Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
No commercial advantage is gained by making this fanfic.
.
This Fanfic by Tania Hikarisawa
[Tangled Ring, Chapter 2: Haruno Sakura]
—Warning: AU & typo(s)—
.
.
.
Tepuk tangan penonton dan teriakan 'Bravo' mengiringi langkah Sakura menuju belakang panggung. Setelah sampai di dalam ruang ganti, barulah suara riuh penonton tidak terdengar kembali. Pertunjukkan hari ini sangat sukses dan sekaligus menjadi hari terakhir pementasan drama karangan Yamanaka Ino tersebut.
"Wah, kau hebat seperti biasanya, Sakura. Aku tidak sabar untuk menghitung keuntungan kita hari ini," ucap Ino sambil memeluk Sakura sebentar.
"Haha ... kau yang hebat, Ino. Drama buatanmu memang selalu bagus. Saat pertama kali membaca skripnya, aku benar-benar tidak menyangka kalau akhir ceritanya akan menjadi seperti itu."
Ino tersipu mendengar komentar Sakura. "Ah sudah, aku tidak mau mengganggumu. Cepat ganti pakaianmu, ada seseorang yang menunggumu di luar."
Sakura memiringkan kepalanya sedikit karena heran. Dia ingin menanyakan siapa orang yang menunggunya itu, tapi Ino sudah lebih dulu keluar. Sakura kemudian duduk di meja rias, melepas sanggulan rambutnya sehingga rambut merah mudanya itu jatuh perlahan di atas bahunya.
Ditariknya napasnya perlahan kemudian menghembuskannya. Emosinya masih belum stabil akibat perannya di panggung tadi. Dia berperan sebagai gadis yang menjadi korban akibat perceraian orang tuanya.
Sakura tersenyum kecut saat mengingat dia mendapatkan peran itu dengan begitu mudah. Tentu saja itu mudah. Karena Sakura merupakan korban, sama seperti tokoh Elianor yang ia perankan. Dia benar-benar merasakan semua emosi yang Elianor rasakan. Hanya saja, Elianor mendapatkan akhir yang bahagia sedangkan dirinya? Ah, Sakura tidak terlalu berharap.
"Elianor, kau sangat beruntung. Kau memiliki Chris yang selalu ada untukmu. Sedangkan aku?" Sakura berhenti sebentar saat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku sudah membuang Chris yang ada dalam hidupku. Kalau aku memilih tidak pergi ke sini empat tahun yang lalu. Apa menurutmu, aku akan bahagia bersama dengan Chrisku, Elianor?" tanya Sakura pada pantulan dirinya sendiri yang ada di cermin.
Selama empat tahun ini, Sakura berjuang keras menjadi aktris opera di Sunagakure. Aktris opera yang berada di bawah naungan Queen Anne Troupe. Dan sekarang, dia sudah mendapatkan keinginannya. Di umurnya yang ke-27 tahun ini, ia merupakan aktris yang paling digandrungi saat ini. Semua drama panggung yang diperankan olehnya selalu memperoleh komentar positif dan selalu mendapatkan banyak keuntungan.
Sakura sudah mendapatkan semuanya kecuali dua hal. Keluarga dan Chrisnya.
.
_Flashback_
.
Hari itu, cuaca di Konohagakure sangat panas. Sakura hanya diam di kamarnya dengan AC yang terus menyala sepanjang hari. Bosan dengan buku yang sedang dibacanya, akhirnya Sakura memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Sakura tidak ingat berapa jam ia tertidur karena tiba-tiba saja ia terbangun saat mendengar suara barang pecah yang kemudian diiringi dengan suara teriakan. Dengan langkah cepat, Sakura segera keluar dari kamarnya dan pergi ke arah suara berisik itu berasal.
Begitu sampai di ruang tengah, Sakura berdiri mematung tepat di pintu masuk. Mata hijaunya membulat saat melihat tangan ayahnya menampar wajah ibunya. Dada Sakura tiba-tiba terasa sesak. Ingin sekali dia berteriak tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
"Berani sekali kau menamparku?!" teriak Mebuki dengan air mata yang mengalir di wajahnya.
Kizashi mundur selangkah saat menyadari hal yang baru saja ia lakukan. "Me-Mebuki ... maaf, aku tidak ... aku tidak ...,"
"Kalau kita terus begini, lebih baik kita bercerai saja! Aku benar-benar tidak sanggup lagi hidup denganmu! Kau mengekangku! Seolah-olah aku ini adalah barang!"
Wajah Kizashi memerah saat mendengar ucapan Mebuki. "Aku sangat mencintaimu, Mebuki. Aku tidak ingin ada laki-laki lain yang melirikmu. Apa aku salah?!"
