By : Haruchan

.

.

Tittle : Dream

Maincast : Chanyeol, Baekhyun, and other

Genre : Romance, Drama

Rating : Tergantung cerita

Summary : Love at first sight! Ketidaksengajaan Chanyeol bertemu
dengan Baekhyun yang seorang perawat. Membuat bunga bunga di
hati Chanyeol bermekaran. Chanyeol, Baekhyun, EXO, ChanBaek/BaekYeol, GS (Gendeswitch)

THIS IS GENDERSWITCH

SORRY FOR TYPO

SORRY FOR EVERYTHING

Oke. Happy Reading!

.

.

.

.

CHAPTER 3

Malam ini terasa berbeda. Chanyeol masih belum bisa mengalihkan pikirannya kepada gadis yang sudah mencuri perhatiannya dengan sangat mudah. Bagaikan permainan rakbi, dia sedang mengejar bola rakbi dengan sekuat tenaga. Tanpa sedikit kesalahan dia harus mendapatkan bola itu dan memasukkannya ke gawang.

Chanyeol mengubah posisinya menjadi miring menghadap jendela. Bintang-bintang bersinar sangat terang, bulan dengan bangganya menampakkan sinarnya yang luar biasa indah. Chanyeol menatap pemandangan di depannya datar, tapi tidak dengan pikirannya.

Dia masih memikirkan Baekhyun.

Entah pesona apa yang ada di dalam diri Baekhyun, dia tidak bisa. Menurutnya Baekhyun adalah gadis pertama yang telah banyak mencuri perhatiaannya selama ini. Semenjak dia masuk ke rumah sakit dan petama kali menjabat tangan Baekhyun. Rasa halus dan hangat tangan Baekhyun masih dia rasakan dan bayangkan. Bagaikan berada di taman kapas raksasa, dia berbaring dengan eloknya disana.

Drrt! Drrt!

Chanyeol mengalihkan perhatiannya ke ponselnya yang bergetar. Chanyeol membuka pesan yang tertera di ponselnya.

From : Oh Bodoh

Hei sepupu! Besok aku datang ke Korea. Ibuku menyuruhmu menjemputku di bandara. Besok! Jangan sampai lupa apalagi malas. Bye

Chanyeol mendecih. Lagi-lagi seseorang yang sudah dia lupakan datang lagi seperti angin. Chanyeol bahkan sempat lupa bahwa lelaki yang mengiriminya sms adalah sepupunya.

"Dasar. kenapa gaya bahasanya jadi seperti seorang gadis? Apa karena dia terlalu sering ke Harajuku? Ah sudahlah" Chanyeol meletakkan ponselnya di nakas dan mulai menelusupkan tubuhnya di bawah selimut. Menunggu alam pikirnya melayang menuju mimpi yang menyenangkan.

...

...

Pagi ini rumah sakit sempat ramai sesaat. Bukan hal yang aneh. Ada kecelakaan yang membuat korbannya luka parah dan harus dibawa oleh beberapa orang menuju ruang ICU. Setelah itu semuanya kembali normal.

Baekhyun tengah mengecek tekanan darah pasien. Hanya itu tugas yang bisa dia lakukan sekarang karena jika dia melakukan hal yang lebih dari itu sudah bisa dijamin semua orang akan mengomelinya.

Baekhyun keluar dari kamar nomor 26 menuju kamar disebelahnya. Kamar 27.

Cklek!

"Pasien Park Chanyeol" panggil Baekhyun perlahan. Seketika itu juga Baekhyun terkejut meruntuki dirinya sendiri yang memanggil nama Chanyeol. Dasar Byun Baekhyun.

"Maafkan aku. Aku benar-benar ceroboh"

"Tidak apa-apa nak" Ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum. Baekhyun menghampiri wanita itu dan mulai mengecek tekanan darahnya. Wanita itu masih menatap Baekhyun dengan senyuman tulus "Ngomong-ngomong siapa Park Chanyeol itu?"

Baekhyun dibuat kaku oleh pasiennya. Bagaimana dia mengatakannya? Teman? Tapi mereka tidak terlalu dekat? Sahabat? Bukan bukan! Pacar? Kau terlalu percaya diri Byun Baekhyun.

"Dia mantan pasien disini. Aku terus mengingatnya karena dia keracunan caviar"

"Pasti dia sangat tampan"

Baekhyun memerah. Dengan cepat dia membereskan peralatan yang dia bawa "Tidak nyonya. Dia tidak tampan kok"

"Tapi kau sampai malu begitu. Hayo~ kau suka dengannya~"

Baekhyun menyentuh pipinya sendiri "Apa? Tidak nyonya! Aku tidak menyukainya!"

