Nara Shikamaru bangun pukul 6 pagi keesokan harinya. Setelah bersiap, ia pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama ayah dan ibunya.

"Tou-san, nanti aku ke hutan ya. Sampai jam 8 malam," izin Shikamaru pada Shikaku.

Tampak alis Yoshino berkerut, "Untuk apa? Sampai malam-malam..."

"Hari ini Ino ulangtahun..."

"Oh astaga! Kaa-san sampai lupa! Kaa-san titip salam untuk Ino-chan ne~"

"Hn..."


Di sekolah keadaannya tidak jauh berbeda dengan kemarin. Ino masih saja mendiamkannya. Dari pagi ia datang, hingga ia pulang sekolah selalu bersama Sai. Yah, biasanya 'kan setiap istirahat mereka akan makan di kantin bersama...

"Hei Shika, Ino masih marah padamu?" Tanya Chouji dengan kripik kentangnya.

Shikamaru menguap bosan, "Hh~ Mendokusai na~"

"Kau tahu? Tadi malam Ino skype-an denganku. Dia bilang, sebenarnya tadi malam Ino masih menunggu e-mail-mu lho... Ino mengharapkan ucapan selamat darimu tepat tengah malam tadi. Tapi kau pasti masih tidur 'kan, Shika?"

Shikamaru tertohok, "Hontou?" Tanyanya, "Tapi dia 'kan sedang marah denganku?"

Chouji tersenyum simpul, "Kita sama-sama tahu Ino tidak mungkin benar-benar marah denganmu, denganku juga."

"Tapi kemarin bukannya aku sudah keterlaluan?"

Chouji menepuk pundak Shikamaru, "Kita sahabatnya. Kita tahu yang terbaik untuknya. Temui saja dia nanti sore. Beri surprise saja?"

"Hh~ itu sangat merepotkan, kau tahu?"

"Tapi dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan Ino untukmu, bukankah itu tidak ada apa-apanya? Hmm... Kutebak nanti pulang sekolah kau akan ke hutan? Ajak saja Ino ke sana."

"Kau harus membantuku. Surprise antara rookie 9, Temari, Kankurou, Gaara, dan Sai saja, wakatta?" Shikamaru mengajukan tinjunya. Rookie 9 merupakan nama genk mereka, beranggotakan Shikamaru, Chouji, Ino, Sakura, Sasuke, Naruto, Hinata, Kiba, dan Shino.

Chouji tersenyum dan membalas tinju itu, "Wakatta yo!"


Sore itu pukul 4, anggota Rookie 9 -kecuali Ino- sudah berada di tepi Hutan Nara yang terlihat sepi.

"Shikamaru, katamu kita akan membuat surprise di sini?" Tanya Naruto.

Sakura menimpali, "Tapi...-"

"-Dimana hiasannya?" Sela Kiba.

Shikamaru menguap lebar. Chouji sebagai sahabatnya yang baik menjawabkan, "Teman-teman, rencana ini mendadak sekali. Aku dan Shikamaru baru memikirkannya pulang sekolah tadi. Jadi kami belum menyiapkan apapun. Bukankah Shikamaru sudah meminta kalian membawa beberapa lampu taman, kabel, dan lainnya?"

Semua yang ada di sana mengangguk kecuali beberapa diantaranya.

"Aku ingin kalian membantuku menghias tempat ini. Satu jam saja cukup. Aku sudah membawa generator mini untuk listrik. Meja pendek untuk makanan dibawa Chouji. Temari, Gaara, dan Kankurou sudah membawa makanan beserta tartnya. Sakura, kau bawa make up dan gaun untuk Ino 'kan? Sai bilang Ino sampai saat ini bahkan belum mengganti seragamnya."

Sakura mengangguk, "Aku membawakan gaun dan alat make up Ino dari rumah Inoichi-jii."

Shikamaru mengangguk puas, "Sebentar lagi Temari akan datang. Lebih baik kita memasang lampu taman dan menata mejanya. Dan um, Hinata? Kau bawakan pesananku kemarin 'kan?"

Hinata mengangguk, "I-iya. N-nanti kuberikan."

"Baiklah, onegai shimasu, minna," Shikamaru menatap teman-temannya satu persatu.

"YOSH!"


Ino dan Sai berjalan mengelilingi Konoha Land. Tadi siang sepulang sekolah Sai mengajaknya pergi ke Konoha Land sebagai hadiah ulangtahunnya. Yah, walau akhirnya kebahagian itu berakhir dengan tangisan Ino di tepi danau dekat sana.

