Seducing Cinderella
by
Gina L. Max well
.
.
.
.
.
Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)
Cast : temukan sendiri :)
Genre : funny, sweet, Romance
Rate : M
.
.
.
.
Awas typo
.
.
.
.
Happy reading
.
.
.
.
.
Terima kasih, Fritz. Bisakah kau membukakan bon untukku (pending bill)?"
Pria itu mengerlingkan matanya sebagai balasan sebelum menemui pelanggan bar lainnya saat Kyungsoo mengambil segelas besar bir dan membawanya ke ujung ruangan. Luhan sedang berbicara ditelepon,berdebat dengan seseorang seperti biasanya.
"Tentu saja tidak. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka tawarkan, kita belum memutuskan apapun. Dengar, aku sedang berada di rapat penting sekarang jadi aku akan menghubungimu nanti. Uh-huh, buh-bye." Luhan menepiskan rambutnya yang ikal kebelakang bahunya dengan kasar ia menaruh ponselnya kedalam tasnya, dia mendesah dramatis tanda kelegaan saat mereka melakukan ritual yang biasa mereka lakukan saat menyatukan gelas mereka dan bersulang untuk kesehatan mereka. "Jadi,apa yang terjadi? Kau tidak pernah meminta RMD, terakhir kali kau memintanya adalah saat kau sedang stress saat kau menghadapi tugas akhir semester."
Benar. Biasanya Luhanlah yang selalu mengadakan Rapat Minum Darurat sesuai dengan drama terakhir yang di alaminya,entah itu masalah pribadi atau masalah pekerjaan. Luhan mempunyai bakat dalam melodrama, bakat yang bisa membuatnya terlihat luar biasa saat berada di ruang sidang, tapi itu juga bisa berarti ia sedang berada di puncak kesuksesannya atau sedang tenggelam dalam kesedihan. Kyungsooah yang selalu menjadi penyeimbang. Sehingga mereka bisa saling melengkapi satu sama lain.
Kyungsoo menenggak kembali minumannya untuk menambah keberanian dirinya dan akhirnya untuk pertamakalinya dia mempunyai cukup kekuatan untuk mengatakan apa yang selama ini bergelut di kepalanya. "Aku rasa aku jatuh cinta pada Jongin." ucapnya dengan nada pelan, dan menegak kembali menumannya. Satu desahan lolos saat cairan itu membasahi tengorokannya.
Temannya mengeluarkan oops yang menjengkelkan seperti ia baru memenangkan hadiah undian beberapa ratus dollar yang tidak pernah ia duga sebelumnya. "Aku pikir kau bilang ada masalah, tapi ini luar biasa! Selamat, sayang, dia adalah salah satu spesies pria yang baik. Mm-mm-mm. Seperti apa dia saat di ranjang? Aku bertaruh dia pasti fantastiskan? Sial! Aku mau setiap detailnya, termasuk panjang, besarnya, dan apakah bentuknya agak bengkok kesamping?"
"Demi Tuhan, bisakah kau menurunkan volume suaramu?" Kyungsoo berbisik. "Aku tidak akan memberikan detail anatomi tubuhnya padamu."
Mimik wajah yang hebat, memohon dengan mata kucingnya. "Jangan membuatku memohon Kyungsoo. Pria di kota ini bahkan tidak sepadan dengan usaha untuk merobek foil kondom, belum lagi kekecewaan yang kita dapat setelah itu. Kau harus mengatakan padaku seperti apa rasanya menunggangi kuda jantan seperti dia."
Kyungsoo menggosok hidung dan mulutnya sampai-sampai ia bisa dengan mudah menelan birnya tanpa tersedak."Apa yang membuatmu berpikir kalau kami telah berhubungan seks?"
"Sekarang kau menghina kepandaianku."
Kyungsoo mendengus. "Lebih kepada indra keenammu yang aneh."
Luhan mengangkat bahu. "Ayolah katakan sesuatu."
Kyungsoo melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mendengar lalu ia berkata. "Ya, oke. Kami sudah..."
"Bersetubuh seperti kelinci?"
"Berhubungan intim," Kyungsoo menatap dengan tatapan yang tak bisa dibantah. "Dan itu..."
"Fenomenal, Lain dari pada yang lain, cukup untuk membuatmu dengan cepat membungkuk dan membuka kedua kakimu setiap kali dia menatapmu?"
Kyungsoo menatap dengan mulut menganga dan matanya melebar. "Itu cukup keterlaluan, bahkan untukmu, Lu."
"Maaf, aku terbawa suasana. Lanjutkan."
"Itu indah."
