Seducing Cinderella
by
Gina L. Max well
.
.
.
.
.
Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)
Cast : temukan sendiri :)
Genre : funny, sweet, Romance
Rate : M
.
.
.
.
Awas typo
.
.
.
.
Happy reading
.
.
.
.
.
Kyungsoo tak bisa mengingat kapan terakhir kali merasa segugup ini sebelumnya. Perutnya terpilin luar dalam, Kyungsoo mencoba melihat kebawah untuk memastikan bahwa dirinya dapat melihat kekusutan dimana pada perut yang rata.
Jongin menuntun Kyungsoo pelan dengan tangan yang besar pada punggungnya yang sebagian besar telanjang melalui labirin restoran sampai pemilik menunjukkan meja mereka. Setelah memegang bangku Kyungsoo dan duduk sendiri, Jongin berjalan dekat meja persegi berlinen pada bangkunya yang berseberangan dengan Kyungsoo.
Kyungsoo heran dengan cara bergerak Jongin yang anggun dan dengan mudahnya memakai pakaian mahal yang dia beli saat mereka keluar. Kemeja putihnya pas memeluk tubuhnya, menempel pada otot-ototnya setiap kali bergerak. Meskipun mereka berada di hotel bintang lima, Kyungsoo senang karena Jongin tidak benar-benar menggunakan pakaian resmi, membiarkan kancing atasnya tidak terkancing dan membiarkan kemejanya terbuka di atas jins gelapnya.
Dengan rambutnya yang disisir ke atas, menunjukkan garis depan kepalanya, dan tatonya terlihat melalui kemejanya, Jongin adalah simbol seorang badboy. Jelas merupakan kebalikan dari tipe pria kesukaan Kyungsoo. Meskipun entah bagaimana Kyungsoo menemukan Jongin benar-benar lezat.
Seperti ciuman pria tersebut.
Kyungsoo dengan cepat mengambil menu untuk menyembunyikan panas di seluruh wajahnya saat mengingat bibir Jongin di bibirnya. Ia tahu Jongin melakukannya untuk menutup mulut Kyungsoo tidak secara seksual tapi saat mulut Jongin menyentuh miliknya dunia di sekitarnya menjadi terlalu fokus hanya pada bibir Jongin. Sedikit reaksi, gerakan intim membuatnya terkejut, setidaknya begitu.
"Jadi apa yang kau inginkan?" kata Jongin.
Membersihkan tenggorokannya dengan hati-hati Kyungsoo menurunkan menu dan memilih yang pertama yang ia lihat. "steik terlihat enak."
"Itu terlihat enak, tapi aku pria penyuka Chicken." Pelayan datang dan meminta pemesanan minuman. "Whiskey sour untukku dan sebotol wine Moscato untuk adikku."
Pelayan itu terlihat tidak lebih tua dari dua puluh dua tahun untuk Kyungsoo yang dua puluh sembilan, tapi pelayan itu memberikan Kyungsoo senyum mengundang, kedipan, dan berkata, "Dengan senang hati. Saya akan kembali dengan wine Anda."
Diam, Kyungsoo menungu sampai pelayan itu keluar dari jarak dengar sebelum berkata, "Jika ini terlalu memalukan terlihat di tempat seperti ini denganku, kau seharusnya tidak membawaku."
Tangan yang sedang memegang gelas yang setengah di mulut Jongin menegang dan alisnya naik. "Kenapa aku harus malu terlihat dengan wanita cantik?"
"Ya, benar." Kyungsoo mendengus dan menyibukkan dirinya dengan membuka lipatan serbet gelap dari desain mustahil gaya origami. Kenapa restoran ini membuat orang merasa tidak layak sebelum minuman mereka datang?
"Aku melihat jenis wanita yang kau dan Yi Fan kencani. Mereka setara dengan fans wanita di rodeonya MMA. Bom seks berdada besar yang memiliki gelar master dalam Acrobat di kamar tidur." Setelah meletakkan serbet yang tak terlipat di pangkuannya, Kyungsoo melihat Jongin yang tetap terlihat bingung. Ia menghela nafas dan menjelaskan, "Kau memutuskan memanggilku adik di depan pelayan karena kau tidak ingin kencanmu ternoda dengan Plain Jane sepertiku."
