Seducing Cinderella
by
Gina L. Max well
.
.
.
.
.
Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)
Cast : temukan sendiri :)
Genre : funny, sweet, Romance
Rate : M
.
.
.
.
Awas typo
.
.
.
.
Happy reading
.
.
.
.
.
"Mulai dari peregangan di tembok."
Jongin baru saja berhenti memutar bola mata seperti anak-anak. "Ayolah, Kyung, aku tidak butuh peregangan spesial seperti itu lagi. Sudah lebih dari seminggu. Mari lakukan sesuatu yang normal."
"Oh, maaf, aku tidak menyadari kau punya tingkatan untuk terapi fisik." Kyungsoo memutar lalu meraih tembok terjauh dari ruang terapi— latihan— perbaikan. "Kenapa kau butuh bantuanku lagi?"
"Sarkasme tidak sesuai untukmu," Jongin menggerutu. Tapi ia tidak bisa benar-benar marah karena Kyungsoo terlihat sangat menarik dengan pakaian latihannya yang baru. Tidak ada lagi tank top kebesaran dan keringat . Sekarang Kyungsoo memakai tank top pink pucat Lycra dengan celana yoga ketat.
Rambut hitamnya dikuncir ekor kuda dengan poni tebal dan beberapa helai membentuk wajahnya. Kyungsoo baru saja menyelesaikan rutinitas elliptical dan kulitnya berbalut keringat dan pancaran sehat mempengaruhi pipinya.
Berjalan dimana Kyungsoo berdiri dengan penggaris kertas yang mereka gunakan untuk mencatat kemajuannya, Jongin tidak mempedulikan lari sepuluh mil menggunakan treadmill. Ia berhenti pelan-pelan dan melihat T-shirtnya yang bermandikan keringat yang sekarang terlihat hitam yang tadinya sudah kusam dan pudar.
"Apa yang kau lakukan?" Kyungsoo bertanya saat Jongin melepaskan pakaiannya.
Jongin tersenyum jail. "Mencoba untuk tidak menyinggung perasaanmu yang halus."
Kyungsoo mendengus dan menepuk separuh wajahnya. Jelas terlihat Kyungsoo terpengaruh, tapi Jongin tidak terlalu yakin kenapa. Pria itu senang mendapat reaksi dari Kyungsoo. Saat ia sedikit mendekat, Jongin menambahkan dengusan Kyungsoo lebih sering untuk dicatat dibenaknya dari daftar kenapa ia tetap bersama Kyungsoo. Jongin menyukai tantangan.
"Tahan kakimu rentang dua kaki dari tembok dan gerakan jarimu di penggaris sampai kau merasakan tekanannya. Kemudian bersandar di tembok sampai kau merasakan peregangannya." Jongin melakukan seperti yang diinstruksikan Kyungsoo meskipun ia lebih suka mengangkat beban untuk pemanasan. Pemanasan seperti ini hanya untuk banci.
"Bagus. Tahan sekitar sepuluh detik... dan ulangi dari awal."
"Ini aneh. Tidak bisakah aku mendapatkan hasil dari lima pon di tanganku dan mengangkatnya dengan aturan yang sama?"
Tangan Kyungsoo berada di kedua pinggang langsingnya saat berkata, "Sekarang kenapa aku tidak memirkikan hal itu? Oh, Aku tahu. Karena itu tidak akan meregangkan otot-otot. Itu akan menggerakan otot-otot."
"Baiklah, lakukan dengan caramu. Tapi kita akan menyatukan latihan kita lain kali."
"Apa "
Pertanyaan Kyungsoo terpotong dengan pekikan saat lengan kiri Jongin merangkul pinggang dan mendekatkan mereka. "Disana. Sekarang aku punya dorongan untuk bersandar di tembok."
"Jongin, apa yang sedang kau lakukan?"
Jongin tidak bisa menahan senyum puasnya saat berkata, "Mencium."
Mata Kyungsoo melebar dan tercengang cukup untuk membuat bibirnya terpisah. Ia menunggu dengan sabar sampai shocknya reda. Dan untuk penolakannya ia tahu itu akan terjadi.
"Tentu saja tidak. Keluarkan itu dari pikiranmu. Aku tidak akan menciummu Kim."
Ketika Jongin mengangkat alisnya seperti mengatakan, sedikit terlambat untuk itu, Kyungsoo menggertak, "Aku tidak akan menciummu lagi."
Menegakkan bahunya yang tidak sakit Jongin seakan-akan tak mempedulikan Kyungsoo. "Kau mungkin benar. Aku yakin kau tahu semua trik-trik kecil bagaimana membuat seorang pria berlutut dengan ciuman kecil. Gairah nyatanya menjadi hal alami kedua bagimu." Kemudian Jongin memberikan tembakan tepat. "itulah kenapa kau membutuhkanku untuk mengajarimu bagaimana mendapatkan Dr. Oh di urutan pertama."
