Kuroko Kyoudai no Basuke

Chapter 7 is up!

Caution : This fanfic just a work of fiction. If there are something that happen to be the same, I deeply apologize.


Wajah Otou-san terlihat kaget dan tak dapat mencerna apa yang baru saja terjadi. Bola memantul dan ditangkap oleh Tanimura dan dia melakukan pass pada teman setimnya, namun bola dipindah arah oleh Tetsuya. Bola melambung ke atas dan ditangkap oleh Kagami yang langsung melakukan dunk. Para penonton pertandingan basket itu juga terlihat tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"Apa mereka serius?"

"Mereka melakukan dunk setelah mereka mencurinya. Dan lagi itu dunk dua kali berturut-turut."

"Ini masih babak pertama penyisihan 'kan."

Pemain yang ada di court melanjutkan permainan basket itu kembali.

"Apa kau benar-benar marah karena diperlakukan seperti anak kecil?" Tanya Hyuga pada Kuroko yang terlihat bermain lebih baik daripada biasanya.

"Benar juga. Terasa seperti, 'jangan bicara sembarangan sampai kau bermain melawan mereka (Kiseki no Sedai)'." Balas Kagami.

Quarter pertama berakhir dengan 8-23 untuk Seirin yang unggul.

"Kuroko-kun, kau punya batas waktu, jadi kau digantikan, ya." Kata Riko yang mulai membahas strategi yang akan digunakan dalam quarter kedua dan dibalas anggukan oleh Tetsuya.

"Karena kita harus menyimpan kekuatan Kuroko-kun untuk sementara, kekuatan serangan kita akan turun ditengah pertandingan. Jadi jangan biarkan mereka mempersempit perbedaan nilainya. Tim mereka tak mempunyai pemain yang membahayakan selain Otou-san. Jadi, akan bergantung pada seberapa jauh Kagami-kun dapat menghadapi Otou-san." Jelas Riko panjang lebar.

"Serahkan saja padaku." Jawab Kagami.

Pertandingan dimulai kembali dengan Kagami yang tetap menjadi mark Otou-san. Otou-san menerima bola dan langsung melompat untuk melakukan shoot, Kagami berusaha mencegahnya namun dia jatuh terlebih dahulu. Setelah banyak shootnya yang meleset, kali ini dia dapat memasukkan bolanya ke dalam ring.

"Dia benar-benar hebat." Kata Izuki.

"Bukankah dia terlihat lebih tinggi?" Kata Hyuga.

'Mana mungkin...' pikir Ryu yang mendengar perkataan Hyuga.

"Aku serius sekarang! Aku tak akan kalah!" Kata Otou-san pada Kagami.

Kagami berbalik menatap Otou-san dengan seringai yang terpatri diwajahnya. "Begini baru menyenangkan. Aku mulai semangat, Otou-san!" Balasnya.

Di pinggir court, tepatnya di bench Seirin, anak perempuan berambut biru tersenyum. "Ini akan menjadi lebih menarik." Katanya pada dirinya sendiri dengan mata yang bersinar-sinar.

"Ryu-chan, air..." Kata pemuda yang berada di sebelah kirinya.

"Ini, Nii-san." Katanya sambil menyerahkan botol air minum kepada kakaknya tersebut. "Ngomong-ngomong, Nii-san... tadi kau marah karena Otou-san berbicara seenaknya tentang Kisedai 'kan?" Tanyanya dengan melirik kakaknya.

"Apa yang kau katakan? Tentu saja bukan..." Tetsuya menjawab Ryu dengan memalingkan wajahnya kesamping yang membuat adiknya sweatdrop.

"Usotsuki, kalau memang benar seperti itu katakan saja." Ryu berkata sambil mencubit pipi kiri kakaknya.

"Ittai desu. Tolong lepaskan." Jawab Tetsuya seraya melepaskan cubitan adiknya yang sebenarnya tidak terlalu keras itu. "Ryu-chan juga berpikir demikian bukan?" Tanyanya.