"Pikiranmu memang tidak salah! Tapi caramu yang salah! Aku dan Shikaku itu hanya berteman. Kami satu universitas dulu. Kami berencana membuat konser penggalangan dana bulan depan, hanya itu! Di mana salahku, hah?!" Satu vas bunga lagi-lagi terlempar ke lantai.
"Aku tidak buta, Mebuki. Jelas sekali kalau Shikaku mencoba mendekatimu, tapi kau membiarkannya! Coba kau berada di posisiku, kau pasti juga melakukan hal yang sama!" balas Kizashi berteriak.
"Kau pikir hanya kau yang merasakannya?! Aku juga tidak suka melihatmu dekat dengan penyanyi-penyanyi perempuan itu. Tapi, aku diam saja. Kau tahu kenapa? Karena aku percaya denganmu! Tapi kau?! Kau tidak pernah mempercayaiku!" teriak Mebuki.
Kizashi berteriak kencang sebelum membalas ucapan Mebuki. "Karena itu aku memintamu berhenti bermain piano! Kalau kau melakukannya, aku akan mempercayaimu! Pianomu itu yang membuat banyak laki-laki terus mendekatimu. Apa kau sadar, hah?"
PLAK!
Kali ini Mebuki yang menampar wajah suaminya. "Piano adalah impianku, Kizashi. Kau tahu itu! Dulu, kau menyuruhku untuk berhenti melakukan konser piano karena kita memiliki Sakura. Aku mau melakukannya! Tapi, jika kau menyuruhku untuk meninggalkan piano ... aku tidak bisa!"
"Lihat! Kau terus saja melawan!"
"Kalau aku menyuruhmu untuk berhenti menjadi produser. Apa kau mau melakukannya?! Tidak, kan?! Aku pun sama, Kizashi!" bentak Mebuki. "Aku sudah tidak tahan, lebih baik kita bercerai!"
Napas Kizashi terlihat tersengal-sengal, dia sangat marah mendengar semua ucapan istrinya itu. "Baik, kita bercerai. Kau puas, kan?!" bentak Kizashi dan berjalan menjauh dari istrinya itu.
Saat pria itu membalik badannya, matanya membulat melihat putri semata wayangnya menitikkan air mata tepat di hadapannya. "Sa-ku-ra?"
Seketika itu juga Mebuki menoleh dan mendapati putrinya sedang menangis.
"Aku benci dengan kalian!" teriak Sakura kemudian pergi dari rumahnya. Sepanjang jalan, pikiran Sakura melayang jauh. Bagaimana mungkin keluarganya bisa hancur seperti ini? Sakura berharap ini semua hanyalah mimpi.
Tapi, saat badannya dibalik paksa dan matanya dapat melihat wajah Naruto yang cemas. Gadis itu tahu kalau semua ini bukanlah mimpi. Ini nyata. Senyata pelukan Naruto yang begitu hangat ini.
"Naruto, tolong aku," ucapnya pelan sambil terus menangis dalam pelukan temannya itu.
Sakura tidak tahu bagaimana cara Naruto membawa dia pergi dan sampai di taman kompleks yang ada di dekat situ. Matahari sudah mulai turun di barat saat mereka duduk di ayunan yang ada di sana.
Anak-anak yang biasanya menghabiskan waktu mereka dengan bermain istana pasir juga sudah pulang semua. Yang tersisa hanyalah Sakura dan Naruto.
"Ayah dan ibuku akan bercerai," ucap Sakura memecah keheningan. Tapi Naruto tidak membalas ucapan temannya itu. Dibiarkannya Sakura terus berbicara dan dia dengan setia mendengarkannya.
"Mereka selalu saja bertengkar sejak aku kecil. Tapi, aku tidak pernah menyangka kalau mereka akan bercerai. Apa mereka tidak menyayangiku? Padahal aku ini anak mereka satu-satunya," jelas Sakura sambil berusaha menahan tangisnya.
Sakura tahu mengatakan semua ini di depan Naruto tidak akan mengubah kenyataan, tapi hal ini paling tidak dapat menenangkan perasaannya sedikit.
Sejak Sakura berbicara, Naruto tidak mengucapkan satu kata pun. Dan keheningan ini benar-benar membuat Sakura merasa tidak nyaman. Tiba-tiba saja ia merasa menyesal mengatakan semua ini terhadap Naruto. Pasti hal ini membuat laki-laki itu tidak nyaman.
Hidupnya memang berbeda sekali dengan Naruto. Jika Naruto selalu mendapat kasih sayang yang berlimpah dari ibunya, Sakura sangat jarang bisa berkumpul dengan orang tuanya. Ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai produser sedangkan ibunya sibuk mengajar les piano bahkan wanita itu lebih sering mengurung dirinya di studio.