Jongin harus menjadi serakah untuk membuat kekalahan telak, karena jelas itulah yang akan ia dapat jika Yifan mendapati Jongin mencium adiknya. Yifan sangat protektif dengan apa yang Kyungsoo lakukan, dan dengan alasan yang tepat. Tidak berpengaruh meskipun Kyungsoo hanya terpaut usia beberapa tahun lebih muda darinya. Kyungsoo terlihat polos dan lugu. Percayalah.
Jadi kenapa sangat sulit bagi Jongin untuk menjauh dari Kyungsoo? Apa karena Kyungsoo tipe wanita yang berlawanan dari yang biasanya ia kencani? Bukan berarti ia "berkencan" sejak ia terluka. Saat ia berpikir untuk tidak akan bertarung lagi ia akan mengurangi, menolak setiap tawaran yang menghentikan jalannya. Mungkin akhirnya sekarang tembakan kecilnya tercapai melampui libidonya kembali. Sial, ia tidak tahu apa yang harus dipikirkan.
"Sekarang saat kau sudah memiliki kencan dengan seorang pria kau butuh bagaimana caranya melangkah, Kyung. Kau merayu seperti seorang pemenang dan menendangnya, tapi jika kau bosan saat waktu untuk hal lainnya, kau berikan dia signal dan dia akan mundur."
Kyungsoo gelisah bibir atasnya seperti roda di dalam kepalanya yang berputar. Setidaknya ia mengangguk dan titik di perutnya yang berpikir tidak akan merasakan bibir itu lagi terurai. "Oke. Kau membuat poinnya. Tunjukkan apa yang kulakukan."
"Pertama kau harus tenang. Kau terikat kencang aku takut kau tergigit. Berbalik."
Jongin memegang bahu Kyungsoo, ia membaliknya sampai bahu Kyungsoo di depannya, dan kemudian mulai memijat punggung atas dan bahunya. Dengan segera Kyungsoo meleleh di tangannya dan mendesah. "Aku tidak ingat kapan terakhir seseorang memijatku. Terasa luar biasa."
"Kasihan kau," ucap Jongin, memperhatikan bentuk leher Kyungsoo saat kepala wanita itu tertunduk. "Setiap orang harus memiliki seseorang untuk menghilangkan stresnya."
"Mmm," gumam Kyungsoo menyetujui. "Kalau kau, siapa yang memijatmu?"
Barisan wanita-wanita yang lebih senang memberikan pijatan di bawah sebagai pembuka seks berada di benaknya. Untuk beberapa alasan, berada di sini dengan Kyungsoo, semuanya terlihat...kurang menarik. "Seperti semua atlet, kami memiliki dokter di gym yang melakukannya untuk kami."
"Mmm."
Kyungsoo tersenyum, menyukai gairah kecil yang diberikan tangan Jongin. Pria itu menekankan jempolnya di ujung leher ke kepalanya, lalu memijat dengan lingkaran kecil. Kyungsoo dengan pelan, menahan nafas dan menghela nafas dengan desahan saat bahunya ditarik kebawah denagn peregangan yang menenangkan.
"Bagus." Jongin memindah tangan ke bahu Kyungsoo dan bekerja di titik diantara bahunya. Sebelum ia menghentikan dirinya ia bersandar, menempatkan wajahnya di sisi kepala Kyungsoo. Rambutnya menggelitik pipinya dan bau bunga bercampur dengan antisipasinya untuk mencicipinya lagi membuat mulut Jongin berair.
Jongin menggerakkan kepalanya sedikit untuk berbicara di telinga Kyungsoo. "Tahan rasa nyaman dan abaikan. Simpan di kepalamu, oke?"
Kyungsoo mengangguk dan Jongin membaliknya sehingga punggungnya bersandar di tembok lagi. Dengan lengan kanannya, Pria itu mulai menggerakkan jari-jarinya di tembok untuk meregangkan, membawanya untuk mendekat padanya. Berbicara soal dorongan.
"Sekarang fokusmu ada dimataku..."
"Uh-huh..."
"Tapi kalau kau terlihat ingin dicium, dimana seharusnya kau melihat?"
Kyungsoo menatap rendah dan terpaku tepat pada bibir Jongin. Mata pucat abu-abunya berubah menjadi perak cair.
Jongin memperhatikan Kyungsoo. Bulu mata Kyungsoo tidak mungkin setebal dan sepanjang seperti yang biasa Jongin lihat, kemudian lagi, sudah lama ia melihat wajah wanita yang bebas dari riasan, apalagi tanpa bulu mata palsu. Ia lebih menyukai Kyungsoo. Di sana ada garis bulu mata tebal, kemudian menyatu menjadi segitiga runcing yang melengkung sedikit. Seperti khayalannya akan kibasan peri.
