Chapter 5
When a vampire falls in love (Kyūketsuki wa koiniochiru to ki)
By: Phaniechan98
Disclainmer : Masashi Kishimoto
Gender : Romance, Drama, and Supernatural
Warning:
Ooc
Typo
Rate M (for save)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke sekarang sedang berada di atas atap sekolah bersama kedua sepupunya dan sahabatnya. Benar-benar diatas atapnya dan jangan tanyakan kenapa mereka bisa kesana karena itu sangat mudah bagi mereka.
"Jadi sekarang ia masuk organisasi itu." gumamnya.
Ia memandang lurus kedepan dengan onyx-nya yang tajam.
"Aa, tapi belum diketahui apa tujuan organisasi itu." kata Izuna.
"Dan mereka masih belum melakukan kegiatan apapun-ttebayo," tambah Naruto yang kini terlihat sangat serius.
"Benar-benar organisasi yang misterius-ttebayo."
"Jadi bagaimana Sasuke?" tanya Shisui.
Sasuke yang ditanya hanya menunjukan seringai kejamnya. Ia memasukan kedua tangannya kedalam kantong celananya dan berjalan ke pinggir atap.
"Menarik, aku semakin ingin membunuhnya," katanya lalu menjatuhkan diri ke bawah dan berjalan dengan santai ke pintu menuju lantai tiga.
"Tunggu aku, kuso Aniki." lanjutnya dengan suara yang sangat mengerikan yang tak pernah ia tunjukkan.
Sementara tiga pria yang masih di atas atap hanya memandangnya yang menjauh dengan raut yang tidak bisa diartikan.
Ngukkkk~~~
Lalu tiba-tiba suara dari perut Shisui membuyarkan suasana serius yang tengah terjadi.
"Hehehe aku lapar, aku butuh darah." katanya.
Sedangkan sepasang onyx dan sapphire memandangnya malas.
"Perusak suasana, kita sudah terlihat keren tadi." gerutu Izuna.
Naruto hanya bisa menghela nafas. "Baiklah, ayo kita cari peternakan sapi-ttebayo," usul Naruto.
"Aku melihat ada peternakan di arah jam 10, sekitar 5 km dari sini-ttebayo."
"Aa, lalu bagaimana dengan pelajaran? Ini masih hari pertama kita masuk." Izuna berkata sambil memandang lurus Shisui dan Naruto.
"Kita sudah terlambat masuk kelas dari setengah jam lalu Izuna," sahut Shisui.
"Yosh! Ikimasho!"
Mereka pun berlari dan meloncat ke arah halaman sekolah. Dan secara kebetulan Obito melihat mereka dari jendela lantai dua. Rautnya terlihat antara terkejut dan kesal saat melihat mereka.
"Baka! Bagaimana kalo ada yang melihat mereka selain aku." Gumamnya.
.
.
.
Di Sebuah gudang tak terpakai terdapat dua orang pria yang tengah duduk di atapnya. Pria berambut kuning yang diikat pony-tail tengah bertanya pada pria yang satunya.
"Sasori Danna apa kau tau siapa reinkarnasi dewi Kaguya itu, un?"
"Tidak." jawab Sasori tampa menoleh.
"Huh? Lalu bagaimana kita mencarinya, un?"
"Aroma dari tubuhnya berbeda," lalu Sasori pun berdiri dan meloncat kebawah. "Aromanya lebih mengiurkan." Lanjutnya sambil berjalan.
"Konoha itu luas un, kita harus memulainya dari mana Danna?"
Pria pirang bertanya setelah ia mengejar Sasori.
"Deidara kau terlalu banyak bertanya."
"Aku kan cuma bertanya un."
"Di Konoha Gakuen, kita mulai dari sana."
Jawab Sasori dengan malas sementara Deidara hanya menyeringai sambil menjilat bibirnya.
"Aku harap akan ada sesuatu yang menarik disana, un." Lalu ia mengambil tanah liat dan membentuknya menjadi burung kecil di mulut yang ada ditangannya. Ia melempar secara asal burung itu.
Bang!
Terjadi ledakan besar yang menghancurkan gudang tua di belakan mereka.
