Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

No commercial advantage is gained by making this fanfic.

.

This Fanfic by Tania Hikarisawa

[Tangled Ring, Chapter 4: Hyuuga Hinata]

Warning: AU & typo(s)—

.

.

.

"Semuanya, selamat pagi. Hari ini, kita juga akan bekerja keras seperti hari-hari sebelumnya. Dan untuk koki-koki kita yang baru, selamat bekerja bagi kalian," ucap pemilik Akimichi Restaurant saat ia mengumpulkan semua koki yang bekerja di restorannya.

Akimichi Restaurant merupakan salah satu restoran yang sangat disukai di Konohagakure. Bukan hanya hidangan utamanya yang lezat, pencuci mulut di sana juga sangat terkenal. Patissier yang mereka kerjakan adalah patissier yang sudah disaring dengan sangat ketat.

Hyuuga Hinata merupakan salah satu patissier yang beruntung itu. Dia berhasil menjadi pegawai tetap di restoran terkenal ini. "Baik, semangat Hinata!" ucapnya pelan kepada dirinya sendiri.

Hari ini, semua impiannya dimulai. Impiannya untuk menjadi patissier yang handal dan terkenal. Dan suatu saat nanti ia akan membuka toko kuenya sendiri tanpa bantuan ayahnya. Itulah cita-citanya.

Di umurnya yang ke-21 tahun ini, Hinata bisa tersenyum dan menjalani hidupnya dengan bahagia berkat seorang perempuan yang ia temui di Sunagakure. Persis seperti yang perempuan itu katakan, "Jika kita menginginkan sesuatu pasti ada sesuatu yang kita korbankan." Dan menurut Hinata, pengorbanan yang sudah dilakukannya sepadan dengan apa yang sudah didapatkannya sekarang.

.

_Flashback_

.

Berbeda dengan Konohagakure yang bersuhu sejuk, suhu Sunagakure sangatlah panas. Negara dua musim ini memang sangat terkenal dengan iklimnya yang selalu panas sepanjang tahun.

Di tengah hiruk pikuk bandara, Hinata menyeka keringatnya lagi sambil menarik kopernya. Suasana hatinya sedang gundah. Dan ini semua karena ayahnya yang memang selalu mengekangnya itu.

"Memang apa yang akan kau dapatkan jika menjadi patissier?! Lebih bagus kalau kau mengambil manajemen bisnis saja seperti kakakmu, Hinata!"

Oh, Hinata bahkan masih ingat perkataan ayahnya itu. Ayahnya tidak suka dengan impiannya untuk menjadi patissier, padahal dia sangat suka membuat kue. Memang pekerjaan itu keliatan tidak sebanding dengan nama Hyuuga yang ia sandang.

Dan masalah itu bertambah buruk saat Hinata tidak menyetujui perintah ayahnya.

"Baik, kau boleh kuliah di akademi masak pilihanmu itu. Tapi dengan syarat kau harus bertunangan dengan anak teman ayah. Dengan begitu, hidupmu akan tentram, Hinata."

Dan itulah sebab Hinata berada di Sunagakure sekarang. Tanpa mengatakan apa-apa kepada ayahnya, dia pergi dari rumah. Dan di negara ini, Hinata berharap bisa bertemu dengan kakaknya. Dia ingin menceritakan semua ini kepada kakaknya agar kakaknya itu mendukung pilihannya.

Tapi belum selesai masalahnya dengan ayahnya. Sekarang Hinata dihadapkan pada masalah lain. Dia tidak tahu cara untuk sampai ke apartemen kakaknya. Dia tahu alamatnya tapi dia tidak tahu cara pergi ke sana. Dan parahnya tidak ada taksi yang berhasil ditangkap oleh indra penglihatannya.

Gadis berusia delapan belas tahun itu menghela napas panjang dan kembali menyeka keringatnya. "Seharusnya aku menghubungi kak Neji, tapi kalau aku menghubunginya, dia akan melapor ke ayah," gumam Hinata.

"Oh, sial! Memangnya ada yang salah dengan caraku berjalan?! Sutradara sialan!"

Suara itu memancing minat Hinata. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang gadis sedang berdecak sambil berkacak pinggang. Mungkin karena merasa diperhatikan, gadis itu akhirnya menoleh ke arahnya. Dengan cepat Hinata mengalihkan perhatiannya ke arah lain.

