Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
No commercial advantage is gained by making this fanfic
.
This Fanfic by Tania Hikarisawa
[Tangled Ring, Chapter 5: Sakura's Present]
—Warning: AU & typo(s)—
.
.
.
Alunan musik mengalun lembut di ruangan yang dindingnya ditempeli kaca tersebut. Hanya ada satu orang di sana. Seorang gadis dengan rambut merah mudanya yang digelung, gadis itu sedang menari balet mengikuti musik dari kaset yang ia putar.
Saat melihat gerakannya kurang bagus, ia akan mengulangi gerakannya lagi dan menyetel ulang musik pengiringnya. Terkadang erangan frustasi terdengar dari mulutnya. Sudah sejak siang ia melatih gerakan tarian ini tapi masih saja tidak terlihat bagus. Semenjak pertunjukkannya berakhir seminggu yang lalu, Sakura sadar kalau ia tidak terlalu fokus dalam pekerjaannya akhir-akhir ini. Padahal seleksi pemain untuk pertunjukkan Swan Lake tinggal sebentar lagi dan ia sangat ingin menjadi pemain dalam pentas tari balet tersebut.
Setelah menyetel ulang kasetnya, Sakura kembali ke tengah-tengah ruangan. Ia menarik napas perlahan sembari memejamkan matanya dan mulai menyiapkan kedua tangannya untuk bergerak.
"Baik, sekarang harus sempurna," perintahnya pada dirinya sendiri. Baru saja Sakura akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba musik di ruangan itu berhenti.
Kepala gadis itu segera berputar ke tempat pemutar kasetnya. "Ino! Kenapa kau mematikannya?! Apa kau tidak melihat kalau sekarang aku sedang berlatih?!" geram Sakura dengan nada kesal yang sangat kentara.
Gadis berambut pirang itu berdiri dan mendekati sahabatnya. "Memangnya mau sampai kapan kau berada di studio, Sakura?"
"Sebentar lagi!" sahut Sakura ketus dan berjalan ke arah pemutar kasetnya.
Ino memutar bola matanya melihat sikap Sakura. Ada apa lagi dengan gadis Haruno ini?
"Halo, Ratu Drama. Apa sekarang kau tidak bisa membaca jam, hah? Perlu belajar ke taman kanak-kanak lagi?" gurau Ino.
Sakura yang baru saja ingin memutar kembali kasetnya menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Ino. "Tentu aku bisa! Sekarang baru jam enam, kan? Lagipula, aku sudah bilang kalau aku akan pulang sebentar lagi. Satu lagi, Ino. Jangan panggil aku seperti itu."
Ino hanya berdecak menanggapi perkataan Sakura. Bisa dibilang, Ino sudah bersahabat dengan Sakura selama sembilan tahun sehingga ia bisa tahu bagaimana tingkah Sakura kalau gadis itu sedang memiliki masalah. "Berhenti bertingkah konyol, Sakura. Sekarang kita pulang," Ino menarik paksa Sakura hingga mereka keluar dari salah satu ruangan yang berada di tempat mereka bekerja.
"Ino, tunggu!" pekik Sakura.
"Dengar, Sakura. Sekarang sudah jam sembilan malam. Kalau bukan karena telepon dari satpam, aku tidak akan mau menjemputmu seperti ini. Sekarang, ikut aku dan ceritakan masalahmu."
"Eh?"
Salah satu alis Ino berkedut saat melihat reaksi sahabatnya. Apa hanya tanggapan seperti itu yang ia dapatkan setelah berbicara panjang lebar?
"Jam se-sembilan?" tanya Sakura terbata-bata. Bagaimana ia bisa tidak sadar akan hal itu?
Ino mengangguk mantap. "Jadi, kau ada masalah apa sekarang?"
Sakura memiringkan kepalanya sejenak. "Masalah? Maksudmu mengenai seleksi pentas Swan Lake?" tanya Sakura balik.
Gadis bernama lengkap Yamanaka Ino itu mendesah pelan. "Aku bertanya mengenai masalah yang membuatmu tidak fokus seperti sekarang ini, Sakura. Biasanya kau selalu fokus dengan pekerjaanmu, kecuali jika kau ada masalah."
Sakura tersenyum mendengar semua penuturan Ino. Gadis itu segera memeluk Ino. "Kau benar-benar sahabatku, Ino."
Ino juga balas memeluk Sakura. "Jadi kau benar-benar sedang ada masalah?"
Sakura mengangguk pelan. "Mungkin tidak bisa dibilang masalah. Beban, mungkin?"
"Kita bicarakan ini sambil makan malam, bagaimana?" saran Ino akhirnya dan kemudian langsung disetujui oleh Sakura.
Benar, ada satu hal yang membuat Sakura tidak fokus akhir-akhir ini. Hal yang terjadi tepat setelah pertunjukkan dramanya seminggu yang lalu. Peristiwa itu terus membayanginya bahkan di saat ia akan tidur dan membayanginya kembali ketika ia bangun keesokannya. Mungkin berbicara dengan Ino akan membuat pikirannya lebih tenang.
o0o
Sakura agak kesal dengan wajah Ino saat ini. Gadis berambut pirang yang duduk di hadapannya itu hanya diam saja dengan wajah seperti orang bodoh. Oh, ayolah. Sakura menceritakan semua beban pikirannya bukan hanya untuk mendapatkan tanggapan seperti ini.
Keinginan Sakura untuk berbicara terpaksa terhenti karena seorang pelayan restoran datang membawakan pesanan mereka. "Silahkan dinikmati," ucap sang pelayan dengan senyuman manis di wajahnya.