Kyungsoo memasang wajah seperti ia sedang menelan bir basi. "Indah? Kau tidak bisa mengatakan kata sifat yang lebih baik lagi dari indah?"
Kyungsoo menatap langit-langit untuk sesaat fikirannya melayang, lalu kembali pada wanita yang kecewa di hadapannya. "Tidak ada. Itu sangat indah,dalam arti yang sebenarnya."
"Oke, baiklah, aku mengerti. Aku harus menunggu sampai kau mabuk sebelum aku bisa memperoleh informasi lebih darimu." Kyungsoo tertawa dan berterima kasih pada anak perempuan Fritz saat ia membawakan minuman tepat di saat mereka telah menenggak habis minuman mereka.
" Jadi kenapa, apa kau berfikir jatuh cinta pada Jongin adalah hal yang buruk? Aku pasti telah melewatkan sesuatu karena aku tidak menemukan sesuatu untuk mendukung teori tersebut."
"Apa maksudmu?"
"Well, aku memang baru berkencan beberapa orang pria, tapi kau dan aku tahu bahwa aku sangat ahli dalam menilai karakter seseorang. Jongin adalah pria yang sempurna." Luhan mengangkat tangan kirinya dan mulai membuka satu persatu jarinya sesuai dengan karakter yang ia ucapkan. "Sangat Menarik, lucu, mempesona,kaya, sangat menarik, sukses, berteman dengan kakakmu, dan dia jelas telah membakar dirimu. Apakah aku sudah mengatakan dia sangat menarik?"
"Tidak, kupikir tidak," katanya masam." dan apa maksudmu membakar? Itu terdengar seperti sesuatu yang akan di ucapkan oleh nenekku."
Luhan memutar matanya. "Baiklah aku mungkin tadi terdengar agak vulgar,sekarang aku akan membuatnya menjadi sedikit sopan. Pria itu jelas telah membuatmu terangsang. Apa itu terdengar jauh lebih baik?"
"Yah, itu sempurna. Seperti apa yang ku inginkan dari seorang pria hanyalah sekedar seks."
"Bukan itu maksudku," Ucap Luhan mata hijaunya melembut."Aku melihat bagaimana ia menatap mu. Dia terpesona padamu. Seperti, benar-benar terpesona , aku tidak akan terkejut jika dia telah ... "
Kyungsoo mengangkat tangannya. "Jangan. Jangan katakan karena dia tidak tidak seperti itu."
"Bagaimana kau tahu?" Luhan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi menatap temannya dengan tatapan tajam.
"Ayolah, Lu, kau bukan ibuku. Kau tidak perlu menenangkan egoku. Laki-laki seperti Kim Jongin tidak akan jatuh cinta pada gadis sepertiku."
"Kenapa sangat sulit bagimu untuk percaya bahwa kau pantas untuk dicintai oleh pria yang baik? Kau adalah orang yang sangat cantik yang aku tahu, luar dan dalam. Dia bodoh jika dia tidak jatuh cinta padamu,"
Kyungsoo mengambil gelasnya dan menenggak beberapa tegukan. Apakah Luhan benar? Apakah Jongin benar-benar mempunyai perasaan padanya? Ia memikirkan kembali apa yang telah terjadi selama beberapa minggu terakhir ini, benaknya menyusun katalog dalam kolom-kolom. Hal yang akan dilakukan teman versus hal yang akan dilakukan kekasih. Kolom kekasih dengan cepat terisi sedangkan kolom teman tak beranjak dengan statistik rendah yang menyedihkan. Kupu-kupu menyebar di dasar perutnya saat ia mendongak menemukan senyum sombong di wajah Luhan. Ia menggelengkan kepalanya.
"Bahkan jika kau benar, bagaimana itu bisa terjadi? Kami benar-benar bertolak belakang. Aku sudah melakukannya dulu, ingat?"
"Tidak," katanya mencondongkan badannya kedepan untuk menekankan, "apa yang kau lakukan adalah terjebak dengan pengecut yang tidak benar-benar menyukai siapapun selain dirinya sendiri. Hubungan itu gagal karena pengecut itu tidak dapat menyimpan kemaluannya di didalam celananya, Kyungsoo, bukan karena dia bisa menyimpan sapi dan kau suka memakannya."
"Amin, Red!" Fritz mengantarkan bir baru dan menaruhnya dengan keras dan menahan tangan di meja. "Aku tidak tahan dengan banci dan orang yang hanya memikirkan kepuasannya sendiri." Ia menggoyangkan jari yang rapuh saat dia berbicara kepada mereka berdua. "Jangan pernah percaya pada pria yang tidak minum bir. Seorang pria yang hanya meminum minuman yang hanya akan membuat dirinya berakhir menjadi manja bukanlah seorang lelaki. Dia mungkin seperti memberitahu ukuran buah zakarnya saat dia sedang memesan minuman,jka kalian mengerti maksudku."
