Kuroko Kyoudai no Basuke

Chapter 6 is up!

Maaf aku update benar-benar mepet dengan batas waktu yang aku janjikan. Hontou ni sumimasen m(。≧Д≦。)m.

Gak tau kenapa akhir-akhir ini keliatannya aku kena slump (dasar banyak alasan).

Gomen, tapi ini dia ch 6.

Caution : This fanfic just a work of fiction. If there are something that happen to be the same, I deeply apologize.


Pagi hari yang cerah seperti biasa SMP Teiko ramai dengan para siswa yang saling mengelompok dan berbicara satu sama lain. Dengan santainya anak perempuan mungil berjalan melalui mereka menuju ruang kelasnya. Beberapa orang siswa sempat melihat ke arahnya saat dia berjalan, tapi dia tak menghiraukan mereka. Tanpa terasa dirinya telah sampai di depan kelasnya yang terdengar sangat ramai. Dengan lambat dia masuk lewat pintu belakang.

"Kau lihat dia tidak pagi ini?" salah seorang dari kerumunan anak laki-laki yang ada di bangku depan di kelasnya berbicara.

"Iya, wajahnya lebam dan juga kelihatannya sudut bibirnya juga robek." Sahut anak laki-laki lainnya. Dengan perlahan anak mungil itu mendekati mereka sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya pada anak-anak perempuan di kelasnya yang menatapnya dengan tatapan simpati.

"Apa dia terlibat perkelahian, ya? Kalau iya berani sekali dia. Masih SMP sudah berlagak seperti itu, dan lagi jika ada orang luar tahu bukannya nama sekolah kita juga ikut tercoreng." Lanjut si anak pertama tersebut.

"Benar juga, ya. Mungkin saja dia terlibat perkelahian dengan para yankee. Jika begitu mungkin teman-teman yankee-nya akan membalas dengan memukul anak dari sekolah kita." Si anak mungil tersebut berkata tepat di belakang sekelompok anak laki-laki yang diyakininya sedang membicarakannya.

"Benar, maka dari itu kita harus—" si anak pertama membalikkan badannya dan tak meneruskan kalimatnya. Suara kaget mulai terdengar dari semua anak laki-laki yang tengah membicarakannya. "R-Ryu... sejak kapan kau disana?" dengan tergagap anak pertama bertanya. "Hm~? Aku? Sejak kapan, ya? Pembicaraan kalian terdengar menarik, kenapa tidak diteruskan?" senyuman yang amat sangat manis terpampang jelas diwajah Ryu. "Ti-Tidak. M-Maaf!" salah seorang dari mereka memekik terlihat ketakutan akan munculnya orang yang tengah mereka bicarakan. "Kenapa? Padahal seru-serunya. Kalau boleh aku juga mau ikutan bicara. Ayo teruskan!" senyuman Ryu tidak pudar namun malah tambah merekah diwajahnya. "M-Maaf!" dengan ketakutan mereka segera pergi dari tempat meraka karena kedatangan 'little devil' tersebut.

Ryu hanya dapat menghela nafas kecil akan kelakuan teman sekelasnya seraya kembali ke bangkunya. Ranmaru yang duduk di bangku disebelah kiri bangkunya hanya dapat tersenyum kecil melihat hal yang baru saja terjadi.

"Ohayou, Ranmaru." Sambil mengatur posisi duduknya Ryu menyapa teman akrabnya itu.

"Ohayou, Richi. Ittai—apa tak bisa kau biarkan aku merangkulmu sebentar saja? Kita kan sahabat." Ranmaru berkata seraya mengelus perutnya yang baru saja menjadi sasaran maut siku milik Ryu karena dia berusaha merangkulnya. "Tidak boleh." Dengan ketus Ryu menjawabnya.

"Richi, tega sekali~ huwaa~ tapi apa yang sebenarnya terjadi? Wajahmu terlihat sangat buruk." Ranmaru yang berubah dari pura-pura menangis dan dengan santainya bertanya pada Ryu.