"Hehe. Tapi aku yakin kau menyukainya"

Pernyataan pasien Baekhyun membuat dirinya sedikit terpanjat. Bagaimana tidak mungkin jika wajah Chanyeol yang tampan beberapa hari ini menghantuinya disela-sela kegiatannya. Dengan pemikiran positifnya dia berusaha untuk tidak membayangkan wajah Chanyeol secara tiba-tiba meskipun terasa sulit. Ada kata-kata bilang tidak lengkap jika kita tidak bekerja keras demi sesuatu yang kita inginkan, sepertinya hal itu telah menjadi prinsip Baekhyun.

"Pemeriksaan sudah selesai. Selamat istirahat dan semoga cepat sembuh" Baekhyun membungkuk sopan lalu pergi dengan langkah cepat dari kamar 27. Baru saja dia menutup pintu tubuh tinggi Irie sudah menghadangnya dengan sempurna.

"Ah! Dokter mengagetkanku"

Irie hanya diam dengan tatapan jengah "Sejak kapan dokter disini?"

"Sejak kau masuk ke dalam sana" Irie mendekatkan tubuhnya dengan Baekhyun. Jika dilihat Baekhyun layaknya kurcaci kecil yang dihadang oleh raksasa "Kau menyukai Chanyeol kan?"

"Kenapa semua orang bertanya seperti itu sih? Tidak! Aku tidak menyukainya!" Baekhyun mendorong Irie hingga menempel di tembok seberang. Dengan wajah sebal Baekhyun pergi dari hadapan Irie. Tapi sayang, tangan kokoh Irie lebih dulu menariknya dan menghempaskan tubuh Baekhyun ke tembok. Kembali dengan posisi sebelumnya, Baekhyun yang terkurung ditambah dengan kekangan tangan Irie.

"Jujurlah Byun Baekhyun. Aku tidak akan marah"

"Siapa juga yang mau kau marah? Justru aku semakin heran denganmu" Baekhyun melepaskan kurungan Irie "Kau terlihat seperti suami yang sedang selingkuh"

"Byun Baekhyun"

"Memang benar. Sebenarnya apa maumu? Kau kan sudah punya-"

"Dokter Irie apa yang sedang kau lakukan?"

Mendengar suara cukup itu membuat Irie menoleh "Tidak dokter Joonmyeon. Tidak ada apa-apa"

Joonmyeon hanya merespon dengan lirikan "Ikut aku. Ada tugas penting untukmu"

"Baik" Irie melemas. Dia langsung berjalan mengikuti Joonmyeon, meninggalkan Baekhyun dengan sejuta pertanyaan yang bahkan lebih sulit dari menghindari wajah Chanyeol yang terus membayanginya.

"Irie"

...

...

Chanyeol berdiri sambil mengentuk-ngetuk lantai dengan kakinya. Sepatu converse hitam, kaos abu-abu, serta kemeja merah motif kotak yang tidak dikancingkan membuat Chanyeol terlihat seperti anak kuliahan padahal dia sudah lulus beberapa bulan yang lalu.

Chanyeol sedikit mengerenyit melihat siluet yang dia kenal.

"Park Chanyeol!"

Chanyeol hanya mengangkat tangan, menunggu lelaki itu berlari menghampirinya "Hei Chanyeol"

"Hm?"

"Kau tidak memberiku selamat atau apa?"

Chanyeol menghela nafas "Baiklah. Selamat datang di Korea tuan muda Oh Sehun"

Sehun tertawa lebar "Kau masih saja pintar melawak!"

"Dan kau masih saja bicara non formal kepadaku" Ucap Chanyeol dengan lirikan sinis "Haha. Sudahlah. Lebih baik kita kembali dulu ke rumahmu"

Chanyeol mendecih "Bagaimana bisa aku punya sepupu seperti dia? Memangnya bibi dulu ngidam apa sih?" ocehnya sembari dirangkul Sehun menuju luar bandara. Sehun tiba-tiba berhenti, Chanyeol juga ikut berhenti melihat Sehun yang menggeledah tas ranselnya.

"Ini. Ibu menyuruhku memberikan ini untukmu" Sehun menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna soft pink dengan motif vintage "Apa ini?"

"Ibu bilang itu dari bibi Park, Ibumu. Kata Ibu aku harus memberikannya kepadamu, itu mandat sebelum Ibumu meninggal" Mendengar itu Chanyeol dengan tergesa-gesa membuka kotak itu. Nampak cincin perak tergeletak manis di dalamnya.

"Cincin?"

"Iyakah? Aku juga tidak tahu. Oh iya aku lupa. Ada pesan di bawah busa nya" Chanyeol yang awalnya memandang cincin itu tegang langsung mengambil secarik kertas di bawahnya. Chanyeol membuka kertas itu.

Anakku yang tampan.. apa kabar..

Aku tidak menyangka kau tumbuh secepat ini. Aku merasa bahwa aku belum puas melihatmu tumbuh. Waktuku tidak banyak..