"Karena itu, aku selalu menghabiskan waktuku untuk belajar. Karena dengan begitu, aku bisa melupakan semua masalah keluargaku, Naruto," ucap Sakura saat ia mengakhiri ceritanya.
Sakura memaksakan sebuah senyum di wajahnya agar Naruto tidak merasa tidak nyaman. Sakura tidak mengharapkan apa-apa dari Naruto, dia hanya memerlukan seseorang yang mendengarkan ceritanya saja.
"Tapi, Naruto. Aku bersyukur memiliki teman sepertimu. Kau selalu berada di sampingku."
Laki-laki itu akhirnya tersenyum. "Sakura, aku tidak akan membiarkanmu sedih terus. Aku akan selalu membuatmu tertawa. Aku janji."
Ah, kata-kata itulah yang menyelamatkan Sakura. Inilah Naruto yang selama ini ia kenal. Mendengar hal tersebut membuat Sakura tertawa kecil. "Terima kasih."
.
_End of Flashback_
.
Akhirnya Sakura selesai membenahi dirinya. Riasan wajahnya yang tebal sudah tergantikan dengan riasan wajah yang tipis. Gaun mewah yang menjadi sorotan saat drama panggung berakhir sudah menjadi gaun malam yang sangat sederhana.
"Terima kasih kerja kerasnya. Aku pergi dulu," pamit Sakura kepada pemain-pemain perempuan yang lain. Setelah mendengar berbagai balasan, Sakura kemudian meninggalkan ruang rias tersebut.
Dia menjadi penasaran dengan ucapan Ino. Siapa orang yang ingin menemuinya? Sesampainya di lobi, rasa penasaran itu terjawab. Di hadapannya berdiri seorang pria dengan jas berwarna hitam sambil membawa sebuket bunga mawar merah.
"Pertunjukkan yang bagus, Sakura. Ini untukmu," ucap pria tersebut sambil menyerahkan bunga mawar itu kepada Sakura.
Wajah Sakura tersipu saat menerimanya. "Terima kasih banyak, Neji. Bunganya cantik sekali."
"Aku tidak ingin kita berdiri saja di sini. Makan malam denganku?"
Sakura segera mengalungkan tangannya di lengan Neji. "Tentu. Aku kaget melihatmu di sini. Kalau tidak salah kau bilang tidak akan bisa menonton pertunjukkan drama ini, kan?"
"Apa aku berkata seperti itu? Drama ini diadakan selama dua minggu. Paling tidak aku harus menyempatkan diri untuk menontonnya di hari terakhir, kan?" Senyum kecil tersungging di wajah Neji saat ia menoleh ke arah Sakura.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Sakura dengan mata berbinar.
Neji diam sebentar karena mereka sudah sampai di parkiran. Begitu keduanya masuk ke dalam mobil barulah Neji menjawab pertanyaan Sakura. "Kau bermain dengan sangat bagus seperti biasanya, Sakura."
"Benarkah?"
Dari matanya, Sakura dapat melihat Neji yang menghela napas. "Apa kau tidak puas dengan jawabanku? Kalau aku menjawab dengan sungguh-sungguh, kau yakin dirimu tidak akan menangis? Aku tidak mau makan malam dengan wanita yang riasan wajahnya luntur."
Sakura tertawa kecil mendengarnya. "Benar juga. Jadi kita makan di mana?"
Sahutan Neji menjadi akhir dari percakapan mereka di mobil malam itu. Dari sekian banyak orang yang Sakura kenal di Sunagakure, Neji adalah salah satu orang yang tahu perihal perceraian orang tuanya dan itulah yang membuat Neji bersikap seperti ini sekarang.
Saat mobil mereka berhenti karena lampu lalu lintas, Neji bahkan sempat menggenggam tangan Sakura sekilas seperti mengatakan, 'Kau kuat, Sakura. Ada aku di sini.' Dan hal itu membuat Sakura benar-benar merasa senang dan nyaman.
"Ayo turun," ucap Neji tiba-tiba.
"Eh, kita sudah sampai? Kau tidak membukakan pintu untukku, Neji?" canda Sakura.
Neji memutar bola matanya, "Kau bukan anak-anak. Ayo cepat turun."
Dan sekarang akhirnya mereka berdua sudah berada di dalam restoran yang selalu menjadi langganan mereka berdua. Sakura sudah mengenal Neji selama tiga tahun. Mereka bertemu karena Sakura yang tidak sengaja bertemu dengan adik Neji. Gadis itu sedikit tersesat saat berada di Sunagakure.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Hinata? Dia baik-baik saja?" tanya Sakura sedikit berbasa-basi.
"Kau lebih memilih menanyakan kabarnya. Kau tidak menanyakan kabarku?"
Sakura tersenyum saat melihat ekspresi dingin Neji. Neji memang orang yang berwajah dingin, jadi saat ia bercanda seperti ini benar-benar terasa aneh. "Kau terlihat baik-baik saja di mataku. Apa saham perusahaanmu turun?"