"Tidak juga." Jawabnya dengan dibalas dengan tatapan mata dari kakaknya yang membuatnya seketika malu dan memerah. "Baik-baik, aku memang marah. Seenaknya saja dia berkata hal semacam itu, padahal dia tak tau seberapa menakutkannya monster-monster itu." Jawab Ryu dengan jujur seraya menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya.

"Ryu-chan, tidak baik mengatai orang sebagai monster." Dengan wajah yang tetap datar Tetsuya mengatakan hal itu, meski dia tak sungguh-sungguh.

"I-iya-iya, aku tahu. Tak akan kulakukan lagi tapi diamlah sedikit aku tak bisa melihat pertandingannya dengan tenang." Dengan wajah yang merah Ryu membalas perkataan kakaknya dan mengalihkan pandangannya ke arah lapangan.

Angka saat ini 12-24 untuk Seirin yang tetap unggul. Hyuga melakukan shoot namun karena terlalu rendah bola memental setelah menabrak ring. Kagami dan Otou-san yang berada di bawah ring melompat untuk merebutkan bolanya, namun Kagami yang mendapatkannya dan dia kembali mencetak angka.

Pujian diteriakkan oleh pemain bench dari Seirin, wajah Kagami terlihat senang sedang Otou-san terlihat kesal.

"Papa jangan dipikirkan! Aku berikan bolanya!" Teriak Tanimura lalu melakukan pass pada teman timnya dan dioper kembali ke Otou-san. Otou-san melompat untuk melakukan shoot yang diikuti oleh Kagami, namun dia mengubah pikiran dan melakukan pass ke teman timnya.

"Kagami-senpai... tadi..." Ryu yang tersadar akan apa yang terjadi hanya dapat mengutarakan hal tersebut.

"Ada apa papa? Kau bisa." Teriakan Tanimura terdengar dengan jelas.

Beberapa kali Otou-san mencoba memasukkan bola Kagami juga selalu mencegahnya yang membuatnya berkali-kali mengurungkan niatnya.

"Kagami hebat, ya. Tidak hanya mencegahnya, dia sama sekali tidak kalah. Kelihatannya latihannya membuahkan hasil." Kata Tsuchida yang ada di bench.

"Eto... tapi bukankah dia terlalu berusaha?" Balas Riko yang ada di sebelah kiri Tsuchida.

"Onii-san, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Ryu setelah melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh kakaknya.

"Bukan apa-apa." Jawab Tetsuya.

"Ne, Nii-san, apa kau merasa kalau Kagami-senpai melompat lebih tinggi dari sebelumnya?" Tanya Ryu yang mendapat tatapan aneh dari kakaknya. "A—aku bicara yang sebenarnya, bukankah Nii-san juga ahli dalam mengamati orang. Apa Nii-san tak merasa seperti itu?" Lanjutnya.

Tetsuya terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan adiknya. "Memang benar, aku juga merasa demikian. Kagami-kun, dia seperti mereka sebelum kemenangan tiga kali berturut-turut."

Ryu memandang wajah kakaknya dengan lekat. "Nii-san, apa kau memikirkan apa yang dikatakan Kise-senpai waktu itu?" Tanya Ryu dengan pandangan mata yang tajam.

"Tidak aku—" sebelum meneruskannya Ryu memotongnya.

"Tak ada gunanya berbohong, Nii-san." Ryu berkata seraya memegang tangan kiri kakaknya.

Tetsuya terdiam beberapa saat dan menjawab pertanyaan adiknya dengan suara yang pelan. "Hai."

Ryu menghela nafas panjang mendengar jawaban dari kakaknya tersebut. "Jangan terlalu dipikirkan, Nii-san. Setidaknya percayalah sedikit pada Kagami-senpai. Walaupun dia itu kasar dan agak bodoh, aku yakin dia dapat dipercaya." Jawaban Ryu dibalas dengan senyum kecil dan anggukan kepala dari Tetsuya. Walaupun senyuman yang terukir hanya sedikit, Ryu tahu kakaknya mulai merasa lega.

