By : Haruchan
.
.
Tittle : Dream
Maincast : Chanyeol, Baekhyun, and other
Genre : Romance, Drama
Rating : Tergantung cerita
Summary : Love at first sight! Ketidaksengajaan Chanyeol bertemu
dengan Baekhyun yang seorang perawat. Membuat bunga bunga di
hati Chanyeol bermekaran. Chanyeol, Baekhyun, EXO, ChanBaek/BaekYeol, GS (Gendeswitch)
THIS IS GENDERSWITCH
SORRY FOR TYPO
SORRY FOR EVERYTHING
Oke. Happy Reading!
.
.
.
CHAPTER 2
.
.
.
"Uhuk uhuk!" Kai terbatuk batuk saat masuk ke dalam restoran. Dia merogoh sakunya dan mengambil dompet coklat buluknya dan membukanya "uhk! Uangku habis gara gara dia" gerutunya seperti orang gila.
"Kim Jongin!"
Kai menoleh dan segera memasukan dompetnya kembali "Ya Pak!"
Nampak pria gendut dengan topi chefnya sedang memandang Kai dari atas sampai bawah "Dari mana saja kau? Kenapa kau berkeringat? Kau juga terlihat sangat lelah"
"Itu pak aku-"
"Ngomong ngomong dimana Chanyeol?"
"Oh! Iya pak, dia-"
"Bilang kepadanya temui aku di ruang kepala chef. Jika tidak datang gajinya maupun gajimu akan aku potong"
"Eh? Kenapa saya juga dipotong?"
"Kau yang aku beri mandat, kau juga terlibat dalam urusannya" Ucapnya santai lalu pergi. Kai menatap miris dengan gestur tangan ingin meraih pundak kepala chefnya itu. Dia serasa sudah berada di ujung lubang yang akan membawanya masuk ke dalam neraka sang kepala chef.
"Sudah aku bilang periksa tanggalnya dulu Park Chanyeol!"
.
Tap tap tap!
"Baekhyun"
Yang dipanggil menoleh "Iya eh, dokter Irie. Ada apa dok?"
"Apa kau sudah memeriksa dosis infus di kamar nomor 27?"
"Sudah pak. Dan juga ini" Baekhyun menyerahkan selembar kertas kepada Irie "Dokter Kyungsoo menitipkan ini kepadaku. Dia bilang ini stastistika tekanan darah pasien di kamar 31"
"Begitu. Baiklah, kerja bagus" Irie berjalan meninggalkan Baekhyun yang tengah sibuk dengan peralatan stainlessnya "Baekhyun"
Baekhyun kembali menoleh "Iya dok?"
"Sepertinya kau sedang bersemu semu" lanjut Irie dengan nada datar. Baekhyun segera berpaling muka "Dokter bicara apa? Tidak ada.."
"Kau itu sama seperti istriku. Aku sangat hapal dengan sifatnya maupun dirimu"
Baekhyun tertegun. Dia kembali menatap punggung Irie "Dokter.."
"Sudahlah.." desahnya "kembali bekerja. Setelah ini aku masih ada beberapa operasi. Jadi tugasmu hanya merawat pasien kamar 27 saja"
"Baik" jawab Baekhyun mantap. Baekhyun segera memegang troli dan mendorongnya berbelok ke arah kiri. Irie masih tetap berdiri disana dengan mata yang memandang ke arah bawah "baguslah"
.
Saat ini mata itu tengah memandang langit langit, tubuhnya tengah terbaring di atas ranjang empuk rumah sakit, dan pikirannya tengah menjelajahi berbagai belahan dunia khayalannya yang luas. Chanyeol terlihat seperti melamun tapi nyatanya tidak, lebih tepatnya dia sedang berpikir.
"Byun Baekhyun" Chanyeol kembali menyebut nama itu lagi. Entah sudah berapa kali dia mengucapkan nama Baekhyun. Setiap dia melihat bekas tumpahan tadi, wajah Baekhyun selalu terlintas di pikirannya. Tidak tidak! Pikir Chanyeol. Dia tidak begitu yakin dengan apa yang dia rasakan saat ini. Yang jelas dia masih berpikir rasional tentang Baekhyun. Baekhyun yang seorang perawat dan ya.. hanya perawat yang merawatnya.
Cklek.
Srek.
