Kuroko Kyoudai no Basuke
Chapter 8 is up!
Caution : This fanfic just a work of fiction. If there are something that happen to be the same, I deeply apologize.
Bunga sakura bermekaran menghiasi jalanan menambahkan aksen yang manis untuk langit biru tanpa awan hari itu. Anak perempuan berambut biru datang melewati pagar sekolah bertuliskan SMP Teiko dengan seragam barunya yang rapi. Rambutnya yang hanya sebatas bahu dibiarkan tergerai tertiup angin. Matanya yang terlihat agak redup memandang sekitarnya dengan was-was, entah apa yang sedang ditakutinya. Hanya beberapa langkah dia masuk ke area sekolah tersebut, dari arah belakangnya seseorang menarik tanggannya dengan kasar dan menggiringnya ke tempat lain. Setelah orang yang menariknya sampai di tempat yang dia inginkan, dihempaskannya anak itu ke tembok sekolah. "Ryu-chan~, beraninya kau masuk ke sekolah ini." Orang yang membawa anak itu berkata dengan nada yang menakutkan. "N-Natsuki-senpai, i-itu... aku hanya..." Belum sampai Ryu menyelesaikan perkataannya, Natsuki memukulkan telapak tangan kirinya di samping kepala Ryu dan tangan kirinya memegang dagu Ryu dengan kasar. "Kau masih mau menggoda Masamune, ya? Sampai-sampai masuk sekolah yang sama dengannya." Kemarahan tampak terpancar dari mata Natsuki. "B-bukan, senpai. Ka-kakakku... masuk disini... kelas dua..." Ryu tergagap ketakutan melihat Natsuki. "Richi!" Dari kejauhan terdengar suara anak laki-laki yang Ryu kenal dengan suara Ranmaru. "Cih! Ingat ya urusan kita belum selesai! Akan kubuat hari-harimu di sekolah ini menjadi neraka!" Natsuki segera melepaskan tangganya dan meninggalkan tempat tersebut, berpapasan dengan Ranmaru yang tengah mencari Ryu.
.
.
.
Ryu terlonjak bangun dari tidurnya yang dihinggapi mimpi-mimpi itu lagi. Kali ini tak setetespun keringat keluar dari kulitnya namun cairan bening keluar dari matanya. Dengan agak kasar dia menghapus jejak-jejak air mata tersebut seraya bangkit dari tempat tidurnya untuk bersiap pergi ke sekolah
.
.
Mengapa aku masih saja terbayang-bayang oleh hal itu?
Aku tidaklah sama seperti saat itu
Aku sudah lebih kuat dari saat itu, aku tak lagi lemah
Benar bukan?
Siang hari yang cerah saat jam makan siang, semua anak di SMP Teiko sedang menikmati acara makan siang mereka kecuali Ryu yang tengah berada di ruang kepala sekolah. Telah beberapa menit berlalu namun belum ada yang berbicara membuat suasana di ruang tersebut menjadi tegang.
"Kuroko-kun, salah satu murid SMP kita melaporkan bahwa kemarin dia melihatmu ada di pertandingan penyisihan Inter-high, apakah itu benar?" Setelah lama berdiam diri kepala sekolah Teiko tersebut mengeluarkan suaranya.
"Jika iya, memangnya kenapa?" Tanya Ryu dengan wajah yang terlihat bosan, belum lagi dia agak kesal karena jam makan siangnya terbuang sia-sia dengan adanya dia di ruangan ini.
"Kau terlihat bersama dengan SMA Seirin, sumber yang melaporkanmu mengatakan bahwa kau terlihat seperti manager mereka." Kata kepala sekolah secara berbelit-belit.
"Bukan manager, aku asisten pelatih untuk SMA Seirin." Jawab Ryu tidak peduli.
"Kau tahu murid SMP Teiko seperti yang tertulis di regulasi sekolah tak diperbolehkan untuk bekerja, maka dari itu segeralah berhenti!" Baru sekarang inilah kepala sekolah tersebut mengatakan maksud dari dipanggilnya Ryu ke ruangan itu.
