Binar rusanya mengerjap ketika sesuatu yang basah menyentuh keningnya. Pandangannya membola dengan bibir yang sedikit terbuka ketika melihat siapa sosok yang duduk disebelahnya sambil memasang wajah datar bawaannya.
Sehun?
Luhan memundurkan tubuhnya tiba-tiba, masih terlalu terkejut dengan keberadaan lelaki angkuh itu disisinya. Pria bermata rusa itu menundukkan wajahnya, menyembunyikan rona kemerahan di pipinya. Akhir-akhir ini sikap Sehun tidaklah seperti biasanya, yang kasar dan pemarah. Pria itu berubah menjadi lebih perhatian kepada Luhan semenjak Dokter Kim mengatakan jika Luhan benar-benar positif mengandung.
Awalnya Luhan sangat terkejut. Air matanya bahkan tumpah begitu saja setelah sang dokter menyelesaikan ucapannya. Dia belum bisa menerima penuh jika lelaki normal sepertinya bisa mengandung.
Kondisi nya pun semakin menurun akhir-akhir ini, karena berpikir terlalu berat membuatnya stres. Nafsu makannya pun berkurang. Sehun yang kalang kabut tak ingin sesuatu yang berburuk terjadi pada buah hatinya pun terpaksa merendahkan dirinya untuk mengurus lelaki bisu yang kerjaannya hanya berbaring di ranjangnya seperti saat ini. Sehunlah yang mengelap wajahnya, menyuapinya, menuntunnya kekamar mandi, menggantikan pakaian dan sebagainya, Sehun melakukan itu setiap hari seperti rutinitasnya akhir-akhir ini. Yah, meskipun Sehun melakukannya dengan wajah yang tertekuk dan terkesan ogah-ogahan, tak ayal membuat benak Luhan menghangat seketika.
Dibalik wajahnya, Luhan tersenyum kecil. Sehun sangat manis jika bersikap lembut seperti itu. Rasanya masih seperti mimpi, jika lelaki beringas itu merubah sikapnya dalam sekejap hanya demi bayi yang dikandungnya saat ini. Tanpa Luhan sadari tangannya sudah bertengger diatas perutnya yang masih rata. Jika dengan kehadiran bayi ini bisa meluruhkan segala kekejaman Sehun terhadapnya, Luhan akan menerima dan merawat bayi dikandungannya sepenuh hati.
"Bersikaplah biasa. Semua ini kulakukan hanya untuk anakku" Sehun mendengus geli ketika melihat pipi lawan bicaranya yang merona "Jangan salah mengartikan perhatianku"
Senyum lugunya lenyap seketika. Luhan menghentikan usapannya diperut lalu mendongakkan wajahnya, menatap Sehun dengan sendu.
'Apakah aku tidak boleh berharap jika suatu hari nanti kau akan menyayangiku Sehun?'
Iecherous Man
Chapter 5
No Edit, Sorry for Typo(s)
Bandara Incheon sangatlah ramai siang ini. Para manusia berlalu-lalang masuk dan keluar dari bandara itu bergantian. Seorang lelaki paruh baya berpakaian formal dengan seorang lelaki yang memakai pakaian kasual disampingnya saling melemparkan senyum ketika sampai di area bandara. Setelah hampir tiga jam lebih didalam pesawat akhirnya mereka bisa menghirup udara bebas di Korea.
"Untuk sementara kita akan tinggal di rumah Paman Kyuhyun, supir pribadinya akan menjemput kita" Terangnya. Siwon berjalan mendekati kursi tunggu disampingnya lalu mendudukkan tubuhnya disana "Kita tunggu disini saja, Yifan-ah" yang dipanggilpun menganggukkan wajahnya kemudian menyusul duduk disamping ayahnya.
"Baba, apakah kau tidak memiliki foto bayi Luhan?"
Siwon mengernyit sejenak, mengingat-ingat "Ah, tungu sebentar" kemudian mengambil dompet disaku celananya.
"Ini. Baba hanya menyimpan ini saja"
Yifan mengambil kertas foto kecil yang diulurkan Babanya. Keningnya menekuk bingung ketika melihat dua pasang keluarga yang ada di foto itu "Ini paman Kyuhyun?" tanyanya sambil menunjuk foto seorang lelaki tampan dengan kemeja berwarna biru dongker disisi seorang perempuan yang memangku bayi.
Siwon tersenyum kecil kemudian menepuk bahu putranya sayang "Kau benar. Dia adalah Kyuhyun, disampingnya itu Sungmin istrinya dan dipangkuan Sungmin itu putranya, Oh Sehun"
Yifan mengamati lekat-lekat sosok kecil dipangkuan sosok perempuan cantik yang selalu ia kagumi selama ini "I-ni?"
"Ya, dialah Luhan. Adikmu Yifan, kita harus berkenalan ulang dengannya nanti" Ucap Siwon dengan penuh semangat akan bertemu dengan putranya.
"Cantik" Yifan bergumam lirih sambil mengusap-usap foto sosok kecil yang memikatnya itu dengan sayang "Adikku...sebentar lagi kita akan bertemu sayang" batinnya.
Plak
"Bodoh! Appa menyuruhmu pulang sejak kemarin! Kenapa kau baru datang sekarang eoh!? Tuan Oh meatap putranya dengan berang setelah menampar wajah Sehun dengan kasar.
Sehun tersenyum miris sambil memegangi pipinya yang berdenyut. Ia tatap lelaki paruh baya yang dulu sangat ia sayangi itu dengan pandangan benci "Ada perlu apa sebenarnya Tuan Oh yang terhormat memaggilku kemari? Apakah kau merasa membutuhkanku sekarang?" Tanya Sehun yang terdengar seperti ejekan.
