sedang sibuk sendiri dengan acara gaje-nya, gerombolan Monster Laut itu semakin mendekati Kapal mereka.

"Sedang apa kalian, Pagi-Pagi begini sudah berisik sekali!" gumam seorang wanita cantik bersurai biru, bernama Konan bersama beberapa anggota kelompok Bajak Laut Akatsuki lainnya. Ada seorang bersurai merah panjang yang bernama Nagato, lalu ada juga seorang berwajah tengil dengan rambut klimisnya, bernama Hidan. Ada juga seorang pria berwajah seram yang tertutupi Cadar, bernama Kakuzu dan terahir seorang pria bertampang imut, pecinta Boneka bernama Sasori.

"Uwaahhh. Konan-Senpai ... Tolong aku!". "Deidara-Senpai dan Kisame-Senpai akan membunuhku~" ucap Tobi dalam tangisnya seraya merengek dan merajuk pada wanita bersurai biru itu.

"Tukang Bohong!"

"Autis!" teriak Kisame dan Deidara dengan sewotnya, saling bersahutan, saat melihat Tobi mengadu pada Konan.

"Sial. Aku menyesal menahanmu membunuh anak bodoh itu!" umpat Deidara kesal. Sementara Kisame hanya mengangguk tanda setuju dengan perkataan pria pirang itu.

"Tenang ... Kita akan membunuhnya saat ada kesempatan!" bisik Kisame pada Deidara. Tapi agaknya itu lebih tepat di bilang teriakan, karena Ucapan Manusia Ikan itu sangat keras, membuat semua orang yang ada di situ tentu saja mendengarnya.

"Uwaaahhh~ Konan-Senpai~" ucap Tobi dengan tangis yang semakin keras seraya memeluk lebih erat lagi Tubuh Wanita itu. Konan sendiri hanya menepuk-nepuk Kepala pria bertopeng oranye itu.

"Sial Tobi menang banyak!" umpat Hidan yang iri dengan aksi Tobi, memeluk erat satu-satunya Wanita yang ada di kelompok Akatsuki. Sementara Nagato hanya mengelus dadanya, mencoba menenangkan dirinya. Agaknya Nagato pun merasakan hal yang sama dengan pria berambut klimis itu.

"Sudahlah Tobi-Kun—" ucapan Konan terhenti karena tiba-tiba saja Tubuh Wanita cantik itu sobek menjadi dua bagian layaknya kertas yang sobek.

"Tidaaakkk!". "Tobi tidak sengaja membunuh Konan-Senpai!" teriaknya super duper panik seraya memegangi kepalanya dan bergeleng-geleng ria. Tapi anehnya tidak ada yang panik seperti pria bertopeng itu. Dari pada disebut panik, yang lain malah terlihat bosan dengan kelakuan Tobi.

"Dasar bodoh ... Konan-Chan kan Logia". "Mana mungkin dia mati hanya karena itu!" gumam sang pecinta Boneka, Sasori. Dengan Wajah bosannya.

"Hey Ketua ... Apa kau tidak salah merekrut dia masuk dalam Kelompok kita?!" tanya Hidan.

"Entahlah ..." jawab Nagato sekenanya.

"Ketua ... Kita kedatangan tamu" ucap Kakuzu yang sedari tadi diam. Pandangan Matanya tertuju pada gerombolan Monster Laut yang semakin dekat dengan Kapal mereka.

"Woaaaahhh!". "Kita terkena Kutukan Lautan. Ini semua karena kalian sesat!" teriak Hidan seraya menunjuk satu-persatu anggota Bajak Laut Akatsuki.

"Cepat bertobat dan memohon ampun pada Jashin-Sama!" lanjut pria klimis itu. Tapi sialnya tidak ada yang menangapi ocehan Hidan, mereka semua malah fokus pada gerombolan Monster laut itu.

"Hey!" teriak Hidan lagi. Dia tidak terima dirinya di abaikan seperti itu. Tapi keadaan tidak berubah, mereka masih juga tidak menanggapi ocehan pria abadi itu.

"Dei ... Ledakan mereka!" perintah Nagato, santai.

"Cih! Seenaknya saja menyingkat namaku!" umpat Deidara. Tangan kirinya segera masuk dalam sebuah Kantong yang tergantung manis di Pinggangnya, Sementara Tangan kanannya terlihat menekan-nekan sebuah Alat yang terpasang di Mata kanannya.

"Eh~ ada tiga orang yang sedang duduk di atas Monster Laut yang paling besar!". "Bagaimana?!"

"Ya sudah ledakan saja sekalian" jawab Nagato santai.

"Baiklah. Saatnya menunjukan kemampuanku sebagai Penembak Jitu!" desisnya narsis.

Di atas Monster Laut.