"Seni adalah ledakan,un."
"Kau menyebut bahwa ledakan adalah seni yang sesungguhnya? Seni yang sesungguhnya adalah seni yang dapat bertahan lama hingga masa depan," sahut Sasori dan melirik bekas ledakan dibelakang mereka.
"...Seni abadi." lanjutnya dan kembali berjalan lurus kedepan.
Deidara pun mengikuti langkah Sasori lalu ia berkata "Resepsi kita tentang seni emang berbeda, un."
.
.
.
.
.
"Forehead! Ayo kita ganti baju sekarang."
"Pig, sabarlah aku harus membereskan buku-buku ku dulu."
"Hehehe, Sasuke-kun tidak ikut melihat kita latihan?" tanya Ino dengan Sasuke.
"Hm," Jawabnya "Latihan apa?"
"Latiha-"
"Tidak!" Sakura memotong perkataan Ino.
"Kau pulang dan tidur saja di rumah! Vampir mesum!"
Sasuke pun menyeringai.
"Kenapa? Kau malu saat aku melihatmu latihan Cherry?"
Ia pun menggenggam tangan Sakura sambil mengelusnya, ia menatap Sakura lembut lalu mencium punggung tangannya. Teman-teman yang menatap merekapun bersorak iri. Gaara yang biasanya stay cool pun kini mewek di sudut kelas.
'Aku pikir akulah yang paling keren menurutnya! Tapi kenapa,' batin Gaara.
'Kanapa?!'
'Kenapa?!'
'Apakah eyeliner ku kurang tebal?'
'Apakah tampangku kurang sangar?'
'Oh! Kami-sama apa yang harus kulakukan?'
'...Agar ia menganggap ku yang paling keren lagi!'
"Oh! Tidak serangga ku!" teriak Shino.
Aura suram yang mencekam milik Gaara pun mampu membuat serangga milik Shino yang baru saja ia tangkap kabur semua. Dan bagi Shino serangganya adalah Istri pertamanya setelah Istri masa depannya nanti.
"Tenang saja aku tidak akan membuatmu malu dengan bersorak 'Semangat lah calon istriku!' seperti itu, Cherry."
Sontak wajah Sakura yang awalnya sudah memerah tambah memerah lagi. 'Apa yang dia pikirkan!' batin sakura. Ia malu menjadi pusat teman-temannya yang labil seperti ini. Apakah Vampir mesum yang mengaku-ngaku jadi tunangannya ini tak bisa memahaminya.
"Kau jangan bertingkah sok keren di depan teman-temanku! Itu tidak keren tau!"
"Eeeeh? jadi seperti apa menurutmu yang keren itu, Cherry?"
Sasuke berbisik ditelinga sakura lalu meniupnya. Sakura pun menjauh tapi Sasuke menahan dengan menarik tangannya. 'Cup' Sasuke pun mencium sekilas hidungnya lalu menyeringai melihat wajah tersipu didepannya.
"Baiklah, aku tidak akan ikut," kata Sasuke sambil memeluk tubuh mungil didepannya. "Tapi biarkan Izuna-nii dan Dobe ikut bersamamu."
"Lepaskan sesak tau! Ini tidak keren!"
0.o.-Skip Time-.o.0
Setelah bebas dari pelukan maut Sasuke. Kini Sakura bergegas mengganti bajunya dengan baju tenisnya bersama Ino dan sekarang ia tengah menuju lapangan tenis dengan dua bodyguards aneh di belakangnya. Ia tak habis pikir dengan Sasuke yang menyuruh Naruto dan Izuna untuk menjaganya. Ia bukan anak kecil yang harus selalu dijaga dan Sakura sangat yakin mereka berdua malah akan mengganggunya ketimbang menjaganya, yeah ia sangat yakin.
"Kalian berdua jangan harap dapat menggangguku latihan, itu tidak keren tau." Ancam Sakura.
Sementara yang diancam terlihat cuek bebek aja. Sakura pun tambah kesal urat nadi sudah terlihat di jidatnya yang lebar. Saat ia ingin menjitak dua kepala didepanya ada seseorang yang menginstruksi kegiatannya.
