hola halooooo semuaaaa~ maafkan Yui datang setelah setahun fakum dari dunia perfanfic-an/? T^T sibuk ngurus ini itu sih sampe lupa update disini
bagi kalian yang udah nunggu selama ini semoa masih mau baca yaaaa~ jangan bosen bosen buat review juga~ yang pm juga boleh hehe *promosi* ga lama lama deh yaaaa~ Yui bawain "Posisiku, Dihatimu Chapter 5" nih~ mungkin untuk chapter 6/7 Yui update beberapa minggu kedepan yaaaaa~ doa-in aja biar cepet update hehe
WARNING : GAJE, TYPO, BESERTA YANG LAIN MOHON DIMAKLUMI
Inuyasha punya Takahashi Rumiko
nah kalo cerita ini masih tetep punya saya
HAPPY READING
READ and REVIEW
Melewati sumur pemakan tulang sangat mudah, hanya menjatuhkan diri kedalamnya kau bisa langsung berada didunia yang lain –masa depan tepatnya-
Miroku, Sango dan juga Shippo tidak tertinggal pula kirara yang selalu mengekor kemana saja majikannya pergi. Mereka keluar dari sumur itu lalu berjalan dari kuil menuju rumah kagome. Rumah yang tampak asing bari miroku dan juga shippo.
"sango-chan.. kau yakin ini rumah kagome?" miroku bertanya ketika mereka sampai didepan rumah kagome.
Sango hanya menganggukan kepalanya pelan.
Kagome's POV
Perlahan kubukakan mataku untuk melihat cahaya matahari yang menembus jendela kaca kamarku. Silau.. ya, sangat silau. Tubuhku serasa remuk, hatiku… oh ayolah… jangan Tanya hatiku.. kejadian yang terahir sungguh.. aku ingin melupakannya..
Aku terduduk dikasur sekarang, sambil nenatap kearah luar jendela. Ingin rasanya aku memanggil okaasan atau souta untuk memberitahuan aku sudah sadar.
Tapi entah kenapa lidahku kelu untuk mengucapkan kata kata. Apa? Apa yang terjadi? Berapa lama aku tertidur?
End kagome's POV
Shippo melompat kegagang pintu dengan girangnya, dia sangat senang akan bertemu kagome. "kagome~ kagome~" teriaknya.
Wanita paruh baya membukakan pintu untuk mereka, cantik seperti kagome.
"konbanwa~" miroku dan juga sango membungkukan badan sekilas untuk memberikan hormat pada ibu kagome.
"oh nak, sango. Dan.. " okaasan tampak bingung dengan siluman rubah yang kini ada dipundak sango dan laki laki yang memakai baju biksu berwarna biru hitam itu.
"perkenalkan aku Miroku, maukah anda melahirkan anak anakku?" miroku melayangkan pertanyaan bodoh yang selalu dia berikan pada setiap wanita yang ia temui. Tampak sango sudah mengeluarkan death glare nya. Tapi miroku tidak berpengaruh dengan hal itu.
"ne.. bagaimana keadaan kagome?" Tanya shippo mencairkan suasana aneh yang dibuat oleh miroku.
"a-ah kagome ya, sebaiknya kalian lihat saja sendiri, mungkin dnegan adanya kalian disampingnya, dia akan cepat sadar." Okaasan berkata dengan pandangan sayu. Ya, bagaimana tidak. Mengingat keadaan anaknya yang sudah beberapa hari ini tidak sadarkan diri.
Miroku, sango dan juga shippo masuk kedalam rumah dengan diantar oleh okaasan.
Okaasan membuka pintu kamar kagome, betapa terkejut sekaligus senang ketika melihat kagome sedang terduduk diatas kasurnya. Okaasan berlari menghampiri kagome, memeluknya dengan penuh kasih sayang dan sedikit meneteskan air mata kebahagiaan.
"kagome~" shippo loncat pada tubuh kagome, membuat sang empu tubuh itu terkekeh karna tingkah lucu siluman rubah kecil itu.
Okaasan melepaskan pelukannya perlahan, "kau sudah sadar kagome?! Apa ada yang sakit?" Tanya okaasan sedikit cemas dengan keadaan anaknya.
Kagome hanya menggelengkan kepalanya pelan, bukan kali ini saja kagome menyembunyikan perasaan sakit hatinya kepada okaasan dan juga teman temannya. Alasannya dia tidak mau membuat meraka khawatir dengan keadaannya.
"kagome-sama.. syukurlah kau sudah sadar" miroku berkata dengan senyuman bahagia terukir diwajahnya.
"kagome, maukah kau kembali bersama kami?" Tanya shippo dengan muka memelas. Shippo mencoba mengajak kagome kembali kejaman feudal, jaman dimana mereka tinggal dan dimana Inuyasha berada.
Tampak kagome hanya terdiam, memikirkan kata kata shippo yang baru saja melayang dari mulut mungilnya. Jujur saja, dia masih mempunya tanggung jawab untuk terus menyumpulkan dan juga menyatukan bola shikonotama. Tapi hatinya sudah tidak kuat lagi.
Hatinya bukan terbuat dari besi atau baja yang bisa bertahan jika terus disakiti sedemikian rupa. Tapi disisi lain dia masih mempunyai kewajiban untuk mengumpulkan, menyatukan, membersihkan bahkan memusnahkan bola shiko no tama.