"Itu perusahaan ayahku, Sakura."
Dan ini adalah hal lain yang Sakura suka dari Neji. Walaupun Neji adalah pewaris Hyuuga Corporation tapi dia tidak sombong. Dan dia juga tidak pernah menyebut-nyebut kekayaannya di depan Sakura padahal Sakura tahu pasti kalau laki-laki berumur tiga puluh tahun ini sangat kaya.
Karena tidak ada yang membuka percakapan lagi, Sakura akhirnya melihat-lihat berkeliling. "Makanannya lama sekali ya," ucapnya sambil lalu.
Dan saat matanya kembali bertemu dengan Neji, Sakura hanya tersenyum ceria seperti biasanya. "Neji, kau terlihat berbeda hari ini. Ada apa?"
Raut wajah Neji tiba-tiba melembut. "Benarkah?"
Sakura hanya mengangguk. Sedangkan Neji dengan lembut menggenggam tangan Sakura yang ada di atas meja dengan kedua tangannya. "Neji?" tanya Sakura bingung.
"Sakura, dengarkan aku."
Tiba-tiba saja suasana menjadi agak aneh bagi Sakura. Jika ada yang bertanya bagaimana perasaannya terhadap Neji. Sakura tidak tahu harus menjawab apa. Karena baginya, Neji adalah temannya. Dan Sakura menyayangi Neji sebagaimana ia menyayangi teman-temannya yang lain. Karena itulah, saat Neji melakukan hal ini, Sakura hanya bisa diam saja.
"Sakura, kita sudah berteman sangat lama. Aku sudah tidak bisa menahan perasaanku lagi. Aku mencintaimu, Sakura. Aku ingin kau menjadi pacarku, Sakura."
Semua kalimat itu benar-benar tipikal seorang Neji. Tidak banyak basa-basi dan langsung menuju pokok persoalan. Sakura sendiri tidak tahu harus berkata apa, dia bingung dengan perasaannya sendiri. Lebih bingung lagi saat ia sadar kalau jantungnya berdetak lebih cepat ketika matanya bertemu dengan mata Neji.
"Ne-Neji, aku ... aku ...,"
Melihat Sakura yang kebingungan, Neji melepas genggamannya. Pria itu tersenyum kecil. "Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, Sakura. Pikirkan saja dulu."
Setelahnya hanya keheningan yang melingkupi mereka berdua. Neji sibuk mencari objek pengalihan sedangkan Sakura hanya menunduk. Keheningan itu akhirnya hilang ketika pelayan membawakan makanan pesanan mereka.
"Sakura, ayo kita makan," ajak Neji.
"Tu-tunggu, Neji," balasnya. Gadis itu sudah tidak menundukkan kepalanya lagi. "Aku ingin membicarakan sesuatu sebelum menjawab pertanyaanmu tadi. Kau harus tahu mengenai masa laluku, Neji."
Neji memandangnya, "Apa kau membicarakan orang tuamu, Sakura? Aku sudah mendengarnya darimu dan itu tidak menggangguku sama sekali. Karena aku mencintai dirimu bukan keluargamu."
Sakura menggeleng lemah. "Aku ingin membicarakan soal pacarku sebelumnya."
Neji meletakkan garpu yang baru saja ia ambil. Pria itu berdeham sekali. "Itu hanya masa lalu, Sakura. Aku juga punya masa lalu. Dan aku tidak mempersalahkan hal itu karena aku juga tidak suka orang lain mempersalahkan hal itu dariku."
Sakura tersenyum, "Aku tahu, Neji. Tapi aku ingin menceritakannya padamu. Aku ingin setelah mendengarkan cerita ini, kau memikirkan kembali permintaanmu tadi."
Neji menghela napas. "Baik, Sakura. Aku akan mendengarkanmu."
.
_Flashback_
.
Ini pertama kalinya Sakura melihat wajah Naruto yang begitu bahagia. Nama laki-laki itu berada pada urutan paling atas bagi peserta yang lulus ujian tes masuk pendidikan dokter. Sakura ikut tersenyum melihatnya. Sejak kapan laki-laki ini begitu hebat? Dan sejak kapan dirinya bisa begitu tersihir akan senyumnya itu?
"Sakura?" nada panggilan Naruto terdengar sangat ceria apalagi ditambah dengan cengiran lebar di wajahnya.
"Kau hebat, Naruto. Kau senang?"
"Haha ... tentu saja, Sakura. Aku bukan hanya lulus tes, tapi aku juga berhasil memenangkanmu. Kau tidak akan mengingkari janjimu, kan?"
Wajah Sakura seketika memerah. "A-ah? Ti-tidak, tentu tidak."
