Kuroko Kyoudai no Basuke

Chapter 9 is up!

Caution : This fanfic just a work of fiction. If there are something that happen to be the same, I deeply apologize.


Pertandingan bertambah menarik saja setelah Kagami bisa memasukkan angka untuk Seirin. Namun Ryu masih khawatir akan rencana Tsugawa dan lagi saat dia menoleh ke lapangan sevelah, terlihat Shuutoku menyimpan Midorima untuk pertandingan selanjutnya setelah main hanya 5 menit. Sedangkan pertandingan Seirin tidak terlihat begitu bagus dengan Seiho yang melakukan pass berputar pada seluruh pemainnya. Pass terakhir diterima oleh Tsugawa yang mencoba untuk memasukkan bolanya namun Kagami memblocknya dengan terlalu keras.

"Foul! Putih no. 10!" Teriak wasit.

'Itu sudah ketiga kalinya. Apa yang dia pikirkan?' pikir Ryu yang melihat pertandingan itu dengan was-was. 'Tidak hanya pertahanan namun serangan mereka juga luar biasa. Memang mereka tak punya pemain jenius, tapi mereka merupakan pemain ahli. Terutama karena terbiasa memakai gerakan-gerakan dari beladiri kuno. Tapi... Seirin ada nii-san, mungkin tak akan apa-apa. Are?' Entah mengapa pandangan Ryu menjadi mengabur dan tubuhnya terasa sedikit panas.

'Demam? Kenapa? Ini bukan saatnya sakit, aku harus menahannya.' Pikir Ryu dengan menyentuh dahinya sekilas.

Pada saat itu bola keluar dari lapangan. Tsugawa terlihat berjalan menuju papan score yang menunjukkan 6-15 untuk keunggulan Seiho.

"Beda sembilan poin, ya?" katanya yang terlihat tidak puas lalu menabrak seseorang di depannya.

"Maaf." Kata orang tersebut.

"Kau.." Tsugawa yang baru tersadar melompat ke belakang karena kaget. "Siapa kau? Apa kau juga main dari tadi?" Katanya sambil menunjuk orang tersebut.

"Kuroko Tetsuya desu. Aku main." Kata orang tersebut, dari belakangnya terlihat Hyuga dan Kagami dengan wajah yang shock.

"Heh, benarkah? Kau punya hawa keberadaan yang tipis!" Teriak Tsugawa yang membuat Ryu hanya menghela nafas dari bench.

"Kau kelas satu sama sepertiku? Ne, apa kau tahu? Tahun lalu, Seiho unggul 20 poin pada quarter pertama. Makanya aku ingin membuat unggul 30 poin. Tapi, jangan sampai kecewa ya?" Kata Tsugawa dengan wajah yang menurut Ryu sangat menyebalkan membuat raut wajah pemain Seirin kelas dua berubah, lalu dia berjalan menjauh setelah menepuk bahu Tetsuya.

"Baiklah." Kata Tetsuya membuat Tsugawa membalikkan badannya. "Aku akan bekerja keras sehingga aku tidak kecewa." Lanjutnya.

Bola dipegang oleh Izuki yang memiliki Kasuga sebagai marknya, dia melemparkan bola ke arah Mitobe yang dianggap Kasuga sebagai pass yang lemah. Namun bola menikung dan sampai pada tangan Mitobe yang membuat pemain Seiho kaget. Dengan cekatan, Mitobe langsung memasukkan bolanya.

Pemain Seiho yang masih merasa kebingungan tetap mencoba memfokuskan diri mereka pada pertandingan dan memberikan bola pada Kasuga. Kasuga yang menerima bola dengan cepat melaju dan mencoba melakukan shoot, namun Kagami mendorong bolanya dari belakang Kasuga sehingga bola itu meleset.

Seirin yang mulai dapat melawan Seiho melakukan perlawanan dengan hebat. Hingga pada akhir quarter pertama itu, Seirin dapat menyamakan kedudukan 19-19 dengan Seiho.

"Kudengar tadi anak ini mengatakan hal bodoh lagi." Kata Iwamura yang menenteng Tsugawa di tangannya.

