Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
No commercial advantage is gained by making this fanfic.
.
This Fanfic by Tania Hikarisawa
[Tangled Ring, Chapter 3: Uchiha Sasuke]
—Warning: AU & typo(s)—
.
.
.
"Hn," gumaman itu keluar begitu saja tatkala Sasuke selesai membaca riwayat hidup serta kasus milik kliennya.
Pria berumur 27 tahun itu dengan pelan merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi sedangkan tangan kirinya memijit pelan pangkal hidungnya. Sebuah kasus plagiarisme buku. Dan sesudah membaca semua bukti serta tuntutan jaksa, Sasuke sudah tahu apa yang harus ia lakukan untuk membela kliennya.
Semua kata-kata perlahan dirangkainya dalam otaknya. Kata-kata yang akan berhasil membungkam jaksa penuntut dan akan meyakinkan hakim bahwa kliennya tidak bersalah. Ini bukan pertama kalinya Sasuke menangani kasus seperti ini, sehingga ia cukup mudah menyiapkan semua kalimatnya.
Sasuke memang orang yang irit bicara, tapi di dalam pengadilan, ia bisa menjadi orang yang banyak bicara. Semua perkataannya tidak bertele-tele dan langsung pada pokok permasalahan. Tidak heran jika hampir semua kasus yang ia tangani berhasil ia menangkan.
Hanya butuh waktu tiga tahun bagi dirinya untuk menjadi seorang pengacara terkenal seperti sekarang. Kliennya kebanyakan berasal dari kalangan atas khususnya yang memiliki hubungan dengan keluarga Uchiha dan Hyuuga. Ah, rasanya Sasuke harus berterimakasih kepada marga Uchiha yang ia sandang dan marga Hyuuga milik tunangannya.
Firma hukum keluarganya memang sudah sangat terkenal semenjak firma itu berada di tangan kakeknya. Dan sekarang hanya tinggal menunggu waktu saja saat firma itu jatuh ke tangan Sasuke.
Sebuah ketukan pintu membuat perhatian Sasuke teralih. Berikutnya muncul kepala sekretarisnya saat pintu terbuka.
Kerutan samar terlihat di wajah Sasuke. "Ada apa?"
"Maafkan saya mengganggu waktu Anda. Tapi di luar ada seseorang yang memaksa ingin bertemu dengan Anda."
"Bukannya aku sudah bilang untuk tidak menggangguku hari ini?!"
Sang sekretaris terlihat sedikit terkesiap saat melihat raut wajah Sasuke yang mengeras. "Ma-maaf, tapi orang ini memaksa. Dia bilang ada urusan penting yang ingin dibicarakan dengan Anda."
Dengan keras, Sasuke menutup map yang berisi riwayat kliennya itu. Ditariknya napasnya perlahan kemudian menghembuskannya. Kenapa ada saja orang yang mengganggunya di saat ia membutuhkan ketenangan seperti ini? Rasanya Sasuke ingin memukul orang yang berani mengganggunya itu. "Orang sok penting ini siapa?"
Sekretarisnya sedikit tersentak. "Dia mengatakan namanya Inuzuka Kiba."
Mata Sasuke sedikit membesar saat mendengar nama itu. Kenapa orang yang sudah dianggap Sasuke sebagai sahabat itu ingin menemuinya tiba-tiba seperti ini?
Melihat wajah Sasuke yang sedikit melunak, si sekretaris tanpa sadar menghela napas.
"Baiklah, izinkan dia masuk, Shiho."
"Baik, Tuan Sasuke."
Tak berselang beberapa lama, sesosok wajah yang sangat familiar di mata Sasuke pun muncul. Orang berambut cokelat itu dengan santainya segera duduk di hadapan Sasuke. "Waw, ruanganmu hebat sekali, Sasuke."
"Hn."
"Jauh lebih besar daripada ruangan kita saat kau masih menjadi pengacara publik," tambah Kiba dengan matanya yang masih menjelajahi ruangan Sasuke.
Ujung bibir Sasuke sedikit terangkat saat melihat sikap mantan asistennya itu. "Kau mau apa, Kiba?"
