PRANG

Nampan yang dipegang Luhan terjatuh kelantai sebelum Sehun sempat menyelesaikan kalimatnya. Lelaki bermata rusa itu memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri sebelum tubuhnya limbung dan ditangkap Sehun.

"Hei-"

Keterkejutan jelas diwajah Sehun saat ia secara reflek menangkap tubuh Luhan yang limbung kearahnya.

Bukankah seharusnya Sehun membiarkan tubuh Luhan jatuh kelantai, biar sekalian terluka saat terkena pecahan-pecahan beling itu, hm? Tapi kenapa Sehun malah menyelamatkannya? Kenapa? Ada apa dengan Sehun?-_-

Tubuh Sehun berjengit setelah bersentuhan dengan kulit pucat Luhan yang sedingin es. Dengan segera Sehun mengangkat tubuh seringan kapas itu meninggalkan kekacauan didapur sembari mengumpat pelan.

"Shit!"

.

.

Iecherous Man

Chapter 4


Baekhyun keluar dari mobil berwarna putih itu disusul Chanyeol di belakang. Kedua pemuda dengan postur tubuh yang kontras itu berjalan tergesa menapaki ubin lantai rumah sakit setelah beberapa menit sebelumnya seseorang dari pihak rumah sakit mengabari mereka bahwa pasien bernama Kyungsoo telah sadar. Baekhyun yang mendengar berita mengejutkan sekaligus membahagiakan itupun segera mengajak Chanyeol kembali ke rumah sakit menghiraukan niat awalnya untuk membeli makanan.

Cklek

Pintu ruang rawat itu terbuka memperlihatkan sosok Baekhyun dan Chanyeol yang memasuki ruangan itu dengan deru nafas terengah.

"Kyung-ie" Gumam Baekhyun lirih.

Sosok yang tengah berbincang dengan perawat rumah sakit itupun menghentikan pembicaraannya lalu menoleh kearah Baekhyun. Matanya yang bulat menatap Baekhyun terkejut. Sosok itu menaikkan satu alisnya "Baekki?" gumamnya tak yakin.

Baekhyun tak bisa lagi menahan laju air mata nya. Cairan bening itu dibiarkan mengalir ketika ia melangkah tergesa mendekati ranjang pesakitan itu kemudian memeluk pria mungil yang terbaring diatasnya sangat erat.

"Terimakasih hikss. Terimakasih Ya Tuhan, kau telah mengembalikan Kyungie ku" ujar Baekhyun di tengah isakannya "Aku sangat merindukanmu Kyung, syukurlah kau sudah kembali" lirihnya semakin mempererat pelukannya.

Kyungsoo yang baru bisa mencerna keadaan sekitarnya pun akhirnya membalas pelukan Baekhyun. Kedua tangan mungilnya melingkari tubuh ramping Baekhyun, menenggelamkan wajahnya didada sahabatnya itu sembari tersenyum haru. "Aku juga sangat merindukanmu Baeki-ya"

Tangan kanan Chanyeol terangkat untuk menghapus air mata yang entah sejak kapan telah mengalir di pipinya. Chanyeol menatap haru kedua sahabat yang saling melepas rindu itu. Akhirnya penantian panjang yang Baekhyunnya lakukan tidaklah sia-sia. Sosok sahabat yang sangat disayanginya itu akhirnya kembali bersama mereka.

Baekhyun melepas pelukannya kemudian menangkup wajah kyungsoo yang sedikit pucat itu mendongak agar menatapnya "Apakah selama ini kau kesakitan sendirian disana?" Tanya Baekhyun dengan sorot khawatirnya.

Kyungsoo menggeleng pelan sambil tersenyum kecil lalu menggenggam tangan Baekhyun yang menangkup wajahnya. "Tidak. Aku sama sekali tidak kesakitan. Justru aku sangat bahagia disana. Hampir saja aku ingin tinggal selamanya disana, jika saja aku tidak teringat memiliki janji untuk hidup bersama kalian sampai akhir..hehe..Em, Baek. Dimana XiaoLu? Apakah dia tidak datang bersamamu?" Pertanyaan Kyungsoo barusan berhasil membuat Baekhyun mengernyitkan keningnya.