Melihat Ino yang masih setia dengan wajah bodohnya, akhirnya Sakura menyerah dan memilih memulai makan malamnya.
"Sakura, berhenti."
Gadis berambut merah muda itu melirik Ino dengan wajah lelah. "Ada apa? Kau sudah selesai melamun?"
Ino mendesah. "Kita harus membicarakan hal ini dengan serius. Memangnya kau tidak sadar apa arti semua ini, hah?"
Sakura memiringkan kepalanya sambil meletakkan garpu dan sendok yang sudah ia ambil tadi. "Arti apa maksudmu?"
"Pria Hyuuga itu ... ah, maksudku Neji. Dia itu melamarmu, Sakura. Apa kau tidak sadar? Dan hebatnya kau malah bersikap santai seperti ini?!" pekik Ino tanpa sadar.
Sakura menghembuskan napas pelan. Akhirnya mereka kembali lagi ke pokok permasalahan. "Bukannya melamar terdengar sangat berlebihan? Kurasa ... yah, kurasa dia hanya menyukaiku sama seperti rasa suka dari penggemar-penggemarku yang lain."
"Hm?"
Sakura memutar-mutar matanya seakan sedang mencari kosakata yang ingin ia katakan. "Sejenis dengan cinta monyet, mungkin?"
Alis Ino berkedut mendengarnya. "Monyet? Jadi, selama ini aku berteman dengan monyet?"
"Ino, kumohon jangan bercanda," sela Sakura.
"Jadi, intinya mungkin seperti ini. Kau hanya menganggap Neji sebagai teman dan menurutmu Neji juga berpikiran seperti itu tentangmu. Lalu tiba-tiba saja ia melamarmu ... ah, maksudku ia mengatakan menyukaimu. Nah, sekarang masalahnya apa?" tanya Ino mengakhiri kesimpulannya.
Sakura mengerutkan dahinya. "Itulah masalahnya, Ino. Memangnya apa lagi, hah?"
Gadis bermarga Yamanaka itu hanya tersenyum kecil. "Oh, yang tadi itu hanya pembuka saja. Tapi belum ada masalahnya, kan?"
"Maksudmu?"
"Setelah pembuka, baru ada konflik dan diikuti penyelesaian. Nah, ceritamu barusan hanya sampai cerita pembuka saja, Sakura," terang Ino. Melihat Sakura yang hanya terdiam, Ino melanjutkan kembali ucapannya. "Jadi ... masalahmu adalah mengenai jawaban dari pernyataan Neji, kan?"
Sakura akhirnya mengangguk setelah memahami semua perkataan Ino. "Yaa ... kurasa begitu."
Ino tersenyum kembali. "Nah, setelah masalah, maka akan muncul penyelesaian. Terdengar mudah kan? Kau hanya perlu bertemu dengan Neji dan mengatakan semua perasaanmu padanya."
"Aku sudah memikirkan hal itu. Tapi sulit melakukannya, Ino. Aku ... aku tidak tega. Neji itu sangat baik padaku. Aku takut kalau aku menolaknya, dia tidak mau berteman denganku lagi," desah Sakura frustasi.
Melihat Sakura yang sibuk dengan pikirannya sendiri, Ino memilih meminum jusnya sedikit. "Aku punya saran untukmu, Sakura."
"Hm? Apa?"
"Hubungan yang baik adalah hubungan yang tidak didasarkan atas rasa kasihan. Kalau kau terus menggantung perasaan Neji, bukan hanya dirimu yang tersiksa, aku yakin Neji juga tersiksa. Jadi, cara paling mudah untuk menghilangkan beban pikiranmu ini adalah dengan mengatakan perasaanmu pada Neji," nasihat Ino panjang lebar.
Gadis berambut merah muda itu hanya menghelas napas dan tersenyum kecil. "Mendengar saran darimu membuat tekadku semakin bulat. Terima kasih, Ino. Tapi ... aku kasihan juga dengan Neji."
Ino memutar bola matanya. "Sudah kubilang kan tadi? Hubungan yang didasari—"
"Iya, iya," potong Sakura. "Jadi, berhubung pembicaraan serius kita sudah selesai, bagaimana kalau kita makan?"
"Tentu."
o0o
Malam itu, Sakura sampai di apartemennya dalam keadaan lelah. Tubuh dan batinnya benar-benar lelah. Memikirkan audisi pertunjukkan Swan Lake ditambah dengan masalah Neji sudah menguras energi yang Sakura miliki. Mandi air hangat mungkin akan membuatnya segar kembali.
Baru saja Sakura bangun dari posisi rebahannya, ponselnya berbunyi. Dan nama yang tertera di layarnya adalah nama seseorang yang sejak seminggu yang lalu telah menjadi beban pikiran Sakura. "Malam, Neji," sapa Sakura.
"Kau pulang malam lagi?" tanya laki-laki itu di seberang.
Dahi Sakura mengernyit saat mendengar pertanyaan Neji. "Bagaimana kau tahu?"
"Itu kebiasaanmu saat ada pertunjukkan baru, Sakura. Selalu latihan sampai lupa waktu," terang Neji.
Saat mendengar semua penjelasan Neji, Sakura terdiam beberapa detik. Laki-laki ini sejak kapan mengetahui kebiasaannya? Dan kenapa dia lebih tahu kebiasaannya daripada dirinya sendiri?
Sakura menggelengkan kepalanya saat berbagai pertanyaan itu terus menerus terngiang di kepalanya. Gadis bermarga Haruno itu kemudian tertawa kecil dan mengganti topik pembicaraan. "Jadi, kenapa kau tiba-tiba meneleponku, Neji?"