Chanyeol menoleh "Eh, masih belum tidur?"
"Belum" jawab Chanyeol sambil membetulkan posisinya menjadi duduk "aku akan memeriksa dosis infusmu lagi"
"Jangan jangan infusnya nanti tumpah lagi" canda Chanyeol selagi dia menyadarkan dirinya dari lamunannya. Baekhyun terkikik geli mendengar guyonan Chanyeol "Bisa saja"
Sangat cantik, pikir Chanyeol. Sepertinya dia mulai kembali masuk ke dalam pesona Baekhyun.
"Chanyeol sudah makan malam?"
"Sudah"
"Baguslah" Baekhyun membereskan peralatannya lalu duduk di kursi samping ranjang "eh? Kau sedang apa?"
"menemanimu. Dokter Irie bilang aku hanya bertugas merawatmu saja saat ini" jawab Baekhyun polos "Kau.. seorang koki ya?"
"Bisa dibilang koki pemula. Aku menjadi koki baru tiga bulan"
"Pasti enak"
"Apanya yang enak?"
"Iya.. bisa mencicipi banyak makanan, melihat banyak warna dari bahan makanan, dan juga pintar memasak"
"Menurutmu begitu?"
Baekhyun mengangguk. Wajahnya terlihat sangat lelah. Chanyeol memandang Baekhyun lebih dekat lagi "Kau terlihat lelah"
"Iyakah? Aku sudah tidak pulang dua hari. Dokter Irie juga, dia sepertinya belum pulang selama empat hari"
"Dokter Irie?"
Baekhyun melongo "Jadi kau belum tahu siapa dokter yang merawatmu?"
Chanyeol menggeleng "Ya ampun. Aku beri tahu. Yang menjagamu itu namanya dokter Irie. Dia dokter yang paling pintar dan juga hah.. paling tampan! Kau tahu, dia semasa sekolahnya selalu mendapat peringkat pertama. Bahkah ujian nasionalnya pun selalu peringkat pertama se Jepang"
"Jadi dia yang paling pintar di Jepang begitu?"
"Hm! Dan semenjak dia pindah bekerja disini duniaku serasa berwarna~"
"Apa kau menyukainya?" Tanya Chanyeol to the point. Hal yang menjadi prioritasnya saat ini apakah Baekhyun telah mempunyai rasa terlebih dahulu terhadap seseorang termasuk Irie. Terdengar terlalu cepat tapi itulah Chanyeol, bersiap siap lebih awal.
Baekhyun mengangguk malu "Sepertinya.. iya"
Chanyeol sedikit menyipit lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Sepertinya Baekhyun sudah terpana oleh si dokter tampan dengan otaknya yang terbuat dari omega 3 itu.
'Ya.. sepertinya ini hanya perasaan mendadak saja aku terpana dengan perawat Byun'
"Jadi kau menyukai pria beristri?"
Seburat merah singgah di pipi Baekhyun "apanya?! Hei, jangan macam macam. Dari mana kau tahu kalau dia sudah beristri?"
"Hanya insting. Itu saja" Chanyeol melipat tangannya lalu menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang "Pria yang sudah beristri lebih mudah dikenali daripada yang masih lajang"
"Iya" Baekhyun tersenyum jahil "sama sepertimu. Tidak laku laku"
Chanyeol mendadak melotot "Apa?" tanyanya meninggi "hei! Asal kau tahu. Semasa kuliah dulu aku banyak disukai gadis gadis. Bahkan dosenku yang masih lajang sendiri pun menyukaiku"
"lalu kau memacari salah satu dari mereka begitu?"
"Tidak.." Chanyeol memasang tatapan kosong "jika Ayahku tahu aku berpacaran, bisa bisa aku dihajar habis habisan. Dia pasti bilang 'kau itu sekolah untuk belajar, bukan untuk cari gadis. Dasar anak payah' begitu" Chanyeol mengakhirinya dengan manyunan.