"Rijichō, bukankah di regulasi sekolah tertulis 'akan ada pengecualian untuk siswa yang dapat mempertahankan nilainya atau mendapatkan nilai yang bagus'? Berarti tak ada masalah untuk aku bukan? Sejak kelas satu aku selalu mendapat juara umum di Teiko. Serta saat pertandingan Inter-high, tim basket Teiko juga ada pertandingan. Jadi jadwal belajarku di sekolah tak akan terganggu." Kata Ryu yang membalikan pernyataan pada kepala sekolahnya itu.
"Tapi—" Ryu memotong ucapannya sebelum dia dapat meneruskannya. "Dan lagi aku beberapa kali memenangkan olimpiade matematika, 'kan? Jadi tak ada masalah, lalu untuk apa aku masih tetap dipanggil?"
Mendengar jawaban Ryu, kepala sekolah SMP Teiko itu tak berkutik dan terdiam beberapa saat untuk mencerna ucapan Ryu. Beberapa saat kemudian, dia menghela nafas kecil, "Baiklah, aku mengerti. Kau boleh meneruskan pekerjaanmu itu, namun dengan syarat nilamu tak boleh sampai merosot. Mengerti?"
"Hai, arigatougozaimasu." Ryu berkata seraya menunduk pada kepala sekolahnya itu.
"Kau boleh pergi!" Tanpa diperintah dua kali Ryu segera keluar dari ruangan tersebut untuk segara memulai acara makan siangnya.
Ryu yang terburu-buru pergi menuju kelasnya ditarik tangannya oleh seseorang sebelum dia sampai ke tempat tujuannya.
"Ryu, apa benar kau jadi manager SMA Seirin?" Tanya orang tersebut.
"A—Kyohei? Bukan, bukan manager tapi asisten pelatih. Memangnya kenapa?" Tanya Ryu dengan wajahnya yang biasa, tak terlihat sedikitpun rasa sakit ataupun kesal.
"Tidak kusangka ternyata kau seorang penghianat, ya." Katanya mencengkram tangan Ryu dengan lebih kuat.
"Penghianat? Aku? Asal kau tahu, pertama aku tidak menjadi asisten pelatih dari tingkatan SMP yang mungkin saja akan menjadi musuh Teiko. Kedua, aku tidak pernah memberi tahu data yang telah kuambil dari semua pemain ke orang lain meskipun kepada tim tempatku berada, itu prinsipku." Kata Ryu dengan mata yang tajam. 'Kecuali kakakku...' Pikirnya yang tidak dia ucapkan.
"Maka dari itu, cepat lepaskan! Kau menghalangi acara makan siangku!" Ryu menghempaskan tangan Kyohei yang mencengkram tangannya dan berlalu begitu saja meninggalkan Kyohei disana.
Perjalanan Ryu menuju ruang kelasnya lagi-lagi dipenuhi oleh bisikan-bisikan dari siswa-siswi SMP Teiko yang menurutnya kurang kerjaan. Sesampainya di ruang kelas, Ryu lagi-lagi ditarik pergelangan tangannya yang kali ini oleh Ranmaru dan dibawa dia berlari entah kemana.
"Ranmaru, apa yang kau lakukan? Aku mau makan siang!" Ryu mencoba melepaskan tangan yang ada di pergelangannya untuk kesekian kalinya hari itu.
"Kalau bekalmu aku membawanya juga, kita makan di atap sekolah saja." Ryu yang tak keberatan dengan usulan Ranmaru membiarkannya menariknya ke atap sekolah.
Di atap sekolah, makan siang mereka diwarnai dengan pembicaraan dari Ranmaru yang terlihat normal. Terlalu normal sehingga terlihat aneh menurut Ryu. Ranmaru hanya bicara berputar-putar tanpa menyinggung hal yang sebenarnya ingin ditanyakan olehnya hingga Ryu menghela nafas panjang.
