Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
.
Fate by Takara Rei
.
Chapter 3 – Tanda
BLARR!
Entah kapan suara petir tiba-tiba muncul di benak Eren. Eren merasa tubuhnya kaku seketika. Ia terpaku beberapa saat, sangat mirip dengan patung kurcaci di depan rumah kakek Armin, minus topi dan janggut. Padahal kurcacinya sendiri telah ada dihadapannya saat ini. Namun Eren lebih memilih menganggap dirinya sebagai kurcaci, karena ia masih sayang nyawa. Sebelum ia masuk lebih dalam lagi ke alam kurcacinya, ia tersadar dirinya kini tidaklah berada dalam zona aman. Langsung saja ditembaknya pria itu dengan pertanyaan yang tidak bisa dikategorikan sebagai pertanyaan.
"A-a-apa! Ya apa! Apa yang kau lakukan disini?!" Eren bertanya dengan hebohnya, sambil terus mengucek mata. Berharap kedua maniknya salah melihat untuk kali ini. Mungkin ia hanya berhalusinasi di pagi yang entah mengapa tiba-tiba terasa mendung. Namun sosok yang tidak tergolong tinggi itu masih berdiri tegak pada tempatnya menatap Eren dengan tatapan dari atas ke bawah berulang-ulang layaknya menguliti kacang tanah, menyeleksi setiap inci tubuh Eren yang tergolong ramping untuk seukuran bocah laki-laki.
"Kau pikir ini rumah sakit nenek moyangmu? Siapapun bisa berada disini kan?"
JLEB. Eren merasakan tombak besar menancap tepat mengenai kepalanya yang disituasi seperti ini justru masih sempat mempermalukannya. Serangan pertamanya kalah telak. Jika ia sebuah es, ingin rasanya ia segera mencair dan menghilang di sela-sela rongga pintu lift bersama dengan rasa malunya.
"Emm, maaf maksudku, apa tujuanmu kemari? Berobatkah? Menjengukkah?" Eren mencoba bertingkah seperti biasa untuk menutupi rasa malunya. Tapi bukan Eren kalau mampu berlagak sok jagoan, toh kekikukannya tetap terlihat juga. Dasar bodoh!
"Yang jelas bukan untuk itu. Aku kemari karena ini." Ia memamerkan benda berbentuk persegi panjang yang terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Itu kan.. kembalikan!" Eren berusaha merebut kartu kereta miliknya. Sayang, pria itu telah memasukkan kembali kartu Eren ke saku blazernya. Sontak Eren membulatkan matanya kesal, karena bisa-bisanya ia kalah dengan pria yang tidak lebih tinggi darinya itu. Ingin rasanya ia mencaci maki kurcaci dihadapannya, namun ia sadar profesi serta lokasi tidak memperkenankannya untuk melakukan hal tersebut. Atau kalau ia mampu membuka paksa pintu lift ia ingin menendang paksa coret-setan-coret iblis kuntet agar hilang dari hadapannya sekarang juga. Sayang pikiran kadang tak sejalan dengan tindakan. Eren hanya bisa meratapi kesialannya. Tanpa kartu itu ia tak akan bisa pulang ke rumah. Tak mungkin bila ia harus pulang dengan taxi, bisa-bisa isi dompet jatah seminggu hangus begitu saja. Ia pun memberanikan diri untuk mengawali penyelamatan hidupnya. "Apa maumu?!"
Bingo! Sesuai perkiraan pria itu, sang bocah lugu akan bertanya demikian. Pria itu hanya terkekeh pelan, nyaris tak terdengar. "Terima kasih telah bertanya bocah." jawabnya sinis. "Sebelum kukembalikan, apa imbalan yang akan kau berikan padaku?" tantang pria itu.
"Apa saja!" jawab Eren asal. Ia hanya ingin lift yang terasa selambat siput segera berhenti karena ia tidak mau lebih lama lagi bersama iblis kuntet sialan.
"Benarkah?" Pria itu berjalan mendekat, membuat Eren terpojok di sudut lift, panik. Eren bisa merasakan nafas hangat pria itu menderu menggelitik lehernya. Ia tiba-tiba merasa gugup. Seketika semburat merah menghiasi pipinya. Eren berusaha menyembunyikan wajahnya yang kini semerah buah tomat siap santap. "Apa maumu, hah?! Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan-ARGH!"
Ia digigit oleh vampire! Bukan –tepatnya vampire kuntet! Apa tujuannya meninggalkan bekas gigitan di lehernya yang mulus?! Eren merutuk dirinya yang entah sial atau bagaimana mendapat gigitan dari pria kecil yang sama sekali tak ia kenal.
Pintu lift tiba-tiba terbuka. Pria asing itu bersiap keluar, namun langkahnya terhenti. Ia menoleh kembali pada Eren. "Akan kutunggu kau di taman rumah sakit sepulang kau kerja. Akan kukembalikan kartumu nanti bocah. Jaa!" tatapnya dengan pandangan sinis untuk kedua kalinya. Ia berlalu, berjalan dengan tegapnya meninggalkan Eren yang masih terpaku dalam lift.
"Hei tunggu! Dasar iblis! Bocah teriak bocah!" balas Eren namun pria itu mengabaikannya. Eren hanya bisa menatap kepergian pria itu. 'Apa ia sengaja mengerjaiku?' Eren hanya bisa bergumam sambil mengusap-usap lehernya yang terasa sangat perih.
.
.
To be continued
Yoshh! Sesuai dengan janji Takara, dua chapter sekaligus! xD pegel juga ngetiknyaaa
Di chapter ini, bang Levi muncul seharian penuh –yeey!- , habisnya di chapter sebelumnya dia muncul di akhir aja kan kasihan. Di chapter sebelumnya emang Takara fokusin ke orang-orang di sekitar kehidupan Eren, seperti teman dan seniornya, yah seperti itulah. Semoga para readers masih berkenan untuk membaca chapter selanjutnya yang akan diusahakan updatenya gak kelamaan, hehe. Oke sekian dari Takara, sampai jumpa di chapter berikutnya~ Jaa
Berkenan meninggalkan review? :3