"Jadi selama ini kau belum pernah berpacaran?" tanya Baekhyun dengan penuh antusias
"tidak"
Baekhyun sedikit terkejut "Selain karena Ayahku itu juga karena aku ingin tahu seberapa mapan dan bisanya diriku mengurus hidupku sendiri sebelum aku bisa mengurus hidup orang lain" Chanyeol menatap ke arah kakinya yang terbalut selimut "dan semenjak aku menjadi koki aku memutuskan untuk mulai mencari pendamping hidupku" Chanyeol kembali menatap Baekhyun. Baekhyun sedikit meremas roknya penasaran dengan apa yang akan dikatakan Chanyeol selanjutnya. "Perawat Byun"
Glup! Bulir keringat mulai muncul dari pelipis Baekhyun "apa kau pikir aku bisa mendapatkan pendamping hidupku?"
Antara lega dan tercekat, Baekhyun harus mengatakan apa? Dia sendiri masih belum bisa berpikir sedewasa Chanyeol dan juga Baekhyun masih sedikit syok dengan tatapan Chanyeol yang Baekhyun rasa penuh makna. Tak terasa jantung Baekhyun berdetak kencang berirama, Baekhyun mulai membuka mulutnya "Ya, semua manusia pasti punya pasangan nantinya. Tidak tahu kapan dan saat apa dia mengetahui itu, yang jelas semuanya akan mendapatkan bagiannya masing masing. Itu saja" Baekhyun perlahan menatap Chanyeol yang tengah terpanjat. Ya.. lebih tepatnya terpanjat oleh kata kata Baekhyun. Dia tau memang seperti itu siklus hidup manusia, tapi yang membuat hal itu semakin nyata adalah gadis yang ada di depannya yang saat ini terngah tersenyum sambil mengucek ngucek matanya.
'Tidak.. tapi ah.. tidak tidak!'
Chanyeol mengeleng kuat mencoba menghilangkan presepsi presepsi anehnya. Baekhyun mengerenyit "Chanyeol kenapa?"
"Ah? Tidak tidak. Aku baik baik saja" Chanyeol kembali berkutat dengan dunianya sendiri sedangkan Baekhyun masih sibuk dengan dirinya yang mengantuk.
"Perawat Byun"
Baekhyun mendongak "kau mau dengar cerita?"
"Terserah kau saja" jawabnya sambil mengucek ngucek matanya.
"Ada seorang anak lelaki yang tinggal di sebuah desa di daerah Busan. Setiap hari dia pergi ke sekolah untuk belajar dan setiap pulang sekolah dia selalu pergi ke ladang untuk membantu orangtuanya bekerja di ladang. Mereka melewati masa susah senang bersama. Seperti tidak ada hal buruk yang akan terjadi" Chanyeol melirik Baekhyun yang tengah menatapnya "mau aku lanjut?"
Baekhyun tersenyum selagi mengangguk "pada suatu hari ibunya jatuh sakit. Ayahnya pontang panting bekerja demi pengobatan ibunya. Dan beberapa bulan kemudian ibunya meninggal"
Baekyun sedikit terkejut mendengar ucapan Chanyeol "lalu.. bagaimana?"
"Dia sendiri dengan ayahnya. Sampai saat saat yag telah dia prediksi datang. Dia merantau ke kota bersama ayahnya. Demi masa depan keluarganya dia berangkat bersama ayahnya. Saat itu dia masih berumur sekitar ya.. 15 tahun. Dia datang tanpa membawa bekal yang pasti. Dia datang dan memulai semuanya seperti motor yang belum dipanasi"
"Dia dan ayahnya bekerja keras di kota. Ayahnya bekerja menjadi tukang angkut barang di pasar sedangkan dirinya sendiri bekerja di cafe selama dirinya menjadi pelajar yang dibiayai pemerintah. Dia pernah berangan untuk masuk universitas khusus koki di kota itu" Chanyeol meraih handphone yang tergeletak di nakas samping ranjangnya "Dan dia berhasil. Dia juga menyewakan apartement yang layak untuk ayahnya. Dia belajar giat untuk bisa menjadi koki. Ayahnya pun tidak pernah pantang menyerah. Dia sangat menyayangi ayahnya, sangat. Dia sangat menyayanginya. Tidak ada yang dia miliki lagi selain ayahnya di dunia ini"
"setelah dia lulus dia mencoba mencari pekerjaan sebagai apa saja di restoran restoran di kota. Dia berkeliling layaknya pemulung mencari pekerjaan yang pada akhirnya tidak ada yang mau menerimanya. Hingga saa dia duduk di depan sebuah restoran seorang pria berbadan besar menghampirinya. Dia bertanya banyak tentang lelaki itu sampai akhirnya dia mengatakan satu hal"
"apa itu?"
