Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
No commercial advantage is gained by making this fanfic.
.
This Fanfic by Tania Hikarisawa
[Tangled Ring, Chapter 1: Uzumaki Naruto]
—Warning: AU & typo(s)—
.
.
.
Naruto akhirnya dapat bernapas lega karena dapat mengistirahatkan badannya yang lelah. Di kantin rumah sakit ini tidak banyak yang dapat ia lihat. Hanya ada beberapa dokter dan beberapa perawat yang terlihat tekun dengan makanannya masing-masing. Dan itulah yang akan ia lakukan sebentar lagi.
Nampan makanannya berisi nasi yang terlihat sedikit menggunung, sup, lauk dan buah apel sebagai pencuci mulut. Di sini, dia memang tidak bisa memesan ramen yang merupakan makanan favoritnya itu. Yang ada hanya makanan-makanan yang sudah ditakar gizinya yang terkadang bahkan tidak terlalu berasa di lidah Naruto. Tapi semuanya sudah lebih dari cukup untuk menutupi kelelahannya karena ia baru saja melakukan operasi selama tiga jam lebih.
Tak ada yang diajaknya mengobrol. Kebanyakan dokter muda sungkan berbicara dengannya dan dokter lama terlalu gengsi untuk memulai percakapan dengannya. Hanya karena ia baru berumur 27 tahun dan sudah berhasil menerima gelar profesor, kebanyakan orang mengira dia adalah seorang kutu buku yang akan sulit diajak berbicara.
Kalau boleh dibilang, Naruto tidak sulit diajak berbicara dan dia juga bukan seorang kutu buku. Setidaknya dia bukan orang yang akan selalu terlihat membawa buku, kan?
Baru saja ia akan menghela napas, bangku di hadapannya ditarik. Berikutnya, ia bisa menatap dua pasang wajah perempuan di hadapannya. Satu dokter residen dan seorang perawat.
"Prof. Uzumaki, kenapa Anda sendiri?"
Naruto menyumpit sedikit nasi ke mulutnya lebih dulu. Setelah menelannya, barulah ia menatap perempuan di hadapannya itu. "Kau sudah selesai, ya? Kau membuat jahitan dengan benar kan, Shion?"
Gadis itu sedikit tersinggung, "Jangan meremehkan saya! Selama ini, saya selalu setia menjadi asisten Anda saat operasi. Saya adalah orang yang selalu menutup setiap lubang yang Anda buat di dada setiap pasien, Prof."
Ah, gadis ini benar-benar tidak segan-segan membicarakan hal seperti ini di saat mereka sedang makan. Melihat perawat yang duduk di sebelah Shion sedikit menundukkan wajahnya, Naruto mendorong air minumnya ke arah perawat itu. "Maaf, jika kau tidak nyaman, kau bisa pindah duduk," ucapnya sopan.
Perawat itu menerima air minum Naruto dan segera pindah ke meja lain. Melihat hal tersebut, Shion menyadarai hal yang baru saja terjadi. "Haha ... apa itu membuatnya mual?"
"Mereka tidak sama dengan kita, Shion. Oh iya, dokter kepala dari departemen bedah umum mencarimu tadi, dia bilang ingin minta bantuanmu untuk menjadi asistennya. Kau mau?" tanya Naruto sambil lalu.
"Eehh? Kau membuangku, Prof?"
Andai saja Naruto sedang tidak lelah, mungkin ia akan melanjutkan candaan Shion. Tapi hari ini dia sudah kelelahan. Enam operasi dalam satu hari benar-benar membuatnya pusing. Sebentar lagi, mungkin ia akan segera pulang ke apartemennya dan tidur.
Melihat Naruto tidak menanggapinya, Shion sibuk mencari topik pembicaraan lain. "Ngomong-ngomong, Prof. Aku boleh bertanya sesuatu?"
Gerakan sumpit Naruto berhenti, mata birunya menatap langsung ke Shion. Kalau Shion bertanya mengenai operasi jantung yang baru saja mereka lakukan, Naruto akan dengan senang hati menjelaskan setiap bagian yang tidak dimengerti Shion.
"Bagaimana cara Prof bisa menjadi seperti sekarang?"
Satu alis Naruto terangkat. Tidak sesuai dengan ekspektasinya. Dan ia kembali menyumpit nasinya, menyendok supnya, meminum air milik Shion dan mengabaikan gadis berambut pirang itu.
"Prof, jawab pertanyaanku!" Shion menaikkan sedikit suaranya dan menghilangkan bahasa formalnya.
"Hah? Apa? Kau bertanya apa? Kau bertanya kenapa aku memotong aorta dan bukannya menggunakan—"
Ucapan Naruto terpotong karena Shion menutup mulut seniornya itu. Telunjuknya berada di depan mulutnya untuk mengisyaratkan agar Naruto berhenti berbicara. "Aku tidak mau mendengar soal teknis ini lagi. Aku sudah mendengarnya sebelum operasi dan kau juga sudah menjelaskannya dengan jelas saat kau mengoperasinya tadi."
Naruto melepas tangan Shion. Dia benar-benar tidak suka saat juniornya berbicara tidak formal seperti ini. "Iya, aku diam."