"Apa maksudmu Sehun? Tentu saja aku menyuruhmu pulang karena ini adalah rumahmu juga"
Sehun meatap ayahnya dengan bibir menungging "Benarkah? Masih kau anggap anakkah aku ini? Bukankah kau sudah memiliki putra kesayangan, kenapa kau tak memanggilnya saja hm? Ah, iya aku tau. Dia hanyalah lelaki lemah yag tak bisa diandalka. Makanya kau memanggilku, benarkan?" Sehun bersidekap dada denga senyum sombong terpatri dibibir. Bukan dirinya tak tau, jika ayahnya memanggilnya kemari untuk membicarakan soal Luhan. Sehun tau lelaki tua itu pasti meminta bantuannya untuk mecari lelaki meyedihkan yang selama ini tiggal di apartemenya. Sehun tertawa terpingkal dalam hati, Jika saja ayahnya mengetahui kalau Luhan yang selama ini dicarinya dengan susah payah itu tengah berada di apartemennya dan sedang mengadung calon anaknya sekarang, mungkin lelaki tua itu tidak segan-segan untuk menggantung Sehun detik ini juga.
"Jaga ucapanmu Sehun! Kau tidak pantas mengatainnya seperti itu!" Ujar Tuan Oh menatap putranya penuh peringatan.
Sehun tertawa mengejek "Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mengatainya? Bukankah dia memang pantas untuk dihina, eoh?"
"Kau keterlaluan Seh-"
"Permisi Tuan Oh. Tamu anda telah datang" Seorang pelayan datang menginstrupsi keduanya.
Kyuhyun menurunkan yang hendak melayang kearah Sehun. Raut wajahnya yang datar berubah seketika. Sehun tersenyum geli menatap ayahnya, tidak biasanya Tuan Oh yang terhormat menampilkan wajah yang menyedihkan seperti ini. Hmm... Siapakah gerangan yang bisa membuat ayahnya merasakan kepanikan dan ketakutan secara bersamaan, eoh? Nampaknya Sehun harus mengucapkan selamat kepadanya nanti, karena telah meluluh lantahkan pertahanan sok kuat lelaki tua itu.
"Jaga sikapmu dan ikuti aku Oh Sehun" Tuan Oh berujar tanpa menatap wajah putranya.
Sehun mendecih pelan namun tetap mengikuti ayahnya di belakang "Seenaknya saja lelaki tua ini" umpatnya.
...
Kyuhyun bisa melihat postur tubuh kokoh yang saat ini berdiri membelakanginya. Ia tidak pernah lupa jika itu pastilah milik sahabatnya. Berteman selama bertahun-tahun tak ayal membuat mereka mengenal ciri fisik satu sama lain.
"Siwon-ah" Paggilnya dengan suara yang hampir pecah. Tangan Kyuhyun berkeringat begitu banyak ketika keduanya bertatapan.
"Kyuhyun-ah" Siwon bergerak cepat memeluk tubuh sahabatnya lalu menepuk pundaknya singkat sebelum melepaskan.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Siwon basa-basi.
Senyum keterpaksaan terlihat begitu jelas diwajah Kyuhyun "Yah, seperti yag kau lihat. Aku baik"
Sehun menatap lelaki tua itu bergantian. Merasa jengkel karena kehadirannya seperti tak dianggap. Sehun mendesah panjang hendak meninggalkan ruangan yang terasa memuakkan ini.
"Mau kemana kau Sehun?" Tuan Oh mencengkeram lengannya kuat sebelum Sehun sempat melangkah.
"Pulang" Jawab Sehun acuh.
"Setidaknya sapalah beliau dulu sebelum meniggalkan"
Sehun memutar tubuhnya kembali. Menatap lelaki tua dihadapannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sepertinya dia orang yang kaya. Dilihat dari caranya berpakaian dan barang-barang branded yang dikenakan, menunjukkan bahwa dia adalah lelaki tua yang modis.
"Oh Sehun. Senang berkenalan denganmu Tuan" Ujarnya dibarengi dengan bungkukan badan.
Siwon tersenyum tipis kemudian menepuk bahu Sehun. Sehun mengkerutkan keningnya tak suka. Berani sekali lelaki tua ini menyetuhnya.
"Kau tumbuh menjadi lelaki yang tampan Hun-a. Aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu lagi. Perkenalkan namaku Choi Siwon, sahabat appamu dan Baba nya Luhan"
Prank
Bunyi retakan tak kasat mata terdengar dari dinding hati Sehun yang baru saja dipukul dengan palu. Sehun mematung, matanya terbelalak tak percaya diikuti dengan tubuhnya yang melangkah mundur tiba-tiba.
Kenyataan ini begitu sulit untuk di cerna. Tidak pernah terpikir sedikitpun jika lelaki tanpa asal-usul tak jelas yang dibencinya selama ini masih memiliki keluarga, ditambah lagi sepertinya keluarganya sangat terpandang. Haruskah Sehun menenggelamkan tubuhnya kedalam danau setelah ini?..Ah, tidak-tidak Sehun tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu.
"Ada apa Sehun?" Keterkejutan yag dialami Sehun membuat Siwon bertanya-tanya. Apakah ada yang salah jika Siwon mengakui bahwa dirinya adalah ayah Luhan? Kenapa Sehun menatapnya seolah tak percaya?
"Oh, iya Kyuhun-ah dimana putraku? Aku tak sabar ingin bertemu dengannya" Siwon mengalihkan pembicaraan.
