Kuroko Kyoudai no Basuke

Chapter 5 is up!

Caution : This fanfic just a work of fiction. If there are something that happen to be the same, I deeply apologize.


Teriakan kemenangan keluar dari mulut Kagami dengan keluarnya hasil latih tanding dengan Kaijo. Seorang anak perempuan tersenyum dan berjalan pergi menjauhi gym tersebut. Wajah sedih atas kekalahan serta kelelahan terlihat jelas diwajah para pemain Kaijo.

"Are? are..." pemuda berambut kuning melantunkan kata-kata tersebut sambil menangis dan mengusap air matanya itu.

"Apa Kise menangis?" suara salah seorang anggota klub basket Kaijo terdengar dari tempat penonton.

"Aku tahu dia kesal, tapi ini kan hanya latih tanding." Jawab yang lainnya.

"Dasar bodoh!" Kasamatsu berteriak sambil menendang Kise. "Berhentilah menangis. Lagipula, itu karena kau tak pernah kalah dan meremehkan lawanmu. Akan ku pukul kau! Lebih baik segera kau tambahkan kata 'revenge' di kamusmu yang kosong itu!"

Setelahnya mereka berbaris dan saling mengucapkan rasa terimakasih atas game yang baru saja dilakukan. Saat akan pulang, para kapten dari Seirin dan Kaijo saling bersalaman tangan. Terlihat jelas kalau pelatih dari Kaijo sangat kesal akan hasil pertandingan tersebut, sedangkan sang pelatih Seirin terlihat sangat senang.

"Karena daerah kita berbeda, kita akan bermain lagi saat Inter-High." Kata Kasamatsu.

"Kita pasti akan ada disana. Lagipula, aku tak mau mengungkapkan perasaanku dengan telanjang." Jawab Hyuga dengan melirik Riko yang semakin lebar senyumannya. "Baiklah, ayo pergi!" teriak Hyuga yang dijawab 'Osu' oleh para pemain Seirin.

"Dimana Kise?" kata salah seorang pemain Kaijo yang membuat Tetsuya terdiam ditempatnya.'Oh iya, dimana juga Ryu?' pikirnya.


Ditempat lain

"Berani sekali kau menampakkan wajahmu disini?" seorang anak perempuan dengan seragam Kaijo berjalan kearah anak bersurai biru sambil melipat tangannya di depan dadanya. Di belakangnya terlihat seorang temannya mengikutinya.

"Natsuki-senpai, ohisashiburidesu." Jawab anak bersurai biru dengan menoleh kearah perempuan yang dipanggilnya Natsuki dengan tatapan mata datar. Mendengarnya Natsuki terlihat geram dan dengan cepat menyambar rambut panjang anak yang lebih pendek darinya itu.

"sashiburidana, Ryu-chan. Bukankah sudah kubilang untuk tidak datang dan mendekati Masamune lagi!" katanya dengan nada mengancam serta menarik genggamannya pada rambut Ryu lebih kuat.

"Benar, senpai. Dan aku datang kesini bukan dengan alasan untuk mendatangi Masamune-senpai. Aku datang kesini hanya untuk melihat latih tanding Kaijo v.s Seirin." Jawaban Ryu membuat anak perempuan itu lebih marah.

"Heh, kau itu makin besar, makin tak tahu aturan, ya? Dulu kau coba merebut Masamune dariku dengan akting anak sok polosmu itu, sekarang kau makin sombong saja." Terlihat sekali kalau Natsuki terlihat sangat marah dari tarikan tangannya yang makin kuat, namun Ryu berusaha mempertahankan wajah datarnya yang semakin lama, semakin susah untuk dilakukannya karena rasa sakit dari kepalanya semakin kuat.

"Aku sama sekali tak tertarik dengan Masamune-senpai, baik dulu maupun sekarang. Tak seperti senpai yang sampai pergi ke Kaijo untuk mengejarnya." Jawaban sarkastik serta jujur milik Ryu merenggut titik kesabaran Natsuki yang terakhir. "Dasar kurang ajar!" dengan mengatakan itu Natsuki melayangkan tangannya kearah pipi Ryu dengan sekuat tenaganya sehingga terdengar suara yang sangat keras.