Kyungsoo bersumpah ia mendengar Jongin menggeram dan jika wajahnya menunjukkan sesuatu, itu terlihat seperti Ia mungkin sedang membangunkan beruang tidur. "Mari kita perjelas satu hal," ucap Jongin, meletakkan gelas. "Aku tak ingin mendengar istilah Plain Jane yang mengacu padamu lagi. Pria manapun, termasuk aku, akan bangga memilikimu di pelukannya."
Meskipun Kyungsoo tahu reaksi Jongin sebagai suatu hal yang protektif, lebih seperti yang akan Yi Fan lakukan, ketulusan dalam suaranya menyentuh diri Kyungsoo... sampai pikiran lain kepalanya muncul setelah sekian lama bersembunyi. Sehun tidak memandangnya seperti itu.
Seperti membaca pikirannya, Jongin berkata, "Dan segera dokter milikmu akan mengeluarkan kepala dari pantatnya dan menyadarinya, juga." Jongin berhenti untuk mengibaskan serbet di pangkuannya dengan mudah. "Tapi untuk sekarang, kau harus main mata tanpa malu-malu dengan pelayan itu."
"Apa?" Kyungsoo berbisik sambil bersandar di meja. "Kau pasti tidak serius."
"Aku sangat serius. Kau lihat caranya melihatmu berubah ketika ia tahu bahwa kau bukanlah teman kencanku? Dia hampir berliur di meja kita."
"Kau pasti sudah gila. Tidak," Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Ketika Jongin hanya memberikan tatapan menyebalkan. Oh, benarkah? Kyungsoo langsung menghentikan diri untuk menancapkan garpu di kepalanya. "Demi Tuhan, apa tujuannya main mata dengan orang asing?" Tanya Kyungsoo
"Bermacam-macam, tapi pertama dan paling penting adalah, itu akan menunjukkan pada teman kencanmu bahwa kau menggairahkan orang lain. Ini pelajaran kedua: Pria selalu menginginkan apa yang tidak bisa mereka dapat, atau apa yang diinginkan pria lain. Itu adalah fakta ilmiah."
"Tidak."
"Well, seharusnya seperti itu," Jongin berkata menyeringai.
"Sekalipun kau benar, aku tak tahu bagaimana caranya menggoda, Jongin. Jadi ini tidak akan berhasil." Tidakkah restoran ini dingin? Ia hampir terbakar. Mungkin ia akan reda dengan sesuatu. Kyungsoo mengambil air dinginnya dan menelan beberapa tegukan, mencoba menenangkan perasaannya luar dalam.
"Itulah gunanya aku di sini, Sayang. Sekarang, ada dua jenis pendekatan. Bahasa tubuh dan kata-kata. Malam ini aku hanya ingin kau mencoba menggunakan bahasa tubuh. Kau bisa menceritakan cerita anak-anak Ibu Angsa, tapi jika kau memberikan sinyal yang benar, seorang pria tidak punya kesempatan."
Dengusan kecil keluar, tapi Kyungsoo segera menenangkan dirinya. Membersihkan tenggorokannya Kyungsoo berkata, "Jadi apa yang seharusnya kulakukan? Menyelipkan rambutku dan terkikik dengan nada tinggi pada apapun yang dia katakan?"
"Hanya jika kau berniat akan mendekati kapten tim football di SMA."
Kyungsoo memberikan evil eyes terbaiknya, berharap Jongin menghentikan gagasan anehnya. Kesempatan kecil.
Jongin bersandar, mengistirahatkan sikunya di meja dan menepuk tangannya ke depan. "Ini mudah Kyung. Memulai pembicaraan seperti yang biasa kau lakukan, tapi tambahkan sesuatu. Buat kontak mata dengannya dan tahan. Ketika matamu mengarah kemana-mana itu memberitahu orang lain bahwa kau gugup atau tidak nyaman. Kau harus menunjukan rasa percaya diri."