Sontak Kyuhyun dan Sehun saling menatap satu sama lain. Namun Sehun memutuskan kontak matanya terlebih dulu ketika melihat sang ayah yang menatapnya dengan raut wajah memohon. Sekarang Sehun mengerti kenapa Ayahnya memintanya datang kemari cepat-cepat, itu karena ia tak bisa mengatasi permasalahan ini sendiri. Tuan Oh yang terhormat menatapnya penuh permohonan setelah beberapa menit yang lalu telah menamparnya. Ugh...Memalukan.
Senyum licik tersungging manis di wajahnya. Sepertinya bermain sedikit terdengar menarik "Mungkin dia sudah mati" Sahut Sehun berlalu meninggalkan kedua lelaki tua itu dengan tubuh menegang.
"Apa-apan itu?" Siwon berujar lirih mendekati Kyuhyun "Dimana putraku, Kyu?" Tanya Siwon sambil mengguncang tubuh sahabatnya.
Kyuhyun terdiam, menatap Siwon penuh dengan rasa bersalah "Maafkan aku..."
Siwon terbelalak saat Kyuhyun menjatuhkan diri dan bersimpuh dihadapannya "Aku kehilangan dia Won-ah...Luhan...dia menghilang sejak beberapa bulan yang lalu dan...dan sampai sekarang kami belum bisa menemukannya." Jelas Kyuhyun, rasa bersalah terdengar jelas dari nada suaranya.
Siwon menatap sahabatnya dengan pandangan kosong. Tubuhnya mendadak lemas, harapannya untuk bertemu dengan sang putra pupuslah sudah "Bagaimana mungkin-?"
"Ah, Chanie. Kau datang?" Senyum lebar bertengger diwajah manis Kyungsoo saat sosok yang sangat dirindukanya muncul dari balik pintu kamarnya.
Chanyeol tersenyum canggung "Ya. Seperti yang kau inginkan, aku akan datang menjengukmu setiap hari" Melangkah kesamping Kyungsoo, Chanyeol meletakkan parsel yang dibawanya diatas meja "Bagaimana keadaanmu hari ini"
"Lusa aku sudah boleh pulang" Kyungsoo menjawab dengan senyum cerah, Chanyeol mengangguk turut senang "Ah, ngomong-ngomong dimana Baekhyun? Kenapa dia tidak datang menjengukku sejak kemarin?"
Chanyeol menautkan alisnya, ia letakkan anggrek segar yang dibawanya kedalam vas kemudian mengambil ponsel di saku celananya.
'Maaf aku tidak bisa bertemu denganmu. Aku sedang bersama Kyungsoo sekarang'
Didalam pesannya kemarin, Baekhyun mengatakan jika ia tengah menemani Kyungsoo. Bahkan Baekhyun juga menolak makan malam bersamanya semalam, dan sekarang Kyungsoo berkata bahwa Baekhyun belum mengunjunginya sejak kemarin. Sebenarnya apa yang sedang Baekhyun lakukan? Dan juga kenapa ia harus berbohong? Apakah Baekhyun bermaksud menghindarinya?
"Ah, mungkin dia sedang sibuk" Chanyeol berujar tenang lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku."Oh, iya Kyung. Mungkin besok, aku tidak bisa berkunjung kesini."
Pernyataan Chanyeol membuat Kyungsoo berubah murung "Tapi kenapa?" Tanyanya mendesah kecewa.
"Ada hal penting yang harus aku kerjakan dan juga pekerjaan dikantor sangat menumpuk, aku harus segera menyelesaikannya. Tapi kau jangan khawatir, sepupuku akan menggantikanku untuk menemanimu"
"Sepupumu? Apakah aku mengenalnya?"
Chanyeol mengacak surai kelam Kyungsoo saat kedua mata belonya menatapnya dengan penasaran, itu terlihat meggemaskan "Berkenalanlah dengannya besok"
"Jangan mengikutiku terus Kai! Aku tidak mau orang-orang yang melihat kita salah paham!" Baekhyun berujar jengkel. Pasalnya sejak ia keluar dari pekarangan rumahnya, sosok berkulit tan itu terus mengukitinya seperti seorang pengutit bersembunyi dibalik semak-semak.
Jongin keluar dari tempat persembunyiannya kemudian mendekati Baekhyun sambil menggaruk tengkuknya yang gatal "Ayolah hyung! Aku ingin membalas budi, jadi biarkan aku yang menggantikan posisi Chanyeol hyung, mejadi kekasihmu untuk sementara ne?" Pinta Jongin dengan wajah yang dibuat seimut mungkin.
Baekhyun mendengus jijik hampir saja memuntahkan isi perutnya jika tidak tahan "Dalam mimpimupun aku tidak sudi menjadi kekasihmu! Dasar hitam!" Ketus Baekhyun membuat Kai mencebikkan bibirnya "Lagi pula aku melakukan semua ini hanya untuk Kyungie, sahabatku bukan untuk dirimu. Jadi jangan merasa berhutang budi padaku" Jongin yang hendak melayangkan penyangkalan pun ditepis cepat oleh Baekhyun "Lebih baik kau menjauh dari kehidupan Kyungie. Pergilah bersama para kekasihmu itu. Kau hanya akan membuat Kyungsoo tersiksa jika terus bersamanya"
Deg
'Kau hanya akan membuat Kyungsoo tersiksa jika terus bersamanya'
'Kau hanya akan membuat Kyungsoo tersiksa jika terus bersamanya'
Kalimat itu berulang berkali-kali dibenak Jongin. Bagaikan senjata tajam yang mengoyak hatinya, rasanya sakit sekali. Tubuhnya mendadak kaku ditempat. Jongin memandang kosong kearah Baekhyun yang meninggalkannya menuju mini market, tak berniat lagi utuk mengikuti langkah lelaki mungil itu.
