Kuroko Kyoudai no Basuke
Chapter 4 is up!
Caution : This fanfic just a work of fiction. If there are something that happen to be the same, I deeply apologize.
Seluruh court terdiam dengan apa yang diucapkan Kagami, sepertinya mereka tak percaya akan hal tersebut.
"Bahkan Kagami tak dapat melawannya, tapi kelemahannya itu..." Hyuga berkata tidak percaya.
"Selain passnya yang hebat, orang yang paling lemah di court, Kuroko-kun?" Riko pun terlihat tak percaya dengan apa yang telah didengarnya.
"Lalu? Memang benar hanya permainan Kurokochi yang tak dapat kutiru walau sudah kulihat. Tapi apa akan ada bedanya?" setelah beberapa lama Kise membalas pernyataan Kagami. Bunyi peluit terdengar pertanda akhir dari quarter pertama. "Akan ada perbedaan. Akan aku kalahkan kalian pada quarter kedua." Balas Kagami. Perbedaan angka antara Seirin dan Kaijo saat itu 27-35 untuk Kaijo unggul 8 angka. Untuk tim yang baru dibentuk dua tahun, itu sesuatu pencapaian yang bagus. Namun, mereka harus segera membalikkan keadaan kalau mereka ingin menang.
"Apa sih yang kalian lakukan!? Mereka mulai mengejar perbedaan poinnya!" lagi-lagi suara teriakan pelatih Kaijo menggema di gedung olahraga tersebut. "Kalian kuarng melakukan teknik dasar! Hands up! Screen out! Rebound! Kalian kan lebih tinggi, jadi kalian harus mendapatkan reboundnya!" 'cih, dasar pak tua gendut itu, jika menurutmu mudah seharusnya kau lakukan sendiri...' itu adalah hal yang muncul pada benak Ryu saat mendengar teriakan menjengkelkan dari pelatih Kaijo.
Kelihatannya dari percakapan para anggota Seirin, pada quarter kedua mereka akan mengadalkan koordinasi Kagami dan Tetsuya.
Quarter kedua dimulai dengan poin pertama dicetak oleh Kise, lalu disusul oleh three point Hyuga. Defense dari Kaijo masih man-to-man, Hyuga melakukan pass ke Izuki, dan Izuki ke Kagami. Kagami mendrible bolanya ke area Kaijo dengan Kise membuntutinya. Namun, tanpa diduga Kagami melakukan pass ke belakang, lalu Tetsuya mengembalikan pass ke Kagami dan dia mencetak angka untuk Seirin. Dengan koordinasi dari Kagami dan Tetsuya serta seluruh pemain yang berada di court perbedaan poin dapat diperkecil.
Ditengah pertandingan terlihat Kise berhenti sebentar, "Kurokochi..." katanya sambil berbalik menghadap Tetsuya.
"Kise-kun, kau itu kuat. Aku lemah, bahkan Kagami-kun tidak dapat melawanmu. Tapi jika kami berkerja sama, kami berdua dapat melawanmu." Kata Tetsuya.
"Kurokochi, kau telah berubah. Kita tak pernah bermain basket seperti ini saat di Teiko, tapi kau tetap tak akan bisa menghentikanku. Dan akulah yang akan menang!" kata Kise.
"Memang benar kalau aku tak akan bisa mengcopy koordinasimu, tapi keefektifanmu tak akan bertahan lebih dari 40 menit, dan kau akan kalah pada dua-perempat quarter terakhir!" lanjut Kise dengan mengambil bola dan maju, "Tidak secepat itu." Kata Kagami dan Tetsuya maju dan menjadi mark Kise. 'apa yang sedang mereka pikirkan? Nii-san mana mungkin bisa menahan Kise-senpai...' pikir Ryu.
