Seducing Cinderella

by

Gina L. Max well

.

.

.

.

.

Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)

Cast : temukan sendiri :)

Genre : funny, sweet, Romance

Rate : M

.

.

.

.

Awas typo

.

.

.

.

Happy reading

.

.

.

.

.

Jongin masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju ke arah kulkas. Dia mengambil dua botol bir, menandaskan botol pertama dalam beberapa detik, dan kemudian membuka yang kedua sembari melangkahkan kakinya ke arah balkon.

Karena apartemen itu gelap, Jongin berpikir Kyungsoo masih berada di bar bersama Luhan, yang mana merupakan hal bagus karena pikiran Jongin sedang kacau dan perlu waktu sendiri untuk dibereskan semuanya. Jongin meneguk cairan dingin itu dan berharap hal itu dapat mendinginkan emosinya dari dalam. Mungkin Jongin akan mengacaukan dietnya untuk malam ini dan mabuk. Membuat dirinya sendiri kebas dalam beberapa jam jadi dia tak harus memikirkan tentang pertandingannya yang akan segera di gelar atau fakta bahwa ia harus segera meninggalkan Kyungsoo dalam beberapa hari.

Sialan, Jongin bahkan belum memberitahu Kyungsoo. Setiap kali ia mencoba memberanikan diri, semua berakhir dengan dirinya yang mencium Kyungsoo bukan memberitahu gadis itu. Dan jelas sekali bahwa hal itu tak akan berujung pada percakapan. Tak satu katapun.

Kyungsoo.

Apa yang akan Jongin lakukan padanya? Jongin tak pernah merasakan apa yang ia rasakan pada Kyungsoo dengan wanita manapun, walau hanya sedikit. Jongin bahagia bersama dengan Kyungsoo, dan jelas sekali bahwa ia menyayangi Kyungsoo. Meskipun ia merasakan hal yang sama pada Taecyeon, namun apa yang sekarang Jongin rasakan jauh lebih kuat dari rasa sayangnya pada pelatihnya sendiri. Tapi apakah ini berarti Jongin jatuh cinta pada Kyungsoo? Jongin tak tahu bagaimana ia bisa memastikan hal tersebut.

Jongin mengernyit dan meneguk bir-nya lagi. Mabuk sepertinya terdengar semakin bagus.

"Kau terlihat terlalu serius untuk malam yang indah seperti ini."

Terkejut, pria itu berbalik, siap untuk memarahi Kyungsoo karena sudah mengendap-endap dibelakangnya. hingga akhirnya Jongin melihat makhluk paling seksi yang pernah ia lihat.

Kyungsoo berdiri di pintu yang terbuka menuju balkon, kedua tangannya memegangi kedua sisi dari kusen pintu, dan satu kakinya di tekuk. Hingga saat itu, jika di tanya apa yang Jongin pikirkan tentang hal terseksi yang wanita bisa kenakan, Jongin akan menjawab lingerie transparan.

Tapi Kyungsoo tidak menggunakan lingerie, namun salah satu kemeja Jongin yang menutupi dirinya dari bahu sampai menutupi setengah pahanya mengenyahkan semua pakaian yang mungkin ia pilih dari Victoria's Secret. Rambut Kyungsoo tergerai dan lebat layaknya Jongin sudah menyusupkan jemarinya ke dalam rambut gadis itu dan Kyungsoo memiliki binar cemerlang di mata abu-abunya yang menyatakan dengan jelas tanpa harus berkata-kata.

"Omong-omong soal indah," Jongin berkata serak.

Kyungsoo mulai melangkah mundur dengan perlahan, tapi memberi isyarat pada Jongin untuk mengikutinya dengan gerakan satu jarinya. Menghabiskan sisa bir-nya, Jongin kembali masuk ke dalam apartemen dan menggeser pintu kaca hingga menutup tanpa mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo. Ketika Kyungsoo menghilang ke arah kamar tidur, Jongin meletakkan botol bir-nya yang kosong di meja, membuang sandalnya dan berjalan menyusuri lorong hingga Jongin menemukan Kyungsoo berdiri di depan tempat tidurnya.

Tepat sesaat sebelum Jongin melangkah masuk ke dalam kamar, Kyungsoo mengangkat tangan dan memberi isyarat berhenti padanya, "Tunggu," yang secara efektif menghentikan langkah Jongin. "Kau bisa datang ke sini dengan satu syarat."

Jongin menegang dan mengepalkan tangannya, mencoba mengontrol insting memukulnya. "Dan apa itu?"

"Kau harus melakukan apa yang kukatakan. Jika kau melanggar peraturanku, semuanya akan berhenti dengan segera."

Perlahan sebuah senyuman terbentuk di wajah Jongin. Kyungsoo mencoba untuk menggodanya. Pria itu menundukkan kepalanya. "Aku setuju." Untuk saat ini, tambah Jongin dalam pikirannya.