"Ano Sa-Sakura-chan?"
"Eh? Hinata kah? Ada apa?"
"A-Apa mereka ber-berdua anggota ba-baru klub tenis?" Tanya Hinata sambil menunjuk malu-malu dua pria di depan Sakura.
"Tidak," Jawab Izuna "Kami hanya menemani Hime."
"Tapi kalau kami boleh bergabung, kami pasti akan senang hati menerimanya-ttebayo." Kata Naruto dengan senyum yang kelewatan lebar untuk Hinata. Sontak wajah Hinata menjadi semerah tomat.
"Eh! Apa kau sakit-ttebayo?"
Naruto pun menempelkan tangannya pada jidat Hinata dan sukses menambah warna kemerahan pada wajah Hinata.
"Tidak!"
Bug!
"Auuu!"
Karena sangat gugup Hinata tanpa sengaja berteriak dan mengayuhkan raket tenisnya ke wajah Naruto dan sukses membuatnya pingsan. Sementara Izuna, Sakura ,dan Ino yang menyaksikan itu menjadi sweatdrop.
"Eh! Go-Gomen ne," ucap Hinata yang telah sadar apa yang ia perbuat. "A-Aku be-benar tak sengaja!"
"Wow." Ucap Izuna.
Sakura pun menepuk bahu Hinata dan tersenyum manis. "Kerja bagus Hinata," Katanya. "Kau sangat keren!"
"Hehehe." Ino tertawa sambil masih sweatdrop.
Izuna pun menggendong Naruto di bahunya. Lalu berpamitan pulang kepada Sakura dan tentu dengan senang hati ia memperbolehkan Izuna pulang dengan menggendong Naruto. Ia pun tak henti-hentinya memuji Hinata keren sepanjang latihan. Menurutnya memukul seseorang dengan raket adalah hal yang patut ditiru. Ia pun punya ide akan memukul Vampir mesum dirumahnya dengan raket kalo ia berbuat yang tidak diinginkan tapi membuat ketagihan tersebut.
"Kau benar-benar senang melihat teman-teman tunanganmu menderita, eh?" tanya Ino.
"A-Ano to-tolong fokus lah teman-teman."
Setelah latihan tadi Sakura pun pulang sendiri karena rumahnya dengan Ino dan Hinata berlawanan. Saat ia memasuki komplek menuju apartemennya ia bertemu Sasori dan Deidara. Ia sempat bertatapan mata dengan Sasori tapi setelah itu ia abaikan dan terus berjalan lulus sampai saat di belokan menuju blok apartemennya ia melihat Sasuke yang berlari kearahnya dari raut wajahnya tampak jelas ia sangat kuatir.
"huh? Kau tak apakan?" kata Sasuke sambil terengah-engah. "Aku sangat mencemaskanmu saat tau Izuna-nii dan Dobe pulang duluan."
Dan hati Sakura pun menghangat mendengar perkataan Sasuke ia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di perutnya.
"Kenapa kau sangat mencemaskan ku?" tanya Sakura sambil berlalu melewati Sasuke.
"Karena kau orang yang berharga bagiku," Sasuke pun berjalan mendekati Sakura dan memutar bahunya menghadap ke arahnya.
"Aku tidak ingin kehilangan orang yang berharga lagi. Karena itulah aku mencemaskan mu." jawabnya.
Sakura pun sedikit menghadap ke sisi lain menghindar dari tatapan onyx yang menatapnya lembut dan juga menyembunyikan pipinya yang merona. Ia sangat bahagia dan bersyukur dapat bertemu dengan laki-laki di depannya ini karena ia merasa memiliki keluarga yang utuh lagi. Ia yang membawa teman dan sepupunya sehinga apartemennya tidak sepi lagi, ia juga mencemaskannya sehinga membuat hatinya menghangat, dan terakhir laki-laki ini selalu memeluknya dan membuatnya merasakan kembali pelukan ayahnya yang telah lama tidak ia rasakan. Walau pun kadang ia dibuat kesal dengan kelakuan mereka semua tapi itu tak sembanding dengan kenyaman yang Sakura rasakan saat berada di tengah mereka.
