Seducing Cinderella
by
Gina L. Max well
.
.
.
.
.
Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)
Cast : temukan sendiri :)
Genre : funny, sweet, Romance
Rate : M
.
.
.
.
Awas typo
.
.
.
.
Happy reading
.
.
.
.
.
Kyungsoo mencoba membuat dirinya kesal dengan teman seapartemennya yang baru. Tetapi Kyungsoo malah tersenyum seperti orang idiot. Dan berkata "Dasar sombong." Kyungsoo berpikir bahwa Jongin masih sama seperti dulu. Kyungsoo menggelengkan kepalanya dan kembali mencari baju renang miliknya. "Aha! Aku menemukanmu, anak nakal." Diangkatnya pakaian yang ia beli karena paksaan Luhan untuk liburan mereka, Kyungsoo mengernyit. Tidakkah ini terlalu berlebihan?
Dia menyukai warna biru keabuannya dengan motif sulur berwarna biru muda, tapi dia berharap sisinya tidak memiliki potongan setinggi ini. Potongan di kakinya setinggi tulang pinggulnya. Luhan mengklaim bahwa potongan itu akan menonjolkan pinggangnya, dan potongan leher yang rendah seharusnya menciptakan ilusi dada yang lebih besar. Ia mengangguk dengan patuh kepada nasehat tentang fashion dari sahabatnya, tapi memiliki keragu-raguan yang amat sangat bahwa sesuatu dapat ditonjolkan dari dirinya. Liburan mereka dibatalkan di menit terakhir saat satu kasus yang Luhan pegang di bawa ke ruang sidang secara tiba-tiba, jadi dia sangat bersyukur tak perlu mengenakan pakaian renang itu.
Kyungsoo mendesah dan berganti pakaian. Setidaknya pakaian renang itu satu set, yang mana bisa dikatakan pakaian itu terlalu berlebihan dibandingkan apapun yang Luhan pakai di sekitar kolam atau pantai. Semenit kemudian ia berdiri dihadapan cermin miliknya yang tinggi, menutup matanya, dan mencoba mengabaikan darah yang mengalir deras ke telinganya saat ia memanggil Jongin.
Pintu terbuka dengan suara derit kecil, tapi pria itu tak membuat suara saat ia bergerak diatas lantai. Keheningan membuat mulut gadis itu kering dan jemarinya berkedut di sisi tubuhnya. Dimana Jongin? Apakah Jongin mencoba untuk tidak tertawa? Oh Tuhan, mengapa dia membiarkan pria itu membuatnya melakukan semua ini?
Tiba-tiba Kyungsoo merasakan panas tubuh Jongin terasa di punggungnya. Jongin dekat. Sangat dekat. Bahkan deru nafas lelaki itu menggelitik rambut yang di sampirkan di telinganya, dan saat Jongin bicara, getaran dari suaranya berdesir di sekitar lehernya. "Buka matamu, sayang." ucap Jongin menyadarkan Kyungsoo dari semua pikiran yang berkecamuk di benaknya.
Dengan sengaja Kyungsoo membuka pelan kedua kelopak matanya hingga sekali lagi ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan Jongin berdiri di belakangnya. Tubuh pria itu membuat tubuh Kyungsoo terlihat ramping kalau dibandingkan dengan wanita itu. Kyungsoo tahu seluruh ukuran tubuh Jongin dari menonton semua pertandingan lelaki itu. Enam kaki (182 cm), seratus limapuluh empat pound (70 kg), sedikit lagi agar Jongin tak perlu menurunkan beratnya untuk pertandingan, dengan jangkauan tangan tujuhpuluh-enam inchi. Bagian atas bahu Kyungsoo sedikit di bawah ketiak Jongin, dan jika Kyungsoo membiarkan kepalanya jatuh ke belakang, maka kepalanya akan bersandar dengan nyaman di lengkung leher pria itu.
"Sekarang," kata Jongin, membawa Kyungsoo keluar dari observasi khayalannya. "Katakan padaku apa yang kau lihat."
"Bahu yang kuat. Dada yang kokoh. Lengan yang terbalut otot yang sangat sempurna dan membuatnya terlihat superseksi..."
Lelaki itu menyeringai pada pantulan tubuhnya di cermin dan suaranya berubah menjadi gemuruh rendah yang memberi getaran langsung ke puting Kyungsoo. "Kau pikir lenganku seksi, Kyung?"
"Mmm-hmmm." Mengapa dirinya terlihat seperti menyunggingkan senyum bodoh di wajahnya? Rutuk Kyungsoo dalam hati. Dan tentu saja ekspresi itu tidak seperti dirinya.