Simpan cincin ini. Berikan kepada seseorang yang kau cintai. Aku ingin kasih sayangku bisa tersalurkan kepada orang yang kau cintai, agar dia tahu seberapa besar cintaku maupun cintamu untuknya. Anakku pasti setuju dan akan menurutiku..

Aku menyayangimu.. sangat mencintaimu. Anakku.

Dari Ibumu tersayang

"Ibu.." Chanyeol hampir saja meneteskan air mata tapi dia segera mencengahnya dengan cepat. Untung saja Sehun tidak melihatnya kalau tidak dia pasti akan ditertawakan. Tapi tidak juga sih..

"Sehun"

Sehun menoleh "Terima kasih"

Sehun tersenyum "Itu sudah kewajibanku. Ayo ayo! Kita naik apa?"

Pertanyaan Sehun membuat Chanyeol menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan. Chanyeol mendekati Sehun dan mulai berbisik.

"Kau tahu kan aku tidak punya uang banyak. Dan di tempatku bekerja hanya ada mobil pick up. Jadi.."

"Jadi apa?"

"Aku bawa vespa"

"Apa? Yang benar saja?" Ucap Sehun sambil spontan menjauh. Chanyeol mengecap sebagai pelampiasannya "Hei. Yang penting kita sampai kota dulu. Kau istirahat dulu di restoran baru aku antar ke rumah"

Sehun hanya menghembuskan nafas, tidak ada sepatah kata keluar dari mulutnya. Hingga beberapa detik kemudian Sehun berbicara.

"Oke oke! Ayo kita berangkat"

Chanyeol tersenyum lalu menepuk pundak Sehun keras "Ayo!" seru Chanyeol sambil menuntun Sehun dengan tangan kiri yang menyeret koper.

...

...

"Aku pulang!" Seru Chanyeol seperti berada di rumah sendiri. Jongdae yang kala itu sedang berada di markas terbesarnya menoleh "Oh kau sudah datang!"

"Hm. Ayo" Chanyeol kembali menuntun Sehun masuk ke dalam restoran "Wah.. kau jadi koki disini?"

Chanyeol membalas dengan senyuman. Sehun mengangguk sebagai respon dari kekagumannya terhadap restoran dan juga Chanyeol.

"Kau duduk dulu disana. Aku akan menyiapkan makanan. Kau juga bisa berbincang dengan dia, kebetulan dia seorang gamer" Ucap Chanyeol sambil menunjuk Jongdae yang kembali sibuk dengan gamenya.

"Baiklah" Mendengar itu Chanyeol langsung pergi ke dapur untuk memasak. Terdengar suara bara api dan gesekan wajan dengan spatula yang membuat jiwa Chanyeol serasa kembali ke tubuhnya.

"Hei Chanyeol! Dari mana saja kau?"

"Aku? Sepupuku baru saja datang dari Jepang. Jadi bibi menyuruhku menjemputnya. Dan sekarang aku mau memasakkan makanan untuknya"

"Sepupu? Jangan-jangan.. Oh Sehun?" Tanya Kai dengan mata melebar.

Chanyeol mengangguk "Hei! Kenapa kau tidak bilang-bilang?" Kai menghembuskan nafas lega lalu pergi ke luar dapur. Chanyeol sudah bisa menduga bahwa ini akan menjadi melodrama dadakan.

"Oh Sehun!"

"Kim Jongin!"

Terdengar seruan dengan nada yag aneh begitu juga dengan suara tawa dan cekikik dari dalam maupun luar dapur. Chanyeol menepuk jidatnya sendiri. Ini akan panjang, pikirnya. Chanyeol menghembuskan nafas kasar lalu mulai mengambil bahan-bahan untuk masakannya.

Tak butuh waktu lama untuk membuat sebuah makanan. Chanyeol sudah keluar dengan sepiring spagetti dan jus jeruk. Dengan anggung dia meletakkan masakannya di hadapan Sehun. Pacaran gembira dari mata Sehun tidak bisa dielak oleh siapapun.

"Ini kau yang masak?"

"Iya. Kenapa? Hanya spagetti juga"

"Tapi ini cantik! Aku makan?"

Chanyeol menyilahkan dengan tangan. Detik itu juga Sehun mengambil garpu dan mulai melahap masakan Chanyeol "Enak~"

"Syukurlah kalau enak. Hei Jongin, kembali bekerja"

Jongin menggeleng "Tidak tidak. Aku mau istirahat awal"

Chanyeol mendecak sebal "Kim Jongin. Ayolah. Jangan membuat aku susah"

Jongin menggeleng dengan imutnya "aku sudah lama tidak bertemu Sehun. setidaknya biarkanlah aku tanya-tanya soal Jepang kepadanya" Jongin membuang muka lalu kembali menatap Sehun intens "Hei. Apa One Ok Rock punya album baru?"