Dalam hati Hinata berharap kalau gadis itu tidak menganggap kehadirannya karena Hinata benar-benar gugup jika harus berbicara dengan orang asing. Tapi, sepertinya keinginan Hinata itu tidak terwujud.

"Hei, Nona. Kau sendirian?"

Rasanya Hinata tidak ingin menjawab pertanyaan itu tapi Hinata dapat merasakan kalau orang itu masih berdiri di sampingnya. Akhirnya dengan gugup Hinata menoleh ke arah gadis itu.

Hal pertama yang dapat Hinata tangkap adalah kecantikan orang di hadapannya ini. Dia sangat cantik dan tubuhnya lebih tinggi dari Hinata. Rambutnya yang berwarna merah muda sebahu itu sedikit tertiup angin ditambah dengan mata hijaunya yang bersinar.

"A-ah, i-iya," sahut Hinata akhirnya.

Gadis di hadapan Hinata itu sedikit memiringkan kepalanya. "Ah, kau baru pertama kali kemari ya? Kau pasti bingung mencari taksi, kan?"

Hinata sedikit terkesiap saat gadis asing ini berhasil menebak keadaan dirinya. "I-iya."

"Bagaimana kalau kau kuantar ke tempat tujuanmu? Kau tidak akan pernah menemukan taksi di Sunagakure," ucap gadis itu tersenyum.

"E-eh?"

"Oh iya, namaku Sakura. Haruno Sakura. Namamu siapa?"

Hinata menyambut uluran tangan gadis itu. "Namaku Hyuuga Hinata," sahutnya.

Apa ini khayalan Hinata saja atau memang gadis ini terlihat sedikit kaget begitu mendengar namanya. "Hyuuga?! Hyuuga yang itu?" tanya Sakura.

Setelah beberapa saat barulah Hinata sadar apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Tentu saja ini mengenai Hyuuga. Ya, keluarga konglomerat yang memang terkenal sangat kaya dan memiliki banyak perusahaan. Kakaknya sendiri bahkan beberapa tahun ini sudah mulai menangani perusahaan yang akan dimilikinya itu suatu saat nanti.

Hinata hanya mengangguk kecil untuk menanggapi pertanyaan itu. Selama ini, Hinata memang tidak terlalu berbangga menjadi bagian dari Hyuuga karena dia selalu terkekang dengan marga tersebut.

"Wah, hebat, ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang hebat sepertimu," ucap gadis berambut merah muda itu lagi. "Oh, kau ingin pergi ke mana?"

Sebenarnya Hinata sedikit ragu dengan Sakura. Apa Sakura ini benar-benar orang yang baik? Apa dirinya bisa mempercayai orang asing ini?

Melihat keragu-raguan di mata Hinata, Sakura tersenyum lebih lebar. "Kau tidak perlu takut. Aku ini orang baik. Lagipula, aku ingin membantumu karena aku ingin mengucapkan terima kasih padamu."

Pernyataan Sakura itu membuat alis Hinata terangkat. "Berterima kasih untuk apa?"

Sakura tertawa kecil sebelum menjawab, "Berterima kasih untuk sikapmu yang alami. Berkat gayamu keluar dari pintu bandara, akhirnya aku tahu gaya seperti apa yang harus aku perankan."

Bahkan setelah Sakura berbicara panjang lebar seperti itu, Hinata masih belum mengerti duduk permasalahannya. "Gaya? Peran?"

Sakura berdehem sekali. "Jadi begini, aku ini adalah aktris teater yang baru bekerja di Queen Anne Troupe. Kemarin aku dimarahi abis-abisan oleh sutradaraku. Aku mendapat peran sebagai anak desa yang baru sampai di kota. Tapi dia bilang 'Ya ampun, Sakura. Kau harus terlihat lebih polos, lebih jujur dan lebih suci! Besok coba kau pergi ke bandara dan lihat cara orang berjalan di sana!'. Lalu saat aku melihatmu, barulah aku mengerti maksud sutradaraku itu."

Penjelasan Sakura itu membuat Hinata takjub. Gadis di hadapannya ini bekerja keras dengan impiannya dan dia terlihat begitu bersinar saat menceritakan mengenai pekerjaannya itu. Detik itu juga Hinata percaya kalau Sakura adalah orang baik yang dapat dipercaya. "Jadi, a-aku ingin pergi ke alamat ini. Ini tempat tinggal kakakku."

Sakura melihat alamat yang tertulis di sebuah kertas itu. "Ah, kita bisa pergi ke sana dengan kereta bawah tanah. Bagaimana kalau kuantar?"