Mata Kiba akhirnya berhenti menjelajah dan fokus menatap Sasuke. "Dasar! Kau masih tidak bisa berbasa-basi, Sasuke? Kau bisa tanyakan bagaimana kabarku dulu, kan? Kita sudah lama tidak bertemu. Apa kau tidak merindukanku?"
Sasuke menghela napas saat mendengar semua kalimat Kiba. Dia juga sama saja. Masih suka banyak omong. "Jadi, ada apa kau kemari?"
"Kabarku baik, Sasuke. Masih sibuk menjadi asisten pengacara-pengacara publik yang lain. Kau tahu, karena kau pergi, Shikamaru makin sibuk saja di sana," ucap Kiba tanpa memperhatikan pertanyaan Sasuke.
Dan saat itu, Sasuke tahu kalau urusan ini akan menjadi sangat lama. Matanya melirik jam tangannya. Hampir jam dua belas siang.
"Kau sudah makan?" Sasuke mengganti pertanyaannya.
Cengiran muncul di wajah Kiba. "Haha ... di sekitar sini ada restoran Itali yang sangat enak. Bagaimana kalau kita makan di sana?"
Sasuke memutar bola matanya. Rasanya Sasuke harus mencari waktu lain untuk mempelajari kasus-kasus kliennya yang lain karena ia tahu kalau Kiba akan memonopoli waktunya seharian ini. Laki-laki ini bahkan belum mengatakan maksudnya menemui Sasuke.
"Terserahmu saja, Kiba. Tapi kau yang menyetir," ucap Sasuke sambil merapikan semua dokumennya.
"Kau tenang saja. Aku juga akan mentraktirmu hari ini."
Tangan Sasuke berhenti bekerja. Alis pria itu sedikit terangkat sambil menatap wajah Kiba. "Ada sesuatu yang terjadi?"
Kiba hanya mengusap-ngusap bawah hidungnya dengan jari telunjuknya. "Aku ceritakan nanti saja, Sasuke," sahutnya sambil tertawa cengengesan. Dan entah kenapa rasanya Sasuke sekilas melihat wajah Kiba sedikit memerah.
Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali merapikan dokumennya. Melihat Sasuke sudah selesai merapikan dokumennya, Kiba berdiri dari tempat duduknya. "Oke, kita berangkat."
"Hn."
"Ah, ngomong-ngomong, aku sedikit heran denganmu, Sasuke," ucap Kiba saat mereka sudah berada di luar ruangan Sasuke.
"Ada apa lagi?" tanya Sasuke sambil memberi isyarat pada sekretarisnya kalau ia akan makan siang di luar.
"Kenapa dulu kau menjadi pengacara publik padahal keluargamu punya firma hukum yang besar seperti ini? Kau bisa dengan mudah menjadi pengacara di sini, kan? Kau membuang waktumu selama dua tahun, Sasuke."
Ucapan Kiba membuat Sasuke terdiam. Ia kembali mengingat-ngingat semua hal yang membuatnya berada di sini. Hal-hal yang harus ia lakukan agar bisa berada di tempat impiannya ini.
Pintu lift yang terbuka membuat perhatian Sasuke teralih sedikit. Saat keduanya sudah masuk ke dalamnya, Sasuke membuka suaranya. "Kau harus punya nama untuk menjadi pengacara."
Kiba tertawa kecil mendengarnya. "Uchiha itu sudah lebih dari cukup, Kawan."
"Tidak, aku membutuhkan lebih dari itu. Uchiha itu sejajar dengan nama Uchiha Fugaku bukan dengan Uchiha Sasuke. Karena itu, aku harus mencari penyokong lain."
.
Flashback
.
Setelah empat tahun menuntut ilmu di Kirigakure, Sasuke akhirnya kembali ke Konohagakure. Dengan gelar pengacara yang ia pegang, sekarang ia sudah bisa bekerja di firma hukum keluarganya.
Semuanya berjalan mulus, tepat seperti perkiraan Sasuke. Ah, tapi itu tak berlangsung lama. Semua orang yang mencari jasa pengacara tidak pernah meliriknya sekali pun. Semua orang memandang dirinya sebelah mata. Bagi mereka, Sasuke hanyalah anak yang ingin mencari keuntungan dari nama ayahnya, Uchiha Fugaku. Seorang pengacara yang belum pernah sekali pun kalah di persidangan.