"Terima kasih. Aku akan berkata jujur padamu bahwa tak pernah ada seorangpun mengatakan hal itu padaku."
Well itu sangat memalukan. Kyungsoo baru saja akan memberitahukan pada lelaki itu , jika saja Jongin tidak secara tiba-tiba memotong pikirannya. "Maksudku, katakan apa yang kau lihat dalam dirimu, Kyungsoo."
"Oh." Mempelajari pantulan dirinya, yang Kyungsoo lihat hanyalah seorang wanita yang terjebak dalam tubuh seorang gadis yang mencoba sekeras mungkin untuk merubah penampilannya dan menantang kemustahilan. "Um. Aku melihat..." Apa yang Jongin ingin ia katakan? Tanyanya dalam hati. "Ini bodoh, Jongin. Aku tak mau melakukan ini lagi." Tolak Kyungsoo.
Saat Kyungsoo berbalik dan akan pergi, Jongin langsung menggenggam pinggul Kyungsoo dan memaksa wanita itu untuk tetap ditempatnya. "Aku akan memberitahumu apa yang aku lihat." Ucap Jongin sambil melihat pantulan mereka berdua di cermin. "Aku melihat wanita cantik yang bersembunyi dibalik rasa tidak aman yang tidak seharusnya tinggal berlama-lama di dalam kepalanya." Jongin diam sejenak untuk melihat reaksi Kyungsoo.
Gadis itu merunduk menatap lantai saat mendengar kata-kata Jongin, tapi jari-jari yang kuat mengangkat dagunya. "Aku melihat tubuh dengan kulit putih yang mulus dan lekuk tubuh halus yang memaksa seorang pria menutup matanya dan membayangkan menelusuri tubuh ini layaknya seorang pemahat pada subjeknya." Lanjutnya.
"Benarkah?" suara Kyungsoo melengking.
"Tentu saja." Jongin menutup matanya dan meletakkan tangannya di bagian luar paha Kyungsoo, kemudian meluncurkan tangannya ke atas dalam gerakan lambat yang menyiksa. Kulit tebal di telapak tangan Jongin menggesek kulit Kyungsoo lembut, menanamkan ke dalam tiap syaraf sentakan energi yang tak pernah tahu bagaimana rasanya sebelumnya. "Sebelum seorang pemahat bisa menduplikasi keanggunan suatu subjek, pemahat harus mengingat subjek itu dengan kekuatan sentuhan, bukan bergantung pada lemahnya pandangan mata."
Bibir Kyungsoo terbuka saat nafasnya keluar lebih cepat dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Mungkin lebih. Tangan Jongin melanjutkan eksplorasinya di tubuh Kyungsoo, mencakup daerah pinggang dan bergerak ke sisi tubuhnya dengan sentuhan lembut seperti layaknya seorang pria yang memegang kendali. Seorang pria yang tahu apa yang sedang diinginkannya, dan Jongin mengambil kesempatan itu tanpa belas kasihan.
"Saat tangan pemahat bergerak ke setiap sudut, setiap lekuk, setiap lembah... tubuh seorang wanita terbentuk dalam pikiran seorang pemahat,( Jongin, menanamkan setiap otot di memorinya,) jadi seorang pemahat bisa menduplikasi wanita itu meskipun ia buta."
Kyungsoo pikir pakaiannya akan membatasi sensasi sentuhan yang berlebihan daripada kontak kulit-ke-kulit... tapi kemudian tangan itu meluncur ke perutnya dan semua rasa lega yang Kyungsoo rasakan langsung terlempar ke neraka. Tangan yang selebar tangan Jongin, saat ditempatkan ke bagian tengah tubuh mungil Kyungsoo, dengan mudah membentang ke seluruh tubuhnya.
Kyungsoo tak yakin apakah ini karena anggur atau faktanya bahwa Kim Jongin, sahabat kakaknya yang superhot dan pria yang ia sukai saat remaja, menyentuhnya dengan sangat intim dan menyebabkan pengalaman yang diluar-khayal-tubuhnya. Dari jauh Kyungsoo melihat saat jari kelingking kiri Jongin menjelajahi puncak gundukannya, terlalu tinggi untuk dianggap tak berdosa, tapi terlalu rendah untuk menyebabkan puntiran di perutnya dan membuatnya menekan kedua pahanya bersamaan dan mengigit bibirnya untuk mencegah erangan yang tak ingin terdengar. Dan jika itu belum cukup, jempol kanan Jongin mengelus alur diantara payudaranya.