"Eeh? Kenapa kau jadi gugup begitu. Nah, bagaimana kalau aku traktir ramen? Memang sudah musim semi tapi suhunya masih cukup dingin, kan?"
Sakura hanya tersenyum sambil mengangguk. Ah, walaupun Naruto mengatakan suhu udaranya dingin tapi kenapa Sakura merasa begitu panas. Apalagi saat Naruto menggenggam tangannya dan membawanya menjauh dari gerbang Konoha University, jantung Sakura seakan-akan ingin meledak.
Hari itu adalah hari paling membahagiakan bagi Sakura. Ramen buatan paman Teuchi juga terasa sangat lezat hari itu, Sakura bahkan tidak berpikir dua kali untuk memakan mangkok keduanya sehingga membuat Naruto terheran-heran.
Setelah kejadian itu, hidup Sakura terasa sangat bahagia. Masalah keluarnya benar-benar terlupakan. Dia bahkan tidak peduli dengan keinginan ayah atau ibunya yang memaksanya untuk tinggal bersama salah satu dari mereka. Lagipula dia sudah bahagia hidup dengan paman, bibi dan sepupunya. Apalagi sekarang ada Naruto yang akan selalu ada di sampingnya.
Bukan hanya soal kehidupan pribadinya, kehidupan sekolahnya juga sangat menyenangkan. Dia berkenalan dengan Ino Yamanaka. Jika Sakura adalah wajah dari drama panggung maka Ino adalah punggung yang selalu menyokong setiap drama.
Diumurnya yang ke-22 tahun, Sakura berhasil menamatkan pendidikannya. Bahkan dia sudah diminta bekerja di Rosemary Troupe yang sangat terkenal di Konohagakure. Di hari kelulusannya itu, kedua orang tuanya tidak hadir. Sakura memang tidak terlalu berharap dengan dua orang yang lebih mengutamakan pekerjaannya ketimbang anaknya sendiri. Lagipula sudah ada paman dan bibinya yang hadir, ditambah lagi ...
"Tada! Selamat, Sayang," Naruto segera memeluk Sakura begitu gadis itu keluar dari ruangan wisuda. Sebuah buket bunga mawar besar telah berpindah tangan ke tangan Sakura.
Sakura membalas pelukan kekasihnya itu dan mencium bibir laki-laki tercintanya itu sekilas. "Terima kasih, Naruto. Aku pikir kau tidak akan datang."
"Tidak mungkin aku tidak datang di hari bahagiamu ini, Sakura," ucap Naruto dan melepas pelukan mereka. "Coba lihat sekarang, kau lebih dulu lulus dariku."
Sakura tertawa mendengar nada merajuk Naruto. "Memang, tapi kau belajar jauh lebih keras dariku. Terbukti dari kantung matamu itu, Naruto."
Naruto terlihat sedikit gelagapan. "Apa masih terlihat? Padahal kemarin aku sudah mengompresnya."
"Bahkan kompresan tidak membantu menghilangkan jejak-jejak kerja kerasmu, Naruto. Aku bahagia memiliki pacar yang pekerja keras sepertimu."
Tak tahan dengan ucapan Sakura, Naruto kembali memeluk gadisnya itu. "Kau yang membuatku menjadi seperti ini. Ini salahmu, Sakura."
"Tapi aku tidak menyesal dengan perbuatanku yang membuatmu menjadi seperti ini."
Dan ternyata kata-kata itu terbukti tidak benar. Setahun begitu cepat berlalu, Sakura menghabiskan waktunya menjadi aktris di Rosemary Troupe. Dia berusaha keras agar bisa tampil di atas panggung dan saat penghujung tahun, dia berhasil mendapatkan peran tokoh perempuan utama kedua.
"Hei, Sakura, Queen Anne Troupe sedang membuka lowongan pekerjaan. Kau mau ikut audisi denganku?"
Pertanyaan Ino yang sangat tiba-tiba itu membuat mata Sakura membulat. "Queen Anne Troupe? Queen Anne Troupe yang itu?!"
"Benar, bodoh! Troupe yang sangat terkenal di Sunagakure. Jika kita berhasil masuk di sana, masa depan kita sudah pasti cerah, Sakura. Aku akan menjadi penulis drama panggung ternama dan kau akan menjadi aktris terkenal. Bagaimana? Coba kau bayangkan itu, Sakura?"
Dan tanpa berpikir panjang, Sakura mengambil kesempatan emas tersebut. Di umurnya yang ke-23 tahun, dia sudah sah menjadi aktris yang berada di bawah naungan Queen Anne Troupe.
Hari ini, ia dan Naruto akan berkencan. Sakura benar-benar menantikannya karena belakangan ini mereka berdua sangat disibukkan dengan urusan masing-masing. Cuaca yang dipenuhi guguran bunga Sakura menyambut kencan mereka. Dan hari itu juga, Sakura akan memberikan kabar gembira tentang kelulusannya pada audisi Queen Anne Troupe.