"Apa kau punya waktu luang? Aku ingin mengajakmu makan siang atau makan malam. Sudah lama kita tidak bertemu, kan?" tanya Neji panjang lebar. Sakura tertegun saat mendengar Neji yang bisa berbicara sebanyak ini.
"Kau berubah," gumam Sakura tanpa sadar.
"Hm? Kau mengatakan sesuatu, Sakura?" tanya Neji tiba-tiba dan membuat Sakura sedikit gelagapan.
"A-ah, bukan apa-apa, aku hanya berpikir hmm ... mungkin hmm...,"
Di seberang sana, Neji menghela napas dan berbicara kembali. "Ini hanya makan siang biasa, Sakura. Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku yang waktu itu, kau bisa memikirkannya lebih lama. Kalau aku tahu kau akan menghindariku seperti ini, mungkin lebih baik aku tidak mengutarakan perasaanku."
"Eh?" ucap Sakura tertegun. Apakah ia secara tidak sadar telah menghindari Neji?
"Sakura? Kau masih di sana?"
Dahi Sakura mengernyit, "Iya, aku masih di sini. Aku sedang berpikir. Sepertinya besok siang aku punya waktu luang," tambahnya.
"Baiklah, aku jemput jam satu di tempat kerjamu."
Pembicaraan itu selesai setelah keduanya mengucapkan selamat malam. Dengan ponsel yang masih berada di tangannya, Sakura menghela napas. Ia kembali teringat dengan kalimat Neji barusan.
"Kalau aku tahu kau akan menghindariku seperti ini, mungkin lebih baik aku tidak mengutarakan perasaanku."
"Arghh!" geram Sakura sambil meremas rambutnya. "Kenapa aku merasa sesak seperti ini?" gumamnya. Bahkan hanya mendengar saja, Sakura tahu kalau Neji juga sedang menderita, sama seperti dirinya. Harus ada yang mengakhiri ini semua. Harus ada yang membuat keputusan. Dan gadis bermarga Haruno itu sadar bahwa dirinyalah yang harus membuat keputusan ini.
o0o
"Jadi, kau akan bertemu dengan Neji hari ini?" tanya Ino saat mereka sedang berada di studio.
"Hm," sahut Sakura sambil melakukan pemanasan untuk memulai latihan tari baletnya.
Ino hanya berdiri di tempatnya sambil memperhatikan Sakura. Dia sebenarnya ingin bertanya lebih tapi rasanya akan terkesan terlalu ikut campur. Melihat Ino yang gelisah, Sakura tersenyum geli. "Kau kenapa, Ino? Kau ingin bertanya mengenai jawabanku?"
Gadis berambut pirang itu menghela napas, "Iya, aku penasaran, tapi aku takut kau marah."
Sakura tertawa kecil, "Kenapa kau canggung begitu? Kita sudah bersahabat lama. Selain dirimu, memangnya siapa lagi yang aku punya di dunia ini."
Ino memanyunkan bibirnya seakan-akan bersedih ketika mendengar ucapan Sakura. Gadis itu mengusap matanya berpura-pura mengusap air matanya. Dengan gaya yang berlebihan, ia menghampiri Sakura dan memeluk gadis itu. "Jangan menangis, Sayang. Ada Ino di sini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Satu alis Sakura berkedut karena perlakuan Ino. "Sepertinya kau jauh lebih cocok dipanggil Ratu Drama, Ino. Tingkahmu berlebihan sekali."
Detik itu juga, Ino melepas pelukannya dan sikapnya kembali seperti biasa. "Kau yang memulainya dengan mengucapkan kalimat penuh majas hiperbola seperti tadi," sahut Ino. Sakura hanya tertawa mendengarnya dan lembali melanjutkan gerakan pemanasannya.
"Jadi, jawabanmu apa?" tanya Ino akhirnya.
Sakura menghentikan gerakannya dan berbalik menatap Ino mantap. "Aku akan menolaknya," sahut Sakura mantap. "Selama ini, aku hanya menganggap Neji sebagai seorang teman. Karena itu aku tidak ingin menyakitinya dan tanpa sadar aku malah menggantung perasaannya. Dia pasti sangat tersiksa, kan, Ino?"
Ino tersenyum teduh, "Benar, dia pasti tersiksa. Tapi apa kau yakin dengan perasaanmu sendiri? Kau yakin hanya menganggapnya sebagai teman?"
Sakura terdiam sebentar. "Aku yakin," sahut Sakura mantap.
Baru saja Ino ingin mengucapkan beberapa kalimat penyemangat, seseorang membuka pintu studio sambil melongokkan kepalanya. "Wah, kebetulan sekali kalian berdua di sini," ucap orang tersebut.
"Memangnya ada apa?" tanya Ino.
"Ah, itu, Bos sedang mencari kalian berdua. Ada urusan dengan masalah pekerjaan."
Sakura dan Ino saling memandang kemudian sama-sama menaikkan kedua bahunya. Urusan apa yang ingin dibicarakan oleh Kepala Queen Anne Troupe itu?
o0o
Tepat jam satu siang, Sakura sedang berada di lobi kantornya dengan wajah masam. Berbeda dengan Ino yang berwajah riang sejak pagi. "Sakura, sudah jam satu. Kau pergi saja makan siang dengan Neji. Semua barangmu di kantor biar aku yang urus," ucap Ino riang.
Sakura menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kau terlihat senang sekali, Ino."
Ino tertawa kecil, "Ya ampun, benarkah?" balas gadis itu kemudian pergi ke dalam ruang loker dan meninggalkan Sakura sendiri.