"Kalau begitu kemarilah dan cium aku."

Tiap langkah yang dengan sengaja Jongin buat perlahan ketika menghapiri Kyungsoo, mencoba untuk melihat apakah ia bisa mengambil alih kendali dengan intimidasi seperti itu. Jongin tak bermaksud untuk mengacaukan usaha pertama Kyungsoo dalam memegang kendali. Jongin ingin menguji Kyungsoo. Memaksanya. Melihat apakah Kyungsoo bisa membuat Jongin tetap mengikuti peraturannya. Oh yeah, Jongin pikir ketika ia tiba dihadapan Kyungsoo, semuanya akan jadi menyenangkan.

Jongin menyusupkan satu tangannya ke tengkuk dan melingkarkan tangannya yang lain di pinggang Kyungsoo tepat sebelum mencium bibir gadis itu. Dan ia melakukannya dengan jantan. Merengkuh rambut Kyungsoo, Jongin mengarahkan kepalanya dan mendorong lidahnya masuk untuk menikmatinya. Tubuh Kyungsoo meleleh dalam pelukan Jongin dan ia berpikir apakah usaha Kyungsoo untuk menggodanya belum benar-benar berakhir.

Tak lama pikiran itu terbang menghilang ketika Kyungsoo mendorong dada Jongin untuk melepaskan pelukan Jongin darinya. Mereka saling menatap satu sama lain, dada naik turun karena napas yang berat. Bibir merah delimanya, sedikit bengkak karena ciuman dari Jongin, mengundang. Kyungsoo hanya beberapa inchi jaraknya dari Jongin dan ia sangat menginginkan Kyungsoo. Petarung dalam tubuhnya menyentakkan rantai yang menahannya dalam perjanjian yang sudah Jongin setujui sebelumnya, ingin mengambil alih, kembali memegang kendali.

Namun Jongin menunggu.

Menunggu hingga bibir bengkak itu menguak senyuman nakal yang paling seksi. Penantian yang menjanjikan hadiah yang paling menggairahkan, yang mana menjadi kesukaannya. Mungkin kesabaran merupakan sesuatu yang bagus.

Kyungsoo menuntun Jongin hingga punggung Jongin berada di tempat tidur. Menarik keliman dari T-shirt yang Jongin kenakan, perlahan Kyungsoo menariknya ke atas. Buku jari Kyungsoo hanya sedikit menyentuh kulit Jongin namun sensasi yang terasa seperti listrik yang menyengat langsung ke bolanya. Setelah Kyungsoo membebaskan pria itu dari kaosnya, Kyungsoo meletakkan tangannya di bahu Jongin dan menyapukannya ke setiap inchi dari tubuhnya, jemari Kyungsoo bergerak mengikuti tekstur otot pria itu seperti halnya ia berusaha menyimpan itu ke dalam memorinya.

Selanjutnya kedua tangan itu bergerak menuju sabuk dan kancing celana jeans Jongin. Jongin sudah setengah ereksi hanya dengan melihat Kyungsoo mengenakan kemejanya dan menciumnya membabi-buta, tapi dengan tangan kecil Kyungsoo berada begitu dekat dan rasa antisipasi dari hal yang akan terjadi, kini kejantanannya sudah siap dan menggeliat ingin keluar.

Saat Kyungsoo menurunkan jeans Jongin, ia bersimpuh di lantai mengirimkan gambaran erotis ke otak pria itu dengan segala kemungkinan yang akan terjadi dengan Kyungsoo berada di posisi seperti itu. Setelah jeans terlepas tangan Kyungsoo kembali ke paha Jongin dan tatapan matanya mencari mata Jongin. Bibir Kyungsoo begitu dekat dengan ereksi Jongin hingga ia bisa merasakan kehangatan dari napasnya melewati kain celana dalamnya, membuat Jongin semakin keras, lebih keras dari apa yang mungkin ia pernah pikirkan.

Mata Kyungsoo tak pernah melepaskan tatapan pada Jongin ketika ia mengarahkan bibirnya ke atas kejantanan Jongin dan menggunakan giginya untuk menyentuh di bagian kepalanya. Terdengar erangan dari dalam tenggorokan Jongin dan kejantanannya bergerak merespon. "Ah sialan. Kau membunuhku," teriaknya.

Kyungsoo tersenyum ke arah Jongin, jelas begitu bangga pada dirinya sendiri, memang sudah seharusnya. Entah karena Kyungsoo merupakan seorang yang natural yang baru saja keluar dari dalam cangkangnya, atau Jongin merupakan guru yang lebih baik daripada yang ia pikirkan.

Jemari Kyungsoo mengait di celana dalam Jongin dan sedetik kemudian Jongin berdiri menjulang, benar-benar telanjang, ereksinya mencuat dari tubuhnya menunjuk ke arah yang seharusnya. Mata abu-abu Kyungsoo terlihat seperti perak cair, membakar Jongin saat mata itu menatap ereksinya.

