Disclaimer: Harry Potter adalah milik J.K. Rowlings sementara One Piece milik Eiichiro Oda. Penulis tidak mengambil keuntungan material dari penulisan fanfic ini

Warning: AU, OOC, OC, MoD! Harry, character death, typo, etc

Rating: T

Pairing: Roger x Rouge

Genre: Adventure, Family


THE IMMORTAL GUARDIAN

By

Sky


Potter Harry adalah laki-laki yang sangat aneh menurut Roger, ia menyimpulkan pemikiran itu sejak ia menemukan Harry tak sadarkan diri di pantai pulau Baterilla serta membiarkan pemuda itu berada dalam perawatan Rouge selama seminggu. Bukan tanpa alasan julukan tersebut melekat pada Harry, bahkan Roger berani bertaruh kalau ia bertanya kepada Rouge mengenai pemikirannya terhadap tamu baru mereka pasti wanita itu akan setuju padanya, Potter Harry itu aneh. Sebulan sejak pemuda misterius tersebut tersadar dari tidur panjangnya, Roger memperhatikan kalau Harry itu berbeda dari orang-orang kebanyakan yang pernah ia temui dalam perjalannya. Harry memilih untuk tinggal bersama dengan Rouge dalam gubuk kecil milik wanita itu ketimbang pergi seperti kebanyakan orang setelah mereka tersadar untuk mencari jawaban akan pertanyaan yang mereka miliki, dan Roger juga memperhatikan kalau Rouge dengan senang hati membiarkan Harry untuk tinggal dengan wanita itu. Yang membuat Roger semakin bertanya-tanya adalah mengapa Harry tidak segera pergi dari pulau itu kalau ia memiliki tempat tinggal, Roger menduga kalau Harry sebenarnya adalah kriminal yang kabur dari pemerintahan dunia dan angkatan laut, sehingga menetap di pulau kecil macam Baterilla adalah hal terbaik yang ia lakukan untuk menghindari kericuhan akan statusnya. Tapi, apa benar kalau Potter Harry adalah seorang kriminal? Roger tidak percaya akan hal itu sebelum ia membuktikannya sendiri, yang ia pikirkan itu masih sebuah dugaan saja. Tidak hanya ia tak pernah melihat poster buronan atas gambar serta nama Harry, tapi pemuda itu terlihat terlalu kalem untuk menjadi seorang penjahat, bahkan kelihatannya saja Harry tak sanggup untuk melukai lalat sekalipun.

Hal tersebut bukan hanya alasan mengapa Roger mengatakan Harry itu aneh. Pemuda itu terlampau normal bila ia menjadi seorang penjahat, sangat normal dalam tingkah lakunya sehingga Roger sendiri sedikit mengalami kesulitan untuk melihat karakteristik dari orang itu. Roger telah memprediksikan kalau Harry akan bersikap aneh dan bertindak layaknya orang yang menyimpan banyak misteri dalam hidupnya, namun teorinya yang terakhir ini berlalu begitu saja melihat tingkah laku yang normal dari Harry. Pemuda itu tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan, bahkan semakin lama Roger mengamati Harry rasanya seperti Roger tengah mengamati seorang tetangga yang tinggal di perumahan yang normal dalam waktu lama. Meskipun Harry bersikap normal dan Roger tak bisa memprediksikan siapa dia sebenarnya, laki-laki itu berani bertaruh kalau Harry adalah orang yang berbahaya, dan insting Roger itu jarang salah.

Roger tidak tahu apakah ini adalah karakteristik yang normal bagi Harry atau mungkin hal ini tidak lebih dari akting saja, tapi apapun itu Roger tak akan lengah bila ia berada di dekat Harry. Pemuda itu sewaktu-waktu bisa melukai Rouge.

"Selamat pagi, Roger-san," sebuah suara yang menyapanya terdengar begitu dekat dengannya, membuat Roger hampir terlonjak dari tempatnya duduk di atas dermaga dan hampir saja membuatnya terjungkal ke laut yang ada di bawahnya. Bagaimana Kenbunshoku Haki miliknya gagal mendetek keberadaan Harry masih menjadi tanda tanya, mungkin ini dikarenakan Roger terlalu fokus pada pikirannya.

