Seducing Cinderella
by
Gina L. Max well
.
.
.
.
.
Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)
Cast : temukan sendiri :)
Genre : funny, sweet, Romance
Rate : M
.
.
.
.
Awas typo
.
.
.
.
Happy reading
.
.
.
.
.
Kyungsoo tak bisa percaya kalau sudah satu minggu sejak kepindahan Jongin. Seminggu ini sudah diisi oleh berbagai kegiatan terapi fisik untuk Jongin dan kegiatan mempercantik diri untuknya. Kyungsoo memotong rambutnya dengan beberapa layer, yang mana sangat ia sukai dan merasa bodoh karena sudah terlalu khawatir saat akan memotong rambutnya. Tidak sampai mereka melakukan highlight (pewarnaan) dengan menggunakan foil, membuatnya terlihat seperti Medusa alumunium, kemudian Kyungsoo mulai gelisah lagi. Untungnya gadis yang menangani rambutnya tahu apa yang Kyungsoo sukai dan warna karamel yang lembut membuatnya memiliki rambut coklat yang lebih indah dan gelap yang sebenarnya Kyungsoo tak pernah sangka akan mungkin mendapat warna seperti itu.
Setelah alisnya di-wax, dibentuk dan dicabuti, ia berpikir matanya tak kan pernah berhenti mengeluarkan air mata. Kemudian tiba saat Kyungsoo harus merawat kukunya, Kyungsoo harus mengakui bahwa ia tak pernah melakukan perawatan kuku selain memotongnya saat kuku-kukunya tumbuh terlalu panjang, hal ini membuat teknisi kuku salon itu terkejut dan melihat Kyungsoo seolah-olah Kyungsoo adalah gelandangan sebelum akhirnya teknisi itu mulai merawat kukunya. Sekarang kuku-kukunya sudah licin, bebas dari kulit ari yang berlebihan, dan terpoles kuteks ungu gelap yang bernama Extreme Eggplant (terong ekstrim) yang tidak terdengar seperti nama suatu warna tapi lebih terdengar seperti masakan di Iron Chef Amerika.
Tapi dari semua itu, Jongin menyerahkan Kyungsoo ke Trixie di Nordstrom's makeup dengan instruksi untuk mengajari Kyungsoo bagaimana menggunakan makeup di situasi apapun. Setelah mempelajari bagaimana menggunakan semuanya, dari makeup lima menit hingga tampilan dramatis sesi photo shoot di sore hari, Kyungsoo merasa percaya diri ia bisa semahir seorang makeup artis untuk rumah duka atau sirkus. Meskipun beberapa pelajaraan yang ia terima sangat tidak diperlukan, ia merelakan kepalanya kepada Trixie dan membiarkan Trixie bersenang-senang. Kegembiraan wanita itu terlalu manis untuk dihancurkan dengan kenyataan bahwa hanya seperempat dari apa yang ia pikirkan bahwa Kyungsoo akan terlihat di siang hari. Ataupun malam.
Bagaimanapun juga, di akhir minggu ini, Kyungsoo harus mengakui bahwa ia hampir terlihat... cantik. Ini tak masuk akal bahwa penyesuaian dari beberapa hal bisa membuat perbedaan luar biasa pada tubuh dan wajahnya. Atau, lebih tepatnya, diperlukan pelajaran kecantikan untuk merubahnya.
"Sangat cantik."
Kyungsoo berputar membelakangi cermin tinggi di kamarnya untuk menemukan Jongin bersandar pada kusen pintu, tangan menyilang di dadanya, karet elastis dari kaos polo hitam yang ia kenakan merenggang hingga batasnya di atas bisep. Motif dan sulur dari tattoo-nya terlihat seperti bagian dari kaos yang pria itu kenakan, membuat benda itu lebih terlihat seperti senjata futuristik dibandingkan dengan anyaman kapas. Jeans gelapnya membungkus pahanya yang berotot dan jatuh lurus ke pergelangan kakinya yang telanjang. Kyungsoo menyadari seminggu ini bahwa Jongin tak pernah mengenakan kaos kaki atau sepatu kecuali saat Jongin sangat memerlukannya. Dan dengan itu pula Kyungsoo mendapat pelajaran betapa seksinya seorang pria dalam celana jeans dan tanpa alas kaki.