Terlihat dua orang pemuda tampan dan seorang gadis cantik sedang duduk santai di atas Kepala sang Monster Laut. Pandangan mereka sedang sibuk menyaksikan gerombolan Burung-Burung kecil yang terbang dari arah berlawanan dengan mereka. Ini tentu saja cukup aneh, mana mungkin ada Burung yang berani terbang rendah di sekitar Monster Penguasa Lautan seperti itu. Di tambah lagi, rupa burung itu seperti terbuat dari Tanah Liat.

"Burung apa ini?!" gumam Naruto, seraya menatap aneh gerombolan Burung-Burung itu.

"Entahlah. Tapi ini jelek sekali" timpal Sasuke datar.

"Apa tidak sebaiknya kita turun sekarang?!". "Kurasa Paman Nagato ada di Kapal itu!"

"Lagi pula jika terus berada di atas Monster Laut ini—" belum sempat Naruto menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Burung-Burung aneh itu meledak bagaikan Bom. Meski tidak memiliki daya ledak kuat, tapi mengingat banyaknya jumlah Burung-Burung itu, tetap saja itu sangat membahayakan, karena menimbulkan ledakan beruntun.

Duaarr!

Duaarr!

Duaarr!

Ledakan beruntun tercipta di ujung sana. Deidara -sang pelaku- terlihat tersenyum puas dengan hasil kerja Jutsunya. Sementara Tobi terlihat girang seraya bertepuk Tangan dengan riangnya menyangka sang Senpai sedang menunjukan sebuah pertunjukan Kembang Api. Mengabaikan tindakan Tobi, kini terlihat Ledakan beruntun selesai. Dan terlihat juga hanya beberapa dari gerombolan Monster Laut itu yang mati, sementara sisanya terlihat hanya luka-luka. Mulai dari luka parah, hingga ringan.

Dan ke tiga Ninja itu?! Tentu saja mereka juga selamat.

"Apa kubilang?!". "Kita seharusnya segera turun dari Monster Laut itu. Mereka pasti salah sangka!" teriak Naruto yang sewot sendiri.

"Kapan kau bilang begitu?!" desis Sasuke sinis. Dan ucapan sinis itu cukup untuk membuat pemuda pirang itu Naik Darah.

"Kau ..." desisnya.

"S-sudah ... Hentikan!" ucap Hinata seraya mencoba melerai pertengkaran ke dua temannya tu.

Ghoaarrr ...

Ghooaaarrrr ...

Monster-Monster Laut yang masih hidup itu mengaum, sebelum ahirnya mereka pergi. Pertengkaran dua pemuda tampan itu pun berhenti sejenak.

"Apa yang mereka katakan?!" tanya Hinata dengan pandangan bingungnya.

"Mungkin salam perpisahan!" terka Naruto.

"Heh!". "Sejak kapan kau bisa bahasa mereka?!" tanya Sasuke. Tentu saja masih dengan nada sinisnya.

"Aku kan bilang mungkin, Uchiha!" desis Naruto.

Dan pertengkaran pun kembali terjadi.

"Astaga. Kau itu kenapa Sasuke-San?!". "Pagi ini kau terlihat sangat menyebalkan sekali!" ucap Hinata. Agaknya kesabaran gadis itu pun mulai habis melihat kelakuan Sasuke. Naruto mengangguk setuju, sementara pemuda Uchiha itu hanya membuang Muka seraya cemberut.

"Tidak!" desisnya ketus. Tapi, meski begitu, fikirannya kembali teringat kejadian Malam tadi.

FLASH BACK.

Sasuke terlihat sedang Tidur dengan Tubuh mengkerut. Giginya beradu dengan jeda waktu yang konstan. Meski terlihat sedang Tidur, tapi nyatanya Sasuke tidak melakukan itu. Berbagai macam posisi telah dia lakukan, tapi agaknya tidak ada satu pun yang berhasil membawanya ke dalam Alam Mimpi. Cuaca dingin Malam itu agaknya sangat mengganggu sang Uchiha.

"Ah. Sial dingin sekali!" umpat Sasuke seraya bangun dan duduk. Tangan Kirinya sedang mengucek-ngucek ke dua Matanya. Tapi sesuatu sedikit mengganjal batinnya. Biasanya dalam keadaan seperti ini Naruto lah yang akan paling berisik menyerukan keluhannya, tapi saat ini, suasana sangat hening. Pemuda bersurai pirang itu tidak jua bersuara.

Karena penasaran, Sasuke pun menoleh pada sang Uzumaki. Mungkin saja saat ini pemuda bersurai pirang itu sudah mati dalam keadaan Beku tanpa mampu menyampaikan keluhannya. Tapi sayang seribu sayang, fikiran nista Sasuke tidak akan terjadi. Karena nyatanya Naruto saat ini sedang Tidur dengan pulasnya, berbagi kehangatan bersama Hinata dengan cara berpelukan.