"Kyung, XiaoLu dia..." Baekhyun menggantungkan kalimatnya sambil menggigit kecil ujung bibirnya, ragu untuk menyampaikan kenyataan pahit itu.

"XiaoLu kenapa Baek? Eh, Chanie? Sejak kapan kau disini?" Kini perhatian Kyungsoo teralih pada sosok lelaki tampan yang masih berdiri di depan pintu itu. "Kenapa kau berdiri disitu? Kemarilah, apa kau tidak ingin memeluk kekasihmu ini eoh?"

"MWO?!"

Kedua pasang mata didalam ruangan itu pun membulat seketika.

.

.

.

Sehun mondar-mandir didepan pintu kamarnya bagaikan setrika gosok. Sambil menggigit-gigit kecil ujung kukunya sesekali ia mendesah. Hampir 20 menit ia melakukan hal itu. Semua berawal sejak ia memanggil seorang Dokter untuk memeriksa Luhan didalam kamarnya dan selama itu hatinya merasakan kegelisahan yang tak menentu.

Ini bukanlah Sehun. Sebelumnya dia tidak pernah merasakan kekalutan seperti ini. Dia adalah type lelaki kasar yang tidak memiliki jiwa kepedulian tinggi, namun sejak peristiwa di dapur tadi entah mengapa semuanya terasa berubah. Perasaannya campur aduk, bahkan perutnya yang keroncongan ia biarkan terus berbunyi. Karena kepanikan Sehun bahkan melupakan sarapannya.

Cklek

Pintu bercat biru itu terbuka disusul sosok lelaki dengan pakaian serba putihnya keluar dari ruangan. Seketika Sehun menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekati lelaki berwajah angelic yang tengah mendelik kearahnya.

"Bagaimana keadaannya Hyu-Plak"

Sebuah tamparan yang cukup keras menghantam wajah Sehun. Lelaki berkulit pucat itu reflek memegangi ujung bibirnya yang berdenyut.

"Kau keterlaluan Hun! Apa yang telah kau lakukan pada lelaki itu eoh? Berniat menjadikannya pelacurmu lalu membuatnya hamil anakmu dan setelah itu kau bisa menyiksanya sesukamu?! Kau keterlaluan Sehun!" Ujar lelaki itu secara tiba-tiba.

Sehun mendongakkan wajahnya lalu menatap sosok itu dengan tampang sinisnya. "Itu bukan urusanmu Suho hyung!"

Lelaki berwajah angelic yang bernama Suho itu terkejut, menatap Sehun dengan tampang tak percaya "Kau bilang bukan urusanku?! Kau adikku Sehun! Bagaimanapun juga apa yang telah kau lakukan akan menjadi urusanku juga" tegasnya.

Sehun terkekeh kecil sambil memalingkan muka "Kau hanya sepupuku Hyung, jangan bertindak seolah-olah kau adalah hyung kandungku" sinisnya.

Sret

Suho mencengkeram kerah kemeja yang Sehun kenakan kemudian memaksa lelaki pucat itu agar menatapnya "Aku peduli padamu Sehun! Yang kau lakukan ini salah! Tidak seharunya kau melakukan ini semua kepada Luhan! Lelaki itu sangat men-brug"

Tubuh Suho terdorong kebelakang ketika Sehun menghempaskan tangannya.

"Terimakasih karena sudah mempedulikanku, tapi aku bisa mengurus urusanku sendiri. Kau tidak perlu ikut campur hyung" ujar Sehun dengan wajah datarnya.

Suho mendecih sambil menatap ubin lantai yang dingin itu dengan tatapan kosong "Bagaimana mungkin kau menyuruhku untuk tidak mencampuri urusanmu setelah apa yang kau lakukan pada nya Sehun" Perkataan Suho berhasil membuat Sehun terdiam "Dia hamil Sehun. Luhan hamil anakmu dan kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk menampung janin itu. Bagaimanapun juga lelaki itu tidak seharusnya mengandung, kau tau?" Ujar Suho tersenyum miris.