Jongin membuat tampilan bad-boy terlihat tanpa cela. Rambutnya terbentuk seperti biasanya, tapi malam ini ujung rambutnya menjulur sedikit di dahinya membuat Kyungsoo mengalihkan perhatiaannya ke mata Jongin yang intens. Malam ini Jongin mengenakan anting; berlian berpotongan persegi yang entah bagaimana membuatnya nampak lebih jantan, bukan sebaliknya. Saat Kyungsoo melihat detail terakhir dan akhirnya membiarkan otaknya memeriksa secara keseluruhan penampilannya, mulut Kyungsoo kering dan membuatnya harus menelan ludah sebelum ia bisa berbicara.
"Kau juga tampak sangat tampan," katanya. "Tapi aku masih tak mengerti mengapa kau mau datang ke acara pesta syukuran bayi Xiumin bersamaku." Xiumin adalah salah satu dari perawat terbaik di AMC dan sebulan lagi Xiumin akan melahirkan anak pertamanya, jadi teman-temannya membuat acara itu di salah satu steakhouse yang mewah. "Kau akan sangat bosan."
Jongin menjauh dari kusen dan bergerak melewati ruangan. "Aku tak pernah bosan. Aku selalu bisa menghibur diriku. Ayolah, kita akan terlambat."
Kyungsoo melirik ke jam di mejanya, mengkornfirmasi keterlambatan mereka. "Sial!"
Jongin tertawa saat Kyungsoo berlari ke lemari pakaiannya untuk mengambil sepatu hak tinggi dan dompet. "Tenanglah. Cinderella seharusnya memang datang telat ke pesta jadi semua orang akan menyadari kehadirannya saat ia berjalan masuk ke ruangan."
"Itulah yang selalu aku khawatirkan," kata Kyungsoo saat ia memasukkan satu kakinya ke dalam sepatu dan menyesuaikan kakinya yang lain dan gagal melakukannya.
"Sini, biar aku saja." Jongin mengambil sepatu silver itu dari Kyungsoo dan menurunkan tubuhnya untuk bersimpuh. Kyungsoo berdiri sambil berpegangan pada tiang tempat tidurnya, terpesona pada tangan Jongin saat tangan itu membantunya memasukkan kakinya ke dalam sepatu. Kehangatan jemari pria itu saat tangan Jongin memegangi pergelangan kakinya mengirimkan getaran ke kakinya dan menjalar ke sexnya sama seperti saat Jongin menyentuhnya langsung.
Jongin memegangi kaki Kyungsoo dengan satu tangan saat tangan lainnya membuka, melepaskan rantai silver yang ia sembunyikan di tangannya untuk memasangkan di pergelangan kaki Kyungsoo. Keterkejutan membuat Kyungsoo tak dapat berkata-kata saat Kyungsoo memperhatikan Jongin memasangnya di pergelangan kakinya dan menguncinya.
Rantai itu tak berat, dan Kyungsoo berpikir ia takkan merasakan rantai itu ada disana kalau saja jimat dan manik-manik tidak menghiasinya. Di bagian depan, seekor burung silver tergantung di rantai. Manik kristal berwarna biru langit tergantung setiap inci, melengkapi benda itu dengan kecantikan yang klasik.
"Ini sangat indah," kata Kyungsoo. "Tapi kau sudah terlalu banyak memberikanku barang, Jongin. Kau tak harus selalu memberikanku barang-barang."
"Aku tahu, tapi saat aku melihat benda ini aku langsung memikirkanmu."
"Benarkah? Mengapa?" Tanya Kyungsoo antusias
"Ini burung pipit." Jongin melihat kebawah dan memegangi jimat burung itu. "Tidak seperti kebanyakan burung, saat burung pipit menemukan pasangan jiwanya, mereka akan tetap bersama hingga akhir hayat." Jongin mengangkat kepalanya dan memandang Kyungsoo. "Membuat mereka menjadi simbol dari menemukan cinta sejati."
Menemukan cinta sejati. Kyungsoo sangat ingin menemukan pasangan yang sesungguhnya dan tidak berharap lebih tentang cinta. Bagaimanapun juga, itu adalah hal terindah yang pernah ia dengar, dan mengetahui bahwa Jongin memikirkannya saat pria itu melihat benda itu, sangat menyentuh Kyungsoo.
Jongin dengan lembut menaruh kaki Kyungsoo ke lantai dan bangkit menjulang melebihi tinggi Kyungsoo. Kyungsoo mencoba untuk berterima kasih tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya saat pandangannya menjelajah dari kerah V terbuka kaos Jongin yang menampilkan kulit kecoklatan di lehernya, ke atas rahang yang bersih serta bibirnya yang penuh, hingga pandangannya terjebak di mata Jongin. Mata pria itu berganti warna tergantung dari pakaian atau sekelilingnya atau bahkan pencahayaan. Sekarang mata Jongin berwarna hijau lembut dengan goresan karamel, mengingatkannya pada gula-gula apel.