"Yah. Jujur saja, itu membuat kami mengingat trauma tahun lalu." Jawab Hyuga.

"Maaf." Kata Iwamura.

"Tapi, yah itu tak masalah." Kata Hyuga sambil melihat papan score. "Kami telah melupakannya." Lanjut Hyuga.

Para pemain kembali pada bench mereka untuk istirahat sejenak dan mengatur ulang strategi mereka.

"Permainannya baru saja dimulai! Formasinya tetap seperti ini. Tapi jangan terlalu terbawa oleh pass berputar mereka, jadi lebih rapatkan zone kalian. Lalu, Kagami.." Kata Riko yang membuat Kagami terlihat senang saat dipanggil.

"Foulmu banyak." Lanjut Riko yang membuat wajah Kagami berubah seketika.

"Jika kalian mencoba menyeimbangi lawan kalian, kalian akan terbawa arus mereka. Cobalah menyerang dengan lebih agresif!" Kata Riko mengakhiri rapat strategi mereka.

Pada quarter kedua, terlihat sekali bahwa Seiho menaikan pertahanan mereka.

"Tak akan kubiarkan kau melewatiku lagi." Kata Tsugawa yang lagi-lagi menjadi mark Kagami.

Dari bench Seirin terlihat Kawahara mengeluarkan suara terkejut.

"Pertahanan mereka jadi lebih kuat." Kata Furihata.

"Akhirnya tim dengan pertahanan terbaik di Tokyo bermain dengan kekuatan penuh." Kata Koga.

Dari arah lapangan terlihat Kagami yang kesusahan untuk melewati Tsugawa, namun dengan sigap dia mematulkan bola melewati kaki Tsugawa dan dibalik arah oleh Tetsuya dan ditangkap olah Kagami. Namun Iwamura mencoba menghalangi Kagami, tapi dia melakukan hal yang serupa lagi dan berhasil memasukkan bola.

"Mereka dapat melakukan koordinasi seperti itu? Tapi, dari mana no. 11 itu datang?" Tsugawa masih terlihat shock akan kejadian yang baru saja terjadi.

Memang mereka dapat melewati pertahanan Seiho dengan lancar, namun Ryu menyadari sebuah keganjilan. Walau tidak terlihat dengan jelas tapi dia yakin bahwa Kagami mengeluarkan keringat lebih banyak dari pemain lain, Kagami terlihat sangat lelah. Dan lagi ketika Ryu mengalihkan pandangannya pada Tsugawa, dia terlihat tertawa dengan senang dan barulah sadar Ryu akan rencana Tsugawa.

"Apa yang kau tertawakan?" Tanya Kasuga yang merangkul pundak Tsugawa.

"Ah, maaf." Jawab Tsugawa.

"Menurutku itu tak masalah. Kau senang karena Kagami terlalu memaksakan diri, kan? Kelihatannya rencanamu berjalan dengan baik." Kata Kasuga dengan suara rendah yang samar-samar dapat Ryu tangkap.

"Masih belum! Dia harus lebih menderita!" Tsugawa berkata sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Oh, Kau Do'S yang lumayan." Kasuga melepaskan rangkulannya dari Tsugawa.

"Lagipula dua orang itu, serangan mereka memang hebat tapi cuma satu yang dapat mencetak angka." Mendengar perkataan Tsugawa, mata kecil Ryu agak membulat. Ryu khawatir jika Tsugawa melakukan sesuatu pada Kagami yang berdarah panas itu.

Bola ada ditangan Kagami namun anehnya Tsugawa tidak memberikan pressure pada Kagami. Ryu yang mengerti apa yang akan dilakukannya terlonjak kaget dan berdiri dari tempatnya duduk ketika Kagami hendak melompat untuk melakukan shoot.

"Jangan!" Teriak Ryu.

"Jangan! Jangan lakukan, Kagami!" Teriak Hyuga.

Namun hal itu sia-sia saja kerena Tsugawa telah menjatuhkan dirinya sendiri ketika Kagami melompat.