"Ranmaru, apa yang ingin kau bicarakan?" Ryu meletakkan sumpitnya dan menatap Ranmaru tepat di matanya.
"Eh? Haha, kau selalu saja tahu." Ranmaru memaksakan tawa keluar dari mulutnya. "Soal rumor baru tentangmu. Rumor itu berawal dari Kenji jadi aku tak tahu apa aku harus mempercayainya." Ranmaru meletakkan sumpitnya.
"Kau tahu, hampir 65% rumor yang dibicarakan Kosuke-kun itu memang benar. Dan jika rumor itu mengatakan kalau aku ada di pertandingan penyisihan Inter-high dengan SMA Seirin, maka hal itu memang benar. Tapi jika dia menambahkan hal-hal aneh lagi, aku bersumpah akan melakukan 'pembicaraan empat mata' dengannya." Ryu kembali mengambil sumpitnya dan meneruskan makannya.
"Benarkah? Ryu, kau tahu apa yang kau lakukan, kan?" Tanya Ranmaru dengan serius.
"Tentu saja, aku bukan lagi anak kecil." Jawab Ryu dengan tenang.
Ranmaru menghela nafas pendek. "Ryu karena kau jadi manager aku tak akan melarangmu. Namun jika kau mengatakan kalau kau akan main basket lagi, aku akan melarangmu mati-matian."
"Heh, sudah berkali-kali aku mengatakannya hari ini tapi aku asisten pelatih bukan manager. Lagi pula untuk apa kau melarangku main basket?" Sebelah alis Ryu terangkat ke atas mendengar perkataan temannya itu.
"Kau sendiri tahu 'kan pada insiden tiga tahun lalu dengan dua orang itu, bukan hanya lelaki bodoh itu saja yang terluka. Saat kau terlempar, kaki kirimu menghantam tiang lampu dan kakimu hampir saja hancur." Ranmaru menatap lekat wajah sahabatnya itu membuat Ryu hanya dapat menghela nafas.
"Bukan kakiku yang hancur, tapi ototku dan juga tulangku sedikit retak. Tapi aku—" Perkataan Ryu terpotong oleh teriakan dari Ranmaru. "Sama saja! Kau baru saja melakukan operasi tahun lalu 'kan. Dan lagi rehabilitas teratur juga masih harus kau lakukan."
Wajah Ranmaru terlihat memelas dan dia memohon pada Ryu. "Kumohon, jangan lakukan hal yang dapat membuatmu terluka lebih dari ini. Aku mengatakan ini sebagai sahabatmu, sebagai kakakmu."
"Wakatta, wakatta. Tapi sejak kapan kau jadi kakakku? Kau hanya tua beberapa bulan dariku, jangan seenaknya berkata demikian." Ryu menepuk kepala Ranmaru dengan pelan membuat Ranmaru hanya cengengesan.
Sepulang sekolah Ryu pergi menuju rumah sakit yang kali ini dengan tujuan menjenguk Kiyoshi.
"Konnichiwa." Ryu memasuki kamar Kiyoshi dan beberapa orang yang ada di kamar itu.
"Konnichiwa, Ryu-chan." Itu jawaban dari semua yang ada disana kerena mereka telah mengenal Ryu.
"O, ada apa kau datang kemari? Ah, kau ada check-up lagi, ya?" Kiyoshi mengatakannya dengan wajahnya yang selalu tersenyum dan membuat Ryu agak kesal.
"Senpai, kau tak lihat kalender ya? Ini bukan tanggalku check-up, hari ini aku menjengukmu." Ryu duduk di samping tempat tidur Kiyoshi.
Baru saja Ryu duduk disana, handphonenya berbunyi menandakan adanya mail masuk. Ryu membuka mail tersebut yang berisi 'Hari ini kita akan melihat rekaman pertandingan Seiho. Dimana kau? Datanglah cepat! –Aida Riko'. Ryu membalas mail itu dengan cepat, 'Maaf, hari ini tidak bisa, ada urusan.' Dan Ryu langsung mematikan handphonenya.