Dengan perlahan Kyungsoo menggunakan ujung jemarinya untuk mengeksplorasi konturnya dari pangkal hingga ke ujung. Gesekan dari kulit Kyungsoo dan goresan lembut kukunya ketika jemari itu di gerakkan melewati kepala kejantanan Jongin yang membengkak membuat pria itu hampir gila. Secara naluriah tangan Jongin membungkus kepala Kyungsoo, menyentuh rambutnya, siap untuk memandu bibir manis Kyungsoo ke arah kejantanannya.

"Tidak," kata Kyungsoo tegas. "Berpeganglah pada tiang ranjang."

Jongin memberikan Kyungsoo senyuman masam sembari mengikuti perintahnya. Jongin sudah lupa akan siapa yang seharusnya memegang kendali. Sudah kebiasaaan.

"Letakkan tanganmu di sana. Jika kau menggerakkannya sedikit saja, aku akan menghentikan apapun yang kulakukan."

Ketika Kyungsoo menaikkan alisnya untuk menanyakan apakah Jongin mengerti konsekuensi dari pelanggaran, Jongin mengangguk. Kemudian berharap bahwa Jongin tidak meledak seketika saat bibir Kyungsoo menyentuh kejantanan Jongin untuk pertama kalinya.

Kembali berlutut, Kyungsoo melingkarkan satu tangan lembutnya di pangkal ereksi Jongin, memposisikannya ke mulut. Setetes precum muncul dari ujungnya. Jika selama ini Jongin pikir Kyungsoo ragu atau malu tentang sesuatu yang begitu mendalam, dia salah. Malah, kilatan lapar terlihat dari mata abu-abunya ketika Kyungsoo menyapu ujung ereksinya dengan satu jilatan panjang. Jongin mendesis, rasa dari lidahnya yang lembut dan dikombinasikan dengan melihat Kyungsoo melakukan itu-bukan wanita sembarangan, tapi wanitanya berlutut didepannya, dikategorikan sebagai hal yang paling erotis yang pernah Jongin alami.

Akhirnya Kyungsoo membuka bibirnya yang manis dan membungkus ereksi Jongin sejauh yang bisa ia masukkan, lidahnya menyapu dan memijat lembut, pipinya cekung karena hisapan yang ia buat dengan bibir merah delimanya dengan segenap tenaga sebelum menelan Jongin lagi.

Menit selanjutnya terpecah menjadi fragmen keabadian ketika Kyungsoo menyiksa Jongin dengan siksaan yang manis. Mulutnya yang panas dan lidah yang penuh dosa membuat enam ratus empat puluh ototnya tegang seperti busur. Pada satu saat, Jongin takut akan mematahkan tiang ranjang Kyungsoo, tapi ia tak bisa melepaskan pegangannya karena takut Kyungsoo akan berhenti dan ia akan kehilangan sedikit kewarasan yang masih tersisa.

Kegembiraan yang meluap yang Kyungsoo berikan pada Jongin terasa seperti seseorang telah menjatuhkan korek api ke dalam ruang yang penuh dengan kembang api. Di mulai dengan satu atau dua percikan, tapi percikan itu segera merambat ke samping, dan sampingnya lagi dan lagi, hingga tubuhnya terasa seperti perayaan Empat Juli.

Klimaks menghantamnya begitu cepat dan keras hingga Jongin tak punya kesempatan untuk memperingatkan Kyungsoo. Jongin mencoba untuk melakukan hal yang seharusnya pria jantan lakukan dan menarik diri, namun Kyungsoo memegangi pantatnya dan menancapkan jemarinya sembari menelan Jongin dalam-dalam. Semua kehendak sopan yang ingin Jongin lakukan berubah menjadi asap bersamaan dengan sengatan kuku Kyungsoo didagingnya dan, mendongakkan kepalanya ke belakang dan pinggulnya ke depan, Jongin meraung ketika ia klimaks hingga Kyungsoo menelan setiap tetesan yang Jongin berikan.

Saat bintang mulai menghilang dari pandangannya, Kyungsoo berdiri dan mundur perlahan, menelusuri jemarinya ke atas krah kemeja yang terbuka yang ia kenakan.

"Apa yang kau lakukan sekarang?"

"Aku sedang mengurusmu." Kyungsoo duduk dengan eskpresi wajah serius di atas kursi untuk meja rias yang berada di depan tempat tidur. "Sekarang aku akan mengurus diriku sendiri."

"Aku yakin itu adalah hakku," kata Jongin, melepaskan tiang ranjang.

Sebelum Jongin maju, Kyungsoo menggerakkan jemarinya ke kiri dan ke kanan. "Ah-ah-ah. Jadilah anak baik dan tetap diam di tempatmu berada."

"Anak baik?" Jongin mendengus. "Biarkan aku datang kesana dan aku akan menunjukkan padamu seberapa dewasanya diriku, sweetheart."