"Aku tak pernah menyangka walau dalam mimpi kalau aku akan bermain melawan Kurokochi seperti ini." Kata Kise. "Aku juga." Balas Tetsuya. "Aku tak tahu apa yang sedang kau rencakan, tapi Kurokochi tak akan dapat menghentikanku." Kise bergerak maju melewati Tetsuya namun diblock oleh Kagami. "Kau salah, kita tak akan menghentikanmu..." kata Kagami. 'mereka akan mencuri bolanya!' Hal itulah yang muncul dalam pikiran Ryu. Tetsuya melakukan back tip dan bola yang ada dalam tangan Kise jatuh terpental dan diambil oleh Izuki.
"Kami tak peduli teknik apa yang akan kau gunakan. Kami memang akan membiarkanmu lewat sejak awal!" balas Kagami dan Seirin mendapatkan poin.
-Ryu POV-
Nii-san hebat! Aku bahkan tak mengira kalau mereka akan melakukan itu. Memang benar jika Nii-san yang invisible melakukannya, reaksi Kise-senpai akan telat juga. Nii-san keren!
"Kalau begitu aku tak akan melewatimu. Tak ada yang bilang kalau aku tak bisa melakukan shoot!" sebelum Kise-senpai melakukan shoot, Kagami-senpai melompat dengan menjadikan Nii-san sebagai tumpuan dan mendorong bola dari tangan Kise-senpai. Sepertinya hal yang baru saja terjadi memang hal yang sedang diincar oleh mereka berdua.
Sejak tadi sudah kukatakan namun Onii-san memang hebat. Kalau bukan karena nii-san hal sekeren ini tak akan terjadi. Nii-san memang pendek, tapi dia hebat juga dalam strategi. Permainan ini membuatku tak bisa tenang berdiri di tempatku!
Setelahnya Kagami-senpai maju ke area lawan. Namun, hal selanjutnya sama sekali tak terduga. Bahkan aku sekali pun tak dapat memperkirakannya. Saat Kise-senpai berbalik, tangannya menghantam wajah nii-san dengan keras.
"Kuroko-kun!" Riko-san.
"Onii-san!" jeritku sambil lari menuju lapangan namun berhenti dipinggir lapangan karena referee belum memberikan time out.
"referee time out." Teriak wasit.
"Kuroko!" Teriak Hyuga-san. Saat nii-san menolehkan wajahnya, darah mengalir dari kepalanya. Melihatnya tubuhku langsung bergetar, tangan dan kakiku mulai dingin. Bayangan-bayangan tidak menyenangkan mulai melintas dikepalaku. Namun, segera kugelengkan kepalaku untuk menghilangkan hal yang bukan-bukan.
"Apa kau baik-baik saja, Kuroko?" tanya Hyuga-san sambil berlari menuju nii-san. Tentu saja tidak kan! Kepalanya berdarah mana mungkin dia baik-baik saja.
"Aku merasa sedikit pusing." Jawab nii-san. Tentu saja kan dia kehilangan cukup banyak darah.
"Bawa kotak P3K!" Teriak Riko-san.
"Tolong biarkan aku yang melakukannya!" aku berlari menyambar kotak P3K untuk mengobati atau setidaknya menghentikan aliran darah yang keluar dari kepalanya.
"Apa kau tak apa-apa?" tanya Kagami-senpai. Kenapa masih bertanya?! dasar bodoh.
"Aku tidak apa-apa. Pertandingannya kan baru saja dimu... lai." Dengan kalimat itu nii-san terjatuh pingsan. "Kuroko!" teriak Hyuga-san. Aku berlari memasuki lapangan dan duduk di samping nii-san.
"Nii-san, bangun!" teriakku sambil menggoncang sedikit tubuhnya. "Apa yang kalian lakukan cepat bawa tandu!" kataku pada para pemain bench Seirin yang hanya dapat mereka jawab dengan 'Hai'. Setelahnya aku mengobati nii-san dibangku pemain Seirin.
"Eto, adik Kuroko-kun? Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya pelatih Seirin padaku.
"Aku hanya ingin lihat pertandingan Seirin dengan Kaijo." Jawabku sambil terus memperban nii-san.
"haaaaah... apa yang akan kita lakukan?" Tanya Hyuga-san pada timnya.