Kim Jongin benar benar sebuah enigma. Di Vegas Kyungsoo tahu kehidupan Jongin adalah seorang petarung playboy yang kaya raya, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berlatih atau 'berkencan' dengan wanita yang tak ingin ia pikirkan. Tapi semenjak Jongin pindah bersamanya untuk sebuah kesepakatan gila yang mereka jalani, Jongin bukan apa-apa kecuali seseorang yang menarik, supportif, dan bijaksana. Seperti yang Kyungsoo ingat tentang Jongin dimasa mudanya dan saat ia jatuh cinta pada teman kakaknya itu. Jika ia pikir Jongin yang dulu fantastik, kini Jongin tumbuh lebih dari sekedar fantastik.
Kyungsoo berdehem dan memutuskan untuk mengatakan sesuatu. "Terima kasih, Jongin. Aku menyukainya."
"Terima kasih kembali. Mari berangkat. Aku tak tahan ingin melihat rahang dokter itu terlepas dari engselnya saat ia melihat apa yang selama ini sudah ia lewatkan." Saat Kyungsoo mengerutkan hidungnya karena ragu, Jongin mengecupnya dan bilang, "Percayalah padaku," dan menggenggam tangannya untuk membawanya keluar kamar.
Tigapuluh menit kemudian mereka sampai di restaurant dan seorang pramuria membawa mereka ke ruangan yang sudah di sewa dimana pesta itu dirayakan. Kyungsoo menaruh kadonya untuk Xiumin di meja yang dihiasi dengan indah di dekat pintu dan dengan gugup melihat ke kerumunan orang.
"Berhenti gelisah," kata Jongin di telinganya. Tangannya berada di punggung Kyungsoo untuk membantu menenangkannya, tapi tak terlalu membantu.
"Aku tak gelisah."
"Ya, kau gelisah."
Jongin benar. Kyungsoo bernafas cepat dan tidak teratur. Dia sepertinya tak bisa berhenti. Mengapa ia merasa seperti ia sedang masuk ke sarang singa? Orang-orang ini sudah ia kenal lama dan sudah nyaman beberapa tahun bersama. Tapi bagaimana bila mereka tidak menyukai penampilan barunya? Atau bagaimana jika mereka berpikiran buruk tentang pergantian penampilan yang ia lakukan?
Kyungsoo sulit menahan cicitan kecil dari dadanya saat Jongin menariknya keluar ruangan. "Hey!"
"Shh," perintah Jongin saat pria itu menarik Kyungsoo ke lorong, membawa wanita itu ke pojok, dan kemudian menjepitnya antara tubuhnya yang besar dan dinding. "Ketakutanmu tak beralasan, jadi aku akan mengajarimu satu trik yang aku gunakan sebelum bertanding."
"Jongin, aku pikir-"
"Jangan berpikir. Bayangkan. Sebelum aku masuk ke kandang (ring bertanding) aku membayangkan setiap pukulan, setiap tendangan, setiap bantingan. Aku mengerti lawanku dengan baik dari mempelajari pertandingan yang telah ia lakukan sebelumnya. Aku mengantisipasi bagaimana ia akan bereaksi akan seranganku jadi aku akan siap untuk situasi apapun. Itulah yang aku ingin kau lakukan sekarang."
Kyungsoo tahu dia sudah memandang Jongin seolah lelaki itu sudah gila, karena itulah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Bagaimana trik itu bisa membantunya berbicara dengan Sehun? Jika Kyungsoo butuh mengantisipasi pukulan seorang pria itu akan menjadi masalah yang lebih besar dibandingkan dengan menginginkan sebuah kencan.
"Tutup matamu." Melihat pandangan Jongin yang serius - dan semua keinginan untuk menghapuskan rasa gugupnya - Kyungsoo mematuhinya. "Aku ingin kau membayangkan dirimu sendiri berjalan masuk ke ruangan itu, dagumu terangkat tinggi, dan rasa percaya dirimu bahkan lebih tinggi lagi. Kau tahu kau terlihat luar biasa. Gaun ini pas di tubuhmu seolah memang didesain untukmu. Heels itu membuat kakimu terlihat jenjang dan semua pria di ruangan itu akan membayangkan kedua kakimu berada di pinggang mereka."