"Tak ada. Aku hanya terjatuh." Dengan wajah yang sedatar mungkin Ryu berbohong pada teman akrabnya itu. "hun~ apa benar kau terjatuh? Tapi kalau kau terjatuh kenapa hanya wajahmu saja yang lebam?" Dengan nada menuduh Ranmaru menatap mata sahabatnya itu lekat-lekat. "Bi-bisa saja bukan. Lagipula darimana kau tahu kalau aku hanya luka di wajah?" Ryu menjawabnya dengan agak gugup dan Ranmaru dengan jelas dapat melihatnya dari pancaran mata Ryu. Dia sudah mengenal Ryu sejak masih kecil, jadi dia tahu betul gerak-gerik temannya saat dia tengah berbohong.

"Benarkah? Kau baru saja mengakui kalau kau hanya luka di wajah." Perkataan Ranmaru membuat Ryu tambah tegang dan merutuki pilihan katanya yang tidak tepat bila harus menghadapi temannya yang mulai bicara serius itu.

"ne, Richi, Kemarin kemana saja kau pergi? Saat aku kerumahmu oba-chan bilang kau pergi." Tatapan mata Ranmaru makin lama makin tajam menusuk mata Ryu. Dengan menghela nafas panjang Ryu memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya karena dia tak dapat dengan mudahnya membohongi Ranmaru. "Kemarin aku pergi ke Kaijo untuk melihat latih tanding tim basket Seirin dan Kaijo. Lagipula kau tak perlu tanya pasti ibuku telah memberitahumu 'kan."

Wajah Ranmaru mengeras mendengar perkataan Ryu yang baru saja mau mengaku. "Lalu kenapa kau mau menutupinya dariku? Kau pasti bertemu dengan laki-laki bodoh itu lagi 'kan? Kau tak seharusnya kesana hanya untuk melihatnya." Ranmaru mencengram tangan Ryu dengan agak kuat sehingga membuat Ryu sedikit kesakitan.

"Ittai, Ranmaru, aku tak berniat datang kesana untuk menemui masa—maksudku dia. Aku kesana hanya karena kakakku masuk ke tim basket Seirin, jadi aku ingin melihat pertandingannya. Dan juga yang mau aku tutupi itu lukaku yang diberikan oleh Natsu—bukan, bukan itu maksudku." Dengan terbata-bata Ryu menjawab sehingga tidak sadar dia mengucapkan semua hal yang dia alami secara sejujur-jujurnya.

Cengkraman tangan Ranmaru pada pergelangan tangan Ryu mulai mengendur dan wajahbya mulai melembut. "Kenapa tak kau katakan dari tadi? Aku jadi marah ke orang yang salah 'kan."

"Kau tak marah? Aku tak sengaja bertemu dengannya juga dengan pacarnya." Ryu berkata tanpa menyebut nama orang tersebut karena dapat dipastikan Ranmaru akan marah jika mendengar nama orang tersebut.

"Kau bukannya sengaja datang untuk menemuinya 'kan. Lagipula aku yakin mereka yang mendekatimu, dan pacarnya itu menyakitimu lagi dengan seenaknya." Dengan wajah yang terlihat suram Ranmaru mengalihkan matanya menuju lantai yang kelihatannya menjadi menarik untuknya.

"Oh, bagaimana kalau pulang sekolah nanti kau kutraktir di Majiba?" Tanya Ranmaru dengan menaikkan wajahnya dengan ekspresi yang dibuat senormal mungkin.

"Terimakasih. Tapi tidak, terimakasih." Balas Ryu sembari tersenyum kecil. Hal itu membuat Ranmaru meletakkan tangannya di atas dahi Ryu.

"Aneh sekali, padahal kau tidak sakit. Kenapa Ryu yang tak pernah menolak makan gratis tiba-tiba saja menolaknya?" Pertanyaan yang bernada bergurau dari Ranmaru membuat senyuman kecil diwajah Ryu melebar.