Hinata benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan orang yang mau berbaik hati mengantarnya karena Hinata tidak ingin tersesat di negara asing ini. "Ke-kenapa di sini tidak ada taksi?" tanya Hinata saat mereka menuruni tangga menuju stasiun kereta bawah tanah.

"Haha ... negara ini memang seperti itu. Tidak ada taksi, yang ada hanya angkutan umum masal seperti bus atau kereta api. Aneh, kan?" terang Sakura.

Hinata hanya mengangguk menyetujui. Sepertinya negara Sunagakure dengan Konohagakure sangatlah berbeda. Setelah membeli tiket, akhirnya Hinata dan Sakura sudah berada di dalam kereta dan siap berangkat menuju tujuan mereka.

Di tengah deru mesin kereta, Hinata dapat melihat gadis yang duduk di sebelahnya itu. Gadis itu sibuk dengan sebuah novel yang sedang dibacanya. Ah, sepertinya dia bosan karena dia menutup novelnya dan memasukkannya ke dalam tasnya kembali.

"Hei, aku heran sekali denganmu, Hinata," ucap Sakura tiba-tiba sambil menoleh.

"Hm?"

"Kenapa kau tidak menghubungi kakakmu untuk menjemputmu? Sesibuk-sibuknya dia, dia pasti tidak akan keberatan menjemput adiknya, kan?"

Hinata sedikit tekejut mendengar pertanyaan Sakura. Dia yakin kakaknya pasti mau menjemputnya tapi dia tidak mau menghubungi kakaknya karena dia sedang kabur dari rumah. Kalau dia menghubungi kakaknya tadi, pasti kakaknya akan segera menghubungi ayahnya dan Hinata yakin dirinya pasti sudah diseret oleh anak buah ayahnya kembali ke Konoha bahkan sebelum dirinya sampai di apartemen kakaknya. Tapi menjelaskan hal seperti itu kepada orang asing sepertinya terlalu berlebihan, kan?

"A-ah ... i-itu ... aku ingin memberinya kejutan," sahut Hinata akhirnya.

"Haha ... jadi seperti itu."

Percakapan itu berakhir begitu saja. Mungkin Sakura merasakan ketidaknyamanan Hinata ketika membicarakan hal tersebut. Mata kelabu Hinata dapat melihat Sakura yang kembali membaca novelnya dan membiarkan suara mesin kereta menjadi teman mereka.

Mereka hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di tujuan. Setelah pintu kereta terbuka, Hinata mengikuti langkah Sakura sampai akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang penuh dengan gedung-gedung apartemen.

"Kau tahu, tempat ini hanya dimiliki oleh orang-orang kaya saja. Hari ini aku beruntung sekali bisa bertemu dengan adik dari salah satu pemilik apartemen di sini," ujar Sakura.

Hinata tersipu malu mendengarnya. Ah, dia benar-benar tidak suka jika seseorang berbicara mengenai kekayaan keluarganya. "Maaf, tadi kau mengatakan kalau pekerjaanmu itu aktris teater?" tanya Hinata berusaha mengubah topik pembicaraan.

"Benar!" sahut gadis itu semangat. Lagi-lagi Sakura terlihat bersinar di mata Hinata. "Itu adalah impianku. Dan sekarang aku akan berusaha agar bisa menjadi aktris yang hebat."

"Kau beruntung sekali, Kak Sakura," balas Hinata.

"Haha ... kau memanggilku seperti itu? Sepertinya aku memang terlihat tua ya?"

"E-eh? Bu-bukan seperti. Kau itu sangat cantik. Ha-hanya saja sepertinya tidak sopan kalau aku hanya memanggil namamu saja," ujar Hinata dengan sedikit gelagapan.

Sakura tertawa lagi, "Iya, iya, kau tidak perlu khawatir seperti itu. Ngomong-ngomong, apa kau memiliki impian?"

Kali ini, Hinata menoleh dengan agak cepat ke arah Sakura. "Aku ingin menjadi patissier dan membuka toko kueku sendiri. Sejak kecil, aku suka sekali membuat kue."

"Benarkah? Nanti kalau kau sudah punya toko kue sendiri, beri aku diskon setiap berbelanja di sana ya," canda Sakura.

Hinata ikut tertawa melihat wajah Sakura. Hinata sangat senang ketika membicarakan tentang impiannya. Karena itu adalah sesuatu yang benar-benar diinginkannya. Dan dia sangat ingin bisa seperti Sakura. Sakura yang begitu bersinar seperti sekarang demi impiannya.