"Dari siapa?" Tanya Kiyoshi yang penasaran.
"Riko-senpai, 'kita akan melihat rekaman pertandingan Seiho' katanya." Ryu memasukan handphone kembali ke saku blazernya.
"Lalu kenapa kau tidak berangkat?" Tanya Kiyoshi.
"Tidak. Hari ini aku ada urusan denganmu. Ini dorayaki." Ryu menyodorkan tas kertas yang sejak tadi dia bawa kepada Kiyoshi.
"Oh, sankyuu Ryu-chan. Kau selalu saja membawakanku dorayaki, apa tak masalah buatmu?" Kiyoshi membuka tas kertas yang diberikan padanya dan langsung mengambil satu dorayaki.
"Tak apa, jika masalah uang aku bekerja di rumah makan milik pamanku jadi aku mendapatkan uang tambahan." Raut datar Ryu menghiasi wajahnya. "Kau tahu hari ini aku dipanggil ke ruang kepala sekolah karena ada yang melihatku di pertandingan penyisihan Inter-high." Ryu mulai membicarakan alasannya datang menemui Kiyoshi.
"Sou, ada apa?" Wajah Kiyoshi tak berubah sama sekali mendengar penuturan Ryu.
"Tentu saja karena permintaanmu itu, senpai!" Ryu berkata dengan penuh kekesalan pada Kiyoshi.
"Tapi Ryu-chan dapat mengatasinya, kan? Jadi tak ada masalah." Perkataan Kiyoshi yang tergolong sangat santai membuat Ryu makin kesal, dan dia merebut dorayaki dari tangan Kiyoshi yang baru saja mengambilnya. "A—Ryu-chan~"
"Terserahlah, yang penting kau harus cepat sembuh dan segeralah kembali!" Omel Ryu.
Pada hari pertandingan dengan Seiho, Ryu berlari kencang agar cepat sampai tempat tujuannya. Dari kecepatannya berlari dapat dikatakan kalau dia terlambat atau hampir saja terlambat datang pada pertandingan itu. Untung saja saat sampai para pemain masih melakukan pemanasan di court. Sambil mengatur nafasnya Ryu berjalan mendekati Riko.
"Maaf, aku terlambat!" Kata Ryu sambil membungkukkan badannya pada Riko.
Pada saat itu aura-aura aneh muncul dari Riko yang menatap Ryu yang datang agak telat. Dengan sekuat tenaga Riko memukul kepala Ryu, "Ryu-chan kau berani sekali, kemarin kau tidak datang dan sekarang kau terlambat. Memangnya urusanmu penting sekali, ya?"
"Ittai—maaf..." Ryu mengelus kepalanya yang menjadi sasaran empuk dari Riko yang tengah marah. Setelah beberapa saat Riko mengomeli Ryu, akhirnya dia tenang.
"Ini!" Kata Riko yang mulai tenang dan menyerahkan sesuatu pada Ryu.
"Apa ini?" Ryu yang bingung hanya dapat menerimanya lalu mencoba mengintip isinya dari kantong plastik.
"Jersey Seirin. Kau kan asisten pelatih SEIRIN, maka dari itu kau harus memakai seragam Seirin." Kata Riko dengan penekanan pada kata Seirin yang membuat Ryu merasa senang dan tersenyum padanya.
"A—Kau Kagami-kun, kan?" Tiba-tiba saja dari arah court terdengar suara seseorang yang sepertinya Ryu kenal. "Rambutmu sangat merah! Menakutkan!" Perkataan orang itu hanya ditanggapi dengan suara 'bingung' Kagami.
"Kapten, ini orangnya, kan? Seirin benar-benar lemah, tapi ada satu orang yang kuat!" Teriak orang itu pada kapten Seiho.
"Seenaknya saja dia bicara, anak kurang ajar." Suara Riko terdengar marah sampai muncul tiga sudut siku-siku di dahinya.