Shion tersenyum senang, "Nah, bagus. Jadi ...," ucap Shion menggantung sebelum berdehem. "Saya mau bertanya, apa alasan Prof. menjadi seorang dokter kemudian kenapa memilih spesialis bedah jantung? Dan apa yang membuat Anda bisa menyelesaikan pendidikan Anda dengan begitu cepat?"
Naruto melihat Shion dengan tatapan horror begitu gadis itu menyelesaikan kata-katanya. Pertanyaan itu jauh lebih sulit dari buku-buku kedokteran yang ia punya. "Shion, kau itu seorang dokter dan bukan wartawan."
"Prof., jangan mengalihkan pertanyaan. Ini penting sekali sebagai referensi."
"Hah? Referensi? Referensi apa?"
Shion tersenyum manis, "Referensi cerpen," sahutnya polos.
Naruto meletakkan sumpitnya. Meminum habis air milik Shion dan berdiri.
"Memangnya salah?! Ini hobi, Prof. Apa seorang dokter tidak boleh memilik hobi?"
"Siapa bilang itu salah? Aku hanya tidak ingin menjadi objek cerpenmu, Shion."
Shion tersenyum manis. "Jadi ini benar-benar karena perempuan, kan? Apa kau menjadi dokter karena seorang gadis? Cinta pertama, kah? Atau ada kejadian tragis di balik semua ini?"
Naruto memutar bola matanya. "Imajinasimu terlalu liar, Shion. Sudah, aku mau pulang. Hubungi aku jika terjadi sesuatu di sini."
Dan Naruto pun pergi ke tempat bak untuk meletakkan bekas nampan makanannya. Dia tidak menghiraukan teriakan Shion yang memanggilnya untuk duduk kembali. Bagi Naruto, dia benar-benar tidak suka jika orang-orang mengungkit masa lalunya. Dan memang benar, semua hal ini berawal karena seorang gadis, tapi tentu saja ceritanya tidak berisi hal-hal tragis seperti yang dikatakan Shion.
Sekarang umurnya sudah 27 tahun. Berarti sudah sekitar dua puluh tahun yang lalu semuanya ini dimulai. Ah, rasanya baru kemarin ia mengalami hal itu.
.
_Flashback_
.
Sama seperi biasanya, kelas 2-C begitu ramai di pagi hari. Anak perempuan sibuk membicarakan mainan-mainan yang mereka beli saat liburan kemarin sedangkan anak laki-laki sibuk bermain kejar-kejaran di kelas.
"Minggir! Minggir sana!" teriak Kiba sambil berlari di sela-sela deretan bangku. "Lihat, Naruto, kau tidak akan bisa menangkapku!" ejeknya sambil menjulurkan lidahnya.
Buk!
Langkah Kiba terhenti saat ia menabrak sesuatu atau tepatnya seseorang. Kepalanya terangkat perlahan dan bertemu langsung dengan wajah wali kelasnya. "E-eh?"
"Duduk, Kiba. Apa kau tidak mendengar bel masuk kelas? Naruto, kau juga duduk."
Ibu guru mereka yang galak itu kemudian berdiri di depan kelas. "Jadi anak-anak, hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Kalian janji untuk rukun dengannya ya?"
"Ya!" jawab murid-muridnya kompak.
"Ayo masuk, Sakura."
Masuklah seorang anak perempuan dengan rambutnya yang merah muda sebahu. Saat wajahnya terangkat, dapat dilihat matanya yang berwarna hijau cerah. Ada semburat merah tipis yang menghiasi wajahnya saat ia memperkenalkan dirinya.
"Selamat pagi. Namaku Haruno Sakura. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik ya," ucapnya malu-malu.
Anak-anak di kelas itu tersenyum. Bahkan sudah mulai terdengar kebisingan di belakang. Anak-anak mulai sibuk membicarakan mengenai Sakura dan mulai berteriak mengucapkan nama masing-masing.
Ibu guru mereka memukul papan tulis agar murid-muridnya tenang. "Sudah, sudah, kalian bisa berkenalan nanti saat jam istirahat. Nah, sekarang kita harus belajar dulu. Sakura, kau bisa duduk di kursi kosong di sebelah sana."
Sakura tersenyum manis dan berjalan menuju bangku yang berada tepat di belakang bangku Naruto. Setelah Sakura duduk, Naruto segera berbalik badan ke belakang. "Hei, namaku Naruto. Salam kenal. Kau cantik sekali, Sakura."
Perkataan Naruto otomatis membuat kelas menjadi ribut kembali. Para perempuan sibuk mengejek ucapan Naruto dan para laki-laki dengan asik menggoda Naruto.
"Hei, Naruto, kau curang! Sakura, namaku Kiba. Daripada Naruto, aku jauh lebih tampan," teriak Kiba yang duduk jauh di depan mereka.
Ibu guru kembali memukul papan tulis dan akhirnya berhasil menenangkan murid-muridnya kembali.
Hari itu, pertama kalinya Naruto bertemu dengan Sakura. Di umurnya yang baru tujuh tahun, Naruto tidak mengerti dengan rasa cinta ataupun sayang. Tapi yang pasti, dia menyukai anak baru di kelasnya karena anak itu begitu manis dan cantik.
Kekaguman Naruto tidak berhenti sampai di situ. Sakura begitu hebat dalam olah raga, karena itu dia begitu cepat akrab dengan teman sekelasnya. Dan dia juga sangat pintar di kelas.