"Kak Sakura, sepertinya kau mendapatkan impianmu dengan mudah ya?" tanya Hinata.

Sakura mengernyitkan dahinya. "Apa terlihat seperti itu? Aku juga perlu bekerja keras, Hinata," sahut Sakura dan menjeda ucapannya. "Dan aku juga mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan impianku," lanjutnya pelan.

Tiba-tiba saja Hinata merasa tidak enak saat melihat ekspresi yang penuh penyeselan di wajah Sakura. Sepertinya Hinata memberikan pertanyaan yang salah. Tapi dalam hatinya, Hinata ingin sekali tahu pengorbanan apa yang dilakukan Sakura untuk mendapatkan impiannya.

"Jika kita menginginkan sesuatu pasti ada sesuatu yang kita korbankan." Nada Sakura terasa sendu ketika mengucapkannya. "Ah, tapi tidak semuanya seperti itu, kan? Aku yakin kalau kau pasti tidak sepertiku, Hinata," tambahnya. Jelas sekali di mata Hinata kalau Sakura sedang menghibur dirinya sendiri.

Hinata hanya bisa tersenyum menanggapinya. Pengorbanan ya? Apa Hinata harus melakukan pengorbanan juga? Mengorbankan dirinya dijodohkan dengan orang yang tidak dikenalnya demi impiannya? Haruskah ia melakukan itu?

"Hei, kita sudah sampai. Wah, lihat. Gedung ini tinggi sekali!" pekik Sakura. Di hadapan mereka ada sebuah gedung apartemen dengan pintu lobinya yang terbuat dari kaca.

Selama seperkian detik Hinata hanya terdiam. Mata kelabunya dapat melihat siluet kakaknya muncul di lobi. Begitu tatapan mereka bertemu, mata kakak sulungnya itu membesar penuh kecemasan tapi dengan cepat tenang kembali.

"Kalau begitu, aku pergi dulu ya," ucapan Sakura berhasil mengalihkan perhatian Hinata dari kakaknya sementara.

"A-ah, terima kasih, Kak," sahutnya sedikit membungkuk sebagai tanda terima kasih. "Lain kali, aku akan menonton dramamu," tambahnya.

Sakura hanya tersenyum kemudian berjalan menjauh. Baru beberapa langkah, Sakura membalik badan dan melambaikan tangannya lagi. Hinata membalasnya sampai Sakura kembali berbalik.

Saat itu, Hinata tiba-tiba merasa ada sesuatu dalam dirinya yang memberontak. Lihat! Apa kau tidak mau seperti dia?! Dia bersinar! Bukannya menyedihkan sepertimu!

"Hinata!" teguran kakaknya membuat Hinata kembali ke alam sadarnya. "Kau itu!" Sepertinya kakaknya sangat marah sekarang. Tapi setelah beberapa detik, wajahnya yang tegas mulai melunak. "Sudah, yang penting sekarang kau ada bersamaku."

Hinata tersenyum lembut. "Aku tahu kau bisa kuandalkan."

"Aku tidak tahu ada masalah apa antara kau dengan ayah. Tapi tenang saja, aku ada di pihakmu, Hinata."

"A-ahh, tidak usah. Saat aku melihatmu, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan, Kak," balas Hinata. Setengah ucapannya memang benar tapi setengahnya lagi hanya untuk menyenangkan hati kakaknya. Karena sebenarnya penyebab dia sudah bisa menentukan pilihannya adalah karena gadis berambut sewarna bunga sakura yang baru ia temui tadi.

Neji tersenyum kecil mendengarnya. "Oh, siapa perempuan yang bersamamu tadi?"

"Ah, dia yang mengantarku ke sini. Aku tidak mau meneleponmu karena aku takut kau akan menghubungi ayah," jelas Hinata.

Senyuman Neji menghilang, "Kau akan tetap kulaporkan ke ayah, Hinata. Sekarang kau diam dulu di sini."

Belum sempat Hinata menanyakan sebabnya, kakaknya itu sudah pergi dan menyusul Sakura. Dari jauh, Hinata dapat melihat mereka berbicara sebentar kemudian Neji membungkuk seakan mengucapkan terima kasih sedangkan Sakura hanya tertawa kecil. Dan Neji kembali ke arahnya.