Dan malam itu, Sasuke memutuskan sesuatu yang ia pikir akan bisa mengubah hidupnya. "Ayah, aku akan keluar dari pekerjaanku."
"Hn, lalu kau mau apa? Kau jangan minta yang aneh-aneh, Sasuke. Coba lihat kakakmu, dia tidak pernah menyusahkan ayah, dia bisa menjadi jaksa terkenal dengan usahanya sendiri."
Telinga Sasuke terasa panas saat mendengar ucapan ayahnya mengenai Uchiha Itachi. Kenapa dia selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya? Dirinya dengan Itachi adalah dua orang yang berbeda.
Setelah menenangkan dirinya, Sasuke menatap mata ayahnya. "Aku akan bekerja sebagai pengacara publik."
Fugaku menyeringai, "Oh, kau ingin mengabdi pada masyarakat?"
Anak bungsunya diam saja saat mendengar pertanyaan darinya. Sasuke sendiri tidak yakin apakah ia melakukannya karena ingin mengabdi pada masyarakat. Tapi yang pasti, Sasuke ingin terlepas dari nama ayahnya, ia ingin memulai kariernya dengan namanya sendiri.
Bekerja di firma hukum keluarnya merupakan langkah yang salah, karena di sana ia tidak mendapatkan satu kliennya pun. Akan lain masalahnya jika ia bekerja menjadi pengacara publik. Di sana ia pasti bisa mendapatkan klien yang membutuhkan jasanya.
"Gaji yang ditawarkan pemerintah itu sangat kecil. Kau akan mendapatkan sepuluh kali lipat lebih banyak jika bekerja di firma hukum kita. Klien kita berasal dari kalangan atas."
"Ayah mengatakannya seakan-akan ada yang pernah meminta jasaku. Aku tetap pada pendirianku."
Fugaku akhirnya menyerah, "Baik, lakukan sesuka hatimu, Sasuke. Tapi kau tidak akan mendapatkan nama jika hanya menjadi pengacara publik."
"Kita lihat saja nanti."
Dan sepertinya ucapan Uchiha Fugaku benar. Karena selama dua tahun bekerja sebagai pengacara publik, Sasuke tidak mendapatkan apa-apa. Dia mendapatkan banyak klien, mereka adalah orang-orang dari kalangan bawah yang tidak bisa menyewa jasa pengacara. Tapi sayanganya, dia tidak akan berhasil meraih impiannya jika bekerja di lembaga perbantuan hukum itu terus menerus.
Impiannya, ya?
Saat itulah akhirnya Sasuke tersadar kalau ia sudah melupakan impiannya yang sebenarnya. Sejak dulu, Sasuke selalu ingin bisa mengalahkan ayahnya dan menjadi pemilik firma hukum keluarganya. Kenapa selama dua tahun ini Sasuke bisa melupakan hal yang sudah membuatnya menjadi seorang pengacara itu?!
"Jadi, kau ingin kembali? Sudah menyerah dengan permainanmu untuk membantu kalangan bawah?"
Sasuke merasa kalau dirinya sudah membuang harga dirinya saat ia mengatakan hal itu di depan ayahnya. "Ayah benar, aku salah."
Fugaku berdehem sekali. "Tapi aku punya satu syarat untukmu, Sasuke."
Mata Sasuke sedikit membesar, "Syarat?"
"Kau harus bertunangan dengan anak teman ayah."
Alis Sasuke mengernyit, "Bertunangan? Apa hubungan semua ini dengan pertunangan?"
"Pertunangan ini akan membuatmu memiliki nama di antara kalangan atas, Sasuke. Nama gadis yang akan menjadi tunanganmu itu Hyuuga Hinata."
Sasuke terdiam saat nama keluarga itu disebut. Seperti yang ayahnya katakan, nama itu akan membuat Sasuke memiliki nama. "Baik, aku terima persyaratannya."
Kali ini, Sasuke yakin dengan jalan yang ia ambil. Jalan ini akan membawanya menuju ke tempat di mana impiannya berada.
.
End of Flashback
.
"Jadi, ada urusan apa?"
