Seducing Cinderella

by

Gina L. Max well

.

.

.

.

.

Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)

Cast : temukan sendiri :)

Genre : funny, sweet, Romance

Rate : M

.

.

.

.

Awas typo

.

.

.

.

Happy reading

.

.

.

.

.

"Dua yang biasa, Fritz!" Luhan memanggil pria tua beruban di ujung bar.

"Jangan sampai celana dalammu terpelintir ( panik), aku akan mengambil minumanmu dalam satu menit!"

"Aku harus mengenakan celana dalam untuk menjaganya agar tidak terpelintir."

"Well, itu lebih baik daripada benang yang di selipkan di pantat (thong) yang gadis-gadis kenakan akhir-akhir ini."

"Bagaimana kau bisa tahu apa yang gadis-gadis kenakan? Film laga yang mungkin terakhir kali kau lihat adalah World War II, Tua Bangka."

"Ha! Aku punya cerita yang akan membuat rambutmu lebih keriting dari pada yang sekarang, nona, dan jangan kau lupakan itu."

Kyungsoo tertawa mendengarkan percakapan yang biasa terjadi antara Luhan dan pemilik bar yang sudah mereka kunjungi sejak kuliah. Fritz lebih seperti paman tersayang bagi mereka, tapi bukan berarti hal itu membuat humor yang dilemparkan diantara mereka tidak melintasi garis godaan genit dan lelucon kotor (tentang seks). Fritz adalah seorang pria tua yang genit, dan mereka berdua kagum padanya.

Setelah Fritz menyajikan bir dalam gelas bir besar, pria itu mencium jemari di kedua tangan para gadis dan menempatkan masing-masing tangannya di pipi Kyungsoo dan Luhan. "Nah sudah. Sekarang tutup mulut kalian dan pergilah bersenang-senang malam ini, huh?"

"Tentu saja, Fritzy," Luhan berjanji sebelum mereka berjalan ke ujung bar satunya dekat papan permainan lempar panah. Mereka menempati kursi bar yang mereka klaim sebagai kursi biasa yang mereka tempati dan menyenggolkan gelas mereka bersamaan dengan "Salut" yang antusias dan menyesap untuk pertama kalinya di malam itu. Luhan menepukkan tangannya di meja bar tiga kali, yang mana itu merupakan caranya untuk menarik perhatian. "Keluarkan semua (ceritakan)."

Kyungsoo mengangkat alis dibawah poni rambutnya saat mendengar suara tepukan meja dan menatap ke dalam beernya. "Aku akan lebih suka meminumnya jika jenis minumannya sama dengan yang kau minum." Kyungsoo mungkin termasuk ke dalam orang yang tidak tahan mabuk jika tentang masalah minum wine, tapi dia bisa bertahan dengan cukup baik jika berhadapan dengan bir, karena bertahun-tahun praktik dengan Luhan sejak masa kuliah mereka.

"Aku tak membicarakan masalah alkohol. Aku ingin kau memberitahuku apa yang terjadi denganmu dan si seksi yang tinggal di apartemenmu. Aku sudah menunggu dengan sabar sepanjang makan siang untukmu membicarakannya lebih dahulu, tapi sedihnya kau malah tutup mulut tentang tamu-mu. Jadi, bersiaplah untuk bersaksi."

Untuk kedua kalinya di hari itu Kyungsoo tersedak minumannya. Oh, demi Tuhan. Kau lebih baik belajar untuk mengontrol dirimu sendiri atau kau akan memerlukan maneuver Heimlich jika kau berani untuk makan lagi. "Tak perlu melakukan interogasi atau apapun, Lu. Tak ada yang terjadi dengannya. Dia adalah sahabat baik Yifan dan aku sedang membantunya, hanya itu."

"Apa dia sudah punya teman kencan?"

"Tidak." Tunggu sebentar. Dia masih belum tahu hal itu, kan? Jongin tak pernah mengatakan tentang mengencani seseorang, tapi Kyungsoo juga tak pernah bertanya. Tak ada alasan untuk menanyakan hal itu. Mereka hanya dua teman yang saling membantu. Tapi definisi dari "membantu" sudah berubah secara drastis dalam waktu seminggu. "Setidaknya, aku rasa Jongin tak punya teman kencan. Tapi lagipula dia bukan tipemu."