Apa yang dia katakan memang benar. Dia hanya akan menyakiti Kyungsoo. Dia tidak pantas menjadi kekasihnya. Harusnya sejak awal Jongin sadar. "Kau benar hyung, aku hanya akan membuatnya tersiksa. Mianhae...."
Jongin melangkah gontai meninggalkan tempat itu dengan wajah tertunduk. Meninggalkan Baekhyun yang diam-diam mengintipnya dari cela mini market "Apakah aku terlalu kejam?"
Brak
Tubuh Luhan berjengit ketika pintu kamarnya di dobrak dengan kasar. Luhan mengucek matanya perlahan untuk melihat dengan jelas siapa sosok yang berdiri diambang pintu sekarang.
'Sehun?'
Luhan mencengkeram kuat selimutnya saat Sehun berjalan mendekatinya dengan aura yang berbeda. Sehun yang Luhan lihat sekarang bukanlah Sehun yang ia lihat kemarin. Sorot mata yang penuh dengan dendam. Raut wajahnya sangat datar persis ketika Luhan melihatnya untuk pertama kali kala Sehun hendak menyetubuhinya.
Luhan dilanda rasa takut berlebih saat Sehun mencengkeram kuat kerah piyamanya 'Sehun-ah' Luhan menatap Sehun memelas. Takut jika Sehun akan berbuat nekat dan menyakiti calon bayinya.
Luhan memegang perutnya kuat kala bau alkohol yang menyengat menguar dari mulut Sehun masuk kedalam indra penciumannya dan membuatnya mual seketika.
"Aku tidak akan membiarkan mereka membawamu begitu saja" Sehun menggeram marah sambil mencengkeram kerah piyama Luhan semakin kuat. Kesadarannya telah tertutup oleh kabut tebal keegoisan.
"Kau pelacurku" Luhan mencengkeram erat kemeja Sehun saat lelaki itu menciumnya dengan ganas. Air matanya bergulir begitu cepat menuruni pipi. Perasaannya sakit dan bibirnya terluka. Sehun menggigit bibir nya begitu kuat hingga bau anyir terasa di indra pengecapnya.
Luhan ingin memberontak tetapi tubuhnya lemah, tidak lebih kuat untuk melepaskan diri dari kukungan Sehun 'Lepaskan aku Sehun!' batinnya menjerit pilu.
Sehun melepaskan pagutannya lalu mencengkeram kuat pipi Luhan "Jalang sepertimu tidak pantas bahagia! Kau harus menderita Luhan" Ujarnya dengan amarah yang menggebu-gebu.
Luhan menatap Sehun ketakutan. Sehun tengah mabuk saat ini dan seperti kebiasaannya yang sudah-sudah, pria itu pasti sebentar lagi akan meyetubuhinya dengan kasar. Luhan mencengkeram kain sprei semakin erat 'Kau mabuk Sehun! Tolong jagan lakukan ini' Perlahan Luhan menggeser tubuhnya, mencoba menjauh.
Senyum iblis terpancar di wajah tampan Sehun. Dengan gerakan cepat Sehun merobek kain piama Luhan hingga menampilkan kulit mulus yang menggoda. Sehun membuang asal pakaian itu ke lantai. Matanya yang tajam menatap penuh minat tubuh yang menggiurkan di bawahnya. Sehun merundukkan tubuhnya, memulai aksinya dengan menjilati kulit seputih susu itu, mengabsen setiap inchi lekukannya hingga berhenti tepat di depan puting kemerahan yang terlihat menegang.
Angin malam masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Tubuh Luhan yang terekspos menggigil saat udara dingin menerpa tubuhnya, bibirnya mengerang ketika Sehun menghisap kuat putingnya. Kepalanya bergerak-gerak gelisah, air mata meluncur tanpa henti dari sudut matanya.
'Tidak-tidak. Jangan lakukan ini Sehun..hiks' Isak tangis lolos dari bibir pucatnya.
Kenapa takdir begitu menyedihkan? Hidupnya seperti mendung malam yang kelam tanpa cahaya, tetapi medung itu lebih beruntung karena memiliki bulan sebagai penerang tidak seperti Luhan. Satu-satunya seseorang yang ia inginkan agar memberikan secercah cahaya untuknya turut merusak harapan yang telah ia bangun.
"Argh!" Luhan merintih menyedihkan saat Sehun menggigit puting susunya dengan kuat.
Kedua tangannya entah sejak kapan sudah dipenjara disisi kanan dan sisi kiri tubuhnya hingga menyulitkannya untuk bergerak. Luhan meronta-ronta. Kakinya bergerak-gerak hingga membuat ranjang berderit saat ia berusaha lepas dari kungkungan Sehun.
"Aku sangat membencimu Luhan"
Deg
Tubuh Luhan berhenti meronta seketika pandangannya terpaku pada sorot mata tajam yang menatapnya penuh benci diatasnya.
"Kau tau kenapa?" Luhan memandang Sehun dengan sendu, apa yang membuat sosok yang dikasihinya itu membencinya? Apakah Luhan telah melakukan kesalahan dimasa lalu? – berbagai pikiran berkecamuk dikepalanya "Kau merebut semua yang kumiliki! Kasih sayang ayah, keluargaku, teman-temanku bahkan kekasihkupun kau renggut!"
Luhan menggigit bibirnya isakannya semakin menjadi. Ia tak mengerti tentang apa yang Sehun bicarakan. Luhan tidak tau kenapa Sehun menyalahkan dirinya. Sebenarnya apa yang telah terjadi selama ini? Siapa kekasih yang telah Luhan renggut dari Sehun? Bukankah Luhan adalah kekasih Sehun? Ya Tuhan..
Luhan terus mengerang ketika Sehun mengigit lehernya kuat, meninggalkan tanda berbekas disana.