Pada pertengahan quarter keempat, perolehan nilai 51-60 dengan Seirin yang lebih unggul.

"Kuroko-kun, apa kau bisa untuk lima menit terakhir?" Tanya Riko.

"Sebenarnya, aku sudah siap sejak tadi." Balas Tetsuya.

"Maaf. Kalau begitu, pergilah!" Kata Riko dengan bersemangat sambil menunjuk ke lapangan.

Pertandingan dimulai kembali dengan kembalinya Tetsuya di lapangan. Dengan mudahnya Tetsuya mulai membangun kembali alur pertandingan ke arah Seirin.

"Kuso, dia lagi." Salah satu pemain dari Shinkyo berkomentar.

"Ada apa dengan passnya?" Jawab pemain yang lain.

"Jangan lengah sampai berakhirnya pertandingan! Ayo serang!" Teriak Hyuga pada para pemain Seirin.

Bola kembali ditangkap oleh Otou-san yang memiliki Kagami sebagai marknya. "Tidak. Aku tak mau kalah!" katanya sambil melompat untuk melakukan shoot.

"Kau bilang kau kecewa dengan Kiseki no Sedai, tapi kau terlalu percaya diri. Mereka lebih kuat daripada kau!" Kagami berteriak dan melompat untuk memblock shoot dari Otou-san, usahanya tersebut berhasil dan membuat Otou-san melebarkan matanya tak percaya.

Suara bel pertandingan itu terdengar menandakan berakhirnya pertandingan Shinkyo vs Seirin dengan score 67-79 untuk kemenangan Seirin. Teriakan senang keluar dari mulut tiga orang pemain Seirin kelas satu, dan helaan nafas lega keluar dari mulut Riko. Ryu yang merasa agak lega mendongakan kepalanya. Lalu dia melambaikan tangannya karena melihat seorang pemuda berambut hijau tengah melihat pertandingan Seirin. Namun orang tersebut tak menghiraukannya sama sekali.

Pada akhir pertandingan, Otou-san mendekat ke bench Seirin dan terlihat ingin mengatakan sesuatu pada Kagami.

"Aku kalah." Katanya mengawali pembicaraannya. "Tolong berjuanglah di pertandingan selanjutnya untukku juga." Lanjutnya.

"Hah? Uh, baik." Jawab Kagami yang tak tahu jawaban apa yang sebaiknya dia katakan.

"Maksudku, kau bodoh! Idiot! Dasar bodoh, aku tak akan kalah lain kali!" Katanya yang ditarik untuk segera pergi oleh Tanimura.

Kagami terlihat marah dengan apa yang dikatakannya, Hyuga dan Ryu terlihat sweatdrop. 'Siapa sih yang anak kecil...?' pikir Ryu melihat kelakuan Otou-san yang tergolong sangat childish.

SMA Seirin berhasil melewati babak pertama penyisihan Inter-High. Lalu pertandingan penyisihan kedua melawan SMA Jitsuzen, dengan Tetsuya yang tetap berada di bench mereka menang dengan score 118-51. Pertandingan ketiga melawan SMA Kinga, tahun lalu mereka termasuk 16 besar. Mereka tim kuat dengan mengandalkan keseimbangan offense dan defense. Tapi mereka dapat mengalahkan SMA Kinga dengan mudahnya. Bahkan mereka dapat menyimpan tenaga Tetsuya. Lalu pertandingan keempat...

"Ini pertandingan keempat, mungkin saja kita akan punya lawan yang tangguh kali ini." Salah satu lawan mereka dari SMA Meijo mengatakan hal tersebut.

"Oi, oi, lawan kita 'kan Seirin."

"Ini pasti mudah sekali. Tahun lalu mereka kalah telak dalam liga kejuaraan."

"Mereka cuma sekolah baru yang menang karena keberuntungan."

Ryu yang mendengar percakapan pemain dari lawannya itu mengarahkan pandangannya ke arah mereka dan menemukan wajah-wajah yang tak asing lagi. Kagami yang tadinya terlihat marah, mengenali wajah lawannya. "Mereka 'kan yang waktu itu." Katanya.

