Seducing Cinderella

by

Gina L. Max well

.

.

.

.

.

Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)

Cast : temukan sendiri :)

Genre : funny, sweet, Romance

Rate : M

.

.

.

.

Awas typo

.

.

.

.

Happy reading

.

.

.

.

.

"Tentu saja tidak!"

Jongin terkekeh dari tempat duduknya di depan ruang ganti department store ketika Kyungsoo mencoba pakaian kelima. Setelah sesi terapi pagi mereka dan tangan lumpuh Jongin sudah dilatih, mereka pergi keluar untuk makan siang. Melihat cara Kyungsoo bersikap di depan publik adalah sebuah penyiksaan bagi Jongin. Dia cenderung bereaksi bukannya berpartisipasi di dalamnya, atau bahkan berinisiatif. Ketika diajak bicara, ia menjawab. Ketika diberi sesuatu, dia menerima. Tapi ketika dunia tidak berinteraksi dengannya, Kyungsoo seperti berada di dalam gelembung. Wanita itu bahkan tidak melihat orang-orang di sekelilingnya ketika di restoran.

Untuk alasan apapun, Kyungsoo bersikap seolah-olah ia memang tidak perlu membuat riak ombak lagi di dalam kolam kehidupan ini. Bagaimana dengan Jongin? Pria itu lebih suka pendekatan yang agresif, tapi Jongin tahu hal itu bukan untuk semua orang. Jika Kyungsoo ingin dokter sialan itu memperhatikannya, biar bagaimanapun, Kyungsoo harus membuat percikan kecil. Untuk itu, Jongin memulai dengan mengubah penampilan luarnya terlebih dulu.

Ketika mereka selesai makan siang, Jongin mengatakan pada Kyungsoo tentang rencananya untuk membawa Kyungsoo berbelanja pakaian baru. Tentu saja Kyungsoo mengatakan tidak, tapi ketika Jongin mengancam untuk membakar setiap helai pakaian di lemari miliknya, akhirnya dengan enggan Kyungsoo berubah pikiran.

Jongin sangat terkejut ketika tidak menemukan sehelai pun pakaian yang layak di lemari Kyungsoo. Jelas terlihat wanita itu memang memiliki masalah dengan tubuhnya, meskipun dalam pola pikir Jongin, ia masih tidak tahu mengapa. Tubuh Kyungsoo ramping dan fit. Payudararanya kecil, dan Jongin harus menumbuhkan rasa percaya diri wanita itu jika Kyungsoo berpikiran bahwa setiap pria ingin bermain dengan sepasang payudara Selena Gomes. Tapi Kyungsoo adalah seorang wanita yang sangat cerdas, sehingga seharusnya wanita itu mengetahui bahwa hal itu konyol, kan?

"Nona Kyungsoo, mari lihat ini." Asisten wanita yang melayani mereka telah memilih semua pakaian yang menonjolkan tubuh Kyungsoo dan bukan menyembunyikannya. Jongin menyetujui semua yang telah dicobanya. Dari celana jeans pendek berkancing untuk musim panas, Kyungsoo terlihat menarik dalam setiap pakaian yang telah dicobanya.

"Tidak. ini berlebihan Jongin, aku akan melepasnya." Teriak Kyungsoo dari ruang ganti.

Karena asisten mereka sedang membantu pelanggan lain, Kyungsoo mengasumsikan bahwa itu adalah "Little Black Dress" yang Kyungsoo pikir harus ada di setiap lemari setiap wanita. "Entah kau keluar, atau aku yang masuk. Tidak masalah bagiku." Balas Jongin.

Kyungsoo mendesah putus asa dan menggerutu menyuarakan nama Jongin bercampur ancaman yang sangat tidak menyenangkan pada kejantanan pria itu. Namun Jongin tersenyum. Jongin tidak bisa menahan Kyungsoo; karena menurut Jongin, Kyungsoo sangat menggemaskan ketika marah.

Akhirnya Kyungsoo membuka pintu kamar ganti dan berjalan beberapa langkah hingga berdiri di hadapan Jongin, ia meletakan tangannya di pinggul dan menatap Jongin. "Ini tidak sopan." Protesnya dengan kedua tangan yang terangkat seolah-olah mengatakan "Kau bercanda dengan ini?".