"Dia bunuh diri! Membawa calon anakku pergi sebelum ia bisa melihat dunia! Dan itu semua karena kau Luhan!" Sehun berujar sambil menarik kasar celana Luhan dari tubuhnya, menghiraukan suara rintihan Luhan dibawahnya "Kau telah lancang meminta appaku agar kau bisa menikah denganku. Sungguh kau seperti jalang Luhan! Kau merusak kebahagiaan orang, kau-LEBARKAN KAKIMU!" Teriak Sehun sambil mengangkat paksa kaki Luhan dan membukanya lebar-lebar hingga membuat sang empunya memekik kesakitan.
Senyum Sehun mengembang ketika menyaksikan lubang kemerahan Luhan yang berkedut dibawahnya. Hasrat ditubuhnya semakin meningkat. Sehun mulai melucuti pakaiannya sendiri.
Disaat Sehun tengah sibuk melucuti pakaiannya, beberapa ingatan muncul secara acak di kepala Luhan. Bayangan sosok pria paruh baya yang memeluknya, bayangan sosok gadis yang menangis tersedu dihadapannya, bayangan sosok Sehun yang menyiramnya dengan minuman bersoda, bayangan dua sosok lelaki manis yang tersenyum cerah bersamanya dan terakhir adalah bayangan ketika sebuah mobil yang menghantam keras tubuhnya. Bayangan-bayangan itu datang dan bergulir begitu cepat membuat kepalanya pusing seperti akan meledak. Keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipis Luhan. Tangannya yang terbebas dari cengkeraman Sehun turut meremas rambutnya dengan kuat.
Beralih pada lelaki tampan yang terangsang diatasnya. Keinginan Sehun untuk segera memasukkan penisnya ke dalam lubang kemerahan Luhan semakin besar. Tanpa aba-aba Sehun memasukkan penisnya dengan paksa. Luhan menjerit begitu kencang. Air mata menetes ketika rasa nyeri yang teramat dipusatnya. Cairan pekat mengalir dari sana. Bahkan Sehun tak menghiraukan keselamatan putranya yang tengah ia kandung dan masih sibuk meresapi kenikmatannya sendiri. Sehun menggenjot tubuhnya tanpa ampun, menghiraukan rintihan Luhan ditengah rasa nyeri dikepalanya yang menyiksa.
Kenangan-kenangan yang terlintas di kepala Luhan masih terasa hambar. Sedikitpun Luhan belum bisa memahaminya. Namun satu hal yang sangat Luhan yakini adalah ia sangat mencintai Sehun karena seberapa besar lelaki itu menyakitinya, sekalipun Luhan tidak bisa untuk membencinya.
Luhan rela jika harus bercinta dengan Sehun seperti ini. Jiwa dan raganya pun siap ia berikan untuknya. Jika memang Luhan hanya sebagai pelampiasan dan digunakan sebagai inang untuk menampung benihnyapun Luhan bersedia. Namun secuil harapan tak luput dari benaknya, jika suatu saat Sehun akan melihat ketulusannya dan membalas cintanya...
"Aku mencintaimu Sehun" bisik Luhan lirih bersamaan dengan angin yang berhembus.
Sehun mendesah nikmat setelah berhasil menyemburkan spermanya kedalam tubuh Luhan. Menghiraukan tubuh lemah yang terkulai dibawahnya, Sehun menjatuhkan tubuhnya disisi ranjang dan tertidur.
...
Pagi menjelang ketika Sehun menggeliat dalam tidurnya mentari sudah menyapa. Sehun beranjak dari ranjangnya sambil meregangkan otot-otot tulangnya yang terasa kaku. Kernyitan dalam tercetak jelas dikening Sehun saat ia menyadari jika tubuhnya tak berbusana. Aroma amis khas bercinta masuk ke indra penciumannya, Sehun menolehkan wajahnya ke samping secepat kilat.
Raut wajah Sehun memucat setelah melihat tubuh Luhan yang sama telanjang sepertinya pandangannya pun menelusur kebawah. Sehun meneguk ludahnya kasar, cairan pekat berwarna merah mengalir dari sela-sela selangkangan Luhan. Hatinya mendadak gelisah, dengan kegugupan tinggi Sehun menyentuh kening Luhan. Badannya berjengit ketika merasakan sengatan panas menjalari tangannya. Keringat dingin yang mengalir dari pelipis Luhan membuat Sehun gelagapan.
"Sial! Apa yang telah kulakukan?!" rutuknya.
Sehun memakai pakaiannya asal lalu membungkus tubuh Luhan dengan selimut tebal setelah itu ia bergegas menuju mobilnya dengan tergesa.
Blam
Sehun menutup pintu mobilnya dengan kasar setelah meletakkan tubuh Luhan dikursi samping kemudi dan memasangkan sabuk pengamannya.
"Sa-kith...ini...sa-kith sekali"
Sehun menstarter mobilnya dengan panik sambil melirik Luhan yang bergerak gelisah disampingnya dan terus merintih lirih. Perasaan takut menjalari benaknya. Sehun tak mau jika sesuatu yang buruk terjadi dengan buah hatinya.
"Diamlah brengsek! Aku akan membawamu ke rumah sakit!"
Seperti perintah mutlak yang harus dituruti, bibir Luhan bungkam seketika. Sambil mengigit bibir bawahnya dan menahan sakit dibagian bawah tubuhnya, cairan bening mengalir dari sudut matanya yang terpejam. Luhan mulai kehilangan kesadarannya ketika mobil Sehun melaju kencang menuju rumah sakit.
...
