Halooo, kembali lagi dengan Takara yang sempat hilang dari peradaban :3

Gomen updatenya kelamaan, ada aja gangguan mampir :( sebagai permintaan maaf Takara akan update 2 chapter sekaligus yeey xD

Daaann terima kasih bagi para readers yang telah meluangkan waktu untuk membaca karya Takara sebelumnya, juga yang telah meninggalkan review:3 arigatou #peluk

Oke langsung saja ya - Let's GO!

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

.

Fate by Takara Rei

.

Chapter 2 – Lagi?!

Eren menoleh untuk kesekian kalinya. Memastikan jejaknya tidak tercium setan kelaparan itu lagi. Eren bersyukur dapat lolos dari ancaman pria obsidian yang memiliki tatapan sedingin es di benua antartika. Merasa aman, ia menghentikan larinya memutuskan untuk berjalan santai hingga satu belokan terakhir yang menghantarkannya ke Shiganshina Royal Hospital. Rumah sakit terbesar tempatnya bekerja sebagai perawat.


"Pagi Eren!" suara ambigu entah pria atau wanita menyapa Eren dari belakang, membuat si empunya nama yang kini telah berseragam perawat menoleh, mendapati pemuda bersurai pirang blonde berlari menghampirinya, "Oh, pagi Armin.." sapa Eren lesu pada sang calon dokter muda yang sedang koas di rumah sakit itu. Eren merasa benar-benar perlu asupan tenaga saat ini juga. "Kenapa kau lesu begitu? Oh ya, tadi Mikasa mencarimu, ia sangat panik begitu tau kau terlambat 15 menit…" terang Armin perlahan, takut-takut emosi sahabatnya mendadak meluap.
"Kereta yang kunaiki delay 10 menit. Sisanya aku bertemu setan sialan."
"Setan? Maksudmu?"
"Ah, lupakan. Kau sudah sarapan Armin? Temani aku sarapan," ujarnya berkelit dari pertanyaan beruntun yang akan dilontarkan pemuda bersurai blonde itu. Armin yang hanya memandang heran memutuskan menemani Eren sarapan di cafetaria.


"Hoi Eren! Bengong aja!" sapa pria ber-name tag JEAN K, menepuk keras pundak Eren.
"Tidak bisakah kau tenang sedikit muka kuda?! Kau ingin agar aku memuntahkan makanan di mulutku ke wajahmu?!" teriak Eren kepada kawan sekaligus rival seperjuangannya itu.
"Wih, galak bener! Dasar ceking!" balas Jean mencomot satu kentang goreng terakhir milik Eren. Membuat si pemilik mendelikkan manik zamrudnya ke arah si kuda pencuri. Bagi Eren, biang kerok dengan name tag JEAN K itu tidak cocok menyangga marga Kirschtein pada namanya, melainkan KUDA atau lebih tepatnya JEAN KUDA.

"Tidak bisakah kalian sedikit tenang dua bocah labil.." sebuah suara terdengar dari meja seberang, membuat tiga bocah serangkai terkejut karena tidak menyadari kehadiran seseorang. Annie Leonhardt, perawat senior yang seharusnya seangkatan dengan mereka, namun karena mengikuti program akselerasi ia wisuda 2 tahun lebih awal dari mereka dan menjadi perawat senior 'termuda' di Shiganshina Royal Hospital. Kini, ia telah terpancing oleh keributan dua sejoli di sebelahnya. Ucapannya otomatis membuat pertengkaran si ceking dan si kuda bersambung di tengah cerita.

Jika dipikir-pikir bagi Eren sebenarnya saudara tirinya –Mikasa– juga memiliki otak yang keencerannya bahkan melebihi Annie. Bahkan ia sempat ditawarkan untuk menjadi salah satu perawat Rumah Sakit terkenal di luar daerah. Tapi namanya juga Mikasa, demi selalu bersama dengan saudara tercintanya ia rela melepaskan kesempatan emasnya. Bahkan saat Eren memutuskan menjadi perawat karena sadar akan kemampuan otaknya yang tak mampu menyabet gelar dokter pun diikuti Mikasa, padahal ia bisa saja menjadi dokter. Dasar.

