Di belahan jalanan kota yang sepi, terlihat sosok lelaki berkulit pucat tengah melajukan mobilnya dengan kekuatan melebihi rata-rata. Sesekali kepalanya menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang mengikutinya.
Wajah tampannya yang kini dihiasi keringat dingin dipelipisnya itu semakin memucat tatkala melihat sosok yang sangat dihindari kehadirannya itu telah berada tepat didepan mobilnya.
Namun sedetik kemudian semua ketakutannya menghilang tatkala sebuah ide cemerlang datang di kepalanya.
Brmrmm brrrmmm bbrrrmmm
Lelaki pucat itu menambah kecepatan gasnya kemudian melaju dengan cepat menabrak sosok itu
"Mati kau" girangnya
"Ap-AAAAAA"
BRUAAKKK
Namun semua tidak sesuai keinginannya. Lelaki tampan itulah yang kini menerima nasib malangnya. Mobil yang di kendarai hingga kecepatan upnormal itu menabrak perbatasan jalan. Asap mulai mengepul, dari bilik kemudi nampak sosok lelaki yang kini tengah bersusah payah keluar dari mobilnya.
Bruk
Uhuk uhuk
Akhirnya dengan segala sisa kekuatan yang dimilikinya lelaki itu berhasil keluar dari dalam mobil dengan kondisi yang penuh luka. Perlahan lelaki itu mulai berdiri berniat meninggalkan tempat itu sebelum mobilnya meledak.
Nafas lelaki itu mulai tersengal. Dirasa sudah cukup jauh dari tempat kejadian ia pun memutuskan untuk beristirahat, namun alangkah terkejutnya lelaki itu saat menoleh melihat sosok yang hendak ia tabrak tadi sudah berada tepat dibelakangnya.
"Ss-siapa kau?" tanyanya gugup.
Sosok lelaki kecil bermata bulat itu menyeringai menakutkan.
"Malaikat mautmu. Oh Sehun"
Jleb
Arrggggg-
DarkS2Light
Mempersembahkan
Iecherous Man
Chapter 3
"Hah...hah...hahhh"
Lelaki tampan berkulit pucat itu terbangun dengan nafas yang terengah.
"Damn!" Sehun mengumpat pelan sembari mengusap kasar peluh yang jatuh membanjiri pelipisnya.
Mimpi yang baru saja menghampiri tidurnya itu membuat batinnya gelisah,
Sebenarnya apa maksud mimpi itu?
Siapakah sosok yang hadir dimimpinya itu?
sosok anak kecil bermata bulat yang tak pernah sekalipun Sehun lihat dikehidupannya selama ini.
Apakah sosok itu memiliki dendam dengannya?
Tapi kenapa bisa, Sehun bahkan tidak mengenalnya. Lagi pula mana mungkin Sehun berbuat salah kepada anak kecil, yah meskipun dia adalah lelaki brengsek namun menyakiti anak kecil bukanlah gayanya. Selama ini hanya ada satu orang yang selalu ia jadikan sasaran untuk disakiti yaitu Luhan, lelakibisu yang sekarang tinggal di Apartemennya.
Senyum kecut nampak di wajah tampan Sehun, tangannya terkepal kuat saat bayang-bayang masa lalu yang menghantuinya itu muncul dipikirannya - (Flash)
Cklek
"Hun-a~ Appa pulang"
Lelaki paruh baya itu berteriak kecil dari luar sebelum melanjutkan langkahnya memasuki rumah untuk mencari keberadaan sosok putra tercinta.
"Appaaa!"
Teriak girang bocah berumuran enam tahun yang kini tengah berlari kecil menuruni tangga.
Hap
"Hei, Jagoan Appa"
Lelaki paruh baya itu menangkap tubuh kecil yang melompat kearahnya dengan sigap kemudian menggoyang-goyangkan kecil tubuh putranya membuat bocah berusia enam tahun itu terkikik bahagia.
"Appa kenapa balu pulang? Thehun thudah menunggu Appa dali tadi tau" bocah kecil berkulit pucat itu berujar sebal sembari mengerucutkan bibirnya.
"Ah, mianhae. Appa pulang terlambat karena ada urusan sebentar tadi" Jawab sang Appa.
"Jangan berpikiran macam-macam sayang" lelaki paruh baya itu menyentil pelan dahi putranya yang mengkerut hingga membuat sang empunya mengaduh.