Laki-laki yang mendapatkan julukan sebagai raja bajak laut itu menoleh dan menemukan subjek yang tengah mengganggu pikirannya sejak sebulan terakhir ini tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya. Pemuda yang bernama Potter Harry itu terlihat begitu normal dengan keranjang piknik yang ada di kedua tangannya, dan jangan lupakan senyum lugunya yang mampu membuat orang berpikiran kalau Harry adalah makhluk tak berbahaya serta tak mampu melukai apapun juga terpatri di bibirnya.

"Harry, ada apa kau ke sini?" Tanya Roger, yang mengibaskan salam sopan dari Harry dengan tangannya malah balik bertanya. Meskipun Roger masih was-was dengan pemuda berambut hitam ini, ia tetaplah Gol D. Roger yang suka berteman dengan siapapun serta menunjukkan sikap yang ramah.

"Rouge-san memintaku untuk mengantarkan keranjang ini untukmu, Roger-san, katanya roti isi serta buah-buahan yang ada di dalamnya adalah apa yang bisa ia berikan untuk yang terakhir kali," jawab Harry. Pemuda itu ikut duduk di samping Roger setelah ia meletakkan keranjang piknik yang ia bawa di antara mereka berdua.

Melihat hal itu rasanya Roger ingin sekali mengutuk dirinya karena pikirannya kini kembali berkecamuk. Pertanyaannya mengenai siapa Potter Harry tersebut menutupi keadaan yang ia alami saat ini, bahkan pertanyaan bagaimana untuk menjaga Rouge selamat pun serasa melayang begitu saja. Pemuda yang duduk di sampingnya ini benar-benar menyita perhatiannya, dan bukti nyatanya adalah Roger sampai lupa kalau saat ini adalah hari terakhirnya untuk merasakan kebebasan di dunia ini.

"Terima kasih, Harry, dan bisakah kau katakan terima kasihku pada istriku yang tercinta kalau kau kembali ke rumah. Aku tak bisa mengatakannya secara langsung untuk saat ini dan juga seterusnya," kata Roger dengan senyuman lebar tercentang di bibirnya. "Itu permintaanku padamu."

Tatapan yang diberikan oleh Harry padanya bisa terbilang sangat kalem, seolah-olah ia mengerti akan apa yang Roger maksud tanpa perlu ia jelaskan lagi. Apa dirinya terlihat begitu transparan saat ini? Roger bertanya-tanya pada dirinya sendiri melihat itu, namun ia tak bisa membawa dirinya untuk peduli akan hal ini. Laki-laki berkumis tebal itu mengalihkan pandangannya dari anak muda yang masih menatapnya itu, ia berbalik untuk melihat langit biru yang terpajang dengan indahnya di atas tempatnya bernaung untuk beberapa saat lamanya.

Keheningan pun melanda keduanya, hanya suara dari kicauan burung camar serta deburan ombak lah yang memecah keheningan itu, Roger merasa tak masalah akan hal itu mengingat apa yang ia dengar saat ini bisa dikategorikan masuk ke dalam zona nyamannya.

"Harry?" Panggil Roger secara tiba-tiba. "Bisakah kau memberitahuku siapa kau yang sebenarnya? Aku penasaran dengan apa yang terjadi padamu sampai kau bisa terseret ombak ke pulau ini. Kurasa tidak ada salahnya kau memberitahu pria yang sebentar lagi akan menjemput kematiannya 'kan?"

Saat Roger kembali melirik ke arah Harry, ia sedikit terkejut menemukan pemuda berambut hitam itu masih menatapnya dengan ekspresi yang sama seperti tadi. Pemuda ini meskipun terlihat begitu muda tapi tatapannya seperti mengatakan kalau usianya jauh lebih tua dari kelihatannya, seperti ia sudah pernah melihat apa yang terjadi di dunia ini. Sebuah pandangan dari jiwa tua, Roger merasakan hatinya tergugah akan hal itu.

Senyuman yang terpajang pada bibir Harry terlihat melebar, tak ada maksud jelek yang terasa di sana, bahkan aura ketengangan yang menyelimuti tubuh Harry pun mampu Roger rasakan tanpa perlu dirinya menggunakan Haki.

"Sangat menarik. Apakah seorang penyandang inisial D selalu menarik seperti dirimu, Roger-san?" Tanya Harry yang begitu tiba-tiba. Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan Roger, namun ia malah balik bertanya mengenai hal lain. "Orang-orang yang menarik dan pantang menyerah, bahkan sampai kematian pun datang menjemput."