"Sudah, sekarang kau ikut denganku," titah Neji sambil mengambil alih koper Hinata

"Tapi—"

"Aa," gumam Neji memotong ucapan Hinata. "Aku tidak akan meminta ayah untuk menyeretmu pulang. Satu minggu cukup, kan?"

Hinata tersenyum kemudian mengangguk dan mengikuti Neji ke dalam. Satu minggu tanpa perlu mendengar perintah ayahnya sudah sangat cukup bagi Hinata. Lagipula, Hinata juga sudah menentukan pilihannya sekarang. Demi cita-citanya, Hinata akan melakukan apapun dan akan mengikuti semua perintah ayahnya asalkan ia bisa menjadi patissier.

.

_End of Flashback_

.

Dan berkat keputusannya tiga tahun yang lalu itu, sekarang Hinata bisa berdiri di belakang meja dapur dengan telur, tepung dan susu sebagai temannya. Di saat ia bersama teman-temannya itu, entah kenapa satu hari terasa berjalan dengan sangat cepat. Seperti sekarang ini, restoran tempatnya bekerja sudah tutup sekitar setengah jam yang lalu.

"Baiklah, terima kasih atas kerja kerasnya hari ini," ucap pemilik restoran kemudian mempersilahkan semua pegawainya untuk berganti pakaian dan pulang.

Hinata yang sudah mengenakan bajunya yang semula ia gunakan saat berangkat kerja mulai meninggalkan Akimichi Restaurant. Saat itu jam tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh lewat 45 menit.

Untuk ukuran sebuah restoran, Akimichi Restaurant memang memiliki tempat yang strategis. Tempatnya sangat dekat dengan stasiun kereta api bawah tanah. Dan berkat itulah, Hinata tidak perlu repot-repot mencari taksi atau membawa kendaraan sendiri.

Tapi sayangnya rencana menggunakan kereta malam itu sepertinya harus ditunda karena mata kelabu Hinata menangkap sebuah mobil hitam yang sangat dikenalnya. Saat sang pemilik keluar dan memberi isyarat untuk dirinya, Hinata hanya bisa berjalan pasrah dan memasuki mobil tersebut.

"Bagaimana hari pertamamu bekerja?" tanya sang pemilik mobil sembari menyalakan mesin mobilnya. Pertanyaan itu bernada datar seakan-akan diucapkan sebagai sesuatu yang memang harus diucapkan.

"Me-menyenangkan," sahut Hinata. "Kau sendiri, bagaimana pekerjaanmu hari ini, Sasuke?"

"Hn, biasa saja," sahut lawan bicara Hinata yang ternyata bernama Uchiha Sasuke.

Dan setelahnya hanya keheningan dan suara deru mesin mobil yang menemani mereka. Baik Hinata maupun Sasuke memang sama-sama bukanlah orang yang pintar berbicara. Mereka lebih suka mendengarkan daripada berbicara. Tapi bagi Hinata, hal ini sedikit aneh. Pasalnya laki-laki yang duduk di sampingnya ini berprofesi sebagai pengacara. Bagaimana bisa seseorang yang begitu irit bicara ini dapat membela kliennya di depan pengadilan?

Ah, tapi itu urusannya dan bukan urusan Hinata. Sama dengan kenyataan kalau mereka adalah tunangan, itu adalah urusan orang tua mereka dan Hinata tidak peduli. Baginya yang terpenting sekarang adalah impiannya, masalah yang lain dipikirkan belakangan saja. Ya, Hinata ingin berpikir seperti itu. Tapi sebenarnya Hinata juga memikirkan hubungannya dengan Sasuke. Apakah mereka akan terus seperti ini?

"Ibuku ingin mengundangmu makan malam. Kau bisa datang sabtu malam, Hinata?" tanya Sasuke tiba-tiba.

Hinata menoleh sejenak ke arah laki-laki yang sedang mengemudi itu. Tidak ada perubahan dalam ekspresinya dan pandangannya juga tetap menatap ke arah depan. "Iya, aku bisa."

"Baik, aku akan menjemputmu jam tujuh," balas pria berumur 27 tahun itu.

Sedangkan Hinata hanya mengangguk dan bergumam, "Hm."

Iya, beginilah hubungan mereka selama tiga tahun ini. Tiga tahun sudah mereka bertunangan tapi tidak ada peningkatan dalam hubungan mereka. Sejak awal, pertunangan ini bukanlah keingininan mereka, ini adalah keinginan orang tua mereka. Hinata tidak tahu apa alasan Sasuke menerima pertunangan ini tapi Sasuke tahu apa alasan Hinata menerima pertunangan ini.