"Aku tak ada rencana untuk mengejarnya, tapi aku penasaran, mengapa dia bukan tipeku?"

"Peraturan nomor tiga."

"Benarkah? Apa pekerjaannya?"

"Dia adalah seorang petarung seperti Yifan."

Luhan mengernyitkan hidungnya seperti seseorang yang baru saja mengendus kaos kaki bau di depan wajahnya. "Oh, salah satu dari pria itu. Ya Tuhan, betapa kasarnya, selain itu tidak bertanggung jawab untuk merencanakan masa depan. Tidak, terima kasih."

Kyungsoo tidak ambil pusing untuk membela pilihan karir Jongin dan kakak laki-lakinya di depan temannya. Tak akan ada yang berubah. Luhan hidup dalam peraturan-peraturan yang sangat ketat dan menolak untuk menelikung peraturan itu untuk alasan apapun. Luhan mendapatkan ide itu di satu malam di saat mereka masih anak baru semasa kuliah, mabuk, dan menonton drama di televisi, NCIS. Si tokoh utama dalam acara itu memiliki lebih dari tigapuluh peraturan yang ia jalani dalam hidupnya, dan Luhan, dengan seluruh kebijaksanaan mabuknya, memutuskan bahwa ia membutuhkan strategi yang sama untuk menghindari jalan hidup aneh seperti kedua orang tuanya. Peraturan nomor tiga adalah "jangan pernah berkencan dengan seseorang yang tidak bekerja secara tetap dalam sebuah karir sukses yang berkepanjangan." Atlet dengan kemungkinan untuk menyakiti diri mereka sendiri di usia muda, secara efektif menghancurkan karir mereka, tidak termasuk ke dalam teman kencan yang berpotensi.

"Tapi mengapa tidak kau saja yang mengencaninya? Maksudku, kau tahu, pria itu benar-benar gumpalan daging manusia yang tampan dan menarik."

"Ew!" Kedua gadis itu tertawa secara serempak. Alkohol sudah mengendurkan otot mereka dari minggu panjang yang padat. "Apa maksudmu dengan gumpalan daging manusia? Tetap berpegangan pada jargon yang di perbolehkan karena jelas kau sangat buruk dalam mendeskripsikan pujian."

"Jangan menghindari pertanyaannya. Bagaimana dengan mengencaninya?"

"Tidak."

"Kenapa tidak?"

"Bukan seperti itu."

"Bisa saja."

"Bisakah kita berhenti membicarakan ini, Lu?"

Bulu mata gelap Luhan praktis menyatu saat ia menelaah wajah Kyungsoo

. Sial sial sial. "Mengapa kau tidak bercerita padaku, Do Kyungsoo?"

Kyungsoo selalu tersentuh hatinya saat sahabatnya menolak memanggil Kyungsoo dengan nama pernikahannya. Luhan mengatakan pada Kyungsoo bahwa dia harus "memutuskan semua tali yang menyambungkannya dengan bajingan sial itu," tapi Kyungsoo tak melakukannya. Dia membutuhkan hal itu sebagai pengingat untuk menjaga hatinya dengan lebih hati-hati lagi. Hubungan yang di dasari dengan gairah besar dan masa pacaran yang singkat akan hancur pada akhirnya. Apa yang Kyungsoo butuhkan adalah kebalikan dari semua itu: sebuah pondasi yang berasal dari minat yang sama dan satu tujuan, di lengkapi dengan sedikit ketertarikan, dan setidaknya dua tahun masa pacaran dan diikuti dengan masa pertunangan yang panjang.

Kyungsoo meminum setengah dari beernya dalam beberapa tegukan besar dan kemudian menaruh gelasnya di bar dengan desahan tanda menyerah. Setelah Luhan mencurigai bahwa Kyungsoo tidak mengatakan "yang sebenarnya, semua kebenarannya, dan tak ada yang lain selain kejujuran" Kyungsoo merasa seperti anjing pitbull. "Jongin harus segera sembuh dari cederanya dan kembali siap untuk pertandingan perebutan sabuknya dalam dua bulan."

"Dan?"

"Dan aku setuju untuk mengambil minggu liburanku untuk memberikannya perhatian spesial duapuluh empat jam penuh untuk membuatnya bisa kembali bertarung jika ia mau melakukan sesuatu untukku."