Kyungsoo melepaskan kancing paling bawah dari kemeja yang ia kenakan. Kemudian selanjutnya menunjukkan celana dalam sutranya yang berwarna biru. Kyungsoo memberikan Jongin senyuman licik dan berkata, "Jika kau ingin membuktikan padaku seberapa dewasanya dirimu, maka kau akan melawan insting yang menggerogotimu dan tetap diam. Dimana. Kau. Berada."

Pintar. Sekarang jika Jongin bergerak dia akan mendapat sebutan perempuan. Dan semua karena Jongin begitu menginginkan Kyungsoo lebih daripada ia menginginkan udara saat itu. Saat semua ini sudah berakhir ia akan memberi tahu Kyungsoo bahwa dalam keadaan apapun ia akan menggoda mulai sekarang. Sepanas menonton Kyungsoo memainkan permainannya, Jongin adalah seseorang yang gila kontrol dalam seks. Setelah ini, dia akan mencari minuman di waktu istirahat mereka. Jongin tak sabar menunggu.

Kemudian hal itu menyadarkannya. Tak banyak waktu yang tersisa untuk bercinta dengan Kyungsoo. Berdasarkan jadwal mereka, Kyungsoo dan Jongin hanya memiliki beberapa waktu lagi untuk bersama, maksimal. Kenyataan itu menghantam Jongin layaknya pukulan ke solar plexus, hampir membuat Jongin pingsan.

Jangan pikirkan hal itu sekarang. Jongin tak ingin apapun mengganggu waktu berharga yang ia miliki dengan Kyungsoo. Jongin akan membuat tiap detiknya berharga hingga bel terakhir dibunyikan.

"Sesuai keinginan anda, tuan putri."

Satu kancing lainnya terbuka, bersamaan dengan tawa hangat Kyungsoo. "Aku suka film itu. Jadi sekarang kau adalah farm boy-ku, begitu kah?" Jongin menaik-naikan satu alisnya sebagai jawaban membuat Kyungsoo terkiki lagi, tapi kemudian Kyungsoo menggerakkan kepalanya ke samping dan berekspresi tenang kembali. "Kau tahu, semanis dan seheroik Wesley, aku tak bisa membuat diriku sendiri berpura-pura kau adalah orang lain." Kancing terakhir yang menyatukan kemeja itu, tergelincir dari lubangnya dan kemeja itu terbuka menunjukkan payudara Kyungsoo yang sempurna. "Kau, Kim Jongin, adalah yang kuinginkan."

Meskipun otaknya mencoba untuk berkata bahwa yang Kyungsoo maksud adalah disini dan saat ini karena bukanlah rahasia siapa yang Kyungsoo inginkan sebenarnya selama ini -Jongin- tak bisa menghentikan jantungnya berdetak kencang seakan melompat dari dadanya.

"Itu bagus, Kyung. Karena kau adalah yang kuinginkan juga." Sekarang dan setiap hari setelahnya.

Sialan, Jongin harus berhenti berpikir seperti itu. Jongin harus berhenti berpikir panjang dan membiarkan dirinya bebas untuk saat itu. Untuk wanita yang ia miliki saat itu.

"Mmm," Kyungsoo mengerang saat ia memainkan puting di antara jempol dan jari telunjuknya. "Seberapa besar?"

Mata pria itu melekat pada payudara Kyungsoo saat gadis itu melanjutkan memainkan dan memanjakan payudaranya. "Seberapa besar apanya?" katanya serak.

Kyungsoo bersender di dinding. Satu tangan turun keperutnya yang rata menuju kemaluannya dan mengelus kain biru nan tipis disana. "Seberapa besar kau menginginkanku?"

Seluruh tubuh Jongin bergetar karena menahan tubuhnya tetap berada di tempat. Tangannya mengepal karena rasa gatal untuk menyentuh kulit Kyungsoo yang lembut. Mulut Jongin berair karena memikirkan menghisap tonjolan dipayudaranya dan menjilati cairan di antara kakinya.

Menarik celana dalam itu ke samping Kyungsoo menggunakan tangannya yang lain untuk mengelus bibir lembut kemaluannya, menyisipkan satu jari diantaranya untuk menyentuh pusat basah. Kyungsoo terlihat seperti keluar dari mimpi basah Jongin. Pantat yang bertengger di pinggir kuris dan bersandar dengan bahu yang menekan dinding. Kemejanya terbuka dan tergantung dibahunya dengan rambut yang terbagi di sisi lehernya. Dan kaki jenjang Kyungsoo terbuka lebar, tertumpu pada tumitnya, sementara jemarinya mengeksplor surga dunia bagi Jongin.

"Sangat ingin." Suara Jongin lebih rendah dari biasanya dan Jongin menyadari suara itu lebih terdengar seperti geraman. Wanita itu mengeluarkan sisi binatang Jongin lebih dari wanita lainnya.

