Disclaimer: Harry Potter adalah milik J.K. Rowlings sementara One Piece milik Eiichiro Oda. Penulis tidak mengambil keuntungan material dari penulisan fanfic ini
Warning: AU, OOC, OC, MoD! Harry, typo, etc
Rating: T
Genre: Adventure, Family
THE IMMORTAL GUARDIAN
By
Sky
Kedua kalinya Harry terbangun, hanya bayangan samar yang ia lihat. Di samping itu cahaya yang masuk ke dalam kamar tempatnya berbaring juga terlalu terang ketika mereka jatuh ke dalam penglihatannya, sampai-sampai Harry harus menutup kedua kelopak matanya lagi untuk menyamarkan sinar tersebut agar tidak membuat matanya sakit. Badannya terasa sangat sakit, rasanya seperti ia baru saja dihantam oleh sekumpulan gajah Afrika tanpa ada jeda sedikit pun atau mungkin berduel selama 20 jam tanpa ada istirahat dari kedua peduel. Singkat kata, tubuh serta jiwanya terasa sangat lelah dan hal terbesar yang ingin Harry lakukan adalah tidur untuk menghilangkan perasaan tak nyaman tersebut. Keinginannya untuk tidur memang kuat, namun tekatnya untuk tidak berdiam diri begitu saja justru jauh lebih kuat daripada keinginannya, sehingga Harry pun mau tidak mau beranjak dari tempatnya semula.
Menyebalkan sekali, pikir Harry seraya dirinya menyalahkan Death yang membuatnya seperti ini. Ia tidak marah saat Death mengambil jiwa orang-orang yang Harry sayangi (mengingat karena itu adalah waktu mereka untuk pergi), bahkan Harry pun tak akan marah bila Death memutuskan untuk mengambil nyawanya saat ini (melihat tujuan terbesar Harry adalah meninggalkan dunia ini dengan tenang agar ia bisa bergabung dengan orang-orang yang ia cintai), namun Harry akan marah bila Death melemparkannya ke tempat lain dengan rasa sakit yang sangat parah seperti sekarang ini. Pada kenyataannya ia tidak masalah dengan dilempar ke tempat lain, namun disini Harry bukanlah seorang masokis yang mendapatkan rasa nikmat karena kesakitan melanda tubuhnya. Tidak, kalau ada istilah baru yang tepat untuk melambangkan siapa Harry maka sang Shadow Mage tersebut akan memilih kata sadis ketimbang masokis.
Seharusnya makhluk sialan itu memberiku peringatan dulu sebelum ia menendangku ke sini. Dan jangan lupakan tentang menguras sihir serta tenagaku sampai rasanya aku tak bisa bergerak. Kalau nanti aku bertemu dengan si sialan Death itu, akan aku pastikan ia memohon untuk segera kuhabisi. Runtuk Harry dalam hati. Balas dendam pada Death adalah hal utama yang harus aku lakukan bila kita bertemu lagi.
Kembali ke dalam permasalahan utama, Harry tidak tahu akan dimana dirinya sekarang ini. Death tidak memberinya info apapun selain ia ingin menuntun Harry ke tempat baru, dan pada kenyataannya ia pun sekarang berada di tempat asing tanpa ada persiapan apapun. Hanya tubuh dan jiwanya di tempat ini, tanpa ada informasi yang akurat mengenai tempat baru ini serta bahaya apa saja yang harus Harry hindari nanti. Kalau Harry bertemu dengan Death lagi, ingatkan dia untuk menendang tubuh tengkorak sialan itu sampai ia tak mampu untuk duduk lagi.
Kedua tangan pemuda berambut hitam tersebut meremas sprei tempat tidur tempatnya berbaring saat ini. Berada di atas tempat tidur berarti ia ada di sebuah rumah, kemungkinan besar seseorang menolongnya ketika Harry tak sadarkan diri entah mulai kapan. Dengan perlahan Harry pun membuka kelopak matanya dan melihat ada dimana ia berada saat ini.
Kamar tempatnya berbaring bisa dikatakan lumayan besar, barang yang ada di sana juga tidak terlalu banyak, sehingga Harry bisa mengatakan tempat ini adalah kamar tamu milik sang pemilik rumah. Siapapun orang yang telah menyelamatkannya Harry harus berterimakasih kepada orang tersebut, bahkan orang itu pun mau repot-repot menampung orang asing macam Harry selama beberapa Harry ketika ia tak sadarkan diri. Merasakan energinya sudah cukup terkumpul, pemuda yang memiliki julukan Master of Death tersebut akhirnya menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur, menginjakkan lantai dingin yang bersentuhan langsung dengan kulit kakinya tanpa berjengit sedikit pun.
