Seducing Cinderella
By
Gina L. Maxwell
.
.
.
.
pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)
Cast: temukan sendiri
Genre: funny, sweet, Romance
Rate: M
.
.
.
.
AWAS TYPO
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
"Bisakah kau menunjukan arah ke departemen fisioterapi?" dimana beberapa orang bodoh yang sombong akan memberikanku latihan yang lebih cocok untuk balita, pada dasarnya ini adalah proses pengebirianku.
Pernyataan bahwa Kim Jongin atau yang lebih akrab disapa Kai sedang dalam mood yang buruk mungkin terlalu sepele, tapi bukan berarti resepsionis rumah sakit pantas menerima amarahnya. Ia mendengarkan ketika petugas resepsionis itu memberikan arahan dan berterima kasih ketika ia selesai.
Semakin dekat ia mencapai tujuannya, semakin keras otot-ototnya menggumpal. Dia seharusnya tidak di sini. Seharusnya ia sudah kembali ke Vegas, merawat cideranya dengan pelatih dan tim dokter. Bukan kota Sparks, Naveda yang mana masih termasuk Reno dan mengkhawatirkan karena terlalu dekat dengan kota ke lahirannya, bagian selatan Sun Valey. Saat ini dia harus bekerja sama dengan seseorang yang tidak memiliki konsep sama sekali tentang olah raganya atau tentang betapa pentingnya ia untuk kembali ke markasnya secepat mungkin untuk melakukan persiapan menjelang pertandingan ulang itu.
Selama yang bisa ia ingat ia adalah petarung. Bertarung di dalam olah raga yang sangat ia cintai di atas segalanya Mixed Matrial Arts atau MMA untuk sampai ke puncak, dan kemudian berusaha keras memaksa dirinya agar berada di sini. Limabelas tahun kemudian, dia adalah salah satu dari petarung terkaya kelas berat ringan di UFC, dengan rekor 34-3 dan jutaan penggemar. Tentu saja tidak ada yang lebih penting dari mendapatkan kembali kesehatannya saat ini, karena jika ia tidak sembuh tepat waktu untuk melakukan pertandingan ulang, karirnya akan tamat.
Seorang Dokter bicara di telepon dan memeriksa berkas-berkas Jongin di sekitar sudut ruangan dan menabraknya. Pria itu bahkan tidak berbalik untuk meminta maaf, ia hanya terus berjalan menelusuri lorong itu. Jongin mengatupkan rahangnya dan memegang bahu kanannya, menunggu rasa sakitnya mereda. Bahkan hanya dari sebuah benturan kecil, sakitnya sangat terasa.
Dia mendapatkan salah satu cidera terberat yang bisa di dapatkan oleh seorang petarung; robeknya tendon bahu. Dan yang lebih memalukan lagi, cidera ini tidak didapatkannya ketika bertarung. Dia mengalami cidera sialan ini ketika sedang berlatih untuk perebutan gelar. 34 tahun bagi seorang petarung sudah termasuk petarung tua, apalagi yang sudah berada di sana sepanjang hidupnya, dan tubuhnya mulai menunjukan hal itu, penuh luka karena cidera terkutuk.
Jongin menghindar ke samping ketika berpapasan dengan seorang wanita tua yang berjalan seperti siput tanah, ia mengutuki pelatihnya, Taecyeon, yang sudah mengirimnya ke tempat ini.
Tidak lama setelah menjalani operasi untuk memperbaiki bahu kanannya, dokter dari camp olahraga harus pulang untuk mengurus ayahnya yang sedang sakit. Kasper diperkirakan tidak akan kembali dalam beberapa bulan ke depan, dan karena Jongin adalah satu-satunya yang cedera di camp itu, Taecyeon menempatkannya di PT (physical therapy) lokal untuk sementara waktu. Tapi jika Jongin tetap mengikuti kata-kata pria ini, ia tidak akan siap bertarung sampai usianya 50 tahun, jadi ia mengurus terapinya sendiri.
Sayangnya, Taecyeon mengetahui apa yang akan dilakukannya dan dia meminta Jongin untuk tidak mendengarkan kata-kata pengganti Kasper dan bersikap santai. Tapi Jongin tidak mengerti makna bersikap santai itu. motonya lebih dari sekedar motivasi rata-rata. Dia hidup dengan prinsip "Lakukan yang terbaik atau kau tidak akan mendapatkan apapun" dan "Jika kau tidak datang untuk menang, lebih baik kau tetap tinggal di rumah saja." kata-kata itu sudah di tanamkan pada dirinya sejak ia sudah berani membantah perintah ayahnya.