Roger menatap Harry seperti pemuda itu memiliki satu buah kepala tumbuh lagi di tubuhnya, ia tak pernah mengira kalau pertanyaan yang ia ajukan akan dijawab dengan pertanyaan lain yang sangat melenceng dari pertanyaan pertama. Legenda pernah mengatakan mengenai penyandang nama D, dan dalam legenda kuno itu juga diberitahukan kalau orang-orang yang menyandang inisial D dalam namanya adalah musuh abadi dari para pendiri. Misteri akan kebenaran hal itu maupun tidak sampai saat ini masih tetap menjadi misteri, sama seperti dengan kebenaran Void Century yang terjadi dan menghilang dalam sejarah.

Tanpa ia sadari Roger menemukan bibirnya membentuk senyuman yang begitu lebar sampai memperlihatkan giginya, dan kelihatannya Harry pun juga menirunya meskipun senyuman itu tak selebar seperti milik Roger.

"Kebenaran tentang penyandang inisial D masih menjadi misteri, Harry. Selama hidupku aku sudah bertemu dengan orang-orang yang menyandang inisial nama ini, dan bisa aku katakan kalau mereka sama keras kepalanya denganku," dan Roger pun tertawa terbahak-bahak sampai menepuk pahanya sendiri. Baru setelah ia selesai tertawa, Roger pun menyelesaikan kalimatnya yang sebelumnya. "Kau sepertinya tertarik sekali dengan inisial nama D, Harry? Sebelum kamu menjawabnya, aku harap kau mau menjawab pertanyaanku yang sebelumnya. Mengenai siapa kau sebenarnya."

Bisa dikatakan ini adalah tanda tanya yang sangat besar bagi Roger, harapannya hanya satu untuk saat ini, yaitu mendapatkan jawaban dari misteri yang melanda di sini sebelum ia tewas dihukum mati beberapa hari lagi.

"Aku bukanlah musuh dan tak akan membahayakan hidup Rouge-san, meskipun begitu aku juga bukanlah temanmu, Roger-san," jawab Harry setelah ia diam untuk beberapa saat lamanya. Pemuda itu memejakmkan kedua matanya selama lima detik untuk merasakan sejuknya angin laut yang menerpa wajahnya, dan setelahnya pun Harry langsung menatap ke arah Roger kembali dengan senyuman kecil yang terkesan begitu misterius di wajahnya. "Kau bisa mengatakan kalau aku hanyalah seorang pengelana yang menjelajahi dunia ini untuk mencari sebuah jawaban akan pertanyaanku."

"Pertanyaan?"

Harry mengangguk singkat, "Iya, sebuah hal yang akan kau alami nanti."

Deburan ombak yang tersulut dan menghantap dinding dermaga menjadi background suara yang menyerbak di sana karena baik Roger maupun Harry memilih untuk tak menghancurkan kesunyian setelah jawaban yang Harry lontarkan tersebut mulai mengambil tempat. Bagi Roger, apa yang dicari Harry itu masih membuatnya bingung namun dengan seiring menit yang berlalu perlahan-lahan ia pun mulai mengerti. Awalnya Roger menatap Harry dengan keterkejutan yang terpasang di wajahnya, namun setelah itu ekspresi tersebut langsung tergantikan dengan senyum lebar yang mengatakan kalau ia mengerti. Dan sepertinya pengertian yang Roger berikan padanya pun sudah cukup membuat Harry puas.

"Kau benar-benar orang yang aneh, Potter Harry. Tak pernah aku melihat orang seperti dirimu ini yang mencari akan hal itu sampai sejauh ini," dan Roger pun tertawa dengan kerasnya, entah karena dia merasa senang atau malah merasa sedikit tak percaya karena Harry yang menyebabkan kelucuan di sana.

"Aku sudah cukup lama melihat dunia ini, bukankah sekarang ini sudah waktunya aku mendapatkan waktu istirahat yang sangat aku perlukan, Roger-san?" Dan pemuda yang menyandang nama Potter Harry itu pun langsung berdiri dari tempat duduknya, ia pun membalikkan tubuhnya dengan membelakangi laut. "Ini bukan terakhirnya aku akan melihatmu, Roger-san. Meskipun api kehidupanmu sudah mau meredup, tapi keinginanmu masih bisa membimbing kita untuk bertemu lagi. Akan aku katakan pada teman lama kalau penyandang inisial nama D itu benar-benar orang yang sangat merepotkan."