Sasuke yang melihat pipi Sakura yang merona pun tersenyum tipis.
"Kau tau? Kau terlihat cantik di beberapa sisi."
"Sisi mana?" sahut Sakura asal.
"Disini,"
Cup~
Sasuke pun mencium pipi Sakura dan membuatnya terkejut. Ia pun langsung menghadap Sasuke dengan wajah memerah nya yang terlihat sangat menggemaskan bagi Sasuke
"Di sini juga,"
Cup~
Kali ini Sasuke mencium dahi Sakura.
"Dan terakhir di sisi ini."
Cup~
Cup~
Sasuke pun mencium pipi Sakura yang satunya lagi dan juga bibirnya. Ia terkekeh saat melihat wajah di depannya sudah sangat merah seperti kepiting rebus.
"Aku larat sedikit kalimat awal ku," kata Sasuke. "Kau cantik dari berbagai sisi Cherry."
Dan kembali Sasuke menyatukan bibir mereka. Ia mengecup dan melumat bibir Sakura dengan lembut. Sakura yang awalnya terkejut pun mulai membalas kecupan sasuke. Bunyi decakan pun terdengar. Mereka sudah beberapa kali ganti posisi hadap kanan dan kiri dan masih dengan sangat lembut Sasuke melumat bibir atas dan bawah milik Sakura.
Merasa gadis yang sedang dicumbunya ini kekurangan oksigen. Dengan tidak rela Sasuke melepas penyatuan bibir mereka. Ia menatap sayu emerald di depannya yang juga menatapnya tak kalah sayu. Sasuke tersenyum tipis dan menarik gadis didepannya kedalam dekapannya, mencium bau khas musim semi dari pucuk kepalanya. mencoba mengigat bau yang akan selalu membuatnya candu ke dalam memori otaknya.
"Bagaimana?" bisiknya.
"Apakah menurutmu saat ini aku sudah cukup keren, eh?"
"Tidak! Tentu saja tidak," sahut Sakura. "Kau tak akan pernah keren dimataku sedikitpun."
Dengan wajah yang masih memerah Sakura berbalik dan berjalan dengan cepat meninggalkan Sasuke yang tertawa geli melihat tingkah lakunya. Sasuke pun dengan cepat menyamakan langkahnya dengan Sakura tampa menyadari tatapan dari atas atap gedung di seberang jalan yang mereka lalui.
"Sepertinya reinkarnasi Dewi Kaguya itu mempunyai pengawal yang menarik, un." kata Deidara.
"Aa, orang menarik yang di kawal orang yang menarik," Kata Sasori. Ia menatap tajam sang ketua klam Vampir yang paling dihormati di seluruh negeri itu. "Aku tidak sabar membuat tubuh Uchiha itu menjadi salah satu boneka favorit ku."
Deidara yang mendengar perkataan Sasori pun menjadi sangat bersemangat. Ia sudah tidak sabar lagi meledakan para pengikut ketua dari para Vampir sialan tadi.
"Kalo begitu aku akan meledakan para pengikutnya dengan seniku Danna, un."
"Kita tidak bergerak secara gegabah tapi secara perlahan," Sasori pun menatap Deidara dengan tajam. " Ingatlah itu jangan sampai kau bertingkah bodoh dan gegabah."
Mendengar nada dingin dari Sasori. Ia hanya bisa terkekeh pelan dan menjawab. " Tenang Danna," ia menatap kembali Sasori dengan tatapan geli. "Aku tak akan bersikap seperti itu, un."
Sasori pun mendengus " Terserah." sahutnya malas.
"Jadi kita memulainya besok, un?"
"Aa." sahut Sasori dengan malas lagi.
.
.
.
.
.
"Wah! Sakura-chan," sapa Naruto yang kebetulan baru sadar dari pingsannya. "Okaerinasai-ttebayo."
"Tadaima." sahut Sakura dan Sasuke bersamaan.
"Wah! Hime-chan sudah pulang," sahut Shisui yang sedang memakai apron.
"Kebetulan sekali aku habis memasak untuk makan malam kita semua."