Dalam keheningan seperti ini, pikiran Hinata melayang ke mana-mana. Dia jadi ingat mengenai pesta pertunangan mereka tiga tahun yang lalu. Pestanya begitu mewah dan indah tapi sangat berkebalikan dengan suasana hatinya saat itu.

.

_Flashback_

.

Tepat sebulan setelah Hinata lulus SMA, ayahnya segera menunangkannya dengan Uchiha Sasuke. Kedua keluarga itu terlihat bahagia saat Hinata dan Sasuke saling menukar cincin pertunangan. Hinata dan Sasuke terlihat seperti sepasang kekasih yang sudah lama berpacaran padahal mereka baru saja bertemu sekitar tiga minggu yang lalu.

Dari tempatnya berdiri, Hinata dapat melihat Sasuke yang sedang menyapa beberapa tamu. Berbeda dengan Sasuke yang mengundang sebagian teman-temannya, Hinata lebih memilih tidak mengundang teman-temannya.

"Hinata, kau cantik sekali hari ini. Sasuke pasti senang sekali melihat tunangannya," ujar seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba mendekatinya.

"Bibi juga sangat cantik," balas Hinata.

"Wah, jangan panggil aku seperti itu. Kau bisa memanggilku ibu, Hinata. Lagipula, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, kan?" Mikoto tersenyum ramah memandang calon menantunya itu.

"Baik, I-ibu." Hati Hinata bergetar saat mengucapkan perkataan itu. Hinata tidak pernah memanggil seseorang dengan sebutan ibu. Ibu Hinata meninggal saat melahirkan adiknya, saat itu Hinata baru berumur satu tahun dan belum bisa berbicara.

Mikoto baru ingin berbicara lagi tapi tiba-tiba ada seseorang laki-laki yang mendatangi mereka. "Ah, ini pertama kalinya kita bertemu, kan? Namaku Uchiha Itachi. Salam kenal, calon adik ipar."

Hinata tersenyum dan menyambut uluran tangan Itachi. Sepertinya Itachi lebih ramah daripada Sasuke. "Salam kenal, Kak Itachi."

Pria itu sedikit meringis. "Rasanya sedikit tidak adil kalau kau memanggil Sasuke dengan namanya. Padahal aku dan dia hanya berbeda tiga tahun."

Mikoto menyikut perut anak sulungnya itu. "Itu wajar, Itachi. Sudah, kau pergi sana, jangan ganggu Hinata."

Itachi mengedikkan bahunya. "Sepertinya aku diusir," gumamnya sebelum akhirnya berjalan menjauh.

Akhirnya Mikoto dapat berdua saja dengan Hinata. Sudah lama ia ingin berbicara empat mata dengan Hinata. Ia ingin tahu segalanya tentang Hinata. Sama seperti Hinata yang merindukan sosok ibu, Mikoto juga sangat ingin memiliki anak perempuan. Dan saat pertama kali mereka bertemu, Mikoto tahu kalau dirinya sangat menyukai Hinata. Gadis itu anggun dan lembut ditambah parasnya juga sangat cantik.

"Hinata, bagaimana kalau—"

"Maaf, bisa saya membawa Hinata pergi sebentar?"

Ada rasa lega yang sangat terlihat di wajah Hinata saat pria di hadapannya ini menoleh ke arahnya. Sedangkan Mikoto hanya meringis sambil tertawa kecil. "Ya ampun, sepertinya aku harus bersabar agar bisa berbicara dengan calon menantuku ya," ujarnya kemudian pergi dan meninggalkan Hinata dengan pria tersebut.

"Ka-kakak sudah tidak marah lagi?"

Neji menghela napas dan menarik Hinata sedikit menjauh dari kerumunan. Merasa percakapan mereka tidak akan didengarkan oleh siapapun, Neji pun mulai berbicara. "Aku masih marah, Hinata."

"Maaf, Kak. Seharusnya aku membicarakan hal ini denganmu. Tapi—"

"Jadi, ini alasanmu pergi ke Suna beberapa waktu yang lalu? Dan kenapa kau tidak membicarakannya denganku?" Neji berbicara sambil memandang adiknya itu. "Aku kenal dengan keluarga Uchiha. Iya, mereka baik. Tapi aku tidak ingin adikku bertunangan dengan pria yang bahkan belum dikenalnya dengan baik."