"Dan sesuatu itu adalaaaaaahhhh..."

Kyungsoo melihat kesekitar saat ia menggigit pipi bagian dalamnya sebelum akhirnya mencondongkan tubuhnya untuk meyakini bahwa hanya temannya yang bisa mendengar hal ini. "Dia mengajariku bagaimana untuk merayu Sehun."

"Apa!"

"Shhhhh! Kecilkan suaramu, dasar aneh!"

"Aku si Aneh? Kyung, kapan kau akan menyadari bahwa pria itu tak pantas mendapatkan dirimu? Apakah itu alasan semua penampilan barumu? Maksudku, kau terlihat luar biasa, tapi jika si bajingan itu tidak menyadari keberadaanmu sebelum semua pakaian dan pelajaran merayu itu maka itu kerugian baginya."

"Yeah, aku tahu, kau pernah menyebutkan itu satu atau dua kali sebelumnya," Kyungsoo menjawab dengan masam. Kenyataan yang menjadi masalah adalah bahwa Luhan tidak setuju pada rasa tertariknya ke dokter baik hanya karena pria itu gagal membuat langkah maju setelah mereka bekerja bersama selama satu tahun. "Dengar, bisakah kita berhenti membicarakan hal ini? Ini sangat mengganggu kesenanganku."

"Kesenanganku juga. Oke, topik ini resmi turun dari meja (tidak di ungkit lagi). Baekhyun dan Chanyeol baru saja masuk jadi aku akan mengambil bir lagi untuk kita sebelum kita memulainya. Jaga kursiku."

Kyungsok mengangkat kakinya ke atas kursi Luhan yang kosong dan melambai ke setengah anggota tim mereka yang lain. Setidaknya para pria akan menjadi penahan dari isu Jongin-Sehun. Kyungsoo sudah merasa seperti menaiki rollercoaster semenjak Sehun masuk ke dalam kantornya Jumat pagi yang lalu, diikuti dengan kunjungan mendadak dari Jongin yang mengejutkannya dan bahkan tawaran Jongin yang jauh lebih mengejutkan.

Sesi cumbuan panas mereka hanya bertujuan untuk mengajari Kyungsoo bagaimana rasanya bercinta dengan keras dan bergairah setiap saat. Dan Kyungsoo bahkan tak bisa menikmati makan siangnya dan film yang ia tonton dengan Luhan karena Kyungsoo mengantisipasi hal yang akan terjadi nanti. Sekarang hal itu sudah tak ia pikirkan lagi, Kyungsoo memutuskan untuk menikmati beberapa jam ke depan yang menyenangkan dan bebas-drama. Kyungsoo mengirim pesan kepada Jongin sebelumnya dan meminta maaf untuk lupa memberitahu Jongin tentang malam pertandingan dan mengatakan padanya untuk tidak menunggunya pulang karena Kyungsoo tahu bahwa Jongin selalu tidur lebih cepat dengan jadwal yang latihan padat yang ia lakoni.

Saat Kyungsoo ingat bahwa ia tak akan melihat Jongin hingga besok pagi, Kyungsoo menurunkan birnya dan bergerak tak nyaman di kursinya. Yep. Tak ada yang perlu di khawatirkan, tak ada yang perlu di takutkan. Hanya beberapa permainan lempar panah yang menyenangkan dan minum dengan teman-temannya. Kyungsoo sangat membutuhkan hal ini.

Jongin berjalan ke arah bar yang telah disarankan oleh Luhan saat dia akan pergi keluar tadi pagi. Dia tak berencana untuk datang, tapi saat Kyungsoo mengirim pesan yang memberitahunya untuk tidak menunggu, dia tahu bahwa Kyungsoo menghindarinya dan menghindari hal yang Jongin janjikan akan terjadi padanya sepulangnya ia ke rumah malam ini. Hal ini tidak seharusnya mengganggu Jongin. Tapi hal itu mengganggunya. Dan Jongin tak tahu mengapa hal itu terjadi.

Apa yang Jongin tahu adalah saat dirinya berbelanja bahan makanan sore itu dan dia mencoba untuk memikirkan lebih banyak makanan yang Kyungsoo mungkin sukai. Dan hal itu membawanya ke dalam pikiran yang menjurus ke gambaran bagaimana mengajari Kyungsoo cara memasak makanan itu, lengkap dengan membiarkan Kyungsoo mencicipi makanan dari jari Jongin. dan kemudian dari lidahnya. Dan gambaran itu membuat Jongin seperti sedang menyelundupkan sebuah ketimun di dalam celana pendeknya saat dirinya bergerak ke bagian sayur-sayuran.