"Yo, Sakura," sapa Naruto seperti biasanya dan memeluk Sakura. Entah kenapa, pelukan itu terasa begitu aneh dan terkesan sangat lama. Bahkan saat Sakura melepasnya, Naruto seakan-akan menolaknya.
"Ah, aku sangat merindukanmu, Naruto," ucap Sakura kemudian memeluk lengan Naruto. Tapi Naruto malah melepas pelukan tangan Sakura dan beralih menggenggam tangan gadis itu. Genggamannya terasa erat sekali.
Hari sudah sore ketika mereka bertemu di taman. Kencan hari ini mungkin hanya akan dihabiskan dengan berjalan-jalan di taman yang dipenuhi dengan pohon sakura yang sedang berbunga.
Melihat pacarnya tidak berbicara, Sakura merasa sedikit aneh. "Ada apa, Naruto? Kau terlihat berbeda hari ini."
Genggaman tangan Naruto terasa lebih erat. "Aku? Aku tidak apa-apa," sahutnya sambil menoleh ke arah Sakura.
Di mata Sakura, senyum Naruto terlihat sangat dipaksa. Sepertinya laki-laki ini sedang ada masalah. Baiklah, Sakura akan menunggu sampai Naruto sendiri yang ingin menceritakan hal itu padanya. Jadi, selagi menunggu, Sakura yang akan memulai percakapan.
"Naruto, kau ingat soal audisi Queen Anne Troupe?" tanya Sakura.
"Hmm ... tentu."
"Kemarin itu pengumumannya dan aku lulus. Bulan depan aku akan segera berangkat ke—"
"Sakura," ucap Naruto dan memotong kalimat Sakura. Karena langkah Naruto terhenti, Sakura juga ikut menghentikan langkahnya. Pria itu melepas genggaman tangannya kemudian memegang kedua pundak Sakura.
Saat mereka saling berhadapan, barulah Sakura dapat melihat mata Naruto yang berkabut. "Na-Naruto, ada apa? Kalau kau ada masalah, ceritakan padaku. Kenapa kau memendamnya seperti ini?"
Laki-laki itu menarik napas panjang sebelum menatap mata Sakura. "Sakura, aku ingin kita menikah."
Sakura membulatkan matanya terkejut. Dia tidak pernah berpikir kalau Naruto akan mengatakal hal tersebut secepat ini. "Ke-kenapa tiba-tiba sekali?"
Kedua tangan Naruto yang semula berada di pundak Sakura turun perlahan dan akhirnya menggenggam kedua tangan Sakura. "Karena aku sangat mencintaimu, Sakura."
"Tapi, tapi ... aku ... aku harus ke Sunaga—"
"Dan aku harus ke Kirigakure, Sakura." Lagi-lagi Naruto memotong ucapan Sakura. "Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahku di Kiri University. Bisa kau bayangkan betapa senangnya aku? Aku bisa kuliah di Kirigakure, pusatnya pendidikan, Sakura."
Sakura mengernyitkan alisnya. "Aku baru mendengarnya hari ini. Kau tidak pernah mengatakan akan ke Kirigakure, Naruto."
"Awalnya aku ingin memberi kejutan kepadamu. Tapi setelah mendapatkannya, aku menjadi bingung. Di satu sisi, aku sangat ingin pergi ke sana, aku ingin menjadi dokter yang bisa menyelamatkan banyak orang. Tapi, di satu sisi, aku juga tidak ingin berpisah denganmu, Sakura."
Ah, ekspresi Naruto benar-benar terlihat sangat menderita di mata Sakura. "Kenapa kau khawatir, Naruto? Aku adalah pacarmu dan aku akan selalu mendukungmu. Walaupun kita tidak tinggal berdekatan tapi aku yakin kalau kita—"
"Kau tidak mengerti, Sakura," potong Naruto dengan pelan. "Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu, Sakura. Jika kita menikah, kau pasti akan selalu berada di sampingku, kan?"
Semakin lama Sakura semakin mengerti arah ucapan Naruto. Laki-laki ini memintanya pergi bersamanya ke Kirigakure. "Tapi, Naruto. Aku juga punya impian sama seperti dirimu. Masa depanku akan cerah jika aku bisa tampil di Sunagakure, negara itu pusat seni dan kebudayaan. Aku tidak bisa menikah sekarang."
"Bukannya kau mengatakan akan mendukungku? Lalu kenapa sekarang kau malah bersikap seperti ini, Sakura?!"
Jantung Sakura berdegup lebih keras saat nada ucapan Naruto semakin meninggi. "Kau juga bukannya mengatakan akan mendukungku?! Kenapa sekarang kau tiba-tiba egois seperti ini?!"