Harry pun berdiri, ia membiarkan selimut yang tadi menyelimuti tubuhnya terjatuh di atas lantai seraya ia melangkah untuk menjauh dari tempatnya berbaring selama beberapa hari. Pemuda itu menoleh ke beberapa arah sebelum kedua mata emerald miliknya menatap lautan luas yang tergambar dari balik jendela yang ada di sana, sepertinya rumah tempat Harry berdiam selama beberapa hari ini berada tidak jauh dari bibir tebing yang menjorok ke arah lautan. Menarik, pikirnya singkat seraya berjalan menuju ke ambang pintu.
Tangannya yang siap menggenggam gerendel pintu pun berhenti tatkala daun pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan seorang wanita berambut ikal berdiri di hadapannya. Sepasang mata emerald milik Harry dan warna coklat gelap milik wanita itu pun bertemu, keduanya saling bertukar pandang untuk beberapa saat lamanya sebelum sang wanita tersebut memberikan sebuah senyuman tipis kepada Harry.
"Syukurlah kau sudah siuman, aku sangat khawatir melihat kau tidak sadar juga selama seminggu ini," ujar wanita itu dengan lembut, ada senyuman tulus yang terukir di wajah cantiknya ketika ia mengatakan hal itu kepada Harry.
Harry yang tidak tahu harus merespon apa terhadap perkataan wanita itu sehingga ia pun hanya bisa diam membisu, tak memberikan komentar. Kedua matanya terus melihat wanita itu untuk beberapa saat lamanya sebelum kedua kakinya menuntun tubuhnya untuk mundur sesaat, memberi celah kepada wanita berambut ikal tersebut untuk masuk ke dalam kamar. Saat Harry melihat dengan jelas, ia menemukan kalau wanita tersebut tengah memegang sebuah nampan berisi semangkuk bubur panas dan segelas air putih, kemungkinan besar makanan itu untuk Harry.
"Selama seminggu?" Tanya Harry setelah dua menit lamanya membisu. Kedua matanya melebar untuk beberapa saat lamanya ketika perkataan wanita itu membuat otaknya bekerja.
Sesungguhnya Harry tidak terlalu terkejut kalau ia tak sadarkan diri selama berhari-hari mengingat sihirnya terkuras habis. Pemuda berambut hitam tersebut memiliki teori kalau Death memang menggunakan sihirnya untuk melempar Harry ke dimensi ini, sehingga untuk mengganti sihir yang telah menghilang dari dalam tubuhnya pun Harry harus beristirahat selama mungkin sampai parameter sihirnya kembali normal. Dan melihat keadaannya sekarang ini, Harry sangat yakin kalau sihirnya belum pulih seperti pada umumnya, hanya saja ia merasa berterima kasih pada tubuhnya yang mampu bertahan dalam situasi yang sangat ekstrem seperti sekarang ini. Harry sangat beruntung dirinya tidak tertidur selama sepuluh tahun karena itu, hal yang terakhir ini pernah ia alami ratusan tahun yang lalu.
Menyadari kalau wanita yang mengajaknya bicara itu tengah menatapnya, Harry pun membuyarkan lamunannya untuk kembali fokus pada wanita itu.
"Iya, kami menemukanmu terdampar di lautan dekat sini dan sejak saat itu kau terus tidur tanpa ada tanda-tanda akan bangun. Dan terakhir kau mau tersadar, ada banyak darah yang kau muntahkan sebelum kau tertidur lagi, Tuan," jawab wanita itu dengan lembut, tangan kanannya mengisyaratkan pada Harry untuk mendekat. "Itu dua hari yang lalu."
Perkataan wanita itu mengingatkan Harry akan rasa sakit yang ia derita tempo hari yang lalu, dan bila semuanya itu benar maka sihirnya memang benar berada di tingkat nol, tidak heran kalau hal itu mempengaruhi kondisi fisiknya. Harry mengangguk dalam diam, ia pun mulai mendekati sosok lembut wanita itu setelah dirinya memastikan wanita itu tidak akan melukainya. Harry pun mengambil tempat duduk di pinggir tempat tidur, tepat berada di hadapan wanita tersebut yang telah duduk di sebuah kursi.