"Biarkan saja dia. Pasti dia hanya mengkhawatirkan kakaknya." Jawab pemain yang kukenali dengan nama Koganei Shinji. Mendengar jawabannya, empat sudut siku-siku muncul didahi sang kapten.
"Bukan itu, bodoh! Maksudku pertandingannya!" teriak sang kapten, akupun telah selesai memakaikan perban pada nii-san.
"Kuroko-kun tak dapat bermain lagi. Yang hanya bisa kita lakukan adalah bermain dengan pemain yang ada." Kata Riko-san.
"Yang hanya bisa kita lakukan?" kata pemain yang tak kukenal, pasti dia pemain baru karena aku tak pernah melihatnya bermain.
"Bukannya ini akan sulit tanpa adanya Kuroko?" jawab pemain lainnya yang juga tak kukenali.
"Kalian jangan remehkan Seirin! Memang akan sedikit sulit, namun kupikir Seirin tak akan ketinggalan angka terlalu jauh." kataku pada mereka berdua.
"Memangnya kau tahu kekuatan senpaitachi?" tanya si botak.
"Tentu saja. Aku pernah melihat pertandingan mereka." Jawabku dengan tegas.
"Kelas dua yang akan bermain offensive. Ini masih quarter kedua, tapi kita tak boleh membiarkan mereka jauh melampaui kita. Aku tahu ini terlalu cepat, tapi ini waktunya kau bermain, Hyuga-kun." Tanpa memperdulikan perkataanku dan pemain kelas satu, Riko-san melanjutkan omongannya yang dijawab 'ya' oleh Hyuga-san. "Kise-kun pasti menirukanmu, jadi jangan bermain offense, Kagami-kun. Fokuslah pada defense. Lakukan apapun yang bisa kau lakukan untuk menghentikan Kise-kun mencetak score." Lanjutnya.
"Tak mungkin. Apa kau yakin itu akan berhasil?" Tanya Kagami-senpai.
"Tak akan apa-apa. Percayalah sedikit." Jawab Hyuga-san.
"Tapi.."
"Aku bilang tak akan apa-apa kan, bodoh. Setidaknya dengarkan kata-kata senpaimu sesekali, atau akan kubunuh kau." Kata Hyuga-san dengan senyuman yang mengerikan. Setelahnya wasit meniup peluitnya tanda bahwa pertandingan dimulai kembali. Hyuga-san segera berjalan kearah lapangan sambil marah-marah.
"Uwaah, clutch time?" kataku yang didengar oleh semua pemain didekatku.
"hee, kau tahu. Kapten, kau menunjukkan wajah aslimu saat tombol switchmu ditekan." Kata Izuki-san pada Hyuga-san. Lalu dia berbalik kepada Kagami-senpai. "Jangan khawatir. Dia selalu seperti itu jika clutch time. Ketika dia mengutarakan hal yang dipikirkannya, shootnya tak akan banyak meleset. Biarkan dia melakukan offense. Kau hanya perlu melakukan defense seakan hidupmu tergantung pada hal itu." Lanjutnya.
Pertandingan pun kembali dimulai. "Berapa banyak hal yang kau tahu akan pemain Seirin?" tanya Riko-san. "Seberapa banyak? Kenapa aku harus mengatakannya padamu?" jawabku dengan pertanyaan lagi. "Walaupun kau adik Kuroko-kun, kau itu dari Teiko—terlihat dari seragam yang kau kenakan. Kau juga sepertinya tahu banyak akan basket. Mungkin saja kau mata-mata dari salah satu pemain Teiko yang sudah masuk SMA." Jawabannya membuatku terkikik kegelian yang hanya disambutnya dengan menaikkan sebelah alisnya. Setelah aku mulai tenang, kupandang dia tepat dimatanya. "Memang benar aku dari Teiko, dan aku juga tahu banyak akan basket. Aku dulunya manajer tim basket Teiko." Jawabku. "Apa yang kau inginkan dari informasi yang kau ambil? Kau memang spy, ya?" tanyanya dengan pandangan tajam kearahku. "Tunggu dulu, dengarkan aku sampai selesai. Aku kan bilang dulunya aku manajer, tapi sekarang tidak." Kataku. "Maksudmu?" wajahnya yang tajam berubah bingung setelah mendengar hal yang kukatakan. "Dulu saat aku baru masuk SMP Teiko, aku bertemu seseorang berambut merah dengan aura yang hebat, di satu sisi dahsyat dan panas namun disisi lain juga terasa dingin. Orang itu Akashi-senpai." Mendengarku mengatakan nama itu matanya terbelalak, bahkan para pemain yang ada di bench menolehkan kepalanya pada kami. "Akashi-senpai memintaku untuk menjadi manajer tim basket Teiko, tapi hanya manajer kelompok dua." "Kenapa manajer kelompok dua? Bukankah itu tak ada hubungannya dengan tim yang dipimpinnya?" tanya Riko-san memotong ceritaku.
