Truth or Dare? [ Seungcheol Side]
Chapter 2 :
Date?
Main Pairing: Seungcheol x Jisoo (Cheolsoo)
Cast: Choi Seungcheol, Hong Jisoo, etc.
Rate: T (Tidak menentu)
Warn: OOC, banyak umpatan, BoyxBoy, Gaje, Typos(?), DLDR.
©Fikaaa
.
.
.
Bagi yang belum baca chap 1, disarankan baca dulu di akun yyenass.
Trsm ;)
Keringat mulai menetes pada sekujur tubuh pria yang masih asik bermain bola basket bersama teman satu clubnya yang lain, kini gilirannya yang sedang men-dribble bola yang baru saja Wonho operkan kepdanya.
Suara jeritan histeris para gadis stalker atau bahkan sasaeng fans memenuhi ruangan indoor tersebut, membuat siapapun yang sedang bermain dilapangan sana kehilangan fokus mereka, namun mau bagaimana lagi, setiap kali mereka melakukan latihan biasa atau pun intesif, para penonton akan berdatangan dengan sendirinya.
Mereka sudah pernah mencoba untuk membuat latihan secara rahasia diluar sekolah, namun yang namanya sasaeng fans, mereka akan tahu kemana mereka akan pergi.
Kini mereka sudah memasuki menit terakhir, giliran Seungcheol untuk men-shoot pada babak penetuan, dan hasilnya? gagal.
Team yang menang –tak lain masih pada club yang sama- bersorak kegirangan sambil berlari mengelilingi lapangan seperti anak kecil, dua diantaranya adalah Mingyu dan Bobby, mereka memang kekanakan kau sudah disatukan.
Sementara Seungcheol, dia sibuk mengacak rambutnya yang basah, tanpa sadar seseorang sudah berdiri dihadapannya. Dengan kedua tangannya yang melipat di dada, Wonho menatap Seungcheol penuh tanya.
Karna apa? Seungcheol adalah pemain yang memiliki fokus paling baik diantara yang lain, belum lagi kemampuan jump stop dan slam dunk yang luar biasa, Seungcheol termasuk lawan yang sulit untuk ditaklukan.
"Kalah dari si ceking Minhyuk, kamu gak malu?" omel Wonho sebal.
Seungcheol nyengir malu, ia hanya dapat bersikap seperti ini kepada Hyung-nya yang telat sekolah satu tahun "Maaf, teriakan para gadis berisik banget, aku jadi hilang fokus"
"Hilang fokus, apa hilang fokus? Ini sudah keempat kalinya"
"Ntah hyung, fokusku beralih"
Wonho yang lelah berdiri yang langsung mendudukan diri disamping Seungcheol "pada?" tanya Wonho merebut botol air mineral yang sedari tadi Seungcheol mainkan.
"Ji –oh lihat Mingyu dan Wonwoo, makin lengket saja" Seungcheol menujuk Mingyu dan Wonwoo yang sedang tersenyum malu kepada satu sama lain.
Pada awalnya Wonwoo hanya memberi sebotol air mineral saja, namun tanpa disangkan Mingyu malah memilih duduk disamping Wonwoo dan mulai menggodanya.
Wonho menoleh kemudian tertawa "Mingyu akan menembaknya sebentar lagi, aku yakin" ia pun bangkit kemudian melempar kembali botol mineral yang ia pegang kepada Seungcheol.
"Aku duluan, jangan pulang terlalu larut Cheol"
Seungcheol mengangguk pelan, ia melambai pada punggung Wonho sambil menjaga senyumannya agar tidak pudar sebelum pria itu berbelok memasuki kamar mandi, dan setelah yakin Wonho sudah masuk kedalam kamar mandi, Seungcheol langsung membuang nafas berat.
Hampir saja kelepasan! Kalau saja itu sampai terjadi, mau ditaruh dimana muka si Bad Boy yang terkenal Play boy dan kejam ini. Mana ada Bad boy sekolah yang merasa bersalah telah menyakiti perasaan orang. Benar begitu bukan?