"Sudahlah Ino, ini 'kan hari ulangtahunmu? Nanti kamu tidak cantik lagi lho~ lihat tuh, make up-mu sudah luntur," hibur Sai.

Air mata Ino semakin menganak sungai, "Kau tahu? Rasanya sangat menyakitkan, menghabiskan hari ulangtahunmu tanpa sahabatmu sejak berumur 3 tahun!"

Sai mendekat dan mendekapnya, "Kenapa tidak baikan saja?"

"Bagaimana caranya? Shikamaru sudah tidak peduli padaku! Lihat buktinya, tengah malam tadi ia tidak memberiku selamat ulangtahun! Bukankah sahabat yang baik selalu menganggap hari berarti bagi sahabatnya juga hari berarti untuknya?"

Sai tersenyum dan membelai lembut kepala Ino, "Dan bukankah sahabat yang baik akan selalu memaafkan sahabatnya? Dan bukankah sahabat yang baik akan benar-benar mengerti sahabatnya? Dan bukankah sahabat yang baik akan membuang egonya demi bersama sahabatnya?"

Tubuh Ino menegang. Kata-kata itu... Kata-kata yang pernah ditulisnya di suatu tempat... Ah! Di buku diary-nya!

"Sai!" Spontan Ino melepaskan pelukan Sai, "Kau membaca diary-ku?!"

Sai tersenyum kikuk, "Aku tidak sengaja menjatuhkan bukumu waktu itu. Buku itu terbuka dan aku membaca halaman yang terbuka itu. Ha-hanya yang terbuka kok!" Kata Sai melihat delikan Ino, "Dan kata-kata itu yang tertulis di sana."

Ino tersenyum lega. Lalu kembali memasang wajah sendu. "Aku menulis itu saat aku sedang bertengkar dengan Sakura. Sakura tidak mau memaafkanku saat aku menjatuhkan novel kesayangannya. Yah, waktu itu aku kesal, sangat kesal. Aku 'kan sudah minta maaf, tapi dia enggak kunjung memaafkanku juga," curhat Ino seraya mengelap air matanya yang kembali keluar.

Sai tersenyum lembut, "Jadi, kau memaafkan Shikamaru 'kan? Kau bilang Shikamaru dan Chouji adalah 'sahabatmu sejak 3 tahun', hm?"

"Itu 'kan karena orangtua kami bersahabat lebih dulu," kata Ino sambil meninju pelan bahu Sai. "Dan ya, aku memaafkannya," lanjutnya dengan senyum lebarnya.

Tiba-tiba saja ponsel milik Sai berdering. Sai mengangkat teleponnya dan berbicara singkat dengan orang yang tidak diketahui Ino.

"Dari siapa?" Tanya Ino.

Sai tersenyum miring, "Siap bertemu seseorang?" Kemudian menarik tangan Ino menuju mobilnya tanpa menjawab semua pertanyaan yang diajukan Ino.


Ino tidak bohong ketika ia bilang kalau ia mengerti arah tujuan mobil Sai. Hutan Nara. Ia benar-benar menghafal jalan ini di luar kepalanya. Salahkan si Rusa Bulat yang hampir setiap hari mengajaknya dan Chouji ke sana, yah, itu jika dia sedang badmood. Ino tahu itu.

Tapi, saat ini Shikamaru sedang tidak badmood 'kan?

Sai memarkirkan mobilnya di samping pagar kawat pembatas hutan tepat pada pukul 6 sore. Kemudian keluar dari mobil dan menutup mata Ino. "Untuk apaan sih?" Tanya Ino yang tidak dihiraukan Sai.

Sai membimbing Ino menuju tepi hutan yang gelap. Seraya tidak menghiraukan gerutuan Ino, Sai mencari-cari keberadaan teman-temannya dengan iris onix-nya.

Dilihatnya Naruto dan Kiba yang heboh melambai-lambai dari balik pohon. Kemudian Sai membimbing Ino ke sana. Dan dibalik pohon itu, tampak teman-temannya yang saling bersembunyi dibalik-balik pohon lainnya. Perlahan-lahan Sai meninggalkan Ino dan ikut bersembunyi di balik pohon.

"Umm, Sai?"

"..."

"Sai?" Ino mulai mengarahkan maniknya yang masih tertutup kain ke segala arah.

"..."