"Oh, iya Appa hampir lupa. Appa mempunyai hadiah untukmu loh" Ujar sang Appa ketika mengingat sesuatu yang dibawanya tadi masih berada diluar.
"Mana Appa? Thehun mau hadiah" Sehun kecil menatap antusias Appanya
"Baiklah tunggu disini sebentar ne, Appa akan membawanya kemari"
Perintah sang Appa, kemudian mendudukkan tubuh kecil Sehun disofa. Sehun mengangguk patuh menuruti Appanya. Bocah kecil itu kembali memainkan permainan di tabletnya sambil menunggu sang Appa.
"Ini dia Sehun-a"
Bocah berusia enam tahun itu menolehkan kepalanya kearah sumber suara.
"Tada~ Teman baru" Teriak Appa Sehun girang memperkenalkan teman baru untuk putra kecilnya.
Mata sipit Sehun kecil membola tatkala melihat sosok yang tengah berdiri disamping Appanya lebar kearahnya
Prang
Tablet berukuran 10 inch itu terjatuh begitu saja dilantai hingga meninggalkan retak dilayarnya. Mata pemilik benda itu semakin melebar setelah menyadari benda kesayangannya terjatuh akibat keterkejutannya. Seketika tangan kecilnya terkepal kuat, tatapan nyalang ia layangkan pada kedua orang yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya itu.
"Kenapa Appa membawa anak gembel kemali?!"
Sehun kecil berteriak murka dihadapan ayahnya. Akibat benda kesayangannya terjatuh kini emosi bocah berusia enam tahun itu tak bisa ia bendung lagi. Sebagai pelampiasan kekesalanya iapun menyalahkan kedua orang yang berdiri dihadapannya kini.
"Hiks"
"Jaga bicaramu Sehun!"
Tuan Oh membentak putra tunggalnya setelah menyadari bahwa sosok kecil yang berada disampingnya tengah terisak ketakutan.
"Appa" gumam Sehun lemah.
Sungguh ia tidak bisa mempercayainya. Baru kali ini Sehun dibentak Appanya dan itu hanya karena Sehun berteriak didepan bocah berpakaian lusuh yang entah dari mana Appanya pungut tadi.
"Namanya Luhan. Mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita. Appa harap kau bisa berteman baik dengannya nanti" Ujar Tuan Oh kemudian berlalu membawa sosok kecil yang masih terisak itu kelantai atas meninggalkan Sehun kecil dalam keterdiamannya.
Sehun tidak pernah membayangkan bagaimana jadinya jika gembel tanpa asal usul yang jelas itu tingal dirumah megahnya, bersamanya.
Oh~ Ini mimpi buruk.
(*_)
Waktupun berlalu begitu cepat. Tak terasa kini kedua bocah yang dipertemukan dengan unsur ketidaksukaan itu sudah memasuki bangku sekolah menengah atas. Disekolah yang sama dan kelas yang sama menjadi saksi bisu persiteruan mereka setiap harinya.
Oh Sehun tumbuh menjadi lelaki tampan berkepribadian dingin yang sangat digandrungi para wanita. Dia selalu dipuja-puja disekolahnya, karena selain tampan dia juga kaya dan pintar. Yah, kehidupannya memang terdengar sangat sempurna, namun tidak, tidak batinnya. Batin lelaki tampan itu selalu terguncang apabila melihat dia – lelaki berparas cantik yang ia cap sebagai rival. Rival dikelas, dirumah dan dihidupnya.
Kala itu...
Kelas telah berakhir namun Sehun masih tetap bertahan ditempat duduknya menunggu teman-temannya meninggalkan ruangan. Hingga kini yang tersisa hanya dirinya dan sosok lelaki berparas cantik yang duduk di bangku paling ujung dengan baju yang basah kuyup. Lelaki itu-Luhan kini tengah menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Susah, sedih, marah, kecewa? Entah Sehun tidak bisa mengartikan sorot mata itu.
Huh, Sudahlah untuk apa juga Sehun harus memusingkan tentang hal itu. Biarkan saja, toh itu memang pantas untuknya. Lebih baik Sehun segera pergi dari tempat itu.
Krek
"Sehun"
Saat Sehun hendak meninggalkan bangkunya sebuah suara datang menginstrupsinya. Sehun terdiam berdiri mematung membelakangi sosok Luhan yang kini tengah berjalan mendekatinya.