"Pagi, Sakura. Hari ini kau tambah cantik," ucap Naruto begitu gadis itu masuk ke dalam kelas.
Sakura memutar bola matanya. Dia sebenarnya tidak terlalu suka dengan Naruto karena anak laki-laki itu selalu mengganggunya. Dan setiap ada Naruto pasti selalu ada Kiba yang juga akan ikut mengganggunya.
"Ohh? Sakura, kau sudah datang? Pagi."
Benar, kan? Sekarang Kiba yang mendatanginya.
"Kalian tenang sekali ya? Hari ini kan ulangan hari pertama," sahut Sakura akhirnya.
Naruto dan Kiba saling berpandangan sejenak kemudian tertawa bersama. "Hahaha ... aku dan Kiba tidak pernah mimikirkan soal belajar. Bagi kami, bermain yang utama."
Sakura menyipitkan matanya dan menggelengkan kepala kemudian duduk di tempat duduknya.
Tak sampai di situ, Naruto semakin kagum saat melihat nama anak-anak yang masuk sepuluh besar di angkatan mereka. Di angkatan kelas dua, Sakura berhasil menduduki posisi pertama.
"YES!" teriak Sakura di depan papan pengumuman. Naruto memandangnya sejenak dan gadis itu tiba-tiba menoleh ke arahnya. "Aku hebat, kan?" tanyanya sambil tersenyum.
Naruto hanya bisa mengangguk. Saat itu di mata Naruto, Sakura terlihat lebih cantik dari biasanya.
Kerumunan murid-murid di depan papan pengumuman itu tiba-tiba terbelah karena seorang anak. Anak laki-laki itu terlihat sedikit terengah-engah.
"Kiba?" ucap Naruto.
Tapi Kiba mengabaikan Naruto dan menoleh ke arah Sakura. "Sakura, aku sudah melihat hasil pengumumannya. Wah, selain cantik ternyata kau juga pintar. Tidak salah kalau aku menganggapmu sebagai pacarku."
"Hah?"
"Sakura, kau mau jadi pacarku, kan?"
Sakura diam membatu mendengar pertanyaan Kiba begitu pula dengan Naruto. "Aku tidak suka dengan orang bodoh!" sahutnya setengah membentak kemudian menjauh dari kerumunan itu.
Naruto hendak mengejar Sakura tapi tiba-tiba saja perempuan itu menoleh. "Kau juga sama, Naruto. Aku juga tidak suka denganmu karena kau itu bodoh!"
Naruto merasa tertohok, dia bahkan belum mengucapkan apa-apa tapi dia sudah ditolak lebih dulu. Dan berkat ucapan Sakura itulah, sepulang sekolah Naruto menangis berguling-guling di rumahnya agar dia dicarikan guru privat.
Kakak perempuannya yang mendengar rengekan adiknya itu hanya menghela napas. "Sudahlah, Ma. Carikan saja dia guru privat, aku sudah pusing mendengar tangisannya sejak tadi."
Kushina bertolak pinggang. "Karin, kenapa bukan kau saja yang mengajarinya? Kau lebih tua tiga tahun dari Naruto. Kau pasti bisa mengajarinya."
Karin membetulkan letak kacamatanya sebentar. "Lebih baik aku mati daripada harus mengajari anak bodoh seperti dia, Ma," sahutnya kemudian masuk ke kamarnya.
"Hei, jangan berbicara sembarangan seperti itu, Karin!" teriak Kushina dan sekarang matanya menatap ke arah anak bungsunya. "Naruto, Mama akan mencarikanmu guru privat, tapi kau mau berjanji sesuatu pada Mama?"
Naruto berhenti berguling kemudian mendekati ibunya. "Iya."
Kushina tersenyum kemudian bersimpuh sehingga tingginya sejajar dengan Naruto. "Berjanji bahwa kali ini kau tidak setengah-setengah saat meminta ini. Kau tidak boleh berhenti di tengah jalan. Janji?"
Naruto menatap jari kelingking ibunya. Tidak boleh berhenti ya? Naruto tahu kalau dirinya cepat bosan akan sesuatu. Dan baginya, belajar adalah suatu hal yang paling membosankan di dunia. Tapi demi Sakura, demi gadis yang ia sukai, Naruto rela melakukannya.
Naruto mengangguk. "Iya, Naruto janji," sahutnya sambil menautkan jari kelingkingnya dengan milik ibunya. Detik berikutnya, Naruto sudah berada dalam pelukan ibunya dan dihujani dengan ciuman-ciuman penuh sayang dari ibunya.
"Wajahmu mirip sekali dengan papamu, tapi sifatmu mirip sekali dengan mama ya?"
Bagi Naruto, semua kerja keras itu hanya dilakukannya demi Sakura, agar ia bisa mendekati gadis itu. Selama empat tahun dia sudah berusaha keras mendekatinya, tapi tidak membuahkan hasil apapun.
"Hei, Sakura. Kita sekelas lagi. Duduk di sampingku saja," sapa Naruto begitu wajah Sakura terlihat di pintu masuk kelas 6-A.
"Kau berisik, Naruto. Aku tidak suka duduk di dekatmu," sahutnya ketus dan gadis itu duduk di bangku paling depan. Sangat berlawanan dengan posisi bangku Naruto yang terletak di pojok belakang.