Rasanya Sasuke sudah menanyakan hal tersebut berulang kali. Mantan asistennya itu masih tetap saja bungkam dan terus mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku akan memesan ...," gumam Kiba.
Sasuke memutar bola matanya bosan. Kenapa juga dia harus terlibat dengan Kiba sekarang? Di saat ia punya banyak pekerjaan yang menumpuk di kantornya. Dan akhirnya Sasuke mengikuti alur permainan Kiba, dia juga ikut memesan makanan.
Setelah makanan dan minuman mereka sampai, Kiba masih saja berbicara dengan topik acak. Sampai kapan Sasuke harus menunggu persoalan yang sebenarnya. "Jadi, apa kau punya masalah hukum, hm?" tebak Sasuke asal.
"Haha ... sepertinya kau sudah mulai kesal, Sasuke. Baik, baik, aku akan mengatakan hal yang membuatku sangat bahagia sekarang."
Sasuke mengernyit. Akhirnya ia bisa berhenti penasaran. Lelaki bermarga Inuzuka itu meletakkan sendok dan garpunya. Ia berdehem sekali sebelum membuka suaranya. "Aku akan menikah."
Sasuke berusaha keras agar tidak tersedak makanannya sendiri. Dengan dahinya yang berkerut, pria berumur 27 tahun itu mengambil gelas air putihnya dan meneguknya. "Hn? Dengan si—"
"Apa aku tidak pernah menceritakannya padamu, Sasuke? Ya ampun, aku sudah berpacaran dengan dia selama dua tahun. Ah, benar, kau sudah pindah bekerja saat itu dan sepertinya aku lupa menceritakannya padamu," ucap Kiba panjang lebar dengan wajahnya yang sedikit bersemu merah. "Kau tahu, dia itu—"
"Lalu ada urusan apa antara pernikahanmu dan aku?" tanya Sasuke dan memotong ucapan Kiba. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa kesal dengan wajah bahagia Kiba. Dia tidak suka melihatnya atau lebih tepatnya dia iri. Kiba bisa menceritakan wanita yang ia cintai dengan bahagia. Sedangkan dirinya? Dia hanya berstatus sebagai tunangan seseorang tapi tidak ada perasaan apa-apa di antara mereka.
Kiba tertegun sejenak. "Kau bertanya ada apa? Tentu saja aku ingin mengundangmu ke pernikahanku."
"Kapan?"
Kiba terlihat bergumam. "Hmm ... mungkin dua bulan lagi atau tiga bulan? Ah, entahlah, kami harus menyiapkan banyak hal, kau tahu itu, kan? Pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup, kan? Jadi kami harus menyiapkannya dengan hati-hati."
Kalau saja ini komik, di dahi Sasuke sekarang sudah muncul perempatan siku-siku. Kekesalannya yang hampir mencapai ubun-ubun berusaha ia tahan karena sekarang mereka sedang berada di tempat umum. "Kalau kau belum menentukan tanggal pernikahanmu, kenapa kau mengundangku secepat ini? Kau membuang waktuku, Kiba," geramnya.
"Tenang, Sasuke. Jangan marah dulu. Aku sengaja membicarakannya lebih awal denganmu."
"Hn?"
"Oh ayolah. Semua orang di bidang kita tahu kalau kau itu pengacara super sibuk di tahun ini. Aku sengaja memberitahumu sekarang agar kau bisa meluangkan waktu untuk menghadiri pernikahanku."
Sasuke mengerutkan dahinya. "Tetap saja kau membuang waktuku, Kiba. Seharusnya kau menentukan tanggal pernikahanmu baru setelahnya memberitahuku."
"Kau ada benarnya juga tapi aku ingin memberitahumu sekarang. Jadi luangkan waktumu demi aku, oke?"
Sasuke mendengus. "Hn."
"Oh, benar juga. Kau juga bisa mengajak tunanganmu ke pernikahanku. Dulu saat kalian bertunangan, aku tidak sempat berbicara dengannya," ucap Kiba sambil tertawa kecil.
"Aku akan mengajaknya kalau dia mau."
"Kenapa kau pesimis seperti itu? Dia pasti mau demi tunangan tercintanya," goda Kiba berharap dapat melihat wajah Sasuke yang memerah.