"Belum. Katanya mereka rilis album pertengahan tahun"

Mata Jongin seketika berkaca-kaca. Mendengar idolanya akan segera comeback membuat hatinya berbunga-bunga "Akhirnya mereka comeback!" Jongin meregangkan otot-ototnya dan bersandar dengan elok di kursi. Chanyeol hanya bisa menatapnya sambil mengaga "Kim Jongin.." Panggil Chanyeol sambil mendesah.

Jongin senang akhirnya idolanya comeback. Bukan alasan enteng dia mengidolakan One Ok Rock. Band itulah yang membuat Jongin menyukai lagu rock dan juga membuat Jongin mempunyai tekat kuat untuk bermain gitar dan bisa terkenal di kampusnya dulu.

Senyuman di wajah Jongin berubah menjadi kerutan kesakitan. Jongin tiba-tiba saja meremas perutnya. Sepertinya penyakit tri wulan Jongin sudah datang.

"Chanyeol" Panggil Jongin dengan nada tersendat "Apa?"

"Aku mau ke toilet dulu" Jongin menyingkirkan Chanyeol layaknya kardus bertumpuk dan berjalan cepat menuju toilet. Chanyeol akhirnya bisa menertawakan Jongin dengan alasan yang pasti sedangkan Sehun masih sibuk dengan spagettinya.

"Kim Jongin pesanannya!"

Chanyeol menoleh "Jongin sedang ke toilet"

"Ish! Dasar anak itu. Sakit perut atau bohong dia? Hei Chanyeol. Kau saja yang antarkan ini"

"Apa? Aku?"

"Iya. Ini pesanan makan siang dan harus datang sebelum jam setengah satu. Cepatlah sebelum mereka menolak makanannya!"

"Kenapa kau jadi marah-marah?"

"Hah! Ya sudah maaf. Sekarang tolong aku oke" Minho langsung meninggalkan dua rantang besar diatas meja kasir. Chanyeol dengan niat yang ragu berjalan malas menuju kasir dan mengambil dua rantang itu "Oh Sehun bisa tolong aku?"

Sehun mendongak "Bantu aku" Pinta Chanyeol dengan senyuman canggung. Sehun mendesah berat lalu meneguk jus jeruknya cepat. Sekejap kemudian satu rantang telah berada di tangan Sehun.

...

...

"Ke sini lagi?"

"Memangnya kenapa?"

Chanyeol menoleh lalu membuang muka "Ah tidak. Beberapa waktu yang lalu aku sempat keracunan dan di bawa ke sini" Ucap Chanyeol sambil terus berjalan bersama Sehun. Sehun mengangguk mengerti "Pantas saja Jongin bilang kau pernah masuk rumah sakit"

Chanyeol sekali lagi dibuat buang muka oleh Jongin "Dasar anak itu, mulut ember" Desisnya penuh dendam. Sehun terus berjalan dengan beban yang ternyata cukup berat. Sehun sempat berpikir untuk kabur saja tapi melihat Chanyeol membuatnya menjadi simpatik. Demi sepupu tingginya dia rela.

"Oh permisi" Sehun berjalan melewati Chanyeol tak kala melihat seorang perawat yang lewat "Apa anda tahu ruangan dokter Murakami?"

Perawat itu mengangguk "Kau lurus saja dari sini lalu ada pertigaan pertama belok kiri. Ruangan ketiga di sisi kanan"

"Ah oke oke. Sankyu" Sehun tersenyum bersama dengan dialek Jepangnya. Sehun tidak menyadari bahwa perawat itu tengah tersenyum malu kearahnya. Sepertinya pesona Sehun masih manjur di Korea.

"Dia bilang disana. Ayo" Sehun melanjutkan jalannya. Terlihat sekali kalau dia sedang menahan beratnya rantang. Chanyeol hanya bisa pasrah saat dia semakin mendekati Sehun malah Sehun yang semakin maju. Chanyeol sempat berpikir kalau Sehun sudah terpengaruh pemeran pendamping pria di film-film Jepang. Selalu ceria dan banyak tingkah.

Tidak terasa mereka sudah sampai di depan ruang dokter Murakami. Chanyeol tidak seperti biasanya. Degup jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya. Keringat mulai muncul dari sela sela jari Chanyeol.

Cklek!

"Permisi" Kali ini Chanyeol membiarkan Sehun membantunya. Mungkin memang takdir Tuhan kalau Sehun memang harus membantunya saat ini.

"Ini pesanan anda"

"Oh iya. Terima kasih. Ini uangnya" Sehun menerima uang yang diberikan oleh salah satu dokter disana. Sedangkan Chanyeol masih terdiam dengan tatapan yang tertuju pada gadis yang duduk tak jauh darinya. Dengan mata yang tertuju kepadanya membuat degup jantungnya semakin tak terkendali.

"Chanyeol apa yang kau lakukan?"

Chanyeol tersadar dari lamunannya "Oh iya. Ini pesanannya yang lain. Terima kasih sudah mempercayakannya kepada kami" Ucap Chanyeol dengan senyuman yang dia buat se normal mungkin.