"Hari ini aku tak bisa karena ada check-up." Jawab Ryu yang dismbut tatapan paham dari Ranmaru. Bel sekolahpun berbunyi tanda mulainya pelajaran.

"Kita lakukan lain kali saja, Richi." Ranmaru tersenyum dan membetulkan posisi duduknya.


Sepulang sekolah Ryu segera pergi ke rumah sakit untuk melakukan check-up secara rutin.

"hmm. Baik, kondisimu sudah mulai membaik. Tulang kakimu juga sembuh secara teratur, kelihatannya kali ini kau mendengarkan saranku untuk tidak melakukan kegiatan yang dapat membebani tubuhmu. Yah, misalnya basket..." Dokter yang menangani Ryu berkata sambil sedikit menuduh padanya yang dia balas dengan tawa canggung.

'Untung saja aku tak ikut main kemarin...' pikir Ryu.

"Lanjutkan apa yang aku sarankan dan tetap jangan terlalu membebani tubuhmu." Lanjut sang dokter. "Baik, Terimakasih." Setelahnya, Ryu segera berpamitan pada sang dokter dan keluar dari ruangannya.

Namun, dia tidak segera pulang dari rumah sakit tersebut. Dia melangkah menelusuri koridor rumah sakit yang sangat ia kenal secara perlahan. Hingga ia berdiri di depan suatu ruangan, ia tak masuk ke ruangan tersebut. Dia hanya berdiri diam memandang kedalam ruangan melalui kaca pemisah ruangan tersebut dan koridor.

Dia memandang ruangan tersebut lekat-lekat dengan senyuman kecil diwajahnya tanpa memperhatikan sekelilingnya, sehingga saat sebuah tangan besar ada di kepalanya dia memekik kaget.

"Yo, Ryu-chan. Aku tak mengira akan bertemu lagi denganmu hari ini." Kata pemilik tangan tersebut sambil mengacak rambut Ryu.

"Senpai jangan mengagetkanku. Lagipula aku kan selalu datang pada tanggal ini setiap bulannya." Sambil mengatur nafasnya yang tak karuan Ryu mencoba menurunkan tangan besar itu dari kepalannya, namun sia-sia saja karena tangan itu tak mau berpindah.

Dengan tetap mengelus rambut Ryu orang tersebut berkata. "Souka? Kau rajin sekali, ya menjengukku setiap bulan."

Ryu yang akhirnya menyerah membiarkan tangannya tetap ada di kepalanya. "Siapa yang menjengukmu?! Aku ada check-up pada tanggal ini tiap bulannya." Nada suara kesal Ryu sama sekali tak digubris oleh orang tersebut.

"Maa, maa... Jangan malu-malu!" katanya.

"Ah, sudahlah. Ini, kue dorayaki." Ryu mengangkat tas kertas yang dari tadi dibawa olehnya yang sebenarnya memang akan diberikan pada orang itu.

"Oh! Maji?! Arigatouna, Ryu-chan." Dengan semangat orang tersebut mengambil tas kertas yang disodorkan padanya.

"Ne, Kiyoshi-senpai." Panggil Ryu pada orang bernama Kiyoshi itu. "Apa?" jawabnya.

"Kemarin aku melihat latih tanding antara Seirin dan Kaijo. Tahun ini Seirin mendapat pemain yang menarik, memang Seirin mendapatkan kakakku tapi satu orang lagi sangat hebat. Aku merasakan perasaan yang sama ketika pertama kali aku mengenal salah satu anggota Kiseki no Sedai. Aura yang dipancarkannya hebat sekali, namun dia masihlah pemula maka dari itu—Oi, senpai apa kau mendengarkanku?" Ryu yang baru saja menoleh kepada lawan bicaranya itu mendapatinya tengah asik makan dorayaki tanpa menghiraukan Ryu.