"Aku tau kau yang melakukannya"
Deg
Tubuh Sehun menegang. Batinnyapun mulai berdendang~
Bagaimana bisa?
Luhan telah mengetahui bahwa Sehunlah yang sengaja mengunci dan menyiram Luhan ditoilet?
Tapi- tapi kenapa saat tadi ada guru yang menanyakan siapa pelakunya, Luhan menjawab tidak tahu?
Apa sebenarnya maunya anak ini?
"Aku tau kau sangat membenciku, hingga melakukan hal-hal seperti ini padaku. Tapi-"
Lelaki berparas cantik itu kini sudah berada tepat didepan Sehun. Meskipun dengan baju yang basah dan rambutnya yang lembek, lelaki itu masih saja enggan memudarkan senyumnya.
"- kau lihat, aku sudah berhasil memasuki kehidupanmukan-" mata Sehun melebar saat tangan dingin Luhan menyentuh permukaan pipinya, tatapan benci ia layangkan kepada sang pelaku yang terlihat menyedihkan itu "- aku bisa membuat seluruh keluargamu menyayangiku dan selanjutnya aku yakin, aku pasti juga akan bisa mengam-LUHAN!"
Teriakan melengking dari dua sosok yang kini berlari kecil memasuki kelas itu menjeda perkataan Luhan.
Luhan menjauhkan tangannya dari wajah Sehun, ia mendesah tak rela "Ah~ Sepertinya aku harus pulang duluan. Sampai jumpa dirumah Sehun" Ujar Luhan sebelum berlalu dari hadapan pria pucat itu.
Lelaki cantik itu mengapit kedua lengan sahabatnya sembari berjalan meninggalkan ruangan. Sehun menatap punggung yang perlahan menjauh itu dengan nyalang penuh kebencian sembari mengumpat kasar.
.
Iecherous Man
By DarkS2Light
(Back) -Tangan Sehun yang terkepal, perlahan melonggar. Mencoba meredamkan amarahnya, Sehun mengambil gelas diatas nakasnya kemudian menegak habis isinya. Setelah berhasil mengontrol emosinya lelaki pucat itu memutuskan keluar dari ruangan pribadinya.
Langkah kakinya terhenti didepan sebuah kamar yang menjadi saksi bisu kebejatannya semalam.
Cklek
Sehun memutar knop pintu kemudian berjalan memasuki ruangan.
"Cih. Lihat sekarang, siapa yang menyedihkan disini?" Sehun tersenyum mengejek sembari memperhatikan sosok yang terbaring lemas diranjang "Mungkin kau benar, kau telah berhasil mengambil hati keluargaku, tapi tidak dengan hatiku. Bagiku, kau hanyalah seorang jalang yang bermimpi bisa bersanding dengan pangeran" Senyum miring terlukis dibibir Sehun "ck, gembel murahan" decak Sehun dalam kesunyian.
Perlahan Sehun mendekati sosok yang masih terpejam itu kemudian menyibak selimut yang menyelimutinya dengan kasar, hingga menampilkan kulit putih yang penuh bercak merah keunguan disana. Seolah tak terusik dengan perlakuan Sehun, sosok itu masih enggan membuka matanya.
"Bangun" kata Sehun sembari menendang tubuh Luhan dengan kakinya. Namun sang empunya tetap tidak melakukan pergerakan apapun dan itu berhasil membuat amarah Sehun memuncak kembali.
"BODOH! CEPAT BANGUN!" Bentak Sehun sembari mencengkeram kuat rambut Luhan.
Mata rusa itu seketika terbuka – terbelalak lebar. Sorot mata ketakutan nampak dibinar cantik itu saat melihat raut wajah bengis Sehun yang kini berada didepannya.
"Aku lapar. Cepat buatkan aku makanan!" Perintah Sehun kemudian melepaskan kasar cengkeramannya.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, lelaki cantik segera beranjak dari ranjang. Buru-buru Luhan memakai kemeja beserta celananya dengan tangan bergetar menahan sakit luka ditangannya yang menganga. Setelah memakai lengkap pakaiannya Luhanpun berjalan dengan kesusahan menuju dapur, meninggalkan Sehun yang memandang punggungnya dalam diam.
Iecherous Man
By DarkS2Light
.Angin berhembus kencang menggoyangkan helaian rambut pria paruh baya yang tengah termenung menatap album usang dipangkuannya.