Bahkan Hinata sendiri juga tidak ingin melakukan hal ini. Dia tidak menginginkan pertunangan ini. Tapi dia juga tidak ingin menolak perintah ayahnya dan ia selalu ingin membuat ayahnya bahagia. Ini juga demi impiannya.

"Kalau kau memang punya masalah seberat ini, kau harus menceritakannya padaku, Hinata! Aku bisa berbicara dengan ayah dan—"

"Tapi aku tidak ingin kalian bertengkar, Kakak," potong Hinata cepat. Bibirnya sedikit bergetar saat melihat luapan emosi di wajah kakaknya itu. "A-aku selalu merepotkanmu. Aku tidak ingin kau bermusuhan dengan ayah karena aku. Aku juga ingin bisa memutuskan jalanku sendiri. Tolong percaya padaku kali ini, Kak. Keputusan yang kuambil ini tidak akan membuatku menyesal. Aku berjanji."

Ah, apa ia sudah berkata dengan benar? Apakah dia terlihat meyakinkan? Apakah Neji akan percaya padanya? Padahal dirinya sendiri tidak yakin dengan semua perkataannya itu.

Selama beberapa saat, Neji hanya terdiam dan memandang wajah adiknya. "Baiklah, aku menyerah," ucap Neji dan membawa Hinata ke dalam pelukannya. "Tapi lain kali, jika kau ada masalah, kau harus membicarakannya denganku, Hinata."

Hinata tahu ini bukanlah permintaan melainkan sebuah perintah. Dan Hinata hanya bisa mengangguk guna menanggapi perkataan Neji tersebut.

"Hei, kalian curang sekali."

Suara itu mengalihkan perhatian Hinata dan Neji. Di hadapan mereka berdiri Hanabi sambil cemberut. "Ajak aku juga," tambah gadis itu dan berlari ke arah mereka. Gadis yang lebih muda setahun dari Hinata itu ikut memeluk Hinata.

"Bukan hanya kak Neji yang berada di sampingmu. Tapi, aku juga akan selalu mendukungmu." Hanabi semakin mengeratkan pelukannya. "Aku sayang sekali dengan kalian berdua."

"Terima kasih, Hanabi," balas Hinata.

Tiba-tiba Hanabi menghentikan pelukannya dan menatap Hinata. "Cinta itu hal yang aneh, Kak."

"Hm?"

"Cinta itu bisa muncul karena terbiasa. Sama dengan cintaku kepada kak Hinata dan kak Neji. Perasaan itu muncul karena aku selalu bersama dengan kalian. Kau mengerti maksudku?"

Hinata hanya memiringkan kepalanya mendengar ucapan adiknya itu. Neji juga ikut melakukan hal yang sama.

Gadis berumur tujuh belas tahun itu berdehem sekali kemudian berbicara kembali. "Maksudku itu ... mungkin sekarang kak Hinata dan kak Sasuke saling tidak mencintai. Tapi, aku yakin suatu saat nanti perasaan itu akan muncul dengan sendirinya karena mulai sekarang kalian akan terus bersama. Jadi, kakak jangan murung lagi ya?"

.

_End of Flashback_

.

Cinta itu bisa muncul karena terbiasa.

Selama tiga tahun ini, Hinata berpegang teguh pada kalimat itu. Berharap suatu saat nanti dirinya bisa mencintai Sasuke. Dan sekarang pun Hinata masih belum berhenti berharap.

Hanya sedikit yang Hinata tahu mengenai Sasuke. Pria ini sangat tertutup mengenai dirinya. "Sasuke," panggil Hinata tanpa sadar.

"Hn?" tanggap Sasuke sambil menginjak rem karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.

"A-aku ingin kita lebih saling mengenal lagi. Aku i-ingin kita tidak menjalani pertunangan ini karena paksaan. Aku ingin kau lebih terbuka terhadapku. Dan ... aku ingin bisa mencin-cintaimu, Sasuke."

Saking gugupnya, Hinata bahkan dapat merasakan detak jantungnya sendiri. Selama tiga tahun ini, tidak ada yang berubah dari hubungan mereka. Dan malam ini, Hinata ingin hubungan mereka sedikit berubah. Hinata tidak ingin terus menolak kehadiran Sasuke. Dia ingin mulai menerima kehadiran laki-laki itu. Dan Hinata berharap laki-laki itu juga melakukan hal yang sama terhadap dirinya.