Jari tengah Kyungsoo dimasukkan ke dalam, matanya menutup dan punggungnya melenting bersamaan dengan gerakan memutar yang jarinya lakukan. Saat Kyungsoo mengeluarkan jarinya, tubuhnya kembali rileks dan matanya berkedip terbuka. Kemudian Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan genit sembari membawa jari itu kemulutnya dan melumasi bibir bawahnya dengan cairannya sendiri.

Jongin mendengar raungan keras dan membutuhkan waktu satu detik baginya untuk menyadari bahwa raungan itu berasal dari dalam dirinya sendiri.

"Seberapa ingin?" Kyungsoo bertanya sebelum menjilat bibirnya dengan ujung dari lidah raspberry-nya.

"Sangat ingin hingga terasa menyakitkan." Jongin melirik kejantanannya yang sudah tegang lagi dengan begitu cepat setelah Kyungsoo membuatnya orgasme dengan mulutnya, kemudian kembali melihat pada Kyungsoo. "Secara harafiah."

Senyuman menggoda terkuak di wajah Kyungsoo. "Kalau begitu kemarilah dan tangkap aku, tampan."

Jongin bergerak secapat yang ia lakukan di octagon, membuat jarak beberapa kaki di antara mereka terasa seperti hanya beberapa inchi. Tangan Jongin menyusup ke dalam rambut Kyungsoo di sisi lain wajahnya dan ia membungkuk untuk menaklukkan bibir Kyungsoo dan menghisap sisa-sisa yang Kyungsoo tinggalkan dibibirnya.

Ciuman mereka tidaklah pelan ataupun lembut, tapi dalam dan dahsyat, secara konstan merubah posisi saat mereka menikmati satu sama lain.

Akhirnya Jongin melepaskan mulutnya dari mulut Kyungsoo untuk bersimpuh di antara kakinya. Jongin menarik tangannya ke bawah tubuh Kyungsoo hingga mereka mencapai kedua payudaranya yang sempurna dimana kedua tangan itu mulai menangkup dan meremas dan mencubit putingnya yang membengkak, membuat Kyungsoo menggeliat di kursi dan napasnya semakin cepat.

"Kau sangat indah," kata Jongin, sesaat sebelum ia menutup mulutnya di sekitar puting yang mengeras dan menghisapnya keras.

Kyungsoo merintih dan memegangi kepala Jongin, kukunya menggores kulit kepalanya melewati rambut Jongin yang pendek, mencoba untuk menariknya lebih dekat. Jongin meletakan tangannya di punggung Kyungsoo, memegangin ya agar tak terjatuh. Bergantian satu dengan lainnya, Jongin mencium bagian itu sama seperti ketika ia mencium mulut Kyungsoo, dengan lidah menjilat, gigi yang menyentuh kulit, bibir menghisap.

"Oh, Tuhan, Jongin..."

Perut Kyungsoo menekan dada Jongin dengan kakinya yang mengait di punggung Jongin tepat di bawah tangan Jongin. Dan diantaranya, pinggul Kyungsoo menempelkan kemaluannya yang panas di otot Jongin, mencari-cari orgasme.

Jongin mencium jalannya ke atas tubuh Kyungsoo, menguak suara erotis dari dalam tenggorokan wanitanya. Menyematkan satu ciuman terakhir tepat di atas jantung Kyungsoo, Jongin mengangkat kepalanya dan menemukan Kyungsoo sedang menatapnya dengan Tatapan -Itu- tatapan yang memberi isyarat pada seorang pria ketika seorang wanita meninggalkan Kota mari bersenang-senang dan berjalan lurus menuju Mari Pilih China Town-tertulis di seluruh wajahnya yang cantik.

Normalnya, Tatapan Itu membuat Jongin melupakan keperluan yang mendesak dan berlari ke arah sebaliknya. Jongin menyampirkan rambut Kyungsoo ke belakang telinganya dan memperlajari ekspresi Kyungsoo untuk beberapa saat, menunggu untuk respon familiar untuk melaju lebih jauh. Tapi semua yang Jongin rasakan adalah keinginan untuk memeluknya erat. Kebutuhan untuk bercinta dengan Kyungsoo hingga otot terasa lelah dan memaksa mereka beristirahat.

Itu adalah saat yang Jongin maksud, Jongin tahu bahwa meskipun ia memiliki janji sungguhan, ia akan mengabaikannya hanya untuk tetap tinggal bersama Kyungsoo. Itu adalah saat dimana ia tahu bahwa ia mencintai Kyungsoo.

"Jongin?" kata Kyungsoo lembut. "Kau menatapku dengan aneh."

"Benarkah?"

Kyungsoo mengangguk.

Jongin melepas kaosnya, kemudian mengangkat Kyungsoo dengan tangannya saat ia berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur. Setelah Kyungsoo diletakkan di tengah tempat tidur, Jongin memanjat ke atas, tidur di samping Kyungsoo dengan posisi miring, dan meletakkan satu tangan ke bawah kepalanya sementara tangannya yang lain menggambar pola sederhana di atas tubuh Kyungsoo. "Aneh bagaimana?"