Our Memories
"1992"
Pria paruh baya itu membuka lembar demi lembar album kenangan itu dengan tangan yang gemetar. Sorot matanya berubah sendu setelah mendapati sebuah gambar yang mengingatkannya akan kenangan indahnya dimasa lalu.
Disana, terdapat gambar dua orang lelaki berdiri dengan tangan yang saling merangkul dibelakang dua orang wanita yang duduk ditengah sembari memangku putranya masing-masing. Nampak wanita berambut panjang bersurai pirang tengah memangku bocah kecil yang diperkirakan berusia 2 tahun itu dengan senyum merekah dibibirnya. Sedangkan disampingnya ada sosok wanita berambut ikal berwarna kelam yang juga memangku seorang bayi yang berusia enam bulanan dipangkuannya sembari tersenyum lembut kearah kamera. Dua pasang keluarga itu menatap kamera dengan senyum bahagianya.
Tes
Hati pria paruh baya itu terenyuh, hingga tanpa sadar meneteskan air mata. Buru-buru ia mengusap air matanya yang jatuh mengenai wajah salah satu wanita difoto itu.
"Mianhae. Maafkan aku Bom-ie, Won-ah. Aku kehilangan putra kalian lagi, aku gagal menjadi wali yang seharusnya melindunginya. Maafkan aku, hiks. Apa yang harus aku lakukan agar bisa menemukan putra kalian?" Tanya lelaki paruh baya itu penuh sesal kemudian memeluk buku album itu dengan erat.
"Tolong jaga putra kami, Kyu. Kami tidak bisa bersamanya lagi"
Terlihat sosok pasangan suami istri tengah menyerahkan seorang bocah kecil berusia tiga tahunan kepada sosok lelaki dewasa yang kini berdiri dengan raut wajah terkejut di depan pintu rumahnya.
"Apa maksud kalian? Kenapa kalian tidak bisa bersamanya? Ada masalah apa sebenarnya?"
Lelaki yang bernama Oh Kyuhyun itu melontarkan pertanyaan bertubi-tubi kepada kedua sahabatnya kemudian mengambil alih bocah kecil yang terlelap itu ke dalam pelukannya.
Dengan wajah sembab sosok wanita berambut panjang itu menatap Kyuhyun dengan sendu. "Appa mengetahui hubungan kami"
Deg
Tubuh Kyuhyunpun menegang. Dia tau, sangat tau bahwa kedua orangtua sahabatnya itu tidak merestui hubungan dan Kibum juga melangsungkan pernikahan secara diam-diam tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya dulu. Dan sekarang ikatan yang sudah terlalu lama disembunyikan itu terbongkar. Bagaimana nasib mereka selanjutnya?
"Aku mohon, Kyu bantu kami. Aku akan menyerahkan semua aset perusahaanku di Korea untukmu, jika kau mau menjaga putra kami" Lelaki tampan berlesung pipi itu memegang tangan sahabatnya penuh harap.
"Tapi-"
"Kami mohon, Kyu jagalah dia. Kami janji jika watunya sudah tepat, kami akan datang menjemputnya kembali."
Ujar sepasang suami istri itu penuh harap. Tak tega untuk menolak permintaan kedua sahabatnya, Kyuhyunpun akhirnya menyetujui untuk merawat putra sahabatnya itu.
"Baiklah"
Bayangan masa lalu itu membuat dada lelaki paruh baya itu terasa sesak hingga sulit sekali untuk bernafas.
"Maaf. Maaf. Maaf. Maafkan aku" Lirihnya.
Sebuah penyesalanpun kembali menggerogoti hatinya saat ia teringat...
"Maafkan paman sayang. Paman harus menitipkanmu disini"
Sosok lelaki tampan berpakaian serba hitam itu berjongkok meletakkan sebuah keranjang di teras sebuah tempat yang diketahui sebagai panti asuhan.
"Tanpa Bibi, Paman tidak bisa merawatmu sendiri"
Lelaki itu – Kyuhyun menatap sendu wajah polos bocah berusia tiga tahunan yang kini terlelap didalam ranjang sembari menghisap ibu jarinya. Sebenarnya ia tak tega meninggalkan putra yang telah sahabatnya titipkan kepada dirinya itu dipanti asuhan ini, namun harus bagaimana lagi, beberapa hari yang lalu ia telah kehilangan sosok istri yang sangat dicintainya. Sosok malaikat yang menjaga dan merawat keluarganya itu telah pergi untuk selama-lamanya, akibat penyakit kanker kronis yang dideritanya. Tanpa kehadiran istrinya, Kyuhyun tidak bisa apa-apa. Apalagi merawat dua balita sekaligus, ia tidak akan mungkin sanggup melakukannya.