"entahkalah.. aku tidak tau, shippo.." jawab kagome seraya menundukan kepala tanda dia masih bimbang dengan hati dan juga pikirannya.
hatinya nyuruhnya untuk berhenti sekarang, tapi pikirannya mendukungnya untuk kembali pada jaman Edo. Jaman dimana Inuyasha tinggal, dan dimana bola empat arwah itu berada sekarang.
"wakatta.. aku sangat mengerti jika kagome-sama tidak ingin kembali." Ucap sang pendeta.
"perbuatan Inuyasha kali ini sungguh membuatku kecewa. Tidak bisakah dia mengesampingkan keegoisannya untuk bisa memusnakan naraku?! Ah.. aku tidak tau bagaimana sib aka hanyou itu.." pikirannya terus bergulat. Antara menyelahkan si hanyou atau memikirkan apa yang ada dipikiran inuyasha.
Inuyasha memasuki gubuk kecil milik Kaede. Jalannya sedikit gontai. Semenjak kepergian kagome, dia sangat tidak bersemangat. Bahkan dia bisa meraskan tenaga nya melemah setiap harinya. Berbeda jika gadis itu berada disampingnya. Seolah dia memiliki tanggung jawab untuk melindunginya dan tidak boleh lengah sedikitpun.
"oh.. inuyasha.. dimana yang lain? Kenapa datang sendiri?" Tanya Kaede begitu mendapati Inuyasha sedang teduduk disudut ruangan.
"aku pikir.. mereka kemari.." jawab dengan nada angkuhnya. Disaat seperti ini sikap egoisnya masih saja ada.
"apa yang kau katakan? Bukankah mereka bersamamu. Bukankah mereka pergi mencari bola shikon no tama." Tatapan tajam kini tertuju pada hanyou yang ada dihadapan nenek tua itu. Kaede tau pasti apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan dia sempat menduga bahwa hal ini akan terjadi.
Inuyasha masih diposisinya tanpa ada niatan untuk beranjak dari tempatnya saat ini. Tanpa ia duga, siluman srigala yang diutus oleh naraku datang dan beriat untuk membunuhnya. Tentu saja naraku mengetahui keadaan Inuyasha saat ini. Maka dari itu dia memanfaatkan hal tersebut untuk menghancurkan dan melenyapkan inuyasha tanda harus mengeluarkan tenaga banyak.
KRAKSSS
Suara semak semak yang bersentuhan dengan sesuatu yang berjalan dengan cepat terdengar begitu jelas oleh telinga Inuyasha. Walau bagaimanapun, telinganya dapat menangkap suara melebihi manusia normal. Inuyasha memegang tessaiganya dengan siaga kalau kalau ia harus mengeluarkan pedang dari tempatnya.
AAUUNNGGG!
Lolongan serigala terdengar begitu jelasnya sampai nenek Kaede pun merasa ada yang aneh dengan keadaan sekitarnya. Wanita paruh baya itu pun melihat keadaan luar dari balik jendela jeraminya. Rumahnya sudah dikepung oleh serigala serigala kiriman Naraku.
"sebaiknya kau tetap disini, Inuyasha.. keadaanmu sekarang tidak akan bisa bertarung dengan baik. Biar aku yang mencegahnya untuk beberapa saat."
"cih! Dasar nenek tua! Apa yang kau tau dari ku, huh? Aku masih bias bertarung walaupun tidak ada kagome disini" inuyasha dengan angkuhnya berjalan keluar dan melihat semua serigala yang berwajah garang seolah siap menerkam apa yang ada dihadapannya.
"Inuyasha.. keadaanmu begitu lemah.. ini membuatku bias dengan mudah membunuhmu.. hahahhaa" suara serak dan berat itu terdengar dari serigala raksaksa itu.
"keh! Jangan banyak bicara kau serigala!" Inuyasha berlari sambil mengeluarkan Tessaiga dari dalam sarungnya.
"TESSAIGA!" Inuyasha mulai melancarkan semua serangannya. Tapi nihil! Serangan yang ia berikan tidak mempan sama sekali. Ada apa ini? Kekuatannya melemah? Seketika Inuyasha menyadari bahwa tubuhnya tidak seperti biasa. Apa mungkin keberadaan Kagome begitu berpengaruh pada tubuhnya? Tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu sekarang.
SRAAAATTTTT
Serigala raksaksa itu sukses melukai lengan kiri Inuyasha. Bukan hanya jubah merah nya yang sobek namun kulit lengannya juga ikut terluka dan mengeluarkan darah.
"hahaha Inuyasha.. kau sudah membuang tenagamu dengan percuma. Aku tidak akan membunuhmu jika kau memberikan Shiko no Tama dengan mudah. Dengan begitu aku akan mengampunimu.." suara serak dan berat itu terdengan mengintimidasi Hanyo yang sedang memegangi luka sayatan dilengannya.
"kusso!" umpat Inuyasha sambil menggertakan gigi menahan amarahnya.
Hening.. untuk beberapa detik Inuyasha maupun siluman serigala raksaksa itu sama sama terdian dan menduga duga serangan apa yang akan diluncurkan oleh lawannya. Sampai lidah serigala yang memanjang itu menembus dada inuyasha dengan mudah.
"AKKHHH!" kali ini Inuyasha terbujur tak berdaya diatas tanah. Bersimbah darah yang keluar dari dadanya yang ditembus dan juga lengannya.
TO BE CONTINUE
Bocoran buat chapter selanjutnya mungkin bakalan ada Kagome x Kouga/Naraku hahaha
bagaimana? ada yang penasaran? kkkkkk
tunggu chapter selanjutnya yaaaaa