"Aku dengar. Aku sudah dengar dari Riko, maka dari itu... Ryu aku minta padamu untuk menjadi asisten pelatih tim basket Seirin." Jawabnya dengan memandang Ryu dengan serius.

"Eh? Aku asisten pelatih? Kenapa aku harus jadi asisten pelatih!?" dari reaksi Ryu, terlihat sekali kalau dia sedang shock.

"Itu karena 'kau kan bukan murid SMA Seirin jadi kau tak bisa jadi manager, tapi asisten pelatih itu bisa dari luar sekolah." Jawaban polos (Read:bodoh) Kiyoshi membuat Ryu tambah kesal.

"Bukan itu maksudku, senpai! Kenapa aku? Kan masih ada orang yang lain." Dengan kesal Ryu mencengkram baju depan Kiyoshi.

"Lagipula kau sudah bukan lagi manager di Teiko 'kan. Waktunya pas sekali—" Ryu mengguncang tubuh Kiyoshi sehingga dia menghentikan kalimatnya.

"Apanya waktu yang pas?!" teriaknya.

"Ryu-chan, tenanglah sedikit. Ini rumah sakit." Dengan wajah merah Ryu mulai menenangkan dirinya.

"Begini saja, bagaimana kalau kita bermain game. Dan jika kau kalah kau harus mau menjadi asisten pelatih mulai hari ini." Kata Kiyoshi.

"Game? Game apa? Lutut senpai 'kan belum sembuh." Dengan sedikit bingung Ryu memiringkan kepalanya.

"Kartu"

"Kartu?"

"Iya, Kartu. Bagaimana? Apa kau mau terima tawaranku?" tanya Kiyoshi dengan senyuman terpahat dibibirnya. "Baiklah aku akan terima tantangan senpai."


Ryu menyusuri koridor sekolah yang tergolong masih baru itu dengan sedikit tak bersemangat. Dia telah bertanya pada beberapa orang tentang letak gymnya namun belum juga menemukannya, salahkan saja dirinya sendiri yang tak begitu dapat mengingat arah yang diberitahukan padanya. Hingga saat dia hampir putus asa, dia melihat orang yang dia kenal. Dengan langkah yang tergolong cepat dia menyusul orang tersebut.

"Ano, Riko-san?" sapanya saat dia telah berada tepat di belakang orang tersebut.

"Kyaa—sejak kapan kau disitu? Lagipula, apa yang kau lakukan disini?" Dengan refleks Riko melompat menjauh dan berteriak kaget akan sapaan Ryu.

"Aku baru saja sampai. Kalau alasanku untuk kemari itu... karena mulai hari ini aku akan menjadi asisten pelatih Seirin." Ucap Ryu dengan wajahnya yang dibuat sedatar mungkin.

"Eeee?! A-asisten pelatih? Untuk apa? Apa jangan-jangan kau itu benar spy?" Dengan sebisa mungkin Riko mencoba menjawab dengan tenang.

"Sudah kubilang aku bukan. Dan lagi, aku melakukan pekerjaan asisten pelatih karena seseorang yang memintaku (sebenarnya memaksa)." Ryu menjawab dengan senormal mungkin dan sedikit merutuki nasibnya yang kalah main kartu dengan Kiyoshi.

"Seseorang memintamu? Siapa?" Tanpa menghilangkan tatapan yang penuh kecurigaan Riko bertanya pada Ryu.

"Seirin nomor tujuh. Jika tak percaya tanyakan saja sendiri padanya." Riko memperhatikannya dengan seksama saat kalimat itu terlontar dari mulutnya.

"Darimana kau mengenalnya?" Dengan memandang mata Ryu, Riko bertanya.