"Itu saja? Kontak mata? Aku bisa melakukan itu."
"Tidak, itu belum semua. Kau butuh untuk mengarahkan perhatiannya pada seluruh aset kecantikan yang kau punya." Kyungsoo memutar matanya, tapi Jongin membiarkannya dan melanjutkan.
"Untuk mengarahkan perhatiannya pada matamu, kau tahan tatapannya atau berikan dia sedikit pandangan di bawah bulu matamu. Pria akan gila ketika wanita bersikap malu-malu kucing."
Kyungsoo berpikir tentang semua wanita yang melakukan hal seperti itu ketika bicara dengan Sehun dan caranya membalas senyum sementara mereka sedang berpikir bagaimana berhubungan seks di otak mereka. Ia tidak pernah berpikir untuk menggunakan bahasa tubuh. Ia selalu menggunakan kepandaiannya dan berasumsi itu yang mereka bicarakan supaya terhubung.
Kyungsoo hampir saja memukul kepalanya sendiri. Seperti orang idiot. Tapi tidak lama lagi. Tentu, itu agak membuatnya kesal bahwa dia harus menggunakan tipu daya fisik untuk mendapatkan perhatian seorang pria.
Toh, itu adalah hal-hal intelektual ia menghargai tentang Sehun, dan dia berharap itu akan sama baginya. Tapi begitu dia mendapat perhatiannya dan ia merasa bahwa ada percikan dengan dirinya, sisanya pasti akan berjalan dengan sendirinya. Ide bagaimana dia belajar menciptakan koneksi dengan Sehun mulai membuatnya bersemangat.
"Malu-malu kucing, aku mengerti. Apa lagi?"
"Arahkan perhatiannya di mulutmu dengan senyum, makan, minum, menggigit bibir, menjilat bibirmu...sebenarnya itu tidak sulit untuk membuatnya fokus di sana karena salah satu yang pertama seorang pria pikirkan adalah bagaimana mulut seorang wanita saat berada di sekitar.."
"Jongin!"
Jongin besandar dan tertawa, bersuara, serak yang tak bisa membuatnya tenang. Secara mental Kyungsoo menambahkan "tertawa" sebagai cara mencari perhatian mulut seseorang saat matanya terpaku pada bibir penuh Jongin yang terbingkai sempurna, gigi putih. Dan memperhatikan mulut Jongin hanya membuatnya ingat akan ciuman panas yang Jongin berikan padanya di toko, yang membuat suhu ruangan meningkat beberapa derajat. Sial!
"Oke, di sinilah pria milikmu dengan minuman kita. Dia akan menunggumu untuk menerima wine. Aku ingin kau seperti Jessica Rabbit dan berikan dia pertunjukan."
Mulutnya ternganga lebar. "Kau menginginkan aku untuk bersikap seperti karakter kartun Who Framed Roger Rabbit?"
Ekspresi Jongin sebenarnya terlihat seperti dia tidak percaya keragu-raguannya pada pilihannya dalam dewi seks. "Dia seksi. Setiap pria ingin mendapatkan Jessica Rabbit."
Jongin benar-benar gila; pasti seperti itu. Lutut— berkedutnya bereaksi untuk membantahnya tapi terpotong karena pelayan sudah tiba. Pelayan itu menata minuman Jongin di depannya tanpa terlalu memperhatikan. Kemudian pelayan itu memberikan sebotol wine pada Kyungsoo, menerocos tentang tahun pembuatan dan asal kebun anggur seakan Kyungsoo tahu perbedaannya dan sesuatu yang keluar dari sebuah kotak, dan menuangkan sedikit untuk Kyungsoo untuk dicicipi dalam gelasnya.
Oke, aku bisa melakukan ini. Aku bisa. Jessica Rabbit...tenang, gerakan yang disengaja, tatapan di ranjang...tidak masalah. Oh, Tuhan, aku berkeringat. Rutuk Kyungsoo dalam hati.