"Harry," gumam Harry singkat, kedua mata hijau emeraldnya tersebut dengan tenang menatap wanita tersebut, membuat sang wanita sedikit terkejut.
"Eh?"
Tersenyum singkat melihat reaksi lugu itu, Harry pun menggelengkan kepalanya. "Namaku adalah Harry, nona. Dan kurasa akan lebih baik kalau kau memanggilku dengan nama itu ketimbang dengan sebutan Tuan," lanjut Harry. "Terlebih aku tidaklah terlalu tua untuk disebut sebagai 'Tuan'."
Ucapan singkat yang diselingi oleh senyum tipis dari Harry itu membuat wanita muda tersebut tercengang. Sesungguhnya Harry sudah cukup tua disebut sebagai "Tuan" mengingat berapa usianya sekarang ini, hanya saja ia terlalu sensitif untuk mengakuinya.
Pemuda berambut hitam tersebut mengucapkan terima kasih kepada wanita itu saat ia menerima semangkuk bubur hangat dari wanita tersebut. Selama seminggu ia tertidur dan tidak makan apapun, jadi mencium aroma bubur yang cukup menggiurkan itu membuat perut Harry berbunyi, meminta Harry untuk segera mengisinya. Bunyi dari perutnya yang terdengar setelahnya tentu membuat wanita muda yang ada di hadapannya tersebut tersenyum maklum, hal yang wajar terjadi bagi orang yang sudah seminggu tidak makan, sekiranya Harry merasa berterimakasih pada entitas apapun karena wanita tersebut tidak membuat lelucon mengenai dilema kelaparannya. Ia mengambil sendok yang tersedia di sana dan setelahnya langsung melahap bubur tersebut dengan rakus, rasanya enak dan Harry semakin beringas menyantap makanan yang dihidangkan oleh tuan rumahnya.
"Terima kasih atas makanannya," kata Harry lagi setelah ia menyelesaikan semangkuk bubur yang ada di atas pangkuannya, dan ia pun sekali lagi berterimakasih kepada wanita itu ketika ia menyodorkan segelas air putih kepada Harry yang langsung pemuda itu sambut dengan senang hati.
Semangkuk bubur dan segelas air putih sudah cukup untuk mengisi perut kosongnya, setidaknya sekarang ini ia sudah tak merasa lapar lagi seperti beberapa saat yang lalu, dan ketika semuanya sudah berakhir barulah Harry dapat berpikir dengan jernih.
"Kalau boleh aku tahu, ada di mana aku sekarang ini?" tanya Harry, tatapan netralnya bertemu dengan milik sang wanita muda itu untuk beberapa saat lamanya.
"Kau ada di rumahku, Harry, di pulau Baterilla yang ada di South Blue," jawab wanita itu. "Namaku adalah Portgas D. Rouge, kau bisa memanggilku dengan nama Rouge, Harry."
Baterilla? South Blue? Ada di mana itu? Apa mungkin South Blue itu adalah nama lain dari Samudera Atlantik atau Samudera Pasifik? Tanya Harry dalam hati, secara tidak sadar pemuda berambut hitam tersebut menyandarkan jari tangan kanannya di bawah dagu saat ia berpikir.
Empat pertanyaan yang mengganggu pikirannya itu serasa menggelitik, sebuah nama aneh yang tak pernah Harry dengar sebelumnya itu tentu membuatnya penasaran dan memunculkan sebuah pertanyaan baru yang berupa ada di mana ia sebenarnya saat ini. Kelihatannya Harry benar-benar ada di tempat yang sangat jauh dari rumah, meskipun ia memang menginginkan itu melihat ia tak ada urusan lagi di dunianya namun ia juga tak mau menyeberang ke dimensi lain tanpa ada pengetahuan yang cukup mengenai tempat baru tersebut. Andai saja Death memberinya pemberitahuan terlebih dahulu sebelum ia melemparkan Harry ke sini, tapi menyalahkan Death dan menyesali masa lalu bukanlah gayanya mengingat ia juga salah karena tak mau bertanya pada makhluk itu.