Sehun masih terdiam, namun keterkejutan jelas terlihat di matanya. Tidak bisa dipungkiri jika hatinya sedikit menghangat ketika mendengar perkataan dari Suho yang sesungguhnya sudah sangat ia tunggu-tunggu selama ini. Luhan hamil, dan dengan begitu Sehun akan segera memiliki anak. Keinginannya untuk memiliki putra akan segera terpenuhi. Senyum kecil itu terukir jelas diwajah Sehun. Senyuman tulus yang belum pernah terlihat diwajah tampannya sejak bertahun-tahun yang lalu.

"Kita harus menggugurkan janin itu Sehun-ah."

Sehun terbelalak, menatap Suho penuh amarah dengan tangan yang terkepal sangat erat "Apa maksudmu hyung?!" tanyanya geram.

Suho mendesah gusar sebelum menatap Sehun dengan raut wajah bersalah "Yah, itu jalan satu-satunya Sehun. Kondisi Luhan sangat buruk. Tidak hanya fisiknya yang lemah, aku yakin batinnya juga terguncang. Kita harus menggugurkan janin itu jika tidak mau kehilangan nyawanya"

"Jangan pernah kau lakukan itu hyung!"

Suho menatap adik sepupunya tak percaya. Sungguh ia tidak pernah menyangka jika Sehun adiknya yang sangat manis akan berubah menjadi lelaki yang keras nan egois seperti ini. "Tapi Hun-"

"Aku ingin bayiku!" Kata Sehun dengan tegasnya "Aku bersumpah akan membunuhmu jika sampai kau melukai bayiku!" ujarnya talak menatap Suho penuh peringatan.

...

.

.

.

Suasana sore ini begitu indah. Burung-burung berhamburan menuju sarangnya, mempersiapkan diri untuk menyambut malam yang akan segera tiba. Lelaki tan yang duduk dibawahnya tersenyum kecil ketika melihat hewan kecil itu berkumpul diatas pohon 'Burung-burung saja memiliki keluarga yang sangat menyayanginya kenapa ia tidak? Bahkan sekarang Tuhan juga mengambil sosok yang sangat ditunggunya. Kenapa dunia ini begitu kejam?'

Lelaki tan itu tersenyum miris ketika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Saat ia datang ke ruangan yang selalu ia kunjungi setiap hari itu, pemandangan yang sangat mengejutkan tersaji didepan matanya.

Jantungnya berdebar begitu hebat ketika melihat sosok itu tengah tersenyum lebar di atas ranjang pesakitannya. 'Kyungsoo sudah sadar?' batinnya, seketika senyum bahagia itu menghiasi wajahnya. Dengan jantung yang berdegub, Kai memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan itu. Ia ingin segera masuk ke dalam dan memeluk erat sosok itu, namun-

"XiaoLu kenapa Baek? Eh, Chanie? Sejak kapan kau disini?" Kini perhatian Kyungsoo teralih pada sosok lelaki tampan yang masih berdiri di depan pintu itu. "Kenapa kau berdiri disitu? Kemarilah, apa kau tidak ingin memeluk kekasihmu ini eoh?"

Deg

Suara itu membuat jantung Kai berhenti berdetak sejenak. Pegangan di kenop pintu itu mengendur di ikuti oleh tubuhnya yang kini tiba-tiba melemas.

"Kyung?"

Baekhyun menatap sahabatnya itu dengan raut wajah yang sulit di artikan. Lelaki cantik itu terlalu terkejut hingga susah mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini.

Tak jauh berbeda dari Baekhyun, Chanyeol juga menatap shock ke arah Kyungsoo yang tersenyum manis kearahnya. Kenapa Kyungsoo masih menganggapnya sebagai kekasih? Apakah mungkin dia melupakan kejadian beberapa bulan ini?– batin Chanyeol.

"Kenapa kau menatapku seperti itu Baek? Apakah ada yang salah? Chanyeol memang kekasihku kan?"

Baekhyun terdiam mematung. Bingung harus menjawab apa. Yah, Chanyeol memang kekasih Kyungsoo, tapi itu beberapa bulan yang lalu sebelum Chanyeol memutuskan sahabatnya itu.

"Ya, Chan-"

"Bisakah kita berbicara sebentar, Baek?"

Belum sempat Baekhyun menyelesaikan perkatannya, Chanyeol sudah terlebih dulu menyeretnya keluar ruangan meninggalkan Kyungsoo yang menatapnya dengan kedua alis yang bertaut.