Chanyeol tersenyum selagi meletakkan handphone di sisinya "kebahagiaan akan datang kepada semua manusia. Tidak ada yang akan melewatkan itu"
Baekhyun tersenyum "berarti ada orang yang sama sepertiku"
"Maksudmu?"
"Ya.. kisahku juga sama seperti kisahnya. Bedanya orang tuaku bercerai dan aku tinggal berama ibuku, dan kehidupanku juga berkecukupan selama ini"
Chanyeol menatap langit langit kamar dengan tatapan sendunya "Syukurlah kalau begitu"
"hm?"
"Tidak tidak. Dan setelah itu dia bekerja disana. Dia sangat bahagia walaupun hanya bekerja sebagai tukang angkat barang dan tukang ambil bumbu disana. Sampai tiga bulan yang lalu dia diangkat menjadi koki"
Detik itu juga Baekhyun terpanjat. Dia seperti mendengar bahwa ikan ikan di seluruh dunia berkumpul di Korea hanya untuk mendengarkan sejarah tentang ikan.
"Tunggu"
Chanyeol menoleh "Ada apa?"
"Aku tidak begitu yakin, dia.."
"Hm?"
"Dia pasti sangat senang!"
Chanyeol mendecih. Gadis ini polos sekali, pikirnya "Hm. Lalu lalu, bagaimana dia sekarang?"
"Sekarang? Dia bekerja sebagai koki dan.. seperti itu"
"Wah! Dia sangat beruntung! Hihihi!"
"Hm. Kau tidak bekerja?"
"Oh iya! Kalau begitu aku kembali berkeliling dulu" Baekhyun beranjak lalu keluar dari kamar Chanyeol. Seulas senyum menjadi pengantar kepergian Baekhyun dari kamar rawatnya.
"Baek.. aku tidak tau apa yang aku katakan tadi. Aku hanya ingin bersamamu sejenak"
.
.
"Hah! Akhirnya kau pulang juga! Kau tau! Aku hampir kehilangan separuh gajiku gara gara dirimu!"
"Hei! Bukan kau saja, aku juga kehilangan separuh gajiku. Untung aku urung menceritakan ini kepada koki kepala. Kalau aku cerita pasti kau akan bertambah benci kepadaku karena hanya gajimu saja yang dipotong"
Kai memanyunkan bibirnya "Hu! Ya sudah. Terima kasih"
"Hm"
Kai melirik Chanyeol lalu mengedipkan mata "Hei. Ada apa? Kau terlihat lebih pendiam"
"Apa? Tidak"
"Kau berbohong"
"Hah! Yang benar saja. Aku pendiam? Aneh"
"Hei koki Park, sepertinya aku salah paham. Bukan pendiam tapi kau malah jadi menyebalkan"
"Dasar kau bocah-"
"Kalian sudah datang" Koki kepala datang dengan topi besar nan tingginya. Chanyeol dan Kai langsung membungkuk hormat "Salam pak"
"Untunglah kalian datang. Cepat bekerja. Banyak cucian dan juga pesanan yang harus kalian kerjakan" Koki kepala menatap tajam kedua koki pemula nan tampan itu "Kim Jongin"
"I-iya pak!" Kai tergagap "Itu.."
"Iya pak? Ada apa?"
"Itu.."
"Iya pak? Kenapa? Apa ada yang salah dengan saya?"
"Itu.. resleting celanamu belum ditutup"
Kai membulatkan mata dan secepat kilat melihat bagian 'itu'nya "Oh My God!" Kai segera menutup resletingnya. Chanyeol terlihat menahan tawa dengan cekikikannya yang sangat keras "Duh, pak kepala kalau bicara jangan keras keras dong pak"
"Terserah aku mau bicara keras atau tidak. Yang jelas aku mengingatkanmu bukan membentakmu. Kau mau aku potong gaji?"
"Tidak pak!"
"Ya sudah. Sebentar lagi malam dan pekerjaan kalian sudah membentang luas layaknya langit. Kerja keraslah" Koki kepala mengepalkan tangan memberi semangat dengan ekpresi yang datar. Lamunan dan mulut terbuka Kai menjadi pengiring koki kepala pergi.