Tersenyum kecil karena menertawakan kebodohannya sendiri dalam hati, ia berusaha untuk bersikap netral lagi meski hal itu sedikit sulit. Kala ia melihat ke depan, Harry menemukan Rouge balik memandangnya dengan sebuah kecemasan yang terlihat di balik mata kecoklatan milik wanita itu. Harry mengedipkan kedua kelopak matanya tak mengerti, ia tidak paham kenapa Rouge terlihat khawatir padanya yang tak lebih dari tamu tidak diundang yang bertandang ke dalam rumahnya.
"Rouge?" Panggil Harry dengan kalem.
Panggilan nama yang Harry berikan tersebut mengembalikan kesadaran wanita berambut ikal tersebut, Rouge tersenyum kecil melihat sosok pemuda itu yang balik memandangnya.
"Tak apa. Aku hanya khawatir saja karena kau termenung cukup lama setelah aku memberitahumu tentang tempat ini," jawab Rouge, wanita itu mengambil mangkuk kosong yang ada di pangkuan Harry sebelum meletakkannya ke atas nampan yang tadi ia letakkan di atas meja dipan. "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Harry? Mungkin aku bisa membantumu."
Sungguh Harry tak mengerti dengan wanita yang bernama Portgas D. Rouge ini. Keduanya baru saja bertemu tapi kelihatannya Rouge mengkhawatirkannya hanya karena Harry termenung setelah Rouge memberitahunya mengenai keberadaan Harry saat ini, di pulau kecil dengan geografi yang Harry tidak ketahui. Mungkin ini adalah sifat wanita itu, Harry menyimpulkannya tanpa tanggung-tanggung sebelum ia mengangguk kecil.
Bertanya pada Rouge mengenai dunia ini kelihatannya adalah pilihan yang bagus daripada bertanya pada Death. Pilihan pertama yang Harry pikirkan sebenarnya adalah memanggil Death untuk muncul ke hadapannya, lalu memerah semua informasi yang bisa ia dapatkan dari Death mengenai dunia ini, hanya saja pilihan tersebut langsung Harry singkirkan melihat ia sendiri sedikit masih kesal terhadap Death. Melemparkan Harry ke dunia ini tanpa sepengetahuannya mungkin masih bisa ia maafkan, namun menggunakan sihir Harry sampai membuatnya tak sadarkan diri selama seminggu seperti apa yang Death lakukan itu tentu membuat Harry marah. Andai saja tindakan itu membunuh Harry, pasti Harry tak akan marah seperti ini. Pilihan memanggil Death memang telah ia singkirkan, dan hal ini juga dikarenakan kemunculan Rouge yang berperan sebagai tuan rumah di sini.
Harry tak merasakan aura jahat maupun sinis di sekeliling Rouge, sangat jelas kalau wanita ini adalah wanita yang baik sehingga ia tak akan ragu untuk bertanya pada Rouge. Terlebih menjadi penduduk daerah ini pasti membuat Rouge mengetahui informasi mengenai dunia ini.
"Rouge, apa kau memiliki peta mengenai dunia ini? Secara global saja tak masalah," pinta Harry.
"Tentu aku memilikinya, tapi untuk apa?" Rouge balik bertanya pada Harry, jelas sekali terlihat kalau wanita itu tidak mengerti akan maksud Harry.
Hari menimang-nimang jawabannya untuk beberapa saat sebelum ia memberikan sebuah jawaban dari pertanyaan yang Rouge lontarkan tadi. Akan aneh jadinya bila Harry terlampau jujur kepada wanita itu, ia tak ingin Rouge menganggapnya sebagai orang gila karena ia tak mengetahui letak geografi tempat ini, oleh karena itu Harry menberikan jawaban setengah ambigu yang tidak jelas akan kejujuran maupun kebohongannya.
"Aku belum pernah mendengar tentang Pulau Baterilla sebelumnya. Mungkin kalau aku melihat peta dunia, aku akan tahu dimana aku berada sekarang ini dan berapa jauh aku terseret sampai ke tempat ini," Harry menatap Rouge kala ia menjawab pertanyaan itu, nadanya ia netralkan sementara senyuman tipis masih terpatri di bibirnya. "Jadi, bisakah aku melihat peta milikmu itu?"
Harry melihat wajah wanita itu tidak terselimut kecurigaan sama sekali, bahkan wanita itu terkesan mempercayai ucapan yang Harry lontarkan tadi, dan entah karena apa pemuda tersebut sedikit dilanda perasaan gundah yang bernama penyesalan karena tidak memberikan jawaban jujur. Namun, untuk bertahan hidup di tempat yang belum pernah Harry ketahui ia harus menggunakan inner Slytherin miliknya, dan meskipun Harry menginginkan kematian terjadi pada dirinya tapi ia tidaklah bodoh untuk membunuh dirinya sendiri dengan kebodohan. Tidak, itu tak akan terjadi.