"OI, APA YANG KALIAN LAKUKAN!?" Sebuah teriakan terdengar dari arah yang agak jauh. Segera saja Natsuki dan teman-temannya pergi dari tempat itu. "Urusan kita belum selesai!" katanya sambil berlari.

Bunyi derap kaki dari orang yang berteriak mendekat kearah Ryu. "Kau tak apa?" tanyanya sambil mengangkat wajah Ryu. Dengan refleks Ryu menepis tangan orang asing yang terletak pada kedua pipinya. "Aku tak apa-apa." Katanya dengan ketus. "Tak apa-apa, apanya?! Bibirmu berdarah! Pasti robek saat dia menamparmu tadi. Eto, sapu tangan..." kata orang asing tersebut sambil mencari sapu tangan miliknya. "Ada apa, Takao?" Teman dari orang asing itu mendekaati mereka, dia tinggi dan berambut hijau. "Ini dia sapu tangan. Pakai ini." Kata orang yang dikenali dengan nama Takao sambil meletakkan sapu tangan ketangan Ryu. Lalu dia berbalik menghadap temannya. "Shin-chan, kelihatannya anak ini diganggu oleh tiga anak perempuan tadi. Anak perempuan jaman sekarang menakutkan!" kata Takao sambil bergidik ngeri pada bagian terakhir.

Dengan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya Ryu menoleh pada pemuda berambut hijau itu. "ohisashiburidesu, Midorima-senpai." Katanya pada Midorima. "..." Midorima diam dan menatap wajah Ryu.

"Shin-chan, kau kenal dia?" Tanya Takao pada Midorima yang terdiam.

"Senpai... Midorima-senpai... oooiiii~..." kata Ryu yang melambaikan tangannya di depan wajah Midorima, walau tidak sampai pada wajahnya karena perbedaan tinggi mereka.

"OI, SHIN-CHAN!" teriak Ryu dengan kesal karena telah diacuhkan oleh Midorima, namun tindakan Ryu disambut oleh pukulan tangan Midorima ke kepalanya.

"Ittai—apa yang kau lakukan, senpai?!" katanya sambil memegangi kepalanya.

"Kau jangan ikut-ikutan Takao memanggilku seperti itu, jika orang mendengarnya mereka akan mengira kita akrab." Kata Midorima sambil membetulkan kacamatanya.

"Itu salah senpai sendiri. Kenapa malah melamun saat kupanggil?!" Kata Ryu yang terlihat sangat kesal. "Aku tak melamun! Hanya saja kau terlihat berantakan, dan juga kau tetap tak bertambah tinggi." Jawab Midorima.

"Warukattana, aku berantakan dan juga pendek." Dengan kesal Ryu menjawab dan mengambil pita merah dari rambutnya sehingga rambut panjangnya tergerai.

"Oi, jo-chan, kau kenal dengan Shin-chan?" Tanya Takao yang tadinya hanya diabaikan saja. "eh—un, iya. Aku kohainya dari Teiko." Jawab Ryu.

"hummmm—Souka, aku Takao Kazunari. SMA Shuutoku kelas 1. Yoroshikuna." Kata Takao sambil memandang Ryu lekat-lekat.

"Ah—Kuroko Ryu, SMP Teiko kelas 3. Yoroshiku onegaishimasu." Jawab Ryu dengan membungkukan badannya dangan gugup, hal itu membuat Takao tertawa.

"Tak perlu seformal itu. Tapi, kau kelas 3, ya?" kata Takao, lalu mendekat perlahan ke arah Ryu dan meletakkan tangannya di atas kepala Ryu. "Untuk ukuran anak SMP kelas 3 kau sedikit kecil, ya." Kata Takao sambil mengelus rambut Ryu. Dengan agak sedikit kesal Ryu segera menurunkan tangan Takao dari atas kepalanya.