Dan keputusan untuk menitipkan putra sahabatnya di panti asuhan adalah jalan terakhir yang dipilihnya.
"Paman janji, saat paman bisa menjadi orang tua yang baik untuk kalian dan bisnis paman berjalan lancar, paman akan kembali untuk menjemputmu"
Kyuhyun berujar pelan kemudian mengecup kening balita itu penuh kasih.
"Tunggulah Paman. Luhan"
.
.
.
Tok tok tok
"Masuklah"
Cklek
Pintu ruangan bercat putih itu terbuka, menampilkan sosok perempuan berpakaian khas maid memasuki ruangan.
Kyuhyun mengusap kasar air matanya kemudian meletakkan album kenangannya diatas mejanya kembali.
"Maaf Tuan, sepertinya ada panggilan penting untuk anda"
Perempuan itu membungkuk hormat sembari menyerahkan sebuah Handphone milik Tuannya yang tadi tertinggal didapur.
Kyuhyun mengambil Handphone itu "Kau boleh pergi" ujarnya
Sang pelayan mengangguk mengerti kemudian meninggalkan ruangan.
Dahi Kyuhyun mengernyit saat melihat deretan nomor asing yang tampil dilayar handphonenya.
'Nomor siapa ini? Seperinya bukan nomor yang kukenal' batinnya.
Menepis segala keraguannya, lelaki paruh baya itu memutuskan untuk menerima panggilan.
"Yeobboseo?"
Iecherous Man
By DarkS2Light
"XiaoLu!"
"XiaoLu!"
"Aku melihat XiaoLu disana, Baek!"
"Kita harus kesana!"
Terlihat sosok lelaki bermata bulat tengah berjalan cepat meninggalkan sahabat mungilnya yang kini kesusahan mensejajarkan langkahnya dibelakang.
"Pelan-pelan, Kyung-ah. Hey! Jangan lari!"
Lelaki bereyeliner itu berteriak kencang saat melihat sahabatnya yang berlari meninggalkannya.
"Kita akan kehilangan XiaoLu lagi, jika tidak cepat Baek!"
Teriak lelaki bermata bulat itu, tanpa memperdulikan kondisi jalan di kanan-kirinya lelaki itu tiba-tiba menyeberangi jalan, hingga-
"KYUNGSOO! AWAS!"
Bruak
Tubuh mungil itu terhempas dijalanan, setelah sebuah mobil sedan berwarna hitam menabraknya.
"Kyungsoo! Bangun! Kyungie! Hiks"
Baekhyun menangis histeris sembari menopang tubuh sahabatnya yang berlumuran darah dipangkuannya. Air matanya mengalir deras dengan isak tangis yang menyertainya
"Tolong! Siapapun tolong!"
Sang pelaku penabrakan itupun keluar dari kemudinya. Dengan wajah pucat pasi lelaki paruh baya itu menghampiri Baekhyun bersamaan dengan para pejalan kaki yang mulai berbondong-bondong mengerubungi area.
"Masukkan dia ke mobilku. Kita harus segera membawanya kerumah sakit"
Sang pengemudi itu tidak lari dari tanggungjawab ia menawarkan bantuannya, dengan wajah sembab Baekhyun menyetujui usul si pelaku yang menabrak sahabatnya itu. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan Kyungsoo-sahabatnya.
Saat beberapa orang sibuk membantu memasukkan tubuh Kyungsoo kedalam mobil, tanpa sengaja pandangan Baekhyun bertemu dengan sosok lelaki berkulit tan yang berdiri di seberang jalan. Lelaki tan itu berdiri mematung dengan pandangan kosong lurus kearahnya tanpa menghiraukan sosok perempuan berpakaian seksi yang mengecup bibirnya.
"Cih"
Decih Baekhyun memandang benci lelaki tan itu kemudian mengepalkan tangannya.
Cup
"Kau belum tidur, hm?"
Kecupan singkat dari kekasihnya membuyarkan segala lamunan Baekhyun tentang kejadian beberapa bulan yang lalu. Kejadian yang membuat sahabat tercintanya tertidur hingga selama ini.
"Aku tidak bisa tidur, Chan"
Jawab Baekhyun sembari menyenderkan kepalanya dipunggung sang kekasih yang kini duduk disebelahnya.