Selalu seperti itu, Sakura sepertinya benar-benar tidak suka dengannya. Gadis itu selalu menyahut dengan ketus. Tapi paling tidak nasibnya masih lebih bagus dari Kiba. Bisa dibilang, Sakura bahkan menganggap Kiba sebagai manusia tembus pandang. Mengingat hal itu membuat Naruto tertawa keras di dalam kelas.
"Naruto, berisik!" Sakura berteriak dari bangkunya dan otomatis membuat mulut Naruto tertutup rapat.
Tanpa terasa, sudah hampir satu tahun mereka berada di kelas 6-A. Tak ada yang terjadi di antara Naruto dan Sakura. Hubungan mereka masih seperti biasanya. Naruto menyapa dan Sakura menjawab ketus.
Satu minggu lagi ada ujian semester kedua. Anak-anak sibuk mengatur acara belajar kelompok mereka. Naruto sendiri tidak ingin menyibukkan dirinya dengan mengikuti acara yang pada akhirnya hanya menjadi acara mengobrol tersebut. Wajahnya yang cuek itu memerhatikan kumpulan teman-temannya yang sibuk mengatur jadwal belajar kelompok.
"Hei, kau mau ikut, Naruto?"
Naruto menoleh. "Ah, tidak. Aku lebih suka belajar sendiri."
Teman-temannya memandang wajah Naruto dengan tatapan curiga. "Kau pasti hanya mau tidur, kan? Dasar! Kau benar-benar tidak punya semangat belajar bersama ya?"
Ingin rasanya Naruto membalas bahwa yang sebenarnya tidak punya semangat belajar itu mereka. Karena Naruto memiliki suatu hal yang selalu membuatnya semangat dalam belajar yaitu Sakura. Gadis itu sudah keluar dari pintu kelas. Naruto segera mengejarnya karena arah rumah mereka memang searah.
"Sakura, mau belajar bersama denganku?"
Sakura menatap wajah Naruto kemudian tersenyum mengejek. "Bukannya kau ingin belajar sendiri? Kau mengatakannya tadi."
"E-eh? Itu karena mereka berisik. Kalau denganmu, aku pasti mau, Sakura."
"Kau juga berisik, Naruto. Dan dengar, aku tidak suka belajar dengan orang yang lebih bodoh dari aku. Mengerti?"
Naruto mundur selangkah saat Sakura mendelik ke arahnya. Salah satu tangannya menggaruk belakang kepalanya. Tawa yang begitu memaksa keluar dari mulutnya.
"Aku bahkan tidak pernah melihat namamu berada di papan pengumuman," lanjut gadis itu.
Naruto meneguk ludahnya. Nama-nama yang selalu berada di papan pengumuman adalah nama para siswa yang berhasil menduduki sepuluh besar di setiap angkatan. Naruto bahkan tidak pernah memimpikan hal seperti itu.
"Haha ... kau benar, Sakura."
Sakura sedikit mengernyit saat Naruto tidak berniat melawan perkataannya. "Hari ini kau cepat sekali menyerah, Naruto."
"Sudahlah. Aku tidak mau membicarakan hal itu lagi. Oh iya, kau akan melanjutkan ke SMP mana?" Topik pembicaraan pun diubah Naruto.
Kedua anak itu sudah keluar dari pintu gerbang sekolah saat Sakura menoleh sejenak ke arah Naruto dan menjawab pertanyaan temannya itu. "Konoha High School."
Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali. Sepertinya nama sekolah itu tidak asing di telinganya.
"Sekolah itu mencakup SMP dan SMA. Jadi nanti setelah lulus SMP, aku tidak perlu bingung bersekolah di mana," lanjutnya dengan wajah gembira.
Sedangkan Naruto sendiri sebenarnya tidak terlalu memperhatikan ucapan Sakura. "Ah! Aku ingat. Kakakku bersekolah di sana, Sakura."
Sakura menghentikan langkah kakinya. Dia sejenak merasa Naruto benar-benar anak yang bodoh karena dia bahkan tidak bisa mengingat sekolah kakaknya sendiri. Tapi detik berikutnya, Sakura seperti mendapat peluang cerah tepat di depan matanya.
"Benarkah? Kalau begitu, apa aku boleh ke rumahmu, Naruto? Aku ingin meminta kakakmu mengajariku agar aku bisa lulus seleksi di sekolah itu. Boleh?"
Melihat wajah Sakura yang begitu antusias membuat wajah Naruto memerah. Dan tanpa pikir panjang Naruto menyanggupi permintaan Sakura. Dia begitu senang saat membayangkan gadis yang ia suka berkunjung ke rumahnya.
Tapi bayangan Naruto ternyata tidak sesuai harapannya. Karena selama berada di rumah Naruto, Sakura hanya terus sibuk dengan Karin. Gadis itu bahkan tidak terlalu menganggap kehadirannya di sana.
Setelah hasil ujian akhir semester mereka diumumkan. Sakura selalu berada di rumah Naruto. Gadis itu dengan sangat semangat mengikuti semua pengajaran Karin. Karin bahkan juga terlihat senang saat mengajari Sakura.
"Wah, kalian semangat sekali ya?" Kushina masuk ke ruang tengah sambil membawa tiga gelas jus jeruk dan kudapan ringan. "Ternyata anak perempuan mama bisa manis seperti ini ya?"