Kyungsoo merasakan sedikit dingin dengan AC yang menyala dari ventilasi di atas mereka, tapi saat Jongin meletakkan tangannya di pinggang Kyungsoo, semua rasa dingin menghilang karena panas dari sentuhannya. Jongin bergerak mendekat pada Kyungsoo, payudaranya menyentuh lembut dada Jongin yang keras dengan setiap hembusan nafas beratnya. Mata Kyungsoo tetap menutup, tapi getaran dari kehadiran Jongin sangat jelas. Fokus bukan menjadi masalah yang ia pikirkan lagi. Kyungsoo tersambung dengan Jongin sekarang, pikiran dan tubuhnya, entah ia menginginkannya atau tidak.
"Bayangkan aku adalah dirinya. Aku tak bisa melayangkan pandanganku darimu sejak aku melihatmu. Aku berpikir bagaimana mungkin aku selama ini begitu buta tak melihat betapa anggunnya dirimu."
Tangan Jongin dengan perlahan menjalar di sisi tubuh Kyungsoo hingga jempolnya hanya beberapa milimeter jaraknya dari payudaranya. Kyungsoo mengatakan pada dirinya sendiri seharusnya ia tak merasa kecewa saat Jongin memutar tangannya ke punggungnya, memutuskan untuk menghindari bagian yang tak seharusnya. Suara Jongin, rendah dan dekat dengan telinganya, terasa di kulitnya menyebabkan rambut kecil di belakang lehernya berdiri. "Aku memulai dengan obrolan kecil, berbicara mengenai pekerjaan, tapi sepanjang kau berbicara aku hanya memperhatikan bibirmu dan membayangkan seperti apa rasanya."
"Benarkah?" tanya Kyungsoo dalam desahan.
"Fuck yeah, benar." Tangan Jongin yang bebas naik untuk memegang wajah Kyungsoo dan kemudian mengelus pipi Kyungsoo dengan hidungnya hingga Kyungsoo menghadap ke samping. "Kau luar biasa seksi, Kyungsoo, dan aku ingin membuka pakaianmu untuk mendapatkan hadiah di bawahnya. Aku ingin mengetahui apa yang kau sukai, yang tidak kau sukai - untuk mengetahui ketakutanmu dan mimpimu - dan aku berjanji untuk mengupas setiap lapisan cantik hingga akhirnya aku mengetahui semua hal tentang dirimu."
Jantung Kyungsoo berdetak kencang hingga ia yakin bahwa pelayan bisa mendengarnya dari depan restaurant. Kyungsoo ingin dimengerti seperti itu - secara fisik, emosional - sangat menginginkannya.
"Ya," kata Kyungsoo. "Aku ingin hal itu."
"Maka ambil apa yang kau inginkan." Suara Jongin terdengar parau di telinganya. Terdengar tersiksa. "Buat itu jadi kenyataan."
Kyungsoo sangat mendalami gambaran di kepalanya, dia tak menyadari bahwa Jongin sudah menjauh darinya hingga perasaan kehilangan menyapu dirinya. Membiarkan matanya terbuka ia terfokus pada Jongin yang berdiri di depannya. Tangannya masuk kedalam kantong depan celananya dan ekspresi keras di wajahnya tidak sesuai dengan emosi gairah yang baru saja ia berikan pada Kyungsoo.
"Semua yang harus kau lakukan adalah mengingat semua yang aku katakan padamu, dan berjalan masuk dari pintu itu." Sebelum Kyungsoo bisa bertanya pada Jongin apa semuanya baik-baik saja, Jongin menggerakkan kepalanya ke arah ruangan pesta. "Masuk. Ini waktunya kau masuk ke ruangan, Cinderella."
Bayangan dari dirinya berjalan masuk ke ruangan dengan semua mata tertuju padanya tak lagi mengirimkan sinyal kepanikan padanya. Jongin benar. Kyungsoo mungkin tidak secantik selebriti, tapi Kyungsoo sudah seratus persen lebih baik daripada dirinya seminggu yang lalu. Tak ada lagi alasan dia meragukan hal itu. Berjinjit, Kyungsoo menanamkan kecupan di pipi Jongin. "Terima kasih, Jongin."
Satu sisi bibirnya terangkat. "Kapanpun, sweetheart."
Dengan keyakinannya yang baru ditemukan dan penampilannya yang juga baru, Kyungsoo menarik bahunya kebelakang dan berjalan masuk ke dalam ruangan.
.
.
.