"Riko-san, seorang raja tak boleh hanya terlihat kuat di singgasananya, tapi dia juga harus kuat saat ada di medan perang jika ingin semangat para prajuritnya tetap membara." Kataku. "Maksudnya?" tanya si botak pemain Seirin. "haaah, maksudku sekolah yang kuat tak hanya boleh terlihat kuat dibagian atasnya saja—yaitu kelompok satu, tapi juga harus kuat dibagian bawahnya—kelompok dua dan tiga. Karena kelompok dua banyak mendapat latih tanding maka kami tak boleh kalah sekalipun karena jika kalah nama baik sekolah kami akan tercoreng juga." Jawabku agak kesal dengan si botak itu. "Lalu kenapa kau berhenti?" tanya si botak. "Tanpa kau tanya nanti juga akan kujelaskan. Lagipula senpai, kau terlalu banyak bertanya. Jika kau tak menutup mulutmu juga akan kuperban juga mulutmu." Kataku sambil menghadap si botak dengan senyumanku yang SANGAT MANIS dan membuatnya diam seketika. "Saat aku sudah kelas tiga, aku menjadi manajer kelompok satu. Namun, aku diberhentikan atau dengan kata lain dikeluarkan dari tim basket oleh kaptennya karena mereka tak membutuhkanku lagi. Dan aku datang hari ini karena aku ingin melihat pertandingan Kagami-senpai dan Onii-san melawan Kise-senpai." Kalimat itu menyelesaikan cerita panjangku. "eh? Kelas tiga? Bukannya kau masih kelas satu? Memangnya berapa umurmu?" pertanyaan dari si botak cerewet itu memutus tali kesabaranku yang terakhir. Dan seperti janjiku, aku memperban mulutnya yang banyak omong itu dan lagi dia mengataiku masih kelas satu. Teman-temannya hanya bisa melihatnya dengan kasihan dan tak dapat melakukan apapun.
"Hyuga Junpei, SMA Seirin kelas dua. Waktu dia baik dia itu orang yang biasa, tapi ketika switchnya ditekan, dia itu hebat. Tapi juga menakutkan, dia clutch shooter dengan kepribadian ganda." Kataku. "eh? Apa itu?" tanya Riko-san. "Data yang kuketahui tentang pemain Seirin." Jawabku bosan dan dibalas dengan wajah paham Riko-san.
"Izuki Shun, SMA Seirin Kelas dua. Tenang dan dapat mengendalikan emosinya, dia tak pernah terlihat marah. Dia memang terlihat cool dan dapat mengendalikan diri, tapi dia sangat suka dengan gurauan. Dia juga mempunyai kemampuan mata yang hebat. Mitobe Rinnosuke, SMA Seirin kelas dua. Dia pekerja keras yang baik hati. Tapi tak seorangpun pernah mendengar suaranya. Koganei Shinji, SMA Seirin kelas dua. Dia dapat melakukan apa saja tapi tak bisa melakukan apapun. Tsuchida Satoshi, SMA Seirin kelas dua. Jago dalam rebound." Lanjutku. "eh? Tentangku, itu saja?" tanya Tsuchida-san. "Itu saja." Jawabku dengan wajah biasa yang membuatnya pundung seketika.