Dia menolak untuk menerima kemungkinan tidak mendapatkan kesembuhan total dalam dua bulan ke depan, hingga kehilangan kesempatan untuk merebut kembali gelarnya.
Setiap tahun, olahraga itu selalu menghasilkan petarung yang lebih muda dan lebih baik, dan itu menjadi halangan untuk petarung yang lebih tua dalam bersaing. Itulah sebabnya Jongin berlatih sekeras mungkin. Selalu saja ada beberapa orang yang menginginkan sabuknya dan selalu mencoba menyingkirkannya untuk mendapatkan sabuk itu, sehingga ia harus melatih dan mempersiapkan dirinya lebih keras lagi untuk menjaga sabuk itu. Dia begitu marah ketika Taecyeon memberinya ultimatum: tinggalkan kamp dan lakukan PT dengan benar, atau dia akan ditarik mundur dari pertarungan.
Persetan dengan hal itu.
Baiklah, terserah. Dia sudah membuat pelatihnya senang dengan pergi ke PT sialan itu. Tapi itu bukan berarti dia tidak akan melakukan hal berbeda dari latihan rutinnya. Dia tidak punya waktu untuk bermain-main. Dia harus sesegera mungkin kembali ke Vegas sehingga ia bisa merebut kembali apa yang menjadi haknya.
Jongin mendorong terbuka pintu ganda dan masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang mirip dengan bagian dalam YMCA (Young Men's Christian Association, organisasi Kristen yang memberikan support dalam bidang olah raga). Treadmill, eliptik, angkat beban, dan bola latihan. Tidak ada sparring Cage. Tidak ada matras lantai. Tidak ada sansak. Namun ada seorang pria tua kisaran 80 tahun berjalan begitu lambat di atas treadmill, yang membuatnya praktis tidak bergerak.
"Ini menyebalkan," gumamnya ketika sampai di sebuah kantor kecil dengan nama PT nya, Do Kyungsoo Miller, pada pintu yang tertutup sebagian. Ia mengangkat tangannya untuk mengetuk sebelum menunjukkan dirinya, tapi berhenti saat ia mendengar isakan pelan dari seseorang berambut coklat yang tertunduk di belakang meja. Setidaknya ia mengasumsikan itu adalah sebuah meja. Sangat sulit menjelaskan apa yang berada di bawah tumbukan berkas dan dokumen itu. Alih-alih mengetuk, ia malah berdehem. "Maaf, apakah ini waktu yang tidak tepat?"
Wanita itu memutar kursinya hingga menghadap ke dinding di belakangnya, menekan lututnya pada lemari arsip dan menggumam kata serapah yang tentu saja Jongin bertaruh, dia tidak terlalu sering menggunakannya di depan publik. Meskipun ia belum melihat wajahnya, ia merasakan sebuah kecanggungannya lumayan manis. Ketika ia meraih tisu dari suatu tempat di lantai dan meniup hidungnya, itu mengingatkan Jongin, bahwa wanita ini sedang dalam masa yang rentan. "Aku bisa kembali."
"Tidak, tidak," dia membersihkan hidungnya dan menunjuk ke belakang tanpa berbalik. "Anda bisa duduk sebentar di ruang sebelah, aku akan segera menyusul."
Ide yang baik. Terlebih karena kebenciannya melihat seorang wanita bersedih, baginya menghibur wanita yang ia kenal saja sudah cukup buruk, apalagi yang ia tidak kenal sama sekali. Ia memasuki ruangan itu, menyandarkan pinggulnya di meja yang empuk, tanpa sadar merenggangkan buku-buku jarinya ketika ia menunggu.
Itu hanya sesaat sebelum wanita itu melenggang masuk, matanya memeriksa berkas Jongin, sambil berjalan lurus ke arah meja kecil di sepanjang dinding.
"Aku benar-benar minta maaf tentang kejadian tadi," katanya. "Berikan aku sedikit waktu untuk mempelajari berkas ini lebih lanjut, dan kita akan memulai urusan ini."
"Ya silahkan," sesuatu dalam suaranya menusuk-nusuk otak Jongin. Sepertinya ia pernah mendengar suara itu sebelumnya.
"Oke, , mari kita lihat pada..."
Mereka membeku ketika mengenal masing-masing sosok di hadapan mereka.