Gadis bermarga Haruno itu masih terdiam dalam posisinya sambil mengingat perkataan bosnya itu. "Kalian tahu kalau perusahaan kita membuka cabang di Konohagakure, kan? Jadi aku memindahkan kalian bekerja di sana mulai minggu depan. Kalau bisa kalian sudah berangkat besok malam ke Konoha."
Sakura ingin membantah perkataan bosnya itu tapi dia tidak bisa karena dia mengerti kenapa bosnya memindahkan dirinya dan Ino ke Konoha. Tentu saja demi memancing penonton di Konoha karena Sakura adalah aktris opera berbakat yang ada di Suna dan Ino adalah penulis naskah yang selalu berada di belakang semua cerita menawan yang Sakura mainkan. Hanya dengan memindahkan mereka berdua saja sudah cukup untuk memancing penonton. Sakura tahu betul mengenai hal itu tapi dia tetap saja merasa kesal. Rasanya begitu berat meninggalkan Sunagakure yang sudah ia tinggalli selama empat tahun ini.
"Sakura," suara itu berhasil membangunkan Sakura dari lamunannya. Saat gadis itu berbalik, mata hijaunya dapat menangkap sosok laki-laki berambut coklat panjang dengan mata kelabu. "Ayo berangkat."
"Hm," Sakura hanya mengangguk dan mengikuti Neji ke tempat mobil laki-laki itu terparkir.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara. Sakura sedang sibuk memikirkan masalah pekerjaannya. Dan Neji memang jarang membuka percakapan terlebih dulu. Bagi laki-laki bermarga Hyuuga itu, suasananya begitu terasa canggung dan sepertinya semua ini karena kalimat yang ia ucapkan seminggu yang lalu.
Karena saking sibuknya dengan pikirannya sendiri, Sakura sampai tidak sadar kalau ia sudah sampai di restoran langganan mereka dan sudah duduk di dalam restoran tersebut dengan Neji yang sudah duduk di hadapannya. "Aku sudah memesankan makananmu yang biasa," ujar Neji.
"A-ah, terima kasih," balas Sakura canggung. Dia merasa sedikit bersalah karena sudah tidak menghiraukan Neji selama beberapa saat. Gadis itu tanpa sadar meringis karena merasakan suasana canggung yang tiba-tiba muncul.
"Kau kenapa? Ada yang sakit? Sejak tadi kau diam saja. Apa ini karena aku—"
"Bukan, Neji," potong Sakura cepat. Sakura tahu ke mana arah pembicaraan Neji dan Sakura sengaja mengubah topik tersebut. "Ini masalah pekerjaanku."
"Hm, jadi ada apa dengan pekerjaanmu?" tanya Neji.
Dan tanpa sadar, Sakura menceritakan perihal pemindahannya ke Konoha dengan menggebu-gebu kepada Neji. Bukan hanya itu saja, ia juga menambahkan bagaimana kekesalannya saat melihat Ino yang begitu senang dengan kepindahan mereka, berbanding terbalik dengan suasana hatinya.
"Hmm," tanggap Neji. Tatkala laki-laki itu ingin membuka mulut, pesanan mereka datang. Setelah pelayan restoran itu pergi, barulah Neji berbicara kembali. "Seharusnya kau juga senang. Karena kau bisa bekerja di negara asalmu, Sakura."
Gadis itu merenggut. "Konoha itu memang rumahku tapi rasanya tidak nyaman. Aku lebih senang berada di sini," sahutnya.
Neji memandang Sakura sejenak, mencoba memikirkan alasan kenapa Sakura bertingkah seperti ini hanya karena kepindahannya. "Apa ini soal orang tuamu?"
"Eh?" mata Sakura melebar. "Sepertinya bu—"
"Atau karena Naruto?" potong Neji cepat. Melihat Sakura yang terdiam dengan mata melebar itu, Neji hanya bisa menghela napas kecil kemudian meminum air putih yang ada di hadapannya.
"Ke-kenapa kau bertanya seperti itu, Neji?" tanya Sakura kemudian.
Neji kembali memusatkan pandangannya ke hadapan gadis di hadapannya. "Karena sepanjang pengetahuanku hanya dua hal itu yang selalu menghantuimu, Sakura. Kau tidak bisa lepas dari masa lalumu. Kau takut dengan mereka. Kau ingin lari dari mereka."
Jantung Sakura berdetak lebih cepat saat ia mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Neji. Kepalanya menunduk seiring dengan ingatan masa lalunya yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Ia kembali teringat dengan pertengkaran orang tuanya yang membuat keluarganya hancur dan pertengkarannya dengan Naruto yang membuat hidupnya hancur.
Tiba-tiba saja Neji menggenggam tangannya sehingga membuat Sakura mengangkat kepalanya. Mata hijau Sakura dapat menangkap wajah penyesalan dari lawan bicaranya. "Neji."
"Tanganmu gemetar, Sakura. Sepertinya ucapanku berlebihan. Maaf," ujar Neji. "Kita hentikan pembicaraan ini sampai di sini, bagaimana? Aku tidak mau makan makanan yang sudah dingin," tambahnya sembari tersenyum kecil.
Ada yang bilang senyum itu menular dan sepertinya hal itu benar. Karena secara perlahan, gadis berambut merah muda itu tersenyum dan sejenak melupakan masalah yang sedang membebaninya.