Pertandingannya tak berjalan dengan buruk, namun terlihat sekali kalau mereka tak sehebat saat nii-san ikut main. Hyuga-san juga telah berjuang dengan keras, shootnya juga tak pernah meleset. Namun, jika tetap seperti ini Seirin akan kalah. Aku merasakan sedikit pergerakan dari belakangku, yang artinya nii-san sudah sadar namun dia harus menyimpan kekuatannya terlebih dulu jika ingin membalikkan keadaan saat ini.
"Tinggal satu menit setengah dan quarter kedua akan berakhir." Kata Tsuchida-san.
Setelahnya pada quarter keempat angka 68-74 dengan keunggulan ditangan Kaijo. Terlihat sekali kalau pemain Seirin kelelahan serta Hyuga-san mulai tidak fokus. Jika nii-san tak segera bangun dan menolong mereka, Seirin akan kalah.
"Pelatih, apa tak ada hal lain yang dapat kita lakukan?" tanya si botak cerewet pemain Seirin.
"Karena high-pace di dua-perempat yang pertama mereka mulai kehabisan tenaga. Jika saja kita punya Kuroko-kun..." kata Riko-san. Setelahnya nii-san mulai bangun. "Baiklah." Katanya sambil bangun yang membuat Riko-san kaget dan menoleh kebelakang. "Selamat pagi. Aku akan pergi." Katanya. "Hei, tunggu. Apa yang kau katakan?" Riko-san menghalangi jalan nii-san. "Kan pelatih tadi mengatakan agar aku pergi." Jawabnya. "aku tak serius mengatakannya. Aku hanya mengatakannya tanpa berpikir." Kata Riko-san. "kalau begitu, aku akan main." Kata nii-san. "oi... lagipula adikmu akan melarangmu, benarkan?" kata Riko-san sambil menoleh padaku. "eh? Aku tak melarangnya sama sekali. Malahan aku akan menyuruhnya main." Kataku. "Apa yang kau katakan?" Kata Riko-san kaget akan jawabanku. "Riko-san, para pemain yang ada di court sedang bekerja keras. Aku akan jadi orang jahat jika menghentikan nii-san untuk membantu temannya. Lagipula, lelaki macam apa yang hanya bisa diam ketika temannya sedang bekerja keras. Nii-san juga harus bekerja keras. Jika nantinya pingsan, panggil saja ambulans." Jawabku dengan sedikit gurauan. "Ryu tolong jangan menyumpahiku." Katanya padaku lalu mengarahkan wajahnya ke Riko-san. "Jika aku dapat merubah jalannya pertandingan maka tolong biarkan aku main. Lagipula, aku berjanji pada Kagami-kun jika aku akan menjadi bayangannya." Kata nii-san dengan tegas. "Haah.. baiklah. Tapi jika kukira kau dalam masalah akan segera kugantikan. Dan lagi adik Kuroko—" "Kuroko Ryu desu." Potongku. " Ryu-chan, jangan terlalu kejam pada kakakmu sendiri, bagaimana kalau dia sampai terluka?." Lanjut Riko-san. "Dia tak akan terluka, tubuh laki-laki kan lebih kuat dari pada tubuh perempuan. Hanya sedikit pukulan saja tak akan melukainnya." Jawabanku disambut sweatdrop dari pelatih serta para pemain Seirin.
Akhirnya nii-san menggantikan Koganei-san, dengan begini pasti mereka dapat mengejar ketinggalan mereka. Tapi aku merasa kalau kekuatan Kise-senpai tak hanya begini saja, pasti dia akan lebih serius main basketnya bila sudah merasa terpojok.
.
.
Seirin mulai dapat mengimbangi permainan dengan bantuan nii-san. Terlihat sekali bahwa kekuatan nii-san kembali dengan sempurna karena istirahat yang dilakukan selama quarter dua dan tiga. Score saat ini 80-82 untuk Kaijo, banyak penonton yang tidak percaya bahwa Seirin dapat mengejar ketinggalan mereka. Bolanya di pass kearah Hyuga-san dan dia mencetak angka yang membuat kedudukan Seirin dan Kaijo sama yaitu 82-82.