Mencoba yang terbaik untuk melupakan peluh yang jatuh di antara payudaranya, dengan pelan Kyungsoo mengambil gelasnya, menahan pandangan pelayan itu, dan menyesap wine dengan ujung bibirnya. Rasa manis wine mengalir di lidahnya dan menyebar di tenggorokan dan perutnya. Kyungsoo menutup mata dan mendesah puas sebelum meletakkan gelasnya. Membuka matanya lagi, Kyungsoo tersenyum dan bertanya, " Maaf, siapa namamu tadi?"
"Jackson." pemuda itu menelan ludah dengan keras, jakunnya naik turun ditenggorokannya. "Nama saya Jackson."
Kyungsoo memainkan ujung rambutnya dan memberikan senyum yang ia harap memabukkan. " Well, Jackson, winenya manis, terima kasih. Biasanya kakakku agak kikuk, aku yakin kakakku bisa mengisi gelasku sementara kau melayani pelanggan lain. Kami akan membutuhkan beberapa menit untuk memutuskan pesanan kami."
Jackson membungkukkan tubuhnya dan tersenyum. "Tentu saja. Saya akan kembali sebentar lagi untuk mengambil pesanan Anda. Dan tolong, jika ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk Anda, jangan ragu untuk meminta."
Segera setelah Jackson pergi, Kyungsoo menghabiskan winenya dengan sekali teguk. Sementara itu, Jongin memberikan tepukan pelan. "Bravo, Sayang. Kau bisa memintanya untuk menjilat sepatumu dan dia akan berterima kasih untuk kesempatan itu. Bagaimana rasanya?"
"Mengerikan," Kyungsoo menggerutu sambil mengisi gelasnya.
"Ayolah. Aku tahu itu bukan kebiasaanmu, tapi jujurlah padaku." Jongin bersandar, lengannya berada di meja. " Jujurlah dengan dirimu sendiri."
Kyungsoo minum beberapa tegukan wine dan merasakannya mengalir di pembuluh darahnya, mengendurkan ketegangan tubuhnya. Menempatkan gelas di meja Kyungsoo bertemu pandang dengan Jongin dan memikirkan apa yang ditanyakannya.
Jongin benar. Kyungsoo tidaklah jujur.
"Itu...mengesankan. Menghanyutkan."
"Tepat sekali. Ingat, bahkan jika kau berkencan dengan dokter itu, tidak ada salahnya dengan sedikit rayuan diluar untuk mengingatkannya bahwa dia bukan satu-satunya ikan di laut. Sekarang, bawa mainanmu kembali kesini, karena aku lapar."
Sisa malam berlalu dengan percakapan yang ringan dan tawa rahasia dengan kekaguman Jackson pada Kyungsoo. Ketika Jackson memberi Jongin tagihan, Jackson menyelipkan kartu namanya dengan nomor tertulis dibelakangnya. Memang gila seperti kedengarannya, rasa pusing mengalir di dalamnya. Ini adalah pertama kalinya seseorang secara langsung tertarik padanya.
Kyungsoo akan menyimpan kartunya, mungkin melaminating dan menempelkannya ke dalam frame di cermin kamar tidurnya, tapi Jongin mengambilnya, melemparnya, dan meninggalkan di piring bekas mereka. Kyungsoo ingin membantah ketika Jongin berkata, " Kita sedang mengail si dokter orthopedik, ingat? Hal kecil seperti seorang pelayan, kita buang saja. Selain itu, dia tidak lulus inspeksi kakaknya."
Kyungsoo tidak bisa menahan tawanya. Apakah itu makanan yang enak, wine yang bagus, perusahaan yang bagus, atau kombinasi dari ketiganya, Kyungsoo merasa sangat tenang. Sesuatu yang jarang ia rasakan di luar. Mengeluarkan sedikit kepercayaan diri membuat ketagihan dan Kyungsoo tidak sabar menginginkan lebih.