Dan dari Wajah mereka berdua, terlihat jelas jika mereka sangat nyaman. Tidak sedikit pun terlihat terganggu dengan cuaca dingin Malam itu. Dan itu tentu saja membuat Sasuke sangat kesal!

"Keparat!". "Kuharap ada Meteor raksasa yang menabrak kalian!" umpat pemuda Uchiha itu, seraya mencoba untuk kembali tertidur.

Namun untungnya tidak ada Meteor Nyasar yang mengarah pada mereka. Karena jika itu terjadi, bukan hanya Naruto dan Hinata saja yang terkena Meteor itu, tapi Sasuke pun akan terkena juga.

FLASH BACK END.

"Waw~ Kembang Api dari Deidara-Senpai berhasil mengusir Monster-Monster Laut itu!" ucap Tobi penuh antusias memuji sang Senpai. Tapi, tampaknya Deidara tidak terlihat senang dengan itu.

"Diam kau Tobi!". "Itu bukan Kembang Api. Itu adalah Seni Ledakanku!" desis Deidara sewot.

"Yap. Dan itu adalah Seni yang buruk" komentar Sasori.

"Seni itu abadi!" lanjut pria pecinta Boneka itu. Deidara hanya mendesah kesal. Andai saja Sasori itu bukanlah Senpainya dia pasti sudah membalas ejekan pria berwajah imut itu.

"Dan karena Senimu itu Kapal kita penuh dengan Boneka bodohmu!"

"Jangan meledek Seniku, Manusia Ikan!"

"Barbie!"

"Apa kau bilang?!" Dan Sasori malah beradu argumen dengan Kisame karena celetukan sang Manusia Ikan. Nagato yang bertindak sebagai Ketua/Kapten di Kapal itu hanya bisa memdesah melihat kelakuan teman-temannya.

"Jika kalian bertengkar terus, aku tidak akan memasak apa pun untuk kalian!" desis Konan. Dan itu cukup sukses menghentikan debat antara pecinta Boneka dan Manusia Ikan itu. Yap, dari pada mereka kelaparan bukankah lebih baik mereka menghentikan aksi mereka.

"Itu artinya, pengeluaran kita akan berkurang!". "Aku setuju idemu Konan-Chan!" ucap Kakuzu, sang pecinta uang.

"Dasar Kikir!" umpat Sasori dan Kisame bebarengan.

"Kalian sesat sekali. Jashin-Sama pasti akan mengutuk kalian!" kini giliran Hidan yang berbicara. Nagato hanya bisa mendesah pasrah menyaksikan perbincangan aneh teman-temannya.

"Astaga ... Dosa apa yang kuperbuat hingga memperoleh teman seperti mereka ..." Gumam Nagato seraya mendesah pasrah.

"Dei ... Selesaikan tugasmu, sepertinnya mereka masih hidup" ucap Nagato setelah selesai dengan segala kesedihannya mendapatkan teman aneh seperti mereka.

"Darimana kau tau?" bukanlah Deidara yang bertanya, melainkan Hidan. Tentu saja dengan tampang bodohnya.

"Tuh!". "Apa kau buta. Kupikir hanya dia saja yang buta" jawab Nagato dengan entengnya, seraya menunjuk Naruto CS. yang berlari di Lautan ke arah Kapal mereka.

"Apa kau bilang?!" ucap Deidara tak terima.

"Apa?!". "Aku hanya bilang dia. Kenapa kau tersinggung?!" balas Nagato masih dengan entengnya.

"Yang buta kan di Kapal kita cuma Deidara-Senpai" timpal Tobi santai. Deidara hanya mengumpat kesal.

"Aku menggunakan alat ini bukan karena buta, tapi untuk dapat melihat lebih jelas saja!" umpatnya.

"Sama saja kan!"

"Tidak!"

"Sama"

"Tidaaakkk!"

"Tunggu Ketua ... Kurasa pemuda yang pirang itu seperti mirip seseorang" gumam Konan seraya mencoba membandingkan sosok Naruto dengan sosok yang mengingatkannya pada seseorang.

"Benarkah?!"

"Iya. Tapi aku lupa siapa" ucap Konan lagi menjawab pertanyaan sang ketua.

"Kalau kau lupa, biarkan saja. Pasti itu bukan hal yang penting" ucap Nagato tanpa mau ambil pusing.

"Tapi Ketua ... Mereka bisa berlari di atas Air spertimu, apa kau yakin tidak mengenalnya?" tanya Deidara seraya memasukan kembali Tangan kirinya ke Kantong yang ada di Pinggangnya. Sementara Tangan kanannya kembali sibuk dengan Alat yang menempel di Mata kanannya.

"Tidak!" ucapnya lagi. Padahal Nagato sendiri belum memperhatikan Wajah Naruto sedikit pun.