Sesampainya di rumah sakit, Sehun memakirkan mobilnya asal kemudian membawa tubuh Luhan memasuki lorong rumah sakit dengan tergesa. Satu tempat yang menjadi tujuannya saat ini adalah ruang dokter kandungan.
"Sehun-ah?"
Sehun menghentikan langkahnya, menoleh kebelakang untuk melihat siapa sosok yang telah memanggilnya.
"Yixing hyung, tolong periksa dia sekarang juga!" Ucap Sehun memerintah.
Lelaki berlesung pipi yang baru saja memanggilnya itu mengerjapkan matanya sekali sebelum mengangguk dan mengajak Sehun memasuki ruangannya. Mengabaikan rasa keingintahuannya tentang siapa sosok yang tengah di bawa Sehun itu, Yixing memerintahkan Sehun untuk meletakkan sosok mungil yang terlihat rapuh itu di atas ranjang pasien.
Yixing memakai stetoskopnya, memeriksa tubuh yang tak sadarkan diri itu dengan seksama. Dahinya mengernyit ketika menyadari jika ada sesuatu yang tak beres dengan pasiennya ini, Yixing menyingkap keatas piyama Luhan kemudian menempelkan stetoskopnya di perut Luhan.
Sehun mengigit kukunya sedikit panik sambil mengawasi kegiatan Yixing memeriksa Luhan. Dia mendekat kesisi Yixing disaat dokter itu melepas stetoskop yang ia kenakan.
"Aku perlu memeriksanya secara pribadi, bisakah kau menunggu di kursi itu?" Sehun mengangguk agak ragu, namun ia tetap berjalan ke ujung ruangan. Tirai pembatas ditutup disaat Sehun mendudukan kursinya di kursi tunggu.
Setelah beberapa menit kemudian tirai penutup dibuka. Sehun dapat melihat raut tak senang yang memancar dari wajah Yixing ketika pria itu mendekatinya.
Sehun berdiri tegak dari kursinya lalu bertanya untuk memastikan"Dia baik-baik saja kan hyung?"
"Ini buruk Sehun" Yixing bergumam lirih "Kondisinya tidak memungkinkan untuk mengandung saat ini" raut wajah Sehun berubah muram.
"Sex ditengah kondisinya yang lemah seperti itu bukanlah suatu hal yang dapat ditolerir, apalagi kau melakukannya dengan unsur pemaksaan" Sehun menatap tajam Yixing, namun pria itu berbalik menatapnya dengan sorot mata menuduh.
"Usia kandungannya masih 3 Minggu Sehun-ah, jadi belum terlambat untuk menggugurkannya dan resikonyapun tidak terlalu besar" Terang Yixing memberi saran.
"Tidak!" Teriak Sehun "Aku tidak akan membiarkanmu mengugurkan calon anakku hyung!" tolaknya mentah-mentah.
"Tapi Sehun, nyawanya akan terancam jika bayi itu tetap dipertahankan"Yixing mencoba membujuk "Ini demi keselamatannya Sehun"
"Aku tidak peduli hyung! Aku tidak peduli! Apapun yang akan terjadi padanya nanti bukanlah urusanku! Aku hanya ingin anakku selamat!" Ujarnya dengan nada dingin. Yixing menatap adik sepupu kekasihnya itu prihatin "Kenapa Sehun? Kenapa kau melakukan ini padanya?"
"Karena dia seorang pembunuh! Kekasih dan calon anakku meninggal karena dia" Kata Sehun dengan sorot mata benci. Yixing mengusap bahu Sehun yang menegang dengan pelan "Jadi kau ingin balas dendam?" Tanya Yixing lirih.
"Mungkin. Tapi aku lebih menginginkan seorang anak" Jawab Sehun.
"Kenapa kau menginginkan seorang anak?" Sehun mendengus jengkel karena Yixing memberondonginya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya tak penting "Apakah aku harus menjawabnya?"
"Ya. Kau harus Sehun"
"Aku ingin dia melahirkan seorang anak sebagai pengganti calon buah hatiku yang direnggutnya hyung. Waktu itu aku bahkan belum sempat mengetahui kehadirannya, kekasihku pergi meninggalkanku setelah mencuri dengar pembicaraan appa dengan Luhan yang meminta dijodohkan denganku. Dia sudah berlari begitu jauh ketika aku mengejarnya. Hingga esok harinya tiba, aku menemukan tubuhnya sudah tak bernyawa di halaman belakang sekolah. Irene bunuh diri hyung, dia nekat terjun dari lantai tiga kampus. Tubuhnya berlumuran darah dan..." Sehun berhenti sejenak untuk mengusap air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir di pipinya.
Yixing menatapnya iba. Tidak pernah terpikir olehnya, jika Sehun yang memiliki sifat kasar dan tempramen itu memiliki masalah hidup sepelik ini. Namun meskipun demikian, apa yang dilakukan Sehun sekarang ini salah. Sekalipun Sehun menganggap Luhan yang menjadi penyebab kematian kekasih dan calon bayinya.