"Offense foul! Putih no. 10!" Teriak wasit sambil mengangkat papan bertuliskan no 4, yang menandakan banyaknya foul yang telah dilakukan Kagami. Kagami yang baru saja sadar apa yang telah terjadi padanya menolehkan wajahnya pada Tsugawa dengan kesal, dan dia menemukan wajah Tsugawa yang tersenyum lebar karena senang.

Dari bench Seirin terlihat Riko yang menghela nafasnya sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Ini kan masih quarter kedua!" Kata Kawahara.

"Si bodoh itu!" Koga memegang kepalanya dengan kedua belah tangannya.

"Maaf, aku ingin pergantian pemain." Kata Riko yang berada pada meja wasit(?).

Kagami yang mendengarnya menjadi kaget dan menghadap pada para senpainya. "Aku tak apa-apa! Aku hanya berhati-hati agar tidak mendapat foul lagi kan? Aku bisa melakukannya!" Teriaknya.

Hyuga menghela nafas setelah mendengar perkataan Kagami. "Yah, kebetulan sekali. Lagipula kami berencana menggantimu dan Kuroko." Perkataan Hyuga mengagetkan Kagami, Tetsuya dan juga Ryu.

"Aku juga?" Tanya Tetsuya.

"Kami sudah memutuskannya sejak awal, kalian hanya akan bermain pada dua-perempat yang pertama." Jawab Hyuga.

"Hah? Tapi kenapa?" Tanya Kagami yang tidak terima.

"Alasannya hanya satu. Untuk dapat mengalahkan Midorima, kami membutuhkan kalian berdua. Walaupun kita memenangkan pertandingan ini, kita membutuhkan strategi untuk dapat mengalahkan Midorima pada pertandingan berikutnya melawan Shuutoku. Dan seperti yang kami perkirakan, Shuutoku telah menyimpan tenaga Midorima. Kita tak akan dapat menang jika kalian berdua kelelahan." Jelas Hyuga.

"Walaupun begitu, jika kita kalah dalam pertandingan ini tak akan ada lagi—" Perkataan Kagami dipotong oleh Hyuga.

"Kami tahu kalau ini hanya pertaruhan." Kata Hyuga. "Tapi jika kita menyimpan kalian berdua, kita punya sedikit kesempatan untuk bisa mengalahkan Shuutoku dan juga maju ke liga kejuaraan." Lanjut Hyuga yang tetap saja tak dapat diterima oleh Kagami.

"Tidak. Walaupun kita kelelahan kita akan mengalahkan Midorima, makanya—" Lagi-lagi perkataan Kagami dipotong yang kali ini oleh Tetsuya.

"Kagami-kun, ayo lakukan seperti yang mereka katakan." Katanya yang membuat Kagami kaget. "Aku mempercayai senpai kita." Lanjutnya.

"Yah, tak usah khawatir. Kita pasti akan mengalahkan Seiho." Kata Hyuga.

Dengan itu, Kagami dan Tetsuya keluar dari barisan pemain dan digantikan oleh Koga dan juga Tsuchi.

"Arara? Mereka berdua pergi. Sedikit mengecewakan, tapi tak masalah!" Teriak Tsugawa yang berdiri di dekat Hyuga dengan suara yang dibuat ceria.

"Berhentilah berbicara, kau pembual." Kata Hyuga dengan aura-aura seram mulai muncul darinya, dan sudut kacamatanya mengeluarkan sinar aneh. "Aku akan mengajarimu cara berbicara dengan senpaimu, botak." Lanjutnya yang terang saja membuat Tsugawa ketakutan karena baru melihat sisi S dari Hyuga.

"Riko-senpai.." Panggil Ryu yang duduk diantara Riko dan Kagami.

"Kenapa kau tidak mengatakannya saja dari awal kalau kalian berencana menyimpan Kagami-senpai dan Tetsuya-niisan?" Kata Ryu dengan nada yang di buat senormal mungkin olehnya agar dia tak terlihat sakit.

"Hmm? Kenapa? Itu kan salahmu sendiri, kenapa kemarin kau tidak datang?" Tanya balik Riko dengan nada yang mengancam membuat Ryu sweatdrop.