"Kau dimana? Hoi!"

"..."

"Jangan bercanda deh, ini enggak lucu..."

"..."

"SAI! KAU BUKA MULUT ATAU AKU PULANG SEKARANG!"

"..."

"Sa-"

"-Kau yakin akan pulang sekarang, Ino?" Suara yang amat Ino kenali berbisik di telinga kirinya.

"Shikamaru?"

"..."

"Shika! Kau dimana?!" Ino kembali berputar.

"..."

"Dimana Sai?"

"..."

"Cukup!" Ino membuka penutup matanya tanpa izin dari yang lain. Dan saat itu juga, batinnya terperangah.

Tepi hutan itu dikelilingi oleh lampu-lampu taman berbohlam bola kuning. Beberapa serangga malam yang terpencar di dalam hutan berkumpul di masing-masing lampu taman. Di tengah-tengah terdapat meja pendek yang dikenalinya sebagai meja barbeque milik keluarga Akimichi. Dan di atas meja itu, terdapat beraneka macam makanan dan sebuah roti tart tiga susun berwarna ungu dan putih.

Air mata Ino menganak sungai saat teman-temannya menampakkan diri dan serentak mengucapkan selamat ulangtahun untuknya. Dan semakin deras ketika dilihatnya Shikamaru berjalan dan mendekat padanya. "Kau suka?" Tanyanya.

Ino mengangguk kemudian menghambur pada pelukan Shikamaru, "Kau yang membuatnya?"

"Tidak. Mereka yang membuatnya," Shikamaru melirik ke arah teman-teman mereka.

Naruto, Sai, Kiba, Shino, Sakura, Temari, Kankurou, Sasuke, Gaara, Chouji, Shino, Hinata, dan yang terakhir, Shikamaru.

Ino melepas pelukannya lalu bertanya, "Dan kau?"

Shikamaru tersenyum, "Aku tidur. Apalagi?"

"Dasar!" Ino meninju pelan Shikamaru sembari tertawa kecil.

Sakura berjalan mendekat dan menarik tangan Ino, "Putri yang berulangtahun harus mengenakan pakaian yang lebih mewah dari kami semua, bukan begitu?"

Kedua gadis itu menghilang dibalik rimbun-rimbun pepohonan. Menyisakan kawan-kawannya yang pergi menuju meja makan mendahuluinya.

"Hei Sakura?" Panggil Ino.

"Apa?"

"Semua ini, ide siapa?"

"Ideku dong. Keren 'kan?"

"Jangan bercanda. Kau tidak mungkin merencanakan semua ini."

"Hahaha, ketahuan ya? Memang bukan aku sih..."

"..."

Sakura membantu Ino memakai gaun berwarna peachnya. Lalu berkata, "Nah, si putri yang berulangtahun sudah benar-benar menjadi putri hm?"

"..."

"..."

"Sakura?"

"Ya?"

"Kau... Benar-benar sudah memaafkanku 'kan?"

"Ha? Soal apa?"

"Novelmu yang hilang waktu itu..."

"Oh! Novel yang tahun lalu itu? Sudahlah, aku bahkan sudah melupakannya," ujar Sakura seraya mengangkat bahu, menegaskan bahwa ia sudah benar-benar tidak mempedulikannya lagi. Lalu melanjutkan, "Sebenarnya, aku marah bukan karena kau menghilangkan novelku..."

"He? Lalu?"

"Aku marah karena kau menghilangkan novel pemberianku. Aku sudah bilang 'kan? Novel itu untukmu," katanya dengan suatu penekanan pada kata 'pemberianku'.

"Hontou?"

"Kau tidak percaya?"

"Ha'i, ha'i, aku percaya. Jadi... Kau sudah memaafkanku 'kan?"

"Kalau belum, saat ini aku enggak mau repot-repot datang ke sini untuk membantu Shikamaru," Sakura menggembungkan pipinya.

"Iya, iya, haha," Ino tertawa kecil.

"Kau sendiri bagaimana? Sudah memaafkan Shikamaru?"

Ino mengernyitkan alisnya, "Apa yang kau bicarakan, Sakura? Berapa lama kau sudah mengenalku? Jika aku bilang belum, apakah kau akan percaya?"

Sakura tersenyum, "So, you have give your forgiven for him, right?"

"Of course I do. When I can being mad for long time?"

Mereka tertawa bersama.

"Cepatlah, sang putri tidak boleh membuat rakyatnya menunggu."