Tapi wajah Sasuke malah terlihat semakin keras. "Tercinta? Seakan ia pernah mencintaiku," bisiknya.
"Hah? Kau bilang apa, Sasuke?" pertanyaan Kiba terdengar menggantung sebelum ia melanjutkannya lagi. "Bagaimana mungkin tunanganmu tidak mencintaimu? Kalian bertunangan bukan karena dijodoh—"
"Kami dijodohkan."
Kiba menutup bibirnya, pria itu tidak pernah menyangka hal ini sebelumnya. "Tapi kalian terlihat sangat bahagia di acara pertunangan kalian. Aku pikir kalian sudah lama berpacaran ...," Kiba menghentikan upacannya.
Sedangkan Sasuke hanya tersenyum sinis sambil mengingat pesta pertunangannya itu. Sebuah pesta yang terjadi tiga tahun yang lalu. Di pesta itulah, Sasuke pertama kali melihat sosok Hinata yang sesungguhnya. Dia adalah seorang gadis lugu yang rapuh. Yang rela melakukan apa saja demi ayah dan juga ... impiannya.
.
Flashback
.
Semua tamu undangan sudah meninggalkan area pesta, yang tersisa hanyalah saudara-saudara dekat dari keluarga Uchiha dan Hyuuga. Uchiha Sasuke terlihat sedikit lelah dengan segala acara yang sangat berlebihan ini. Walaupun hanya tersisa sedikit orang di sana, tetap saja masih terlalu ramai.
Berhubung dirinya sudah tidak dibutuhkan untuk menyapa dan menyambut tamu yang datang, Sasuke memilih untuk menyingkir dari ruangan yang penuh cahaya itu dan pergi ke beranda hotel yang mereka sewa. Tapi yang ia dapati di sana adalah seorang gadis yang sedang duduk di bangku taman. Gadis yang baru saja resmi menjadi tunangannya.
Hyuuga Hinata.
"Boleh aku duduk di sini?" Entah apa yang membuat Sasuke lebih memilih bersama gadis itu di sini. Padahal hubungan mereka tidak bisa dibilang baik. Bisa dibilang mereka hanya ada pada posisi yang sama.
"Tentu, Kak Sasuke."
"Cukup Sasuke saja."
Gadis itu hanya mengangguk untuk menanggapi kalimat Sasuke. Suasananya canggung sekali. Sasuke tidak terlalu suka dengan hal ini. Haruskah ia membuka pembicaraan? Tapi dia bukan termasuk orang yang biasa membuka percapakan terlebih dahulu.
Hampir sepuluh menit lamanya mereka terdiam. Akhirnya Sasuke yang mencoba membuka percakapan terlebih dulu. "Aku ingin tahu mengenai alasanmu. Kenapa kau menerima pertunangan ini?"
Mata Sasuke bertemu dengan mata Hinata. Gadis itu terlihat sedikit kaget dengan pertanyaan Sasuke. "I-itu ... demi ayah, kurasa. Aku ingin Beliau senang."
"Hanya itu?"
Dari mata Sasuke, ia dapat melihat gadis itu meremas kedua tangannya. Pasti masih ada alasan lain yang membuatnya menerima pertunangan ini. Sedangkan Sasuke sudah jelas melakukannya demi nama yang akan menjadi batu loncatan ke tempat impiannya.
"A-aku ingin menjadi patissier."
"Hn?"
"Ayahku melarangku melakukan itu. Dia ... dia memberiku syarat. Jadi aku, aku ...,"
"Aku mengerti, Hinata," Sasuke memotong ucapan Hinata yang sepertinya tidak akan pernah bisa gadis itu selesaikan. Sasuke tersenyum sinis mendengarnya. Ah, ternyata mereka berdua sama saja. Mereka melakukan hal ini demi keuntungan masing-masing. "Kau sedikit munafik."
"Eh?"
"Kau cukup mengatakan kalau kau ingin mendapatkan keinginanmu, karena itu kau menerima pertunangan ini. Kau tidak perlu mengatakan kalau kau ingin membahagiakan ayahmu. Itu hanya alasanmu saja agar terlihat seperti anak baik, kan?"
Hinata tiba-tiba saja berdiri dan membuat Sasuke sedikit terkejut. "Memangnya a-apa yang kau tahu tentangku?"