Para gadis tertawa dan berterima kasih padanya untuk menyuarakan nasihatnya, meyakinkannya bahwa mereka akan memegang kebijakan itu untuk tiap pria mulai sekarang.
"Well, baiklah. Yang satu ini aku yang traktir asalkan kalian memberikanku sesuatu manis." Pria tua itu membungkuk membuat mereka tertawa, mereka lalu memberi ciuman di pipinya yang tertutupi janggut pendek putih. Frizt lalu berdiri dan berkata, "Itu adalah cara yang sempurna untuk mengakhiri malam ini. Aku akan naik keatas dan membiarkan michelle berjaga sampai tutup malam ini. Kalian harus berlaku baik, kalian dengar?"
Setelah mereka berjanji dan mengucapkan selamat malam, Kyungsoo berpaling pada Luhan dengan kegembiraan yang sama, ketakutan juga tekad." Oke, katakan padaku apa yang harus kulakukan."
Mata hijau Luhan terlihat benar-benar berbinar dengan nakal dan seringai di mulutnya. "Dia sudah memberikanmu pelajaran menggoda, benar?"
"Ya," jawab Kyungsoo waspada.
"Mudah saja." Luhan meletakkan lengannya dimeja di depannya dan bersandar. " Kau pulang ke rumah, gunakan pelajaran itu dengan baik, dan tunjukkan pada guru bagaimana kau telah menjadi murid yang baik."
.
.
.
Jongin membuka pintu gym lamanya dan berjalan pelan. Emosi yang campur aduk dari bau yang familiar dan suara yang membawanya ke masa lalu. Masa ketika ia masih muda dan berada dalam kuasa ayahnya. "Ada masalah apa denganmu? Untuk terakhir kalinya kukatakan, angkat tanganmu!"
Gema suara ayahnya di ruangan besar dan terbuka seperti asam laktat yang memenuhi otot-ototnya, membuatnya tegang dan nyeri. Ia mengikuti suara yang keluar dari anak SMA di atas ring, sedang berlatih dengan seorang pria yang sudah menjadi angota tim football di kampusnya.
"Perhatikan cara menjatuhkannya! Dia akan menyerangmu " pria yang lebih besar melempar tubuh bagian bawah anak itu, membelitkan tangannya diseputar pinggulnya, dan mentakelnya sampai jatuh. Kim Jongkook menyuarakan waktu habis dan para petarung memisahkan diri, yang satu menghirup nafas dengan susah payah, yang lain tampak bosan.
"demi Tuhan Yuta, kenapa aku bahkan repot-repot denganmu?"
"Maaf, Pelatih," katanya, merendahkan tatapannya ke bawah.
"Masih tetap menggertak anak-anak ," Jongin berkata dengan rahang kaku.
Kepala pria tua itu tidak bergerak banyak, tapi matanya menatap dan menyipit pada anak lelaki satu-satunya seperti sedang mengukur musuhnya sebelum akhirnya ia tegak dan menyilangkan tangannya di dada. "Well,well, jika itu bukan anak yang hilang."
"Sudah lama sejak kau membaca Alkitab, Kim. Anak yang hilang kembali ke rumah setelah tersesat dalam hidupnya dan meminta pengampunan ayahnya. Aku tidak kembali. Hanya berkunjung. Dan semua yang sudah kulakukan adalah untuk menjalani hidup yang sudah kau ajarkan kepadaku jadi tidak ada alasan untuk meminta maaf."
"Oh, kau tidak, begitu? Bagaimana dengan meminta maaf atas apa yang telah kuberikan padamu semua pengetahuan, semua latihan, semua dedikasi dan meninggalkanku diam-diam saat kau hidup di kehidupan mewahmu di liga besar."
"Aku tidak meninggalkanmu," bentak Jongin. "Aku menawarimu untuk keluar bersamaku. Aku punya rumah besar yang bisa kau gunakan untuk dirimu sendiri. Kau menolaknya."
Jongkook mendengus. "hidup disana menjadi apa? Seorang mantan petarung yang hidup dengan kemurahan hati anaknya? Tidak terima kasih. Aku seharusnya menjadi manajermu."
Jongin menggeretakkan rahangnya dan mengulang mantra di kepalanya beberapa kali sebelum bebas berbicara lagi. "Dengar, aku tidak datang kesini untuk berdebat. Aku sedang disekitar sini dan kupikir akan menyapa bicara tapi jika kau terlalu sibuk tidak apa-apa."