"Lalu, kau punya nama belakang yang sama dengan salah seorang pemain Seirin." Lanjutnya dengan tetap menatap Ryu lekat-lekat.

"Uh— Aku adiknya senpai. Daripada itu, apa kalian berdua pergi kemari untuk melihat latih tanding Seirin dan Kaijo?" tanyanya. Sebelum Takao dapat menjawabnya, Midorima menjawab dengan cepat. "Tidak, kami hanya ada urusan disekitar sini!"

"hee... Sepertinya urusannya penting sekali, sampai-sampai senpaitachi pergi dari Tokyo ke Kanagawa." Kata Ryu dengan menahan tawanya. "Ya, urusan semacam itu." Kata Midorima yang kelihatan mulai gugup. "Kalau boleh tahu urusan apa?" Ryu terus menekan Midorima untuk mengaku. "Urusan—Urusan Shuutoku akan latih tanding dengan Kaijo." Jawabnya.

"Tapi senpai, Kaijo 'kan sudah latih tanding dengan Seirin tak akan mungkin dalam waktu dekat mereka akan melakukan latih tanding lagi. Mereka kan butuh istirahat." Mendengar jawaban Ryu, Midorima terlihat speechless dan Takao menahan tawanya. Sontak saja Midorima memukul kepala Takao.

"Kenapa aku?" lirih Takao sambil memegangi kepalanya.

"Tapi senpai, aku yakin Inter-High tahun ini akan seru. Sebaiknya senpai mempersiapkan diri, pada babak penyisihan Inter-high senpai akan menghadapi Seirin." Kata Ryu dengan tersenyum kecil dan dibalas senyuman kecil dari Midorima.

"Tak mungkin Shuutoku akan kalah melawan Seirin. Aku selalu melakukan yang terbaik, dan aku selalu membawa lucky item dari horoscope Oha-asa. Dan untuk hari ini adalah mainan katak, maka dari itu shootku tak pernah meleset." Katanya sambil menunjukkan lucky item miliknya yang membuat Ryu sweatdrop.

"haaaaah... tapi senpai, segala sesuatu akan memiliki dua sisi, bisa saja kau kalah melawan mereka." Ryu mengatakan kalimat kesukaannya tersebut untuk menasehati Midorima.

"Itu tidak mungkin karena—" sebelum melanjutkan kata-katanya Ryu memotong. "Terserah kau saja, senpai. Aku harus segera pergi, sampai jumpa Midorima-senpai, Takao-senpai." Ryu berlari menjauhi mereka berdua sejenak melupakan hal yang barusan dia alami dan memasang senyuman bahagia diwajah manisnya.


"Kemana perginya nii-san dan teman setimnya, ya?" tanya Ryu—yang sudah terlihat rapi—pada dirinya sendiri sambil berjalan tanpa arah di daerah Kanagawa tersebut. Tanpa sadar atau mungkin memang karena insting basketnya yang kuat, dia sampai pada taman di dekat lapangan street basket. "Lapangan basket..." lirihnya. Ingatan-ingatan manis muncul dikepalanya saat dia memperhatikan orang yang bermain disana. Lalu terdengar suara yang dikenalnya.

"Sudah lama ya kita tak berbicara seperti ini. Apa lukamu tak apa-apa?" suara Kise terdengar dari arah taman dekat lapangan basket. Ryu menolehkan wajahnya ke arah suara dan mendapati Kise dan Tetsuya di sana.

"Hai, aku baik-baik saja." Jawab Tetsuya. Ryu yang memang bersifat ingin tahu mencoba lebih dekat ke arah mereka untuk mendengarkan pembicaraan mereka. "Oh iya, tadi aku bertemu Midorimachi." Kata Kise pada Tetsuya.

"Uh—ung~. Sebenarnya, aku tidak terlalu akrab dengannya." Jawaban Kuroko disambut tawa kecil dari Kise. "Kalau dipikir-pikir, memang benar juga. Tapi tangan kirinya itu tak dapat diremehkan. Lebih-lebih pada hari baik Cancer." Katanya.