"Begitu ya, ini hukumanku?" Ryu hanya mengembalikan pertanyaan karena tak mau menjawab pertanyaan dari Riko.

"Yah, tak dapat dibilang hukuman sih. Lagipula hanya kami kelas dua saja yang tahu, kelas satu dan juga kau yang masih SMP kelas tiga tidak kami beritahu." Jawab Riko.

Untuk beberapa saat Ryu terdiam untuk mencerna kata-kata yang baru disampaikan oleh Riko.

"Heeeeh, begitu ya." Kata Ryu yang mulai paham akan maksud para senpainya.

"Apanya?" Tanya Riko dengan sedikit kesal.

"Ada alasan lain kalian menyimpan Kagami-senpai dan nii-san, bukan?" Tanya Ryu yang membuat Kagami melirik ke arahnya.

"Menurutmu?" Tanyanya balik.

"Kurasa ada alasan lain. Mungkin alasan mereka akan mendekati hal ini, karena mereka ingin balas dendam dan juga mereka ingin menunjukkan bahwa mereka telah berkembang. Mereka tak lagi selemah tahun lalu dan juga mereka ingin menunjukkan kalau mereka itu kuat pada kohai mereka." Tebakan Ryu membuat Riko terdiam beberapa saat.

"Apa salah?" Tanya Ryu dan disampingnya terlihat Kagami yang terlihat sangat ingin mengetahui hal tersebut.

Riko hanya menghela nafas panjang dan mengalihkan pandangan matanya kembali ke arah lapangan basket.

"Na, Ryu..." Panggil Kagami.

"Apa?" Jawab Ryu.

"Apa kau pikir mereka akan menang?" Pertanyaan Kagami membuat Ryu menoleh padanya dan memperhatikan Kagami dengan seksama.

"Hmmm... kurasa mereka bisa. Senpai, kau jangan terlalu khawatir, mereka itu tidak lemah." Jawab Ryu setelah sekian lama terdiam.

"Iya sih, tapi..." Wajah Kagami masih saja terlihat khawatir.

"Senpai, jika kau ada waktu untuk khawatir, lebih baik kau gunakan waktu itu untuk istirahat, setelah kita menang melawan Seiho masih ada Shuutoku yang harus kita kalahkan. Mengerti?" Kata Ryu yang hanya dapat dibalas dengan anggukan kepala oleh Kagami.

Dari arah lapangan terlihat Hyuga dan Mitobe melakukan koordinasi. Hyuga yang melompat untuk memasukkan bola diblock oleh dua orang pemain, namun dia melemparkan bolanya pada Mitobe yang berada dibelakangnya dan Mitobe melakukan dunk mencetak dua poin untuk Seirin.

"Dia bisa dunk?" Kata Kagami seakan tak percaya.

"Nice dunk, Mitobe." Kata Hyuga pada Mitobe.

"Oi." Iwamura memanggil Hyuga dan yang lain membuat mereka berbalik. "Aku mendengar pembicaraanmu tadi. Kalian pikir kalian dapat mengalahkan Shuutoku? Kalian meremehkan kami ya." Kata Iwamura.

"Oh, itu hanya omongan." Jawab Hyuga.

"Omongan?" Iwamura yang agak bingung berkata demikian.

"Pertandingan ini adalah pertandingan balas dendam untuk kami. Kita tak dapat berbangga diri jika kita menang dengan bantuan kohaitachi kami. Dengan kata lain, ini hanyalah kehendak senpai." Lanjut Hyuga.

"Senpai? Kau kan hanya lebih tua setahun dariku. Hahahaha..." Tawa Tsugawa yang langsung saja dipukul kepalanya oleh salah satu teman timnya. "Kau ini, diamlah!" kata orang tersebut.

Di bench, Ryu mengepalkan tangannya dan berkata, "Yes, setengah dari tebakanku benar." Lalu Riko memukul kepalanya karena geram oleh tingkahnya, namun itu gerakan yang buruk—benar-benar buruk. Ryu yang kepalanya dipukul merasa pandangannya makin berat dan mengabur, namun dia masih tetap menutupinya dengan tingkahnya yang dia buat senormal mungkin.