Tanpa berbalik pun Roger bisa melihat letak pemikiran dimiliki oleh Harry, pemuda itu benar-benar diliputi oleh misteri yang tebal. Dari caranya berbicara, kebijaksanaan yang terpancar dari tubuh kecil itu bisa terlihat dengan jelas, dengan kata lain Potter Harry benar-benar mengerti apa makna kehidupan ini. Sungguh, anggapan Roger mengenai pemuda itu adalah seorang bocah langsung terpatahkan, tak ada seorang bocah yang mampu berkata demikian.

Roger yang masih tersenyum lebar sambil memperlihatkan gigi-giginya kepada dunia akhirnya mendongak ke atas, suara tawanya yang nyaring itu pun terdengar begitu keras, membuat Harry yang semakin berjalan menjauh pun mau tak mau mengulaskan sebuah senyum kecil di bibirnya.

"Potter Harry!" Panggil Roger untuk sekali lagi, dan untuk yang kesekian kalinya Harry pun menghentikan langkahnya ketika Roger memanggilnya. "Aku mungkin tak terlalu paham akan siapa dirimu yang sebenarnya, tapi bisakah aku meminta tolong padamu lagi?"

"Apa itu?"

Disini senyuman Roger pun bertambah semakin lebar. "Tolong kau jaga anakku dan Rouge! Kau mungkin adalah orang terakhir yang bisa aku percayai, tapi instingku mengatakan kau adalah orang yang tepat untuk melakukan ini. Tolonglah, ini adalah permintaan terakhir dari seorang ayah yang sangat mengharapkan bantuanmu untuk menjaga keluarganya."

Meski permintaan itu sudah disuarakan dengan lantang oleh Roger, tak satu pun ucap kata yang terdengar dari Harry untuk menjawab persetujuannya akan permintaan Roger, bahkan pemuda itu kembali melanjutkan perjalanannya untuk menjauh dari dermaga tempat Roger yang masih duduk dengan sebuah keranjang piknik di sampingnya. Meskipun Harry tak menjawab permintaannya, Roger sangat yakin kalau laki-laki tersebut mendengarkannya dan akan mengabulkan permintaan itu. Katakanlah Roger begitu jahat karena telah melemparkan tanggung jawab yang tidak main-main ke atas pangkuan Harry, tapi sang raja bajak laut itu mempercayai kalau Harry adalah pilihan yang tepat ketimbang Whitebeard, Ray, atau mungkin adalah Garp. Namun, ketika rencana A sudah berjalan dan hasilnya masih menjadi tanda tanya, Roger pun siap untuk melancarkan rencana B yang juga akan melibatkan rivalnya, orang yang nanti akan menangkapnya.


Berita tentang penangkapan Gol D. Roger di South Blue oleh wakil admiral Monkey D. Garp adalah berita yang sangat besar dan juga mengguncangkan dunia, terlebih ketika dalam penangkapan tersebut Roger tak melakukan perlawanan sedikit pun. Ia terlihat pasrah dan bahkan para prajurit angkatan laut yang bersama dengan Garp waktu itu bisa bersumpah kalau Roger terlihat begitu antusias ketika mereka menangkapnya, seolah ia memang menantikannya waktu itu. Penangkapan sang raja pun menyebar ke seluruh negeri dan pulau-pulau, namun berita tersebut merembet dan menjadi hal yang fenomenal ketika Roger diputuskan untuk dihukum mati di pulau Lougetown, tempat kelahiran sang bajak laut yang juga menjadi tempat kematiannya.

Kematian Gol D. Roger tersebut menjadi lahirnya era keemasan bagi bajak laut, Harry yang saat itu menghadiri eksekusi Roger di Lougetown pun mau tak mau tersenyum bangga melihatnya dari deretan yang pertama. Sebuah ironi yang begitu menghibur baginya, kematian seseorang ternyata mampu melahirkan era yang sangat ditakuti oleh pemerintahan dunia. Gol D. Roger benar-benar orang yang memiliki pengaruh besar di dunia ini.

"Hartaku? Semua hartaku bisa kalian miliki. Aku meletakkan semua hartaku ada di tempat itu, carilah hartaku dan milikilah semuanya!"