Sementara di tempat Naruto, Sasuke dan Hinata.

Lari mereka terhenti karena kembali melihat puluhan Burung aneh yang kembali terbang ke arah mereka. Tidak mau ambil resiko mereka segera bersiap menghadapi serangan itu. Pengalaman pertama, membuat mereka lebih siap dari sebelumnya, untuk menghadapi Jutsu Ledakan Deidara.

"Cih serangan itu lagi!" desis Sasuke.

"Sasuke tolong ya ..." ucap Naruto. Tangan kanannya merogoh Kantong Senjata yang ada di Pinggang bagian belakang. Lalu mengambil sebuah Kunai Hiraishin dan mengalirinya dengan Chakra Angin miliknya.

"Baiklah. Aku akan menghadang serangan itu, dan membuat jalan untukmu!" tanggap pemuda bermarga Uchiha itu seraya menyiapkan sebuah Jutsu di Tangan kirinya, tentu saja dengan Mata Sharingan yang sudah aktif.

Naruto mengangguk mengerti. Sementara Hinata hanya diam saja karena tidak tau apa yang harus di perbuat. Bahkan saat dua pemuda tampan itu kembali berlari menyongsong puluhan Burung Deidara, Hinata masih juga diam di tempatnya. Gadis bermarga Hyuuga itu cukup kagum dengan kekompakan yang di perlihatkan duo Uzumaki-Uchiha itu, padahal baru tadi mereka bertengkar karena hal sepele.

"Mereka sangat kompak dalam sebuah pertarungan. Pantas mereka menjadi Tag-Tim terkuat!" gumam gadis itu, saat melihat ke kompakan Naruto dan Sasuke. Mengabaikan semua itu, Sasuke kini terlihat sedang melakukan gerakan akrobatik yang indah di Udara. Dengan anggunnya pemuda Uchiha itu melemparkan Jarum-Jarum Petir yang dengan sukses mengenai Burung Peledak milik Deidara.

"Chidori Eisho!" desisnya. Tidak ada ledakan yang terjadi, saat Jarum-Jarum Petir Sasuke menusuk Burung-Burung itu. Agaknya, Element Petir sang Uchiha mampu menonaktifkan kekuatan ledakan Jutsu musuh. Sasuke menyerangai senang melihat hasil serangannya.

'Seperti yang kuduga ...' batin Naruto seraya terus berlari menembus kawanan Burung Peledak. Agaknya Naruto pun menyadari kelemahan Jutsu sang lawan. Dan itu cukup memudahkan si pirang untuk melewati kawanan Burung Peledak Deidara, karena sudah di bereskan Sasuke.

"Ninja?" gumam Deidara yang mulai menyadari kekuatan mereka. Dan gumaman itu cukup untuk menghentikan gerakan Nagato yang sedang memasuki Kapal.

"Benar—" ucapan sang ketua Akatsuki terhenti saat sebuah Kunai nyasar yang di lapisi Chakra Angin melesat ke arahnya dengan cepat. Tapi jangan sebut Nagato jika hanya karena itu dia akan mati. Sedetik sebelum Kunai itu benar-benar mengenainya, sebuah hempasan Gelombang Kejut tiba-tiba saja muncul di sekitar pria itu dan menangkis laju Kunai Hiraishin Naruto.

'Kunai Hiraishin?!' batinnya kembali terkejut. Tapi agaknya Nagato harus kembali terkejut karena Kunai itu tiba-tiba saja berubah menjadi Naruto di sertai kilatan kuningnya. Pemuda pirang itu sudah bersiap dengan Rasengan di Tangan kanannya yang sudah melesat ke Wajah Nagato.

Tapi ...

Greebbb!

Sebuah Tangan Mekanik yang keluar dari Pundak kiri pria bersurai merah itu lebih cepat mengambil momentum. Sebuah cengkraman kuat di Leher pemuda pirang itu sudah cukup untuk membuat Naruto menghentikan niatnya untuk menyerang pria itu. Kini si pirang terlihat meronta mencoba melepaskan cengkraman Tangan Mekanik Nagato di Lehernya. Sementara Nagato sendiri saat ini sibuk memperhatikan Wajah Naruto.

'Kunai Hiraishin ... Rambut pirang ... Hiraishin no Jutsu ... Wajahnya juga ...'

"Kau!" teriak Nagato seraya melepaskan cengkraman Tangan Mekaniknya di Leher Naruto. Dan di saat yang sama, entah sejak kapan Sasuke sudah ada di samping kiri Nagato seraya menghunuskan Pedang Kusanaginya.

"Shin—" ucapan Nagato terhenti dan urung untuk menggunakan kekuatan penolaknya, Karena Kisame dengan cepat sudah lebih dulu menahan tebasan Sasuke dengan Pedang Samehadanya. Pemuda Uchiha itu terdorong ke belakang akibat serangan balik yang di berikan Manusia Ikan itu padanya, saat beradu Pedang.