"Aku tak yakin. Aku bahkan belum pernah melihat tatapan itu sebelumnya."

Napas Kyungsoo menjadi lebih dalam dan putingnya mencuat saat Jongin memainkan jemarinya di sekitar bukit lembut payudaranya. "Aku tak yakin ada sembarang orang yang pernah melihat tatapanku itu, tapi kau bukan sembarang orang, benar kan?" Jongin mengecup bahu Kyungsoo dan mengangkat kepalanya untuk melihat alis mata Kyungsoo yang membeku dan bibir bawahnya yang terpenjara di antara giginya. "Kau spesial. Kau tahu itu kan, Kyungsoo?"

Kyungsoo tersenyum dan mengangguk.

Kyungsoo berbohong.

Senyumannya adalah salah satu senyuman yang paling sedih yang pernah Jongin lihat dan itu membunuhnya karena ia tahu Kyungsoo masih merasakan ketidakamanan. Ketidakamanan yang tidak ada urusan dengan seorang wanita yang luar biasa seperti Kyungsoo.

Jongin menganggap itu sebagai hinaan pribadi. Satu hinaan yang akan ia benahi.

.

.

.

Sebelumnya, ketika Kyungsoo sedang menunggu Jongin pulang ke rumah dengan gelisah, Kyungsoo sudah membuat keputusan. Tak akan lagi ia mengabaikan apa yang ada didepannya hanya karena teori kecocokan yang menggelikan yang didasarkan oleh hubungan yang gagal. Itu adalah saat untuk jujur dengan dirinya sendiri jujur pada Jongin dan memeluk perasaan yang sebenarnya untuk pria yang mengenalnya lebih dari pria lain.

Dan waktunya adalah sekarang.

Jongin memperhatikan Kyungsoo dengan intensitas yang tak pernah Kyungsoo sadari. Mata Jongin, lingkaran berwarna hijau lumut dengan campuran warna topaz, menatap ke dalam mata Kyungsoo. Insting Kyungsoo begitu kuat untuk mengalihkan pandangannya, untuk melindungi dirinya sendiri bukan hanya untuk melawan Jongin, tapi untuk melawan apa yang ia rasakan pada pria itu. Itu semua karena insting yang dia pegang teguh dan membiarkan Jongin masuk.

Kyungsoo bergetar pelan saat ia berbaring di sana, jantung dan jiwanya terekspos pada seorang pria dengan kekuatan yang dapat menghancurkan keduanya. Tak pernah ada keraguan bahwa Kyungsoo mencintainya, tidak saat ia merasa begitu peka, begitu takut.

Kulit tebal di ujung jemari Jongin mengelus pipi Kyungsoo sebelum masuk ke dalam rimbunan rambutnya. Wajah tampannya hanya beberapa inchi jauhnya dari wajah Kyungsoo namun rasanya seperti bermil-mil jaraknya.

"Sayang, kau gemetar," Jongin berbisik.

"Tidak, aku tidak gemetar."

Jongin tersenyum sembari menyundul pipi Kyungsoo dengan hidungnya dan mengecup rahangnya. "Yeah, kau gemetar. Jangan khawatir. Aku akan mengurusmu."

Sebelum otak Kyungsoo bingung akan yang di maksud oleh Jongin tentang mengurusnya selama enam puluh menit atau enam puluh tahun dari saat itu, Jongin sudah mengklaim bibir Kyungsoo dalam ciuman yang sangat sensual abad itu dan menghancurkan segala harapan aktifitas otaknya selama beberapa saat ke depan.

Bibir Jongin bergerak di atas bibir Kyungsoo, mengeksplor lekukan dan kontur, giginya mengigit lembut, merasakan penuhnya bibir bawah Kyungsoo, dan lidahnya menelusuri lekukan dalam bibir atas Kyungsoo. Setiap kali lidah Kyungsoo bergerak maju, Jongin mundur, tak membiarkan Kyungsoo berpartisipasi dengannya. Berkali-kali Kyungsoo mencoba untuk membalas ciuman Jongin, tapi dengan ahli Jongin menghindari usaha Kyungsoo sambil melanjutkan eksplorasinya.

Frustasi dan gairah seksual meningkat di dalam intiya. Tangan Kyungsoo memegangi kepala pria itu untuk menahannya di tempat dan Kyungsoo menghadiahkannya dengan ciuman yang begitu dalam. Kyungsoo mengerang, merasakan dirinya sendiri di lidah Jongin. Sebelum Jongin, Kyungsoo tak pernah tahu betapa nikmat yang seorang pria dapat berikan pada kemaluannya. Dan Kyungsoo tak pernah berimajinasi betapa ia sangat suka mencium Jongin setelah ia melakukan hal itu.