Hati Sasuke mencelos saat melihat mata gadis itu berkaca-kaca. Sepertinya ia mengucapkan perkataan yang berlebihan. Belum sempat Sasuke berbicara lagi, Hinata sudah lebih dulu meninggalkannya sendirian di sana. Ahh ... sepertinya mereka berdua tidak cocok satu sama lain.
.
End of Flashback
.
Semakin lama waktu berlalu, Sasuke mulai sadar kalau Hinata bukan gadis munafik seperti yang ia pikirkan dulu. Tapi sayangnya ia tidak bisa mengulang waktu kembali. Dan sepertinya gadis itu sudah terlanjur membencinya karena perkataannya yang kasar itu.
"Tapi, apa kau tidak ingin mencintainya, Sasuke? Bagaimanapun juga akhirnya kalian akan menikah, kan?"
Sasuke terdiam, ia menghentikan kunyahannya dan menegak habis air minumnya. Lelaki itu sudah tak berselera untuk makan lagi.
"Jangan diam saja, Sasuke. Kalian sudah bertunangan selama tiga tahun. Cobalah buat kemajuan. Kau laki-laki, kan? Apa kau ingin mengalami pernikahan yang tidak bahagia. Umurmu sudah 27 tahun, aku yakin orang tuamu akan menyuruhmu untuk segera menikah. Kalau kau memang tidak bisa terlepas dari ini semua, cobalah menerimanya dan hidup bahagia."
Sasuke agak takjub mendengar nasihat Kiba. Apa ini efek yang timbul ketika seseorang akan menikah? Sahabatnya itu terlihat sangat dewasa daripada dirinya sendiri, padahal mereka seumuran.
"Aku pernah memikirkannya."
Kiba mendesah mendengarnya. "Kau jangan memikirkannya saja, Sasuke. Lakukan sesuatu sebelum terlambat, jangan sampai kau tidak bahagia nantinya."
"Tapi terkadang aku berpikir kalau dia membenciku. Dia jarang sekali berbicara denganku," ungkap Sasuke.
Begitu Sasuke menyelesaikan perkataannya. Mata Sasuke menangkap ekspresi Kiba yang membuat dirinya ingin melempar sisa spagetinya ke wajah Kiba. "Aku pikir dia tidak membencimu. Mungkin ... ya, hanya kemungkinan. Dia mungkin takut denganmu, Sasuke."
"Hn?"
"Kalian itu berada pada posisi yang sama. Mungkin dia juga seperti dirimu yang sekarang. Dia mungkin berpikir kau membencinya dan itu membuat ia takut untuk berbicara denganmu. Salah satu dari kalian harus mengalah. Karena kau itu laki-laki jadi kau yang harus memulainya, Sasuke."
Niat awal Kiba menemui Sasuke hari ini adalah untuk memberikan kabar bahagia. Entah kenapa ia bisa menjadi penasihat dadakan seperti ini. Ditambah lagi, ia menasihati seorang Sasuke yang terkenal tak suka menerima nasihat orang lain.
Sejenak Sasuke hanya menatap Kiba sebelum akhirnya mengedikkan kedua bahunya. "Hn, akan aku pikirkan."
Kiba lagi-lagi mendesah dengan frustasi. "Sudah kubilang jangan hanya dipikirkan. Lakukan sesuatu, Sasuke."
Pria bermarga Uchiha itu menyipitkan matanya dan menatap Kiba seakan terganggu. "Iya, besok."
Dengan tidak sabar, Kiba mengepalkan kedua tangannya. Rasanya ia gemas sekali, ingin rasanya ia memukul kepala Sasuke ke dinding. "Besok? Lalu besoknya dan besoknya lagi? Ini tidak akan selesai. Lakukan hari ini, Sasuke."
"Hari ini? Aku si—"
"Kau sibuk? Oke, kau sibuk. Tapi lihat kenyataannya? Kau bisa meninggalkan pekerjaanmu dan menemaniku. Lalu kenapa kau tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu demi tunanganmu, hah?"