"Kyungsoo?"
"Jongin?"
Sudah beberapa tahun lamanya mungkin, enam tahun, atau tujuh tahun, atau lebih, dia tidak bisa mengingatnya sejak terakhir kali dia melihat adik dari sahabat baiknya. Wajahnya putih bersih dengan mata bulat memerah habis menangis sehingga ia hampir tidak menyadari bahwa wanita itu adalah Kyungsoo, tapi tanda lahir di sudut luar mata kirinya yang samar-samar berbentuk hati mengingatkannya. Hal itu nyaris tidak terlihat di bawah bingkai gelap kacamata yang ia kenakan.
"Astaga," kata Kyungsoo, meremas pinggang Jongin dengan kuat. Sudah sangat lama Jongin tidak pernah bertemu seseorang dari kota kelahirannya, selain kakak Kyungsoo, dia adalah orang yang selalu ingin ia temui. Kyungsoo membalas pelukannya. Rambutnya tercium seperti campuran bunga dan musim panas, begitu berbeda dengan ramuan parfum menyengat yang biasa digunakan oleh wanita.
Ia melepaskan pelukannya, duduk kembali di bangku putar di belakang mejanya dan menyelipkan sehelai rambutnya kebelakang telinga. "Aku tidak percaya itu kau. Tunggu, mengapa catatanku tertulis Asher Kai?"
Jongin terkekeh pada nama konyol yang ia gunakan untuk samarannya. "Ini adalah nama samaran," Bermaksud untuk menghapus penampilan menyedihkan yang diakibatkan oleh sesuatu sebelum ia datang, dia memberikannya senyuman nakal dan menambahkan. "Dan kadang-kadang menjadi status keberadaanku."
Alisnya berkerut untuk beberapa saat ketika ia meresapi kata-katanya, kemudian pipinya memerah dan matanya terbelalak. "Jongin!"
Dia tidak bisa berhenti tertawa meskipun ingin. Ekspresi terkejut di wajahnya benar-benar lucu. "Ayolah, Kyu-Kyu, kau tidak bisa terus-terusan polos seperti itu setelah bertahun-tahun."
"Kepolosanku atau kekuranganku bukanlah urusanmu Kim. Dan sebagai peringatan: jika seseorang mendengar kau memanggilku dengan panggilan konyol itu, aku akan menusukmu tepat di lehermu dengan penaku."
Ia mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah. "Cukup adil, Kyung." Kyungsoo memutar matanya, tapi ia segera mengintrupsi sebelum wanita itu mulai marah. "Omong-omong tentang nama, ada apa dengan Do Kyungsoo Miller?Aku tidak melihat cincin. Apa kau sedang dalam perlindungan seorang saksi atau apa?"
Ia mengalihkan pandanganya, tiba-tiba merasa perlu untuk merubah kembali name tagnya. "Tidak. Aku pernah menikah sebentar ketika di perguruan tinggi. Yi Fan mungkin tidak memberitahumu tentang ini, karena kami kawin lari dan ini tidak bertahan lama," ia berdeham dan tersenyum padanya, tapi hampir tidak menyentuh pipinya, apalagi matanya. "Kau tahu bagaimana itu. Anak muda labil dan semuanya. Aku hanya tidak pernah repot-repot mengganti nama belakangku lagi, tapi setidaknya aku masih memiliki inisial nama yang sama, kan?"
Usaha wanita itu dalam menyamarkan perasaannya yang sebenarnya mengingatkan Jongin akan apa yang sedang dialaminya. Sesuatu atau seseorang sudah menyakitinya, dan itu langsung menggugah naluri melindunginya. Biar bagaimanapun, Kyungsoo bukanlah wanita sembarang. Dia tumbuh besar mengikuti kemanapun kakaknya, Do Yi Fan dan Jongin. Dan karena Yi Fan, yang juga seorang petarung UFC, sedang berada di Hawaii dengan kamp pelatihannya hingga tidak bisa membantu adiknya, Jongin akan dengan senang hati akan menggantikannya.
"Kenapa kau menangis Kyung?"
"Oh, itu?" ia melambaikan tanganya tak acuh. "Tidak apa-apa. Aku mendapat alergi musiman yang mengerikan dan kadang-kadang itu terjadi sangat buruk hingga terkadang aku terdengar seperti sedang terisak, menangis tersedu-sedu, begitulah."