"Hentikan putri-putrian konyol itu, Sakura. Itu kata-kataku sewaktu kita berumur 10 tahun, remember?"

"If I don't remember about that, aku tidak akan mengucapkannya sekarang 'kan?"

"Terserahmu saja, pelayan. Haha."

"Pelayan?!"

"Katamu aku putrinya? Berarti kau pelayannya 'kan?" Kemudian Ino berlari dengan flatshoesnya. Meninggalkan Sakura dengan gerutuannya.

"PIGGY!"

"KEJAR AKU, FOREHEAD! Haha!"


Party mereka selesai sekitar sejam yang lalu. Sai, Temari, dan teman-temannya yang lain sudah pulang ke rumah mereka. Menyisakan Shikamaru dan Ino dikegelapan malam bersama beberapa ekor rusa yang mendiami hutan itu.

"Shikamaru?"

"Hm?"

"Kau enggak mau meminta maafku?"

"Untuk apa?"

"Memangnya kau enggak merasa bersalah padaku? Mendiamkanku tempo hari?"

"Maksudku, untuk apa aku meminta maaf? Bukannya kau sudah memaafkanku?"

"Ha? Ta-tapi 'kan-"

"-Nah, kau sudah memaafkanku. Kita sudah baikan. Masalah selesai 'kan? Mendokusai~"

"Hh~ ok, ok, masalah kita selesai."

Ino ikut membaringkan diri di samping Shikamaru. Menikmati lukisan langit malam yang terhampar di sana. Sampai ia melihat sesuatu yang menghiasi tangan Shikamaru.

"Yang ada di tanganmu itu... Kok enggak asing ya?"

"Ini 'kan buatanmu kemarin..."

"Eh? Masa?!" Ino lekas bangun dan meraih tangan Shikamaru. Kemudian diamatinya handband itu, "Kok bisa rapi sih? Ini ikat rambutku itu 'kan? Kok enggak dipakai di rambut sih?!"

"Kemarin kuminta Hinata merapikannya. Bahan ikat rambut ini enggak elastis, enggak bisa dibuat mengikat rambut. Kuanggap handband enggak masalah 'kan? Lagian, kenapa buatnya harus dari wol sih?" Sewot Shikamaru sembari menarik tangannya.

Ino menjitak kepala Shikamaru setelah tertawa, "Kalau bukan wol, enggak bisa dirajut dong?"

"Itu lebih baik. Rajutnmu payah, hoam~ aku tidur dulu ya, jam 8 nanti bangunkan."

"APA KAU BILANG? AKU 'KAN SUDAH BERUSAHA!"

"Zzz"

"HOI! JANGAN COBA-COBA MENDIAMKANKU!"

"..."

"Hh~ dasar Shika..."

"..."

Ino kembali membaringkan tubuhnya di samping Shikamaru. Memandang sejenak langit berbintang seperti tadi.

"Hei, kau tahu, Shika? Bagiku ulangtahun ke-17 ini adalah ulangtahun terindah dalam hidupku. Bukan karena akhirnya kita berbaikan setelah bertengkar kemarin. Tapi karena pertengkaran kita kemarin membuatku belajar akan suatu hal..."

"Apa itu?"

"Jadi kau pura-pura tidur?!" Ino beranjak duduk dari posisinya, "Ah sudahlah. Yah, aku belajar kalau kau dan Chouji adalah hadiah terindah dari Kami-sama untukku."

"Jadi hanya aku dan Chouji yang berarti untukmu? Kau tempatkan Sai dimana?"

"Tentu saja dia juga berarti untukku. Di hatiku"

"Jadi hanya aku, Chouji, dan Sai saja yang berarti untukmu? Kemana Inoichi-jii, Rookie 9, dan teman-teman yang lain?"

"Arrrgghhh! Berbicara denganmu sangat merepotkan, Mr. Troublesome."

"Itu kata-kataku. Cari kata-katamu sendiri."

"Ini 'kan hari ulangtahunku. Suka-suka aku dong!"

"Terserahmu sajalah..."

"..."

"..."

"Hei, Shika..."

"Apalagi?"

"Kau ini... Umm, arigatou ne. Untuk hari ini dan semuanya."

"Hm, yah... Douita."

Hari ini, sepasang sahabat itu belajar. Bahwa sahabat yang baik itu, adalah mereka yang mengerti dan menerima satu sama lain apa adanya. Dan hal itu menjadi hadiah terindah di bulan September ini. Omedetou, untuk Shikamaru dan Ino!