Tujuan awal Sakura saat menerima ajakan makan siang Neji adalah untuk menjawab pernyataan Neji seminggu yang lalu. Tapi kenyataannya hal yang mereka bicarakan saat makan siang adalah masalah pekerjaan Sakura kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan tentang kejadian sehari-hari. Sakura bahkan sadar kalau selama makan siang, Neji mencoba menghiburnya. Karena itulah, Sakura memberanikan diri untuk mengajak Neji pergi ke suatu tempat setelah mereka makan siang.
"Hm, tidak masalah. Aku bisa menunda semua pekerjaanku di kantor untuk hari ini," sahut Neji.
"Eh? Kalau kau memang sedang sibuk, lebih baik dibatalkan saja," balas Sakura cepat.
Pria itu meraih salah satu tangan Sakura dan menggegamnya. "Tidak apa, Sakura. Aku senang mendengarmu mengajakku pergi terlebih dahulu. Jadi, kau mau pergi kemana?"
Gadis itu memiringkan kepalanya sembari Neji mengeluarkan mobilnya dari parkiran restoran. Saat hampir sampai di jalan raya, Sakura belum juga memutuskan pilihannya. "Kalau begitu kita pergi ke sana saja," putus Neji kemudian.
"Ke mana?" tanya Sakura.
Pria bermarga Hyuuga itu tersenyum sambil memandang jalan. "Kau lihat saja nanti."
o0o
"Err ... Neji, kenapa kita ke perusahaanmu?" tanya Sakura canggung saat mata hijaunya dapat melihat gedung pencakar langit di depannya.
Dengan lihai, pria bermarga Hyuuga itu membelokkan mobilnya dan memasukkannya ke dalam parkiran yang berada di lantai dasar gedung perusahaannya. "Aku tidak mau menarik perhatian dengan membawamu ke tempat umum," sahut Neji sambil keluar dari mobil.
Setelah membukakan pintu untuk Sakura, dua orang itu segera masuk ke dalam lift. "Maksudmu menarik perhatian ba—"
"Kau itu artis teater, Sakura. Bagaimana kalau ada wartawan yang melihat? Kau yang akan repot, kan?" ujar Neji kemudian memencet salah satu tombol yang ada di dalam lift.
Gadis berambut merah muda itu tertawa kecil mendengarnya. "Bukannya selama ini kita selalu makan di tempat umum? Kau tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Kehidupan aktris teater tidak semenarik aktris film. Para wartawan lebih suka memburu anak-anak film daripada kami yang bekerja di bidang teater."
Neji menghela napas, "Hm? Benarkah? Kalau begitu lain kali kita pergi ke taman saja."
"Kau ternyata manis juga," celetuk Sakura tanpa sadar.
Neji mengerutkan alisnya. "Hanya kau satu-satunya orang yang beranggapan seperti itu ... kurasa."
Sebenarnya Sakura merasa geli juga saat dirinya mengatakan Neji sebagai orang yang manis. Karena pada dasarnya, Neji sangatlah jauh dari kata manis. Laki-laki bertampang datar dengan wajah serius ini tentu tidak cocok dikatakan manis, kan?
Sakura menghentikan cekikikannya saat mendengar helaan napas Neji. Gadis itu menolehkan kepalanya ke arah Neji seakan bertanya mengapa laki-laki itu menghela napas. Neji pun membalas tatapan Sakura sambil tersenyum kecil, "Aku lega karena kau sudah bersikap seperti biasa, Sakura."
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya untuk menanggapi perkataan Neji karena ia baru menyadari hal itu. Kecanggungannya saat berbicara dengan Neji sudah menghilang. Kenapa bisa? Dan kenapa ia tidak menyadarinya?
Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Neji menarik salah satu tangan Sakura agar mengikutinya. Sedangkan Sakura masih diselimuti dengan berbagai pertanyaan yang menghinggapi dirinya.
"Kita sampai," ucapan Neji membuat Sakura terbangun dari lamunannya. Mata hijau Sakura membesar saat menyaksikan pemandangan di depannya. Pemandangan Sunagakure yang sudah ia tinggali selama empat tahun.
"Kita di mana?"
"Lantai paling atas. Dari sini, kau bisa melihat seluruh Sunagakure. Ingatlah semua kenanganmu di sini sebelum kau kembali ke Konoha. Dan kalau kau merasa hidup di Konoha sangat sulit, kau bisa mengingat semua kenangan indahmu yang ada di sini," ucap Neji panjang lebar.
Sakura yang mendengarnya hanya bisa termenung sambil menatap lelaki beriris kelabu itu. "Wah, kau berbicara panjang sekali, Neji."
Neji berdehem kecil dan kembali memasang wajah datarnya. "Hanya perasaanmu saja."
Setelah melihat Neji kembali memasang wajah datarnya, Sakura menoleh ke arah depan. Pemandangan Sunagakure di siang hari dan tentunya dengan suhu yang lumayan panas. Gadis itu memejamkan matanya seakan-akan mulai menyimpan satu per satu memori bahagianya di dalam hatinya.
Rasa takutnya saat ia pertama kalinya datang ke Sunagakure bersama Ino. Rasa gugupnya saat ia pertama kali tampil di atas panggung teater. Rasa senangnya saat ia bisa tertawa bersama dengan teman-teman satu profesinya. Dan rasa hangat yang ia rasakan saat bersama dengan ... Sakura tiba-tiba membuka matanya.
TES!
Air matanya tiba-tiba saja menetes tanpa ia sadari. Isakan kecil lolos dari bibirnya. "A-aku tidak ingin pergi dari sini, Neji," pekiknya. "Aku menyukai Sunagakure."
"Tapi, aku yakin kau juga menyukai Konoha, Sakura. Karena kau lahir dan tumbuh besar di sana," balas Neji.