"Aku juga ikut program rehabilitasi di rumah sakit yang sama dengannya." Riko terdiam beberapa saat untuk mencerna kata-kata Ryu dan mencoba melihat stat milik Ryu walau tergolong sulit dengan baju seragam yang dikenakannya untuk memastikan jika salah satu dari anggota tubuh Ryu ada yang cedera. Setelah menemukan apa yang dicari, dia memecah keheningan. "Baiklah, aku percaya. Ikut aku! Kita harus melakukan pertemuan hari ini."

Ryu berjalan di belakang Riko dengan jarak yang cukup agar dia tak terpisah dan tidak tersesat. Setelah mereka melewati sebuah pintu, mereka sampailah di gym.

"Tadaima." Ucap riko saat mereka sampai.

"Oh, kami baru saja membicarakanmu." Hyuga berkata demikian.

Ryu melihat dua pemain kelas satu saling berbicara tentang tingkah Riko saat sebelum pertandingan dengan Kaijo.

"Pelatih, apa hari ini kau tidak melakukan skip?" Tanya seorang pemain yang telah Ryu selidiki bernama Furihata Kouki.

"Mana mungkin aku melakukannya!" teriak Riko dengan aura yang mengerikan membuat dua pemain kelas satu itu terlonjak takut.

"Bodoh! Mana mungkin dia bertingkah seperti orang idiot pada pertandingan resmi." Teriak Hyuga pada mereka, lalu berbalik pada Riko. "Tapi kau kelihatan tidak senang. Apa mereka kuat?"

"Bukan waktunya kita memikirkan tentang Shuutoku, padahal pertandingan pertama kita tidak terlihat cukup bagus." Jawaban Riko membuat para pemain kaget dan ingin tahu maksudnya.

"Apa maksudmu?" Hyuga mengutarakan rasa ingin tahunya.

"Satu dari pemain mereka mungkin akan menyulitkan kita. Tapi kau dapat melihat videonya nanti, lihat dulu fotonya." Riko menyerahkan handphonenya pada Hyuga. "I-ini... imut tapi.." Hyuga hanya dapat bereaksi semacam itu setelah melihat foto kucing yang terpampang pada handphone Riko. "Ah, maaf, foto selanjutnya." Kata Riko seraya mengibaskan tangannya.

Hyuga memencet tombol handphone dan pemain Seirin kaget dengan apa yang mereka lihat. "Namanya Papa Mbaye Shiki. Tingginya 2 meter, berat badan 87 kg. Dia murid pindahan dari Senegal." Jelas Riko.

"Senegal? Dia besar. Dua meter?" Hyuga berkata dengan tergagap.

"Apa ini adil?" Kata Koga.

"Murid pindahan dari luar negeri? Maaf, tapi Senegal itu dimana?" Kata Izuki yang kelihatannya dimengerti oleh pemain Seirin.

"Dia cuma besar." Kata Kagami sedikit meremehkan.

"Dia Papa Mbaye... Apa tadi?" Hyuga tak mengingat nama orang tersebut.

"Papanpa?" jawaban Tsuchi terdengar lebih seperti pertanyaan.

"Papa Ganbarunba 'kan?" Kata Koga.

Dengan terlonjak Izuki berkata "Papa... papaya ito." Dengan mencorat-coret pada notenya.

Karena para pemain sibuk sendiri membicarakan nama pemain yang akan menjadi lawan mereka, Riko menghembuskan nafas. "Pembicaraan tak bisa berlanjut jika terus seperti ini. Kuroko-kun, beri dia julukan."

"Bagaimana kalau "Otou-san"?" Dengan bersamaan Kuroko bersaudara mengatakan hal tersebut. Beberapa lama para pemain Seirin terdiam... lalu terdengar teriakan kaget mereka kecuali dari Tetsuya.

"Sejak kapan kau disini!?" Hyuga meneriakkan pertanyaan yang sedang mereka pikirkan.

"Aku disini sudah sejak awal, aku datang bersama Riko-san." Dengan santainya Ryu mengatakannya tanpa menghiraukan para pemain Seirin yang baru saja menyadari kalau dia ada disana.