Dia mendengus. "Itulah sebabnya aku dan Yi Fan tidak pernah membiarkanmu ikut dalam 'petualangan' licik kami. Kau adalah pembohong yang sangat buruk dan tidak akan bertahan lebih dari lima detik dalam introgasi orang tua."
Dia berdiri, menempatkan tangannya di pinggang. "Oke, menurut pelatihmu, kau adalah pasien yang sangat menyedihkan, jadi kita berdua memiliki kesalahan masing-masing. Sekarang, kalau kau tidak ingin menyia-nyiakan waktumu dengan obrolan yang tidak berguna, biarkan aku mengevaluasi cederamu."
Jongin mengenali keberadaan dinding pertahanan ketika ia menemukannya. Kyungsoo tidak akan bicara tentang hal itu, belum. Dengan suatu cara ia pasti akan mengetahuinya. "Oke, periksalah Kyung," ia menyentuh tulang belikat dengan tangan kirinya, menarik t-shirtnya ke atas kepala, berusaha keras untuk tidak menggerakan tangan kananya terlalu banyak. Dia melemparkan t-shirtnya ke kursi di sudut ruangan.
"Berapa banyak PT yang kau temui sejak operasi itu?"
"Aku tidak tahu, jumlah yang biasa, sepertinya. Satu sesi dalam sehari atau lebih. Tapi ini tidak cukup, jadi aku melakukan latihan tambahan di sisi lain."
Dia berhenti dan mengangkat alis padanya. "Dengan kata lain, kau sudah berlebihan dalam melakukan hal ini, yang justru malah kontra produktif untuk pemulihanmu."
"Berlebihan itu suatu istilah subjektif."
"Tidak Jongin. Melakukan Lebih dari apa yang dikatakan dokter atau terapismu adakah berlebihan. Jika aku akan membantumu, kau harus melakukan sesuai dengan apa yang kukatakan. Jika kau bisa melakukannya, aku akan membuatmu sesehat sebelumnya dalam waktu sekitar 4 bulan."
"Apa? Tidakkah Taecyeon mengatakan bahwa pertandingan ulangku akan berlangsung dua bulan lagi? Aku harus bertanding pada pertandingan itu, Kyung. Sanchu memiliki sabukku, dan aku akan mengambilnya kembali."
Kyungsoo menggeleng. "Jongin itu gila. Bahkan walaupun aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk penyembuhanmu, aku tidak bisa menjamin kau bisa siap untuk bertarung secepat itu."
"Omong kosong. Kau harus mengatakannya secara professional, tapi kau harus tetap memperhatikan siapa yang menjadi pasienmu. Aku tidak seperti orang-orang lain yang kau tangani. Aku tidak seperti pasien-pasienmu yang berharap normal. Aku adalah atlet yang sangat terlatih dan sudah pulih dari berbagai macam cidera selama limabelas tahun terakhir dibandingkan dengan seratus pasienmu jika disatukan."
Ia mengehela nafas. "Mari lihat apa yang sebenarnya kita hadapi sekarang, yang pertama, oke, jagoan? Duduk."
Jongin melompat ke meja dan mencoba untuk tidak tegang karena gagasan tangannya dimanipulasi. Dia memiliki toleransi tinggi terhadap rasa sakit, tapi bukan berarti pemeriksaannya itu tidak akan membuatnya meringis.
"Ulurkan lenganmu ke samping, dan coba untuk tetap begitu ketika aku mendorongnya ke bawah." Ia terdiam sejenak sebelum melakukan gerakan itu dengan menggumamkan kutukan. Kyungsoo berpura-pura tidak menyadarinya dan memberikannya lebih banyak tes kekuatan, dimana dia berhasil menjaga teriakannya di dalam kepalanya sendiri. Meneriakinya.
"Oke, yang terakhir Jongin. Tempatkan tanganmu di depan perutmu, dan coba untuk menahannya di sana ketika aku menariknya menjauh dari tubuhmu."
Ia menggertakan rahangnya dan mengepalkan tangan kirinya, mencoba untuk memikirkan hal lain, selain rasa sakit yang luar biasa dari bahunya. Tapi, seburuk apapun rasa sakit itu, fakta bahwa dirinya begitu lemah dan tidak bisa menyembunyikannya adalah hal yang jauh lebih buruk.
"Baiklah, kau bisa rileks sekarang," Kyungsoo membuat beberapa catatan dalam berkasnya, kemudian berbalik dan bertanya, "Pada skala nyeri satu sampai sepuluh, dengan yang kesepuluh adalah ukuran rasa paling mengerikan yang bisa kau bayangkan, bagaimana perasaanmu saat ini?"