Jongin mengamati dengan pelan dan tidak bisa melihat bahwa itu bisa dikatakan tidak sopan. Bahkan ia sangat kecewa. Meskipun bahan tipis gaun itu membungkus tubuh Kyungsoo seperti gaun malam yang seksi, bagian depannya menutup sepanjang tulang selangkanya dan tidak menunjukan kulit apapun sampai berakhir di paha.

"Itu bukannya tidak sopan sayang," katanya sambil bersandar ke bantal dan menyilangkan tangannya di depan dada. "Itu di sebut membosankan," komentarnya santai

"Oh, benarkah?" Kyungsoo berputar untuk memunggung pria itu, yang membuat Jongin seketika lupa bagaimana caranya untuk bernafas dengan baik.

Bagian depan gaunnya memang kurang menarik, namun bagian belakangnya lebih imbang. Seluruh punggungnya terbuka dengan pengecualian tali spageti tunggal yang melintasi bahunya, menghubungkan kedua sisi gaun. Bahan itu mengikuti garis punggung Kyungsoo dengan sisi kanannya menyapu bagian bawah punggung wanita itu hingga berhenti tepat di bagian atas pinggul kirinya. "Ya Tuhan." Pekik Jongin.

"Seperti yang kubilang," Kyungsoo berjalan kecermin tiga sisi, dan membiarkan tangannya jatuh di sisi tubuhnya.

Jongin pindah berdiri di belakang Kyungsoo. Jari-jarinya gatal untuk menelusuri lekuk tulang punggung wanita tersebut. Jongin tidak bisa menahan untuk bertanya-tanya bagaimana reaksi Kyungsoo pada hal itu, dimana orang bisa melihat mereka, dan tidak pula sedang mabuk karena anggur. Apakah Kyungsoo akan menarik diri dalam keterkejutan dan rasa malu? Atau apakah Kyungsoo akan bergetar dan melengkung karena sentuhannya?

Ketika Jongin sadar bahwa ia menempatkan dirinya dalam bahaya mengalami ereksi meskipun percaya pada keyakinannya malam kemarin, Jongin meletakkan pikiran seksualnya di penggalan, berharap membunuh pikiran itu sebelum merusak puasa yang ingin ia lanjutkan demi kepentingan Kyungsoo.

Hentikan itu, Brengsek. Rutuknya dalam hati.

"Kau sedang tidak memberi T&A peekaboo show (pamer payudara & pantat) pada siapapun, Kyungsoo."

"Tapi.."

"Cukup. Tidak peduli kau percaya atau tidak, tapi gaun ini seksi dan berkelas." Tatapan Jongin jatuh pada sosok Kyungsoo di cermin yang terbuka untuk dipandang oleh seluruh dunia. "bagian belakang adalah salah satu favoritku dari tubuh wanita. Aku suka menelusuri dan menjilati garis dangkal tulang punggungnya, dari atas dan terus turun ke lekuk kembar dibagian di dasar punggung." Jongin nyaris tidak bisa menghentikan dirinya untuk menambahkan bahwa ia juga senang melihat gerakan tulang belikat kekasihnya ketika ia meletakkan tangan di atas kepalanya untuk disetubuhi dari belakang.

Jongin mendongak dan mendapati matanya menyipit dan meneliti dirinya. "Maksudku, Kyungsoo, punggung wanita sangatlah anggun. Bukannya memalukan." Ketika Kyungsoo mengucapkan uh-huh yang tak jelas, Jongin berdeham dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. "Apa?"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya perlahan, tidak yakin apa yang akan Kyungsoo katakan pada Jongin. "Ada sesuatu yang lebih darimu, bukankah begitu?" pertanyaan itu meluncur dari bibir Kyungsoo begitu saja.

Jongin tersenyum dan mengangkat alisnya. "Aku bukan Trasformer, jika itu yang kau maksud."

Setidaknya hal itu membuat Kyungsoo tertawa ringan ketika Kyongsoo berbalik menghadap Jongin. "Tidak, maksudku, kau bukan hanya seorang petarung. Kau melihat sesuatu dari sisi yang berbeda dari kebanyakan orang. Ada sisi yang sangat artistik dalam dirimu." Ungkap Kyungsoo yang terdengar seperti sebuah pujian.

Tidak ada yang pernah mengatakan hal itu kepada Jongin sebelumnya. Ini seperti seluruh aspek kehidupannya sudah menghilang sejak pria itu melakukan apapun kecuali bertarung.