Ucapan terakhir sebelum dua bilah belati panjang menghujam jantung Roger pun adalah pembuka dari lahirnya era keemasan bajak laut tersebut. Dan propaganda pemerintahan dunia untuk menghukum mati Roger pun tak mendapatkan akhir yang mereka harapkan, cukup untuk menjadi hiburan tersendiri bagi Harry ketika mereka menyadari kalau eksekusi Roger tersebut membuat semakin banyak orang berbondong-bondong memilih untuk menjadi bajak laut dengan tujuan menemukan harta benda yang ditinggalkan oleh Roger dan menjadi raja bajak laut yang selanjutnya ketimbang merasa takut dan menghentikan pelayaran besar-besaran secara serempak.

"Mereka yang menyandang inisial nama D memang orang yang merepotkan," ujar Death kepada Harry ketika ia mengunjungi Harry setelah kejadian itu berakhir. "Mereka tak akan mau mati kecuali kalau waktu mereka memang telah tiba. Dan kalaupun tubuh mereka sudah menghilang, pengaruh orang-orang yang memiliki inisial nama D sulit sekali untuk dihapus."

Sebagai seorang Master of Death, Harry sendiri sudah mengetahui kenyataan tersebut sejak ia membuka buku yang memuat hukum di tempat ini, benar-benar dunia yang sangat berbeda dengan tempat asal Harry. Orang yang terlahir dengan inisial D memang tak akan mati begitu saja di dunia ini, harapan serta cita-cita mereka masih terus terasa bahkan ketika jiwa mereka sudah melewati gerbang kematian dan tak bisa kembali lagi. Harry tak akan iri dengan tugas yang diemban oleh Death ketika ia harus mengantarkan jiwa dari pemilik inisial nama D menuju petualangan selanjutnya di dunia lain.

Satu tahun telah berlalu setelah eksekusi Roger, dan hampir setiap hari pula Harry selalu mendapat berita kalau bajak laut mulau memporak-porandakan dunia ini demi mencari One Piece yang disebut-sebut sebagai harta final dari raja bajak laut. Harry tak tahu apakah ia harus tertawa atau mungkin malah menangis ketika ia menerima berita itu, ia menemukannya cukup lucu dan menghibur.

"Manusia memang tamak dan tak akan pernah puas. Harta, pangkat, status tinggi, dan kemenangan adalah apa yang mereka cari ketika mereka masih hidup, meskipun dalam pencariannya mereka akan kehilangan nyawa mereka. Sungguh disayangkan," gumam Harry kepada Death yang masih setia berdiri di belakangnya ketika Harry tengah sibuk menyirami kebun bunga hisbiscus merah milik Rouge.

Sudah setahun lamanya Harry tinggal bersama Rouge, meski pada awalnya ia tak menginginkan kehidupan seperti ini namun janji yang dipaksakan oleh Roger padanya telah menjadi tanggung jawab yang tak bisa ia abaikan. Harry telah berhutang banyak kepada pasangan tersebut, sehingga ia pun akan menjaga baik Rouge dan bayinya sebisa Harry, sesuai dengan apa yang Roger minta padanya ketika mereka bertemu di dermaga pulau Baterilla sebelum Roger menyerahkan dirinya untuk ditangkap. Harry sempat berpikir kalau tugas menjaga Rouge itu adalah hal yang ringan dan bisa ia lakukan sambil ia mengerjakan suatu hal lain, contohnya adalah mengelilingi dunia untuk mencari jawaban akan pertanyaannya. Namun anggapan Harry bisa dipatahkan di sini, tidak sampai tiga bulan lamanya setelah Roger dieksekusi muncul lagi berita mengenai pembantaian bayi dan wanita muda di pulau Baterilla untuk mencari keberadaan keluarga Roger yang tersisa. Dan pada akhirnya Harry yang saat itu tengah berada di Raftel dan mengelilingi dunia pun langsung kembali menggunakan apparate jarak jauh ke pulau Baterilla dan mengambil tugasnya dengan serius. Di saat Harry muncul di hadapan Rouge, ia hanya bisa menemukan beberapa tentara angkatan laut yang akan menangkap Rouge dan mau tak mau Harry pun menghajar mereka semua dan melenyapkan ingatan mereka akan keberadaan Rouge serta kejadian saat itu, sehingga Rouge pun kembali aman.

Untuk melindungi Rouge, Harry rela untuk tinggal menetap di Baterilla, ia bahkan menggunakan mantra Fidelius untuk membentengi rumah Rouge dengan Harry yang akan bertindak sebagai penjaga kunci rahasia. Dan saat Harry bersama Rouge, barulah keduanya merasa aman.