Ino's BD end

A/N: akhirnya selesai juga, yay! *nari-nari gaje*

Ehm, makasih buat yang bersedia baca chapter kemarin dan hari ini. Ren gabisa kasih apa-apa selain tangis haru Ren... :')

Ren mau kasih omake singkat nih... And the last word, mind to review?


-OMAKE-

Chouji, Sai, Temari, Naruto, Sakura, dan Kiba bersembunyi di balik pohon yang rimbun. Telinga mereka sibuk mendengarkan percakapan Shikamaru dan Ino.

"Hei Sai," panggil Naruto. "Kamu enggak cemburu melihat mereka berduaan, dattebayo?" Lanjutnya.

Sai tersenyum. "Enggak. Seharusnya kau tidak bertanya padaku. Tapi pada..." Sai melirik Temari.

Temari yang merasa dilirik mendengus pelan, "Untuk apa aku cemburu? Ini 'kan ideku..."

"Ha? Hei Kiba, katamu ini ide Chouji?" Tanya Sakura.

Kiba mengangkat bahunya, "Kudengar dari Shino juga begitu."

"Lup-"

"-Shino tahu darimana memangnya?" Giliran Naruto angkat suara.

"Shino mendengarnya sendiri. Saat Chouji dan Shikamaru berbicara di kelas tadi."

"He-"

"-Jadi tadi Shino masih di kelas?" Tanya Chouji.

"Kau tahu sendiri 'kan Chou, jarang ada orang yang bisa menyadari keberadaan Shino," ujar Kiba santai.

"Aaaaarrrgggghhh! Lupakan soal Shino, dattebayo! Jadi bagaimana bisa kejadian ini adalah ide Temari?" Lerai Naruto.

"Jad-"

"-Jadi dari awal memang kalian enggak pernah menyadari keberadaanku ya?"

Eh? Itu suara Shino 'kan?

"Teman yang baik seharusnya menyadari dan mengenal teman-temannya dengan lebih baik. Jika mereka enggak bisa menyadari keberadaan temannya, hal itu dapat membuat temannya sakit hati. Jadi, sebag-"

"Hei... Lihat Temari..." Semua pandangan mengikuti kata yang terucap dari bibir Sai. Tampak perempatan di dahi Temari. Dan ini benar-benar pertanda buruk.

"KALIAN MAU DENGAR PENJELASANKU ENGGAK?!"

"..."

"Temari? Belum pulang?" Tanya Ino yang sudah berada di belakang mereka bersama Shikamaru.

"EH? KOK KALIAN DI SINI?"

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, mendokusai."

"K-kami... Kami hanya-"

"Kami menguping pembicaraan kalian," Sai tersenyum dengan watados-nya.

"Sai! Kau jujur sekali sih?!" Protes Sakura.

Shino yang tidak diundang ikut angkat bicara, "Kejujuran itu sangat pentiing untuk kelanjutan hidup umat manusia. Jika enggak ada kejujuran-"

"Shinoo! Cara bicaramu itu terlalu berbelit-belit dattebayo!"

"Berhenti kalian..."

"Teman-teman..."

"KALAU MAU RIBUT DI TENGAH HUTAN AJA SANA!" Temari mengamuk.

"Oi, oi, Temari..."

"Apa?! Pergi sana!"

"Ck, mendokusai..."

Sakura, Ino, Sai, dan Chouji memilih untuk tidak menyimak pertengkaran itu. Mereka menepi dan terlibat percakapan sendiri.

"Pig, kau senang hari ini?" Semua mata tertuju pada Ino.

Ino tersenyum sembari menatap kembali langit malam, "Gimana ya? Perasaan ini sulit untuk dilukiskan. Rasanya semua bercampur menjadi satu. Bak titik-titik air yang bergumul di langit dan membentuk awan. Namun saat turun dan terbiaskan oleh cahaya, mereka akan membentuk pelangi."

Semua yang ada di sana tahu. Ino merasa terlalu senang hingga tidak tahu harus berkata apa. Tapi kalimat tadi rasanya terlalu puitis untuk seorang Yamanaka Ino...

Sai buka mulut, "Itu bait terakhir Shikamaru untuk lagunya minggu lalu. Kurang satu kalimat lagi, 'Dan karena itu, aku menyukai awan.' Selesai."

Semua menoleh pada Ino yang nyengir-nyengir tanpa dosa.

end