"Memikirkan Kyungsoo?"
Tanya Chanyeol, mencoba menebak isi pikiran kekasihnya.
Kepala Baekhyun mengangguk membuat helaian rambutnya yang halus bergesekan dengan leher Chanyeol yang mulus. Dengan bibir yang mengerucut lelaki bereyeliner itu mulai mengutarakan perasaannya.
"Dia!" Baekhyun mengacungkan jari telunjuknya kepada sosok yang terbaring lemah dihadapannya dengan sorot mata yang menyala-nyala "Kenapa tidurnya lama sekali, Chan? Aku merindukannya" tanyanya dengan sorot wajah yang mulai berubah sendu.
Tersenyum maklum, Chanyeol menurunkan tangan Baekhyun yang menunjuk Kyungsoo kemudian mengecupnya lama. Reflek Baekhyun menegakkan tubuhnya secara tiba-tiba kemudian menatap heran kekasihnya.
Chanyeol menjauhkan wajahnya dari tangan Baekhyun, kemudian meremasnya pelan – menenangkan.
"Bersabarlah sayang. Jika kau bersabar, aku yakin penantianmu tidak akan sia-sia. Tuhan tidak tidur, Ia pasti akan mendengar do'a-do'a kita. Aku yakin disana Kyungsoo sedang berjuang mencari cahaya yang bisa membawanya kembali bersama kita – bersama sahabatnya yang pasti sangat ia rindukan juga" Kata Chanyeol sembari menyunggingkan senyum hangatnya.
Tak kuasa menahan harunya, Baekhyunpun segera menghambur kepelukan kekasihnya.
"Gomawo Chanie. Terimakasih karena sudah bersedia menemaniku menunggu selama ini. Maafkan aku karena belum bisa menjadi kekasih yang sempurna untukmu, maaf jika aku terlalu sering merepotkanmu. Maaf, maaf dan terimakasih karena sudah bersedia menerimaku apa adanya. Saranghae, aku mencintaimu"
Cup
Chanyeol mengecup surai pirang kekasihnya kemudian mengusapnya sayang.
"Hm, tanpa kau mintapun aku akan selalu berada disisimu. Tanpa menjadi sempurna pun kau akan tetap menjadi kekasih yang sangat aku sayangi. Aku tidak akan pernah bosan untuk direpotkan, selama itu menyangkut dirimu. Jangan pernah meminta maaf, jika kenyataannya kau tidak memiliki kesalahan apapun sayang. Nado Saranghae, Aku juga sangat mencintaimu"
Terhanyut dalam perasaan masing-masing. Sepasang sijoli yang sedang dimabuk cinta itu tidak menyadari bahwa jari-jari milik sosok yang tengah terbaring diranjang itu mulai menunjukkan pergerakan kecil.
Iecherous Man
By DarkS2Light
Sehun memandang kesal jarum jam yang berputar di dinding. Kini jarum pendek jam itu berhenti diangka 9 dan jarum panjangnya berhenti tepat diangka 6, itu artinya sudah selama tiga puluh menit lelaki berkulit pucat itu menunggu sarapannya. Biasanya tidak sampai dua puluh menit pasti lelaki berparas cantik yang sering dipanggilnya bitch itu sudah mengantarkan sarapannya ke kamar, tapi sekarang?
Ck, sebenarnya apa yang dia lakukan di dapur? Memasak makanan atau batu? Kenapa lama sekali, Huh?
Dengan tidak sabaran, Sehun beranjak keluar dari kamarnya kemudian membanting pintunya kasar.
"Huh, bau apa ini?"
Sehun memacu cepat langkahnya setelah mencium bau tak sedap diruang tamu, baunya semakin terasa menyengat setelah ia mencapai dapur.
Matanya membelalak terkejut setelah melihat asap dan api yang mulai mengepul diatas kompor.
"ASTAGA! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Suara pekikan Sehun berhasil menggetarkan tubuh lemah sosok Luhan yang kini tengah berdiri mematung didepan kompor.
Dengan langkah terburu Sehun mengambil kain dan mencelupkannya ke air kemudian melemparkannya keatas kompor. Api yang berkobar kecil itupun mulai padam disusul asap kecil yang mulai menghilang.
"KAU MAU MEMBAKAR APARTEMEN INI, EOH?!"