"hai"

"Kelihatannya dia datang hanya untuk melihat hari ini. Lagipula... Kurokochi menolakku, lalu aku kalah dalam pertandingan. Kehidupan SMA-ku tiba-tiba saja berubah buruk. Aku tak terlalu berharap kau mengatakan iya, tapi aku itu serius." Kata Kise sambil mencondongkan dirinya kearah belakang dengan bola basket di kepalanya sedang dirinya duduk di atas sandaran bangku taman.

"Kamu bisa jatuh." Kata Tetsuya, lalu terdiam cukup lama. "Maaf." Lanjutnya.

Kise turun dari bangku taman tersebut sambil membawa bola. "Aku hanya bercanda. Daripada itu, yang ingin kuketahui adalah alasanmu. Kenapa segera setelah pertandingan kejuaraan SMP, kau menghilang begitu saja?" Pertanyaan Kise membuat Tetsuya terdiam sejenak. Dari kejauhan terlihat Ryu yang tetap berdiri dengan jarak yang cukup aman dari mereka, wajahnya seketika berubah agak keruh.

"Apa yang kau lakukan?" dari arah belakang Ryu terdengar suara yang dia kenal yang membuatnya agak kaget namun dia menahan teriakannya. "Kagami-senpai, jangan mengagetkanku." Dengan menarik nafas Ryu mengatakan hal itu sambil memelototi Kagami. "Kau menguping? Kau punya hobi yang buruk." Kata Kagami.

"Sshh... diamlah sebentar." Jawab Ryu.

"Aku tidak tahu." Setelah sekian lama terdiam akhirnya Tetsuya menjawab pertanyaan Kise. "Eh?" terucap dari Kise yang seakan tak percaya akan jawaban Tetsuya.

"Memang benar aku mempertanyakan prinsip Teiko karena pertandingan kejuaaran. Waktu itu, aku merasa kalau kita kekurangan sesuatu." Lanjut Tetsuya.

"Sports 'kan dilakukan hanya untuk kemenangan. Memangnya apa yang lebih penting dari hal itu?" pertanyaan itu meluncur keluar dari Kise.

"Aku juga berpikir demikian sampai beberapa waktu yang lalu. Jadi, aku masih tidak mengetahui apa yang salah dengan hal tersebut. Hanya saja, aku membenci basket pada saat itu. Rasa saat memegang bola, suara berdecit dari sepatu, suara pergerakan net. Padahal, aku memulai basket hanya karena aku menyukainya. Oleh karena itu, aku merasa kagum saat aku bertemu dengan Kagami-kun. Dia menyukai basket dari hatinya yang terdalam. Memang ada waktu dia menakutkan dan juga kasar, tapi dia tetap menganggap basket dengan sangat serius lebih daripada orang lain." Jawaban Tetsuya meluncur dengan lancar dan membuat Ryu terdiam ditempatnya.

"Aku tak mengerti. Tapi satu hal yang dapat kukatakan adalah jika alasan Kurokochi mengagumi Kagami karena sikapnya terhadap basket, suatu saat kalian berdua akan... berpisah jalan. Perbedaan terbesar diantara aku dan keempat pemain lainnya bukanlah kemampuan fisik kita. Mereka mempunyai kemampuan spesial yang bahkan tak dapat kutiru. Aku sadar dari pertandingan hari ini kalau dia masih belajar. Sama seperti Kiseki no Sedai, dia punya kemampuan yang unik. Sekarang ini, dia masih seorang penantang yang belum matang. Dia hanya menikmati perasaan yang dirasakannya saat dia bermain melawan orang yang kuat dengan nekat. Tapi, suatu hari nanti dia pasti akan mencapai level yang sama dengan Kiseki no Sedai dan menjauh dari timnya. Ketika itu terjadi, apa kau pikir Kagami tak akan berubah?" Kata Kise.

"A—senpai, kau mau kemana?" tanya Ryu pada Kagami yang pergi mendekati Tetsuya dan Kise sedangkan dia tetap diam ditempatnya.

"Teme, kenapa kau dengan seenaknya menghilang?" Kata Kagami dengan mendorong tubuh Tetsuya, lalu berbalik dan menyapa Kise.