"Tahun ini kita akan menghancurkan—" seorang pemain yang berjalan sambil mengatakan hal itu terpotong kalimatnya karena dia menabrak Kagami.

"Yo, kita bertemu lagi." Kata Kagami pada orang tersebut membuatnya kaget bukan main.

"Konnichiwa." Kata Tetsuya sambil memainkan bola basket ditangan kanannya membuat para pemain Meijo bertambah kaget.

"Mereka akan menghancurkan kita." Kata mereka membuat Ryu menahan tawa dari bench Seirin yang dipandang aneh oleh pemain yang berada di dekat bench.

Pemain Meijo yang ketakutan selama pertandingan dapat dikalahkan dengan score 108-41. Setelah pertandingan itu, pemain Seirin tengah beristirahat di bench pemain.

"Sejauh ini kita terlihat lancar." Furihata mengatakan hal tersebut pada Riko.

"Jika seperti ini, mungkin kita akan lolos babak penyisihan dengan mudah sampai ke liga kejuaraan." Tambah Fukuda.

"Kalian terlalu naif." Izuki berkata setelah mendengar kata-kata mereka.

"Enak ya, masih anak muda dan santai." Celetuk Koga yang ditanggapi anggukan dari Mitobe.

"Sejak sepuluh tahun yang lalu, tiga sekolah yang sama yang selalu masuk liga kejuaraan dari Tokyo. Raja dari timur, Shuutoku. Raja dari barat, Shenshinkan. Raja dari utara, Seiho. Kekuatan mereka rata-rata sama jadi nomor satu berganti tiap tahun, tapi mereka tak pernah membiarkan sekolah lain mendapatkan nomor lebih tinggi dari empat. Mereka adalah tiga raja bertahan dari Tokyo. Setelah pertandingan kelima kita adalah semifinal, lalu final. Pada babak final, kemungkinan besar kita akan melawan..." Hyuga berhenti sejenak untuk menyelesaikan kalimatnya.

"Raja dari timur yang mendapatkan Midorima Shintarou dari Kiseki no Sedai, SMA Shuutoku." Lanjut Hyuga.

"Tapi senpaitachi masuk ke liga kejuaraan tahun lalu kan?" Tanya Kawahara.

Mendengarnya ekspresi para pemain Seirin kelas dua terlihat tetap namun ekspresi wajah Ryu sedikit berubah.

"Ya, tapi kita sama sekali tak mampu melawan mereka." Kata Hyuga dengan tenang.

"Tiga raja bertahan, ya." Kata Kagami yang mendengar penjelasan tersebut dari Hyuga.

Penonton dari pertandingan tersebut tiba-tiba terdengar heboh membuat semua anggota tim basket Seirin menolehkan kepala mereka ke sumber suara.

"Kelihatannya mereka sudah datang." Kata Hyuga.

"Lebih baik melihat daripada mendengarnya. Anak kelas satu dan juga Ryu, persiapkan diri kalian. Kalian akan melihat sesuatu yang hebat hari ini. Tahun ini mereka kelihatannya lebih hebat. Salah satu raja besar Tokyo, SMA Shuutoku." Kata Riko dengan melihat tim basket Shuutoku yang telah sampai di lapangan.

Teriakan-teriakan penyemangat dilontarkan oleh para anggota tim basket Shuutoku yang ada di bangku penonton.

"Mereka datang." Kata Izuki pada Hyuga.

"Aku akan memberi salam sebentar." Kata Kagami sambil berdiri dari duduknya. Dengan tanpa mencerna dengan baik apa yang Kagami katakan, Hyuga meng'iya'kannya namun kemudian menyesalinya.

Kagami berjalan mendekati Midorima, "Yo, kau Midorima Shintarou 'kan?" Katanya.

"Benar, kau siapa?" Mendengar jawaban Midorima membuat Ryu sweatdrop 'Padahal sudah tahu...' pikirnya.