"Ittai—apa yang kau lakukan, senpai?" Tanya Ryu yang mengusap-usap kepalanya yang baru saja mendapat pukulan maut dari Riko.

"Kau juga diamlah sedikit!" Jawab Riko yang membuat Ryu hanya dapat berpout ria.

"Aku terima tantanganmu. Majulah!" dari arah lapangan, suara Iwamura terdengar berbicara pada kapten tim Seirin tersebut yang ditanggapi anggukan oleh Mitobe.

"Kalau begitu, kami tak akan segan-segan. Majulah Seiho!" Teriak Hyuga yang mengobarkan aura pertarungannya.

Saat pertandingan dimulai kembali, wajah Kagami terlihat sangat serius melihat pertandingan yang terjadi di depan matanya. Riko yang menyadarinya memberikan pukulan pada pipi Kagami.

"Kenapa kau terlihat sangat serius? Mereka itu tidak terlalu buruk, jadi tak akan apa-apa." Kata Riko yang hanya ditanggapi 'osu' oleh Kagami.

Sialnya untuk Ryu, pada saat itu Tetsuya menolehkan kepalanya pada Kagami dan dia menyadari kalau wajah adiknya lebih pucat dari biasanya, nafas Ryu juga terlihat sedikit tersengal-sengal. Walaupun Ryu mencoba bersikap senormal mungkin, Tetsuya yang sudah mengenal adiknya selama masa hidupnya tentu menyadari jika adiknya tengah sakit.

Tetsuya meraih lengan adiknya yang membuat adiknya menoleh kepadanya. Tetsuya yang yakin jika Ryu tengah sakit tak dapat merasakan suhu tubuh adiknya dengan langsung, mengingat saat ini adiknya tengah mengenakan seragam jersey Seirin yang tergolong lengan panjang.

Sebelum kakaknya mengatakan apapun, Ryu sudah tahu apa yang akan dikatakannya hanya menggelengkan kepalanya sedikit tanda bahwa ia tak mau berpindah dari tempatnya dan tetap ingin melihat pertandingan penting itu. Bagaikan berbicara melalui mata dan gerakan tubuh mereka, Tetsuya yang mengerti akan kekeras kepalaan adiknya akhirnya melepaskan gengamman tangannya pada lengan adiknya dengan melempar beberapa pandangan khawatir yang dibalas senyuman kecil adiknya. Kagami yang berada di antara mereka hanya melempar mereka berdua pandangan bingung yang tak digubris oleh mereka berdua.

Pertandingan yang sangat ingin Ryu tonton itu terlihat sangat seru dengan Hyuga yang memblock lay-up dari pemain Seiho. Disusul oleh Koga yang melakukan pass pada Izuki dan Izuki melanjutkan passnya pada Mitobe. Mitobe yang dijaga oleh Iwamura tak menghiraukannya dan melompat untuk memasukkan bola pada ring Seiho yang dekat dengannya.

'Itu... Hook shooter? Aku tak tahu soal ini, tahun lalu aku tak melihat Mitobe-senpai melakukan ini...' pikir Ryu.

"Kelihatannya kalian tak hanya bermain-main dalam setahun ini." Kata Iwamura yang lagi-lagi hanya dijawab anggukan kepala oleh Mitobe.

Kali ini bola dipegang oleh Kasuga yang tengah dikejar oleh Izuki. Namun dengan jarak yang lumayan jauh Kasuga melompat dan melakukan shoot.

'Scoop shoot? Tak mungkin... gerakannya sangat lembut sehingga sulit untuk dideteksi..' pikir Ryu kembali setelah melihat Kasuga.

Setelah beberapa saat, Koga berhasil memasukkan bolanya. Selanjutnya bola dipegang oleh Izuki yang meneriakkan pointer pada para pemain Seirin. Dengan gerakan cepet, Izuki melempar bola kearah kanan yang ditangkap oleh Hyuga lalu Izuki dan Koga berlari melewati mark mereka. Karena gerakan mereka, dua pemain Seiho yang menjadi mark mereka bertabrakan karena ingin mengerjar mereka berdua. Hyuga memberikan bola yang dia pegang pada Izuki yang memasukkan bolanya pada ring.