Pemuda itu tak beranjak dari tempat duduknya di pinggir tempat tidur, bahkan ia tak bereaksi saat Rouge berdiri dari tempat duduknya dan mengambil sesuatu dari rak buku yang ada di dekat Harry, kelihatannya apa yang Rouge ambil adalah beberapa lembaran kertas, mungkin sebuah peta yang terlipat. Dan dugaan yang Harry miliki ternyata benar, benda yang Rouge ambil dari rak buku adalah sebuah peta dunia saat wanita itu membeberkannya di pangkuan Harry.
"Lihat, kau berada di sini, Harry," disini Rouge menunjuk sebuah pulau kecil yang tergambar di atas peta. Dalam peta itu terdapat banyak pulau yang tergambar, namun tidak satupun terlihat familiar bagi Harry, bahkan nama lautannya pun juga sangat asing. "Pulau Baterilla berada di lautan South Blue, salah satu dari empat laut yang ada di dunia. Secara umum orang-orang mengetahui kalau di dunia ini ada empat buah lautan, mereka adalah East Blue, West Blue, South Blue, dan North Blue."
"Empat?" Tanya Harry memastikan, kedua matanya kembali menatap Rouge dan menemukan wanita itu menganggukkan kepalanya. Meski kelihatannya sangat meyakinkan, tapi Harry menemukan kejanggalan. "Kalau di dunia ini ada empat samudera yang kau sebutkan tadi, Rouge, lalu kenapa di peta ini ada tiga lautan lagi?"
Anak ini sungguh tajam, pikir wanita yang bernama Portgas D. Rouge kala ia memperhatikan pemuda misterius yang bernama Harry tersebut. Rouge bukanlah seorang bajak laut maupun seorang angkatan laut, sehingga ia tak akan menghakimi siapa Harry yang sebenarnya maupun alasan kenapa ia bisa terdampar di pulau kecil tempat Rouge tinggal.
Roger membawa Harry ke rumahnya, dan selama seminggu lebih baik Rouge dan Roger telah merawat Harry sampai ia sadar sekarang ini. Pemuda itu, meski ia terlihat seperti seorang bangsawan ia tak memiliki aura kejam maupun congkak yang menyelimutinya, secara umum Rouge dapat menyimpulkan kalau Harry adalah orang yang baik, atau mungkin anak itu tengah kehilangan ingatannya sehingga ia tak bisa mengakses kepribadiannya yang sebenarnya. Rouge adalah orang yang dapat menilai seseorang dengan baik, dan Harry ia nilai sebagai orang baik dalam sekali lihat, oleh karena itu ia memberikan jamuan yang ramah seperti ini. Meskipun Rouge bersikap ramah, wanita itu melarang Roger untuk bertemu dengan Harry, bagaimana pun juga Roger adalah kriminal yang kepalanya tengah dicari oleh pemerintahan dunia. Ia tak bisa mengambil risiko besar seperti itu meskipun Rouge tahu kalau Roger telah mengambil keputusan untuk menyerahkan diri kepada angkatan laut, hanya saja sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Kembali pada hal yang terjadi sekarang ini, Rouge mau tak mau tersenyum saat Harry menunjukkan ketajamannya dalam menganalisa. Kelihatannya pemuda berambut hitam ini tinggal di bawah batu sampai ia tak mengetahui geografi umum di tempat ini, bahkan Rouge yakin kalau Harry tak tahu kalau tempat ini dipenuhi oleh bajak laut, angkatan laut, dan semacamnya.
Tak mau membuat tamunya bertanya-tanya dalam diam lebih lama lagi, serta untuk menghindarkan Rouge untuk berpikiran aneh, maka wanita itu pun menjawab hipotesa yang Harry berikan tadi.
"Secara umum penduduk dunia yang bukan bajak laut, angkatan laut, maupun pemerintahan dunia hanya mengetahui kalau di dunia ini hanya memiliki empat lautan besar," disini Rouge menghiraukan tatapan penuh tanda tanya yang Harry lemparkan padanya. Rouge pun meneruskan kalimatnya, "Sedikit yang orang-orang ketahui, di tempat ini terdapat tujuh lautan dimana tiga yang terakhir dikenal sebagai lautan paling berbahaya. Grand line adalah lautan pertama yang dipisahkan oleh Reverse Mountain, tempat ini dikenal sebagai kuburan para bajak laut karena kondisinya yang sangat berbahaya. Namun, bagi orang-orang yang tahu akan seluk-beluknya, Grand Line dikenal dengan sebutan Paradise.