"Kenapa kau datang kemari?" Tanya Hyuga lagi.

"Mulai hari ini aku asisten pelatih di Seirin. Dan sebelum kalian bertanya, 'nomor tujuh' yang memintaku melakukan ini." Jawab Ryu dengan lancar dan mendapat wajah paham dari kelas dua dan beberapa wajah bingung dari kelas satu.

Ketika mereka sudah agak tenang, Koga berkata. "Ada apa dengan julukan aneh kalian?" Mengingat julukan itu membuat Izuki memikirkan sesuatu. "Otou-san! Otou-san no kaisha ga otosan (Perusahaan milik ayah bangkrut)."

Mendengarnya semua pemain Seirin minus Tetsuya tertawa walaupun guyonan itu konyol. Riko mencoba mendapatkan perhatian mereka tapi mereka tetap tertawa, hingga dia kesal dan berteriak yang membuat semua pwmain berdiri dengan tegap.

"Dia tak hanya tinggi, tangan dan kakinya juga panjang. Pokoknya hal yang biasa untuk orang yang tinggi. Mulai banyak sekali sekolah-sekolah yang mengundang murid-murid asing masuk ke sekolah mereka. Lawan kita selanjutnya, SMA Shinkyo, adalah pemain tingkat menengah sampai tahun lalu. Tapi hanya dengan satu tambahan pemain asing, mereka menjadi tim yang sangat berbeda. Tidak dapat dijangkau. Karena satu alasan simpel ini, tak seorang pun dapat menghentikannya." Jelas Riko panjang lebar.

"Walapun begitu, apa kita tak bisa melakukan sesuatu?" Kata Kagami.

"Siapa yang mengatakan itu?" Kagami sedikit kaget dengan jawaban Riko yang terdengar sangat percaya diri.

"Maka dari itu, Kagami-kun dan Kuroko-kun, mulai besok kalian berdua akan melakukan latihan sendiri." Kagami tersenyum mendengar apa yang dikatakan pelatihnya.

"Penyisihannya akan dimulai pada 16 Mei. Sampai itu, kalian tak akan punya waktu luang untuk mengeluh!" Teriak Riko yang dijawab 'ouh' dengan serempak oleh pemain Seirin.


Selama berhari-hari, para pemain Seirin melakukan pelatihan keras dengan dibawah pengawasan Riko dan Ryu.

Pada hari pertandingan, para pemain yang akan bertanding melakukan pemansan. Namun, salah seorang pemain dari tim lawan Seirin tidak terlihat sama sekali.

"Kelihatannya Otou-san tak ada disini." Hyuga yang menyadarinya berkomentar.

"Benar juga..." Jawab Izuki yang berdiri dekat dengan Hyuga.

Pada saat itu juga terdengar suara keras dari arah pintu masuk yang membuat semua pemain yang ada disana menengok ke arahnya. Di pintu masuk, Otou-san menabrak pintu yang terlihat lebih pendek darinya dan menyalahkan Jepang karena segala yang ada di Jepanng itu pendek.

Dengan santai dia masuk ke dalam ruang gym tersebut. "Ttaku, apa yang kau lakukan?" Tanya pelatihnnya.

"Maaf aku telat!" jawabnya dengan lancar tanpa terdengar logat asing sama sekali.

'Kelihatannya dia sering sekali terlambat, lancar sekali kalimat maafnya...' benak Ryu sambil sweatdrop.

Bola milik Hyuga mengelinding ke arah pemain Shinkyo yang Ryu kenal dengan nama Tanimura Yusuke dan dia mengambilnya sambil minta maaf.

"Apa benar kalian mengalahkan Kaijo?" Tanya Tanimura.

"Tapi itu cuma latih tanding." Jawab Hyuga.