Ia melirik Mingyu dan Wonwoo yang sedang berjalan santai berdampingan , tangan Mingyu terangkat untuk merangkul Wonwoo, namun tangan itu malah mengempal dan kembali pada posisi awalnya.
'Tumben Mingyu tidak percaya diri, ahh mungkin karna ia memakai Jersey tanpa dalaman, ia takut Wonwoo mencium bau badannya, hahaha'
Dan setelah kedua insan itu meninggalkan ruangan basket, kini hanya tersisa dirinya sendiri diruangan tersebut. Ia melamun, memikirkan kejadian luar biasa yang tak pernah bisa ia lupakan begitu saja.
Apa karna tantangan dare dari Mingyu harus mencium ?
Oh tentu bukan sama sekali, Seungcheol sudah biasa akan hal itu, bahkan ia menyebut dirinya sendiri terampil dalam berciuman, jadi apa penyebab utama yang membuat pria itu memejamkan matanya dan berusaha mengingat kejadian dua minggu silam?
Karna Jisoo punya Chemistry yang berbeda diantara yang lain, dan jujur saja, Seungcheol benar-benar menik mati ciuman tersebut.
Jadi bolehkah Seungcheol melaporkan Jisoo kepada pihak kepolisian? Bibirnya itu, Mengandung nikotin yang membuatnya kecaanduan!
"sampai kapan kau mau berkhayal mencium seseorang seperti itu, dude?" Seungcheol membuka sebelah matanya, dan ia tatap seorang lelaki bertubuh mungil sedang melipat kedua tanganya dan menatapny dengan tatapan jijik.
"You're so disgusting"
Sontak saja Seungcheol langsung mengcover bibirnya dengan telapak tangannya begitu sadar siapa yang sedang berdiri dipojok lapangan sana sambil melipat kedua tangannya di dada. Senyumnya langsung merkah, sontak saja Seungcheol bangkit lalu memposisikan dirinya se keren mungkin.
"Sebenarnya sudah beres, wah kamu mempehatikanku juga ternyata"
Mata Jisoo membelak kaget, namun ia pintar untuk mengontrol wajahnya "kebetulan saja lewat"
Seungcheol mengangguk pelan, ia melangkah perlahan kemudian berdiri tepat dihadapan Jisoo "Eh.. soal waktu itu-"
"gak usah dibahas, udah aku maafin" potong Jisoo, ia mengalihkan padangannya dan membuat Seungcheol bertanya-tanya. Apa lagi setelah melihat rona merah disalah satu sisi pipi Jisoo.
Oh, dia malu.
Jadi itu lampu hijau untuk Seungcheol?
Mata Seungcheol menggelinding, ia berfikir untuk mencari sesuatu yang dapat dijadikan topik pembicaraan yang menarik, dan matanya berhenti pada gitar yang bergantung pada salah satu pundak lawan bicaranya.
"Mau latihan?"
Jisoo mengangguk kecil "Ya begitulah"
"Club Band menarik memang ya?"
"Ya menarik! Itu alasannya kenapa sekarang ada 10 anggota didalamnya!" balas Jisoo yang langsung senang begitu Seungcheol membahas masalah Clubnya.
"oh jadi kalau kalian manggung, satu panggung 10 orang gitu?"
Jisoo tertawa mendengar ucapan bodoh dan terdengar polos dari bibir Seungcheol " ya enggaklah.. kita di bagi jadi 2 band, yang satu band cowo, yang satu lagi band cewe, tapi kadang juga kita mix "
"oh, kalau begitu, mau pulang bareng?" tawar Seungcheol hati-hati.
Dan tanpa disangaka mata Jisoo kembali membelak, dan kini kedua telinganya berubah menjadi kemarahan, Jisoo menimang untuk sesaat dan itu membuat Seungcheol tertawa didalah hati.