Berdiri di pintu masuk, Jongin menyisir bar mencari Luhan, berpikir bahwa Luhan akan mudah di temukan karena tinggi tubuhnya dan rambutnya yang berwarna merah terang. Dua detik kemudian pandangan Jongin seketika berhenti. Sial, dia sudah keliru.

Kyungsoo berdiri diantara kerumunan yang sudah jelas merupakan pertandingan lempar panah yang ia ikuti. Jongin mengenali Luhan dan Chanyeol, tapi mereka bahkan hanya menjadi pandangan kabur segera setelah dirinya menemukan Kyungsoo. Kyungsoo mengenakan celana jeans capris gelap yang fenomenal, ketat memeluk bokongnya dan rendah di bagian pinggulnya yang langsing, dipasangkan dengan baju kaos longgar berwarna jingga pucat dangan logo soda Crush yang klasik menghiasi bagian depan. Jongin suka dengan logo yang mengikuti bentuk payudara Kyungsoo saat wanita itu mencoba kaos itu di toko. Sekarang Jongin ingin menghajar dirinya sendiri karena sudah menambahkan kaos itu ke dalam lemari pakaian Kyungsoo, karena jelas pria-pria lain di bar ini juga mungkin menyukai kaos itu dengan alasan yang sama dengannya.

Kyungsoo terlihat sangat berbeda dari apa yang Jongin lihat minggu lalu. Tak hanya dari penampilannya, tapi juga semangatnya. Kyungsoo memiliki aura yang bersinar dengan indah dari wajahnya. Jongin berdiri diam, memutuskan untuk menonton Kyungsoo di lingkungannya untuk sesaat. Senyumnya sangat lebar dan untuk pertama kalinya Jongin melihat lesung pipi mungil di pipi kanan Kyungsoo. Rambutnya panjang sewarna chestnutnya di tarik kebelakang membentuk sanggul serampangan yang terlihat terpasang dengan sebuah tongkat pengaduk dari bar. Kyungsoo menyemangati Luhan yang sedang melempar anak panah ke papan panah terdekat dimana Kyungsoo dan dua orang pria berdiri. Saat anak panah terakhir Luhan menancap di papan, ke empat orang itu bersorak gembira. Pria pirang di sebelah Kyungsoo mengangkat tubuh ramping Kyungsoo dan memutarnya sebelum memberikan ciuman keras di bibir.

Dan Kyungsoo bahkan tidak melawan.

Menyadari bahwa reaksinya tak beralasan, bahkan menggelikan, Jongin berjalan melintasi ruangan, menggunakan berat tubuhnya dan bahunya yang lebar sebagai keuntungan dalam menerobos kerumunan orang. Kyungsoo tidak melihat Jongin berjalan kearahnya karena posisi Kyungsoo membelakanginya, tapi Luhan melemparkan senyuman yang berseri-seri saat ia menyadari pria itu berdiri di belakang Kyungsoo

"Hiya, Jongin! Aku senang kau memutuskan untuk datang! Kau datang tepat pada saat kami sedang merayakan kemenangan pertama kami malam ini."

Kyungsoo tidak berbalik selama lima detik, mungkin lebih dari lima detik. Tapi sesaat setelah Luhan memanggil nama Jongin, ketegangan terlihat meluruskan tulang belakangnya. Saat akhirnya Kyungsoo menghadap kearah lelaki itu, senyuman Kyungsoo hanya sekedar lengkungan tipis di wajahnya. Kyungsoo tak senang melihatnya. Pasti karena Jongin menginterupsi kesenangannya dengan penggemar barunya. "Jongin. Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku mengundangnya sebelum kita berangkat sore tadi," kata Luhan. "Aku pikir ia bisa bergabung untuk minum-minum, atau setidaknya menonton kita minum jika itu bertentangan dengan diet superketatnya atau apalah."