Jongin menyapukan tangannya ke wajah sesaat setelah Kyungsoo membelakangi tempat itu. Gym dan teman sparring yang kuat tak akan membuatnya tumpul seperti sekarang. Teknik visualisasi adalah sesuatu yang bisa dipakai di semua situasi jadi ia tahu bahwa teknik itu akan bekerja pada Kyungsoo juga. Yang ia tidak ketahui adalah dampak dari teknik itu pada dirinya sendiri.
Dia bahkan tak yakin sedang jadi siapa saat mengatakan semua itu. Di satu titik dia merasa sedang keluar dari karakter. Dia tidak membayangkan Dr. Jung menatap bibirnya dan menciumnya. Dia membayangkan dirinya sendiri melakukannya.
"Aku butuh minum," gumamnya, berjalan masuk ke ruangan. Sesaat setelah Jongin melewati pintu ia melihat Kyungsoo. Seperti halnya Kyungsoo kutub Utara yang selalu menjadi arah tatapan matanya. Gaun biru pucat yang simpel yang ia kenakan biasa saja namun sangat indah. Jongin tetap menatap pada Kyungsoo saat ia melangkah ke arah meja yang tersusun punch dan cocktails di atasnya. Mengambil salah satu minuman, ia memperhatikan bokong Kyungsoo saat bergerak di bawah kain tipis di setiap langkah yang ia lakukan. Pandangannya turun ke arah lekukan kakinya yang lembut. Sialan, dia seksi.
Jongin mengangkat gelas itu kemudian berhenti. Jika ia harus menebak dari minuman di pesta ini, Xiumin akan mendapatkan anak perempuan. Terlihat seperti versi gilanya Shirley Temple, merah muda terang dengan cherry yang di tusukan di peniti plastik yang terbuka menggantung di pinggir gelas.
"Pelecehan, kan?"
Jongin melirik ke arah kiri untuk melihat seorang pria Hispanik dengan tubuh terbentuk dengan baik berdiri di sampingnya dengan senyuman terhibur di wajahnya. Pria itu memegang dua botol Corona bukannya 'pelecehan' yang Jongin sedang pegang.
"Bahkan tak ada alkohol di dalam minuman itu," kata pria itu.
"Sialan, ini tak dapat dimaafkan." Jongin menaruh gelas itu kembali ke meja dengan tatapan jijik ke tatanan diatas meja. "Bagaimana mereka memutuskan melakukan ini?"
Pria itu tertawa, dan menyodorkan birnya. "Ini adalah pesta bayi, bung. Itulah alasan yang mereka butuhkan untuk menarik semua barang-barang pria dari acara ini. Biasanya kita tak akan dibiarkan begitu saja masuk ke dalam cara seperti ini, tapi Xiumin salah satu favorit di antara semua staf rumah sakit. Semua orang suka padanya karena hal itu ini menjadi acara 'semua orang'. Aku Baekhyunl."
"Jongin." Dengan rasa lega ia menerima botol itu, dia menjabat tangan Baekhyun sebelum membuka tutupnya dan meneguk setengahnya sekaligus. "Terima kasih, bung. Kau penyelamat."
"Jangan risaukan hal itu."
Melihat melalui Baekhyun, Jongin melihat Kyungsoo memeluk seorang gadis yang hamil dan kemudian berjalan kearah doktornya yang sedang berbicara dengan pria lain di meja seberang ruangan. Berpakaian pakaian mahal dan rambut gelapnya di gel dan disisir ke satu sisi, dia terlihat seperti bayi manja. Seseorang yang sudah memiliki banyak uang bahkan sebelum ia menjadi seorang dokter dan merasa sangat nyaman dengan kekayaan di hidupnya.
Dokter itu sedang berbicara saat ia menyadari Kyungsoo. Saat itu benar-benar seperti di film. Ia melakukan kedipan dua kali dan matanya hampir meloncat keluar dari kepalanya saat lidahnya yang tergulung jatuh ke lantai seperti salah satu dari cuplikan di kartun lama.
Tapi Jongin tak bisa menyalahkan pria itu. Kyungsoo sedang berada di penampilannya yang langka. pria itu melintasi ruangan dengan tatapan intens yang sangat jelas. Seorang pemburu wanita mendekati mangsanya yang terjebak dengan sebuah senyuman tipis di ujung bibirnya. Jongin hampir saja bisa mendengar Kyungsoo berkata, Tak ada tempat untuk berlari... Aku mendapatkanmu sekarang.