"Apa kau mendengarkannya?" kata Kise dengan tersenyum.

"Bukan 'Apa kau mendengarkan?!' Apa yang kau lakukan, seenaknya sendiri menculik Kuroko." Jawab Kagami.

"Hah? Sebentar saja kan tak masalah?" jawab Kise. "Kami tak dapat pulang tau. Pelatih tak mau diam tentang tanggung jawab kami. Kita semua mencarinya." Kata Kagami Ketus. Namun ditengah pembicaraan mereka terdengar suara teriakan dari arah lapangan basket.

"Kuso, kelihatannya ada beberapa sampah disini. Ayolah, kalian kan sudah cukup bermain. Ganti kami yang main."

"Kami juga baru saja datang. Tunggu giliranmu."

"Hah? Giliran?"

"Maa, maa... kenapa kita tidak menyelesaikannya dengan basket?"

"Siapa mereka? Kelakuan mereka buruk sekali..." kata Kagami yang menyaksikan hal yang baru saja terjadi.

Memang benar mereka bermain basket, namun tim yang berkelakuan buruk tidak bersikap adil,mereka bermain dengan lima orang sedang tim lawan hanya tiga orang. Dan ketika tim tiga orang protes salah seorang mereka menendang perutnya serta wajahnya.

"Dilihat darimanapun ini tidak adil." Kata Tetsuya yang tiba-tiba sudah ada disana sambil mengarahkan bola basketnya yang berputar kehidung pemain yang menendang lawan mainnya tadi. Dia menjauh karena kesakitan.

"Benar, darimana lima lawan tiga bisa di anggap adil? Dasar pengecut! Karena kalian tak punya bakat kalian lawan mereka dengan jumlah, hebat sekali kalian!" Kata-kata sarkastik keluar dari bibir Ryu yang berdiri disamping Tetsuya.

"Siapa kalian berdua? Darimana kalian datang?" kata orang yang tengah memegangi hidungnya.

"Kupikir tidak ada basket yang seperti itu. Lagipula, kekerasan itu tidak baik." Kata Tetsuya.

"Apa yang mereka berdua lakukan?!" Kata Kagami yang baru sadar kalau Tetsuya sudah tidak ada dibelakangnya. "Kurokochi?! Dan juga itu 'kan adiknya?!" geram Kise.

"Hah? Apa yang kalian lakukan?" seorang pemain kasar yang bertubuh besar mengangkat Tetsuya dan Ryu dengan kerah mereka. "hahahaha... masih ada juga ya sekarang ini. Tak apa kalau begitu." Kata seorang yang kesakitan hidungnya dan membuat pemain yang memegangi Tetsuya dan Ryu melepaskan genggaman tangannya. "Kalau begitu ayo kita selesaikan dengan Basket." Lanjutnya.

Dari belakang Tetsuya dan Ryu, Kagami dan Kise berjalan mendekat, Kagami meletakkan tangannya dikepala Tetsuya sedang Kise meletakkan tangannya dikepala Ryu. "Apa kami juga boleh bermain?" kata Kise. "Lagipula, kenapa kalian seenaknya melibatkan diri?" Kata Kagami yang ditujukan pada Kuroko bersaudara.

Melihat Kagami dan Kise mereka terlihat ketakutan. "Five-on-Three juga tak apa. Ayo maju." Lanjut Kagami yang disambut marah oleh mereka.

"Aku juga ingin main!" Kata Ryu pada ketiga pemain basket putra itu.

"Kau mana mungkin main kan." Jawaban Kagami terdengar sedikit meremehkan.

"Aku ingin main!" Ryu mengatakannya dengan lebih tegas tak menghiraukan kata-kata Kagami.

"Tidak boleh." Kata Tetsuya dengan tenang.

"Kenapa?" Tanyanya dengan wajah kecewa.

"Ryu-chan 'kan sedang mengenakan rok. Gerakanmu tidak akan maksimal."