"Begitu ya. Ternyata Kiseki no Sedai tak sekuat yang kami kira." Perkataan Tanimura sepertinya membuat Hyuga kesal. 'Padahal mereka tak tahu apa-apa.' Pikir Ryu dengan wajah yang tetap tenang.

"Kiseki no Sedai kalah? Padahal aku dipanggil kemari untuk mengalahkan mereka. Aku kecewa, mereka sangat lemah." Kata Otou-san yang terlihat membuat Kagami kesal.

Lalu Otou-san berjalan dan terhenti karena merasa menabrak sesuatu—atau seseorang. Dengan bingung dia melihat kanan-kiri dan melihat ke bawah membuatnya kaget. Tetsuya tampak berdiri di depannya. Dengan mudahnya Otou-san mengangkat tubuh Tetsuya.

"Tidak boleh. Anak kecil tak boleh masuk dalam court." Kata Otou-san.

Entah darimana datangnya, angin berhembus dan sedikit menyibakkan baju Tetsuya dan terlihat seragam timnya.

"Pemain?" Otou-san meletakkan Tetsuya dan menatapnya dengan mata yang meremehkan. "Kalah dari anak seperti itu? Apa semua Kiseki no Sedai anak-anak?" Dengan berkata demikian, Otou-san pergi menuju bench pemain Shinkyo.

Di lapangan terlihat para pemain Seirin menahan tawa mereka atas adegan yang menimpa rekan tim mereka. 'Jika Onii-san itu anak-anak, lalu aku apa?!' Pikir Ryu dengan kesal, karena merasa telah diolok secara tidak langsung.

"Sejujurnya, aku mulai merasa kesal." Tetsuya berkata dengan wajah datarnya yang membuat pemain Seirin terlonjak dan berhenti menahan tawa.

"Kau juga punya sifat tak suka kalah, ya? Kalau begitu, ayo kita tunjukan pada Otou-san kalau dia tak seharusnya membuat marah anak-anak." Kata Kagami yang mulai meredakan rasa ingin tertawanya.

Pertandingan dimulai dengan adanya tip-off. Kagami tidak dapat mendapatkan bolanya karena tinggi dan jangkauan tangan Otou-san. Otou-san berlari masuk kedalam daerah Seirin, mendapatkan bola dari temannya dan melakukan shoot langsung. Kagami mencoba menghentikannya, namun dengan adanya perbedaan tinggi mereka dia tak dapat menjangkau bolanya. Dan poin pertama pertandingan didapatkan oleh Shinkyo

"Jangan dipikirkan! Kita akan merebutnya lagi." Kata Hyuga dengan mengoper ke Izuki.

Terjadi saling oper para pemain Seirin dan Hyuga melakukan shoot dengan mengira itu aman, namun Otou-san dapat menjangkau bola itu.

"Itu tidal masuk akal." Kata Furihata dari bench.

"Punya pemain dari luar negeri tidak adil." Kata Kawahara.

"Bukannya tak adil. Mereka tidak menyalahi aturan yang ada dalam basket. Hanya saja cara mereka untuk bisa memenangkan pertandingan yang tak dapat diterima. Mereka ingin menang tapi tak sungguh-sungguh berlatih malah mengambil jalan cepat dan menggantungkan diri pada orang lain." Kata Ryu yang duduk disamping mereka berdua.

"Memang benar sih, tapi tetap saja—" seperti biasa Ryu memotong perkataan dari Kawahara. "Segala hal mempunyai dua sisi. Mendapatkan murid dari luar negeri memang membuat mereka kuat, tapi akan ada hal yang berkurang dari mereka..." lanjut Ryu.

"Apa itu?" Tanya Furihata.

"Stat." Jawab Ryu singkat.

"Stat? Apa maksudnya?" Pertanyaan Kawahara tak dijawab oleh Ryu.

"Apa kalian tergolong tim yang bekerja keras?" Tanya Tanimura pada Hyuga. "Ada banyak juga yang seperti itu. Orang yang mengatakan kalau tidak adil memainkan murid dri luar negeri. Kami 'kan tidak menyalahi aturan." Lanjutnya.