Sehun undur diri dari meja itu tanpa melihat pria yang tadinya sedang pria itu ajak bicara. Dalam dua langkah Sehun memperkecil jarak diantara dirinya dan Kyungsoo. Meskipun Jongin bukan seorang pembaca bibir, Jongin bisa menebak kemana arah pembicaraan itu.
Kyungsoo, kau terlihat sangat cantik!
Begitu kah, terima kasih, Sehum. Kau juga terlihat sangat tampan.
Well, masih seperti biasanya. Tapi kini kau sudah kembali ke kecantikan aslimu, kau benar-benar harus menemaniku ke pesta rumah sakit.
Aku pikir kau takkan pernah menanyakan hal itu. Tentu saja aku akan pergi ke pesta itu denganmu!
Kemudian kita bisa menikah dan kau bisa menjaga anak-anak kita saat aku bekerja untuk menyelamatkan dunia.
Oh, Sehun, itu terdengar seperti mimpi yang menjadi kenyataan!
Kyungsoo tertawa pada sesuatu yang Sehun katakan dan menyentuh tangannya perlahan. Kemudian saat Kyungsoo berbicara kepada Sehun, Kyungsoo menyampirkan sejumput rambutnya kebelakang telinganya dan melihatnya dari bawah bulu matanya. Sialan, dia sangat natural.
Jongin sudah melepaskan monster.
Jongin menghabiskan sisa birnya dan mencoba dengan keras untuk tidak berjalan ke arah Kyungsoo dan menarik wanita itu pulang. Seharusnya Kyungsoo tidak merayu Sehun, seperti halnya ia menginginkan anak darinya. Di atas kertas mungkin pria itu adalah USDA terbaik, tapi Jongin tak bisa menghapuskan perasaan bahwa Sehun menyembunyikan cakar yang membuatnya tak lebih baik dari Ukuran Standar.
"Aku melihatmu datang dengan Kyungsoo. Apakah kalian berkencan?" Jongin melihat kearah Baekhyun di saat seorang pelayan menaruh satu ember penuh es dan botol di meja di samping tubuhnya. Baekhyun tersenyum dan berkata, "Tebakan."
Mereka mengambil botol lain, menggunakan pembuka botol di samping ember, dan membuang tutupnya. Sambil menggoyangkan minuman di tangannya Jongin berkata, "Kyungsoo dan aku adalah teman lama. Aku tinggal bersamanya untuk beberapa saat selagi aku di kota ini."
Baekhyun menunjuk ke arah Kyungsoo dengan botolnya. "Well, semua hal tentang teman itu menjelaskan mengapa kau tidak mengklaim dirinya saat ia menggoda doktor yang baik disana. Tapi itu tidak cukup untuk menjelaskan tatapan matamu yang mengatakan kau akan senang membunuhnya dengan tangan kosong."
"Aku bertarung untuk hidupku, jadi itu sudah seperti kebiasaan," jawab Jongin pelan.
"Apa kau juga seorang makeover artist atau perubahan tiba-tiba dari Kyungsoo kami terjadi karena keberadaanmu?"
Jongin tidak suka akan arah pembicaraan ini. Baekhyun terlalu teliti. Chanyeol terlihat seperti pria yang baik, dan pria itu berbicara seolah-olah ia tertarik pada Kyungsoo. "Apa kau sudah lama mengenal Kyungsoo?"
Baekhyun melihat kearah Kyungsoo yang masih berbicara dengan Sehun. "Aku mengenalnya sejak bangku kuliah." Dia mengalihkan tatapannya kembali pada Jongin. "Dia sudah seperti adik perempuanku."
Jongin menganggukkan kepalanya dalam pengertian. "Pesan diterima, bung. Aku sahabat baik kakak laki-lakinya."
Senyuman puas mekar di wajah pria itu dan Baekhyun mengangkat birnya untuk menyenggolkannya ke botol Jongin. "Senang mendengarnya."
Meminum beberapa teguk bir, Jongin berpikir apakah ia bisa mencari tahu apa yang terjadi di beberapa tahun belakangan saat ia tidak ada. Seseorang yang membuat Kyungsoo menjadi seperti sekarang. "Apakah kau ada saat Kyungsoo menikah?"
"Yeah," Baekhyunl menggertak. "Aku ada."
"Siapa pria itu? Apa yang terjadi?"
"Kyungsoo bertemu dengannya saat mereka bertabrakan di luar kampus. Dia sedang berjalan keluar kelasnya, dan pria itu sedang terlibat dalam rapat damai yang membahas tentang masalah yang dialami kelompoknya satu minggu belakangan."