Jongin menenggelamkan wajahnya ke rambut Kyungsoo, ia menghirup dalam-dalam dan mengeluarkan suara berupa campuran erangan dan geraman, yang mana merupakan suara paling erotis yang Kyungsoo pernah dengar. "Sialan kau berbau harum."
Lutut Kyungsoo bergetar. Kekuatannya untuk berdiri menghilang. Kabut tebal telah bertiup ke dalam pikiran Kyungsoo, berpikir jernih jelas sudah tak mungkin terjadi. Melepaskan benteng terakhirnya, Kyungsoo membiarkan kepalanya terjatuh kebelakang dan mengarah ke samping saat nafas Jongin yang panas terhembus di dekat daun telinganya.
Tangan Jongin mulai menggenggam, jari-jarinya menusuk ke dalam kelembutan tubuhnya. Kyungsoo mengucapkan nama Jongin dalam rintihan...
Dan semuanya terhenti.
Dengan sumpah serapah tertahan Jongin memegangi tangan Kyungsoo menyeimbangkan tubuh wanita itu saat Jongin mencoba menjauh. Setelah yakin bahwa Kyungsoo tak akan menabrak cermin dengan mukanya, Jongin melepas tangannya dan mengelap wajah dengan telapak tangannya, kemudian bergidik dan memegangi bahunya yang terluka. "Aku benar-benar minta maaf, Kyungsoo. Aku, Sial, aku tak tahu apa yang merasuki tubuhku. Aku tak bermaksud melakukan semua itu."
Bam! Oh, bagus. Realitas sudah kembali. Kyungsoo mengayunkan tangannya di udara dan memberi Jongin sinyal untuk berhentik, dan helahan nafas Kyungsoo yang terdengar berat terhembus melalui bibir. "Jangan pernah berpikir tentang hal itu Jongin. Aku lebih mabuk dari pada kau jadi aku dengan mudah terbawa suasana, dan kau menutup matamu, jadi kau tak bisa disalahkan karena bergairah saat membayangkan aku sebagai orang lain." Mencoba untuk tidak terjatuh dan bersikap tolol, Kyungsoo berjalan untuk mengambil piyama di lantai.
"Kyung..."
Kyungsoo memasang senyuman, dan berbalik. Ada beberapa saat dimana Kyungsoo mungkin akan kilaf. Atau tidak membuat bola matanya tercongkel dari tempatnya jika kedua bola matanya masih memperhatikan dari wajah hingga bagian tubuh bawah Jongin. Kyungsoo mungkin saja mabuk dan kehilangan rasa malu, tapi ia masih ada harga diri untuk mengontrol hasratnya agar tidak berbuat konyol dengan meminta pria itu menyetubuhinya saat itu juga. "Sejujurnya, Jongin, ini bukan apa-apa. Aku hanya lelah. Ini minggu yang panjang." Sanggah Kyungsoo mencoba menghilangkan kecanggungan di antara mereka berdua.
Sekali lagi Jongin mengelap wajahnya sebelum pria itu menaruh kedua tangan di pinggang dan memperhatikan Kyungsoo cukup lama. "Okay, yeah, aku rasa kita berdua harus pergi tidur. Maksudku kita harus pergi ke tempat tidur. Tidur! Sial." Jongin merutuki ketidak mampuanya untuk berbicara dengan benar.
Yep. Jongin sangat payah dalam permainan memilih-kata dan pengutaraannya saat pria itu berana di situasi yang membuat pria itu merasa tidak nyaman atau saat pria itu dipaksa untuk berbicara dalam keadaan canggung. Kyungsoo harus ingat untuk tidak berpasangan dengan Jongin saat bermain Taboo! atau Catch Phrase.
"Selamat malam, Jongin." ucap Kyungsoo untuk memberhentikan pembicaraan konyol diantara dirinya dan Jongin.
"Malam, Kyungsoo." Balas Jongin lalu segera pergi dari kamar Kyungsoo.
Segera setelah pintu ditutup, Kyungsoo mengalahkan rekor mengganti bajunya saat dalam keadaan mabuk dan langsung bergerak ke bawah selimut. Dia bersyukur tak perlu menggosok gigi lagi karena dia sudah melakukannya setelah mandi tadi. Karena jika ia meninggalkan kamarnya hanya untuk memakai kamar mandi dan mengambil resiko meliwati kamar Jongin, ia tidak sangup untuk bertemu dengan pria itu untuk saat ini.