"Hah? Apa maksud, Mama? Karin itu tidak ada manis-manisnya sama sekali!" ucap Naruto ketus.
"Naruto, jangan memanggil kakakmu seperti itu," balas Kushina.
Sedangkan Karin hanya berdecak ringan sambil mengambil satu kue kering dari toples yang dibawa Kushina tadi. "Biarkan saja, Ma. Aku juga sudah tidak pernah menganggap dia sebagai adikku. Di duniaku, aku ini adalah anak tunggal mama."
Naruto memasang wajah cemberut. "Mama lihat sendiri kan? Karin yang memulainya lebih dulu!"
"Kau yang memulainya, Naruto!" balas Karin. "Kau benar-benar berisik. Pergi sana ke kamarmu! Kau mengganggu Sakura saja di sini."
Dengan kesal, Naruto berdiri dari tempat duduk dan naik ke kamarnya di lantai dua. Melihat hal itu, Karin memasang wajah kemenangannya. Sedangkan Kushina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya itu.
"Sakura, maaf ya. Mereka berdua memang akrab sekali," ucap Kushina kepada Sakura.
Karin memandang wajah ibunya. "Kami tidak akrab, Ma."
Kushina bangun dari tempat duduknya sambil tertawa kecil. "Sudah, kalian lanjutkan saja belajarnya."
Suasana menjadi tenang tanpa kehadiran Naruto. Tapi hal itu tidak dapat bertahan lama karena Naruto kembali ke ruang tengah dengan membawa peralatan tulis dan bukunya.
"Kau mau apa, hah?" tanya Karin datar.
"Aku sudah memutuskan. Aku akan masuk ke Konoha High School juga, aku akan pergi ke sekolah yang sama dengan Sakura. Karena itu, mulai hari ini, aku ikut belajar bersama kalian," ucapnya panjang lebar.
Karin menghembuskan napas. "Terserahmu, Naruto. Asal kau jangan mengganggu Sakura. Sakura itu pintar tidak seperti dirimu yang bodoh."
Naruto mendelik mendengar ucapan Karin. "Dengar. Aku sudah bukan anak bodoh lagi. Apa kau tidak melihat nilaiku? Aku masuk sepuluh besar di angkatanku."
Karin terperangah sejenak mendengarnya. Gadis yang hampir berumur lima belas tahun itu menatap Sakura. "Benar, Sakura?"
Sakura mengangguk kecil. "Tapi dia hanya nomor sepuluh kalau aku tetap di posisi pertama."
"Kau sudah dengar itu, jadi sekarang ajari aku juga. Mengerti?"
"Paling tidak kau harus berbicara yang sopan denganku, Naruto!"
"Baik, baik. Jadi, ajari aku juga ya, Kakak?"
Dan sepertinya keinginan Naruto akhirnya tercapai karena ia bisa belajar bersama dengan Sakura. Bahkan terkadang Karin juga sering pergi meninggalkan mereka, entah pergi ke dapur atau pergi membeli sesuatu keluar.
Seperti sekarang, Karin tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Naruto sibuk dengan soal biologinya sedangkan Sakura sibuk dengan soal matematikanya. Gadis itu berhenti menulis saat ia tidak berhasil menjawab pertanyaan nomor sepuluh.
"Kenapa kau menghela napas seperti itu, Sakura?" tanya Naruto.
"Aku bingung dengan keliling bangunan gabungan ini," sahutnya.
Naruto menoleh sejenak ke soal Sakura kemudian mengambil kertas kosong dan mulai menghitungnya. "Lihat, jawabannya itu pilihan A, Sakura. Coba liat?" Naruto menyodorkan hasil hitungannya dengan wajah senang. Karena untuk pertama kalinya dia bisa menjawab soal yang sulit bagi Sakura.
Sakura menatap Naruto tidak percaya. Untuk pertama kalinya dirinya dikalahkan oleh Naruto. Harga dirinya tidak mengakui hal ini. Dengan wajahnya yang memerah karena kesal, Sakura meletakkan kertas hitungan Naruto di atas meja dengan cukup keras. "Hh! Aku benci denganmu, Naruto."
"Eh? Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?"
"Aku benci dengan orang bodoh sepertimu!" sahut Sakura ketus dan kembali menekuni soal matematikanya.
Dibiarkannya Naruto yang bengong mendengar pernyataan Sakura barusan. Sepertinya dirinya masih dianggap bodoh oleh Sakura. Dan saat itulah Naruto bertekad kalau dia akan belajar lebih keras sampai Sakura mengakui dirinya.
Bagi banyak orang dan juga bagi Naruto, Sakura adalah gadis yang kuat. Selama bertahun-tahun, Naruto berpikir seperti itu. Sakura itu pintar dan dia bahkan pintar bela diri. Tidak pernah ada laki-laki yang berani mengganggunya.
Tapi semua hal itu ternyata tidak benar. Bahkan seorang Sakura juga memiliki sisi rapuh. Dia tetaplah seorang gadis.
