Seducing Cinderella

by

Gina L. Max well

.

.

.

.

.

Pairing : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)

Cast : temukan sendiri :)

Genre : funny, sweet, Romance

Rate : M

.

.

.

.

Awas typo

.

.

.

.

Happy reading

.

.

.

.

.

Jongin merengkuh tubuh Kyungsoo yang tertidur dan membiarkan dirinya mengingat setiap detail dari semua ini. Bagaimana tubuh Kyungsoo terasa pas di lekuk bahunya. Bagaimana, ketika malam hari, wanita itu menaikan kedua kakinya ke atas pinggulnya, seakan-akan ia takut Jongin akan melarikan diri apabila ia tidak melakukannya. Bagaimana rambut Kyungsoo menutupi lengannya, serta tangan wanita itu yang bersandar di atas dadanya.

Mereka bercinta dan mengobrol selama berjam-jam tadi malam, menjajaki satu sama lain dengan cara yang tak pernah dilakukan dengan siapapun sebelumnya. Bahkan meski akhirnya Jongin sadar jika ia mencintai wanita itu, ia tahu waktunya sangat terbatas, tapi ia memutuskan untuk membiarkan fantasinya bermain dalam bayang-bayang malam. Ia ingin terus terjaga, untuk memanfaatkan setiap detik waktunya bersama Kyungsoo, tapi akhirnya mereka tertidur ketika jam menunjukan dini hari. Dan saat ini, cahaya matahari pagi menerobos melalui jendela kamar tidur, mengusir jauh-jauh fantasinya, dan kembali menyadarkannya pada kenyataan yang menyakitkan.

"Hai."

Suara serak Kyungsoo di pagi hari membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Namun ketika wanita itu mengangkat kepalanya dari dada Jongin dengan senyuman nakal, jantungnya mungkin sudah berhenti sepenuhnya.

Kyungsoo menyandarkan dagunya diatas tangan Jongin dan tampak puas memperhatikan sosok pria itu. Bulu mata indahnya tampak menutup setengah dan bibirnya sedikit bengkak karena tidur, atau mungkin karena ciuman dan gigitan Jongin beberapa jam yang lalu. Rambut hitamnya berantakan, dan bahkan tampak kusut di beberapa bagian, namun tetap membingkai wajahnya dengan indah.

"Hai juga. Apa kau tidur nyenyak?"

Senyuman nakal Kyungsoo berubah menjadi senyuman lebar layaknya kucing Cheshire. "Sangat nyenyak." Ia bergerak sedikit dan memberikan sebuah ciuman lembut di bibir Jongin sebelum kembali meringkuk di sisi pria itu dan mengerang. "Bisakah kita mengambil hari libur dan tetap berada di tempat tidur?"

Kyungsoo tidak memiliki pertanyaan yang lebih baik untuk menyadarkan sebuah kenyataan bahwa Jongin tidak hidup dengan standar normal yang mana sesekali membolos bukanlah masalah besar. Jongin memejamkan matanya dan mencium ujung kepala Kyungsoi, memberikan satu remasan terakhir sebelum berajak dari tempat tidur.

Jongin meraih jeansnya dan menghentaknya sambil berkata, "Maaf sayang, tapi aku tidak bisa mengambil hari libur, dan kita tidur terlalu larut."

"Ugh, kurasa kau benar. Oke, ini rencananya," katanya sambil berlalu ke kamar mandi. "Kau bisa lari pagi dan saat kau kembali aku sudah selesai dengan yogaku, meminum kafein yang kuperlukan untuk hari ini, dan melakukan beberapa panggilan telepon."

Jongin meraih kemejanya dan menoleh ke pintu kamar mandi yang terbuka ketika ia mendengar air dari westafel mengalir. "Panggilan telepon apa?"

