Chapter 4
"Jadi, apa yang membuatmu menyukai Jeon Jeongguk?"
Perlu beberapa menit yang panjang sampai Taehyung bisa memproses pertanyaan dari Park Jimin. Meski begitu, Taehyung belum bisa menjawab karena ia tidak mengerti soal apa yang membuat Park Jimin berpikir kalau dirinya, Kim Taehyung, menyukai Jeon Jeongguk.
"Maksudmu?"
"Apa yang membuatmu menyukai Jeon Jeongguk?"
"Aish, aku memintamu menjelaskan maksud dari pertanyaanmu, bukan mengulang pertanyaannya," dan ingatkan Kim Taehyung untuk membunuh Park Jimin saat kesehatannya pulih nanti karena seringai menyebalkannya benar-benar menjengkelkan.
"Tapi, kau memang penyuka tantangan ya? Aku tidak menyangka kalau seleramu adalah Jeon Jeongguk. Si orang nomor satu yang paling ditakuti di sekolah, si anak kelas 1 yang membuat anak kelas 3 dirawat sampai seminggu karena patah tulang," Jimin kembali dengan senyum jahilnya sebelum melanjutkan, "dan Jeon Jeongguk yang membuat anak kelas 2 bernama Kim Taehyung jantungan sampai dirawat nyaris seminggu," tambahnya jahil.
Mendengar itu, kalau bukan karena tertahan selang infus, rasanya Taehyung sudah memasukkan sebutir semangka bulat-bulat ke dalam mulut Park Jimin yang asal. "Kenapa kita bisa berteman? Aku jadi lupa," dengus Taehyung. "Aku bahkan jadi ingat kalau semua ini berawal dari roti stroberi titipanmu yang membuatku jadi meremas barangnya Jeongguk. Pertemanan yang salah membuat hidupku jadi berantakan," ucap Taehyung dramatis dan Jimin jadi tertawa puas mendengarnya.
"Dasar sial. Aku bahkan mencoret roti stroberi dari daftar makanan kesukaanku sejak kau selalu mengaitkan itu dengan barangnya Jeongguk," timpal Jimin. Kali ini, giliran Taehyung yang tertawa.
"Omong-omong, dia tidak kemari?" Pertanyaan Jimin membuat tawa Taehyung menghilang.
"Untuk apa dia kemari? Kemarin dia membawakanku lili putih, memangnya aku sudah mati? Belum lagi dia malah menciumku saat aku sesak. Apa lagi itu kalau bukan percobaan pembunuhan?" keluh Taehyung dengan kesal. Menolak mentah-mentah ide kalau ada roman di hubungan unik mereka.
"Tapi, ini Jeon Jeongguk. Kita sedang bicara soal orang yang paling ditakuti karena rentetan prestasi kejamannya," tekan Jimin. "Aku bahkan ikut jantungan saat mendengar kalau Jeon Jeongguk yang terkenal tanpa perasaan itu yang mengangkatmu dari atap di lantai tiga, dengan susah payah menghadapi Guru Choi di ruang kesehatan, ia bahkan rela membawakan bunga—terlepas dari maknanya yang salah—dan kepanikannya saat kau sesak nafas, itu bukan dibuat-buat," jelas Jimin panjang lebar.
"Lalu, maksudmu menjelaskan itu adalah?"
"Membuatmu percaya kalau Jeon Jeongguk menyukaimu."
Dan Taehyung memutuskan kalau Park Jimin dan penarikan kesimpulannya yang bodoh dan tak bernalar adalah alasan dari rentetan kemalangan yang menimpanya. Ayolah, siapa yang akan percaya soal itu?
Taehyung baru akan melempar Park Jimin dengan bantal atau sesuatu yang lebih berbahaya seperti botol kaca untuk membuatnya berhenti melantur. Tidak saat Jimin mengatakan sesuatu yang membuat Taehyung sedikit mempertimbangkan simpulan Park Jimin yang bodoh itu.