Kyungsoo menjilat bibir dengan ujung lidahnya, membuatanya berkilau lembab. Hanya beberapa inci jarak mereka berdua saat tangan kanan Jongin naik setinggi yang bisa dilakukan tanpa menimbulkan rasa sakit. Sekarang bersandar dengan peregangan.
Saat Jongin dengan lambat, lambat mendekati jarak diantara mereka, ia mendengar nafasnya sampai celana dan detak jantungnya berdetak melawan rusuknya. Saat bibir mereka bersentuhan, nafas mereka berbaur, ia berhenti, memberikan Kyungsoo kesempatan untuk memulai. Untuk mendapatkan yang Kyungsoo inginkan.
Namun Kyungsoo tidak melakukannya.
Di akhir detik kesepuluh, Jongin memindahkan tangannya dari tembok sampai ia berdiri tegak lagi, lengan di kedua sisinya.
Jongin memperhatikan Kyungsoo beberapa menit, mencoba memahami bagaimana cara untuk membuat Kyungsoo bertindak daripada berpikir. Sekali lagi, Jongin menggerakkan tangannya ke atas tembok lagi, mendekati Kyungsoo saat ia berbicara. " Katakan yang kau inginkan."
"Aku tidak mengerti."
"Ada alasan kita melakukannya. Kau menginginkan sesuatu. Jangan memikirkan jawabannya. Aku ingin kau merasakan jawabannya. Sekarang," Jongin berkata bersamaan dengan ia menjauh sejauh yang ia bisa dan mulai bersandar pada Kyungsoo, "katakan padaku, apa yang kau inginkan."
Kyungsoo menjilat bibirnya. Menelan dengan keras saat bibir Jongin mendekat. Tapi tetap dalam jangkauan. "Sekarang?"
"Secepat mungkin."
"Aku sangat ingin menciummu itu yang membuatku takut."
Jawaban Kyungsoo membuat Jongin sangat terkejut ia berharap Kyungsoo menjawab panjang lebar tentang dokternya tapi Jongin terlalu memikirkan dirinya sendiri untuk beralasan.
"Lakukan sesuatu tentang itu," komentarnya.
Kyungsoo menangkup wajah Jongin dan menautkan bibir mereka.
Saat ini, rasa asin dari keringat olahraganya bercampur dengan bibir rasa strawberi. Kombinasi ini sangat memabukkan, tak bisa dibandingkan dengan satu-dua pukulan yang ia dapatkan saat Kyungsoo menjilat bibir atasnya dengan lidah.
Jongin mendapati sebuah ajakan terbuka. Meluncurkan lidahnya ke dalam mulut Kyungsoo seperti merasakan ambrosia manis.
Jongin sangat berharap boxer pendeknya dapat bekerja lebih baik untuk menahan ereksinya yang membesar dari pada dirinya yang menahan puncak geraman yang terlepas dari dadanya.
Kyungsoo menarik diri, tiba-tiba berubah seperti terapis. Walaupun Kyungsoo tidak biasanya kehilangan nafas saat sedang menilainya. Jongin menyukai efeknya seperti ini. Sangat. "Ini bukan ide yang bagus , Jongin. Kau harus tetap fokus pada peregangannya atau kau akan membuat dirimu sendiri kesakitan."
Dengan tangan kirinya di dagu Kyungsoo, ia mengalihkan perhatiannya dari luka miliknya. "Bahuku tidak sakit sekarang, Kyung. Walau aku tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk anatomi tubuhku yang lain."
Kyungsoo menunggu dengan sabar saat benak polosnya menangkap niat jahatnya yang berkubang di selokan. Tidak berhasil. "Aku tidak mengerti, dimana sakitmu?"
Jongin menaikkan alisnya dan dengan cepat menyeringai lalu berkata, "Aku berpikir kotor." Sekarang Kyungsoo akan mengerti dalam tiga...dua...satu...
Pancaran mata abu-abunya yang agak membesar yang tiba-tiba tertarik dengan langit-langit di atas kepala Jongin berkata padanya bahwa ia menang.
Jongin ingin tertawa betapa mempesona saat Jongin melihat pipinya merona, tapi ia tidak yakin sendang ingin tertawa. Tidak. Pikirannya sudah mengharapkan satu tujuan yang akan membuatnya mendapat masalah. Sesuatu yang menyenangkan.
"Aku tahu aku bukan tipemu, Jongin. Kau tidak perlu mempermasalahkan apapun untuk membuatnya lebih baik untukku. Aku sudah dewasa."
Apakah dia serius? Kyungsok tidak percaya ia terpengaruh olehnya? Sekarang itu cukup untuk membuatnya terganggu. Melepaskan peregangan bodohnya, ia meraih pantat Kyungsoo dengan kedua tangan dan mendekatkan tubuh mereka.
Keras.