"Selain itu Luhan juga telah merebut kasih sayang keluargaku hyung. Sejak kecil appa pun selalu membelanya. Aku membencinya hyung. Aku ingin dia merasakan bagaimana dibenci dan ditinggalkan oleh orang-orang yang dia sayang. Aku ingin Luhan menebus segalanya hyung. Tolong jangan pernah memintaku untuk membunuh calon anakku sendiri" Pinta Sehun sambil menggenggam tangan Yixing erat "Aku mempercayaimu lebih dari aku mempercayai keluargaku sendiri hyung, kumohon jangan pernah menghancurkan kepercayaanku"
Yixing menolehkan wajahnya kesamping –dimana sosok Luhan terbaring-, menatap sosok rapuh itu dengan sendu sebelum berbalik menatap Sehun dan mengangukkan kepalanya."Baiklah jika itu kemauanmu" ujarnya pasrah "Aku telah menuliskan resep dan beberapa vitamin penguat kandungan, tebuslah di Apotek" Sehun mengangguk mengerti kemudian memeluk Yixing singkat "Terimakasih hyung. Aku akan menebusnya sekarang" Yixing menepuk bahu Sehun pelan "Ya"
Tanpa mereka sadari sosok rapuh yang tengah terbaring diranjang telah mendengar semua pembicaraan mereka "Kenapa Sehun?" Luhan bergumam lirih. Cairan bening mengalir dari sudut matanya yang terpejam. Tangan Luhan terangkat untuk menyentuh perutnya yang masih rata, mengelusnya dengan pelan "Seperti yang ayahmu inginkan. Kau akan tetap hidup sunshine. Kau tidak perlu mengkhawatirkan kondisi Baba, tetaplah sehat didalam sana. Kami sangat menyayangimu"
Luhan telah memutuskan bahwa mulai sekarang ia akan melakukan semua yang Sehun inginkan. Luhan akan menebus kesalahannya, kesalahan yang sesungguhnya Luhan sendiri tak tau. Luhan telah berhasil mengingat masa lalunya, suaranya yang tenggelam pun mulai muncul kembali –meskipun masih terlalu lirih- Luhan sangat bersyukur. Mungkin ketidak bisa bicaraannya selama ini efek dari trauma yang ia alami.
Hal yang paling menyakitkan adalah ketika Luhan tau jika Sehun telah membohonginya selama ini. Kecelakaan beberapa bulan yang lalu juga, Luhan sudah mengingatnya. Luhan tau jika pelakunya sendiri adalah Sehun. Seseorang yang telah lama ia sayangi. Luhan tak pernah menyangka jika Sehun akan berbuat sekejam itu padanya.
Namun Luhan segera sadar, jika bukan hanya dirinya satu-satunya korban disini. Sehun adalah yang lebih tersiksa
"Maafkan aku Sehun-ah"
Denting suara sendok yang beradu dengan piring mengisi ruangan serba putih yang sepi. Kyungsoo yang baru saja menelan satu sendok terakhir dari sarapannya pun meletakkan piringnya diatas nakas lalu mengambil gelas air disampingnya dan meneguknya secara perlahan.
Hari ini terasa membosankan, kekasih dan sahabatnya tak akan berkunjung hari ini. Ditambah lagi dengan sepupu Chanyeol yang katanya akan menemaninya hari ini tak kunjung datang membuat Kyungsoo berdecak sebal.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan dan Kyungsoo ingin berjemur dibawah matahari, namun tak ada satupun orang yang bisa diajaknya pergi ke taman belakang. Perawat yang biasanya tak pernah absen menemaninya pun sangat sibuk hari ini, ia hanya datang sekali untuk mengantarkan makanan. Dengan langkah lunglai Kyungsoo berjalan menuju sofa dipojok ruangan berniat melihat pemandangan diluar dari kaca jendela, namun tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Kyungsoo menoleh ke sumber suara sedikit terkejut.
Sosok lelaki dengan kulit kecokelatan berdiri di ujung pintu. Tiba-tiba suaasana didalam ruangan menjadi gugup "Oh...hai" Sapa lelaki itu sambil berjalan mendekat kearah Kyungsoo.
Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya kala lelaki itu mengulurkan sebuket mawar putih didepannya "Untukmu" Ujar lelaki tan itu.
Awalnya sedikit enggan, namun tak lama kemudian Kyungsoo menerima bunganya dengan wajah berbinar "Terimakasih" ungkapnya.
Mawar putih adalah bunga kesukaannya. Tidak banyak yang tau memang, hanya orang-orang yang mengenalnya begitu dekatlah yang mengetahuinya. Bahkan Chanyeol sepertinya tidak mengetahuinya, karena lelaki itu selalu membawakannya bunga Anggrek setiap pagi.
Jongin tersenyum kecil ketika Kyungsoo menghirup harum bunga yang ia bawakan, bibirnya mengembang cerah dan itu berhasil membuat hati Jongin menghangat "Aku Kim Jongin, sepupu Chanyeol hyung. Senang berjumpa denganmu Kyungsoo-ssi" Jongin berujar sambil mengulurkan tangannya.
Kyungsoo tersenyum semakin lebar ketika menyadari jika lelaki inilah yang dimaksud kekasihnya. Kemudian Kyungsoo menjabat tangan Jongin "Senang berjumpa denganmu juga Kim Jongin-ssi"
Ada raut kecewa di wajah Jongin ketika Kyungsoo memanggilnya dengan formal, seperti orang asing. Namun itu bukanlah suatu masalah yang besar untuknya. Karena selama Kyungsoo bisa tersenyum bahagia, menjadi siapapun Jongin bersedia.
"Mau berjalan-jalan ke taman?" Kyungsoo mengangguk semangat menerima ajakan Jongin.
Jongin terkekeh kecil lalu mengambil kursi roda disamping ranjang Kyungsoo. Dia membantu lelaki mungil itu duduk di kursi roda dengan hati-hati. Dengan senyum dibibir Jongin mendorong kursi roda Kyungsoo menuju taman belakang rumah sakit.
Iecherous Man
Yixing memalingkan wajahnya ketika pintu ruangannya terbuka. Matanya membelalak tergetuk ketika bertatapan dengan sosok lelaki tampan yang tengah berdiri disamping pintu sambil bersidekap dada.