Kai langsung memukul lengan Chanyeol. Chanyeol yang saat itu tengah cekikikan langsung meringis kesakitan "Ya Kim Jongin!"
"Kenapa kau tidak mengingatkanku tadi saat di toilet umum?!"
"Mana aku tau?!"
"Iya tapi kenapa kau waktu itu tidak tau?! Pantas saja tadi ada gadis yang menertawaiku!"
"Kenapa kau sekarang seperti anak gadis sih?!"
"Apa kau bilang?!"
Pertengkaran mereka membuat para pengunjung menatap mereka aneh. Maklum lah, mana ada lelaki berumur dua puluh keatas bertengkar seperti anak kecil di depan umum. Para pengunjung menunjukkan ekpresi yang berbeda beda, ada yang melirik aneh, menatap intens, hingga tidak mempedulikan mereka sama sekali.
"Hei anak muda. Kalau mau bertengkar di ring tinju sana" Suara parau itu mebuyarkan pertengkaran mereka "Maaf kakek" Chanyeol menatap seluruh pengunjung restoran "Maaf untuk para pengunjung. Aku dan koki ini sedang berargumen sesuatu yang penting jadi biarkan kami menyelesaikannya dulu"
"Hei Park Chanyeol. Kau bodoh atau apa? Langsung saja ke ring tinju ayo. Aku akan sangat senang jika kau jadi seorang lelaki"
"Kau ini hanya masalah resleting saja seperti anak sekolah saja. Sudahlah aku kan memang tidak tau apa apa"
"Tapi aku malu!"
"Itu sudah berlalu. Dan juga lihat para pengujung. Mereka terganggu"
"Tapi-"
"Aku akan belikan makanan untuk ketiga anjingmu" Chanyeol berubah jengah. Kai menatapnya dengan mata membulat "Apa?"
"Aku bilang aku akan belikan monggu, janggu dan janggah makanan" Chanyeol berubah menjadi ngotot. Kai malah garuk garuk kepala tidak jelas "sudah? Mau bilang apa? Aku yakin kau terpengaru gajimu yang dipotong itu makanya kau terlihat seperti gadis pms"
"Hyung!"
Kring!
"Selamat datang eh.." Chanyeol yang jengah berubah menjadi Chanyeol yang terkejut. Kai yang awalnya kebingungan juga ikut ikutan menoleh ke arah pintu. Nampak segerombolan lelaki dan perempuan tengah berdiam di depan pintu restoran.
Chanyeol tidak mempermasalahkan itu. Tapi yang menjadi perhatiaannya saat ini adalah gadis dengan sweater soft pink yang sedang tertawa bersama salah satu dari gerombolan itu.
"Perawat Byun.." Gumam Chanyeol selagi matanya terus menatap gadis cantik itu.
"Perawat Byun?" Kai ikut ikutan menengok "Ah.. perawat itu"
"Kau mengenalnya?"
"Waktu di koridor.. dia menolongku saat hampir tersedak" Jawab Kai sambil mengelus lehernya.
Flassback
"Hah.. lelah sekali. Baru juga sampai di restoran Chanyeol minta dijemput. Dasar" Kai berjalan terseok-seok sambil membungkuk. Ketara sekali kalau dia benar-benar lelah.
"Air.. air.." Kai seperti terserat di gurun sahara. Saat dia melihat ada galon dispenser dia langsung berlari layaknya menemukan harta karun. Kai mengambil gelas kertas dan mulai menekan kran.
Gelas itu telah penuh. Tanpa perlu waktu banyak air di dalam gelas ditelan oleh Kai.
"Uhuk uhuk!" Kai menepuk dadanya sendiri hingga sebuah tepukan lain di punggungnya membuatnya menoleh sambil terus terbatuk.
"Tuan tidak apa-apa? Apa anda tersedak?"
"Tidak uhuk uhuk! Aku tidak apa-apa" Kai terbatuk cukup lama hingga akhirnya dia bisa mengontrol nafasnya dan tidak terbatuk lagi "Terima kasih"
"Ah, aku tidak melakukan apa-apa kok"
"Tapi sungguh terima kasih loh.." Kai menghentikan ucapannya dan melirik sesuatu di bawah wajah Baekhyun "Perawat Byun Baekhyun"
"Ya kalau begitu sama sama" Baekhyun menyingkirkan rambutnya ke belakang telinga. Sebenarnya Baekhyun juga ingin mengambil air kalau saja Kai tidak terbatuk batuk seperti orang tua.