"Yah, kau boleh punya sampai dua pemain di tim." Jawab Hyuga.

"Benar, 'kan? Apa yang salah dengan mengundang orang kuat untuk bergabung? Mudah sekali. Yang harus kita lakukan hanyalah memberikan bola padanya dan kita akan dapat poin dengan mudah." Kata Tanimura dengan sedikit sombong.

"Aku tak tahu jika itu mudah atau tidak. Tapi jika itu prinsipmu, kau jangan sampai mengeluh." Perkataan Hyuga membuat ekspresi Tanimura berubah. "Lagipula, kami juga punya pemain yang hebat. Tapi kami tak perlu mengundang mereka." Lanjut Hyuga.

Pertandingan berlanjut namun ada yang salah dengan Otou-san. Setiap bola yang dilemparkanya tak masuk ke dalam ring.

"Dia tak akan mudah mencetak poin, karena Kagami-kun tak akan membiarkan Otou-san bermain." Kata Riko yang ada di bench.

"Tak membiarkannya?" Tanya Fukuda.

"Walaupun dia tak dapat menjangkaunya, masih ada cara lain. Cara dari Mitobe-kun." Jawab Riko.

"Kagami-senpai memberikan pressure pada Otou-san, sehingga dia tak dapat bergerak dengan leluasa. Dengan begitu dia akan melakukan kesalahan saat melakukan shoot, dan akan membuat shootnya meleset." Jelas Ryu.

"Benar. Jangan biarkan dia melakukan hal yang dia inginkan. Jangan biarkan dia pergi ketempat yang diinginkan. Paksa dia, berikan pressure sehingga dia tak akan mudah melakukan shoot." Tambah Riko.

Di lapangan, shoot Otou-san lagi-lagi meleset dari ring yang membuat para penonton mengomentarinya. Mereka berkomentar tanpa tahu apa yang sedang dialami oleh Otou-san yang dipojokkan oleh Kagami. Dan lagi-lagi shoot Otou-san meleset yang membuatnya terlihat sangat kesal. Lalu dia kembali ke area Shinkyo untuk melakukan defense dan disusul oleh Kagami.

"Hei, biar kukatakan dua hal padamu. Yang pertama, aku pasti akan memblock shootmu pada pertandingan ini." Kata Kagami padanya.

"Tak mungkin kau bisa melakukannya. Aku tak akan kalah dengan tim yang punya pemain anak-anak di dalamnya." Jawab Otou-san dengan sangat percaya diri. Lalu Kagami maju ke daerah Shinkyo.

"Dan yang kedua..." Izuki lalu melakukan pass ke arah Otou-san, yang dikira olehnya akan mudah diambilnya. Namun, Tetsuya melakukan pass ke Kagami dan dilanjutkan dunk olehnya.

"Anak kecil ini akan memberimu cukup masalah." Kata Kagami dengan tersenyum.

"Tolong berhenti memanggilku anak kecil." Balas Tetsuya dengan wajahnya yang datar.


Wai~ ch 6 selesai!

Untuk Kishiro Haisane-san : Terimakasih atas requestnya o(^∀^*)o. Sebenarnya dari awal aku memang mau menambahkan romance, tapi aku bingung si OC bakalan sama siapa. Kalau dilihat dari segi pandangku, yang paling mudah buat ditulis itu Kagami, Midorima, Kise atau Takao. Kalau untuk Akashi aku susah mikirin linenya (susah ato males?). Hehehe... kalo aku boleh nanya Kishiro-san prefer yang mana? Terus untuk interaksi antara Kuroko bersaudara juga sudah mulai aku tambahkan kok, mungkin juga di ch selanjutnya ato mungkin masih lama?. Hehehe... pokoknya untuk saat ini masih rahasia╰(✧∇✧╰).

Thanks for reading! R&R Please!