Sehun berteriak murka dihadapan Luhan yang kini masih berdiri kaku dihadapannya dengan membawa nampan ditangannya.
"TATAP AKU SAAT BICARA! JANGAN MERUND-"
Perkataan Sehun tiba-tiba terhenti setelah melihat wajah pucat pasi Luhan yang mendongak menatapnya.
"Kau-"
PRANG
Nampan yang dipegang Luhan terjatuh kelantai sebelum Sehun sempat menyelesaikan kalimatnya. Lelaki bermata rusa itu memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri sebelum tubuhnya limbung dan ditangkap Sehun.
"Hei-"
Keterkejutan jelas diwajah Sehun saat ia secara reflek menangkap tubuh Luhan yang limbung kearahnya.
Bukankah seharusnya Sehun membiarkan tubuh Luhan jatuh kelantai, biar sekalian terluka saat terkena pecahan-pecahan beling itu, hm? Tapi kenapa Sehun malah menyelamatkannya? Kenapa? Ada apa dengan Sehun?-_-
Tubuh Sehun berjengit setelah bersentuhan dengan kulit pucat Luhan yang sedingin es. Dengan segera Sehun mengangkat tubuh seringan kapas itu meninggalkan kekacauan didapur sembari mengumpat pelan.
"Shit!"
...tobekontinyu...
"Kyungie, wajannya berathap! Bagaimana ini?"
Bocah berusia enam tahunan itu berteriak panik saat dirinya tidak bisa mematikan kompor yang tengah mengeluarkan asap didepannya.
"Yak, CaoLu. Kenapha bica belacap? Haith, Cepat matikan kompolnya!"
Sahut sosok yang dipanggil itu, namun belum jelas keberadaannya.
"Tapi CaoLu tidak bitha mematikan kompolnya, huwaa"
Bocah kecil bermata rusa itu menjerit histeris karena takut.
"CaoLu tjangan nangic!"
Mendengar sosok yang disayanginya menangis histeris, bocah kecil bermata bulat yang kini tengah berada didalam ruangan bercat biru itu semakin panik. Dengan segala akal yang dimilikinya, bocah yang juga berusia enam tahun itu memanggil salah satu rekannya yang diyakini bisa mematikan kompor
"Baeki hyung, CaoLu tidak bica mematikan kompol! Cepat kedapul!" Teriaknya melengking
"Haithhh. Hyung cedang belajal memakai alinel, kenapa bukan kau caja yang kedapul?!"
Tanya balik sosok mungil dari ruang tamu. Merasa tak terima karena kegiatan belajar memakai eyelinernya diganggu.
"Kyungie cedang poop! Tidak bica diganggu! Cepat tolong CaoLu!"
Dan setelah mendengar jawaban akhir sahabatnya, mau tidak mau bocah kecil yang gemar memakai eyeliner itu berlari cepat kearah dapur.
.
.
.
.
END-
Hello~ lama gk jumpa ya wkwkwkw apa kabar nih readersnim sekalian? hoho ;) *lemparsendal
Yosh! gimana nih chap ini, udah ada sedikit kejelasan kan? bentar lagi juga bakalan kebongkar kok semuanya, misteri2 yang udah kalian penasaranin(?) itu cuma mimpi ternyata, beberapa chap lagi bakalan end mungkin, hoho karena ff ini gk bakalan se-panjang anu Sehun :v tapi kalau readersnim pada kurang puas atau minta di panjangin, bisa aja kok ntar gue panjangin se-puanjang anu Yipan wkwwkwkwkw *ngomongapasih -_-...
sorry kalau banyak typo, gk ada edit ulang. Sorry klw alurnya gk masuk akal, karena yang bikin juga gk masuk akal orangnya *plak wkwkwkwk...
Eh, guys btw disini ada gk yang suka sama photography? makeover foto, dll gt. gue ada rencana sih, mao bikin ff yang bertema begonoan, sedikit berbagi ilmu gitu mungkin #elahilmuapaan-_- wkwkwk...
Terimakasih buat semua yang udah ngefoll, Fav apalagi yang review ff abal ini /gue SAYANG banget sama kalian sumpah/ jangan bosan2 ngasih review ye~ ;* / kalau reviewnya nembus angka 200, gue janji besok LANGSUNG update chap 4 *ngayal wkwkwkwwk :v
Hoho, udah ah, crew2 gue udah pada manggil, mau berangkat kerja dulu gue... see ya~ next time :*
REVIEW?