Baru saja kedua lelaki jakung itu melangkah pergi tiba-tiba suara lembut yang Chanyeol kenal memanggilnya.

"Chanyeol"

Chanyeol menoleh. Mendapati Baekhyun yang tengah berdiri menatapnya dalam, Chanyeol mengedipkan mata tidak percaya. Ada urusan apa sampai Baekhyun memanggilnya?

...

...

Kedua insan itu saat ini tengah duduk di salah satu kursi panjang tak jauh dari ruangan yang Chanyeol masuki tadi. Baekhyun hanya menunduk dalam sambil memainkan jemarinya yang lentik.

Oh tidak. Jemarinya saja sudah cantik apalagi orangnya. Chanyeol menelan ludah ketika mendapati Baekhyun mendongak "Itu.."

"Iya?"

"Kenapa kau sangat aneh?"

Pertanyaan Baekhyun membuat Chanyeol sedikit bingung "Aneh? Maksudmu?"

"Iya.. kau seperti kaku dihadapanku. Dan juga kau selalu menatapku seperti patung. Aku bingung. Apa ada yang salah dengan diriku?" Baekhyun menanyakannya dengan nada yang bagi Chanyeol layaknya alunan lagu ballad kesukaannya. Chanyeol menghembuskan nafas pelan sambil memejamkan mata. Memikirkan apa yang akan dia katakan kepada Baekhyun.

Baekhyun dibuat terkejut ketika Chanyeol tiba-tiba berjongkok di hadapannya layaknya lelaki yang ingin melamar kekasihnya. Baekhyun di buat malu karena mereka tengah ditatap oleh banyak orang yang tengah berjalan melewati mereka.

"Perawat Byun ah tidak. Byun Baekhyun.." Suara baritone Chanyeol membuat nafas Baekhyun tercekat. Degup jantungnya menjadi lebih cepat, mata indah Baekhyun ingin sekali lari dari tatapan Chanyeol yang tajam namun sayang, dia seperti terenjara dalam tatapan itu.

"Aku menyukaimu"

Bisakah Baekhyun pingsan saat ini juga? Bukan karena senang disukai oleh lelaki seperti Chanyeol. Ini lebih kepada rasa bimbang dan terkejutnya Baekhyun dengan sikap dan pernyataan Chanyeol.

"Cha-Chanyeol kau-"

"Sejak pertama kali bertemu. Sejak tanganku bersentuhan dengan tanganmu. Sejak dirimu menatapku tulus kepadaku. Aku menyukaimu Byun Baekhyun" Ucapnya tegas. Sekali lagi Baekhyun di buat malu oleh Chanyeol. Ditambah saat ini seseorang tengah menatap mereka curiga dan itu memuat Baekhyun menjadi lebih bimbang.

"Byun Baekhyun"

"Maafkan aku Chanyeol. Aku.." Baekhyun menghentikan kata-katanya. Dia pikir Chanyeol harus mengetahui bagaimana keadaannya yang sekarang daripada belum menjawab langsung lari ke toilet.

"Aku belum bisa"

Deg!

Chanyeol sedikit menunduk. Dia sudah tahu bakal jadi seperti ini akhirnya. Selain karena ingin Baekhyun tahu bagaimana perasaannya, Chanyeol mengatakannya karena ingin tahu apa hubungan Baekhyun dengan Irie. Melihat tatapan Irie saat ini Chanyeol sudah membuktikan satu hal.

Baekhyun ada hubungan dengan Irie.

Chanyeol menghembuskan nafas berat diselingi dengan perkataan Baekhyun selanjutnya "Aku sangat menghargai perasaanmu Chanyeol. Tapi ini terlalu cepat. Aku tidak ingin kau sedih karena aku tidak bisa menerimamu di hatiku.." Baekhyun sontak menghentikan ucapannya. Baekhyun meruntuki dirinya sendiri karena salah bicara kepada Chanyeol.

"Chanyeol aku-"

"Jadi benar.." Desis Chanyeol dengan tatapan sayu. Bayangannya tentang dirinya bersama Baekhyun semalam, semuanya tidak akan terjadi. Chanyeol tersenyum getir merasakan rasa sesak yang terus membelenggu pernafasannya.

Chanyeol beranjak lalu perlahan menoleh. Mendapati Irie yang menatapnya sinis membuatnya berdecih.

"Seleramu lumayan juga ya" Ucap Chanyeol masih dengan tatapannya kepada Irie "Memangnya kenapa?"

"Bukannya kau sudah punya istri?"

"Memang. Dan aku mencintai istriku"

Baekhyun beranjak perlahan diselingi tatapan sayu dengan genangan air di bagian bawah matanya "Dokter Irie"

...

...