Cklek

Tepat ketika pintu kamar itu terbuka, Kai menggeser tubuhnya bersembunyi dibalik dinding yang tak jauh dari sana. Badannya sedikit ia tengokkan untuk melihat apa yang tengah Chanyeol dan Baekhyun bicarakan.

"Apa yang ingin kau katakan tadi Baek?"

Chanyeol segera menanyai kekasihnya yang kini menundukkan wajahnya gelisah.

"Jawab aku" Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun agar menatapnya "Apakah kau akan menyampaikan kenyataan palsu padanya? Apakah kau akan mengatakan jika aku memang kekasihnya? Benarkan yang ku katakan?"

Baaekhyun menundukkan wajahnya kembali karena tak berani menatap wajah Chanyeol yang sepertinya sangat terluka. Lelaki itu sangat mengenal Baekhyun, pasti Chanyeol akan dengan mudah mengetahui apa yang akan Baekhyun lakukan.

"Jangan Baek" Chanyeol berkata lirih "Jangan memberikan harapan palsu yang nantinya akan menyakiti kalian. Aku tidak mau menyakitimu. Aku tau kau sangat bahagia ketika Kyungsoo telah sadar dari komanya, tapi aku rasa ada kejanggalan pada diri Kyungsoo Baek. Sepertinya dia kehilangan sebagian memorinya, dia bahkan masih menganggapku kekasihnya padahal kenyataannya aku dan dia sudah berpisah beberapa bulan yang lalu"

Baekhyun menggigit bibirnya gelisah. Benar, apa yang Chanyeol katakan memang benar. Sejak awal melihat Kyungsoo, Baekhyun juga sudah menyadarinya, ada yang berbeda dari sahabatnya itu. Namun bagaimana lagi? Apa yang harus Baekhyun lakukan? Jika benar Kyungsoo lupa ingatan dan masih menganggap Chanyeol sebagai kekasihnya. Baekhyun tidak bisa menyakiti Kyungsoo dengan kenyataan yang ada, dia sangat menyayangi Kyungsoo melebihi dirinya sendiri.

'Aku harus bagaimana?' batin Baekhyun gusar dengan dadanya yang terasa sangat sesak, bahkan tanpa sadar lelaki cantik itu telah meneteskan air matanya.

"Lakukan Hyung. Tolong jadilah kekasih Kyungsoo untuk sementara"

Baekhyun dan Chanyeol terkejut mendengar suara bass itu. Kedua pasang obsidan itu mengalihkan perhatiannya kepada sosok lelaki tan yang baru keluar dari tempat persembunyiannya.

Kai keluar dari balik dinding itu dengan senyum yang dipaksakan. "Aku mohon padamu Chanyeol hyung, Tolong jadilah kekasih Kyungie untuk sementara hingga dia sembuh. Lakukan itu demi kebaikan Kyungsoo hyung tolong" pintanya menatap Chanyeol dengan sorot mata penuh permohonan.

Chanyeol dan Baekhyun saling berpandangan, sebelum kemudian Chanyeol membuang mukanya dan mendesah kecewa. Kecewa karena melihat sorot mata penuh harap dari Baekhyun. Kekasihnya itu sepertinya memiliki pendapat yang sama dengan sepupunya.

"Baiklah, terserah kalian" Ujar Chanyeol pasrah.

Baekhyun dan Kai mendesah lega, meskipun demikian sulit dipungkiri jika kedua insan itu merasakan sesak di ulu hatinya.

Kai mendesah panjang sebelum kemudian memusatkan perhatannya kembali pada burung-burung saling merapatkan diri di sarangnya itu. Lelaki itu tersenyum kecil melihatnya, hatinya terasa sedikit lega. Yang ia lakukan kali ini memang sudah sangat benar.

Setidaknya dia telah melakukan hal terbaik untuk sosok terkasihnya, yah itu saja sudah cukup. Melihat Kyungsoo bahagia adalah hal yang selalu ingin Kai lakukan, sekalipun hatinya tersiksa pun ia tidak peduli.

.

.

Bulu mata lentik nan panjang itu bergerak-gerak dengan pelan sebelum menampilkan bola mata bulat bak rusa yang tersembunyi di baliknya. Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali demi mengumpulkan visinya yang masih mengabur.