"Empat mungkin. Atau bahkan tiga."
Kyungsoo mengangkat alisnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Lupakan sikap jantan sialanmu, Kim. Aku tidak menantang kejantananmu di sini. Jika kau ingin aku melakukan pekerjaanku, maka kau harus seratus persen jujur padaku."
Jongin menatap Kyungsoo dengan tatapan yang seakan menciutkan wanita itu. Namun Kyungsoo sama sekali tidak bergeming. Jongin tentu sudah memuji Kyungsoo dengan sikapnya pada tatapannya jika ia tidak sedang jengkel dengan keseluruhan situasi ini. "Oke, enam." Gerutunya. "Tapi beberapa hari ini lebih baik."
"Jangan khawatir, itu normal. Sekarang berbaring menelungkup di atas meja. Aku ingin melakukan beberapa hal lagi."
"Kau sangat suka memerintah diusia tuamu yang sekarang, kau tahu itu?" ia sedikit kecewa ketika Kyungsoo tidak terpancing dengan kata-katanya, tapi melontarkan Mm-hmm secara sarkastis ketika Jongin meletakan tubuhnya di atas meja. Dengan lengan kirinya menjadi tumpuan wajahnya. Ia memejamkan matanya ketika Kyungsoo mulai memeriksa tubuhnya.
Ujung jari lembutnya memeriksa otot di sekitar bahunya. Jongin tidak tahu apa yang sebenarnya sedang di cari Kyungsoo, tapi ia berharap Kyungsoo tetap mencarinya untuk sementara waktu. Sentuhannya terasa jauh lebih baik daripada yang biasa dia terima. Tentu saja tangan Kasper tidak selembut itu, tapi ini jauh lebih dari itu. ini adalah tehnik yang digunakannya; seakan-akan dirinya bukanlah seorang petarung yang terbuat dari otot-otot keras yang membutuhkan penanganan kasar, dorongan jari, tapi seorang pria yang membutuhkan pijatan lembut setelah hari yang panjang.
Ia mendengar isakan lembut, dan ini membuat otaknya kembali bertanya-tanya, apa yang sudah membuatnya sekacau ini. Tumbuh sebagai kakak kedua Kyungsoo, membuatnya menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk.
Apapun itu, Kyungsoo sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikannya, "Ah, sialan!"
"Maaf."
"Ya, betul." Katanya kecut. "Itu mungkin sebuah balasan karena menggunakan kelinci floppy-mu sebagai target panah."
Jongin tidak bisa melihat wajahnya, tapi ia mendengar ia tersenyum ketika bicara. "Aku lupa tentang semua itu. Yi Fan dihukum selama tiga hari dan ibuku harus menjahit semua lubang kecil itu secara bersamaan. Ibuku bilang dia adalah seorang pahlawan perang yang harus dioperasi untuk ditambal sebelum menerima medali dari presiden."
"Ibumu selalu pandai bercerita. Aku dan Yi Fan memintanya untuk memberikan semua informasi latar belakang misi pura-pura kami ketika kecil."
"Ibu adalah hal yang paling spesial. Aku merindukan dongeng sebelum tidurnya."
Orangtua Kyungsoo meninggal karena kecelakaan mobil pada musim panas, setelah Jongin dan Yi Fan lulus dari SMA, dan Kyungsoo berumur tiga belas tahun. Yi Fan memutuskan untuk mengurus Kyungsoo dari pada menyerahkannya pada sanak saudaranya, itulah sebabnya karirnya di MMA tidak sejauh Jongin. Itu adalah hal yang sangat terhormat, dan jelas ia sudah melakukan pekerjaan yang baik juga.
Namun kemudian kenyataan itu menyentak Jongin. "Ini karena seorang pria, kan?"
Tangannya berhenti sesaat, tapi ini sudah cukup sebagai jawaban yang ia butuhkan. "Apakah nyeri jika kutekan di sini?"
Seperti sensasi terbakar yang parah, sebuah kemarahan asing muncul sebagaimana pada umumnya kebanyakan pria, sampai-sampai ia tidak bisa mengarahkannya pada orang yang pantas. Ia mendorong tubuhnya dengan lengan kirinya, hingga berhadapan dengan Kyungsoo.
"Apa yang kau lakukan? Aku belum selesai."