"Tapi—" belum sempat dia menyelesaikan perkataannya Tetsuya memotongnya. "Lagipula, Ryu-chan juga perempuankan. Bersikaplah sedikit seperti perempuan jika mengenakan rok." Kata Tetsuya sembari mengusap kepala adiknya.

Dengan kesal Ryu menurunkan tangan kakaknya dengan lembut. "Baik, baik. Aku tak akan ikut. Ini masalah laki-laki 'kan? Aku tak akan ikut campur." Dengan pasrah Ryu pergi ke pinggir lapangan untuk melihat pertandingan mereka.


Pertandingannya berjalan dengan cepat, dan dengan cepat pula tiga pemain basket putra itu menghancurkan musuhnya.

"Apa yang kalian pikirkan? Apa kalian pikir kalian akan menang jika itu berubah menjadi perkelahian? Lagipula... Ryu kau itu sedang luka. Lihat saja wajahmu!" Teriak Kagami yang memarahi Kuroko bersaudara. Ryu dengan refleks memeganggi sudut bibirnya.

"Tidak, mereka pasti akan memukuliku." Kata Tetsuya dengan santainya.

"Aku rasa, aku tak akan apa-apa. Aku belajar karate selama tiga tahun." Jawaban Ryu terucap sama santainya dengan kakaknya.

"Temera!" Teriak Kagami.

"Lihat saja otot-ototku." Tetsuya berkata sambil menggerakan lengannya ke atas.

"Kau sama sekali tak punya! Lalu lima orang laki-laki melawan kau yang seorang perempuan, kau jelas akan kalah!" Dengan lebih kesal Kagami memarahi mereka berdua.

"Kurokochi, kadang-kadang kau hebat juga ya." Kata Kise.

"Aku pikir orang-orang itu bersikap buruk. Maka dari itu aku hanya ingin mengatakannya." Jawaban Tetsuya disambut anggukan setuju dari adiknya dan juga teriakan marah dari Kagami. "Seharusnya kalian memikirkan akibatnya terlebih dulu!"

"Aku lupa." Lagi-lagi jawaban santai terucap oleh Tetsuya.

"Bukan 'aku lupa'!"

"Maaf."

"Kau sendiri mengatakan kalau mereka pasti akan memukulimu kan! Ryu juga jangan hanya diam!" Teriakan-teriakan keras dari Kagami masih saja terlontar dan terdengar sanagat jelas di telinga kedua bersaudara tersebut.

"Maaf." Kata Kuroko bersaudara secara bersamaan. Mendengar mereka Kise hanya dapat tersenyum dan mengambil tasnya.

"Aku harus segera pergi. Tapi sebelum itu..." Kata Kise sambil berjalan ke arah Ryu.

"Kita baru bertemu kan. Aku Kise Ryota—" sebelum Kise dapat menyelesaikan perkataannya yang Ryu tebak dengan ucapannya untuk membanggakan dirinya, Ryu segera memotongnya.

"Kuroko Ryu desu, SMP Teiko kelas 3. Dan juga ini bukan pertama kalinya kita bertemu, senpai. Waktu aku kelas 1, senpai masuk ke divisi dua tim basket Teiko, aku adalah manajer sekaligus instruktur senpai. Kalau senpai benar-benar sudah lupa, aku bisa pastikan ternyata kepala senpai lebih buruk daripada yang kukira."

"eh? Benarkah? Siapa tadi?" dengan bingung Kise bertanya pada Ryu yang hanya bisa menghela nafas. "Kuroko Ryu desu. Biasanya ada yang memanggilku Ryu-chin dan juga Richi." Jawaban Ryu kelihatannya dapat membuat Kise ingat akan sesuatu.

"Ah—Richi, sashiburissu." Kise berteriak sembari menggengam kedua tangan mungil Ryu dan mengayunkannya ke atas dan ke bawah.

"Hai, ohisashiburidesu. Sekarang cepat sana pulang!" Dengan susah payah Ryu melepaskan genggaman tangan Kise.