Setelah beberapa saat saling menatap, ayahnya akhirnya mememecah kebisuan.
"Yuta. Jaehyun. Pukul karung dulu. Kau," katanya menunjuk Jongin, "Ikut denganku."
Jongin mengikuti ayahnya masuk ke kantor kecil yang terdiri dari meja besi usang dan beberapa meja lipat di depannya. Jongkook duduk di balik meja di kursi vinyl penyok dengan beberapa lakban perak untuk menambal pinggirannya yang sudah robek. Jongin memutar salah satu kursi dan menungganginya, menyandarkan tangannya ke belakang. Dirinya mengatakan pada diri sendiri untuk bangkit dan pergi. Ia tahu ia tidak akan mendapatkan kehangatan dan kelembutan dari ayahnya. Setidaknya, itulah yang terjadi beberapa tahun silam. Mungkin ayahnya akan melembut setelah bertahun-tahun.
Yah, dan mungkin ibunya akan melewati pintu dan berkata seharusnya ia tidak meninggalkan mereka seperti sepasang sepatu yang sudah tidak ia pedulikan lagi.
Salah satu hal yang ayahnya ajarkan pada Jongin adalah untuk membaca bahasa tubuh kau memperhatikannya apakah di pertarungan atau diluar kau nyaris bisa mengantisipasi gerakan lawan atau reaksi mereka padamu.
Pria tua itu bersandar di belakang kursinya dan menyilangkan tangannya di dadanya yang rata. Ia waspada dan tidak senang dengan kejutan kunjungan anaknya. "Jadi kenapa kau kesini? Aku yakin kau tidak menginginkan petunjuk dengan semua pelatih fantastis yang kau miliki di Vegas. Kau datang untuk memamerkan kesuksesanmu?"
"Astaga, Kim, tidak bisakah kau menyingkirkan kebencianmu satu menit saja?" Ketika yang dilakukannya oleh ayahnya hanya mendengus, Jongin bernafas dalam dan mencoba untuk sopan. "Aku akan ada pertarungan. Itu adalah pertarungan untuk memenangkan kembali sabukku dari Sanchu."
"Yah, aku tahu itu semua." Jongkook menunjuk lengan Jongin. "Bahumu sudah sembuh?"
Kenyataan bahwa ayahnya tahu tentang pertarungannya dan lukanya tidak seharusnya mengejutkannya. Apabila ia menjadi pelatih yang aktif itu masuk akal bahwa ia tetap mengikuti berita olahraga. Tapi jika sialan anak kecil di dalam Jongin tidak membumbung karena bangga mengetahui ayahnya tahu tentang kehidupannya. Anak bodoh.
"Yah, hampir seratus persen. Aku sudah bekerja dengan PT yang terbaik. Ia mengerjakan di setiap otot. Sebenarnya, kau tahu siapa dia. Kyungsoo, adik Do Yifan. Kau ingat?"
Jongin sengaja membawa nama keluarga D.O pada ayahnya untuk sebuah alasan. Saat Jongin meluangkan waktu ia berada di rumah Yifan, hubungan antara orang tua sudah menegang.
Ayahnya menggosok rahangnya dengan satu tangan mencoba mengingat kembali. Lalu mendengus. "Sedikit. Agak kurus dan canggung kalau ingatanku benar."
"Tidak lagi," kata Jongin dengan senyum simpul. "Dia sangat cantik, tidak perlu disebutkan bahwa dia luar biasa. Tapi, yah, salah satunya."
Jongkook membungkuk, matanya menyipit, "Kau mencintainya atau semacam itu?"
"Tidak, bukan seperti itu. Maksudku, yah, aku sangat peduli padanya " Jongin mengumpat saat menghembuskan nafasnya. "Aku berpikir tentang kemungkinan mencoba untuk memulai sebuah hubungan. Lihat saja kemana arahnya."
Jongkook menunjuk dengan jarinya. "Sekarang dengarkan aku, anak muda. Kau mungkin sedang berada di puncak karirmu, tapi aku akan dikutuk jika kau tidak bisa menjamin untuk tetap berada di atas selama yang kau bisa dengan usia yang kau miliki. Kau bodoh sekali untuk membuang semuanya hanya untuk seorang wanita."
Jongin menatap pria tua di hadapannya dan menggertakkan rahangnya untuk mencegah dirinya berteriak dan membuat drama. "Aku tidak membuang apapun. Banyak yang tetap berada diatas dan mempunyai hubungan sementara berkarir di UFC. Beberapa malah ada yang menikah."