Jika dilihat, dari tadi tidak ada keberadaan Sehun sama sekali. Tentu saja karena dia sedang ke kantin rumah sakit. Kesan pertamanya di Korea sudah diwarnai dengan bisik bisik para perawat maupun dokter wanita yang dia lewati. Bahkan ada yang sempat meminta akun sosmednya. Hahaha, Sehun Sehun..

"Chanyeol kenapa belum datang sih?" Protes Sehun sambil meneguk es kopinya. Chanyeol bilang kepadanya dia akan ke kantin setelah urusannya selesai dan selama itu juga dia tidak boleh menelponnya ataupun yang lain.

"Ish dasar! aku jadi tidak bisa tidur. Bagaimana jika dia dimarahi bosnya? Yang jelas aku tidak mau ikut-ikut" Sehun terus mengomel tanpa henti. Sesekali dia mengecek akun instagramnya. Siapa tahu ada followers baru.

Seketika Sehun seperti terkena aliran listrik. Dia meletakkan es kopinya di meja beserta tangannya yang menggenggam gelas. Dia memotretnya dengan lincah dan Sehun langsung menguploadnya di instagram.

'oohsehun "menunggu seseorang. Huh! lama sekali. Aku sampai lelah sendiri #coffe

#boring #time #withcousin #hahaha"'

Sehun terkikik saat melihat postingannya sendiri. Seketika itu juga mulai banyak yang menyukai foto Sehun. Maklum dia cukup terkenal di kampusnya, dan berkat ketampanannya dia tidak perlu menfollow back teman yang sudah menfollownya. Dasar Oh Sehun licik.

Drap drap drap drap!

"Pasien 12! Pasien 12 berhenti!"

"Tidak! Aku tidak mau disuntik!"

"Pasien! Berhenti! Kami harus menyuntikmu!"

Derap langkah kaki layaknya tentara itu membuat Sehun sedikit terkejut dan penasaran. Lama kelamaan langkah itu semakin keras dan Sehun merasa mereka sedang menuju ke arah kantin.

Lama-kelamaan terlihat siluet seorang gadis dengan boneka serigala di tangannya berserta beberapa perawat perempuan yang mengejarnya. Sehun beranjak lalu berjalan perlahan ke arah kanan. Berusaha memperjelas penglihatannya.

Gadis itu semakin mendekat. Dan yang lebih parahnya gadis itu berlari menuju raha dimana Sehun berdiri.

Sehun membulatkan mata saat melihat gadis itu berlari kearahnya dengan berlinang air mata. Boneka yang dia genggam erat membuatnya semakin takut dengan ekspetasi yang akan terjadi.

Grep!

Bruk!

'Dimana aku? Apa aku mati? Apa aku ada di surga? Tapi kenapa hitam? Apa aku ada di neraka? Oh Tuhan..'

Sehun berusaha membuka matanya. Nampak semua yang dia lihat sama seperti sebelumnya, bedanya hanya saat ini dia tidak bisa berdiri. Sehun melirik ke arah bawah dan mendapati gadis itu tengah berada di atasnya, menindih dan memeluknya.

Sehun merasa sesak. Dengan paksa Sehun melepaskan pekulan gadis itu. Tapi tekatnya yang kuat agar tidak disuntik tidak seepadan dengan kekuatan fisik seorang Oh Sehun.

"eum permisi. Aku tertindih"

"Tidak! Tolong sembunyikan aku. Aku mohon"

"Tapi-"

"Aku mohon. Aku tidak mau disuntik. Sakit"

Suara lirih gadis itu membuat hati Sehun tergerak untuk menolongnya. Tapi dia tidak yakin jika gadis ini tidak akan disuntik nantinya. Setidaknya dia bisa meringankan beban seseorang.

"Hei"

Gadis itu akhirnya menatapnya. Sehun tersenyum miring "Aku akan menyembunyikanmu"

Mata gadis itu membulat "Sungguh"

"Hm. Minggirlah" Gadis itu menuruti Sehun. Sehun beranjak dari tidurnya dan langsung menggendong gadis itu ala pengantin "Eh? Kenapa digendong?"

"Diam dan pegangan yang erat" Sehun menghembuskan nafas kasar. Para perawat serta pengunjung kantin melihat mereka layaknya pemeran utama di film action. Nampak sangat serasi.

Sehun dengan sekuat tenaga mulai berlari melewati para perawat yang termenung menatapnya. Sehun sesaat tersenyum sinis mendapati para perawat itu mulai mengejar mereka. Sungguh adengan action yang sangat pas.

Gadis cantik itu tetap merengkuh leher Sehun hingga mereka sampai mereka masuk ke sebuah ruangan. Sehun seketika mendudukkan gadis itu di lantai dan segera mengecek keadaan lewat jendela di pintu. Memastikan tidak ada orang yang ke tempat mereka Sehun langsung bernafas lega dan bersandar di pintu, merosot dan duduk berjongkok berhadapan dengan gadis di depannya.