Hari itu adalah liburan musim panas di tahun kedua SMP. Naruto yang tidak memiliki acara hanya diam di kamarnya sambil membaca beberapa buku. Kalau dirinya pikir, dulu dirinya bahkan sangat anti dengan yang namanya buku pelajaran tapi sekarang buku pelajaran sudah tidak bisa lepas darinya. Dan semua ini berkat Sakura. Bahkan saat ia masuk Konoha High School, dia berhasil lulus dengan nilai yang bagus. Saat kelas satu SMP, dia bahkan berhasil menduduki posisi ketiga. Naruto bahkan merasa kalau Sakura kesal dengan hal itu. Tapi dia akan tetap berusaha sampai Sakura benar-benar mengakuinya.
Dan sepertinya hari ini adalah hari keberuntungannya. Di tengah cuaca yang panas ini, matanya dapat melihat Sakura yang berjalan di depan rumahnya. Dengan semangat, Naruto memanggil gadis itu dari jendela kamarnya di lantai dua.
"Hei, Sakura! Sakura!"
Berulang kali Naruto memanggil gadis itu tapi Sakura tidak menoleh ke arahnya. Mungkin suaranya terlalu kecil? Akhirnya Naruto turun ke lantai bawah dengan langkah berisik. Tanpa menghiraukan omelan Karin, Naruto keluar dari gerbang rumahnya dan mengejar Sakura.
"Sakura."
Tangan Naruto memegang pundak Sakura dan memaksa gadis itu berbalik. "Apa kau tidak mendengarku?" tanya Naruto sambil terengah-engah.
"Na ... ruto?"
Naruto terdiam begitu matanya bertemu dengan mata Sakura. Mata hijau yang selalu nampak ceria itu diselubungi kabut. Air mata nampak menggenang di pelupuk matanya.
"Sa-Sakura, kau kenapa?"
Tanpa disangka, Sakura malah menghambur ke pelukan Naruto. "Naruto, tolong aku," ucap Sakura sambil terus menangis.
Naruto tidak mengerti apa yang sudah terjadi dengan Sakura. Yang bisa dia lakukan saat itu hanyalah membiarkan Sakura menangis dalam pelukannya.
Setelah Sakura mulai tenang, Naruto membawa gadis itu pergi ke taman kompleks yang ada di dekat situ. Matahari sudah mulai turun di barat saat mereka duduk di ayunan yang ada di sana.
Anak-anak yang biasanya menghabiskan waktu mereka dengan bermain istana pasir juga sudah pulang semua. Yang tersisa hanyalah Naruto dan Sakura. Naruto dengan setia menunggu Sakura untuk berbicara. Menit-menit pembicaraan itu terasa begitu lama bagi Naruto.
Naruto memang tidak pernah merasakan kasih sayang ayah sejak kecil. Karena saat ia mulai bisa mengingat, ayahnya sudah tidak ada bersama mereka. Tapi ibunya memberikan dia kasih sayang yang berlimpah. Bahkan kakaknya yang galak itu juga selalu menyayanginya. Karena itu, dirinya agak sulit memahami perasaan Sakura sekarang.
Melihat diri Sakura yang selalu ceria dan penuh dengan kebahagian, Naruto tidak pernah menyangka kalau Sakura menahan beban yang seberat ini. Beban itu sudah ditanggungnya sejak kecil.
"Karena itu, aku selalu menghabiskan waktuku untuk belajar. Karena dengan begitu, aku bisa melupakan semua masalah keluargaku, Naruto," ucap Sakura saat ia mengakhiri ceritanya.
Naruto hanya bisa terdiam menyaksikan senyuman yang terasa begitu menyedihkan itu terpatri di wajah Sakura. Apa yang bisa ia lakukan demi Sakura? Selama ini, ia hanya menghabiskan waktunya untuk mengejar Sakura. Naruto tidak pernah mencari tahu mengenai pribadi dan perasaan Sakura.
"Tapi, Naruto. Aku bersyukur memiliki teman sepertimu. Kau selalu berada di sampingku, Naruto."
Naruto tersenyum. "Sakura, aku tidak akan membiarkanmu sedih terus. Aku akan selalu membuatmu tertawa. Aku janji."
Sakura tertawa kecil mendengar ucapan Naruto. "Terima kasih."
Setahun cepat berlalu setelah kejadian itu. Hari ini, Naruto dan Sakura pergi melihat pengumuman kelulusan bagi siswa yang berhasil masuk ke Konoha High School untuk jenjang SMA. Mata Naruto membulat saat melihat namanya berada di urutan paling atas dari daftar tersebut.
"Wah, selamat ya. Kau akan membacakan pidato saat upacara penerimaan siswa baru," ucap Sakura tersenyum. Tapi entah kenapa, di mata Naruto senyuman itu terlihat begitu menyeramkan.
"A-ah, iya."
Sakura kemudian pergi menjauhi kerumunan dan bersiap-siap untuk pulang.
"He-hei, Sakura. Kau tidak marah, kan?" tanya Naruto sambil mengejar Sakura dan menyamakan langkah mereka.
Sakura menghembuskan napas. "Bohong kalau aku berkata aku tidak kesal, Naruto."
Dalam hatinya, Naruto tertawa miris. Dia benar-benar tidak menyangka ternyata usahanya melebihi batas.
"Memang aku sedikit kesal karena aku dikalahkan oleh orang yang dulu bahkan paling bodoh di kelas. Tapi, Naruto. Aku juga senang. Karena aku tahu kau berusaha begitu keras untuk menyamaiku." Sakura tersenyum ke arah Naruto. "Hari ini, kau terlihat hebat sekali," lanjutnya dengan tawa kecil.