Ayolahh.. untuk apa berfikir lagi? Tidak pernah ada yang menolak sorang Choi Seungcheol, mau itu dari golongan Laki-laki apa lagi Permpuan.
"Boleh, tapi.. itu pun kalo kamu mau menungguku sampai selesai latihan"
"tak masalah, aku pun harus mandi, badan ini penuh kerangat, dan yeah~ tentu saja bau"
Dan tepat setelahnya Jisoo langsung mengubah ekspresinya "pantas saja aku mencium bau yang tidak sedap disini"
.
.
.
Seungcheol mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil ditangan kirinya, harusnya ia meminjam Hair dryer milik Mingyu sebelum ia pulang, tapi tak apa lah nanti juga akan kering sendirinya.
Ia memakai kaosnya lalu memberaskan barang-barangnya yang berserakan, mulai dari seragamnya, jersey dan yang lain, kemudian ia menata rambuutnya sekeren mungkin, setelah dirasa ia puas melihat ciptaan tuhan yang begitu menawan pada pantulan kaca didepannya, ia pun menggendong tasnya dan berlari kecil menuju ruangan club band.
"Shorty get down, good Lord~"
Seungcheol terdiam sesaat, suara gadis itu terdengar tak asing ditelinganya, seperti suara –ahh sudah lah, ia masih di ujung lorong, paling juga nenek lampir itu sedang berada 'sekitar' tempat itu, bukan berada didalam ruangan club band.
Begitu ia membuka pintu, tubuhnya langsung membeku begitu ia melihat seseorang yang sama sekali tidak ingin ia temui setidaknya untuk hari ini saja.
Sang gadis yang sedang asik bernyanyi bersama yang lain langsung berhenti mengeluarkan suaranya, apa lagi saat matanya bertemu dengan manik mata Seungcheol. Ia langsung melotot menujuk Seungcheol yang masih membatu ditempatnya.
"KAMU NGAPAIN NYARI RIBUT DISINI?!" jerit Sejeong membuat semua yang ada disana menutup telinganya kencang.
Bitch please, Seungcheol lagi gak mood buat berantem dengan Sejeong.
Dan dengan sigap Jisoo langsung mendorong Sejeong agar kembali duduk ditempatnya, ia membisikan sesuatu yang dibalas desisan kesal dari Sejeong.
Setelahnya Jisoo langsung berlari kecil mengabil Demon dan menggedongnya, sebelum itu ia menghampiri Jeonghan untuk meminta izin pulang duluan dibanding yang lain, Junghan yang sedang sibuk menulis langsung mengangkat kepalanya dan menatap Seungcheol yang masih berdiam diri diambang pintu.
Tatapannya tajam dan seolah mengajak –perang, eh?
Dan setelahnya Jeonghan langsung tersenyum lebut dan menepuk pundak Jisoo sebagai tanda perpisahan.
"Jeonghan emang kayak gitu?" tanya Seungcheol begitu keduanya keluar dari tempat tersebut, tubuhnya bergidik pelan, ia baru merasakan efek dari teriakan Sejeong tadi, dan itu menyeramkan.
"maksudnya?"
"hmm, tidak jadi"
"oke"
Diam sesaat, Seungcheol yang awalnya sudah menyiapkan beribu topik yang akan ia perbincangkan bersama Jisoo sepanjang jalan langsung lupa, entah efek teriakan Sejeong atau karna tatapan Jeonghan yang mengajaknya perang, atau dia ikut gugup melihat Jisoo yang sekarang gugup. Entahlah..
"Sebenernya apa sih yang membuat kamu sama Sejeong manjadi bermusuhan seperti itu?" tanya Jisoo bingung
Seungcheol menoleh "Gak tau"
Ia terkekeh kecil " kok gak tau sih?"
"Aku juga gak tau akarnya dimana, intinya dia suka tiba-tiba gebrak meja, gak lucukan?" Jisoo mengangguk dan nampak mengerti dengan apa yang Seungcheol rasakan, sepertinya.
"bagaimana denganmu? Emang betah jadi sepupunya Sejeong?"