Kyungsoo muncul dari kamar mandi dengan jubah mandi yang pendek, menyikat gigi dan tersenyum. Berhenti cukup lama untuk bicara dengan mulut penuh pasta gigi, "Aku harus membatalkan kencanku malam ini dengan Sehun sebelum aku lupa. Kau bisa bayangkan bagaimana jika dia datang lalu aku membatalkannya?" kemudian Kyungsoo menambahkan dengan nada bernyanyi yang lucu. "Kaa-ccaauu." Katanya sambil kembali ke kamar mandi.

Jongin tertegun mendengar kata-kata Kyungsoo tentang pembatalan kencannya dengan pria itu ... tapi hanya bajingan egois yang tak ingin melihat wanita yang dicintainya terlihat bahagia, meskipun itu berarti ia tidak bisa bersama wanita itu. Sial. Jongin membersihkan tenggorokannya untuk mengucapkan tiga kata tersulit yang tidak pernah diucapkannya.

"Kau tidak harus membatalkannya."

Kyungsoo menjulurkan kepalanya dari pintu yang setengah terbuka, kedua alisnya berkerut. Ia menarik sikat gigi dari mulutnya lagi. "Apa maksudmu aku " busa biru menetes dari dagunya. " Ih, tunggu."

Ketika Kyungsoo kembali menunduk untuk meludah dan membilas mulutnya, Jongin melirik sekilas bayangan dirinya di cermin rias, dan hampir saja ia memberikan sebuah pukulan untuk menghancurkan bayangannya sendiri.

"Apa maksudmu, aku seharusnya tidak membatalkannya?"

Jongin berbalik untuk melihat Kyungsoo yang berdiri beberapa kaki jauhnya, melingkarkan kedua tangan kedadanya seolah-olah memberikan sebuah pelukan dukungan pada dirinya sendiri. Kyungsoo sudah bersiap-siap untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Jongin, yang ia pikir akan sama seperti yang dikatakan oleh mantannya yang pecundang itu. bersiap-siap untuk terluka sekali lagi.

Jongin bersumpah ia bisa merasakan sebuah pisau panas menghujam ke dalam perutnya ketika ia melihat mata lemah lembut abu-abu milik Kyungsoo. ia tidak bisa melakukannya. Ia belum bisa mendiskusikan ini. Sialnya, ia bahkan tak yakin diskusi macam apa yang harus dilakukan. Ia harus keluar dan menjernihkan pikirannya, secepat mungkin.

Jongin menghampiri Kyungsoo dengan hanya beberapa langkah, memberikan sebuah kecupan di keningnya dan berusaha terdengar seceria mungkin. "Aku hanya merasa tidak enak dengan pria ini. Maksudku, hanya satu kali kencan, dan kemudian dicampakkan di hari kedua?" Jongin menaruh tangan di atas jantungnya. "Sebagai sesama pria, biarkan aku mengatakan, 'Ouch.' Makan malam dengan seorang pria untuk kedua kalinya tampak seperti sebuah harga yang harus dibayar untuk menghindari kemungkinan bunuh diri yang mengerikan."

Kyungsoo tertawa lebar sambil mendengus yang membuat jantung Jongin serasa nyeri, dan kemudian mendorong dadanya dengan main-main. "Kau berlebihan. Cepat Lari, dan kita akan bicara lagi ketika kau kembali." Katanya sebelum berlalu ke dapur.

Jongin menghembuskan nafas berat. Bencana dapat dihindari ... untuk saat ini.

Jongin berganti dengan pakaian olah raganya dan dalam waktu singkat sudah berada di trotoar. Cahaya panas menjelang siang itu membakar tubuhnya lebih parah dari pada biasanya. Ritme sepatunya yang menginjak tanah tidak membuatnya tenang kali ini, malah terasa seperti hitung mundur pada bom waktu. Terus menghitung mundur hingga ia harus menerima Kyungsoo dengan keputusannya.

Pemikiran bahwa ia harus meninggalkan wanita itu membuat perutnya mual, dan otot-ototnya menegang.