"Perawat Byun!" Baekhyun sontak menoleh. Nampak seorang wanita gendut dengan wajah sangar dan tatapan melotot sedang menatapnya "Kau terlambat lagi! Dokter Shin sudah menunggumu!"
"Omo! Aku lupa! Aaaa!" Baekhyun langsung berlari pergi tanpa memperhatikan Kai yang tengah menekan keran dispenser. Kai mengereyit lalu menggeredikkan bahu dan kembali minum dengan tenang.
Flassback off
"Ah.. begitu. Syukurlah kalau begitu" Chanyeol mengangguk sambil memejamkan mata. Untung saja Kai dan Baekhyun tidak melakukan apa-apa. Tapi tunggu. Sejak kapan Chanyeol memperhatikan perawat yang saat ini tengah duduk dan menunggu pesanan tiba dengan wajah yang menurutnya cantik itu?
"Park Chanyeol! Kenapa tidak langsung kerja hah?!" Chanyeol yang tersentak langsung berlari menuju dapur diikuti Kai dari bekalang. Chanyeol tidak merasa jika perawat yang membuatnya linglung saat ini tengah menatap pintu dapur yang dia masuki dengan senyuman syahdu.
.
"Pesanan telah siap! Selamat menikmati"
"Tunggu" Kai segera berbalik ketika Baekhyun mencegahnya untuk pergi "dimana Park Chanyeol?"
"Chanyeol hyung?" Kai melirik ke arah atas, entah apa yang sedang ia pikirkan. Sedangkan Irie menatap Baekhyun sambil melahap spagetinya pelan "Mau aku panggilkan?"
"Ah tidak~ dia pasti sedang sibuk saat ini. Aku takut menggangunya" Ujar Baekhyun dengan tawa ringan "Tidak apa kok, dia akan senag jika kau memanggilnya"
"Benarkah? Tapi tidak dulu, aku takut menganggunya" Baekhyun mengambil garpu lalu kembali menatap Kai "Aku makan ya?"
"Oh iya. Selamat menikmati" Kai menyilahkan Baekhyun untuk makan dan kembali ke tempat kasir pembayaran. Kai duduk di sebelah lelaki yang saat ini tengah mengetik sesuatu di komputer balok didepannya. Tatapannya yang serius membuat Kai sedikit merengut ketika melihat wajahnya "Hei Jongdae, kau sedang apa?"
"Bermain" jawabnya singkat. Kai menghela nafas memaklumi tingkah temannya yang satu ini "Bermain apa?"
"Poker"
"Apa kau tidak bosan bermain poker?"
"Tidak. Memangnya ada apa? Kau bosan? Aku yang main juga.." Jongdae dengan santai menjawab pertanyaan Kai. Santai tapi penuh dengan selidik. Itulah Kim Jongdae.
Kai mengabaikan Jongdae yang kembali menuju dapur. Baru saja dia membuka pintu dia disambut dengan Chanyeol yang tengah terkejut dengan kedatangannya. Kai menatapnya heran, apalagi dengan kakinya yang berjinjit padahal dianya sendiri sudah tinggi.
"Sedang apa kau disini?"
"Aku? Aku.." Chanyeol mulai berpikir "Ah! Mencari semut disela sela jendela! Lihat" Chanyeol menghampiri jendela bulat ditengah pintu dan merabanya berpur-pura mencari semut disana. Kai menggeleng lalu menarik Chanyeol keluar dari dapur.
"Hei Kim Jongin apa yang kau lakukan?" Tanya Chanyeol dengan nada tinggi ketika Jongin langsung menutup pintu dapur dan menguncinya "Hei Kim Jongin!"
Kai tidak menggubrisnya dan malah bertanya apakah ada pesanan lain untuk satu jam kedepan "Kai! Woi! Kai buka pintunya!"
"Sudahlah kau diluar saja. Lagipula kau tidak akan bosan karena ada perawat Byun disana!" teriakan Kai bisa terdengar jelas oleh Chanyeol dan semua pengunjung yang ada termasuk Baekhyun sendiri. Mendegar teriakan Kai yang membuatnya malu Chanyeol pun menoleh ke arah Baekhyun yang saat itu tengah menatapnya polos
Deg!