Izuna yang sedang bermain playstation pun mengalihkan pandangannya dari layar tv kearah Sakura. "Sebaiknya kau mandi Hime, wajah mu sangat kusam dan sangat jelek."
"Tentu saja aku akan mandi! Dasar kau pikir kau keren? Itu tidak keren tau!" teriak Sakura kesal dan langsung mengamil handuk serta pakaian ganti dan masuk ke kamar kecil sambil menghentakan kaki. Sementara empat pria yang melihat tingkahnya hanya bisa terkekeh geli melihat tuan putri mereka.
"Hime-chan mandinya jangan terlalu lama nanti makan malamnya sempat dingin!" teriak Shisui di depan pintu kamar kecil.
"Ya!" teriak dari kamar kecil.
Setelah Sakura selesai mandi mereka pun memulai makan malam dengan suasana hangat yang di isi oleh ocehan Naruto dan Shisui serta kata-kata 'Itu tidak keren tau!' dari Sakura.
Waktu tidur pun tiba Sakura tengah memakai body lotion dan membaginya pada empat Vampir metropolitan tersebut.
"Yosh! Kulit ku sudah lembab-ttebayo."
"Aa, ayo kita semua tidur," kata Izuna "Dan kau Sasuke berhenti memeluk Hime."
"Hm, kembali ke futon mu Sasuke." sahut Shisui yang membenarkan kata Izuna. Sasuke pun menekuk mukanya saat mendengar perintah kakak sepupunya. Setelah mencium jidat Sakura ia pun berjalan ke futonnya dan mengucapkan, "Oyasumi." pada semuanya.
"Oyasumi/ttebayo." sahut yang lain bersamaan
.
.
.
Keesokan harinya Sakura sudah bangun dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Ia melihat para Vampir yang masih terlelap di futon masing-masing kecuali Naruto yang sudah menumpang futon Sasuke yang berada di sebelahnya. 'Apa dia tidak merasakan berat saat di peluk Naruto seperti itu?' pikir Sakura.
"Yosh! Aku akan membuatkan mereka sarapan dan akan berangkat tepat jam 10 nanti."
Sementara itu di lain tempat terlihat dua orang pria yang berdiri didepan gerbang sekolah yang terlihat sangat sepi.
"Hmmm, Danna kenapa kelihatannya tidak ada orang sama sekali disini, un?" tanya Deidara.
Sontak rawut wajah Sasori berubah aneh. Bodohnya ia baru teringat sekarang. Ia memandang Deidara sambil mencoba bersikap tenang dan keren. Ia pun berdehem untuk mengembalikan Image kerennya di mata Deidara.
"Aku baru teringat sesuatu," kata Sasori berusaha santai. "Ini tanggal merah dan sekolah libur."
"Huh?" sahut Deidara yang Sweatdrop.
"Rencananya kita ubah," Jawab Sasori. "Kita akan memulainya besok saja."
Dan ia pun meninggalkan Deidara di belakang seolah tak terjadi apapun.
"Saat ia salah pun ia masih bisa bertingkah sok keren, un." kata Deidara kesal.
TO BE COTINUED
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author's Note:
Yosh! Akhirnya kelar juga nih Chapter 5 and maaf kalo ini engga update kilat yah. And aku harap bakal banyak yang bakal review chapter ini. Kalo engga review itu engga keren tau! #Digiling readers
Balas Reviews:
mantika mochi: Hahaha makasih yah udah review :D
trafalgar rika: Hehehe Sasuke memang sangat absurd banget tapi udah review yah ^^
hikari 94: Arigatou udah review yah :3
BlackCherry712: Arigatou udah review yah dan ini udah update loh ; )
Arashi: # tersenyum dengan mata yang berbinar-binar
Makasih banget yah udah review moga chapter ini kamu suka :D
Nikechaann: Yosh! Arigatou udah review nee ^^ moga aja kamu suka sama chapter ini :D
Kakaru S.S: Menurut itu juga keren karena udah review, Arigatou nee :D
hanazono yuri: Yosh! Ini udah lanjut dan Arigatou udah review nee ^^
Mind to Review?
thank you for reading