"Master, saya akan mengambil jiwa dari Portgas D. Rouge beberapa menit lagi. Waktu wanita itu di dunia ini sudah hampir habis," ujar Death yang masih tak beranjak dari tempatnya berdiri. Kalimat itu membuyarkan lamunan Harry, yang kala itu masih memfokuskan perhatiannya pada tugas yang tengah ia kerjakan.

Hari itu adalah hari dimana Rouge melahirkan bayinya, dan saat ini ia tengah berjuang untuk melakukannya. Tanpa Death memberi tahu Harry pun pemuda itu sudah tahu kalau Rouge tidak akan berumur panjang, usia kandungan yang dipaksakan selama setahun lamanya itu membuat tubuh dan jiwa Rouge kehabisan tenaga, dan ketika bayi itu telah keluar maka Rouge pun akan mengalami kematian yang sudah menjadi nasibnya. Harry sudah pernah menasihati wanita itu kalau memperpanjang waktu kehamilannya akan berbuah dengan kematian, namun Rouge yang keras kepala tetap melawan argumen yang diberikan oleh Harry, wanita itu ingin menyelamatkan bayinya dengan Roger meskipun nyawa adalah taruhannya. Harry yang pernah menerima kematian dengan tangan terbuka pun mau tak mau harus menghormati keputusan yang Rouge ambil, dan ia pun berjanji akan melindungi serta merawat bayi tersebut sepeninggal Rouge. Dan hari itu, hari yang cerah di awal tahun baru pun Harry bisa melihat bau kematian semakin mendekat ke arah rumah mereka, dan waktu akhir bagi Rouge pun tiba.

Meletakkan penyiram tanaman yang ia pegang ke atas tanah, Harry pun berjongkok di hadapan sebuah pohon hisbiscus merah yang bunganya tengah bermekaran dengan lebar saat itu. Harry tidak memberikan komentar sedikit pun, seluruh tatapannya masih terfokus pada salah satu bunga yang tengah mekar di hadapannya.

"Bloom," gumam Harry dengan lirih, ia membiarkan sihirnya bersentuhan langsung dengan beberapa bunga yang ada di hadapannya dan membuat mereka mekar secara maksimal. Setelah itu Harry pun memetik salah satu bunga tersebut dan memegangnya. "Kalau waktu Rouge berada di dunia ini memang habis, aku tak akan menghalangimu untuk melaksanakan tugasmu, Death. Hukum kematian dan kelahiran tak bisa aku kacaukan hanya karena aku tak ingin Rouge mati dalam proses kelahiran."

Meski Harry tak menoleh ke arah Death, ia bisa merasanya senyuman tipis yang berasal dari wajah tengkorak yang terbungkus oleh tudung jubah hitam itu terulas. Seseorang bisa menjadi tuan dari kematian bila mereka menerima kematian dengan lapang dada dan menyadari kalau kematian tidaklah semenakutkan yang orang kira, dan Harry yang mengerti hal tersebut sejak lama pun terpilih menjadi tuan dari kematian sejak ia berusia 17 tahun.

Perhatian Harry yang terarah pada bunga hisbiscus merah yang merekah di atas tangannya pun teralih saat ia merasakan sebuah kehadiran baru menginjakkan kaki mereka di pulau Baterilla ini. Harry tidak tahu siapa yang datang ke tempat ini, namun ia memiliki kepercayaan diri kalau mereka tidak memiliki tujuan buruk. Meski demikian Harry tak mau mengambil risiko dengan menghilangkan mantra Fidelius yang menyelimuti rumah Rouge.

Suara tangisan dari seorang bayi di dalam rumah pun terdengar, memecahkan kesunyian yang menyelubungi baik Harry dan Death. Dan dalam waktu yang bersamaan pun keduanya menoleh ke arah rumah kecil yang dihuni oleh Harry bersama dengan Rouge.

"Seorang jiwa baru pun akhirnya terlahir dan diberkati untuk melihat dunia ini, Master," Death memberikan anggukan, mengkonfirmasi kalau bayi dari Rouge dan Roger akhirnya terlahir di dunia ini. "Selamat telah menjadi seorang ayah lagi, Master Harry."