"Setelah Grand Line, lautan kedua yang perlu kau ketahui adalah Calm Belt, Harry. Tempat yang sangat berbahaya, di tempat ini tidak ada angin yang akan menuntun kapalmu untuk berlayar, dan lautan yang bernama Calm Belt pun dikenal sebagai tempat tinggal bagi Sea King. Lautan yang ketiga adalah New World," disini Rouge mengembangkan senyumannya, wanita itu mau tidak mau merasa bahagia mengingat cerita yang Roger berikan padanya mengenai pengalamannya mengarungi New World. "New World adalah lautan paling berbahaya yang pernah ada di dunia ini, hanya mereka yang tangguh dapat mengarunginya. New World adalah Grand Line lapisan kedua yang dipisahkan oleh Red Line."
Mengalihkan pandangannya dari peta dunia yang terbentang di atas pangkuan Harry, Rouge pun menatap pemuda yang terlihat tidak lebih dari berusia dua puluh tahun tersebut. Rouge menemukan Harry tengah termenung, sepertinya ia masih menyerap penjelasan yang Rouge berikan padanya beberapa saat yang lalu.
Merasa penasaran dengan siapa Harry yang sebenarnya, wanita yang menyandang marga Portgas tersebut akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada pemuda itu.
"Harry, kalau boleh aku tahu... kau berasal dari mana?" Tanya Rouge, nadanya sedikit ragu dan begitu pula dengan emosi yang menyelimuti dirinya. Ia takut kalau Harry adalah seorang bangsawan atau mungkin seorang Celestial Dragon .
Pemuda yang bernama Harry itu tampak tenang, bahkan sedikit emosi pun tak terlihat dari wajahnya ketika ia mendengar pertanyaan yang Rouge lontarkan padanya. Hal ini membuat Rouge sedikit khawatir.
"Aku... " kata-kata pemuda itu terpotong, sebuah keraguan pun terdengar pada perkataan itu. Rouge melihat Harry memijat keningnya untuk beberapa saat lamanya sebelum ia mulai melanjutkan jawabannya. "Aku berasal dari tempat yang sangat jauh dari sini."
Jawaban itu membuat Rouge sedikit kecewa, tapi wanita itu hanya bisa menelan kekecewaannya saat itu karena ia tak mau memaksa Harry untuk memberitahunya akan darimana ia berasal bila Harry sendiri tak menginginkan Rouge untuk tahu. Yang bisa Rouge lakukan saat ini hanyalah tersenyum kecil.
"Begitu..." gumam Rouge, senyumannya yang meredup tadi kini kembali terang sebelum ia berdiri dari kursinya. "Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksamu untuk memberitahuku kalau kau tak menginginkan hal itu, Harry."
Harry, nama pemuda berambut hitam tersebut, melebarkan kedua matanya setengah terkejut dengan pernyataan yang Rouge berikan padanya. Tidak banyak orang yang sepengertian seperti Rouge, biasanya orang-orang akan memaksakan diri mereka untuk mengetahui urusan orang lain dan akan bertindak drastis sampai pertanyaan mereka terjawab. Hal ini tentu sangat berbeda dengan Portgas D. Rouge, ia berpendapat kalau semua orang berhak untuk menyembunyikan masa lalu mereka bila mereka tak ingin orang lain mengetahuinya. Hanya waktu yang bisa memberitahu, sampai kepercayaan orang itu terjalin maka ia harus bersabar. Tidak masalah bagi Rouge.
Keterkejutan yang Harry berikan pada Rouge itu kini berubah menjadi sebuah kekaleman singkat, membuat senyuman tipis dan penuh akan terima kasih muncul di bibir Harry.
"Terima kasih, Rouge,"
"Sama-sama, Harry," balas Rouge dengan ramah.
Dengan nampan yang berisi mangkuk bubur dan gelas air kosong, Rouge pun keluar dari dalam kamar Harry. Selain ia ingin berbicara dengan Roger, ia juga ingin memberi Harry waktu untuk beristirahat lagi.