"Kau pikir siapa yang memberikan nafas buatan di atas atap? Kalau bukan karena Jeongguk, kau mungkin tidak akan tertolong ,"
.
.
.
Sekali lagi, ini semua karena Park Jimin yang sudah memberikan sugesti aneh sehingga Taehyung jadi begitu memikirkan kedatangan Jeon Jeongguk. Saat itu, Jimin dan Jin tidak bisa menemani Taehyung semalaman entah karena alasan apa. Taehyung sendiri, memang cukup mandiri dan tidak akan merengek minta ditemani. Lagipula, ia sudah mampu untuk berjalan dan meminta bantuan kalau-kalau kondisinya tiba-tiba menurun.
Hanya saja, Kim Taehyung bosan. Hidup dengan jantung yang lemah membuat Taehyung terbiasa dengan rumah sakit bahkan sejak ia balita. Dan rasa bosan adalah musuh utama baginya. Taehyung baru berniat untuk kabur dan berkeliling rumah sakit saat pintu ruangan terbuka dan menampakkan Jeon Jeongguk yang entahlah, sejak kapan ia tampak mempesona? Taehyung sering mengakui kalau Jeongguk (terkadang) tampak imut dan harmless, tapi, sekarang, auranya memancarkan pesona yang tidak bisa ditandingi sekalipun oleh sepupu tampannya, Kim Seokjin.
"Hai hyung," ucapnya pelan. Dan sejak kapan Jeongguk memanggilnya hyung? Ugh. Terus-menerus kehilangan kesadaran membuat Taehyung melupakan dan kehilangan banyak momen bersama Jeongguk. (Btw, Taehyung, kau baru mengenal Jeongguk selama 4 hari, please).
"Tidak bawa beras putih untuk ditabur*?" sindir Taehyung, mengingat beberapa waktu lalu Jeongguk datang dengan sebuket bunga lili putih. Sebenarnya Taehyung hanya ingin mencairkan suasana. Ia tidak tahu kalau Jeon Jeongguk ternyata serius menanggapinya. Dengan raut wajah terluka, Jeongguk mengucap "Aku tidak bermaksud begitu... Baiklah, aku pergi saja," dan saat itu juga, Taehyung yang menyesal, akhirnya dengan cepat menagan tangan Jeongguk. "Astaga. Kau tidak bisa diajak bercanda ya?" gumam Taehyung pelan.
"Aku sungguh tidak tahu kalau lili putih punya maksud seperti itu. Sungguh," dan Taehyung jadi tersenyum melihat keseriusan dari mata Jeongguk. "Memangnya apa yang kau ketahui soal bunga itu?" tanya Taehyung, tertarik dengan apa yang tersimpan di dalam benak Jeongguk. "Yang kutahu... ayah dan ibuku merayakan ulang tahun pernikahan mereka dengan bunga lili— berwarna merah muda," jawab Jeongguk terbata, seolah menyadari kesalahannya karena mengabaikan arti dari sebuah warna.
"Dan itulah kenapa warna menjadi simbol yang teramat penting, Jeon. Kalau kau salah memotong sebuah kabel berwarna, kau bisa saja membuat sebuah bom meledak dan menghabisi banyak orang," terang Taehyung dengan sok bijak.
"Tapi ini hanya bunga, hyung," kelit Jeongguk.
"Tapi itu bisa melukai perasaan seseorang,"
"Perasaanmu terluka, hyung?"
Dan Taehyung tersenyum mendengar pertanyaan itu, sebelum akhirnya menjawab, "jantungku memang lemah, tapi perasaanku tidak semudah itu terluka,". Mata karamel Taehyung menatap ke manik hitam pekat milik lawan bicaranya. Menikmati keheningan ketika tatap mereka saling bertemu.