Lalu, Kagami mengulurkan tangannya pada Midorima. "Kau mau bersalaman tangan?" Tanya Midorima yang dibalas senyuman aneh dari Kagami.

Midorima menghela nafas seraya memindahkan boneka beruang yang dibawanya ke tangan kanannya dan memberikan tangan kirinya pada Kagami. Ryu yang ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Kagami mendekati mereka. Ryu melihat dengan jelas bagaimana Kagami mengeluarkan spidol dan menuliskan 'Seirin nomor 10 Kagami Taiga' pada tangan kiri Midorima. Melihatnya Ryu hanya memasang wajah konyol dan Midorima tampak kaget akan hal yang dilakukan Kagami.

"Kau terlihat seperti orang yang akan bilang kalau tak mengingatku jika aku memperkenalkan diri dengan cara yang biasa. Aku ingin lawan 'revenge' senpaitachiku yang akan kukalahkan mengingatku." Kata Kagami menjelaskan maksud dari hal yang telah ia perbuat.

Midorima mendengus sambil menaikan kacamatanya. "Revenge? Kau mengatakan hal yang cukup nekat, ya?" Katanya.

"Kau dari Seirin, ya? Apa senpaimu tak mengatakan apapun? Tahun lalu Seirin dikalahkan total oleh tiga raja besar dengan triple score." Kata Takao yang ada di dekat mereka.

'Dikalahkan total... dia 'kan tak perlu menekankan hal itu... are? Takao-senpai terlihat tak kenal Kagami-senpai? Tapi dia tahu tentang Onii-san. Bukankah pada waktu lalu dia datang ke Kaijo? Eh, kalau aku tak salah ingat, waktu itu di dekat mereka ada gerobak... ah, begitu rupanya. Jadi Takao-senpai tahu akan Onii-san dari Midorima-senpai. Tapi kenapa senpai bercerita tentang Nii-san padanya?' Pikir Ryu sambil melirik dua orang pemain Shuutoku yang lebih tinggi darinya itu.

"Terserah kau mau mengatakan apa, tapi perbedaan kekuatan terlihat dengan jelas. Walapun kita akan bertanding saat kejuaraan, sejarah hanya akan terulang kembali." Kata Midorima.

Mulut Ryu terbuka sedikit untuk mengatakan sesuatu, namun tak ada suara yang dapat dikeluarkan olehnya yang membuatnya sedikit frustasi.

"Tidak." Baru disaat itulah Ryu baru menyadari bahwa kakaknya telah berada di sampingnya. "Kita hanya dapat menspekulasi dari masa lalu. Kamu tak akan tahu apa yang akan terjadi sampai kamu bertanding, Midorima-kun." Lanjut Tetsuya.

"Kuroko, seperti yang kukira aku tak menyukaimu. Aku tak tahu apa yang sedang kau pikirkan, khususnya matamu. Banyak hal yang ingin kukatakan, tapi mengatakannya sekarang hanya akan sia-sia. Kau harus masuk ke kejuaraan dulu." Kata Midorima menanggapi hal yang dikatakan Tetsuya.

"Iyaa, kau berani mengatakannya. Itu kan, kau pergi ke SMP yang sama dengan Shin-chan, kan? Jangan terlalu dipikirkan, dia itu hanya tsundere. Sebenarnya dia itu sangat tertarik padamu. Dia bahkan pergi melihat pertandingan pertama babak penyisihanmu." Takao mengatakannya sambil merangkul pundak Tetsuya.

"Tak seharusnya kau mengarang cerita, Takao." Kata Midorima yang membuat Ryu menolehkan kepalanya dengan cepat kearahnya yang tadinya melihat Takao dan kakaknya. Ekspresi wajah Ryu mengatakan pikirannya yang mengolok Midorima yang sebenarnya dilihat Ryu saat pertandingan pertama mereka.

"Sampai kapan kalian akan tetap berbicara? Bersiaplah!" Kata pemain dari Shuutoku yang dikenal Ryu dengan nama Ootsubo, membuat Midorima dan Takao kembali ke bench mereka.