Jongin berdiri dan memegang tangannya. "Ayo, pergi dari sini."
Kyungsok tersenyum dan menyelipkan tangannya pada Jongin dan melangkah menuju pintu keluar. Saat mereka berjalan di area tunggu Kyungsoo mendengar seorang anak berseru, " Ayah, lihat! Itu Kim Jongin!"
Berbalik Kyungsoo melihat seorang anak laki-laki tidak lebih dari sepuluh tahun berlari di tempat mereka dengan pandangan kagum di wajahnya.
Jongin mengepalkan tangannya pada anak itu untuk mengadu telapak tangannya. "Hei, pria kecil, bagaimana kabarmu? Kau penggemar UFC?"
"Benar! Kau adalah petarung favoritku!"
Kemudian Ayah anak itu datang. "Maaf mengganggumu, Mr. Kim. Saya pikir Mark hanya melihat sesuatu, tapi ternyata memang Anda. Kami adalah penggemar beratmu."
"Tolong panggil aku Jongin. Aku selalu senang melihat penggemarku. Kau berlatih Mark?"
"Uh-huh. Sekarang aku sabuk ungu di Tae Kwon Do, tapi aku ingin belajar bela diri yang lain sehingga aku bisa menjadi sepertimu saat besar nanti."
"Well, kau teruskan latihanmu dan berusaha keras dan aku tidak ragu kau akan menjadi seperti itu. Hanya ingat keahlian yang kau pelajari harus digunakan dengan bertanggung jawab dan jangan pernah menggunakannya untuk melawan orang lain di luar dojo (tempat bertanding)."
"Aku tahu. Senseiku mengatakan pada kami hal yang sama. Aku tidak percaya ini benar-benar kau! Oooohh Man, aku harap temanku ada di sini. Mereka tidak akan percaya aku bertemu danganmu."
"Begini saja, biarkan teman kencanku yang cantik ini memotret kau, aku, dan ayahmu. Dengan cara itu kau bisa mendapat bukti yang kuat."
"Assha!"
Kyungsoo sangat kagum dengan cara Jongin menuruti anak kecil itu ia hampir tidak menyadari Jongin sedang bicara dengannya. "Oh! Ya, itu ide yang bagus. Appa bolehkah aku menggunakan ponselmu?" Mark meminta sang Ayah.
Muka ayahnya murung saat ia melihat anaknya. "Maaf, Nak, aku meninggalkan ponselku di rumah supaya kita tidak terganggu saat makan." lelaki itu menjelaskan kepada Jongin," Saya hanya mengajaknya setiap minggu jadi saya tidak mau apapun mengganggu makan malam bersama kami."
Pandangan kecewa yang terlihat di wajah anak itu membuat Kyungsoo sedih. "Bagaimana kalau aku memotretnya dengan ponselku dan nanti aku akan kirimkan lewat e-mailmu. Bisa?" usul Kyungsoo memberi solusi.
"Ya, bisa. Terima kasih banyak." jawab Ayah Mark.
Jongin berpose dengan anak dan ayah itu dengan gambar yang bagus di depan aquarium ikan raksasa, dan Jongin menyarankan pose lucu hanya dia dan Mark. Kyungsoo tertawa saat Jongin membungkukkan badan setara dengan Mark dan mereka berpegangan tangan dan membuat wajah petarung dengan hidung mereka mengerut dan lidah terjulur.
Setelah mendapatkan alamat e-mail dan memastikan kedua foto terkirim, mereka berpisah dengan Mark dan ayahnya dan meninggalkan restoran.
Saat mereka berjalan ke mobil Kyungsoo memperhatikan Jongin dengan ujung matanya. Tiba-tiba Jongin berhenti dan mengambil tas makanan dari tanah yang akan Kyungsoo injak. Mengatakan pada Kyungsoo untuk berhenti, Jongin berjalan kembali ke jalan dan melemparkannya ke tempat sampah.
Ketika Jongin kembali, ia berkata, "Itu adalah hal yang baik darimu, Jongin."