"Kau.. terima kasih" Gadis itu mengucapkannya dengan nafas yang tersengal-sengal. Sehun menyeringai nakal di sela lelahnya "Kenapa kau tidak mau disuntik?"

Seketika raut wajah gadis itu berubah. Sehun mulai berpikir jika gadis didepannya ini tidak suka kata 'suntik' 'menyntik' ataupun 'disuntik'. Sehun tersenyum lalu mulai menggenggam tangan gadis itu.

"Hei. Tenanglah. Aku cuma bertanya"

"Tapi itu mengerikan" lirihnya dengan sangat ketakutan. Sehun sedikit kesulitan berkomunikasi dengannya karena dia sama sekali tidak tahu identitas gadis di depannya ini dengan jelas "Boleh aku tahu namamu?"

"Luhan. Namaku Luhan"

Sehun diam sebagai tanda mengerti "Luhan. Disuntik itu tidak sakit. Itu hanya seperti digigit semut"

"Tidak. Itu sakit. Aku sudah pernah merasakannya"

"Kapan?"

"Dulu. Saat aku sakit demam berdarah"

Sehun sekali lagi tersenyum. Antara prihatin dan ingin Luhan bisa tenang Sehun tanpa sadar tersenyum. Padahal dia jarang sekali tersenyu demi seorang wanita "Jika saat demam berdarah memang sakit. Waktu itu pasti sangat sakit hingga suntikan saja terasa sakit. Tapi sekarang tidak, ini tidak akan sakit. Percayalah"

Luhan beralih menatap Sehun. Tatapan Sehun yang hangat membuat sesuatu terasa berdesir di dalam tubuhnya "Sakit.."

"Tidak. Percaya padaku. Aku akan menemanimu. Ini juga supaya kau sembuh Luhan. Kau mau sembuh kan?"

Luhan mengangguk pelan "Kalau begitu beranilah. Ini tidak akan memakan waktu lama. Bayangkan saja kau menatap wajahku yang tampan ini huh? bisa kan?"

Luhan sendiri masih menimang-nimang. Dan ditambah tatapan Sehun yang baginya cukup meyakinkan akhirnya Luhan dengan setengah rela mengangguk "Baiklah"

Sehun akhirnya bisa menyeringai setelah sekian waktu tidak bisa menyeringai karena harus membawa Luhan entah kemana sampai akhirnya mereka baru menyadari jika mereka ada di gudang penyimpanan obat.

"Luhan. Kita harus keluar dari sini. Ini tempat penyimpanan obat" Sehun beranjak lalu kembali mengintip. Luhan juga ikut beranjak dan mengambil bonekanya yang tergeletak di sampingnya.

Sehun membuka pintu. Luhan yang saat itu tengah memeluk bonekanya merasa takjub dengan sosok yang ada di depannya. Punggung Sehun sudah membuat dirinya terlena.

Sehun berhenti. Dia menghentikan langkahnya ketika merasa Luhan tidak mengikutinya "Ada apa?"

Luhan membuyarkan lamunannya. Dengan raut wajah yang datar dia keluar dan berhenti tepat di belakang Sehun "Kau benar-benar siap bukan?"

Luhan mengangguk. Entah demi apa dia mau disuntik. Yang jelas saat ini dia mau karena bujukan Sehun yang notabenya baru dia kenal lima belas menit yang lalu. Luhan berniat berjalan terlebih dahulu tapi Sehun lebih dulu menggenggam tangannya.

"Jika kau masih ragu pegang saja tanganku. Sepertinya kau sangat takut di suntik"

Bukan takut yang Luhan rasakan saat ini. Degup jantung yang tak berirama yang saat ini Luhan rasakan. Tatapan Sehun yang cukup serius mampu membuatnya terpesona dalam sekejap. Benar-benar lelaki yang hebat.

Luhan kembali mengangguk dengan canggung. Sehun menariknya dari lorong yang terang itu, keluar dari sana dan menemukan beberapa perawat yang ternyata masih setia berdiri sambil mencari keberadaan Luhan.

"Dia mau disuntik!"

...

...

"Sekarang apa?"

"Maksudmu?"

"Lalu apa? Apa yang kita lakukan sekarang?" Pertanyaan itu membuat Baekhyun dan Irie bingung. Pasalnya Chanyeol sejak dari tadi hanya diam memandangi Irie dengan tatapan tajam dan tangan mengepal. Baekhyun mulai khawatir dengan keadaaan yang terjadi padanya, Chanyeol yang emosi dan Irie yang seenaknya sendiri tidak menggubris pertanyaan maupun pernyataan Chanyeol.

"Bubar"

"Apa?"

"Bubar. Kau membuat pekerjaanku terhambat"

Chanyeol semakin mengepalkan tangannya. Wajahnya yang mengeras menunjukkan bahwa dia benar-benar marah saat ini. Dengan cepat dia mencengkram kerah kemeja Irie dan mendorongnya ke tembok. Suara benturan yang kuat membuat semua orang yang ada disana terkejut.