"Tidak sampai kau katakan siapa orang itu dan apa yang sudah ia lakukan." Geramnya.
"Jongin."
"Quid pro quo, Kyung. Katakan padaku siapa yang membuatmu menangis, dan kenapa. Dan aku berjanji akan mencarinya, memburunya, dan menendang giginya masuk ketenggorokannya untuk menunjukannya padamu."
Dia hampir menyesali ancaman kasarnya ketika wajah Kyungsoo memucat, tapi jika ini adalah satu-satunya jalan untuk mengetahuinya, maka ia tidak peduli. "Kemari, duduklah di sini, kita akan bertukar tempat." Katanya sambil berdiri.
Ketika Kyungsoo membuka mulutnya untuk membantah, Jongin menyipitkan matanya, untuk menunjukan padanya bahwa ia tidak sedang main-main. Kyungsoo menghela nafas pasrah dan melakukan apa yang Jongin katakan, meskipun tidak dengan senang hati.
"Nah sekarang kau pasiennya," terlepas dari rasa sakit yang disebabkan pada bahunya, ia menguatkan tangannya di kedua sisi pinggulnya, mencegah pemikiran Kyungsoo untuk melarikan diri sepertinya adalah sebuah alternatif yang baik. "Jadi, Miss Do," katanya sambil menatap mata abu-abunya yang lembut. "Katakan padaku dimana yang sakit?"
.
.
.
Kyungsoo masih tidak bisa percaya jika saat ini Jongin berada di ruang terapinya. Ketika mereka kecil, ia terus membuntuti kakaknya hanya untuk berada di hadapan sahabat baik kakaknya. Namun, karena Jongin memperlakukannya sebagaimana seorang kakak, itu mencemaskan hati mudanya, dia selalu mendongak pada Jongin dan Yi Fan.
Sekarang ia dalam masa yang sulit untuk mengalihkan pandangannya dari Jongin.
Dia sudah cukup berotot ketika di SMA, tapi ini luar biasa. Pria ini mendefinisikan kembali ide kesempurnaan dari Michel Angelo, membuat patung David yang justru terlihat seperti pengecut. Rambut pirang gelapnya di potong pendek dan disisir kedepan dan ketengah. Membuat elang tiruan terkecil, dan membuatnya tampak lebih baik jika dilihat dari samping. Dan tato itu.. Ya Tuhan, tato itu...
Desain tribal hitam menenun pola rumit di sekitar lengan atas kanannya, melewati bahu dan otot-otot dadanya, dan melingkar di pertengahan sisi kanan lehernya. Di bagian bawah tulang rusuknya tertulis Fight to Win dalam huruf latin, berakhir di otot yang memotong diagonal dengan...
"Kyungie-a"
Kyungsoo bertemu dengan mata coklat cerdasnya. "Hmm?"
"Kau akan mulai bicara atau aku harus kembali menggelitikmu?"
Bagus, Kyungsoo, benar-benar halus. Sadarlah, ini hanya Jongin.
Dia memutar matanya dan berpaling, berharap Jongin tidak melihat air mata yang yang ia tahan. Ia tersenyum, perlu mengembalikan pembicaraannya tetap ringan. Kyungsoo perlu membuat Jongin tidak memaksanya untuk menceritakan apa yang terjadi. "Aku bukan gadis delapan tahun lagi Jongin. Jika kau terus seperti ini, aku akan menamparmu dengan gugatan pelecahan seksual."
Dengan lembut Jongin menyentuh dagunya, memiringkan kepalanya ke belakang dan menatap matanya, dan dengan hanya memanggil namanya sekali. "Kyungsoo," pertahanan air matanyapun hancur dan membiarkan air mata pertamanya turun.
"Ya Tuhan, ini sangat bodoh. Sungguh, bukan apa-apa." Katanya sambil mengusap air matanya penuh kekesalan dengan jemarinya.
"Ketika seorang pria membuat wanita menangis, itu tidaklah sepele."
"Dia tidak bermaksud; dia bahkan tidak tahu jika ia melakukannya, hanya saja.." Kyungsoo mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan napas gemetar. "Aku sudah jatuh cinta padanya selama bertahun-tahun tapi ia tidak pernah menyadarinya. Well, tidak seperti itu juga. Hanya saja, tepat sebelum kau muncul, dia meminta nomor telepon sahabat baikku. Dia ingin membawanya ke pesta amal rumah sakit."