Secara teknis Harry bukanlah ayah dari bayi itu, tapi Harry juga bisa dikatakan sebagai ayah karena Rouge telah menunjuk sang Master of Death yang bernama Harry Potter sebagai ayah baptis dari bayi Rouge. Harry yang masih bergeming di tempat dengan setangkai bunga masih ada di dalam genggamannya pun akhirnya mengambil tindakan, tanpa menyuarakan apapun untuk menanggapi Death ia segera memasuki rumah kecil tersebut dan langsung menuju kamar Rouge dimana proses kelahiran tengah dilakukan.

Kala memasuki tempat tersebut, bau darah serta kematian yang membelit menjadi satu tercium begitu kuat, namun Harry menghiraukannya. Begitu memasuki kamar tersebut, perhatian Harry langsung tersita pada pemandangan wanita yang begitu ia kenal tengah menggendong seorang bayi pada dadanya. Pemandangan yang mampu membuat orang menangis dan tersenyum bahagia pada waktu yang sama tersaji di hadapan Harry, bahkan pada saat berada dalam keadaan tak prima pun Rouge tetap terlihat begitu cantik dalam tragedi yang menyelimutinya. Harry mengabaikan sapaan yang diberikan sang bidan di sana, ia langsung menghampiri Rouge dan berdiri tepat di samping tempat tidur dimana Rouge tengah berada.

"Harry, ucapkan hallo kepada Ace," ujar Rouge, air matanya yang deras mengalir pada kedua mata kecoklatan tersebut. Tangisan kegembiraan serta kesedihan bercampur menjadi satu, namun Harry tak menanggapinya karena perhatiannya masih terfokus pada pemandangan sepasang ibu dan anak tersebut. Sungguh, kalau Harry tidak tahu akan kenyataan ia tak akan berani memisahkan mereka dari satu sama lain. "Namanya adalah Gol D. Ace. Seperti ayahnya, Ace akan tumbuh menjadi laki-laki yang hebat."

Isak tangis pilu yang dikeluarkan oleh Rouge pun membuat sang bidan yang ikut bersedih memberikan keduanya waktu untuk bersama, sehingga wanita selain Rouge yang berada di dalam rumah tersebut pun keluar dari kamar tersebut/

Harry melihat bagaimana Rouge memeluk Ace dengan penuh kasih sayang, meski Ace adalah alasan mengapa jiwa Rouge semakin meninggalkan tubuhnya tapi wanita itu masih menyayangi sang bayi laki-laki tersebut dengan sepenuh hati. Pemandangan yang mengharukan ini mengingatkan Harry kepada keluarganya sendiri, ia pernah menjadi seorang ayah dulu dan hal ini mmbuatnya harus melihat kenyataan yang ada ketika Ginny melahirkan James, Albus, dan juga Lily.

"Wanita ini tak memiliki waktu banyak, Master," gumam Death yang sudah berdiri di samping Harry. Dari sudut matanya Harry bisa melihat tangan-tangan Death yang berselimut kematian siap menggapai tubuh Rouge.

Harry ingin sekali menangkap tangan Death sebelum dia dapat menggapai Rouge, namun kedua tangannya menjadi kelu. Ia adalah Master of Death, yang artinya Harry tak bisa ikut campur dengan kematian seseorang maupun melanggar peraturan, meski itu artinya ia harus menyesali tindakannya di kemudian Harry.

"Harry," panggilan Rouge tersebut membuyarkan lamunannya, dan tanpa sadar pun Harry menemukan dirinya semakin mendekat ke arah wanita tersebut. "Tolong, tolong jagalah Ace. Ini permintaan terakhirku dan Roger padamu, Harry."

Dengan lidahnya yang masih kelu, Harry pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju akan tugas yang diembankan padanya oleh Rouge. Harry tahu kalau menjadi pelindung bagi jiwa yang baru adalah tugas yang sangat berat, terlebih bila ia mengingat mengapa ia berada di tempat ini di waktu yang pertama. Ia berada di sini bukan untuk menjadi seorang pengasuh, namun untuk mencari jawaban agar kehidupan abadinya bisa segera berakhir dan ia dapat berkumpul dengan keluarganya kembali. Namun, Harry bukanlah orang yang hatinya terbuat dari batu maupun es, ia tak bisa membiarkan seorang jiwa baru seperti Gol D. Ace yang dipercayakan orangtuanya pada Harry ia abaikan begitu saja. Melihat situasinya sekarang, Harry akan memastikan Ace untuk tumbuh dewasa dahulu sebelum ia pergi untuk mencari jawaban yang ia inginkan, dan menunggu selama beberapa tahun bukanlah alasan besar bagi Harry ketika ia memiliki waktu selamanya. Tersenyum akan kebijaksanaan yang ia miliki, Harry pun menatap sosok Rouge dengan kalem.