"Anyway, aku terkesan. Seorang Jeon Jeongguk yang memiliki reputasi kejam, si anak kelas 1 yang membuat anak kelas 3 dirawat karena patah tulang selama seminggu, sampai dinobati sebagai anak paling ditakuti nomor satu, ternyata mengkhawatirkan perasaan seseorang akan terluka," tanya Taehyung dengan sedikit menantang.
"Kau lebih senang kalau aku membiarkanmu mati, seperti apa yang 'Jeon Jeongguk' akan lakukan?" dan Taehyung tidak mengerti kenapa ada kilatan kemarahan yang terpancar dari kedua bola pekat yang masih ia pandangi itu.
"Jangan salah paham. Sudah kubilang, aku terkesan. Aku justru sangat berterima kasih karena kau sudah banyak membantuku. Termasuk sudah memberikan nafas buatan pada seseorang yang bahkan tidak kau kenal. Terima kasih, aku sangat tertolong, Jeon" ia mengucap dengan pelan, berusaha agar penjelasannya tidak menimbulkan kesalahpahaman lagi.
Taehyung hampir menyerah dari pertarungan tatap itu saat dua mata pekat Jeongguk kembali berkilat berbahaya.
"Kau mengetahuinya?"
"Sebelumnya tidak, tapi tadi Jimin memberitahuku."
"Hm, lalu? Aku di luar ekspektasimu?"
"Maksudmu?"
"Karena melakukan yang seharusnya tidak 'Jeon Jeongguk' lakukan?"
"Tidak. Justru aku yang meragukan soal kebenaran reputasi kekejaman 'Jeon Jeongguk'. Benarkah kalau Jeon Jeonggok yang saat ini berada di hadapanku, benar-benar mematahkan tulang seorang seonbae sampai ia dirawat di rumah sakit selama seminggu?"
Kali ini, Jeongguk tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Ajaib bagaimana kata-kata Taehyung bisa membuatnya begitu lengah sampai-sampai ia bisa tersenyum seperti ini. Tanpa Jeongguk ketahui, senyuman itu semakin membuat Taehyung meyakininya. Kalau Jeon Jeongguk, sama sekali tidak seperti apa yang orang-orang katakan.
"Sayangnya, aku benar melakukannya, hyung.
Aku melakukannya saat kami bertemu di pertandingan kyorugi,"
.
.
.
Taehyung memandang ke arah jarum jam yang terus bergeser tanpa ada belas kasihan untuk sesekali melambat demi orang-orang yang membutuhkan waktu, seperti dirinya. Sebut Taehyung berlebihan maka ia tidak akan menyangkal. Pasalnya, saat ini, Taehyung berharap jika saja ia diberi waktu sedikit saja, mungkin ia bisa menikmati momen bersama Jeongguk sedikit lebih lama.
Tapi, waktu juga yang akhirnya berperan besar dalam kesembuhannya sampai ia sudah diperbolehkan untuk pulang. Mungkin, dari sebagian besar pasien yang ada di rumah sakit itu, Taehyung adalah salah satu dari sejumlah kecil pasien yang merasa sedih karena ia dinyatakan pulih. Salahkan Jeon Jeongguk yang membuatnya mengidap penyakit aneh bernama perasaan suka.
Ketika mendiskusikan soal perasaan abstrak bernama suka dan cinta, Taehyung dan kedua orang tuanya sempat membahas juga soal durasi. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk seseorang dapat menyukai orang lain? Jawabannya berbeda untuk setiap orang. Taehyung mendapatkan jawaban dua bulan dari kedua orang tuanya, sebulan dua minggu dari sepupunya, dan Taehyung menemukan jawaban yang lebih singkat: enam hari.
Tapi, terlepas dari durasi bagaimana perasaan suka bisa muncul, yang jauh lebih penting adalah, berapa lama itu bisa bertahan. Masalahnya adalah, Taehyung menyadari kalau kesempatannya untuk mempertahankan rasa sukanya nyaris tidak ada karena Kim Taehyung telah menyukai seorang laki-laki yang dikenal misterius. Ia membangun tembok pertahanan yang kuat dan penuh dengan jebakan yang bisa melukai siapapun yang mencoba untuk menembusnya.