Ini hanya perasaan Sasuke saja atau memang sobatnya itu sangat kesal terhadap dirinya. Kalau boleh dibilang, Sasuke sebenarnya juga kesal dengan Kiba karena hampir semua ucapan yang keluar dari mulut Kiba itu benar. Umur Sasuke merupakan umur yang tergolong sudah sangat dewasa tapi dirinya masih saja belum bisa bersikap dewasa.
"Hn."
"Kau ingin bertanya apa yang harus kau lakukan?" tanya Kiba seakan bisa membaca pikiran Sasuke. "Kau harus bicara dengannya. Hanya itu. Buka hatimu dan terima dia lalu hidup bahagia."
Argghh, Sasuke semakin kesal mendengar Kiba berbicara. "Jam makan siangku sudah habis. Aku pergi."
"Hei, jangan marah. Kau seperti anak kecil saja. Tunggu di parkiran, aku akan membayar makanan dulu dan mengantarmu. Aku sudah janji tadi, ingat?"
Sasuke hanya melongos pergi dan menunggu Kiba di parkiran. Selama itu, ia menghabiskan waktunya untuk merenung. Apa yang harus ia lakukan dengan hubungannya ini? Tiga tahun adalah waktu yang lama. Sasuke sulit percaya kalau dirinya tidak bisa melakukan apa-apa selama tiga tahun itu. Hinata hanya berstatus sebagai tunangannya. Begitu pun sebaliknya. Mereka tidak pernah untuk mencoba saling mengenal.
Apa yang dikatakan Kiba memang benar. Dia harus melakukan sesuatu dan memperbaiki hubungan mereka yang kaku ini. Tiba-tiba ia mengernyit seakan teringat sesuatu. Ibunya meminta dirinya untuk mengundang Hinata makan malam. Itu akan menjadi alasannya untuk menemui Hinata malam ini. Sudut bibirnya sedikit tertarik saat ia berhasil memutuskan apa yang akan ia lakukan.
"Sudah selesai merenungnya, Tuan Uchiha?"
Suara itu membuyarkan lamunan Sasuke. Matanya menatap sesosok pria di hadapan Sasuke. Ingin rasanya Sasuke memukul wajah laki-laki yang sedang tersenyum jahil itu. "Kau lama sekali, Kiba."
"Hei, kau yang lama melamun. Dasar."
.
.
.
Chapter 3 -END-
A/N: Udah sampe di chapter 3 nih :) Awalnya plot ini maunya ditaruh di chapter 4, tapi karena sesuatu dan berbagai hal #ciehh akhirnya ditaruh di chapter 3. Semoga suka ya... Kalau udah masuk ke keluarga Uchiha & Hyuuga, gak tahu kenapa konflik pertama yang masuk ke pikiran saya itu soal pertunangan hahaha...
Oiya, makasih banyak buat yang sudah mereview chapter kemarin. Khususnya untuk:
Jii, Kaoru-k216, Ruin Crimson, elle ns, Ikha Hime, dylanNHL, fuuchi, Natsu819, 8, Guest, Guest, Onpu885, Namefrenz, SaSaSarada-chan, onyx dark blue, sato mao, Wekaweka, guest, hyugaanamikaze18, Guest, formil-methionine, Hikaru Sora 14, yuka, bumblebee, Wickey-Pooh, Blu Kira, hyuga ashikawa, Ade854, Guest, Birubiru-chan, zzzzzz, zzzzzz, huft, Han YeoJin, Q, dar, Nurul851 II, durarawr, Lukyta-Chan, Natsu819, Onpu885, bininyasiwonnnn, Dwindi, SHL, IchiRukiHime, ElleoraNS, Aizawa, Esya. 27. BC, guess, ZONK, Naruse Shou, Miss Utun, Otak kacang, Otak kacang, Otak kacang, tomatoCherries, Yuuki Asuna L, Guest, gilang. ramadhan. 129357, Farhan, Chimunk-NHL, CherryOfDarkness, naruu, Lily, Haru, Haruka Hime-chan, tsukikohimechan. Terima kasih untuk reviewnya :D Love you all~~ Review kalian adalah penyemangat saya :D
Sekali lagi, terima kasih buat yang udah baca chapter ini :) Jangan lupa buat ninggalin komentar-komentar kalian di kotak review yaa... Saya tunggu ^.^