Kali ini Kyungsoo terkesiap dan meletakkan tangan di dada Jongin dengan lemah memberi sedikit jarak diantara mereka. Beruntungnya Jongin, itu bukan suatu hal yang dipedulikannya dan melenyapkan apapun diantara mereka terutama pakaian mereka.
Dan bahkan itu bukanlah taruhan yang aman kali ini. untuk membuktikannya, Jongin mendekatkan pinggulnya, membiarkan kejantanannya yang mengeras dan panjang menyentuh titik sensitif diantara kaki wanitanya.
"Merasakan itu, Kyungsoo? Itu bukan caraku bereaksi pada wanita yang tidak mempengaruhiku. Percayalah, ada banyak cara untuk mengajarimu hal itu. Tidak secara intim." Cara yang seharusnya ia gunakan. Tapi ia malah menggerakkan satu tangannya ke atas pinggang Kyungsoo dan menyentuh putingnya dengan ibu jari, membuat desahan bergairah dari bibir yang bengkak karena ciumannya. Walaupun terhalang bra sportnya dan tank top, Jongin dapat melihat puting Kyungsoo menegang dan mengeras dari sentuhannya. Ia mendesis puas. "Sepertinya aku tidak bisa meninggalkan diriku sendiri seperti ini."
"Kenapa tidak?" Kyungsoo berkata dengan sedikit gemetar.
Kenapa tidak? Itu adalah pertanyaan miliyaran dolar, benarkan? Kenapa ia tidak bisa menghindar dari Kyungsoo? Kenapa saat ia membayangkan Kyungsoo melakukan sesuatu dengan pria lain, kurang lebih si dokter brengsek yang wanita itu impikan, perutnya menegang seperti dipukuli oleh petinju kelas berat?
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Yang kutahu aku lelah melawan diriku sendiri saat aku dekat denganmu seperti ini. Jadi seharusnya aku tidak begini. Mungkin mulai sekarang kita menggunakan rencana baru."
Jongin tidak yakin Kyungsoo menyadarinya atau tidak, tapi tangan Kyungsoo meninggalkan dadanya dan bergerak ke lehernya, membuat payudaranya mendarat tepat ke arahnya. Sial, ia senang saat tubuh lembut Kyungsoo berada di tubuh kerasnya.
"Apa yang kau sarankan?"
Jongin mendekatkan kepala mereka hingga berbagi nafas, hidung mereka bergesekan saat mereka berdansa dikelilingi oleh gairah untuk menyatukan mulut mereka. "Mungkin cara terbaik untuk mengajarimu cara merayu, adalah membuatmu merasakan rasanya dirayu. Dan membiarkanmu mencoba dengan orang yang bukan targetmu. Jadi kau bisa menghilangkan kecanggunganmu."
"Seperti sedang menjalankan uji coba."
"Benar. Pada akhirnya aku akan kembali memperoleh kembali gelar seperti keinginanku, dan kau memperoleh siapapun pria gila itu seperti yang kau inginkan. Tak ada ikatan, tak ada rasa bersalah. Tapi pada saat yang sama, kita meredakan panas dan mengeluarkan apapun ini keluar dari tubuh kita."
"Aku kira itu masuk akal. Jelas rencana yang bermanfat." Jari-jari panjang Kyungsoo di tengkuk Jongin bergerak ke rambut di dasar kepala pria tersebut saat Kyungsoo memiringkan kepalanya ke belakang, Jongin langsung menjelajahi daerah lembut dari leher untuk ia gigiti dengan bergairah. "Ya, Tuhan." Kata-kata wanita itu berupa desahan doa, yang terdengar cukup keras untuknya, mambuat dirinya tersenyum puas saat berpindah ke belakang telinga Kyungsoo. Rasa Kyungsoo seperti caramel asin, kombinasinya membuat Jongin tidak pernah merasa cukup.
"Jadi apa yang kau katakan, Kyung?" ia menggigit daun telinga Kyungsoo dan menenangkan dengan isapan lembut mulutnya.
"Aku bilang " ucap Kyungsoo terpotong dengan terengah saat Jongin menekan punggungnya sedikit untuk mendesak ke tembok.
"Kau bilang?" Jongin mendesak wanita itu untuk mulai berkata lagi, sangat yakin ia tidak akan membuat Kyungsoo menyelesaikan kata-katanya. Sangat menyenangkan mengganggu Kyungsoo.
"Aku bilang bahwa Uhh!" Saat itu Jongin mendaratkan dirinya dimana ia tahu itu adalah titik sensitif yang membengkak dan sakit karena kedekatan mereka.
"Sial, Jongin, ya oke? Aku bilang ya untuk rencana baru!"
"Hanya soal waktu sampai kau mengatakan itu." Dan kemudian, Jongin menyerangnya.
.
.
.
.
.
.
T.B.C