Perkataan Sakura spontan membuat wajah Naruto memerah. Apakah Sakura sudah bisa melihatnya sekarang? Apa Sakura sudah mengakuinya sekarang?
"Bagaimana kalau hari ini kau kutraktir, Sakura?"
Sakura terlihat sedikit berpikir. "Ah, tapi aku jauh lebih suka kalau kau mengajakku ke rumahmu. Kare buatan ibumu itu enak sekali, Naruto."
Naruto cemberut, padahal dia hanya ingin makan berdua dengan Sakura. "Aaahh ... baiklah, nanti aku akan menyuruh mama membuat kare. Aku jemput jam enam sore nanti, bagaimana?"
Sakura tersenyum ceria. "Oke."
"Oh, ajak Konohamaru saja sekalian. Anak itu juga suka kare, kan?"
"Haha ... baiklah. Kau tahu, Konohamaru itu benar-benar mirip denganmu. Dia selalu membuatku tertawa. Aku tidak menyesal tinggal dengan paman dan bibiku itu."
Naruto tidak terlalu suka jika pembicaraannya mengarah ke arah ini. Ini hanya akan membuat Sakura kembali bersedih. "Ngomong-ngomong, aku tidak tahu harus perbidato seperti apa nanti saat upacara penerimaan murid baru. Kau mau membuatkanku, kan?"
Sakura menghela napas pelan. "Anggap hal ini sebagai hadiahku karena kau berhasil mengalahkanku ya? Dan lihat saja, nanti aku pasti akan mengambil posisi pertama itu dari tanganmu."
Sayangnya harapan Sakura itu tidak pernah terkabul. Selama tiga tahun di SMA, Naruto selalu menempati posisi pertama. Bukan hanya terkenal sebagai murid paling pintar di sekolah, dia juga terkenal sebagai ketua OSIS yang paling disiplin.
Sedangkan Sakura terlihat lebih aktif di dalam klub teaternya, tapi dia masih bisa menempati posisi siswa kedua terpintar setelah Naruto. Banyak murid yang mengira kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih. Tapi saat wartawan klub jurnalistik mewawancari keduanya, hal itu tidak dibenarkan oleh mereka.
Jarak antara Naruto dan Sakura masih sama seperti dulu. Mereka hanya teman yang saling mendukung satu sama lain. Naruto begitu mengagumi Sakura dan Sakura juga mulai mengangumi Naruto semenjak laki-laki itu berhasil mengalahkannya.
Dan berkat suatu pembicaraan biasa di tengah musim dingin itu sepertinya hubungan Naruto dan Sakura mulai melebihi dari sekedar teman.
Sore itu begitu tenang, Naruto dan Sakura sedang senggang. Sehingga mereka memilih pergi ke kafe untuk membeli cokelat panas dan menghabiskan sore itu dengan mengobrol.
"Jadi, kau sudah memutuskannya, Sakura? Kau benar-benar yakin?" tanya Naruto lagi.
Sakura tertawa kecil. "Aku sudah bilang 'iya', Naruto. Kau sudah menanyakannya berkali-kali."
"Aku hanya tidak menyangka kalau kau tidak memilih Konoha University sepertiku. Tapi, kau lebih memilih Queen Anne Academy."
Sakura tersenyum simpul. "Seharusnya kau senang karena akhirnya aku tahu apa yang benar-benar aku inginkan. Aku suka bersandiwara, aku suka berada di atas panggung. Dan bahkan aku tahu, sebenci apapun aku terhadap orang tuaku, darah seni tetap mengalir dalam diriku."
Melihat gadis di hadapannya begitu bahagia, Naruto juga tersenyum senang. "Ah, itu artinya kita tidak bisa satu sekolah lagi, Sakura. Selama ini, aku selalu mengikutimu sejak SD. Tapi sekarang, aku sudah menentukan tujuanku juga."
"Haha ... apa ini artinya kau sudah menyerah terhadapku, Naruto?" tanya Sakura memancing.
"Aku bukan orang yang pantang menyerah, Sakura. Aku akan membuatmu tidak bisa menolak diriku."
"Aku ingin tahu apa kau akan bisa melakukannya, Naruto." Sakura menghirup cokelat panasnya.
"Kau seharusnya menanyakan hal itu kepada dirimu sendiri, Sakura. Apa kau bisa menolakku, hm?"
Sakura menghentikan gerakan cangkirnya dan menurunkannya kembali ke atas meja. "Lalu, kau memilih jurusan apa?"
Naruto tahu Sakura sedang berusaha mengubah topik pembicaraan tapi dirinya membiarkan hal itu. "Aku memilih jurusan pendidikan dokter."
Sakura mengerjapkan matanya. "Kau tahu, aku baru saja ingin tertawa ketika mendengarnya. Tapi aku lalu berpikir. Kenapa aku ingin tertawa? Kau yang sekarang adalah Naruto si siswa terpintar di sekolah. Tidak sepantasnya aku tertawa, kan?"
"Kau boleh tertawa, Sakura. Bahkan mamaku dan Karin tertawa saat mendengarnya. Aku pasti akan gagal, begitu kata mereka," ucap Naruto kesal. Sakura hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Hei, kau mau berjanji sesuatu padaku, Sakura?"