.
.
.
.
Jongin fokus pada suara kakinya saat menyentuh lantai treadmill, ritme dentuman menjadi sebuah soundtrack therapi pada hukuman yang ia berikan pada tubuhnya.
Meskipun ia sudah mengatakan pada Kyungsoo ia akan tidur, tak mungkin ia bisa melakukannya hingga ia mengeluarkan energi yang terpendam yang di hasilkan dari pelajaran pertama yang berubah kacau untuk Kyungsoo. Ia tak bisa menghitung lagi sudah berapa sering ia memutar kejadian itu dikepalanya seperti DVD yang terjebak mengulang-ulang tanpa memiliki tombol off.
Matanya tertutup hampir di sepanjang pengalaman itu, tapi ia tidak berbohong saat ia mengatakan bahwa tangannya akan menciptakan bayangan mereka berdua di dalam pikirannya. Sudah hampir satu dekade sejak tangannya menyentuh media pahat apapun, tapi tangan itu tidak pernah lupa bagaimana mengingat setiap detail dari sebuah subjek. Tidak lupa bahkan dengan pengaruh alkohol.
Saat keringat membanjiri tubuhnya, ia mencoba untuk memutuskan momen yang tepat saat pelajaran itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar gairah. Bahkan, jika dia harus jujur pada dirinya sendiri, itu mungkin sudah terjadi sejak ia menginjakkan kakinya di kamar itu dan melihat Kyungsoo dalam pakaian renang satu-set yang seksi, matanya yang tertutup, dan menunggu dirinya di depan cermin.
Kyungsoo tak pernah menonjolkan tubuhnya seperti gadis lain. Kyungsoo sebenarnya lebih mirip kutu buku dan sepertinya lebih nyaman berdiri di bawah bayangan dari pada seseorang yang suka menjadi sorotan, sama seperti kakaknya. Saat remaja, Kyungsoo sudah seperti adik perempuan Jongin juga, membayangkan seberapa sering waktu ia habiskan di rumah keluarga DO.
Jadi mengapa perasaan sayang seorang kakak tiba-tiba lebih terasa seperti gairah sepasang kekasih? Sial! Jongin harus memikirkan apa yang harus ia lakukan pada pelajaran yang ia janjikan pada Kyungsoo, atau ini akan menjadi beberapa bulan yang terasa seperti di neraka. Melirik pada odometer di layar, Jongin memeriksa jaraknya untuk mengatur angka sepuluh dan membuat dirinya berjalan untuk pendinginan di atas treadmill.
Jarak. Itu dia. Ia harus tetap menjaga jarak saat mengajari Kyungsoo bagaimana menjadi dirinya yang baru. Mungkin selanjutnya ia akan menggunakan metode pengajaran profesional. Ia bisa berdiri di sisi lain ruangan dan Kyungsoo bisa duduk di sofa dan mencatat beberapa hal. Jongin tertawa keras saat ia membayangkan skenario menggelikan. Sampai saat Kyungsoo di skenario menggelikan itu tiba-tiba memakai seragam sekolah versi Britney Spears dan meminta bantuan di pelajaran Cara Menggoda nomor 101.
"Sial!"
Jongin memukul tombol STOP dan turun dari mesin itu. Bernafas cepat dan berat, ia membiarkan kesadarannya kembali dan menutup matanya, tapi memutuskan untuk membilasnya sebelum gambaran itu kembali. Sepertinya akan ada mandi air dingin sebelum ia tidur malam ini. Dan mulai besok, semua pelajaran akan benar-benar tidak ada sentuhan tangan dan setidaknya jarak diantara mereka berdua harus sejangkauan tangan Jongin.
.
.
.
.
.
T.B.C
Apakah bahasanya sulit untuk di mengerti. jujur saja aku memang hanya merubah namanya saja di chapter 1-3 tanpa menambah dan mengurangi dari cerita aslinya. setelah membaca salah satu review aku membaca ulang chapter 1-3 dan benar memang ada beberapa bahasa yang sulit untuk di pahami. Untuk itu aku minta maaf, dan di chapter 4 ini aku mencoba untuk merombak setiap kata yang mungkin sulit juga untuk di pahami. Aku harap itu berhasil untuk membuat kalian paham setiap alur cerita tanpa harus mengulangi membaca agar paham maksud dari cerita.
jangan sungkan untuk mengkritik dan memberi saran karena itu sangat berarti untuk membuat cerita yang lebih bagus meski ini FF remake.
Thank you :)