"Perawat Byun.." gumam Chanyeol melihat Baekhyun yang tersenyum ke arahnya. Seakan-akan lagu romantis tengah diputar diantara mereka. Chanyeol merasakan saat ini jantungnya benar-benar tidak bisa dikontrol. Jantungnya seperti mau meloncat dan menembus dadanya keluar dan menghampiri Baekhyun. Huh! benar-benar mengerikan.
"Hei Park Chanyeol"
Chanyeol menoleh "Huaa!" Chanyeol terkejut melihat wajah Kai yang terpampang di jendela pintu dapur. Jongdae yang saat itu masih sibuk dengan pokernya akhirnya menyitakan waktunya demu keributan yang terjadi disampingnya. Kai terkikik geli melihat Chanyeol dengan matanya yang melotot tengah ditatap oleh banyak orang.
"Kim Jongin!"
"Week!" Kai langsung menghilang dengan rasa puas. Akhirnya dia bisa mengerjai Chanyeol dengan mudah. Sama seperti Chanyeol mengerjainya saat dia masih koki junior di restoran.
Chanyeol melemas, dia berbalik dan duduk di samping Jongdae yang masih sibuk dan asik dengan gamenya "Hei, kau tidak capek apa main game terus?"
"Aku kan gamer, pacarku juga tidak mempermasalahkanku bermain game di tempat kerja" Chanyeol memandang Chen remeh. Bagaimana bisa seorang gadis mau dipacari oleh lelaki disampingnya ini sedangkan dirinya sendiri saja masih tidak mau sadar apa ruginya bermain game "Kau ternyata pintar juga. Koki kepala sedang sibuk di kantornya dan kau bermain game.. keren juga caramu"
"Terima kasih dan.." Jongdae yang biasa Chanyeol panggil Chen mengeluarkan dirinya dari permainan dan menatap Chanyeol dengan tatapan yang tak berarti "Aku akan serius jika waktunya serius dan aku akan santai jika tidak ada masalah apapun di sekitarku"
Chanyeol tersenyum miring lalu menjitak kepala Chen "Anak ini. Benar-benar membuatku selalu terkejut" Chanyeol mendekati Chen dan terus menjitak kepala Chen. Chen meringis kesakitan lalu mendorong tangan Chanyeol agar tidak terus menjitaknya "Sakit!"
"Kau bercandanya mengejutkan sekali huh? aku sampai menjitakmu enam kali kau tau?"
"Iya tapi keras –keras! Dasar orang tua" Dengus Jongdae lalu kembali membuka laman komputer yang biasanya dia gunakan untuk melayani pelanggan.
"Hei Chan"
"Apa?"
"Kau suka gadis itu?"
Chanyeol menoleh denga cepat "gadis apa?"
"Itu. Yang tengah menikmati spagetinya" Chanyeol melirik gadis yang Jongdae maksud. Dengan cepat dia bersembunyi di balik monitor kompter ketika Baekhyun balik menatapnya. Chen heran dengan sikap Chanyeol yang layaknya anak kecil yang sedang bersembunyi dari gadis yang dia sukai "Hei, kalau suka bilang. Jangan sembunyi seperti monyet dipohon" Jongdae mengucapkannya tidak seperti ekspetasi yang ada di dalam kepala dan otaknya. Chanyeol setekita melotot ke arah Chen.
"Apa? Kan memang benar monyet bersembunyi di balik pohon"
"Agghh! Kim Jongdae!" Chanyeol berjalan frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri mengelilingi ruang kosong di belakang kasir yang biasanya Chanyeol, Kai, dan Jongdae buat untuk tidur bersama dikala lembur.
Tak jauh dari sana nampak Baekhyun tengah terkikik geli melihat tingkah Chanyeol dari awal dia diusir oleh Kai sampai berjalan memutar layaknya orang frustasi. Menurut Baekhyun itu sangat lucu dan menggemaskan untuk seorang lelaki yang menurutnya lumayan tampan. Baekhyun kembali melahap makanannya dengan anggun ditemani oleh tatapan penuh arti dari pria disampingnya "Kenapa tertawa sendiri?"