"Kau punya Mata yang bagus. Itu mengingatkanku pada Itachi!" ucap Kisame. Sementara Sasuke cukup terkejut dengan ucapan sang Manusia Ikan. Meski samar Sasuke jelas masih mengingat sosok Itachi yang merupakan Kakak yang sangat di hormatinya. Dan itu membuat Sasuke tertegun cukup lama. Naruto segera melompat mundur ke arah Sasuke untuk menjaga jarak dari mereka.

"Siapa kalian?!" tanya Nagato.

"Aku, Uzumaki Naruto. Anak dari Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina!". "Lalu siapa di antara kalian yang bernama Uzumaki Nagato?!" jawab pemuda bersurai pirang itu memperkenalkan dirinya. Dan langsung bertanya.

"Uzumaki ... Siapa?"

"Uzumaki Naruto!"

"Bukan, maksudku, nama yang kau sebut ibumu?!"

"Uzumaki Kushina!"

"Uwaahhh~ berarti kau keponakanku!". "Aku Uzumaki Nagato!" teriak Nagato riang seraya menghambur dan memeluk Naruto penuh suka cita.

"Jadi ... Apa kita tidak jadi membunuhnya?" tanya Deidara.

"Tentu saja bodoh!". "Mana mungkin aku membiarkan kalian membunuh keponakanku dan teman-temannya!" desis Nagato.

"Padahal tadi dia yang menyuruh Dei-Kun membunuh mereka, tanpa mau ambil pusing" gumam Konan santai.

"Sudahlah. Yang lalu biarkan berlalu!". "Kalian pasti lelah kan, ayo istirahat dulu!" ucap Nagato dengan wajah gugupnya, seraya menarik Naruto memasuki Kapal. Sasuke hanya menatap bingung Naruto yang di tarik Nagato.

'Aku bagaimana?!' batinnya bingung. Pemuda Uchiha itu lalu teringat pada Hinata, dan dia pun memanggil gadis Hyuga itu untuk bergabung bersamanya membagi kebingungan yang ada.

Tapi tiba-tiba, Tobi mendekati Sasuke memutari pemuda Uchiha itu, tentu saja dengan gaya bodohnya seraya memperhatikan sang Uchiha dengan teliti dan seksama. Sasuke tentu saja merasa terganggu dengan aksi yang di lakukan pria bertopeng oranye itu, tapi Sasuke hanya mendiamkannya saja seraya terus mencoba bersabar.

"Kalau di lihat-lihat, kau mirip sekali dengan Itachi-Senpai ..." ucap Tobi seraya terus meneliti pemuda Uchiha itu.

"Benarkah?!" kini bukan hanya Tobi yang melakukan itu, tapi Kakuzu, Hidan dan Deidara pun melakukan hal yang sama. Sasuke sendiri harus bersusah payah menahan kekesalannya, di perhatikan sedemikian rupa dari jarak yang sangat dekat.

"Benar dia mirip sekali!" timpal Deidara.

"Mata itu ... Mata itu pasti mahal saat di jual!". "Hey, kapan kau berencana mati?!" ucap Kakuzu santai meski pertanyaannya sedikit nyeleneh.

Tentu saja. Mana ada orang yang merencanakan kapan dia akan mati dengan pasti!

"Hati-Hati dalam berbicara. Jika Itachi ada di sini kau pasti sudah di cincang pria itu!" ucap Sasori santai. Pandangannya berfokus pada Hinata yang baru tiba di Kapal Akatsuki.

"Kau cantik juga ... Tapi dengan penampilan seperti itu, pasti tidak ada pria yang melirik padamu?!" ucap Sasori. Hinata seketika terpuruk mendengar perkataan Sasori. Itu benar. Perkataan Sasori sangat benar. Meski Hinata merasa senang ada pria yang menyebutnya cantik, tapi dia akan jauh lebih senang jika yang memuji kecantikannya adalah Naruto.

Namun sialnya, seperti yang di katakan pria bersurai merah itu. Tidak ada pria yang meliriknya, baik itu Naruto atau pun Shinobi lain. Dan itu cukup membuat gadis itu benar-benar terpuruk.

"Jangan khawatir, kami bisa membantumu!" timpal Konan. Matanya berkelit riang saat bertatapan dengan Sasori yang juga memperlihatkan Mata yang sama.

"Aku punya banyak koleksi baju, juga peralatan Make Up untuk Boneka-Bonekaku!"

"Aku juga punya banyak stok Pakaian Dalam. Dan kau pasti akan terlihat semakin menarik dengan itu!" ucap Sasiri dan Konan saling melengkapi.