Bukan berarti Jongin tidak mencintai olahraganya, tapi terkadang Jongin berharap itu bukanlah satu-satunya yang Jongin lakukan. Jongin mengangkat bahu. "Mungkin aku memang pernah. Ketika SMA aku mencoba untuk mengambil mata pelajaran pertokoan, tapi karena beberapa kesalahan aku ditempatkan di kelas seni. Aku tidak bisa melukis dengan baik, tapi aku belajar bagaimana membuat sketsa dan menggambar dengan cukup baik. Dan kemudian kami memahat patung.." Jongin menegang ketika mengingat ketidak setujuan ayahnya membanjiri kepalanya. Sebenarnya sedikit sulit untuk Jongin mengingat tentang pahatan itu tanpa kenangan tentang ayahnya yang mengacaukan semua perlengkapan dan studio sederhana buatannya sendiri.

"Jongin?" pria itu tersentak dari pikirannya, matanya mengerjap. "Bagaimana dengan patung itu?" Tanya Kyungsoo

"Sudahlah, itu tidak penting." Jongin berbalik untuk memanggil pelayan untuk mengumpulkan pakaian tersebut, tapi Kyungsoo meraih lengannya untuk menghentikannya, menempatkan dirinya di garis pandang Jongin lagi.

"Ya itu penting. aku bisa melihatnya di matamu. Ini sangat penting untukmu. Please, katakan padaku."

Kata-kata Kyungsoo dikombinasikan dengan jemarinya yang menekan telapak tangan Jongin, seperti infus hormon costisone secara mental. Ini sama sekali tidak memperbaiki masalah, tapi membuatnya mati rasa sudah cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jongin menghela nafas dalam-dalam dan menceritakan kisah yang hanya pernah ia ceritakan pada Yi Fan.

"Aku menikmati memahat. Aku menyukainya karena aku bisa membuat sesuatu dengan tangan yang sama untuk menghancurkan lawanku di ring. Kau betul. Aku melihat hal-hal secara berbeda. Aku tidak hanya melihat sebuah apel, tapi aku memperhatikan lekuk dan garis-garis yang membentuk apel itu sendiri. Termasuk memar di satu sisi yang membuat sedikit datar seukuran sebuah sidik jari. Tapi orang-orang tidak mau tahu sisi itu dalam diriku. Mereka ingin mengetahui apa yang kulakukan untuk menurunkan berat badan, rutinitas baru apa yang aku dan pelatihku lakukan, dan kurasa, aku akan pulang dengan tangan terangkat di pertandingan berikutnya. Itulah keahlianku. Itulah diriku."

"Tapi kau salah," kata Kyungsoo, melangkah sedikit ke depan. "Siapakah dirimu bukan hanya satu hal. Ini adalah semua yang kau sukai. Kau bisa menjadi pematung Jongin, dan sekaligus menjadi petarung jika itu yang kau inginkan."

Kelembutan dari keyakinan Kyungsoo membuat Jongin ingin memeluknya dan mencium bintik berbentuk hati di sudut bawah mata abu-abunya yang lembut. Mata yang menembus segala omong kosong dirinya dan melihat jiwanya secara sekilas.

"Kau tahu apa yang kuinginkan? Aku ingin makan." Jongin memanggil seorang pelayan wanita dengan tangannya. "Tolong bantu dia dengan label gaun yang satu ini. Dia akan langsung mengenakannya keluar toko. Kemudian kami akan mengambil semua yang sudah di cobanya. Terima kasih." Ucap Jongin

Ketika Jongin menyerahkan kartu kredit, Kyungsoo terbelalak menatapnya. Jongin sangat senang Kyungsoo mengenakan kontak lensanya hari ini. Ia terlihat seperti pustakawan seksi dengan kacamatanya, tapi ia lebih suka ekspresi mata abu-abunya tanpa terhalang. Bahkan meskipun ekspresinya tengah menunjukan rasa marahnya.

"Apa lagi yang salah?"

Dia menyilangkan tangannya di bawah payudaranya dan mengangkat dagunya. "Aku mungkin bukanlah selebriti besar UFC sepertimu, tapi aku tidak semiskin itu. aku akan membayar untuk pakaianku sendiri."

Jongin tidak pernah mengira Kyungsoo akan mengatakan hal itu. Jongin tidak terbiasa dengan wanita yang bersikeras membayar barang-barang mereka sendiri ketika bersamanya. Dia mempunyai banyak uang lebih yang dia sendiri tidak tahu harus digunakan untuk apa semua hasil pertarungan dan produk pendukungnya. Bahkan wanita itu bersikeras untuk membeli pakaiannya sendiri yang Jongin pilihkan menegaskan karakternya.