Baekhyun menutup mulutnya spontan. Dia benar-benar di dalam situasi yang buruk. Irie yang notabenya seseorang yang selalu dia khawatirkan sedang dalam desakan seorang pria yang mempunyai rasa terhadapnya.

"Kau mencintai istrimu?"

"Tentu saja"

"Benarkah? Lalu Baekhyun? apa Baekhyun bagimu?"

Irie tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Chanyeol. Tangannya yang panjang menggengga lengan Chanyeol yang tengah mencengkram kerah kemejanya lalu menurunkannya dengan paksa.

"Bagiku?" Tatapan Irie yang sinis berubah tertuju kepada Baekhyun. Seketika itu juga Baekhyun serasa tidak bisa bergerak. Dia terkunci oleh tatapan itu, lagi. Setelah sekian lama dia tidak melihat tatapan Irie yang seperti itu, akhirnya dia melihatnya. Dia merasakan irie yang selalu dia lihat, dulu.

"Dia hanya Baekhyun. tidak lebih"

Perkataan Irie langsung menjurus ke hati Baekhyun. Seperti pedang samurai yang panjang dan menusuk hatinya. Tatapan yang awalnya tegang berubah sedih, Baekhyun mulai mengambil nafas panjang, meratapi perasaanya yang ternyata sia-sia.

Chanyeol mulai melepaskan cengkramannya. Hembusan nafasnya masih bisa terdengar maupun samar-samar. Baekhyun masih kalut dengan perasaannya tetap menatap Irie dengan tatapan yang sama. Kedua pria itu merasa ada yang tidak beres perlahan menoleh mendapati Baekhyun yang sudah dihiasi rembesan air mata.

"Jadi.. selama ini.. aku bukan apa-apa?"

Irie mendadak bisu. Dia bisa saja mengatakan aku salah bicara atau apa, tapi di sana ada Chanyeol dan pria itu membuatnya sedikit takut untuk berbicara. Dengan nada yang rendah Irie menjawab.

"Iya"

Baekhyun terdiam sejenak dan menyeka bekas rembesan air mata di pipinya. Dengan segala kekuatan yang ada dia berusaha membalas ucapan Irie.

"Jadi.. apa yang aku rasakan kepadamu sejak dulu.. hingga sekarang.. semuanya sia-sia?"

"Iya" Meskipun terdengar kejam, Irie tetap berpegang teguh kepada pendiriannya "Sudah aku bilang jangan menyukaiku, kau akan sakit nantinya. Dan sekarang lihat.. Ini salahmu bukan salahku"

Baekhyun yang niatnya tidak ingin terisak akhirnya mengeluarkannya. Para pengunjung merasa sedih melihat pemandangan yang tidak biasa terjadi di rumah sakit, terutama untuk Baekhyun. Saat ini dia menunduk menyembunyikan tangisnya dengan tangan yang mengepal.

Chanyeol tidak tahu harus melakukan apa. Antara menenangkan Baekhyun dan menghajar Irie. Tapi jika dia melakukan kedua hal itu sama saja dia memasukkan dirinya ke dalam masalah besar. Chanyeol melirik Irie, rasa penyesalan sama sekali tidak tampak di wajah Irie.

Irie langsung pergi begitu saja. Langkah kakinya yang panjang teru membawanya hingga menghilang di pertigaan lorong. Chanyeol yang melihat Irie sudah pergi berjalan menghampiri Baekhyun dengan perlahan. Chanyeol mencoba menenangkan Baekhyun dengan menyentuh pundaknya. Namun sayang, Baekhyun menurunkan tangannya.

"Biarkan aku sendiri"

Chanyeol yang mengerti keadaan Baekhyun hanya bisa diam dan menuruti permintaan Baekhyun. Detik itu juga Baekhyun pergi dari tempat mereka berdiri dengan air mata yang masih saja keluar dan keluar.

Chanyeol mengerti. Dia mengerti apa yang tengah dirasakan Baekhyun. Dengan lemas dia mengambil rantang yang dia bawa tadi dan pergi menemui Sehun. Dia mulai khawatir dengan keadaan sepupunya yang terlihat seperti beruang kutub itu. Dia tidak lupa membawa perasaannya yang kacau, dia tidak ingin menggangu Baekhyun untuk beberapa saat. Karena dia tahu..

Ini akan membutuhkan waktu yang lama.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

He.. he.. he.. apa ada yang masih menunggu ff ini? Karena passionku terhadap ff ini kadang muncul kadang tidak maka ff ini updatenya tidak terduga.

Maaf buat yang sudah nunggu (kalo ada), jika ffnya tidak memuaskan, ngga dibaca juga ngga papa kok. Aku ikhlas, aku pasrah wkwk.

Pai pai~ aku sayang kalian~