Jisoo mengangguk "Sejeong gak seburuk yang kamu kira, mungkin kalau kalian deket Sejeong akan berperilaku baik"
Senyum tipis tersugihkan pada wajah manisnya, Seungcheol yang melihatnya dari samping saja gemas, apa lagi jika ia melihatnya langsung jika berada dihadapnnya. Oh ya, titik yang paling membuat Seungcheol kehilangan jiwanya adalah bibir plum Jisoo yang berubah mejadi galing ketika ia tersenyum kecil seperti itu.
"menurutmu bagaimana caranya aku bisa dekat denganya?"
Jisoo memeiringkan kepalanya sambil mengeluarkan suara 'hhmmm' sebagai tanda ia sedang berfikir "Mungkin, mengajaknya mengobrol, memakai satu meja yang sama saat istirahat berlangsung, dan beri kesan yang baik, dan kencan mungkin.."
"Aku rasa gak mungkin kalau aku melakukan itu ke Sejeong, tapi itu mungkin aja aku lakuin kek kamu" Jisoo menoleh kaget dengan ucapan Seungcheol tersebut.
Kedua telinganya kembali memerah, dan dapat Seungcheol lihat bibir Jisoo kaku untuk berucap sesuatu untuk menimpali ucapan Seungcheol tadi.
"Apaan sih" disis Jisoo sebal memukul pengan Seungcheol sebal.
Sementara Seungcheol membalasnya dengan kekehan senang, sejujurnya ia mau membalas dengan bertanya 'kenapa' tapi ia tidak mau bertanggung jawab apabila Jisoo akan berlari meninggalkannya karna dia terlalu malu.
Seungcheol mengeluarkan ponselnya "Hahaha, untuk menujang itu semua boleh minta no hpkan?"
Tanpa membalas apapun Jisoo meraih ponsel Seungcheol dan langsung saja ia memasukan nomor ponselnya pada kontak Seungcheol.
Dan tanpa keduanya sadari, meraka sudah berdiri tepat didepan rumah Jisoo, Seungcheol mengumpat mengapa jarak rumah Jisoo dan sekolah begitu dekat.
"Eh.. berhubung besok libur, mau ngedate?"
"ngedate?"
"hmm" jawab Seungcheol menganggukkan kepalanya.
Jisoo menunduk dalam, dan setelahya ia langsung mendongkak untuk mengangguk pelan.
"eh-ahh kalo gitu aku pulang dulu ya?"
Mangangguk "ahh ya, hati-hati"
Sebelum Seungcheol pergi dari tempat itu ia menyempatkan diri untuk mengecup sekilas bibir Jisoo sebelum ia berlari menjauh dari tempat itu, sebelum ia mendapat amukan dari Jisoo lagi.
TBC
.
.
Fikaaa note:
Welcome backk.. kyahhhh akhirnya selesai juga chap 2 ini, sumpah otak aku kosong banget sebenernya, tapi kalo aku gak post ini cepet, Jisoo side gak akan mulai2, jadi salah satu antara aku sama yyenass harus saling berkorban/ciee ilah bahasanya/ dan sekarang harus aku yang berkorban wks.
Gimana gimana? Suka enggak? Ada saran gak buat selanjutnya? Btw kalau mau minta lanjut jgn ke aku tapi ke yyenass soalnya kalau dia gak buru-buru ngepost chap 3 aku juga gak akan mulai ngetik chap 4/eh ngerti gak sih keadaannya kayak gimana?/
Ngomong-ngomong thanks banget buat tutihandayani, Afyb, TaTianTae, yyenass, lovejoshua17, rena anaknya babeh, Guest /nah aku penasaran banget sama ini orang/, shinhy, dan soo-ie yang udah nge review taeser..
Thanks juga yang udah nungguin sampe detik ini, dan thanks juga yang udah suka dan tertarik buat baca cerita ff ini, sekaian dari fika, bye bye~~
Fikaaa present, 01 Mei 2016