"Orang itu Tsugawa Tomoki, 'kan? Kenapa aku harus mendengar suaranya yang menjengkelkan itu lagi!" Ryu berkata dengan mengeluarkan aura-aura aneh.
Dari court Tsugawa dipukul kepalanya oleh kapten Seiho—yang Ryu ketahui bernama Iwamura. "Berhentilah bermain-main, dasar bodoh. Maaf ya, anak ini tak dapat membaca suasana makanya dia langsung mengatakan apa yang dia pikirkan." Orang tersebut menekan kepala Tsugawa untuk membungkuk.
"Kau tak perlu minta maaf karena kita akan menang. Jika kau meremehkan kami seperti tahun lalu. Kau akan menangis." Jawab Hyuga.
"Itu tak mungkin. Lagipula, kami tak meremehkan kalian. Hanya saja kalian lemah, itu saja." Iwamura mengatakan hal tersebut untuk membalas perkaaan Hyuga.
"Apa? Kapten, kau juga tak berkata jujur." Tsugawa yang diangkat oleh Iwamura mengatakan hal itu.
"Bodoh, aku hanya tak memakai pemanis dalam perkataanku." Jawab Iwamura.
Setelahnya mereka kembali ke ruang loker, namun suasananya sangat buruk. Tak ada satu pun pemain yang berkata sesuatu sampai Riko menepuk tangannya untuk mendapatkan perhatian mereka.
"Kalian terlalu tegang. Aku terpikir akan sebuah hadiah untuk menyemangati kalian." Kata Riko lalu dia melanjutkan dengan nada yang feminin dan menarik Ryu yang ada disampingnya. "Fufu, Jika kalian menang pada pertandingan selanjutnya, aku dan Ryu akan memberikan kalian ciuman di pipi kalian." Katanya yang membuat wajah Ryu berubah aneh.
"Senpai, jangan seenaknya melibatkanku." Kata Ryu sambil melepaskan tangan Riko dari lengannya.
"Kenapa dia tertawa?" Kata Izuki.
"Mana mungkin kita menginginkannya." Kata Koga yang membuat Riko pundung.
"Dasar bodoh, senanglah sedikit walaupun hanya pura-pura!" Teriak Hyuga yang membuat Riko tambah pundung.
"Diamlah dan bertindaklah serius, bodoh! Apa kalian tak mau membalas mereka untuk tahun lalu? Bukankah kalian harus membayar mereka beserta bunga-bunganya dalam satu tahun!" Teriak Riko dengan air mata di sudut matanya.
"Maaf, maaf. Kami tahu." Kata Hyuga menanggapinya. "Yosha. Sebelum kita pergi, aku katakan sekali lagi. Aku tahu kalian akan merasakannya setelah pertandingan dimulai, tapi kelas satu harus persiapkan diri kalian. Seiho itu kuat. Sejujurnya setelah kekalahan tahun lalu, kami jadi membenci basket sampai hampir saja kami berhenti bermain basket." Perkataan Hyuga membuat para pemain Seirin kelas satu menjadi sedih.
"A—Jangan murung. Kami bangkit kembali dan kami lebih baik sekarang. Malah sebaliknya, kami senang. Tahun ini tak akan sama dengan tahun lalu. Aku percaya kita menjadi makin kuat jadi aku yakin akan hal itu." Kata Hyuga dengan tersenyum lebar. "Sekarang yang harus kita lakukan adalah menang. Ayo!" Hyuga berkata demikian lalu mereka berangkat.
Pada saat mereka semua berangkat, Tetsuya hanya diam di depan pintu masuk loker mereka.
"Apa ada yang salah?" Tanya Kagami yang menyadari keanehan Tetsuya.
"Kagami-kun, apa kau pernah membenci basket?" Tanya Tetsuya.
"Hah? Tidak, tidak pernah." Jawab Kagami.
"Aku... pernah, Ryu juga." Perkataan Tetsuya membuat Kagami sedikit bingung.