"Be-benarkah?!" tanya gadis itu penuh harap. Dan seketika Aura Suram yang menyelimutinya berubah menjadi Aura Bling-Bling yang menghiasi gadis itu. Tak lupa Mata penuh harapnya, yang menatap Sasori dan Konan dengan intens.

"Boleh aku ikut?!" kini giliran Mata Kakuzu yang berkelit tajam.

'Foto Gadis itu saat memakai Bikini pasti laku keras!' batin sang pecinta uang dengan nistanya. Tapi baru satu langkah Kakuzu melangkah, puluhan Kertas Peledak sudah membungkus Tubuhnya.

"Satu langkah lagi kau mendekat, kupastikan kau akan hancur berkeping-keping!" desis Konan.

"Hey. Ini tidak adil. Aku tidak boleh mendekat, sedangkan Sasori boleh?!" ucap Kakuzu tidak terima di perlakukan tidak adil.

"Eumh~ i-itu benar—" ucapan Hinata terhenti karena gadis itu belum mengetahui nama Konan.

"Konan. Panggil saja aku seperti itu" ucapnya memperkenalkan diri.

"I-iya, Konan-San. Dia juga laki-laki—"

"Tidak masalah. Sasori-Kun lebih mencintai Boneka dari pada Manusia!" jawab Konan enteng, memotong ucapan Hinata dan tatapan membunuh dari pria bersurai merah itu.

"Ayo!" ucapnya lagi, seraya menarik Hinata kembali. Sasori hanya mendumel kesal dengan ucapan Konan seraya mengikuti ke dua gadis itu.

"Kalau saja kau bukan Logia, aku pasti sudah menjadikanmu koleksi Bonekaku!" desis si pecinta Boneka itu. Sementara Kakuzu tidak menyerah begitu saja. Kecintaannya terhadap uang membuatnya mengabaikan ancaman Konan.

"Hey Dei, Kisame. Kalian mau bekerja sama denganku?!" meski pertanyaan Kakuzu itu ambigu, tapi nyatanya Deidara dan Kisame agaknya mengerti dengan maksud tujuan pria bercadar itu.

"Tentu saja. Ini adalah moment yang sangat langka terjadi!" ucap Deidara bersemangat.

"Yap. Aku rela menantang bahaya demi hal ini!" timpal Kisame. Sadar atau tidak Wajah mereka bertiga kini terlihat sangat mesum. Sasuke yang sedari tadi diam hanya menatap bingung mereka semua.

'Aku tidak mengerti, Bajak Laut yang seperti ini kenapa bisa berkeliaran dengan bebas!' batin sang Uchiha meremehkan kekuatan orang-orang yang menurutnya aneh itu.

"Boleh Tobi ikut Senpai?!" tanya Tobi seraya mengacung-acungkan Tangannya.

"Tidak!" jawab ke tiganya kompak.

"Kau malah akan mengganggu rencana kami!"

"Kau main saja dengan adik Itachi itu!" setelah mengatakan itu trio mesum itu pun hilang di sudut Kapal Akatsuki. Tobi terlihat sedih, tapi sedetik kemudian Wajahnya kembali cerah saat melihat Sasuke masih setia berdiri di tempatnya.

'Sial mereka pergi!'. 'Jadi aku harus bertanya pada siapa tentang Aniki!' batinnya panik. meski Wajah sang Uchiha masih terlihat datar-datar saja.

"Jadi kita akan main apa adik Itachi-Senpai?!" tanya Tobi antusias. Sasuke tidak menjawab, pemuda Uchiha itu terlalu kesal dengan segala bentuk kesialan yang menimpa dirinya selama ini. Sudah hampir mati kedinginan, diabaikan penghuni Kapal Akatsuki, dan kini harus menghadapi pria bertopeng oranye yang sedikit setres ini. Setidaknya itulah yang ada di benak Uchiha muda itu.

"Dari pada melakukan hal yang tidak penting, bagaimana kalau kita bercerita tentang Itachi-Niisan!". "Apa kau tau tentangnya?" tanya Sasuke mulai memancing Tobi untuk membicarakan masalah Itachi. Jujur saja Sasuke cukup penasaran kenapa mereka bisa mengenal Itachi, meski tidak ada Itachi di Kapal ini.

"Tobi akan menceritakannya jika adik Itachi-Senpai mau main Petak Umpet dengan Tobi!". "Tobi sangat hebat dalam permainan ini!" ucapnya berbangga diri. Dan karena Sasuke pun membutuhkan informasi tentang kakaknya, pada ahirnya, sang Uchiha pun menyetujui permintaan pria bertopeng Oranye itu.

"Baiklah ... Tapi, bisakah kau mengajakku berkeliling Kapal ini dulu?!". "Akan sangat tidak adil jika aku tidak mengetahui Ruangan-Ruangan yang ada di Kapal ini!" ucap Sasuke.