Sakura menutupi wajahnya dengan kedua tangannya saat tangisnya makin sulit ia bendung. "Aku su-suka berada di sini." Neji hanya berdiam diri tanpa berniat untuk membalas ucapan Sakura karena ia tahu gadis itu masih perlu banyak waktu untuk berpikir tentang dirinya sendiri dan hal yang ingin ia lakukan.
"Aku suka bekerja di sini," ucap Sakura. "Aku menyukai makanannya, cuacanya, orang-orangnya, pemandangannya, d-dan aku bisa meraih impianku di sini."
"Aku yakin kau juga menyukai semua makanan di Konoha, cuacanya, orang-orangnya, pemandangannya dan kau juga bisa meraih impianmu di sana," balas Neji. "Tidak akan ada yang berbeda, Sakura. Jadi—"
"Tidak!" pekik Sakura. "Berbeda, semuanya berbeda, karena, karena ...," tambahnya sambil melepas kedua tangannya dari wajahnya. Kelopak matanya terlihat sedikit sembab saat ia menatap Neji. "Karena ... kau tidak ada di sana, Neji."
Ah! Semuanya gagal total! Itulah yang Sakura pikirkan saat ini. Tujuannya untuk menolak pernyataan cinta Neji sudah gagal karena tanpa sadar ia baru saja mengakui kalau ia memiliki perasaan yang sama terhadap laki-laki itu. Sepertinya selama ini, ia tidak sadar akan perasaannya sendiri.
"A-aku tidak mau kita berpisah," tambah Sakura.
Memang benar apa yang sering dikatakan orang, kita akan benar-benar tahu betapa berharganya sesuatu hal jika kita hampir kehilangan hal tersebut. Karena sekarang itulah yang ia rasakan. Ia baru sadar akan pentingnya arti Neji di saat ia akan kehilangan laki-laki tersebut.
"Aku juga tidak ingin berpisah denganmu, Sakura," balas Neji sambil menarik Sakura ke dalam pelukannya. "Menangislah sepuasmu."
Sakura semakin mengeratkan pelukannya seiring dengan tangisannya yang semakin kencang. Mungkin inilah hari terakhir di mana ia bisa bertemu dengan Neji. "Aku ... a-aku menyukaimu, Neji. Aku merasa sa-sangat nyaman saat bersamamu," ungkapnya di sela tangisnya.
Neji tersenyum mendengarnya. "Aku juga. Aku sangat mencintaimu, Sakura. Jadi, berhentilah menangis karena aku akan selalu ada untukmu."
Bukannya berhenti, tangisan Sakura malah semakin kencang. Dia kesal dengan kenyataan yang ia hadapi. Ia kesal dengan dirinya yang baru sadar dengan perasaannya sendiri saat dirinya akan berpisah dengan Neji. Andai saja ia menyadarinya sejak dulu.
"Kalau aku pergi ke Konoha bersamamu, apa kau akan berhenti menangis?" pertanyaan Neji yang sangat tiba-tiba itu membuat Sakura terdiam. Gadis itu berusaha melepas pelukan Neji. Ada perasaan bahagia yang meluap-luap dalam dirinya tapi ... dia tidak ingin mengorbankan pekerjaan Neji hanya demi kebahagiaannya.
Gadis itu menggeleng perlahan sambil menatap Neji. "Jangan melakukan hal itu, Neji. Kau tidak perlu mengorbankan pekerjaanmu hanya demi diriku."
Neji hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Sakura. Kedua tangan pria itu merangkum wajah Sakura sembari menghapus jejak-jejak air mata Sakura. "Kau terlambat mengatakannya karena aku sudah melakukannya sekarang."
"Eh?"
"Seharusnya aku sudah kembali ke Konoha setahun yang lalu tapi aku tetap berada di sini karena kau ada di sini, Sakura," terang Neji.
Sejenak Sakura terdiam karena kehilangan kata-kata. "Ke-kenapa?"
Neji kembali membawa Sakura ke dalam pelukannya. "Karena aku mencintaimu," sahut Neji. Diusapnya pelan helai rambut Sakura.
Emosi Sakura kembali meledak saat mendengar penuturan Neji. Laki-laki ini rela melakukan apa saja demi dirinya. "Terima kasih," ucapnya di sela tangisnya.
o0o
Tadi pagi Sakura baru saja sampai di Konoha. Masih segar dalam ingatan Sakura bagaimana omelan Ino saat ia menceritakan perihal hubungannya dengan Neji. Tapi, akhirnya gadis berambut pirang itu menerima keputusan Sakura dan memberikan dukungannya. Mengingat Ino, Sakura menjadi ingat kembali bagaimana mesranya hubungan Ino dengan kekasihnya. Sai bahkan tidak malu saat ia mencium Ino di bandara dengan ditonton banyak orang.
"Sakura, sudah siang, kau tidak mau makan dulu?" suara Kurenai terdengar seiring dengan suara ketukan di pintu kamar Sakura. Ah iya, Sakura memang kembali tinggal dengan paman dan bibinya.
"Iya," sahut Sakura kemudian keluar dari kamar. Saat sampai di ruang tengah, mata hijaunya menangkap sosok remaja lelaki yang sedang duduk melamun di sofa.
"Konohamaru!" teriak Sakura sambil memeluk laki-laki itu. "Aku rindu sekali denganmu," tambahnya.
Konohamaru hanya diam kemudian menghela napas. Melihat reaksi Konohamaru yang tidak menyenangkan, Sakura segera menghentikan pelukannya dan duduk di samping Konohamaru. "Hei, ada apa dengan adikku yang tersayang ini?" tanya Sakura sambil mencubit pipi laki-laki berumur dua puluh tahun itu.