Jongin merunduk dan menurunkan suaranya jadi hanya Kyungsoo yang bisa mendengarnya. "Aku memiliki dugaan gila bahwa mungkin kau menghindariku karena kau gugup tentang malam ini. Tapi hal itu sepertinya lebih dikarenakan kau tidak ingin aku menghalangi cumbuanmu dengan si Pirang yang berdiri di sana."

Saat Jongin meluruskan tubuhnya, kalimatnya sendiri membakar tubuhnya seperti halnya cairan asam di siramkan ke gendang telinganya. Betapa bajingannya dia mengatakan hal itu pada Kyungsoo. Gadis itu tak layak mendapatkannya, dan ekspresi terluka dan kebingungan melintas di wajah Kyungsoo. Menggenggam tangannya, Jongin membawa Kyungsoo ke ruangan kecil dimana sebuah telepon umum terpasang di dinding.

"Sial, maafkan aku, Kyung. Aku berkelakuan seperti seorang bajingan. Jika kau ingin bersenang-senang atau apapun dengan pria itu, maka..." Jongin menyapukan tangannya di rambutnya dari belakang ke depan kemudian meluncur ke janggut tipisnya. "Maka itu hal yang bagus," akhirnya kalimat itu terpaksa ia keluarkan.

"Jongin, itu manis sekali aku pikir, tapi apa yang sedang kau bicarakan? Tak ada pria yang sedang aku goda disini."

Jongin menunjuk ke arah dimana mereka terlihat bersama tadi. "Aku melihatnya menciummu, Kyungsoo, dan kau tak terlihat kaget saat ia melakukannya."

"Itu karena ia melakukannya hampir setiap saat."

Kyungsoo mengatakan hal itu seperti seharusnya hanya itu saja penjelasan yang Jongin butuhkan. Tapi hal itu malah membuat situasi semakin tak masuk akal sekarang.

"Ayo." Sekarang saatnya Kyungsoo untuk menggenggam tangan Jongin dan membawanya kembali kemana mereka berasal.

Kyungsoo melambaikan tangannya ke arah pria pirang yang sudah mencium gadisnya tadi. Tunggu sebentar, siapa? Kyungsoo. Pria ini mencium Kyungsoo. "Jongin, aku ingin memperkenalkanmu pada Chanyeol. Chanyeol, ini sahabat baik Yifan dan pasien garis miring tamu garis miring...um, pelatih pribadiku."

Dari ujung matanya Jongin melihat senyuman licik terbentuk di wajah Kyungsoo, yang mana sangat seksi. Kyungsoo jelas sangat bangga terhadap permainan kata yang ia lakukan untuk menjelaskan hubungan unik diantara mereka, dan Jongin harus mengakuinya, bahwa hal itu sangat cerdas.

Chanyeol menjulurkan tangannya dan Jongin menjabatnya dengan sportif, tapi Jongin memastikan untuk memberikan sedikit penekanan dan pandangan tersirat antar sesama pria. Pandangan jangan-main-main dengan gadis ini atau aku akan memakan jantungmu untuk sarapan dengan sereal Wheati es-ku.

Pria itu sepertinya tak main-main dalam urusan otot, tapi itu bukan masalah bagi Jongin. Dengan latihan yang Jongin lakukan ia bisa menjatuhkan petarung jalan manapun, tak peduli seberapa besar tubuh mereka, jika hal itu akan terjadi.

"Dan kau sudah bertemu dengan Baekhyun kemarin malam," tambahnya.

Jongin berbalik dan menjabat tangan Baekhyun "Baekhyun. Aku tak berpikir bahwa kita akan bertemu lagi secepat ini."

"Beruntungnya aku," kata Baekhyun sambil tersenyum. "Sekarang kau bisa membelikanku bir untuk malam ini."

Kyungsoo memotong dengan pandangan tajam ke arah Jongin. "Chanyeol adalah partner Baekhyun."

"Di rumah sakit?"

Chanyeol tersenyum di belakang birnya saat ia meminumnya dan Baekhyun tertawa sembari menjawab, "Tidak, bung, kau melewatkannya. Kyungsoo menekankan pada kata 'partner'. Dia menekannya dengan jelas meskipun tidak mengutip dengan jarinya untukmu."

"Mengutip dengan jari?"

Luhan jelas tertawa terlalu keras, tapi kemudian berhenti sejenak untuk menjelaskan pada Jongin. "Mereka kekasih, Jongin. Baekhyun dan Chanyeol pasangan gay."