Kemenangan kecil Kyungsoo tak bertahan lama. Setelah beberapa saat, Jongin memegang kedua pergelangan tangan Kyungsoo dan menahannya di matras di atas kepalanya sembari Jongin bergerak ke atas Kyungsoo. Pinggul Jongin ditempatkan di tengah paha Kyungsoo, ereksinya yang besar meringkuk di antara lipatannya.

Jongin merundukkan kepalanya untuk mengecup leher Kyungsoo dan membuat jalur dengan jilatan menuju telinganya. Jongin mengigit lembut telinga Kyungsoo dan menghisapnya untuk menghilangkan rasa sakit yang ditimbulkan. Melepaskannya, kemudian Jongin berbicara, napasnya yang hangat menyapu lembut rambut Kyungsoo. "Kyungsoo, sayang, kau membuatku gila, kau tahu itu? Kau tak tahu seberapa berat aku mengontrol diriku sendiri agar tidak menyetubuhimu dengan kasar layaknya pria gila."

Kyungsoo melentingkan tubuhnya, mendukung Jongin. "Tak perlu menahan diri. Setubuhi aku," Kyungsoo memohon.

Menaikkan tubuhnya ke atas untuk melihat ke dalam mata Kyungsoo, Jongin berkata, "Oh, tentu aku akan melakukannya. Tapi kali ini aku akan menikmati tiap momen yang terjadi. Aku akan menikmati waktuku dalam menyayangimu malam ini."

Kyungsoo membuka mulutnya untuk berargumen saat Jongin memposisikan pinggulnya, memasukkan ereksinya hingga menyentuh dan menggosok klitoris Kyungsoo, dan argumen wanita itu berubah menjadi erangan nada tinggi.

"Tak boleh bicara. Hanya merasakan." Jongin mengulangi gerakan itu, membuat Kyungsoo melihat bintang-bintang. "Mengerti?"

Kyungsoo mengangguk. Dia akan menyetujui apapun selama Jongin tetap melakukan gerakan itu padanya.

Jongin mencium ke bawah tubuh Kyungsoo, meninggalkan jejak basah di atas payudaranya, turun ke bawah rusuknya, dan melewati perutnya. Tangan Jongin membuka paha Kyungsoo lebar, membuka selebar-lebarnya. Kyungsoo melirik tubuhnya saat Jongin meletakkan kepalanya tepat di atas pelvisnya, napasnya berhembus di atas kulitnya yang basah dan mengirimkan sensasi getar kenikmatan yang membuat putingnya mengeras.

Saat ini Jongin membuka matanya, menaikan tingkat keintiman ke dalam setiap aksinya di mulai dengan memberikan jilatan panjang di inti Kyungsoo.

"Salah satu hal yang kusukai adalah membawamu ke batas orgasme," kata Jongin, suaranya rendah dan kasar. "Ekspresimu sesaat sebelum kau orgasme adalah kecantikan yang murni."

Jilatan lain dari lidah Jongin dengan jentikkan di atas klitorisnya.

"Oh!"

"Benar begitu, sayang. Lihatlah aku. Lihat aku bercinta denganmu menggunakan mulutku."

Itu adalah kalimat terakhir yang dikatakan Jongin sebelum melakukan apa yang ia maksud dengan baik. Jongin menjilat dan menghisap layaknya ia sedang mencium bibir Kyungsoo, lidahnya masuk ke dalam intinya, menggumamkan apresiasi pada rasa Kyungsoo.

Kyungsoo terengah-engah dan mengepalkan tangannya di atas selimut. Pinggulnya mulai menghentak secara insting melawan lidah Jongin, membutuhkan gerakan yang konsisten diklitorisnya untuk menyamai denyut di dalam yang semakin cepat.

"Oh, Tuhan, aku butuh kau di dalam tubuhku," Kyungsoo berteriak. "Jongin, please!"

"Belum," kata Jongin dengan suara yang sama tersiksanya dengan Kyungsoo. "Batas. Kau belum sampai disana."

Apa Jongin bercanda? Kyungsoo sangat merasakan di sudah dalam batas. Jika Kyungsoo tak mendapatkan sesuatu di dalam tubuhnya dalam beberapa detik, Kyungsoo akan lepas kendali.

Jongin menggantikan lidahnya dengan dua jari, dengan cepat menggosok tonjolan syaraf sensitif sementara mulutnya menghisap bibir kemaluan Kyungsoo dan menggigit paha bagian dalamnya. Kilauan keringat kini melapisi tubuh Kyungsoo dan aroma gairah Kyungsoo tercium di udara mengkonfirmasi keahlian oral Jongin. Jongin membuat Kyungsoo hampir gila dan menikmati tiap detiknya.