"Baik!" jawab Tobi antusias.

Naruto Piece :: The Ninja.

By Tobi Tobio.

"Hahaha, begitulah!". "Aku tidak menyangka Minato-Niisan mencintai Kusina-Niichan. Jujur saja aku saat itu sangat tidak percaya!" ucap Nagato di sela tawanya saat menceritakan kisah percintaan Orang Tua Naruto. Sementara Naruto sendiri mendengarkan ocehan pamannya itu tanpa minat.

"Eumh~ paman ... Sebenarnya maksud kedatanganku—"

"Aku tau ... Aku tau. Kau pasti ingin bertemu paman tercintamu ini kan, saat mendengar aku masih hidup!" potong Nagato dengan entengnya tanpa memperdulikan perkataan Naruto.

"Kau pasti bersusah payah membujuk mereka, karena kudengar kalian sedang menyembunyikan diri dari Pemerintah Dunia dan Angkatan Laut!"

"Karena itu mari mengobrol dengan pamanmu ini dalam situasi langka seperti ini!" lanjut Nagato. Meski Nagato mengatakan mengobrol, nyatanya Naruto tidak bisa menyelesaikan satu kalimat pun. Dari pada di bilang mengobrol ini lebih tepat jika di bilang bercerita, karena Nagato terus mengoceh sedari tadi.

'Sial ... Bagaimana aku mengatakannya ya ...' batin si pirang frustasi. Mengabaikan itu semua, Nagato kembali bercerita tentang masa lalunya saat di Desa Konoha bersama Minato dan Kushina. Tentu saja ini semakin membuat Naruto frustasi.

Braakkk!

Tiba-tiba pintu di buka dengan keras!

"Ini Ruangan Nagato-Senpai" ucap Tobi santai, setelah mendobrak Pintu Ruangan Nagato.

"Tobi!" teriak Nagato kesal karena merasa terganggu, dengan kehadiran pria bertopeng oranye dan Sasuke.

"Ah~ santai saja Senpai. Aku hanya mengajaknya berkeliling". "Ayo lanjut ke Ruangan berikutnya adik Itachi-Senpai?!" ucap Tobi dengan entengnya tanpa memperdulikan Wajah sang Ketua yang kesal.

"Anak itu ..." desis Nagato yang masih kesal. Sementara Tobi dan Sasuke sudah melenggang pergi dari tempat itu.

"Jadi sampai mana obrolan kita?!" tanya Nagato kemudian. Dan pertanyaan itu kembali membuat Naruto frustasi.

"Mungkin sebaiknya aku tidak datang kesini ..." gumamnya menyesal. Tapi Nagato tidak ambil pusing -lagi- dengan Wajah bosan Naruto, pria bermarga Uzumaki itu kembali melanjutkan ceritanya pada sang Uzumaki muda itu.

Di Tempat Trio Mesum.

"Itu rencananya. Kalian berdua akan bertugas mengalihkan perhatian Konan dan Sasori, sedangkan aku akan menyimpan benda ini di tempat yang stategis!" ucap Kakuzu seraya menunjukan Denden Mushi tipe Visualisasi.

"Tunggu dulu. Aku tidak mau!". "Sebelum menikmati hasil kerja sama ini, aku akan mati duluan oleh Konan-Chan dan si Maniak Boneka itu!" desis Deidara tidak setuju dengan pembagian tugas yang di berikan Kakuzu.

"Itu benar. Tugas mulia itu akan kulakukan!" timpal Kisame seraya merebut Denden Mushi Visualisasi yang di pegang Kakuzu.

"Itu sama saja!". "berikan!"

"Aku yang akan melakukan itu!" desis Deidara seraya ikut merebut Denden Mushi Visualisasi itu.

Dan aksi rebut-merebut pun terjadi!

"Berikan padaku!"

"Tidak Aku saja!"

"Aku yang akan melakukan itu!". "Kalian berdua, Lepaskan. Jika benda ini mati, rencana kita bisa gagal!" dan saat perebutan Denden Mushi tipe Visualisasi itu semakin memanas, Tobi dan Sasuke masuk ke Ruangan ke tiga pria mesum itu. Tentu saja setelah mendobrak paksa Pintu Ruangan itu.

"Ini Ruangan Rahasia. Tempat ini adalah tempat kami menyusun strategi". "Yah meski pun Tobi tidak pernah mengerti dengan strategi yang di bicarakan Nagato-Senpai dan yang lainnya" ucap Tobi santai, sementara Kakuzu, Deidara dan Hidan menatap pria bertopeng oranye itu dengan tampang bingung mereka, dengan Tangan yang masih berebut Denden Mushi itu.

"Apa yang sedang kau lakukan?!" tanya Kakuzu.