"Kyungsoo," kata Jongin menarik tangannya kebawah hingga ia bisa menggenggam tangan wanita itu, dengan efektif memecah bahasa tubuh yang menunjukan kemarahannya. "Aku tahu kau bisa membeli pakaianmu sendiri. Kau sukses, kuat, wanita mandiri yang tidak memerlukan orang lain untuk merawatnya."

Api di mata Kyungsoo sedikit meredup ketika ia berusaha untuk tetap bertahan. "Kau benar. Aku memang tidak butuh."

"Tapi, pakaian baru ini adalah ideku, jadi aku yang akan membelikan pakaianmu dan membawamu pergi makan malam."

Kyungsoo baru saja akan berkomentar ini seperti hal kesukaan seorang wanita, ya Tuhan kemudian Jongin menempatkan jarinya di bibir Kyungsoo dan berkata. "Tidak ada komentar. Aku akan pergi ke bagian departemen store untuk pria, dan mencari sesuatu yang lebih tepat dari pada celana pendek kargo dan polo ini. Dan beberapa ibuprofen (obat anti peradangan) untuk bahu sialan ini. Tunggu di sini dan aku akan segera kembali untuk menjemputmu."

Jongin menurunkan jarinya dan berbalik untuk pergi ketika Jongin mendengar,

"Tapi..."

Dengan geraman frustasinya, Jongin meraih tengkuk wanita mungil itu dan menarik tubuhnya ketika Jongin menanam bibir miliknya pada bibir Kyungsoo. Tubuh Kyungsoo kaku, lengkingan kaget keluar dari suatu tempat di dalam tenggorokan wanita itu. Tapi sedetik kemudian lengkingan kecilnya berubah menjadi sebuah erangan dan tubuhnya meleleh diatas tubuh Jongin. Di suatu tempat di dalam pikiran Jongin, hati kecilnya meneriaki kata-kata "pendekatan tanpa intervensi" tapi dengan cepat libidonya menjatuhkan hal itu ke matras, membuang segala pengingat yang tak diinginkan dengan tiba-tiba.

Bibir Kyungsoo terasa hangat di bawah bibirnya dengan rasa lipgloss strowberi yang dipakainya. Jongin yakin lidahnya akan terasa ranum dan manis, tapi nalurinya mengatakan jika ia menyebrangi garis itu maka ia tidak akan bisa berhenti. Sebelum ia lepas kendali terhadap kebutuhan primernya dan mendesak Kyungsoo ke ruang ganti terdekat dan menunjukan padanya seberapa bagus jika gaun itu tergeletak dilantai, Jongin menghentikan ciumannya untuk melihat tatapan kebingungan di wajah Kyungsoo. "Dasar wanita, apakah kalian harus terus berdebat? Cukup ikuti rencanaku atau taktik yang selanjutnya adalah tamparan pantat di depan umum."

Kyungsoo terkesiap dan menjauh dari Jongin dengan pipi memerah untuk menyesuaikan dengan bibir warna rubi yang baru saja dicium. Rupanya gambaran tangan Jongin di pantatnya adalah satu-satunya hal yang Jongin butuhkan untuk menakut-nakuti Kyungsoo. Benarkah hanya itu? setelah melihat lebih dekat Jongin bersumpah melihat kilatan birahi di mata Kyungsoo. Mungkinkah Kyungsoo yang polos memiliki setan kecil di dalam dirinya?

Sialan. Hanya pikiran itu saja sudah membuatnya mengeras di balik celananya. Jongin harus keluar dari sana. Cepat. Ketika ia bicara, ia terkejut mendengar getaran di suaranya. "Aku tidak akan lama," kemudian Jongin berputar dan melangkah keluar untuk menemukan toko pakaian pria terdekat dan sedikit waktu untuk menghilangkan ereksinya, dan sekarang ia sedang terangsang pada adik sahabatnya.

.

.

.

.

.

T.B.C

Apakah aku gagal remake FF ini :(

Yang mau ngasih kritik dan saran silahkan. Dan terima kasih buat kalian yang masih mau baca, review, follow, favorit FF ini. Terimakasih buat dukunganya.

See you next chapter. Di usahakan fast update.