Kyungsoo melepaskan selimut untuk menstimulasi putingnya dan meramas payudaranya sendiri. Kyungsoo terlalu minder untuk bermain dengan bagian tubuhnya sendiri sebelumnya, tapi keinginan untuk menyentuh bagian-bagian itu terlalu besar. Puntiran yang Kyungsoo berikan pada putingnya langsung berdampak pada pusatnya, dan ketegangan diperutnya mengencang lagi dan lagi.

Pandangan Kyungsoo mulai tidak fokus, tapi ia mendengar Jongin meraung, "Luar biasa indah" sambil bergerak ke atas dan memasuki tubuhnya saat Kyungsoo mencapai batas yang ia maksud dan melewatinya.

Tak bisa menahan dirinya sendiri, Kyungsoo berteriak dan melenting ke arah Jongin saat bagian dalam tubuhnya meledak dan melesakkan ereksi besar Jongin yang kini memenuhi lubang kosong dalam tubuh Kyungsoo. Jongin mengerang di leher Kyungsoo dan mengencangkan lengannya di sekitar tubuh Kyungsoo saat terusan tubuh Kyungsoo mengejang dan bergetar yang mengirimkan gelombang ke seluruh tubuhnya dari ujung kakinya hingga akar rambutnya.

"Sialan, kau terasa luar biasa."

Kyungsoo menyetujuinya, tapi bahkan kata paling simple tampak sulit diucapkan baginya. Saat Kyungsoo sadarkan diri, terbungkus dalam euforia yang tak pernah ia tahu ada, mulut Jongin menangkap mulutnya dalam ciuman yang manis dan lemah.

Hilang dalam paska klimaks yang berkabut dan tarian sensual lidah mereka, tubuh Kyungsoo mengejang merespon ketika Jongin mulai menarik, ereksinya yang besar menggosok dinding sensitif kemaluannya.

Setelah Jongin hampir keluar dari dalam tubuhnya, ia kembali masuk, pelan dan hati-hati, hingga Kyungsoo menerima seluruh kejantanannya lagi. Kyungsoo terkesiap dan mendongakkan kepalanya, menyudahi ciuman mereka. Sensasinya terlalu berlebihan, terlalu cepat. Kyungsoo tak kan pernah selamat.

Kyungsoo meletakkan tangannya di bahu Jongin dan mendorong dengan kekuatan yang setara dengan bayi burung, matanya memohon. "Jongin, aku tak bisa..."

"Shh," kata Jongin di bibir Kyungsoo. "Ya, kau bisa." Jongin melepaskan tangan Kyungsoo, mengaitkan jemari mereka, dan menaruhnya di atas kepala Kyungsoo saat ia mulai menarik tubuhnya lagi. Menahan dirinya sendiri di pintu masuk tubuh Kyungsoo, Jongin berbisik, "Percaya padaku."

Itu bukanlah pernyataan arogan. Menatap ke dalam mata Jongin, Kyungsoo menyadari itu adalah permohonan. Sama halnya Jongin mengatakan, Percaya padaku untuk memberimu kepuasan. Percaya padaku untuk menjagamu. Dan Kyungsoo berharap, Percaya padaku untuk mencintaimu.

"Aku percaya padamu."

Bibir Jongin menghantam bibirnya dalam ciuman yang memabukkan saat Jongin memasukkan tubuh sepenuhnya. Kyungsoo berpikir cepat bahwa ini pasti merupakan definisi dari nikmat yang sakit, ingin mendorong Jongin menjauh dan menariknya mendekat pada saat bersamaan.

Tapi hanya perlu beberapa saat sebelum kenikmatan mencengkramnya dan yang ia pikirkan adalah rasa dari tubuh Jongin bergerak dalam tubuhnya, melengkapi Kyungsoo seperti tak ada hal lain yang bisa melakukannya.

Waktu berhenti, putaran dunia berhenti dalam dunia mereka sendiri ketika mereka bercinta selamanya. Tubuh mereka, keringat licin, bergerak menjadi satu, sama carinya dengan ombak lautan yang bergulung.

Gerakan tubuh Jongin yang perlahan dan menyiksa akhirnya musnah, pinggulnya bergerak lebih cepat, napas mereka menjadi lebih pendek. Akhirnya ketegangan yang familiar mulai terkumpul dalam tubuh Kyungsoo, membesar dan menyebar dengan tiap hentakan kejantanan Jongin hingga gairahnya menghabisi Kyungsoo, memilikinya.

Tak dapat di percaya, Kyungsoo datang lagi, nama Jongin terkuak dari bibirnya. Tapi mengingat yang terakhir membawa Kyungsoo dengan intensitas yang kejam, orgasme kali ini membawa Kyungsoo ke dalam ketidaksadaran yang sempurna yang tampak tak kan berakhir.

"Ya Tuhan, Kyungsoo," erang Jongin, ototnya menegang dan gemetar bersamaan dengan ejakulasinya. Dan saat Jongin menebarkan benih di dalam tubuh wanita itu, Kyungsoo membayangkan Jongin juga menyebarkan cinta dihatinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

T.B.C