"Izuki-kun dapat melihatnya." Kata Riko yang ada di bench Seirin yang dapat menarik perhatian para pemain Seirin yang ada di bench. "Karena dia memiliki Eagle eye." Lanjut Riko.

"Eagle eye?" Tanya Kagami.

"Apa 'kemampuan mata yang hebat' yang pernah Ryu katakan itu adalah itu?" Tanya Kawahara.

"Iya. Memang dia tak terlalu atletik, tapi dia dapat mengubah sudut pandangnya dengan cepat di dalam kepalanya. Dengan kata lain, dia melihat sesuatu dari seluruh sudut makanya dia dapat melihat hampir seluruh lapangan." Jelas Riko.

"Serius?" Tanya Kagami yang terlihat tidak percaya, apalagi dengan melihat Izuki yang saat ini lagi-lagi mengeluarkan guyonannya yang payah pada Hyuga.

"Hyuga-kun dan yang lainnya tidak dapat melakukan segalanya, tapi mereka—satu persatu— mempunyai keahlian. Dan mereka telah melatihnya selama satu tahun penuh." Lanjut Riko yang mempuat Furihata berdiri dengan mengepalkan kedua tangan didepannya.

"Mereka sangat hebat!" Teriak Furihata.

"Kalau begitu, apakah Koganei-senpai dan Tsuchida-senpai mempunyai keahlian juga?" Tanya Kawahara yang membuat wajah Riko berubah aneh dan Ryu menahan tawanya karena telah tahu kelemahan mereka berdua.

"Huh? Eh, un. Koganei-kun dapat melakukan shoot dari segala sudut." Saat Riko mengatakan hal tersebut, Koga sedang melakukan shoot dan dia meleset. "Tapi keakuratannya hanya setengah-setengah." Jawab Ryu yang seakan mengeluarkan pendapat dari Riko.

"Bukankah itu membuatnya sangat normal?" Kata Kagami yang mendengar penjelasan pelatih dan asisten pelatihnya.

Bola Koga yang meleset segera ditangkap oleh Tsuchi. "Lalu Tsuchida-kun ahli dalam rebound." Kata Riko, dan Tsuchi yang ada dilapangan melemparkan bola pada Koga yang lagi-lagi meleset.

"Tapi kebiasaan buruknya yang memberikan bola pada Koganei-senpai membuat keahliannya sia-sia." Kata Ryu.

"Cukup sudah! Kenapa kau bisa meleset sampai dua kali?" Teriak Tsuchi pada Koga yang membuat para penghuni bench Seirin hanya dapat sweatdrop.

Pertandingan sengit lagi-lagi terjadi antara Seiho dan Seirin, game telah mencapai quarter empat dan bola tengah dipegang Tsuchi. Namun bola yang dipegangnya didorong menjauh dari tangannya oleh pemain Seiho yang jadi marknya begitu dia berbalik. Dengan kondisi semacam itu, dapat dipastikan bola akan keluar namun Koga berlari sekuat tenaga dan berhasil mengarahkan bola kembali masuk.

Sayangnya Koga kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang dan tepat mengenai Ryu yang tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya. Ryu yang dari awalnya memang sakit bertambah sakit kepalanya setelah kepalanya terbentur kebelakang.

"Koganei-kun, Ryu-chan, apa kalian baik-baik saja!?— Tidak!" Teriak Riko yang menyadari bahwa mereka berdua tidak baik-baik saja.

"Ah, matanya berputar." Sahut pemain bench lain setelah melihat mata Koga yang berputar, sedangkan Ryu yang terlihat lebih baik dari Koga berusaha menyingkirkan tubuh Koga yang menindih(?) tubuhnya yang kecil.

"Uh—berat, tolong aku!" Kata Ryu yang kesusahan mengangkat tubuh Koga dengan diiringi peluit wasit yang menandakan referee time out.