"Kurasa alasan kami itu berbeda-beda, tapi aku tahu rasanya. Sekarang mereka memang riang, tapi membenci sesuatu yang kau sukai itu sangat menyakitkan. Ketika aku berbicara dengan Midorima-kun, aku mengatakan kalau masa lalu dan masa depan itu berbeda, tapi mereka tak benar-benar terpisah. Kurasa pertandingan ini sangat penting untuk senpaitachi dapat melupakan masa lalu. Jadi... aku memikirkannya kembali, aku sangat ingin memenangkan pertandingan ini." Lanjutnya.
Pertandingan telah berlangsung selama empat menit namun Seirin tak dapat mencetak angka satupun. Mereka tertinggal dua belas angka dibelakang Seiho, pertahanan Seiho yang begitu kuat belum mampu mereka tembus. Dan lagi, mark Kagami adalah Tsugawa membuat Ryu agak khawatir karena Kagami telah mendapat satu foul.
Saat ini bola tengah dipegang Kagami yang masih saja dimark oleh Tsugawa, namun bola sudah terlalu lama dipegang oleh Kagami. "Kagami, kau memegangnya terlalu lama. Berikan padaku!" Teriak Izuki yang berlari melewati Kagami. Lalu dia berlari dan mencoba memasukkan bola, namun Iwamura memblocknya.
"Naifnya. Jika serangan kalian hanya seperti itu, kalian tak akan pernah bisa menembus pertahanan kami." Kata Iwamura pada Izuki.
Lagi-lagi terjadi one-on-one antara Kagami dan Tsugawa, Kagami terlihat tidak dapat bergerak luas dalam mark Tsugawa.
"Tsugawa, tak apa jika kau bersemangat tapi jangan sampai kau kelelahan sebelum dua-perempat kedua." Teriak salah satu pemain Seiho yang menjadi mark Hyuga.
"Tak apa-apa! Mereka tak sehebat yang kukira, ini mudah sekali!" Teriak Tsugawa yang kelihatannya membuat Kagami marah.
"Apa kau bilang?" Kata Kagami yang tersulut emosi dan langsung saja maju dengan paksa. Peluit wasit berbunyi dan memberi foul Kagami yang kedua karena dia melakukan charging.
"Mudah sekali si bodoh itu marah." Kata Riko.
"Jika Kagami-senpai terus seperti itu, nanti dia sendiri yang akan celaka." Ujar Ryu.
"Kagami, tenanglah sedikit!" Teriak Koga.
"Kagami-kun, kau sudah punya dua foul. Jika mencapai lima, kamu out." Kata Tetsuya memperingatkan Kagami.
"Aku tahu. Tapi pergerakan mereka sulit sekali untuk dihadapi." Kagami berkata sambil melihat tim basket Seiho.
'Kagami-senpai tak dapat bergerak bebas, Onii-san tak dapat melakukan passnya karena penjagaan mereka yang man-to-man dengan sangat ketat. Seiho memberikan pressure pada pemain yang mereka jaga, dan lagi pergerakan mereka sedikit aneh. Apa yang dapat kita lakukan saat ini?' Pikir Ryu dengan keras.
Pada saat interval, Riko duduk didepan para pemain yang sedang memulihkan tenaga mereka di bench.
"Seiho menggunakan teknik beladiri kuno." Kata Riko.
"Beladiri kuno? A-chou, seperti itu?" Tanya Kagami sambil memperagakannya dengan gerakan tubuh.
"Itu bukan beladiri kuno. Maksudku mereka mengambil gerakan dari beladiri kuno. Salah satu teknik yang mereka pakai adalah 'lari namba'. Biasanya kaki dan tangan akan bergerak berlawanan arah saat kau berlari, tapi pada 'lari namba' kaki dan tangan bergerak bersama dengan arah yang sama." Lanjut Riko.
"Lalu kenapa?" Tanya Kawahara.