"Kelihatannya Kuroko-kun sudah mengatakannya duluan." Kata Riko.

"Tak apa-apa 'kan. Dia mengatakan hal yang kita semua pikirkan." Balas Hyuga.

Sebelum sampai ke benchnya, Midorima berbalik pada Tetsuya. "Kuroko, akan kutunjukkan betapa naifnya pemikiranmu itu." Katanya pada Tetsuya.

Setelahnya, para anggota Seirin pergi menuju tempat untuk melihat pertandingan Shuutoku. Tetsuya yang berdiri di samping kanan adiknya merah tangan adiknya yang sedikit gemetar dan sontak membuat Ryu kaget.

"Ryu-chan, kamu tidak apa-apa? Kau gemetar." Tanyanya dengan nada yang khawatir. Ryu yang mendengarnya hanya tersenyum kecil yang dilihat sebagai senyuman getir oleh Tetsuya.

"Aku tak apa. Arigatou, Onii-san." Kata Ryu seraya sedikit mengeratkan genggaman tangan kakaknya. "Hanya saja aku merasakan firasat buruk tentang Shuutoku yang kemungkinan besar akan jadi lawan kita. Apakah itu, aku belum tahu, aku merasa itu akan berhubungan dengan dua orang kelas satu tim basket Shuutoku itu." Lanjutnya sambil mengarahkan pandangannya pada Midorima dan Takao.

Pada empat menit terakhir quarter kedua Shuutoku telah mencetak angka 38, beda 30 angka dari lawan mereka SMA Kinka.

"Mereka unggul 30 angka pada empat menit terakhir quarter kedua. Seperti yang terduga." Kata Riko yang mengamati para anggota SMA Shuutoku dan membuat Kagami mendengus.

"Mereka tak terlihat begitu berbeda dengan apa yang kita lakukan, tapi mereka terlihat melakukannya dengan sangat mudah. Kenapa, ya?" Tanya Kawahara.

"Itu karena mereka tak melakukan kesalahan." Kata Hyuga yang membuat trio kelas satu menoleh padanya. "Bola basket selalu bergerak dengan kecepatan yang tinggi dalam pertandingan basket. Tapi sekolah yang kuat selalu punya kemampuan dasar yang kuat seperti passing, handling dan running. Mereka membuatnya terlihat mudah karena mereka mempunyai dasar yang sempurna. Tapi itu hanya dasar saja, tentu saja ada alasan yang lain. Itu karena... mereka mempunyai pencetak angka mutlak, yaitu scorer." Jelas Hyuga yang berakhir bersamaan dengan Ootsubo yang melakukan dunk melewati penjagaan dua orang pemain.

"Dunk yang hebat!" Kata Kawahara.

"Apa dia benar anak SMA?" Sahut Furihata.

"Dia menjadi lebih kuat." Kata Riko

"Tahun lalu kita bahkan tak dapat melawan dia sendiri." Kata Hyuga menanggapi perkataan Riko.

"Sou, inside Ootsubo dan outside yang normal adalah Shuutoku tahun lalu. Tapi tahun ini..." Riko tak meneruskan perkataannya.

"Jika sekarang dia mendapat 5 angka dari 5. Kelihatannya Midorima terlihat main dengan baik." Kata Kagami.

"Apa benar?" Tanya Tetsuya yang menolehkan kepalanya pada Kagami.

"Aku tak tahu. Bukannya kau yang lebih tahu?" Kata Kagami yang menanggapi aneh perkataan Tetsuya.

Pada saat itu, Ryu mendengar teriakan pemain SMA Kinka yang memutuskan untuk mengetatkan penjagaan dalam. 'Dasar bodoh...' pikirnya yang mendengar perkataan mereka.

"Entahlah. Aku tidak pernah melihatnya meleset." Jawab Tetsuya yang membuat Kagami sedikit kaget.

Di lapangan, Midorima mendapatkan bolanya. "Pemikiran simpel. Makanya kalian tak akan dapat menang." Katanya yang diikuti lemparan shootnya yang melambung tinggi dan membuat lengkungan yang tak dapat dianggap biasa.