Tiba-tiba saja aku merasakan aura yang sangat hebat dari arah Kise-senpai. Kurasa dia mulai serius dan tak ingin kalah dari Seirin. Saat bola dilempar Kasamatsu-san padanya, dia melaju dengan cepat melewati nii-san, dan saat nii-san akan melakukan back tip dia memindahkan bola ketangan kirinya lalu maju dan melakukan dunk.
"a—hebat!" kataku dengan mata yang bersinar dan disambut pukulan dari pelatih Seirin yang garang.
"Itai—apa yang kau lakukan Riko-san?" kataku sambil menggosok kepalaku karena sakit.
"Kau itu mendukung siapa sih?!" jawabnya dengan marah.
"Seirin. Tapi kan tak ada salahnya kalau aku kagum dengan permainan yang dilakukan Kise-senpai, aku belum pernah melihatnya bermain sampai seperti itu. Ini kesempatan yang bagus untuk mengumpulkan data." Jawabku yang hanya dapat dibalas dengan helaan nafas olehnya.
"Aku tak akan kalah. Pada siapapun, bahkan pada Kurorochi..." kata Kise-senpai.
"Ini buruk. Semuanya, keluarkan semua kemampuanmu. Mulai sekarang sampai akhir pertandingan, akan seperti quarter pertama. Perebutan score, run and gun game!" kata kapten pada pemain yang ada di court.
Permainannya jadi semakin seru dengan semua pemain mengerahkan kemampuannya, membuatku tak bisa duduk dengan tenang. Saat waktu tinggal 14 detik Hyuga-san berteriak, "Tak ada waktu lagi! Hentikan mereka! Jika kita tak dapat mengambil bolanya, semuanya akan berakhir!". Lalu aku melihat nii-san menghentikan Kagami-senpai, maka kupertajam pendengaranku untuk mendengar perkataan mereka.
"Jika kita dapat bolanya, ada satu cara lagi yang dapat kita lakukan agar tidak dapat ditiru Kise-kun. Tapi, ini hanya trik simple yang hanya dapat dilakukan sekali." Kata nii-san. Hanya sekali? Apa maksudnya? Duh, aku tak dapat mendengarnya lagi.
Dari arah lapangan terdengar teriakan. "Defense! Ketatkan penjagaan!" aku langsung berdiri dan disaat yang bersamaan aku dan Riko-san berteriak. "Tak akan cukup bila hanya mengetatkan defense! Serang mereka!"
Kasamatsu-san melaju dan dihadang oleh Hyuga-san, tapi kelihatannya kaki Hyuga-san tak dapat digerakkan lagi Kasamatsu-san pun melompat dan berusaha melakukan shoot namun ditangkis oleh Kagami-senpai, ditangkap oleh Hyuga-san dan dilemparkan pada Kagami-senpai. "Jangan biarkan mereka lewat!" Teriak Kasamatsu-san.
Kise-senpai menghalangi jalan Kagami-senpai dan nii-san, namun Kagami-senpai melakukan pass pada nii-san. "Kurokochi tak dapat melakukan shoot! Jika hanya ada mereka berdua, dia hanya akan melakukan pass kembali pada Kagami!" Kata Kise-senpai. Namun nii-san melemparkan bolanya. Shoot? Tapi batas waktunya tinggal 2 detik. Ayo, berpikirlah Ryu. Bukan. Itu alley-oop dan juga mereka mengincar buzzer beater. Saat Kagami-senpai melompat, Kise-senpai juga melompat dengan mengatakan."Tak akan kubiarkan!" Tapi hal aneh terjadi, walaupun mereka melompat diwaktu yang bersamaan, Kise-senpai jatuh kembali terlebih dulu. Kagami-senpai lama sekali di udara. Apa itu? Air walk?
"Aku tak butuh balasanmu! Karena... dengan ini akan berakhir!" kata Kagami-senpai sambil memasukkan bola ke ring dan peluitpun berbunyi.
Sampai di sini dulu ch 4. :D
R&R Please!