"Aku berjanji, Rouge," kata Harry, ia menyanggupi permintaan tersebut. Dengan bunga yang masih ia pegang, Harry pun mencondongkan tubuhnya ke depan dan meletakkan bunga hisbiscus merah tersebut di atas telinga kiri Rouge. "Aku tak akan mengecewakan kalian."

Rouge tersenyum sedih, namun anggukan dan penerimaan adalah apa yang ia perlihatkan kepada Harry. Dengan perlahan Rouge pun menyerahkan bayinya kepada Harry yang langsung menggendongnya dengan perlahan dan penuh kehati-hatian.

"Terima kasih, Harry," gumam Rouge.

Dengan Ace yang berada dalam gendongannya, Harry melihat bagaimana air mata itu masih mengalir dari kedua mata Rouge, namun senyuman lebar yang terpetak jelas di bibir sang ibu muda itu tak mampu menghapus kebahagiaan serta kelegaan yang ia rasakan.

"Katakan pada Ace kalau baik aku dan Roger sangat mencintainya. Meski kami tak bisa bersama dengan Ace, kami berdua akan selalu melihatnya dari tempat selanjutnya," kedua mata Rouge pun terpejam dengan perlahan. "Seperti yang kau katakan, Harry, kematian tak akan memisahkan kami. A-aku sangat b-bahagia."

Harry bisa merasakan Ace menggeliat dalam gendongannya, keberadaan sang kematian yang mulai merenggut nyawa sang ibu tersebut membuatnya tak nyaman, namun Harry sangat berterima kasih Ace tidak menangis saat itu juga. Kembali memfokuskan tatapannya pada Rouge yang sudah berada di ambang kematian, pemuda yang tengah menggendong bayi laki-laki itu pun mendekatkan tubuhnya pada Rouge.

"Jangan khawatirkan hal itu, Rouge, aku sudah berjanji padamu dan juga pada Roger." Dan Harry pun memberikan kecupan singkat pada kening Rouge ketika kematian menggenggam jiwa wanita itu dan menariknya untuk menjauh. "Selamat jalan, Portgas D. Rouge."

Kematian yang sudah sering Harry lihat pun akhirnya terjadi juga di hadapannya, dan kali ini korban dari kematian sendiri adalah orang yang dekat dengannya. Harry hanya bisa berdoa agar Rouge mendapatkan ketenangan di sana bersama Roger. Melihat betapa damainya sosok Rouge yang tersenyum dalam kematiannya, Harry pun menyadari kalau mereka yang memiliki inisial nama D selalu menuntaskan tujuan hidupnya sebelum mereka kembali kepada sang pencipta.

"Gol D. Ace, itu adalah nama yang diberikan oleh Rouge dan Roger padamu," kata Harry saat ia menatap sang bayi mungil yang balik menatapnya dengan dua mata kelabu tersebut, mambuat Harry mau tak mau mengulaskan senyuman kecil padanya. "Meski demikian, orang-orang akan memanggilmu sebagai Portgas D. Ace, setelah pengorbanan yang ibumu lakukan padamu, Ace. Aku berjanji sebagai ayah baptismu untuk selalu menjagamu."

Dari balik tubuhnya Harry bisa merasakan senyuman kecil dari arwah Rouge diberikan padanya sebelum Death menuntunnya pergi, meninggalkan Harry berdua dengan Ace yang ada dalam gendongannya.

"Akhir dari semua ini akan menjadi awal yang besar pada era keemasan yang ayahmu ciptakan," Harry melihat bagaimana beberapa orang-orang yang dipimpin oleh seorang wakil Admiral mulai mendatangi tempat tersebut. "Dan sekarang adalah saatnya. Finite Incantatum!"

Dan ketika Ace memejamkan kedua mata mungilnya itu sihir yang menyelubungi tempat ini pun langsung menghilang, membuat rumah yang tersembunyi itu pun akhirnya nampak lagi setelah setahun lebih menghilang dari mata publik.

"Bahahahaha... aku menemukan kalian!" Ucapan yang keras dari seorang Monkey D. Garp pun akhirnya terdengar di telinga Harry.


AN: Terima kasih kepada kalian yang sudah membaca, memberikan review, memfollow, serta memfavoritkan fanfic ini

Author: Sky