Tetsuya dengan tanggap menolong adiknya terlebih dahulu sebelum orang lain menolongnya, tangan Tetsuya yang bersentuhan dengan kulit tangan adiknya merasakan suhu tubuh adiknya yang terbilang sangat panas. Dengan susah payah, akhirnya Ryu dapat dikeluarkan dari posisi yang menyakitkan tersebut.

"Koganei-kun!? Koganei-kun!?" Teriak Riko pada Koga yang masih saja belum sadar.

"Senpai, apa dia baik-baik saja?" Tanya Kagami yang terdengar khawatir akan keadaan Koga.

"Kurasa ini hanya benturan ringan, tapi kita harus menggantinya." Jawab Riko.

"Kalau begitu masukan aku! Tolong!" Teriak Kagami pada Riko.

"Apa yang kau katakan!? Kau tak boleh. Apa kau lupa untuk apa kita menyimpan tenagamu? Kami akan segera membereskan ini. Tunggu saja!" Teriak Hyuga pada permintaan bodoh dari Kagami.

"Tetap saja, aku tak dapat diam saja! Aku juga ingin membantu kalian—" Perkataan Kagami terpotong dengan adanya Tetsuya yang menamparkan tangannya pada pipi Kagami.

"Aku juga berpikir demikian, jadi orang yang memiliki empat foul diam saja." Kata Tetsuya yang setelah selesai mengucapkannya dipegang kepalanya keras-keras oleh Kagami layaknya bola basket.

"Apa kau bilang, Kuroko?" Kata Kagami dengan nada marah.

"Walaupun kau main dan membuat foul lagi dengan Tsugawa-kun bukankah kau akan langsung dibuang dari court." Setelah mendengar perkataan Tetsuya, Kagami perlahan-lahan menurunkan tangannya dari kepala Tetsuya.

"Tak akan. Aku punya hutang yang harus kubayarkan pada Tsugawa!" Kata Kagami.

"Baiklah." Jawaban Tetsuya membuat Kagami sedikit bingung. "Kalau begitu aku akan mengalahkan Tsugawa-kun untukmu." Lanjut Tetsuya.

"Hah!? Apa itu! Tak ada artinya jika kau yang mengalahkannya! Apa yang seenaknya kau katakan?" Kata Kagami dengan memegang kembali kepala Tetsuya. Perdebatan mereka membuat senyum kecil merekah dibibir Ryu.

"Baiklah. Sebagai sesama kelas satu, aku serahkan Tsugawa padamu Kuroko." Kata Hyuga yang akhirnya membuat keputusannya yang kelihatannya masih belum dapat diterima Kagami.

Ryu yang berada di dekat Tetsuya mendekatinya sebelum Tetsuya masuk ke lapangan. "Onii-san, arigatou... ato ganbattene." Bisiknya pada kakak satu-satunya itu yang dibalas dengan senyuman yang sangat kecil oleh Tetsuya. Terlihat sekali kalau dia masih menginginkan adiknya untuk segera istirahat.

"Seirin, member change."

"Ah, hanya kau? Padahal aku ingin bermain melawan Kagami." Kata Tsugawa yang melihat Tetsuya masuk menggantikan Koga.

"Maaf. Mungkin aku memang tidak kuat, tapi kelihatannya dia mempunyai hutang jadi aku kemari untuk mengembalikannya. Sebagai perantara." Kata Tetsuya pada Tsugawa.


Chapter 9 koko made ni shiyou~

Untuk Phantom Klein-san : hai, douzo(ノ^ヮ^)ノ*:・゚✧

Untuk Mawarbereum5-san : Ranmaru-kun itu laki-laki(╯°□°)╯. Memang sih aku sengaja memberi nama Heroine dengan nama yang boyish agar sifat dan namanya tak akan bentrok(?). Tapi aku yakin Ranmaru 100% laki-laki tulen. hehehehe... Maaf jika membingungkan. Iya, saya akan berjuang keras agar dapat update secepat mungkin. Arigatou O(≧▽≦)O.

Untuk Kishiro Haisane-san : Hai, terimakasih sudah menunggu o(^∀^*)o.

Mata chapter 10 yondene~

R&R Please!