"Apakan wanita itu akan pergi?"
"Tidak, Luhan tidak akan pernah melakukan hal itu padaku. Sangat menyakitkan ketika mengetahui ia sudah bertemu sekali dan sejak itu ia ingin mengajaknya berkencan. Kami sudah menghabiskan banyak waktu untuk bekerja sama, hanya saja ia tidak pernah melihatku."
"Jadi tentu saja dia adalah seorang bajingan buta."
Kyungsoo mendengus dan menggelengkan kepala. "Kau tidak tahu siapa Sehun. Pria yang memiliki pesona lebih banyak dari pada sebagian dari Renop. Dia adalah ahli bedah ortopedi yang menakjubkan yang selalu bisa lebih dekat dengan pasiennya. Dia pintar, sukses, dan sangat tampan. Aku tahu aku bisa membuatnya bahagia jika saja ia memberikanku sebuah kesempatan."
"Jika dia terlalu lambat untuk bergerak, mengapa kau tidak memulainya terlebih dulu?"
Wajahnya memanas, ia langsung menundukan pandangannya, menatap jarinya yang bertautan. "Aku tidak bisa. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Dan kalaupun aku melakukannya, dan seandainya dengan sebuah ke ajaiban dia mengatakan iya, aku..."
"Kau apa?"
"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan," bisiknya.
"Lakukan?" Jongin mencoba berpikir apa yang dimaksudkan oleh Kyungsoo, tapi dia tidak tahu. Kecuali, " Kyungsoo kau pernah berkencan setelah perceraianmu, kan?"
"Ini konyol, Jongin, biarkan aku turun."
Jongin tidak bergeming. "Kau pasti bercanda. Kau tidak punya pacar?"
"Aku harus memberitahumu Kim, ketidak percayaanmu membuatku tidak ingin membicarakan masalah ini denganmu, jadi biarkan saja masalah ini dan kami akan membuatkanmu jadwal untuk minggu depan."
.
.
.
"Oke, Oke, maafkan aku," katanya, menempatkan tangannya di lengan atasnya. Ia meringis ketika rasa nyeri menyerang bahunya. Ia tidak bermaksud untuk membuatnya lebih terganggu dari sebelumnya. Ia mengerjapkan matanya karena sakit itu. "Tunggu, apa maksudmu dengan 'minggu depan'? Bukankah setidaknya kita mempunyai sesi harian?"
"Untuk sebagian besar, Ya. Tapi karena sekarang hari jumat, kita akan memulainya minggu depan. selain itu, kau bukanlah satu-satunya pasienku. Aku memiliki jadwal yang padat."
Sial, sekarang apa? Jongin membutuhkan lebih banyak perhatian daripada hanya sekedar beberapa hari dalam seminggu.
"Mungkin kau harus menyewa PT yang berdedikasi. Kau tahu, seseorang yang bisa bersamamu selama 24 jam, 7 hari seminggu. Untuk bekerja bersamamu dan menjagamu dari overtraining. Jika kau masih seperti yang kuingat, kau tidak memiliki konsep untuk menahan diri."
"Sempurna. Itulah yang kubutuhkan. Dengan jenis perawatan seperti itu, aku akan siap untuk bertarung pada malam pertarungan." Ia melangkah mundur dengan senyum puas dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. "Aku akan mengirim seseorang untuk menjemputmu dan barang-barangmu nanti."
.
.
.
Kyungsoo sudah turun dari atas mejanya dan sekarang ia memutar kepalanya dengan begitu cepat membuat Jongin khawatir mungkin Kyungsoo akan membutuhkan sebuah terapi untuk memperbaiki salah uratnya. "Apa?"
"Ini hanya akan masuk akal jika kau tinggal bersamaku sampai aku sembuh, Kyung. Ayolah, dulu aku juga pratis tinggal ditempatmu sewaktu kecil. jadi kita bisa melakukan terapi dengan bahuku lebih sering dan kau bisa memastikan aku tidak melakukan hal bodoh. Dan kau tahu sendiri, aku dijamin akan melakukan hal bodoh."
Jongin menonton Kyungsoo yang berjalan melintasi ruang kecil itu untuk mengambil bajunya. "Meskipun gagasan tentang tinggal bersamamu selama dua bulan itu tidak menggangguku, tapi ada masalah kecil dalam pekerjaanku."
"Aku akan membayar untuk waktu luangmu, tentu saja. Dua kali lipat jika kau mau uang bukanlah masalah."