Jongin tahu dengan jelas tipe yang Baekhyun deskripsikan. Ada beberapa kelompok seperti itu yang secara konstan menentang MMA. Mereka memanggil diri mereka sendiri aktivis manusia. Jongin memanggil mereka orang-orang brengsek yang tidak berpendidikan. Jongin mencoba membayangkan Kyungsoo dengan pria seperti itu dan gagal. Kemudian, dia tak bisa membayangkan Kyungsoo dengan pria seperti Sehun, tapi yang jelas Kyungsoo melihat sesuatu yang ia tak bisa lihat. "Okay, jadi pria itu aktivis, Kyungsoo adalah mahasiswi, mereka bertemu. Kemudian apa yang terjadi?"
"Hubungan mereka seperti angin puyuh. Satu hari mereka bertemu untuk makan siang dan hal selanjutnya yang kami tahu mereka mengumumkan pertunangan mereka dan terbang ke Vegas. Semuanya berjalan dengan sangat cepat sehingga membuat kepala kami pusing."
"Apakah itu alasan mengapa kau tidak menyukainya?"
"Tidak," erang Baekhyun. "Aku membencinya karena apa yang sudah ia lakukan pada Kyungsoo. Kyungsoo sangat terbutakan oleh gairahnya menyelamatkan dunia dan mimpi idealistiknya sehingga Kyungsoo tak bisa melihat keburukan pria itu. Pria itu tak bisa memesan hanya satu makanan utama di sebuah restauran sama seperti halnya tidak bisa bertahan pada satu wanita. Pria itu tak lebih dari sekedar bajingan egois yang suka perhatian."
Jongin tak bisa melihat kemana arah pembicaraan ini dan tangannya mengepal dengan gairah yang familiar untuk memukul wajah seseorang. "Katakan padaku apa yang ia lakukan," kata Jongin dengan rahang yang mengatup.
Baekhyun menegang dan melirik Kyungsoo. Rasa sayangnya pada Kyungsoo jelas dalam mata coklatnya saat ia berbicara. "Bajingan itu berselingkuh dengan seorang model beberapa bulan setelah pernikahan. Aku berani bertaruh gajiku setahun bahwa hal itu terjadi bukan hanya sekali - atau dengan seseorang saja. Kemudian, Kyungsoo memergokinya berselingkuh. Di ranjang mereka."
Jongin mengumpat dan harus menurunkan birnya sebelum kepalan tangannya menghancurkan botol itu. Pria macam apa yang melakukan hal itu kepada wanita yang manis dan lugu? Atau kepada wanita manapun. Akhirnya semua menjadi jelas mengapa Kyungsoo sangat ingin menemukan seseorang yang cocok dengannya. Mantannya adalah seseorang yang sangat berbeda darinya dan hubungan mereka tak lebih dari sekedar lelucon. Sekarang Kyungsoo perlu menemukan hubungan yang berbeda, yang mana memerlukan orang yang sangat mirip dengannya. Seseorang, seperti pria yang sedang berbisik di telinganya saat ia tertawa. Dr. Oh Sehun, MD.
"Tenang, amigo. Taringmu terlihat jelas."
Jongin menatap Baekhyun garang. "Apa yang kau bicarakan?"
"Kau terlihat seperti kucing hutan yang siap untuk menanamkan gigimu ke leher seseorang."
Jongin mempelajari pria itu, berpikir mengapa dia malah tersenyum seperti seorang idiot. "Benarkah?"
"Benar. Dan meskipun aku akan senang mendengar alasannya darimu, aku harus puas dengan pikiranku sendiri."
"Mengapa?"
Baekhyun menganggukkan kepalanya ke satu sisi. "Karena Kyungsoo sedang berjalan ke arah sini." Jongin mengikuti arah pandangnya untuk melihat Kyungsoo berjalan melintasi ruangan dengan senyum terlebar yang pernah Jongin lihat terjadi padanya. "Aku harus pergi. Senang bertemu denganmu, Jongin. Sampai jumpa lagi."
"Kau juga, bung. Terima kasih atas birnya."
Sedetik kemudian Jongin lupa semua penyataan Baekhyun saat ia fokus pada Kyungsoo. Jongin merasa terbagi dua, antara ingin tahu semua detail tentang Sehun dan ingin berpura-pura semua itu tak pernah terjadi. Tapi ia akan menjadi teman yang menyebalkan jika ia melakukannya, jadi Jongin menahannya dan melakukan hal yang benar. "Jadi apa yang terjadi? Sepertinya kau mengait dirinya cukup dalam dari yang kulihat."