"Egois?! Kau bilang aku egois?! Tidak, Sakura. Kau yang egois!" Naruto menghentikan ucapannya saat dirinya sadar telah meninggikan suaranya. "Ma-maaf, Sakura ... aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya ingin kita terus bersama. Jika kita menikah, aku bisa memastikan kalau hanya aku yang memilikimu dan tidak ada seorang—"
Detik itu juga Sakura menampik kedua tangan Naruto. "Apa selama ini kau menganggap aku seperti itu, Naruto?! Memilikiku? Apa kau pikir aku ini barang? Aku ini manusia, Naruto. Aku juga punya mimpi dan aku ingin mewujudkannya. Aku tidak ingin membuang mimpiku hanya demi menikah denganmu!"
Dada Sakura sedikit terengah-engah, dia sangat marah mendengar semua ucapan Naruto. Dan entah kenapa, memori pertengkaran orang tuanya melintas di kepalanya saat ini.
"Kenapa kau tidak berusaha mengerti perasaanku, Sakura?!"
"Kau sendiri bagaimana, Naruto? Kau juga tidak mengerti perasaanku, kan?! Jika aku menyuruhmu untuk menghentikan kuliahmu, apa kau bisa?! Tidak, bukan? Ini sama halnya denganku, Naruto. Bagiku, impianku adalah hal yang utama saat ini," ucap Sakura panjang lebar.
Mata Naruto membulat mendengar ucapan Sakura. Wajahnya yang semula tegang perlahan-lahan mulai melemas. "Jadi begitu? Baik, aku mengerti. Sepertinya hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi, Sakura. Kau lebih mengutamakan mimpimu, kan?"
Sakura tidak menjawab pertanyaan Naruto. Kenapa hubungan mereka harus seperti ini? Kenapa pertengkaran mereka sangat mirip dengan pertengkaran orang tuanya sendiri? Impian mereka masing-masing telah membuat jurang pemisah yang sangat dalam.
"Setelah aku pikirkan. Jika aku disuruh memilih antara dirimu atau cita-citaku. Aku juga memilih cita-citaku. Sama sepertimu."
Sakura menarik napas dalam saat ia tahu bahwa pembicaraan mereka akan segera berakhir. "Lebih baik kita cukup sampai di sini, Naruto. Sepertinya ini tidak akan berhasil." Sakura menundukkan wajahnya, dia tidak berani menatap wajah Naruto saat ini.
"Mungkin kau ada benarnya," balas Naruto diikuti dengan helaan napas. "Kalau begitu, aku pergi duluan," lanjut Naruto dan meninggalkan Sakura di sana.
Baru setelah itu Sakura mengangkat wajahnya dan yang dapat ia lihat hanyalah punggung Naruto yang semakin menjauh. Punggung itu terlihat begitu sedih dan rapuh. Tanpa disadarinya, air mata menetes dari matanya.
Ah, dia baru saja putus. Hubungan mereka berakhir sama seperti kedua orang tuanya. Sakura tidak menyangka kalau hal yang sama akan terjadi pada dirinya. Dia tiba-tiba ingat, matahari juga terbenam seperti ini saat Naruto mengatakan perasaannya dulu. Tapi sekarang, matahari sore juga yang menjadi saksi bisu berakhirnya hubungan mereka.
Di antara sekian orang yang berada di taman itu, Sakura adalah satu-satunya orang yang sedang tidak menikmati indahnya bunga sakura. Dadanya terasa sesak sekali dan ia masih menangis tapi tak terdengar suara isakan sekali pun. Dia jadi bertanya-tanya, apakah orang tuanya merasa seperti ini juga pada saat mereka bercerai.
.
_End of Flashback_
.
"Kau sudah selesai?" pertanyaan Neji terdengar begitu dingin di telinga Sakura. Sakura hanya bisa mengangguk. Hal itu sudah terjadi empat tahun yang lalu, tapi dia masih belum bisa melupakannya. Perpisahan orang tuanya dan juga perpisahannya dengan Naruto membuatnya menjadi sedikit trauma.
Keadaan menjadi hening saat tidak ada yang berbicara di antara mereka berdua.
"Sakura," ucap Neji tiba-tiba. Tiba-tiba saja pria itu sudah berada di sampingnya dan memeluknya dengan erat. Posisinya yang duduk dengan Neji yang berdiri sambil memeluknya membuat wajah Sakura bertemu langsung dengan tubuh Neji.
"Kau sudah mendengar semuanya, Neji. Inilah aku yang sebenarnya. Aku adalah orang yang egois. Aku pasti akan lebih memilih pekerjaanku daripada dirimu."
"Kau benar, Sakura. Setelah mendengar semua ceritamu, aku mengubah pikiranku," ucap Neji. Perkataan itu membuat Sakura tersenyum kecut.