Detik-detik setelah Hinata mengucapkan kalimat itu terasa sangat lama. Gadis itu tidak berani melihat reaksi Sasuke. Alhasil, ia hanya bisa menunduk sambil meremas roknya. Saat merasakan ada sepasang tangan yang memegang pundaknya, Hinata mengangkat kepalanya.

DEG!

Jantung Hinata berdegup semakin kencang saat melihat ekspresi Sasuke. Apakah itu ekspresi yang menunjukkan kelegaan? Kenapa laki-laki itu menampilkan wajah seperti itu?

Sasuke tiba-tiba melepas sabuk pengamannya dan mendekatkan dirinya ke arah Hinata. "Aku selalu berpikir kalau kau membenciku, Hinata," ujar laki-laki tersebut dan menangkup wajah Hinata.

"Dan mendengar semua kalimat itu dari bibirmu membuatku senang." Kali ini, Sasuke dengan berani mencium pipi Hinata.

Hinata tanpa sadar menundukkan wajahnya saat dirinya merasakan rasa hangat di pipinya. "Sa-Sasu—"

"Sst. Diamlah. Jangan bergerak dan terima saja, Hinata," ucap Sasuke dan secara perlahan pria itu menghilangkan jarak di antara mereka.

Hinata hanya terdiam dengan mata membulat saat Sasuke mencium bibirnya. Jantungnya berdetak dengan cepat dan kedua tangan Hinata meremas roknya semakin keras. Tubuhnya begitu gelisah saat Sasuke memperpanjang ciuman mereka.

Saat keduanya mendengar klakson mobil dari arah belakang, Sasuke segera menjauhkan tubuhnya. Dengan cepat, ia menjalankan mobilnya dan kemudian menepikannya di pinggir jalan.

Hinata masih berusaha mengendalikan debar jantungnya. "Ta-tadi itu apa?"

Pria di samping Hinata itu menoleh ke arahnya. Ekspresi lega itu masih terpampang di wajah Sasuke. Kedua tangan pria itu meraih kedua tangan Hinata. "Kita mulai semuanya dari awal, Hinata. Aku juga ingin bisa mencintaimu sebagai Hinata dan bukan sebagai anak dari ayahmu."

Hinata tersenyum mendengar perkataan Sasuke. Jika dirinya tahu kalau semua ini akan berjalan semudah ini, seharusnya Hinata mengutarakan maksudnya sejak dulu. Mungkin Sasuke juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Sama-sama takut kalau pasangannya tidak menginginkan kehadiran diri mereka.

"Terima kasih," sahut Hinata. Senyuman Hinata semakin melebar saat Sasuke membawa Hinata ke dalam pelukannya.

Mulai hari ini, mereka berdua akan membuka hati masing-masing dan mencoba mengerti satu sama lain. Mungkin saja perkataan Hanabi akan terwujud suatu saat nanti. Hinata benar-benar sudah tidak sabar menanti datangnya hari dimana dirinya dan Sasuke bisa saling mencintai satu sama lain.

.

.

.

Chapter 4 -END-

Author's Note: Hoho... Apa ini? Apa ini? Apa ini? Sulit sekali membuat adegan untuk Hinata dan Sasuke Habis mereka sama-sama pendiem, tapi semoga saja hasilnya gak terlalu mengecewakan ya? Hehe... Oh! Soal umur! Iya, Hinata dan Sasuke itu berbeda 6 tahun hehe..

Oiya, makasih banyak buat yang sudah mereview chapter kemarin. Khususnya untuk: dylanNHL, hyugaanamikaze18, Blu Kira, Senfai295, Poo, Otak Manusia, Shuu-kun, Cicin, Otak kacang, qpiwjhdjhgg, sabrina. a. nisa, divXI, Bumblebee, oooooo, Ruin's Crimson, sato mao, clareon, Ade854, riskadwinurfajriati15, SaSaSarada-chan, ayudiadinda. dewi, JojoAyuni, Ikha Hime, Hyuuga Ryumi, onyx dark blue, alex, tsukikohimechan, Lily, dewazz, Kuchan, Haru, Haruka Hime-chan, Zoccshan, Desta Soo, CherryOfDarkness. Terima kasih untuk reviewnya :D Love you all~~ Review kalian adalah penyemangat saya :D

Sekali lagi, terima kasih buat yang udah baca chapter ini :) Jangan lupa buat ninggalin komentar-komentar kalian di kotak review yaa... Saya tunggu ^.^