Jongin melirik ke arah Kyungsoo untuk konfirmasi. Sial. Well, ini merubah segalanya. Menjulurkan tangan ke arah Chanyeol lagi, Jongin mengatakan, "Maaf, bung. Aku berasumsi ..."

"Bahwa aku bercumbu dengan Kyungsoo? Tak perlu mengatakannya, bung, aku benar-benar mengerti. Kau hanya berdiri untuk menggantikan Yifan sebagai kakak laki-laki yang protektif. Tapi sebaiknya kau memiliki kemungkinan lebih besar untuk aku sukai daripada Kyungsoo kita yang manis disini."

Baekhyun menajamkan pandangannya pada kekasihnya dan Jongin tak bisa menahan diri untuk tidak membalas.

"Tenang, amigo," kata Jongin. "Taringmu terlihat."

"Yeah, aku tahu. Chanyeol pikir menyenangkan saat melihatku cemburu." Kemudian Baekhyun berbalik ke arah Chanyeol yang sedang menikmati pertunjukkan itu dengan tangan bersilang di dadanya. "Jaga sikapmu, Yeolie, atau kau akan membayar hal itu nanti. Itu janjiku."

Chanyeol mengejek, tak sedikitpun terintimidasi ancaman itu. "Kau harusnya tahu bahwa aku tak melakukan hal itu karena sebuah kecelakaan. Aku akan membuat satu ronde lagi untuk kita." Sebelum Baekhyun memiliki kesempatan untuk membalasnya, Chanyeol berkedip ke arah Jongin bukan kedipan genit, tapi sinyal bahwa ia senang membuat pasangannya cemburu dan berjalan melewati Jongin ke arah bar.

"Hey, Orange Crush!" Mereka berlima berbalik ke arah pria yang berteriak diantara kerumunan, tapi jelas siapa yang pria itu maksud. Jongin memutuskan untuk menyembunyikan kaos itu sesampainya mereka di rumah. "Giliranmu!"

"Oh, sial, game ketiga sudah di mulai," kata Kyungsoo sebelum menyelesaikan birnya.

"Kami kalah di game pertama dan memenangkan game kedua, jadi tim manapun yang memenangkan game ini akan maju ke babak playoff. Doakan aku berhasil!"

Teman satu timnya mengangkat gelas mereka dan berteriak, "Semoga berhasil!" pada saat bersamaan. Sepertinya hal itu sudah sering mereka lakukan. Sekarang Jongin tak lagi merasa marah, mereka jelas terlihat merupakan tim yang solid.

Jongin membawa sebotol air mineral dan menaruhnya di atas meja untuk melihat Kyungsoo memainkan anak panah. Setiap kali Kyungsoo selesai melemparkan anak panah, Kyungsoo akan berdiri di sebelahnya di bar saat mereka semua berbincang dan tertawa. Jongin sudah mencoba menawarinya kursi yang ia duduki, namun Kyungsoo menolaknya dan mengatakan bahwa ia akan sering berdiri. Sepertinya kebanyakan pemain lain juga tak duduk di kursi, memilih untuk berdiri di batas area permainan dan menyemangati teman mereka dan mencoba untuk mengganggu konsenterasi lawan.

Tak apa baginya karena duduk dengan meja bar di sebelah kanan dan papan panah di sebelah kirinya, Kyungsoo secara tidak sengaja berdiri santai diantara kedua lututnya. Dan karena teman-teman Kyungsoo berdiri di depannya, itu memberikan Jongin kesempatan yang sempurna untuk menyentuh Kyungsoo tanpa orang lain ketahui.

Pertama kali Jongin melakukan sesuatu sebuah sentuhan ringan ke arah punggung Kyungsoo dengan satu jari wanita itu langsung tersentak karena terkejut. Karena seseorang baru saja memasukkan begitu banyak koin ke jukebox, semua orang harus berteriak mengalahkan musik yang ribut atau berbicara langsung di telinga orang lain. Hal lain yang menguntungkannya. Mengarahkan mulutnya ke telinga Kyungsoo, ia berkata, "Tenang, sayang. Tak ada yang bisa melihatku menyentuhmu. Turunkan rambutmu, Kyungsoo. Aku suka melihatnya tergerai."