"Yifan?!" Yixing terlonjak dari tempat duduknya. Dengan cepat lelaki berdimple itu bergerak dari tempat duduk kemudian menyerbu lelaki tampan didepannya dengan pelukan "Kenapa tidak mengabariku jika kau akan datang?" tanyanya dengan bibir mengerucut.
"Kejutan" Sahut Yifan terkekeh. Ia eratkan pelukannya pada sahabat lama yang sangat ia rindukan "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik" sahut Yixing "Apakah kau akan lama disini?"
Yifan menggeleng tanpa sadar "Entahlah" pandangannya beralih pada sosok lelaki yang tengah terbaring di ranjang pesakitan. Indah, adalah satu kata yang dapat ia simpulkan.
"Sepertinya lelaki tadi sangat menyedihkan" Yixing melepaskan pelukannya, menatap Yifan dengan alis naik satu "Kau menguping?" selidiknya.
Lamunan Yifan seketika buyar reflek ia pun menggelengkan kepalanya tiba-tiba "Haha..tentu saja tidak!Aku hanya tidak sengaja mendengarnya tadi" elaknya kemudian menatap sosok yang terbaring diranjang sekali lagi dengan raut wajah prihatin.
"Jangan menatapnya seperti itu. Dia sudah menjadi milik sesorang yang kau anggap menyedihkan tadi asal kau tau" Yixing menyenggol bahunya pelan kemudian keduanya tertawa.
"Hahaha, sudahlah lebih baik kita mencari makan siang sekarang" ajak Yixing mengapit lengan Yifan.
"Lalu bagaimana dengan dia?" Tanya Yifan, merasa tak enak karena meninggalkan pasien Yixing sendirian.
"Tenang saja. Aku akan menyuruh perawat untuk menjaganya sementara si orang menyedihkan itu datang" guraunya.
"Hahaha..baiklah. Ayo!"
...
Udara pagi yang sejuk masuk kedalam indra penciuman. Cahaya matahari yang tidak begitu terik menambahkan kesan kenyamanan.
Jongin duduk dibangku taman dengan kursi roda Kyungsoo yang terparkir disampingnya. Mata tajamnya menelusuri wajah cantik disampingnya dengan lekat. Caranya tersinyum, keningnya yang berkerut, wajahnya yang menekuk, bibirnya yang cemberut, semua ekspresi di wajahnya akan Jongin ingat selalu.
"Kyungsoo-ssi" Jongin memanggilnya dengan suara yang pelan.
"Ya?" Kyungsoo menolehkan wajahnya kesamping, menatap Jongin seolah bertanya.
"Aku harap kau akan selalu bahagia" Kyungsoo mengerutkan keningnya sejenak kemudian mengembangkan senyumnya "Tentu saja. Aku akan selalu bahagia Jongin-ssi" timpalnya.
"Syukurlah" Jongin mendesah lega sebelum memalingkan wajahnya.
Jongin memejamkan matanya menikmati udara yang menyentuh wajahnya. Bibirnya melengkung tipis "Dulu, aku memiliki orang yang kusayangi"
Kyungsoo yang mulai tertarik pun memperhatikan lelaki di sampingnya dengan seksama " Namun karena sebuah kesalah pahaman, aku kehilangan dirinya sekarang." Raut wajahnya berubah sedih "Aku-."
Jongin memutuskan untuk menceritakan kisahnya, dengan Kyungsoo sebagai pendengar terbaiknya. Keduanya kini terlarut dengan pembicaraan yang cukup panjang. Waktu terus berlalu tanpa terasa sudah merambat ke siang hari. Cuaca yang semakin terik memaksa mereka untuk segera meninggalkan bangku taman.
Jongin mengantarkan kembali Kyungsoo kedalam kamarnya setelah menikmati makan siang bersama dikantin rumah sakit tadi.
"Terimakasih telah bersedia menemaniku Jongin-ssi. Aku harap mulai sekarang kita bisa berteman"
Jongin tersenyum kecil "Kurasa tidak bisa"
Kyungsoo menaikkan satu alisnya "Kenapa?"
Jongin mendesah sambil mengacak surai Kyungsoo kemudian turun diwajahnya. Kyungsoo memejamkan matanya, menyelami sentuhan yang tak terasa asing di benaknya.
Jongin tersenyum miris tak berniat menjawab pertanyaan Kyungsoo. Kyungsoo membuka matanya ketika tangan Jongin menjauh dari wajahnya "Semoga suatu hari kita bisa bertemu lagi" sambil tersenyum kecil Jongin menjauhkan tubuhnya.
Kyungsoo menatap lelaki itu tanpa berkedip. Dia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Hatinya mendadak gelisah ketika Jongin berjalan meninggalkan ruangannya.
Jongin melambaikan tangannya sejenak lalu menutup pintu ruangan Kyungsoo. Ketika berbalik, air mata tumpah diwajahnya. Jongin memegang dadanya yang terasa sesak.
"Goodbye My Love"
Sampai Jumpa di episode mendatang...
Akhirnya setelah sekian lama mau apdet, kesampaian juga wkwkkw... Maap banget buat para readernim yang menunggu lama~ sebagai gantinya gue apdet panjang nih, hehe... moga aja masih pada mengerti/? ... Buat yang masih pada bingung gue tunggu pertanyaannya di kolom review ye~
Gue juga mau ngucapin selamat ulang tahun nih buat urie maknae yang paling kece "Oh Sehun" Semoga makin sukses, makin tampan, makin baik, makin dewasa dan makin segala-galanya... + Jangan lupain Luhan yang setia menunggu di Beijing...#sorrytelatsehari xD
BIG THANKS FOR FOLLOWER, FAVORITES, REVIEWERS YANG SELAMA INI NGIKUTIN FF ABAL INI.. LUV YU ALL
#SalcinFoxHoon :*