"Ayo kembali Takao. Waktunya defense." Kata Midorima yang langsung berbalik dan berjalan menuju daerahnya.

"Jika kau meleset, aku juga akan dimarahi." Protes Takao yang tetap mengikuti Midorima.

"Jangan bodoh, Takao. Aku mengikuti takdir dan aku melakukan hal yang bisa kulakukan. Makanya Shootku tak akan meleset." Tepat setelah Midorima mengatakannya bola yang tadi dilemparnya masuk ke dalam ring.

"Selama Midorima-kun tidak kehilangan formnya, shootnya akan masuk 100%." Lanjut Tetsuya.

"Kau serius?" Kata Izuki.

"Itu tak adil dalam kata lain." Sahut Koga.

"Dia kembali untuk melakukan defense sebelum bolanya masuk ke ring. Bukannya itu membuat lawan tak mungkin untuk melakukan serangan balik?" Kata Tsuchi yang ditanggapi anggukan oleh Mitobe.

"Waktu yang dibutuhkan untuk bola benar-benar masuk ke ring terlalu panjang, itu memberi tekanan mental yang kuat." Kata Riko.

Selama beberapa kali Midorima melakukan shoot dan setiap shootnya masuk ke ring tanpa ada yang meleset. Dan game berakhir dengan 153-21 untuk kemenangan telak Shuutoku. Para pemain Shuutoku bersiap-siap untuk melakukan hormat tanda berakhirnya pertandingan, Midorima berhenti sejenak dan melihat ke arah anggota tim basket Seirin. Ryu yang tersadar dari lamunannya memasang senyum kecil dan mengangkat tangannya sedikit.


"Yosh, ayo pulang—" Sebelum Hyuga dapat menyelesaikan kalimatnya, Riko mendorongnya sambil berteriak. "Jangan! Kita ada satu game lagi hari ini! Apa kau bodoh? Apa kalian bodoh?"

"Aku hanya bercanda. Itu karena suasananya terlihat suram." Kata Hyuga.

"Semuanya juga melihat tournament bracket." Sahut Izuki.

"Huh? Kita ada satu game lagi? Serius?" Kata Kagami dengan santainya membuat semuanya kaget.

"Kau memang bodoh, Bakagami! Lihat bracketnya dengan benar, pada pertandingan keempat dan hari terakhir kita melakukan dua pertandingan dalam satu hari! Pertandingan kelima kita mulai pukul 5 sore!" Teriak Riko pada Kagami dan menyerahkan print out tournament bracket.

"Tapi bukankah dua game dalam satu hari itu melelahkan." Kata Koga.

"Iya. Walaupun kita diberi waktu istirahat, kita masih saja lelah." Sahut Izuki.

"Semifinal dan final diadakan dalam satu hari? Jadi, akan ada satu game sebelum kita bertanding melawan Shuutoku?" Kata Kagami yang melihat bracket dan untuk sesaat dia terkejut. "Pelatih, tiga raja besar adalah Shuutoku dan lagi..." Katanya tanpa meneruskan kalimatnya.

"Iya, Seiho dan Senshinkan." Sahut Riko.

Kagami menunjukkan print out yang tengah dipegangnya pada Riko. "Bukankah ini..."

"Pada hari terakhir, lawan kita pada semifinal kemungkinan besar adalah Seiho. Lalu kita akan melawan Shuutoku pada babak final. Kita akan melawan dua raja besar secara beruntun." Perkataan Riko membuat anggota tim basket Seirin terkejut.

"Bukankah ini sedikit tak memungkinkan?" Kata Furihata yang melihat bracket yang tengah dipegang oleh Kawahara.

"Sekolahnya kuat dan punya banyak anggota yang rata-rata kuat. Kita bertiga 'kan bench." Kata Kahawaha menanggapi Furihata.

Kagami mendengus setelah mengkonfirmasikan hal tersebut. "Dua game dalam satu hari, dan keduanya sama-sama kuat. Aku tak dapat meminta lebih lagi." Katanya.