Wanita bersurai kuning pucat itu menatap mereka dengan tatapan sinis begitupula dengan dua sahabatnya – sekampung seperjuangan-, Reiner Braun -dokter muda yang juga sedang koas- dan Bertholdt Fubar -perawat setingkat di atas Eren- yang selalu mengikuti Annie kemana-mana bak putri saudagar yang dikawal kawanan bodyguard. Entah mengapa Eren merasa kedua lelaki besar itu tak pantas menjadi dokter maupun perawat mengingat wajah sangar serta tubuh besar mereka yang menurutnya justru akan membuat pasien takut dan lari kocar-kacir. Eren hanya membalas mereka dengan senyuman, yang terlihat jelas sangat dipaksakan.


Tok. Tok. Tok.

Pintu dengan name tag besar dari kayu bertuliskan dr. Erwin Smith terbuka perlahan, memunculkan sosok wanita cantik dengan surai serupa warna jahe. Name tag bernamakan dr. Petra Ral tergantung pada bagian kiri jas dokter putih bersih yang menyelimutinya, "Selamat Pagi, dokter Smith."

Pria yang sedang memeriksa beberapa hasil lab pasien hanya mendongak, lalu mengumbar senyum untuk membalas sapaan dokter muda dihadapannya. Dibenahinya kaca mata tebal yang tanpa sadar telah melorot hingga ke pucuk hidung, "Ada apa dr. Petra?"
"Um, anu.. bagaimana kabarnya?" Ekspresi wanita itu mendadak murung. Digenggamnya erat stetoskop pada tangannya yang ia bawa sejak tadi. Erwin menghela nafas berat, "Kabarnya ia memutuskan kembali ke Shiganshina."
"Jadi dia akan segera kembali?" tanya Petra sedikit melonjak senang.
"Ia hanya mengirim email – 'aku akan segera kembali' – itu saja."
"Begitu.. kapan ia akan kembali?"
"Entahlah. Ia belum memberitahukanku soal itu."
Petra hanya terdiam sejenak, "Um, kalau begitu aku permisi dulu dr. Smith. Ada pasien yang harus kuperiksa keadaannya."
"Baiklah."


'Baka baka baka!' hanya kata itu yang terus berkecamuk dalam pikiran Eren. Entah mengapa hari ini kesialan beruntun menimpanya. Pertama, ia bertemu entah orang atau setan di stasiun. Kedua, ia terlambat sampai di rumah sakit. Ketiga, ia dicegat oleh dr. Hanji yang memintanya membantu mengganti infus pasien karena Mikasa sedang mengambil beberapa obat untuk pasien. Dan keempat, ia lupa mengambil hasil lab pasien yang seharusnya diambil pukul 10, dan sekarang sudah pukul 10:30. Ini berarti ia sudah telat 30 menit. Belum lagi hasil lab itu harus segera ia antarkan ke ruangan dr. Smith di lantai 1. Sedangkan lab terletak di lantai 4. Dan kini ia berada di lantai 2, lengkap sudah. Membuatnya harus bolak-balik dengan kecepatan ekstra agar tidak mendapat amukan dari dr. Smith akibat kelalaiannya dalam menjalankan tugas.

Kini hasil lab telah berada di tangan Eren. Ia hanya perlu segera mengantarkannya ke ruangan dr. Smith , sebelum sang dokter makin naik pitam dan menambah ceramahannya pada Eren. Eren mempercepat larinya menuju lift, melihat pintu lift sudah setengah tertutup. "Tahan pintunya!"

HAP!
Sekali lompatan telah berhasil membawa Eren ke dalam lift, melewati pintu lift yang kini telah tertutup sepenuhnya. "Te..rima kasih telah menahan pintunya.." kata Eren terengah, berusaha mengatur nafasnya agar kembali beraturan. "Samasama. Sedang terburu-buru bocah?"
Deg. Suara itu, ia merasa mengenalnya. Suara bariton yang dapat membuat bulu kuduknya berdiri. Sedikit takut, ia coba menoleh perlahan ke arah sumber suara di sudut lift. Pria berkulit putih pucat yang tengah bersandar pada dinding lift dengan kedua tangan bersilang di depan dada menyapanya, "Hai Eren Jaeger."
"K-K-KAU?!"

.

.

To be Continued

Yosh! Akhirnyaaa. Gomen kalau di chapter ini ada typonya, Takara ngetiknya dengan mata terkantuk-kantuk sih huehe. Ada yang tau siapa yang di lift bareng si Eren? #udahketebakkaliii Yahh~

Berkenan memberikan review? :3