"Dan berapa dari" Jongkook berhenti untuk membuat catatan di setiap kata berikutnya "hubungan mereka yang bisa bertahan? Aku akan memberitahumu sekarang, disana hanya ada dua macam wanita. Tipe yang menyukai gaya hidup, ketenaran, dan suka berpergian. Itu yang mereka bangun dan itu sesuai dengan semua hal yang mereka inginkan untuk memilikinya. Tapi segera setelah semuanya yang kau miliki menghilang, mereka pun akan pergi meninggalkanmu."
"Jadi kau memiliki wanita yang yang tidak menginginkan kehidupan itu. Mulanya mereka mungkin memang tidak menginkannya, namun kemudian mereka akan mengatakan pada diri mereka sendiri bahwa keadaan akan membaik dan hubungan itu membutuhkan kemudian mereka meyadari mereka pantas memiliki lebih dari pada apa yang yang bisa kita berikan, dan kemudian mereka pergi, juga."
Jongin berdiri dan mendorong kursi menjauh. "Dengar, hanya karena istrimu meninggalkanmu, bukan berarti seluruh dunia dihukum dengan takdir yang sama. Kyungsoo bukan orang seperti itu."
Jongkook menggebrak mejanya saat beranjak, membabi buta, dan berdiri tepat di wajah Jongin. "Itu yang kau pikir! Kau berfikikir kau mengenalnya. Mencintainya dengan seluruh yang kau punya dan kemudian mereka memutuskan bahwa mereka lebih baik tanpamu dan mereka pergi. Itu kenyataan, Nak! Jadi jangan berpikir kau spesial dan aturan itu tidak berlaku untukmu."
Kemarahan Jongin tersulut dan ia menaikkan suaranya menyamai suara ayahnya. "Berpikir aku spesial? Darimana aku pernah memiliki ide seperti itu? Tentu saja bukan darimu. Kau tidak pernah membuatku melupakan aku hanya sebaik kemenanganku selanjutnya."
"Karena itu benar! Kita petarung, Jingin! Itulah kita, yang membedakan kita dengan yang lain."
Jongin kalah dalam pertarungan untuk mengendalikan dirinya dan membiarkan emosinya tak terkontrol. Berteriak, seperti saat ia masih muda, katanya, "Aku menyukai bertarung, tapi aku bukan hanya menjadi petarung! Bukan hanya itu yang bisa aku lakukan!"
"Oh benarkah?" Suara Jongkook akhirnya datar, tapi hanya karena dia tidak berteriak bukan berarti tanggapannya tidak tajam. "Aku duga maksudmu adalah sketsa dan patung konyolmu. Seperti yang diinginkan wanita hanyalah seorang pria yang bermain dengan tanah liat setiap bisa di percaya."
Perasaan lama yang terpendam seakan ingin naik ke permukaan, mengancam untuk mencekik nafas dari tubuhnya. Jongin tahu ia sudah melupakan kata-kata ayahnya bertahun-tahun yang lalu, tapi untuk alasan apapun, ketika dia harus berurusan dengan pria tua ini, Jongin merasa ia kembali lagi menjadi anak kecil yang ketakutan.
Ayahnya mengumpat, tenggelam dalam kursi vynil lagi, dan menyeret kedua tangannya pada wajahnya yang lelah. "Kau lakukan apa yang kau mau. Itu hidupmu. Tapi jika kau datang untuk mendapatkan nasihat dariku, ini yang bisa kukatakan: kau memiliki kehidupan dari nyalimu, Nak. Kau mendapat ketenaran, keberuntungan, dan kau bisa mendapatkan semua yang kau inginkan tanpa embel-embel. Tetaplah seperti itu...jauhkan dirimu dari sakit hati."
Jongin mendengus dan membuka pintu kantor, menggelengkan kepalanya. Ia tahu kunjungannya tidak akan berjalan baik, tapi hati nuraninya tidak ingin melupakan ayahnya. Kadang ia berharap hati nuraninya seperti belalang di dalam cerita Pinocchio. Dengan begitu ketika hati nuraninya melakukan hal yang bodoh seperti ini, ia bisa menginjaknya dengan sepatunya.
"Terima kasih untuk waktumu, Kim," ia menegakkan bahunya untuk pergi keluar."Seperti biasa,selalu menyenangkan bicara denganmu."
.
.
.
.
.
T.B.C
Double update untuk hari ini :) maaf kalau gak bisa fast update. Bener-bener sedang sibuk, jika ada waktu luang diusahakan buat fast update. Buat yang masih mau nunggubff remake ini terimakasih banyak :)