"Kak, mau pergi keluar denganku?"
Sakura memiringkan kepalanya. "Tapi ibumu sedang membuat makan siang, kan? Kita pergi setelah makan siang bagaimana?"
Konohamaru mendengus kemudian menarik salah satu tangan Sakura. "Cepat ke kamarmu, ambil jaket tebal, sudah hampir bulan Desember. Aku tunggu di luar," titah laki-laki itu seenaknya. Sakura hanya meninggalkan Konoha selama empat tahun, tidak mungkin sikap Konohamaru bisa berubah sangat drastis, kan?
"Sudah, temani dia, Sakura. Dari kemarin sikapnya aneh, sepertinya dia ada masalah. Mungkin kalau denganmu dia mau membagi masalahnya." Kurenai tiba-tiba saja muncul dari arah dapur.
Sakura mengedikkan kedua bahunya. "Baiklah."
Tak sampai lima menit, Sakura sudah berjalan dengan Konohamaru ke halte bis. "Jadi kita mau kemana?"
Bukannya menjawab, Konohamaru hanya mendesah. "Wah, cuacanya sudah mulai dingin. Apa di Sunagakure juga dingin, Kak?"
Sakura tertawa kecil. "Di sana hanya ada musim hujan dan kemarau. Kau tidak akan pernah merasakan suhu sedingin ini di sana," sahutnya.
Baru saja mereka sampai di halte bis, bis yang mereka tunggu sudah tiba. Kedua anak muda itu sengaja memilih tempat duduk paling belakang. "Jadi kau sedang ada masalah?" tanya Sakura.
Konohamaru menghela napas. "Kakak menyadarinya?"
Sakura memutar bola matanya. "Semua orang pasti akan sadar. Kau tiba-tiba menjadi pendiam dan sering menghela napas, padahal kau dulu selalu ceria. Jadi ada apa?"
"Ada ... ada seseorang yang aku suka dan kami sudah berpacaran," ungkap Konohamaru.
"Waw!" Sakura tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Lalu kalian sedang bertengkar?" tebaknya.
"Entahlah, aku sendiri juga bingung. Kami sudah berpacaran selama setahun. Tiba-tiba saja aku menjadi tidak percaya diri sebagai pacarnya. Dia terlalu hebat," ucap Konohamaru panjang lebar. "Jadi kemarin aku meminta putus dari dia."
"Eh?!" Belum habis keterkejutan Sakura mengenai Konohamaru yang sudah memiliki pacar, sekarang ia dibuat semakin terkejut dengan tindakan Konohamaru. "Kenapa kau tiba-tiba minta putus?"
Konohamaru menggeram frustasi. "Argghh ... Kakak tidak akan mengerti karena Kakak perempuan. Aku ini laki-laki, aku ... aku ingin bisa sebanding dengannya. Karena itu, aku minta putus, aku ingin menjadi orang sukses dulu agar suatu saat nanti dia bisa bangga memiliki kekasih sepertiku."
Sakura tersenyum sambil mencubit kedua pipi Konohamaru. "Kau hebat, kau terlihat lebih dewasa dari kakak," tanggap Sakura. "Jadi, sekarang masalahnya apa?"
Konohamaru diam sebentar sebelum ia mengacak-ngacak rambutnya. "Kemarin aku belum sempat mengutarakan alasan kenapa aku minta putus. Aku berusaha meneleponnya tapi dia mematikan ponselnya. Aku harus bagaimana?"
"Mudah kan? Kau hanya perlu berbicara dengannya. Datangi tempat tinggalnya," saran Sakura.
Konohamaru hanya mengangguk menanggapi saran Sakura. "Menurut Kakak, apa ia akan mengerti dengan alasanku?"
"Dia pasti mengerti. Semangat!"
"Terima kasih, Kak." Akhirnya Konohamaru tersenyum hari itu. "Ah, kita turun di halte berikutnya."
Sakura tidak bertanya apa-apa, ia hanya mengikuti Konohamaru saja. Mereka berdua kemudian berjalan kaki untuk mencapai tempat tujuan mereka. Saat sudah hampir sampai, barulah Sakura sadar Konohamaru mengajaknya pergi ke mana. "Tunggu dulu, kita mau pergi ke kedai Paman Teuchi, kan?" tebak Sakura.
Konohamaru mendadak tertawa saat mendengar pertanyaan Sakura. Dalam hati, Sakura sangat senang saat melihat tawa Konohamaru. "Kedai? Wah, sekarang Paman Teuchi sudah membuka restoran. Coba saja kakak lihat seberapa besar restorannya."
Tepat seperti yang dikatakan oleh Konohamaru, kedai yang dulu hanya bisa menampung maksimum lima orang pengunjung itu telah berubah menjadi sebuah restoran. Sepertinya Paman Teuchi sudah membeli tanah di sekeliling kedainya. Saat sampai di pintu masuk, Sakura dan Konohamaru disambut oleh seorang pelayan dengan pakaian tradisional.
"Selamat datang, silahkan tunggu sebentar. Kami akan mencari tempat kosong untuk Anda berdua," ucap pelayan itu sopan. Sakura sempat takjub saat melihat begitu ramainya pengungjung restoran tersebut. Hal itu tak dapat dihindari karena sekarang sedang jam makan siang.
Pelayan yang menyambut mereka kembali lagi. "Maaf sebelumnya, sepertinya semua meja sudah penuh. Sebenarnya ada meja untuk empat orang yang hanya diisi dua pengunjung. Kalau Anda tidak berkeberatan untuk berbagi meja, kami bisa membawa Anda ke sana."