"Richi, kau tetap saja memilki mulut yang buruk. Baiklah aku akan pulang. Lagipula aku dapat bermain denganmu lagi, Kurokochi." Senyuman lebar merekah dibibir Kise saat ia mengatakannya. Dia mulai berjalan pulang, "Dan lagi, Kagamichi aku tak akan lupa untuk balas dendam!" lanjutnya, dengan kaget Kagami berteriak. "'Kagamichi'?!"

"Kise-kun menambahkan '-chi' kedalam nama orang yang dia akui. Itu melegakan, ya." Jawab Tetsuya atas teriakan kaget Kagami. "Aku tak mau!"

"Jangan kalah pada babak penyisihan, ya!" Teriak Kise yang sudah mulai menjauh.

"Kagami-kun dan Ryu-chan, apa boleh aku bertanya satu hal? Apa kalian mendengar pembicaraanku dengan Kise-kun?" Tanya Tetsuya.

"Tentang kita yang akan berpisah jalan? Lagipula kita sama sekali tidak akrab sejak awal. Kau yang mengatakan kalau aku tak bisa melakukannya sendiri. Kalau begitu kau tak perlu khawatir. Dan juga... kau akan terus berdiri di samping cahaya. Itu adalah basketmu." Kata Kagami membuat perasaan tenang menyalur dihati Kuroko bersaudara.

"Aku sudah mendengarnya sejak awal." Jawab Ryu dengan santainya mengakui perbuatannya yang menguping dan juga merusak suasana yang ada. "Kagami-kun, kadang-kadang kau mengatakan hal yang dalam, ya." Kata Tetsuya. "Diam!"

"Dan lagi, Ryu-chan, kau tak pernah berubah, ya." Senyuman kecil terlintas diwajah Tetsuya yang dibalas cengiran lebar dari Ryu. "Itu karena Ryu itu tetaplah Ryu."

Setelahnya mereka pergi meninggalkan taman itu.

"Itu dia!" teriakan Riko terdengar dari kencang, dan dengan cepat dia menerjang Tetsuya.

"Yosh, ayo pulang!" Kata Hyuga. Meninggalkan Tetsuya yang kesakitan karena hukuman dari Riko.

"K-Kagami-kun... Ryu-chan..." panggil Tetsuya yang membuat yang dipanggil menoleh. Sebenarnya Ryu merasa kasihan, namun Kagami menarik tangannya untuk tetap berjalan tanpa menghiraukan kakaknya.

"Selamat... selamatkan aku..." Kata Tetsuya yang terlihat kesakitan,

'Maaf, nii-san sebenarnya aku ingin menolong... Tapi itu juga salahmu sendiri.' Pikir Ryu.


Selesai juga ch 5.

Akhirnya muncul juga Midorima O(≧∇≦)O.

Bagi readers yang mungkin akan bertanya mengapa Ryu dapat mengenal Kise padahal di ch 1 aku menyebutkan kalau dia hanya mengenal Akashi dan Midorima, yang aku maksud dia mengenal akrab dan cukup sering berada bersama mereka. Tapi ya dasar si Midorima yang tsundere akut tak mau mengakuinya.

Untuk Nine-san : Terimakasih atas masukan yang diberikan padaku! :D. Masukan yang diberi akan kupergunakan baik-baik untuk bisa membuat cerita ini lebih menarik lagi. Selain itu aku juga berpikir sama untuk cerita Fujimaki Tadatoshi-sensei yang memang masih mendominasi dan kepasifan Ryu dalam cerita, padahal dia heroine dari cerita ini. Tapi jangan khawatir karena aku memikirkan hal yang akan membuatnya lebih menonjol di fanfic ini dan membuat cerita ini lebih orisinil. Untuk typo-nya akan kuusahakan agar tak terlalu banyak, dan percakapan yang bergabung dengan paragrafnya itu kebiasaan buruk kalau ingin cepat-cepat selesai. hehehe... sumimasen.๑•́ㅿ•̀๑) ᔆᵒʳʳᵞ.

jya, koko de goban no chaputa ga owari. Rokuban no chaputa matete, ne. .゚ (ノё∀ё)ノ ゚.

R&R Please!