Kyungsoo menyatukan tangannya di hadapannya, terlihat mencoba untuk tidak meledak. "Semua terjadi seperti yang kau katakan, Jongin. Dia memperhatikanku, mengatakan aku terlihat cantik. Apa di sini panas?" Kyungsoo mulai mengipasi dirinya sendiri jadi Jongin menyerahkan satu gelas minuman menggelikan itu. "Mm, terima kasih, aku sangat haus."
Setetes air kondensasi dari gelas jatuh di lehernya saat Kyungsoo menenggak minuman itu. Jongin harus mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya jadi ia tak mencoba menghapuskan tetesan itu dari leher Kyungsoo.
"Omong-omong," lanjutnya, menaruh gelas kosong di nampan seorang pelayan yang lewat, "kami berbicara sebentar dan kemudian ia mengajakku berkencan. Bisa kah kau percaya hal itu?"
Jongin memasang senyuman kaku di wajahnya dan berharap terlihat tulus. Jongin memiliki keinginan gila untuk berjalan kesana dan memukuli pria itu di lantai. Mengapa Sehun tidak menyadari keberadaan Kyungsoo sebelum make over? Saat rambutnya acak-acakan dan dia mengenakan kacamatanya bukan contact lens dan pakaiannya tidak ketat di tubuh kecilnya. Mengapa semua hal itu membuatnya tidak terlihat di depan dokter itu beberapa tahun mereka besama?
Saat Jongin melihat Kyungsoo pertama kali di kantornya, dia suka memperhatikannya mencoba merapikan rambutnya kembali ke tempatnya, hanya untuk membiarkan rambut itu terjatuh tepat setelah Kyungsoo merapikannya. Jongin pikir Kyungsoo terlihat seksi dengan kacamatanya - semua hal tentang pustakawan nakal yang ia sukai - dan Kyungsoo sangat lucu saat dia tidak sengaja mendengus karena tertawa terlalu keras atau menemukan sesuatu yang tidak masuk akal.
Sehun hanya seorang bajingan sombong yang tidak pantas mendapatkan Kyungsoo, itu kesimpulannya. Tapi, Kyungsoo juga tidak pantas mendapatkan seseorang seperti dia. Jongin tak bisa memberikan apa yang Kyungsoo inginkan. Dia tidak bergaya hidup seperti yang Kyungsoo cari. Saat ia harus bertarung di kota lain, negara lain, dia lebih pengembara dibanding orang lain. Dan meskipun itu bukan masalah, Jongin masih tetap tak bisa bersamanya. Tidak seperti ini. Seorang pecundang. Seseorang yang kalah. Tidak, dia membutuhkan gelarnya dan status juaranya kembali jika ia ingin dianggap pantas lagi. Tak ada yang menyukai pecundang. Ayahnya yang memberitahunya hal itu. Berulang kali.
"Jongin? Apa kau mendengar apa yang aku katakan?"
Berkedip beberapa kali ia kembali melihat Kyungsoo dengan fokus. "Yeah, aku mendengarmu. Tapi aku tidak terkejut. Aku kan sudah bilang pria itu akan tergila-gila padamu."
Kyungsoo memekik kecil. "Aku benar-benar ingin memelukmu sekarang, tapi kau tahu, dia mungkin mempehatikan dan aku tidak ingin dia salah paham."
"Tidak," jawab Jongin masam. "Kita tidak ingin hal itu terjadi."
Pelatihnya, Taecyeon, selalu mencoba memberitahu Jongin untuk menahan diri dalam pertandingan. "Harus tahu kapan menahan diri," katanya. Poinnya adalah untuk tetap tenang, jaga pikiranmu, dan biarkan lawan membuat serangan pertama jadi kau bisa bertahan dari serangan itu, dan kemudian balas dengan sesuatu yang lebih kuat. Jongin tidak pernah cocok dengan ide menahan diri. Dia lebih nyaman di posisi sebagai penyerang.
Jongin selalu membenci pelajaran menahan diri. Tapi saat malam bergulir dan dia dipaksa untuk melihat Sehun mengelilingi Kyungsoo seperti hiu, Jongin harus mengingat pelajaran itu. Dengan menggunakan teknik mental Taecyeon, Jongin memutuskan untuk menjaga jarak, yang berarti membiarkan Sehun menampakkan giginya. Setidaknya untuk beberapa saat.
.
.
.
.
.
T.B.C