"Bangunlah"

Hingga sebuah suara yang terdengar begitu datar menyeruak di indera pendengarnya. Tubuh mungil itu seketika berjengit hendak melompat dari tempat tidur jika saja tidak dihalangi oleh sosok tampan yang kini duduk disamping tempat tidurnya, menghalaunya untuk berdiri dengan memegang kedua pundaknya.

"Siapa yang menyuruhmu beranjak dari tempat tidur"

Luhan mengerjapkan mata rusanya, menatap lelaki tampan itu- Oh Sehun dengan wajah polosnya.

Sehun tersenyum simpul kemudian membantu tubuh Luhan untuk bersandar di kepala ranjangnya.

Luhan semakin dibuat bingung dengan kelakuan lelaki ini. Benarkah ini Oh Sehun? Oh Sehun yang selalu kasar dan semena-mena pada dirinya? Kenapa mendadak dia bisa berubah baik seperti ini?

Berbagai pikiran berkecamuk di kepala Luhan. Membuat kepala lelaki cantik itu mendadak pening seketika. Luhan memejamkan matanya kembali untuk menetralisir rasa peningnya.

"Kau harus makan dan meminum obatmu terlebih dahulu sebelum tidur"

Suara bass itu memaksa Luhan untuk membuka matanya kembali. Luhan mengernyitkan keningnya ketika Sehun memangku sebuah nampan dan mengulurkan sebuah sendok kearahnya.

"Cepat buka mulutmu" Ujarnya. Tetap memaksa dengan suara datar seperti biasanya. Ingin sekali Luhan bertanya, kenapa Sehun bisa berubah drastis seperti ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Namun itu hanya keinginan yang tidak mungkin dapat Luhan lakukan, karena kenyataannya sampai sekarang mulutnya masih terasa sangat kaku untuk sekedar digerakkan.

Dengan sedikit ragu Luhan membuka mulutnya, membiarkan benda lumer itu masuk kedalam mulutnya. Luhan mengunyah bubur itu dengan perlahan sebelum menelannya.

Senyum kecil itu tak kunjung pudar dari wajah tampan Sehun. Katakanlah lelaki itu gila, gila karena mungkin ia telah melakukan hal yang paling memalukan seumur hidupnya. Sehun si lelaki kejam mau-maunya merendahkan diri dengan menyuapi sesorang yang paling ia benci seumur hidunya, bukankah ia sangat gila eoh?

Namu kegilaan itu tentu saja ada maksudnya. Sehun tidak mungkin melakukan hal memalukan itu tanpa di landasi sesuatu yang penting. Calon anaknya. Ya, Sehun melakukan ini semua demi calon anaknya yang tengah di kandung sosok yang paling dibencinya itu.

Sehun kembali menyendok bubur dari mangkuknya untuk disuapkan kembali kepada Luhan. Namun Sehun menurunkan kembali sendoknya ketika melihat Luhan yang mengernyitkan keningnya hingga tiba-tiba huwekk

Benda lumer yang tercampur liur itu keluar dari mulut Luhan dan mengenai lengan kirinya. "Yak! Apa yang kau lakukan!" Teriak Sehun murka.

Wajahnya menatap jijik cairan kental yang mengenai lengannya. Luhan yang terkejut pun segera mencari-cari kain disampingnya untuk membersihkan lengan Sehun. Dengan takut-takut Luhan mengusap Lengan Sehun dengan ujung piyamanya sendiri yang tidak terkena noda muntahan. Sungguh Luhan tidak bermaksud untuk mengotori lengan Sehun dengan muntahannya. Luhan hanya tidak sengaja melakukannya, entah mengapa tadi tiba-tiba perutnya terasa seperti diremas dan mual itu tidak bisa di tahan lagi hingga Luhan memuntahkannya.

"Sudahlah. Tidak perlu kau bersihkan"

Sehun menarik tangannya tiba-tiba. Entah mengapa melihat tangan Luhan yang bergetar ketika membersihkan lengannya membuat Sehun tak tega.

"Lebih baik kau bersihkan tubuhmu sendiri. Aku jijik melihatnya" Ujar Sehun dengan nada sarkastik nya.