Kyungsoo memberikannya perintah memakai baju dengan gerakannya melemparkan baju ke dadanya. "Tentu saja kau benar; uang bukanlah masalah. Aku punya setidaknya delapan minggu waktu liburan yang belum terpakai, semenjak aku tidak memiliki alasan untuk mengambilnya. Masalahnya adalah bahwa ide itu sangatlah menggelikan!"
Jongin harus berpikir cepat, atau dia akan kehilangan kesempatan ini, dan sesuatu di dalam hatinya menekannya agar tidak kehilangan kesempatan ini. Dia membutuhkannya dimanapun yang ia inginkan selama dua bulan ini. Dia begitu yakin seyakin namanya. Tiba-tiba trik yang sempurna muncul di benaknya, dan meskipun gagasan ini memberikannya kegembiraan dan kecemasan dengan jumlah yang setara, ia tetap mencobanya.
"Aku akan mengajarimu bagaimana mendapatkan dokter itu jika kau melakukannya untukku."
Kyungsoo sudah dalam perjalanan keluar dari ruangan pemeriksaan, ia sudah menolaknya. Jongin dan tawaran menjadi teman serumahnya, tapi kata-kata sederhana itu bisa membuat tubuhnya terpaku beberapa meter dari ambang pintu. Kyungsoo sudah terpancing, sekarang ia hanya perlu menariknya hati-hati, atau ia akan kehilangan wanita itu dan kesempatannya untuk pertandingan ulang. Dia mendekatinya perlahan-lahan dari belakang saat ia bicara.
"Aku akan mengajarimu bagaimana bersikap, apa yang harus dikatakan, apapun yang kau perlu ketahui untuk membuatnya menyadari keberadaanmu. Ada satu hal yang kutahu, apa yang wanita lakukan yang bisa membuat pria benar-benar memperhatikannya."
Kepalanya menoleh ke samping. Bukan gerakan besar, tapi cukup untuk membuatnya tahu bahwa ia sudah mendapatkan perhatian wanita itu.
"Dia akan tunduk dan melakukan apapun maumu dalam waktu singkat. Aku jamin itu."
Waktu berjalan bagai slow motion. Denyut nadinya berpacu di telinganya ketika ia menunggu Kyungsoo meneriakinya idiot atau kemarahan yang besar. Dan Yi Fan akan mengulitinya hidup-hidup karena mengajari Kyungsoo caranya merayu, seharusnya ia memikirkan dua kali tentang tawarannya, tapi dia tidak bisa menariknya kembali.
Dia menggelengkan kepalanya, seakan menolak pikirannya sendiri. "Maaf, tapi..."
Sebelum Kyungsoo mengatakan kata penolakannya, seorang pria berambut gelap menjulurkan kepalanya dari pintu. "Kyungsoo-ssi, aku minta maaf mengganggu, tapi aku sepertinya sudah menghapus, uh..." pria itu melirik Jongin dan berdeham. "Nomor telepon pasien yang kau berikan sebelumnya. Karena aku dalam perjalanan keluar, kupikir aku bisa mendapatkannya lebih cepat darimu. Aku membawa kertas."
Dasar. Brengsek. Butuh segala kendali diri untuk membuatnya tidak menghajar pria itu saat ini juga. Bahwa pria ini adalah satu-satunya yang ia sukai dan tidak mungkin ia memperkenalkan dirinya sebagai dokter Clueless Dumbass.
Jongin menyaksikan Kyungsoo menatap lama pada dokter itu, hampir seolah-olah ia terjebak dalam suatu monolog internal dan lupa bawa waktu masih berputar di sini, di dunia nyata. Sesuatu tentang memberikannya nomor pasien itu sudah membuatnya terguncang. Ketika pria itu berdeham dan mengulurkan kertas, Kyungsoo tersadarkan.
"Tentu saja dokter Oh," setelah dengan cepat menulis sebuah nomor telepon di kertas itu dia berkata. "Ini."
"Oke, terima kasih. Sampai jumpa lagi."
Jongin menunggu. Tiga detik berlalu... tujuh... dua belas. Pada akhirnya Kyungsoo menegakkan bahunya, berbalik dan berkata. "Kita sepakat."
.
.
.
.
T.B.C
Maaf jika kalian terlalu lama menunggu, ada sedikit hambatan untuk fast update ✌. Thanks buat yang udah mau review maaf gak bisa dibales satu persatu.
-Gomawo-