"Tidak ada. Tobi hanya mau bermain Petak Umpet dengan Adik Itachi-Senpai!" jawab Tobi masih santai-santai saja.

Cliinnggg!

"Hey!". "Aku punya ide!" bisik Deidara. Dan mereka pun mulai berbisik-bisik ria di depan Tobi dan Sasuke. Setelah bisik-bisik itu selesai tampang nista menghiasi wajah mereka bertiga.

"Hehehe idemu memang hebat!" desis Kakuzu dengan tampang bejatnya.

"Hey Tobi, bolehkah kami ikut bermain?!" tanya Deidara.

"Benarkah?!"

"Tentu saja!". "Sini ... Aku ingin membisikan tempat persembunyian yang bagus untukmu!" lanjut Hidan.

"Dimana?!". "Dimana?!" teriak Tobi antusias, seraya mendekati Hidan. Dan pria abadi itu pun segera membisikan sesuatu pada pria bertopeng itu. Wajah Tobi pun berubah antusias.

"Baiklah Adik Itachi-Senpai!". "Ayo kita mulai permainannya. Aku akan bersembunyi di Ruangan Konan-Senpai dulu!" ucap Tobi seraya melenggang pergi meninggalkan Sasuke, Hidan, Kakuzu dan Deidara. Sasuke mendelik tajam trio mesum itu, seolah-olah sedang menghakimi mereka karena sudah memanfaatkan anak polos macam Tobi. Mereka sendiri hanya menatap Langit-Langit Kapal seraya bersiul gaje, berpura-pura tidak menyadari jika saat ini sedang di tatap sang Uchiha.

Tiba-tiba, Sasuke teringat sesuatu!

'Ah benar juga ... Manusia Hiu itu tidak kelihatan!'. 'Dari pada melakukan tindakan bodoh ini, lebih baik aku mencarinya!' batin Sasuke saat menyadari ketiadaan Kisame di antara mereka. Sasuke pun segera mengaktifkan Sharinganya dan mulai mencari Kisame.

"Hey Uchiha kau mau kemana?!" teriak Deidara karena Sasuke tidak pergi ke tempat yang sama dengan Tobi.

"Sial dia tidak mengikuti permainan Tobi. Ayo lakukan Rencana B!" teriak Kakuzu.

"Yosh!" teriak dua rekannya semangat. Tapi, sedetik kemudian Hidan mengangkat Tangannya.

"Tapi apa yang di maksud Rencana B?" tanya pria dengan gaya rambut klimis itu. Dan mereka semua pun terpuruk seketika dengan Aura suram tingkat tinggi.

"Kita tidak punya Rencana B!". "Huwwwaaahhh~" teriak Kakuzu mengangis haru. Dan pada ahirnya, mereka pun menangis bersama. Sementara itu Tobi saat ini sedang berada di depan Pintu sebuah Ruangan. Dengan senandung riang, pria bertopeng itu pun mendobrak paksa Pintu yang ada di depannya.

"Konan-Senpai ... Tobi mau sembunyi disini!" teriak Tobi tanpa beban.

"Aaaaakkkkhhhhh!"

"Tiiddaaakkkkkk!"

Sebuah teriakan terdengar menggema di Langit Pagi itu. Sementara Tobi menatap bingung dengan isi Ruangan yang ada di hadapannya. Gestur Tubuhnya terlihat bingung untuk sesaat, tapi sedetik kemudian, Tobi terihat cuek-cuek saja dan memasuki Ruangan itu tanpa merasa bersalah sedikit pun.

"Ah~ baiklah Tobi akan sembunyi di sini!" gumamnya tanpa beban. Tapi agaknya itu membuat teriakan baru kembali mengalun menghiasi Indahnya Pagi itu.

"Kyaaaahhhh~". "Hentaaiiii!"

"pergi kau!"

BERSAMBUNG

Note ::

Seperti janji Tobi di Chapter kemarin. Tobi coba bawakan humor. Bagaimana? Lucu atau malah garing?

Mohon sarannya untuk perbaikan ^_^

Dan Chapter ini hanya Chapter ringan sebelum kembali serius, jadi tidak ada hal penting dalam Chapter kali ini, selain gaje-gajean.

Tapi Reader-San mau berspekulasi?

Dimanakah Uchiha Itachi?

Oh iya Tobi mau tanya, ini kan Rate M, apa boleh Tobi selipin Hentai?

Atau kalau Hentai terlalu fulgar, bagaimana kalau Ecchi?

Tapi terserah Reader-San juga sih. Kalau boleh, akan Tobi coba sajikan. Tapi kalau tidak ya ... Ya gak jadi :'v.

Sekian. Terimakasih untuk Reader-San yang sudah mau mampir. Apa lagi hingga baca lalu memberikan Reviewnya ...

Tobi benar-benar berterimakasih ^_^

SEBELAH SINI

vvvv

vv

v