Luhan menundukkan wajahnya takut sebelum kemudian turun dari ranjangnya. Tubuh kurus itu sempat terhuyung kedepan, jika saja tidak ada Sehun yang dengan cekatan memeganginya ia yakin pasti tubuhnya akan tersungkur kedepan.

"Ck. Menyusahkan"

Sehun berdecak pelan lalu mengangkat tubuh Luhan dan membawanya ke kamar mandi. Luhan yang belum siap ketika Sehun mengangkat tubuhnya, secara reflek pun mengalungkan lengannya di leher Sehun. Dengan wajah yang tiba-tiba memanas, Luhan mnyembunyikan wajahnya di dada bidang Sehun.

Melihat kelakuan Luhan, Sehun memutar bola matanya malas. Bukan tanpa sebab ia mau berbaik hati pada Luhan. Berterimakasihlah pada bayi yang Luhan kandung sekarang, sebab karena calon bayi itulah Sehun merubah sikapnya menjadi err lebih baik, mungkin.

.

.

.

Tuan Oh mengepalkan tangannya yang berkeringat itu dengan kuat. Terlihat kegelisahan terpancar dari raut wajahnya yang tampan. Pria paruh baya itu berjalan mondar-mandir di dalam ruangan pribadinya. Percakapan beberapa waktu yang lalu masih saja terngiang di telinganya.

"Yeobboseo?"

"Kyuhyun-ah"

Deg. Suara itu?

Tuan Oh membelalakkan matanya tak percaya setelah mendengar suara yang memanggil namanya dari seberang. Suara yang sangat ia rindukan. Suara sosok yang telah mempercayakan putranya pada Kyuhyun dulu. Suara ini adalah suara milik-

"Siwon-ah?"

"Ne Kyu. Ini aku Siwon. Maaf baru sekarang aku bisa menghubungimu" Terdengar suara yang serat akan penyesalan dari sana.

Tangan Kyuhyun terangkat untuk menyentuh dadanya. Jantungnya secara tiba-tiba berdetak tak menentu. Perasaan bersalah dan takut pun menelusup di relung hatinya.

"Siwon-ah. B-bagaimana kabarmu?" Tanya Kyuhyun sedikit berbasa-basi.

Siwon menghela nafasnya panjang "Hah, buruk. Sangat buruk" jawabnya.

Perasaan tak enak pun mulai menyergap benak Kyuhyun "Apa yang terjadi Siwon-ah?"

"Kibum telah meninggal Kyu" Lirih Siwon.

"Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Kyuhyun dengan kepanikan jelas di wajahnya.

"Kanker rahim. Yah, penyakit turunan itu yang mengambil nyawanya dan parahnya lagi baru beberapa hari sebelum dia meninggal aku baru mengetahui penyakitnya itu. Sekarang aku sendiri Kyu, Minggu depan aku akan kembali ke Korea. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Luhan? Apakah putraku tumbuh menjadi lelaki yang manis?"

Kyuhyun terdiam membeku setelah mendengar pertanyaan Siwon. Bola mata lelaki paruh baya itu bergerak gelisah, bingung akan menjawab bagaimana. Haruskah dia mengatakan kebenaran yang sesungguhnya? Haruskah dia mengatakan jika dia tidak becus mengurus Luhan? Haruskah dia mengatakan jika Luhan menghilang dan sampai sekarang belum ditemukan keberadaannya? Haruskah..?

"Ah, maaf Kyu sepertinya aku harus memutuskan sambungan telepon kita sekarang. Salah satu kolegaku baru saja tiba. Niat awalku tadi hanya ingin memberitahumu jika Minggu depan aku akan kembali ke Korea dan menjemput putraku. Tolong sampaikan salamku pada Luhan. Annyeong"

Pip

Sambungan telepon itu terputus bersamaan dengan handpone Kyuhyun yang terjatuh dari tangannya.

"Astaga. Apa yang harus ku lakukan sekarang."

Kyuhyun mendesah frustasi sambil mengacak rambutnya yang beruban. "Kim Jongwoon, mungkin dia bisa membantuku" Dengan segera Kyuhyun mengambil kunci mobil yang berada diatas nakasnya kemudian keluar dari ruangannya dengan tergesa.