"Aku akan meninggalkanmu untuk beristirahat, Harry. Kalau kau ingin mengganti piyamamu, aku sudah menyiapkan baju ganti di dalam lemari," kata Rouge.
Harry pun memberikan anggukan singkat, menyetujui saran yang Rouge berikan padanya.
Dua jam pun berlalu setelah Harry bertemu dengan Rouge. Wanita itu sungguh baik kepada Harry, padahal pemuda itu tidak lebih dari orang asing yang ia temukan terdampar di pulau ini. Sepertinya koleksi orang baik di dunia ini tidaklah langka seperti apa yang Harry pikirkan sebelumnya. Menggelengkan kepalanya untuk mengusir perasaan aneh itu, Harry pun kini kembali fokus pada informasi yang sudah ia terima dari Rouge.
Tempat ini sungguh jauh berbeda dengan tempat asal Harry, jadi mengatakan kalau ia berasal dari tempat yang sangat jauh tidak sepenuhnya salah mengingat itu adalah kebenaran yang ada. Dunia dimana Harry berada saat ini tidak memiliki sihir alami yang mengalir seperti tempat Harry yang dulu, meski demikian Harry berterima kasih karena ia masih dapat menggunakan sihirnya. Dari apa yang ia korek dari Death, tempat ini seratus delapan puluh derajat berbeda dan seratus kali lipat jauh lebih berbahaya dari tempat Harry berasal. Harry memejamkan kedua matanya, ia mencoba mengingat perkataan yang Death lontarkan padanya ketika ia memanggil makhluk itu ke hadapannya dan Harry memaksa Death untuk mengatakan apa yang ia ketahui mengenai tempat ini.
"Master menginginkan tidur abadi sebagai keinginan terakhirnya, jadi saya mengirim anda ke salah satu dimensi yang seratus kali lipat berbahaya dari dunia asal Master. Seperti yang telah Master ketahui dari wanita yang bernama Portgas D. Rouge, tempat ini terdiri dari pulau-pulau yang terpencar dalam tujuh lautan besar. East Blue, South Blue, North Blue, West Blue, Grand Line atau Paradise, Calm Belt, dan New World. Di tempat ini tidak ada yang namanya penyihir atau sihir, Master Harry, sebagai ganti dari semua itu orang-orang di tempat ini menggunakan buah setan dan Haki sebagai sumber kekuatan. Master Harry, anda adalah satu-satunya orang yang bisa menggunakan sihir, namun sebagai gantinya anda tak akan bisa menelan buah setan maupun menggunakan Haki."
Pertukaran yang adil menurut Harry, dan sekiranya Harry tak akan rugi ia tidak bisa memakan buah setan melihat ia jauh menyukai berenang daripada tidak. Terlebih lagi sihir bisa ia gunakan untuk melakukan apapun ketimbang memiliki kemampuan penghancur seperti itu. Satu dari beberapa hal yang Harry ketahui dari Death adalah strata sosial di tempat ini. Berbeda dengan tempatnya berasal dimana manusia dibedakan sebagai penyihir dan muggle, tempat ini jauh berbeda dari itu semua. Mereka yang tinggal di tempat ini dibedakan sebagai bajak laut, pasukan revolusi, pemerintahan dunia dan angkatan laut, bangsawan, dan rakyat biasa.
Harry sedikit heran dengan keberadaan bajak laut yang ada di tempat ini, kelihatannya keberadaan bajak laut adalah hal yang umum, sepertinya Harry ingin tahu seperti apa bajak laut yang ada di tempat ini. Selain bajak laut, Harry juga heran dengan keberadaan bangsawan yang menurutnya sangat menjijikkan, terutama bagi para bangsawan yang memiliki julukan Celestial Dragon tersebut. Dari apa yang ia dengar dari Death, mereka yang disebut sebagai Celestial Dragon adalah anak-anak pendiri dari pemerintahan dunia. Mereka bebas melakukan apapun sesuka mereka, bahkan tidak ada hukum yang bisa mengikat mereka. Celestial Dragon adalah hukum, bahkan perbudakan di tempat ini diizinkan.
"Benar-benar tempat yang mengerikan," gumam Harry untuk yang kedua kalinya.