"Maksudnya dengan menggunakan 'lari namba' akan mengurangi tekanan pada kaki, hal itu juga akan mengurangi tekanan pada tubuh dan tenaga yang harus dikeluarkan." Jelas Ryu.
"Selain 'lari namba', mereka juga menggunakan beberapa teknik beladiri yang dapat mengurangi tenaga yang harus dikeluarkan. Seperti bergerak dengan cepat dan efektif, dan gerakan dasar lainnya. Itulah trik dari gerakan Seiho." Kagami yang mendengarkan penjelasan Riko hanya dapat mengedipkan matanya.
"Namun bukan berarti mereka dapat terbang atau menghilang. Mereka hanyalah anak SMA seperti kalian. Mereka akan jatuh untuk fake dan mereka juga akan kehilangan keseimbangan jika kalian membuat mereka lengah. Mereka juga memainkan basket yang sama dengan kalian. Jika kalian bermain seperti biasa, pasti akan bekerja. Ini bukan saatnya kalian menyerah." Kata Riko mengakhiri perkataannya.
Peluit telah ditiup oleh wasit menandakan dimulainya lagi pertandingan, para pemain yang akan bertanding segera mempersiapkan diri mereka untuk segera melakukan pertandingan lagi.
"Izuki-senpai..." Kagami berjalan menuju Izuki.
"Huh?" Jawab Izuki.
"Apa kau dapat memberiku bolanya?" Pinta Kagami pada Izuki yang membuatnya agak kaget. "Tolong biarkan aku menghadapi Tsugawa lagi." Lanjutnya.
"Apa kau punya rencana?" Tanya Izuki dengan sedikit tersenyum atas permintaan Kagami.
"Tidak, tapi dia juga hanya manusia biasa, kan? Aku hanya perlu lebih cepat dari lawanku." Kagami langsung pergi begitu saja setelah mengatakan hal tersebut.
Izuki yang mendengar jawaban Kagami hanya memasang wajah yang terlihat khawatir. "Apa maksudmu? Apa kau yakin hal itu akan bekerja?"
"Mungkin tidak akan apa-apa." Kata Tetsuya yang membuat Izuki menoleh ke arahnya. "Dia orang yang akan melakukan sesuatu pada waktu yang tepat." Lanjut Tetsuya.
"Lalu, apa tak apa-apa jika kita menyerahkan padanya?" Tanya Izuki.
Saat pertandingan, Kagami mendapatkan bola sesuai dengan permintaannya.
"Oh, One-on-one? Majulah!" Kata Tsugawa yang mengerti akan maksud Kagami.
"Teknik beladiri kuno atau apapun itu, aku tak peduli. Basket itu basket!" Kata Kagami yang langsung bergerak cepat dengan melakukan fake lalu melewati Tsugawa dan berlari menuju ring. Kagami berhasil mencetak angka untuk Seirin, lalu bola yang telah terpantul di lantai ditangkap oleh Tetsuya.
"Kita pasti akan memenangkan pertandingan ini." Kata Kagami pada Tetsuya.
Dari arah bench Seirin terlihat semua anggota Seirin merasa senang akan angka yang baru dicetak, tak terkecuali Ryu yang tetap duduk namun menyunggingkan senyum dibibirnya.
"Ini pertama kalinya aku melihat seseorang melewatimu." Kata Kasuga—salah satu pemain dari Seiho— pada Tsugawa.
Ryu yang mempunyai pendengaran yang tajam mencoba mendengar apa yang dikatakan Tsugawa karena dia melihatnya tersenyum.
"Tidak, baru sekarang akan dimulai, kesenangkan dan kesakitan." Kata Tsugawa dengan senyuman sadis membuat Ryu sedikit was-was akan hal apa yang akan dia perbuat.
Chapter 8 Owari~
Untuk Kishiro Haisane-san: hehe, Arigatou. Ganbarimasu :D
Untuk Mawarbereum5: Hai, Arigatou :D
Mata chapter 9 ao~
R&R Please!