"Pelayan Ahn!" Kyuhyun memanggil kepala pelayan sesampainya ia di ruang tamu. Pelayan perempuan yang memiliki umur jauh diatasnya itu berjalan tergesa mendekati Kyuhyun kemudian membungkukkan badannya "Ya Tuan?"

"Cepat hubungi Tuan Muda. Suruh dia pulang ke rumah malam ini juga" Perintah Kyuhyun.

"Baik Tuan" Kata sang pelayan sembari membungkukkan badannya patuh.


Kendaraan yang berlalu lalang terlihat begitu jelas dari atas balkon ruangannya. Lelaki paruh baya itu melihat pemandangan padatnya kota China dari balik ruang kerjanya. Lelaki itu menatap pemandangan itu dengan sendu, sebentar lagi ia akan meninggalkan negara ini, sunguh ia tidak siap jika harus meninggalkan kenangan-kenangan indahnya bersama sang istri disini, namun harus bagaimana lagi. Hidup akan terus berjalan, dan ia harus tetap melangkah ke depan agar tidak tertinggal jauh dibelakang. Masa depannya masih panjang, ia masih memiliki tanggung jawab yang besar untuk melindungi keluarganya yang tersisa. Mendengar kata keluarga, ia jadi teringat dengan putra kecilnya yang dulu ia titipkan pada sahabatnya, tiba-tiba hatinya menghangat membayangkan jika sebentar lagi ia akan bertemu dengan buah hatinya yang sekian lama ia rindukan itu.

Cklek

Hingga suara pintu ruangannya yang terbuka membuyarkan segala lamunannya. Lelaki paruh baya itu memutar kursinya kearah pintu yang terbuka sambil tersenyum hangat menyambut tamunya yang datang.

"Maaf Baba aku masuk tiba-tiba. Apakah aku mengganggumu?"

"Ya tidak apa-apa. Tidak, kau tidak mengganggu Baba. Apakah ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya sosok itu sedikit penasaran, karena tak biasanya putra kebanggannya itu akan menemuinya di jam-jam kerja seperti sekarang ini.

Sosok lelaki tampan dengan setelan formal khas pegawai kantoran itu berjalan mendekati meja Presdir kemudian duduk di hadapannya. Ia berdehem pelan sebelum mengeluarkan pertanyaannya.

"Benarkah Minggu depan kita akan terbang ke Korea untuk menemui adikku?"

"Ya Benar." Jawab lelaki paruh baya yang tak lain adalah Siwon itu dengan mantap. Hatinya bahkan sudah berdebar-debar, tidak sabar ingin segera bertemu dengan putra semata wayangnya.

"Apakah Baba tidak memiliki fotonya? Aku penasaran ingin melihat bagaimana wajah adikku" Tanya lelaki tampan yang duduk didepannya itu penuh harap.

"Ah, Baba lupa meminta Kyuhyun mengirimkan foto Luhan. Jangan khawatir sayang kita akan segera bertemu dengan adikmu, tenang saja. Tentang bagaimana wajahnya, biarkanlah itu menjadi kejutan untuk kita nanti nanti" Ujar Siwon dengan senyum kecil dibibirnya, meskipun demikian Siwon sangat yakin jika putranya akan tumbuh menjadi lelaki yang manis, itu karena Siwon tahu betul jika putranya mewarisi gen mendiang istrinya yang sangat cantik.

"Aku tidak sabar untuk segera bertemu dengannya, Baba" Kata Lelaki itu dengan senyum tulus di wajah tampannya.

"Baba juga sangat tidak sabar ingin bertemu dengannya"


..Tebece..


I'm Comeback _

Setelah 7 bulan ngilang tanpa haluan, akhirnya ff ini dapet pencerah juga :v sorry kalau chapter ini semakin semrawut ya wkwkwk... Maap juga kalau makin ngebosenin :(... maap kalau kurang panjang, pokoknya maap maap banget deh udah nelantarin lama ff ini :v

Yang nunggu2 Lulu hamil noh udah hamil noh haha..

Big Thanks buat semua yang udah memfollow, favorite, Review ff ini...

Raeders and Siders Lop ya ;*

See you in the next chap _