"Tapi ini terlalu berlebihan." Kata Furihata.

"Jangan terlalu berlagak kuat. Benarkan, Kuroko?" Sahut Kawahara.

"Maaf. Sebenarnya aku juga jadi bersemangat." Jawab Tetsuya yang membuat trio kelas satu speechless.

"Ada apa? Apa kau terkena 'virus Kagami' juga?" Kata Furihata.

"Apa kau bilang?" Kagami berkata menanggapi Furihata tentang 'virus Kagami'.

"Kuharap tidak." Kata Tetsuya menyangkal kata-kata Furihata.

"Caramu menyangkalnya membuatku kesal." Kagami berkata seraya menoleh pada Tetsuya.

"Tapi bukankah situasi yang sulit membuatmu berapi-api?" Kalimat Tetsuya membuat para pemain Seirin mengembangkan senyum.

"Yosha! Aku jadi bersemangat! Aku akan latihan sedikit!" Teriak Kagami.

"Jangan! Kau harus istirahat! Dasar kepala basket! Dasar Maniak basket, Bakagami!" Riko yang marah berteriak pada Kagami.


Di kediaman Kuroko terlihat Ryu tengah melihat berlembar-lembar kertas dengan wajah yang serius pada ruangan yang bernuansa soft blue. Matanya dengan teliti melihat segala tulisan yang terdapat pada kertas yang tengah ada ditangannya. Dari luar pintu ruangan tersebut terdengar suara ketukan.

"Masuk saja." Kata Ryu tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas itu.

"Ryu-chan, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Tetsuya yang masuk ke kamar Kuroko muda itu.

"Bukan apa-apa. Tapi Nii-san... Kau ingat apa yang kukatakan saat aku mendapat perasaan tak enak di stadium?" Tanya Ryu yang akhirnya menolehkan kepalanya pada Tetsuya.

"Hai. Memangnya ada apa?" Tanya Tetsuya sembari menatap mata adiknya.

"Aku teringat sesuatu. Nii-san tahu saat Midorima-senpai masih SMP dia bisa melakukan shoot dengan jarak setengah lapangan?" Tanya Kuroko kecil itu pada kakaknya.

"Hai." Jawab Tetsuya singkat.

"Jika dilihat dari perkembangan Kise-senpai, semua anggota Kisedai pasti juga akan berkembang lebih kuat. Midorima-senpai pasti juga begitu..." Wajah Ryu makin serius.

"Lalu maksudnya?" Tanya Tetsuya yang sedikit bisa tahu kemana arah pembicaraan itu.

Ryu menghela nafas kecil. "Akan ada kemungkinan kalau Midorima-senpai dapat melakukan shoot dengan jangkauan seluruh lapangan. Memang hal ini terdengar tidak mungkin dan juga konyol, namun jika Midorima-senpai yang melakukannya akan ada kemungkinan yang besar hal itu dapat dilakukan." Jelas Ryu yang membuat Tetsuya tetap diam.

"Tapi lawan Seirin bukan hanya Midorima-senpai, aku juga merasakan perasaan tak enak tentang Takao-senpai. Apa itu aku masih belum tahu, tapi Nii-san kau harus berhati-hati. Mengerti?" Ryu yang selesai mengatakan hal kembali melihat kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya.

Tetsuya yang mengerti akan kekhawatiran adiknya berdiri lalu meletakan tangannya di atas kepala adiknya dan mengelusnya dengan lembut. "Ryu-chan, jangan terlalu malam tidurnya dan banyaklah beristirahat." Katanya seraya pergi keluar dari kamar adiknya.


Chapter 7 Owari~

Untuk Phantom Klein-san : Iya boleh, silahkan (ノ^ヮ^)ノ*:・゚✧.

Untuk Kishiro Haisane-san : Hehe, maaf update-nya gak bisa secepat kilat(⌣_⌣"). Kagami, ya? Akan aku pikirkan, heheheヾ(〃^∇^)ノ .

Jya, matane\(^▽^@)ノ.

R&R Please!