Sakura menoleh ke arah Konohamaru. "Bagaimana? Kalau kakak tidak keberatan sama sekali."
"Aku juga," sahut Konohamaru. "Bagaimana dengan dua pengunjung itu, apa mereka tidak keberatan?"
Pelayan itu tersenyum. "Mereka tidak keberatan, Tuan."
Sakura dan Konohamaru kemudian mengikuti pelayan itu ke meja bernomor dua puluh yang terletak agak di belakang. "Silahkan," ucap sang pelayan kemudian meninggalkan Sakura dan Konohamaru.
Hal yang pertama Sakura lihat adalah punggung seorang gadis dengan rambut cokelatnya yang panjang. Bukannya pelayan itu mengatakan ada dua pengunjung tapi kenapa hanya ada satu orang yang duduk?
"Permisi," ucap Sakura. Gadis itu menoleh sambil tersenyum. Matanya yang berwarna sama dengan kekasihnya membuat Sakura terkejut. "Terima kasih sudah mengizinkan kami bergabung."
"Sama-sama," balas gadis itu. "Ah, kakak yang bersamaku sedang ke kamar mandi. Sebentar lagi pasti dia datang."
Sakura segera mengambil tempat duduk di samping gadis itu. Baru saja ia hendak memperkenalkan diri, Konohamaru meraih bahu gadis yang duduk di sebelah Sakura. "Hanabi."
Gadis itu menoleh ke belakang, matanya membesar dan mulutnya terlihat sedikit bergetar. "Ko-konohamaru, sedang apa—"
Ucapan gadis itu terputus saat tangannya ditarik paksa oleh Konohamaru. "Kita perlu bicara," ucapnya cepat dan segera pergi dari sana dengan membawa gadis yang dipanggil Hanabi itu.
Sakura yang ditinggal begitu saja hanya bisa tercengang menyaksikan adegan yang sering ia lihat di drama televisi. "Aku pikir hanya bisa melihat hal seperti ini di dalam drama," ucapnya sambil menoleh ke belakang. Rupanya Konohamaru membawa gadis itu keluar dari restoran.
"Kau sudah memesan Hanabi ... eh?" sebuah suara laki-laki membuat Sakura kembali menghadap depan. Hal pertama yang Sakura tangkap adalah rambut pirang dan mata biru yang dimiliki oleh laki-laki itu. "Sakura?"
"Naruto ...," gumam Sakura.
Naruto berdehem sebelum akhirnya mengambil tempat duduk di hadapan Sakura. "Aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu di sini."
"Maaf, kau harus terpaksa berbagi tempat duduk denganku," ucap Sakura sambil menunduk.
Sakura tidak terlalu ingat mengenai apa yang ia bicarakan bersama dengan Naruto saat itu. Hanya ada satu kalimat dari Naruto yang berhasil ia ingat dengan sangat jelas. Kalimat yang mengakhiri percakapan mereka berdua.
"Aku merindukanmu, Sakura," ucap laki-laki itu dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Sakura hanya bisa terdiam saat itu, suaranya seperti tercekat dalam tenggorokan.
Tepat saat itulah, Konohamaru dan gadis berambut cokelat itu kembali ke meja. Percakapan selanjutnya kemudian beralih ke menu apa yang akan mereka pesan ditambah dengan percakapan basa-basi yang kebanyakan diisi oleh Naruto dan Konohamaru.
Ah! Sakura hanya bisa memekik dalam hati. Karena sepertinya ia juga merindukan laki-laki yang duduk di hadapannya ini. Laki-laki yang dulu pernah membuat hidupnya sangat indah. Dan sekarang, di saat Sakura sudah menemukan laki-laki lain sebagai tempatnya bersandar, ia kembali diusik dengan kenangannya bersama Naruto. Dilema, itulah yang ia rasakan saat ini.
.
.
.
Chapter 5 -END-
Author's Note: Udah lama banget gak diupdate fanfic ini ya hehehe... Yosh! Akhirnya chapter 5 update :) Oiya, sekedar pemberitahuan, Naruto, Sasuke, Sakura itu seumuran ya... sama-sama 27 tahun wkwk... Mau kasi spoiler dikit, di chapter depan, Naruto bakal ketemu sama Hinata :)
Di sini saya buat Konohamaru itu anak tunggal dari Kurenai dan Asuma, saya lebih suka kayak gini soalnya wkwk...
Makasih banyak buat yang sudah mereview chapter kemarin. Khususnya untuk: mhiemilochan, sslover, CherryOfDarkness, gilang. ramadhan. 129357, Ruin's Crimson, Vita, SaSaSarada-chan, devil, Archilles, Ikha Hime, dylanNHL, Guest, Sasuhinalemonxx, Guest, sabrina. a. nisa, Haruka Hime-chan, onyx dark blue, JojoAyuni, ayudiadinda. dewi, dwi. bumblebee, yuka, hyuga ashikawa, ss, himecentric, durarawr, Baby niz 137, NaruSakuL, Desta Soo, Blu Kira, Nurul851 II, divXI, Kkkyuu, Tsukikohimechan, Haru, yumichan, AoRizuki, SHL, Lily, Ade854, araaaa, Hyuuga Ryumi, MaoMafu31, Misshire, Guest, Reza Juliana322. Terima kasih untuk reviewnya :D Love you all~~ Review kalian adalah penyemangat saya :D
Sekali lagi, terima kasih buat yang udah baca chapter ini :) Jangan lupa buat ninggalin komentar-komentar kalian di kotak review yaa... Saya tunggu ^.^