"Apa, itu? Aku tidak mau kau menginjaknya. Selain itu, aku tidak menyampah. Itu malas, dan aku benci orang yang, misalnya, menolak untuk mengeluarkan sedikit tenaga untuk berusaha membuang sesuatu dengan benar."
"Aku bicara tentang apa yang kau lakukan pada Mark dan Ayahnya."
"Oh, itu." Jongin berkata, tersenyum. "Aku tidak sebaik seperti yang kau pikir, Kyung. Aku hanya sedikit bertemu mereka seperti yang mereka lakukan padaku. Terutama anak-anak."
"Tidak khawatir tentang bagaimana kesan seorang petarungan ekstrim bagi anak-anak?"
Jongin menyelipkan tangannya padanya dan Kyungsoo terkejut betapa alaminya itu. "Banyak orang punya masalah dengan MMA. Mereka bilang itu adalah pertarungan kejantanan manusia. Tapi mereka tidak memperhatikan pada ekstrimnya aspek disiplin dan teknik dari apa yang mereka lakukan, atau betapa luar biasanya olahragawan yang dikeluarkan untuk menjabat tangan orang yang hanya ingin mengalahkanmu. Selama anak-anak peduli, seperti Mark yang memang melakukannya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jongin mengangkat bahu. "Banyak orang yang tidak mengerti. Tapi aku senang berpikir kalau mereka orang minoritas."
Mereka sampai di mobilnya dan seperti seorang pria sejati, Jongin membuka pintu. Sebelum naik Kyungsoo berbalik, memiringkan kepalanya sedikit sambil memperhatikan Jongin. " Kau sangat menyukainya kan?"
"Aku selalu menyuki olahraga." Selama beberapa saat Jongin mengarahkan tatapannya ke langit sebelum kembali memperhatikan Kyungsoo dengan senyum sedih. " Seberapa aku menyukainya itu akan terlihat."
Itu mengganggunya melihat Jongin diluar kebiasaannya setuju untuk memberi ciuman. Kyungsoo seharusnya mendaratkan di pipi Jongin, tapi wine pasti mambuatnya kacau karena Kyungsoo mendaratkannya ke mulut Jongin yang lezat.
Selama beberapa detik mereka tetap seperti itu, waktu berhenti, bibir saling menekan, sampai suara alarm mobil orang lain berbunyi membuat akalnya kembali. Kyungsok menarik diri dan menyentuh jarinya ke bibir seperti ia sedang berbuat sesuatu yang memalukan.
"Aku tidak mengeluh," Jongin berkata, "tapi untuk apa itu?"
Kyungsoo menguatkan kakinya sebelum menatap Jongin di bawah bulu matanya. "Karena kau pria yang baik dan ucapan terima ksih untuk hari yang indah."
Senyum nakal Kyungsoo membuat nafas Jongin berhenti di bawah cahaya bulan. "Kalau begitu Miss Do Kyungsoo, aku akan pastikan kau selalu mendapatkan hari yang indah."
Kyungsoo tertawa dan naik ke dalam mobil, tapi kesenangannya berhenti mendadak bahkan sebelum Jongin memutari mobilnya, jika itu bukan karena pelajaran yang baru saja ia terima, ia tidak tahu apa itu. Ya, ia baru saja memberikan bukti rayuan masternya berhasil. Dan benar-benar menelannya mulai dari kail, senar, dan pemberatnya sekaligus.
Sekarang Kyungsoo mengetahui apa yang dirasakan para wanita yang menerima pesona Sehun. Kyungsoo tidak bisa menunggu untuk mendapatkan senyum lesung pipinya. Satu-satunya yang mengatakan Sehun tidak bisa menunggu untuk melahap tangkapan terakhirnya malah pertemanan yang ia peroleh. Ya, tuan, dokter itu tidak tahu apa yang sedang menimpanya saat dia melihat Kyungsoo. Kyungsoo tidak sabar menunggunya.
.
.
.
.
.
.
T.B.C