Sakura meminum cokelat panasnya lagi sebelum menjawab, "Tentu, berjanji apa, Naruto?"
Naruto tiba-tiba saja menegakkan tubuhnya dan memandang Sakura lekat-lekat. "Kalau aku lulus tes masuk jurusan pendidikan dokter, aku ingin kau menjadi pacarku, Sakura. Kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, Sakura."
Wajah Sakura memerah mendengar perkataan Naruto. Dengan pelan ia mengangguk, "Ba-baik, aku berjanji, Naruto."
Naruto tersenyum senang kemudian segera meraih cangkir cokelat panasnya dan menghabiskannya dengan sekali minum demi menghilangkan kegugupannya. Sejenak, hanya keheningan yang terasa di antara mereka sampai akhirnya Naruto memecah kesunyian tersebut.
"Menurutmu, apa aku akan lulus?" tanya Naruto.
Sakura mengangkat wajahnya kembali yang tadi menunduk. Pertanyaan Naruto sebenarnya mengandung makna tersirat yang lain. "Aku yakin kau akan lulus. Kau pintar, Naruto."
Naruto tertawa senang mendengar jawaban Sakura. "Haha ... sudah kuduga kau akan menjawab seperti itu, Sakura."
.
_End of Flashback_
.
Tanpa disadarinya, Naruto sudah sampai di depan pintu apartemennya di lantai tujuh. Apartemennya terletak cukup dekat dengan Konoha Hospital, tempat ia bekerja. Sebagai pusat bisnis, jalanan di Konohagakure memang sering kali padat. Karena itu, Naruto memilih membeli apartemen di sini.
Entah bagaimana caranya ia sampai di sini, Naruto tidak ingat. Pikirannya melayang ke masa lalu karena ucapan Shion di kantin tadi. Dihembuskannya napasnya perlahan dan menghilangkan jejak masa lalu itu. Direbahkannya tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur. Tanpa disadarinya, masa lalu kembali menyelimutinya.
Suasana ceria di sore hari yang dingin ya? Hari itu, Naruto menyatakan perasaannya terhadap gadis pujaannya itu. Dan dari jawaban Sakura, Naruto tahu kalau gadis itu juga memiliki perasaan terhadapnya. Bahkan, kalaupun dirinya tidak lulus tes masuk jurusan pendidikan dokter, Sakura juga pasti akan mau menjadi kekasihnya.
"Itu terakhir kalinya kita tertawa bebas, Sakura. Setelah kita pacaran, aku sibuk dan kau juga sibuk. Sampai akhirnya aku memaksa dirimu sore itu."
Naruto menghela napas panjang. "Seharusnya saat itu aku tidak memaksamu. Benar kan, Sakura? Paling tidak, sekarang mungkin kita masih bisa berteman."
"Tapi aku tetap senang bisa bertemu denganmu, Sakura. Karena dirimu, aku bisa menemukan impianku. Karena dirimu, aku bisa menemukan tujuan aku hidup. Kau juga pasti sudah sangat bahagia di sana kan, Sakura?"
Pertanyaan Naruto itu hanya terbawa udara di sekitarnya. Tak ada yang membalas ucapannya kecuali suara jam dinding di kamarnya.
"Kau tau apa, Sakura? Bahkan sekarang pun sepertinya aku masih sangat menyayangimu. Aku bahkan belajar lebih giat agar aku bisa melupakanmu, tapi tetap tidak bisa. Aku begitu menyedihkan, kan?"
Naruto tiba-tiba terbangun dari posisi tidurnya. "Tsk! Sial! Kenapa aku tiba-tiba menjadi melankolis seperti ini? Ah, ini semua gara-gara Shion."
Jika saja dulu Naruto tidak bertindak ceroboh, mungkin sekarang dia sedang bertelepon dengan Sakura, bercerita mengenai pasien-pasiennya dan betapa melelahkannya bekerja di rumah sakit.
.
.
.
Chapter 1 -END-
Author's Note: Sebenarnya saya tidak terlalu mengerti tentang sistem kelulusan di pendidikan dokter. Untuk lulus S1, S2, S3, sepertinya perlu waktu bertahun-tahun. Dan berhubung saya gak mau karakter Naruto menjadi terlalu tua, makanya saya buat dia itu sebagai karakter yang rajin dan giat sehingga dia bisa lulus cepet banget. Oh, OOC? Enggak saya rasa, soalnya dia punya alasan kenapa dia rajin :)
Terima kasih banyak buat yang sudah mereview chapter kemarin. Khususnya untuk:
Guest, NaruHina4Eva, Nagasaki, AmiiChan20, Kaoru-k216, krissica uchiharu, durarawr, Guest, Natsu819, zizikun94, little lily, uzuharuchi, guest, Ikha Hime, Nurul851, SH, yuka, Guest, sabrina. a. nisa, ChacaSavika, siiuchild, Mikasa, Anti SasuSaku, Guest, kHaLerie Hikari, MissReaLife, dylanNHL, Ade854, Guest, hime-chan, SHL, dvn, Han YeoJin, riskadwinurfajriati15. Terima kasih untuk reviewnya :D Love you all~~
Sekali lagi, terima kasih untuk yang sudah baca chapter ini :) Jangan lupa buat ninggalin komentar-komentar kalian di kotak review yaa ^.^