Setelah menghabiskan segelas birnya, Kyungsoo mengangkat satu tangannya dan menarik pengaduk plastik dari rambutnya, menaruhnya di meja bar. Rambut tebalnya jatuh ke bahu dan punggungnya dengan potongan yang lebih pendek di depan membingkai wajahnya. Kyungsoo memiliki rambut seperti di iklan rambut Pantene, tapi sayangnya dia jarang menggerainya.

Sekembalinya Kyungsoo dari gilirannya bermain, ia sekali lagi menempatkan dirinya di antara kaki Jongin dan mulai mengobrol dengan Baekhyun dan Chanyeol saat Luhan melakukan gilirannya di permainan itu. Saat Kyungsoo mendengarkan Chanyeol bercerita tentang beberapa event dari tempat kerjanya dan merespon semuanya di saat yang tepat, Jongin menyelipkan tangannya di balik kaos Kyungsoo berhati-hati dan tetap menjaga jaraknya dekat dengan Kyungsoo jadi tak ada yang bisa melihat apa yang sedang ia lakukan. Jongin ingin membuat Kyungsoo lebih menyadari keberadaannya, bukannya ingin memberi seisi bar pertunjukkan gratis.

Dengan lembut Jongin menyentuhnya, menyapukan jemarinya di belahan tulang belakang Kyungsoo, menjalankan jempolnya di sepanjang garis pinggang Kyungsoo dibawah ujung celana jinsnya. Di bawah bar, tangan Kyungsoo yang di taruh di atas lutut Jongin kini mengencang, menanamkan kuku pendeknya ke celana jeans yang Jongin kenakan.

Tanpa menghentikan gerakannya, Jongin menjawab pertanyaan dari Chanyeol saat Luhan kembali dan Baekhyun pergi melakukan permainannya. Memegang pinggul Kyungsoo, secara perlahan ia menarik tubuh gadis itu ke belakang beberapa inchi jadi Kyungsoo bisa merasakan kemana jalan pikiran Jongin.

Getaran menjalar di tubuh Kyungsoo saat tubuh mereka bersentuhan, dan hal itu jelas bukan karena dingin di bar yang sesak.

"Ayo, Baekhyun, kau bisa melakukannya!" Luhan berteriak. "Satu kali lagi. Semua yang kau butuhkan hanyalah tiga angka delapanbelas dan kita akan maju ke babak playoff, sayang!"

Jongin merundukkan kepalanya untuk mendekat ke telinga Kyungsoo. "Apa biasanya kau tetap tinggal dan merayakan setelah permainan berakhir?" Kyungsoo mengangguk. "Malam ini aku ingin kau mengatakan pada mereka bahwa kau lelah, sakit, diculik oleh alien, apapun yang bisa kau katakan. Kau akan pulang denganku."

Kyungsoo berbalik di pelukannya dan bergerak mendekat untuk menjawab. "Luhan akan tahu sesuatu yang aneh terjadi jika aku tidak pulang dengannya. Dan ia tak akan membiarkan semua hal ini semudah yang kau bayangkan."

Jongin mencondongkan kepalanya dan berdiri. "Baiklah. Aku akan menunggumu. Jangan terlalu lama, Kyungsoo. Aku pikir aku bukanlah pria yang sabar di saat seperti ini."

Jongin mengatakan selamat tinggal, memberikan Kyungsoo satu tatapan terakhir yang penuh arti, dan berjalan keluar bar. Dia memberikan Kyungsoo waktu tigapuluh menit. Maksimal.

.

.

.

.

.

T.B.C

Selamat buat uri EXO yang memenangkan awards di MMA. Tetap semangat dan jangan lupa untuk selalu streaming dan vote EXO guys meski kalian tau sendiri jika EXO banyak dicurangi. Tapi kita juga tidak boleh pesimis tetap percaya bahwa kita bisa membuat EXO mengangkat tropi kembali. WE ARE ONE mari kita lakukan bersama untuk selalu berada disamping, dibelakang EXO dan selalu memberi dukungan pada mereka. WE CAN DO IT GUYS :)

.

.

.

pasti ada yang bingung dengan cerita di chapter ini tentang Baekhyun dan Jongin. Sebenarnya di Chapter 7 itu yang ketemu dengan Jongin saat di acara Xiumin adalah Baekhyun bukan Chanyeol. Maafkan saya yang salah menulis nama tokoh ㅋㅋㅋ.