Tapi, kalau itu berarti mendapatkan kelembutan dan kehangatan dari seorang Jeon Jeongguk, Taehyung tidak akan keberatan untuk menembusnya.
"Hanya saja, batasan itu bukan cuma tembok. Tembok itu juga terhalang oleh lapisan kabut tebal berlapis-lapis yang membuatku tidak bisa mengetahui di mana letak jalan masuk ke tembok itu, Park," penjelasan penuh analogi berbelit dari Taehyung tetap membuat Jimin bisa menebak akar permasalahan yang dihadapi sahabat bodohnya itu.
"Mudah, kau hanya perlu membawa sinar matahari yang bisa mencairkan kabut itu dan puff, kau akan bisa melihat jalan masuk itu," jawaban Jimin membuat Taehyung ingin kembali membantah sebelum akhirnya Jimin menekankan, "lupakan analogi itu. Aku tahu kau akan membawa persoalan sains atau malah soal diksi yang kugunakan. Tapi, aku tahu, kau pasti mengerti garis besarnya, Kim."
Taehyung tertawa saat menyadari tepatnya tebakan Jimin. Sesungguhnya, yang paling Taehyung khawatirkan adalah kesempatan. Terlebih, kalau mengingat soal siapa itu Jeon Jeongguk dan rumor yang mengitarinya. Taehyung benar-benar perlu bekerja keras untuk bisa meyakinkan Jeongguk dan itu pasti tidak akan mudah.
Entah apakah Taehyung akan bisa bertahan karena bahkan ketidakhadiran Jeon Jeongguk di detik terakhirnya di rumah sakit memberikan luka yang yang cukup menyakitkan. Ia juga menyesal karena tidak sempat meminta nomor teleponnya sebelum mereka kembali ke jarak awal mereka: orang asing.
.
.
.
"Jadi benar kau dihajar oleh Jeon Jeongguk?"
"Kau dirawat di IGD karena Jeon Jeongguk?"
"Kau tidak akan mengadukan itu ke sekolah?"
"Kalau kita punya bukti, kita bisa membuat Jeon Jeongguk dikeluarkan,"
Dan itulah. Begitulah sampai akhirnya kemarahan Taehyung memuncak dan saat itu juga, Taehyung memukul mejanya, membuat semua orang di kelas (kecuali Jimin) menatapnya heran.
"Keabsenanku tidak ada hubungannya dengan Jeon Jeongguk," jelas Taehyung penuh penekanan, dan ia cukup kewalahan karena harus berteriak di hari pertamanya setelah dinyatakan pulih, tapi ia perlu menekankan soal ini, "asal kalian tahu, Jeon Jeongguk justru yang menyelamatkanku. Jadi, kumohon berhenti menyebarkan gosip yang aneh, terima kasih," tutupnya sopan.
Pidato singkatnya sempat membuat puluhan mulut itu terdiam, sebelum akhirnya bisik-bisik itu kembali dengan suara yang teramat pelan.
"Well, aku bukannya tidak menjelaskan itu sebelum kau masuk, loh," keterangan Jimin membuat Taehyung paham kalau membersihkan nama seseorang ternyata lebih sulit daripada merusaknya. Makanya, membayangkan betapa sulitnya Jeon Jeongguk yang selalu dikelilingi oleh rentetan rumor jelek, Taehyung jadi semakin ingin membuat orang-orang untuk bisa melihat Jeon Jeongguk dari lebih dekat.
.
.
.
Taehyung tidak banyak berpikir saat memutuskan untuk berlari menuju atap sekolah dan mengabaikan kondisi tubuhnya yang masih perlu beristirahat. Kali ini, ia bahkan tidak lagi khawatir dengan anak tangga terkutuk atau kemungkinan kemunculan gwishin yang bisa saja membuatnya terkena serangan jantung untuk kedua kalinya. Satu-satunya yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah seorang laki-laki bernama Jeon Jeongguk berada di atas atap.