Baekhyun menoleh ke sumber suara "Ah tidak. Hanya saja aku sempat terkejut. Ternyata Park Chanyeol bekerja disini dan tingkahnya benar-benar lucu. Sungguh manis untuk ukaran lelaki sepertinya" Baekhyun tersenyum malu-malu dihadapan Irie, membuat Irie sedikit menjadi penuh selidik terhadap Baekhyun "Byun Baekhyun"
"Iya dokter?"
"Apa kau masih menyukaiku?"
Baekhyun dibuat terkejut oleh pertanyaan Irie. Jantung Baekhyun seperti dipompa lebih cepat agar darah yang berasal dari paru-parunya menyebar keseluruh tubuh dan otaknya dan dapat menjawab pertanyaan Irie. Seketika itu juga Baekhyun menunduk, berpikir sekaligus takut dengan apa yang akan Irie katakan kepadanya. Sama seperti gadis-gadis yang lain, dia gugup setengah mati. Baekhyun sampai lupa meletakkan garpunya dan terus menggenggamnya kuat sebagai pelampiasan rasa gugupnya.
"Aku tidak tau dokter"
Semua teman Baekhyun tengah sibuk mengobrol satu sama lain. Baekhyun memberanikan diri mendongak dan meletakkan garpunya. Baekhyun menatap Irie dengan sekuat tenaga. Menurut Baekhyun memang perlu banyak kekuatan untuk menatap seorang Irie yang menurutnya juga sangatlah rumit "Jika ditanya suka atau tidak antara ya dan tidak. Melihatmu yang bahagia saja aku sudah senang, dan aku bersyukur kau tidak mempunyai istri yang ceroboh sepertiku dan memilih Kotoko unni"
Irie terkejut mendengar perkataan Baekhyun. Secara tidak sadar dia merubah tatapannya menjadi sendu "Jadi.. kau masih menyukaiku?"
"Boleh aku jujur?"
Irie dia, dia tidak bisa mengatakan apa-apa saat melihat wajah Baekhyun yang sepertinya sedang menahan rasa sesak mengingat apa yang telah Irie lakukan kepadanya dulu "Dokter sangatlah rumit. Dan jika kau bertanya seperti itu maka perasaanku juga akan semakin rumit" Baekhyun memalingkan muka lalu diam-diam menghapus sesuatu dan wajahnya.
"Ah! Sudahlah. Dokter bercandanya keterlaluan. Aku saja sampai menangis ketakutan!" Irie kembali dibuat terkejut dengan perubahan Baekhyun yang mendadak dihapadan semua orang "Memangnya dokter irie mengatakan apa kepadamu?"
"Dia bilang di rumah sakit kita banyak hantunya~" Baekhyun mengatakannya dengan nada merengek membuat semua orang yang ada di meja itu tertawa terbahak-bahak "Wah! Ternyata dokter Irie bisa bercanda juga ya"
"Hihihi! Iya. Aku juga kaget saat tau ternyata dokter Irie bercanda" Baekhyun terkikik dan melanjutkan makannya dengan tenang. Meninggalkan Irie yang masih terdiam dengan tatapan yang terus tertuju kepadanya.
Ngomong-ngomong jika kita melihat kembali ke tempat kasir, Chanyeol terlihat sedang murung. Setelah acara berputar seperti pengaduk adonan roti tadi dia memutuskan kembali duduk di samping Jongdae dan mendapati Baekhyun yang tengah menunduk ditatap Irie. Chanyeol tersentak di dalam hati ketika mendengar samar-samar mendengar pembicaraan Baekhyun.
'Jika kau bertanya seperti itu maka perasaanku juga akan semakin rumit'
Chanyeol masih berpikir apa yang sebenarnya terjadi antara Baekhyun dan Irie. Jika dilihat dari tatapan Irie Chanyeol yakin hal itu sangat mempengaruhi Baekhyun dan Irie di masa sekarang.
'Apa yang sebenarnya terjadi?'
.
.
.
.
.
TBC (.,.)
Hehehe.. balik lagi xD
Gimana lanjutannya? Maaf kalo lanjutannya tidak memuaskan. Pas nulis ini juga otak sebenernya blank. Tapi karena tanggung jawab dan hobi akhirnya dilanjutkan hahaha!
Ditunggu ya lanjutannya /?/
REVIEW? I THINK YES!
REVIEW PLEASE~
Thank You
Haruchan.