Lagi-lagi hanya keheningan menyergap mereka. Tapi Neji masih tetap memeluknya. "Aku tidak ingin menjadikanmu pacarku, Sakura."
Ah, seperti perkiraan Sakura. Siapapun pria yang mendengar masa lalunya pasti akan berpikir ulang mengenai dirinya. Pria manapun di dunia ini pasti tidak ingin jika harus mengikuti keinginan kekasihnya dan membuang keinginannya sendiri.
Perlahan pelukan Neji terlepas. Pria itu kemudian sedikit menundukkan wajahnya dan memaksa Sakura menengadah menatapnya. "Neji?"
"Lihat dan dengarkan aku, Sakura. Aku adalah Neji dan bukan Naruto. Seperti yang aku katakan, aku tidak ingin menjadi pacarmu lagi ... tapi aku ingin kau menjadi istriku, Sakura."
"Eh? Ne-Neji ...,"
Ekspresi wajah Neji tiba-tiba melembut dan terlihat sebuah senyuman yang sangat jarang dikeluarkan oleh pria itu. "Aku mencintaimu, Sakura. Dan aku juga mencintai pekerjaanmu. Aku jatuh cinta padamu saat aku pertama kali menontonmu di atas panggung. Aku juga memiliki impian sama sepertimu Sakura. Jika aku disuruh memilih antara dirimu dan impianku, aku juga memilih impianku."
Sakura langsung menundukkan wajahnya. "Benar, kan? Semua orang pasti seperti itu. Hubungan kita pasti akan berakhir juga, Neji."
Neji lagi-lagi memaksa Sakura menengadahkan wajahnya. Walau ada sedikit genangan air mata di pelupuk mata Sakura, Neji membiarkannya dan melanjutkan perkataannya. "Impianku saat ini adalah membuatmu bahagia, Sakura."
Sakura termenung mendengar ucapan Neji. Hatinya terasa sangat hangat saat Neji mengucapkan hal tersebut. "Kenapa?"
Neji sedikit menaikkan alisnya mendengar pertanyaan Sakura. "Karena dengan melihatmu bahagia, aku juga menjadi bahagia. Di dunia ini, aku sudah mendapatkan segala-galanya kecuali kebahagiaanku. Dan saat aku bertemu denganmu, aku tahu bahwa kau adalah orang yang bisa memberikan kebahagiaan itu, Sakura."
Lagi-lagi Neji tersenyum menatap Sakura. "Sama seperti Chris yang selalu ada untuk Elianor. Aku juga ingin menjadi Chris dalam hidupmu, Sakura," lanjut Neji sambil mencium kening Sakura. Neji bahkan tidak peduli kalau sekarang ia sedang berada di tengah-tengah restoran.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, Sakura. Aku akan menunggu jawabanmu," kalimat itu mengakhiri pembicaraan serius mereka malam itu. Selanjutnya, mereka hanya menyantap makan malam yang sesekali diisi cerita Neji mengenai adik-adiknya atau cerita Sakura mengenai peristiwa lucu sebelum pertunjukkan drama tadi.
Selama ini, Sakura menganggap Naruto adalah Chris yang sudah ia sia-siakan kehadirannya. Dan sekarang di hadapannya ada laki-laki yang ingin menjadi Chris dalam hidupnya dan siap melakukan apapun demi kebahagiannya. Tapi Sakura tidak ingin mengambil keputusan yang gegabah. Ia tidak ingin Neji berakhir sama seperti Naruto.
.
.
.
Chapter 2 -END-
Author's Note: Untuk karakter Elianor dan Chris itu hanya karakter karangan saya aja ya hehe... Jadi mereka itu ada di dalam drama karangannya Ino. Terima kasih banyak buat yang sudah mereview chapter kemarin. Khususnya untuk:
dylanNHL, Green Oshu, onyx dark blue, hikari-chan, malaikat008, nada. nada. 5059601, hanahana, puterateluan1, Geust, Spring Oh Shasha, aiko, kara, beb, durarawr, Haruka Hime-chan, Natsu819, zizikun94, Wekaweka, Han YeoJin, sabrina. a. nisa, Ade854, Hikaru Sora 14, Ikha Hime, SH, SH, riskadwinurfajriati15, hyuga ashikawa, Guest, Guest, ai, SaSaSarada-chan, Guest, tsukikohimechan, hyugaanamikaze18. Terima kasih untuk reviewnya :D Khususnya untuk yg sudah mereview dari prolog :)Love you all~~ Review kalian adalah penyemangat saya :D
Sekali lagi, terima kasih buat yang udah baca chapter ini :) Jangan lupa buat ninggalin komentar-komentar kalian di kotak review yaa... Saya tunggu ^.^