Langkah Taehyung memelan saat ia menemukan sosok laki-laki yang ia cari. Sosok kontradiktif yang membuat Taehyung begitu takut, tapi juga begitu berani untuk mendekat. Karena di balik lapisan pertahanan diri berupa citra 'kejam' yang sengaja ia ciptakan, ada ketulusan dan kebaikan yang begitu berharga. Dan Taehyung, merasa sangat beruntung karena ia telah memiliki kesempatan untuk melihat—dan juga merasakan—kebaikan seorang Jeon Jeongguk.
"Selamat karena sudah sembuh, hyung," Jeongguk yang telah menyadari keberadaan Taehyung di atap, akhirnya mengucap sambil tersenyum malu-malu. Baginya, senyum masih sebuah kelemahan, meskipun kini ia tidak lagi menganggap Taehyung sebagai sebuah ancaman. Ia bahkan cenderung membiarkan saat Taehyung berjalan mendekat dan memperkecil jarak di antara mereka.
"Siapa bilang aku sudah sembuh? Aku masih sakit," jawaban singkat Taehyung membuat air muka Jeongguk berubah. Ia sepenuhnya terperdaya, karena Kim Taehyung memang aktor yang handal. "Dan kau seharusnya bertanggung jawab sampai sakitnya sembuh," lanjut Taehyung.
"Mau kuantar ke ruang kesehatan, hyung?" tanya Jeongguk serius. Mendengar juniornya yang selalu saja serius dan cenderung polos itu, Taehyung memutuskan untuk sedikit menggodanya.
"Sepertinya, itu percuma karena sakit ini cukup kompleks, dan…" Taehyung sengaja memberi jeda agar bisa memperhatikan detail wajah Jeongguk yang begitu dekat. Mencoba membaca tiap emosi yang tergambar di wajah imut itu sebelum melanjutkan sisa kalimatnya.
"Lagipula, kurasa, hanya kamu yang bisa menyembuhkannya," dan Taehyung begitu puas saat melihat wajah Jeongguk tampak merona ketika menyadari gombalan murahan Taehyung. Tapi, Jeongguk tampak mengikuti permainan Taehyung dan membalas, "lalu, bagaimana aku harus bertanggung jawab, hyung?"
"Sebuah ciuman, mungkin?" goda Taehyung jahil yang langsung dikabulkan dengan senang hati oleh Jeon Jeongguk.
.
.
.
[end]
EXCUJI-mi and this lame fic. Wqwqwq. Maafkan akhir yang dipaksakan ini. Ada banyak kecacatan karena chap terakhir ini agak diburu-buru. Aku juga agak bingung mau ngakhirinya gimana karena gak mau ini berakhir, hahaha.
Entah kenapa aku suka Jeongguk yang kikuk. Wqwqwq.
Makasih karena sudah bertahan membaca fic memalukan ini dan sudah mau ngasih review. Terima kasih banyak~ aku belum bisa bales reviewnya, ini aku update dulu biar gak makin numpuk utangnya wqwqwq.
p.s:
- tradisi tabur beras putih untuk mengusir roh jahat sepertinya nggak ada di Korea. Di sana, setauku sih untuk perayaan semacam itu ada sajen makanan-makanan tertentu yang dipersembahkan buat roh. Tapi, aku lebih milih tabur beras putih aja biar lebih enak nulisnya.
- kyorugi (free sparing) adalah sebuah pertandingan di taekwondo, semacam 1 lawan 1 yang sifatnya bebas dan bukan sebuah perlombaan (CMIIW). Lalu, ceritanya si anak kelas 3 itu murid di dojang-nya keluarga Jeon. Tapi, orang-orang pada suudzon ngira si Kookie matahin tulangnya karena berantem di sekolah.