Meskipun demikian, Harry berpikir kalau ia akan menikmati hidupnya yang baru. Dengan marabahaya yang cukup besar di tempat ini, kemungkinan Harry untuk mendapatkan keinginan terbesarnya meningkat drastis. Mungkin di tempat ini ada orang yang bisa mengabulkan keinginan Harry, atau mungkin Harry sendiri yang akan menemukan jawabannya. Harry Potter adalah orang yang tidak takut akan kematian, bahkan ia menerima kematian itu saat pertama kali mantra pembunuh yang Voldemort lemparkan padanya mengenai tubuhnya. Dan karena ia menerima kematian dengan senyuman yang terkembang serta ia berhasil memiliki ketiga Hollow, Harry pun terpilih sebagai Master of Death setelah perang dunia sihir yang terakhir berakhir.
"Kita harus hidup tanpa ada penyesalan. Keputusan apapun yang kita ambil, itu semua adalah yang terbaik," kalimat terakhir yang Ginny utarakan itu terngiang kembali dalam benak Harry, dan sampai saat ini Harry pun masih berpegang teguh dengan kata-kata mendiang istrinya. Betapa Harry sangat merindukan kehadiran Ginny di sisinya, namun seperti perkataan itu Harry pun menerima kepergian Ginny dengan lapang dada.
Informasi yang diberikan oleh Death sangat berguna bagi Harry, bahkan ia pun sudah memperkirakan kalau Death memang mengetahui semua seluk beluk yang ada di tempat ini meskipun secara nyata Harry sendiri harus mencaritahunya. Tidak masalah bagi pemuda itu, setidaknya ia sudah menemukan gambaran yang bagus maka Harry pun bisa melangkah maju ke depan. Pemuda itu tersenyum dengan spekulatif yang ia pikirkan sendiri, andai saja Hermione masih hidup dan wanita itu melihat pemikiran Harry sampai sejauh ini pasti wanita itu akan bangga padanya. Kelihatannya semakin banyak usianya bertambah, Harry menjadi semakin bijak saja, bahkan kata kekanakan yang sempat Hermione utarakan kepadanya menjadi jauh darinya.
Tersenyum getir akan ingatan sahabat lamanya itu, Harry pun beranjak dari tempatnya duduk di atas tempat tidur sebelum ia melambaikan tangan kanannya ke samping. Dengan bantuan sihir yang ia perintahkan, jendela kamar yang ada di sana pun terbuka lebar, memperlihatkan pemandangan lautan luas yang terbentang di sana serta membiarkan udara segar yang sedikit asin masuk ke dalam kamar itu.
Rasanya damai sekali ketika ia merasakan angin laut menerpa wajahnya saat ia berdiri di ambang jendela, menatap cakrawala serta lautan yang ada di luar sana. Dari apa yang Harry ketahui, kebanyakan orang menjadi bajak laut karena mereka ingin hidup dengan bebas tanpa ada aturan yang mengekang mereka, dan lautan lepas yang ada di penjuru horizon pun menawarkan tempat bagi orang-orang ini. Tidak heran kalau banyak orang berbondong-bondong untuk menjadi bajak laut. Memikirkan hal itu, Harry pun sempat bertanya-tanya apa ia ingin menjadi bajak laut melihat ia harus tinggal di sini untuk beberapa saat lamanya, tapi secepat pertanyaan itu muncul maka cepat pula hilangnya. Harry menepis pertanyaan itu dari kepalanya.
Bajak laut mungkin adalah orang yang sangat bebas, namun gaya kehidupan mereka tidaklah cocok dengan heran. Bahkan tanpa menjadi bajak laut pun Harry adalah orang yang bebas, siapa yang mau mengekang Master of Death? Tidak ada, bahkan Death saja takhluk di hadapannya dan tak berani memberinya perintah yang tidak disukai oleh Harry. Detik itu juga Harry pun memutuskan untuk tidak menjadi bajak laut di dunia ini meskipun pada nantinya Harry akan berkelana di lautan lepas pula.
Pemuda berambut hitam itu pun memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat lamanya. Keputusannya sudah bulat, ia tak akan menjadi bajak laut maupun menghubungkan dirinya dengan pemerintahan dunia meski mereka memiliki kunci untuk mengakhiri kehidupan abadi yang Harry miliki. Iya, ini adalah keputusan yang tepat dan bisa Harry ambil pada saat ini.
AN: Terima kasih sudah mampir dan membaca serial ini. Dan terima kasih pula kepada teman-teman yang sudah memfavoritkan, memfollow, dan mereview serial ini.
Author: Sky