Sebelum ia pergi untuk bertemu ayahnya, ia secara iseng memikirkan untuk mengajak Kyungsoo kembali bersamanya ke Vegas. Dan meskipun ia tahu ayahnya hanyalah seorang pria tua pesimis dengan sudut pandang yang sempit, ia tetap tidak bisa mendiskreditkan apapun yang ayahnya katakan.

Kyungsoo tentu tidak cocok dengan deskripsi seorang wanita yang menyukai gaya hidup seorang petarung. Ibu Jongin adalah salah satu yang masuk ke dalam kategori itu, tapi tidak dengan Kyungsoo. Wanita itu menyukai kota kecilnya dan menjadi salah satu dari segelintir fisioterapis di daerahnya, yang dengan begitu akan memberikannya kesempatan untuk benar-benar mengenal pasiennya. Dan meskipun Kyungsoo adalah salah satu orang yang paling tidak terorganisir yang pernah ditemuinya selama ini, ia tahu wanita itu juga menyukai rutinitas. Kyungsoo senang mengetahui apa yang dilakukan dan kapan harus melakukannya. Mencoba hal baru dan spontanitas dua hal yang Jongin luar biasa banggakan namun bagi Kyungsoo sendiri tidaklah mudah.

Membawanya ke Vegas akan menjadi sebuah gegar budaya yang besar baginya. Tentu dia akan bisa kembali melakukan rutinitas yang selama ini ia lakukan di sini, tapi rutinitas Kyungsoo tidak akan mencakup kebersamaan mereka ketika ia sibuk mempersiapkan pertarungan. Jongin menghabiskan hampir semua waktunya untuk berlatih, mengidealkan berat badan, dan mempelajari bagaimana untuk mengalahkan lawan yang berikutnya. Hanya akan ada sedikit waktu yang tersisa dalam rutinitas sehari-harinya selain jatuh ke tempat tidur, hanya untuk bangun keesokan harinya, dan melakukan semua itu lagi.

Belum lagi melakukan perjalanan, untuk publisitas. Cerita omong kosong yang dicetak oleh tabloid-tabloid. Semua itu adalah penghalang dalam hubungannya. Ia sudah sering melihat itu terjadi pada beberapa orang. Stres yang muncul akan menyebabkan pertengkaran dan pihak wanita berubah menjadi getir, membenci olah raga yang di lakukan oleh pasangan mereka, dan akhirnya, membenci pasangannya sendiri.

Hal itu akan membunuhnya jika ia melihat sosok manis Kyungsoo akan berubah menjadi sosok lain yang tampak letih dan kesal, semua itu hanya karena ia tidak tahan hidup tanpa Kyungsoo. Hanya karena wanita itu sempurna untuknya, bukan berarti dia harus selalu berada di sampingnya.

Kyungsoo pantas mendapatkan jauh lebih baik dari itu. Ia pantas berada tak hanya di dalam hati seorang pria, tapi juga dalam kehidupannya. Seseorang yang sesekali bisa membolos hanya untuk berbaring di tempat tidur dengannya, yang memiliki karir yang sukses dan tidak melibatkan resiko kemungkinan terkena gegar otak atau tercekik.

Seseorang yang bukan dirinya.

Saat ia mengitari tikungan terakhir menuju ke apartemen, ia memperlambat langkahnya, mengulur waktu sebanyak mungkin. Ia meletakkan tangannya di pinggang dan menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah bisa membebaskannya rasa perih yang memilin perutnya. Tapi seiring dengan setiap langkah yang diambilnya, semua itu hanya terasa makin buruk. Ia akan sangat beruntung jika bisa mandi tanpa harus menyentuh toilet.

Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Jongin merasa takut untuk bertarung.

.

.

.

.

.

Kyungsoo duduk di meja dapur, kepalanya bertumpu pada satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain mengetuk-ngetuk meja, mengikuti irama lagu tema The Lone Ranger sambil menunggu Jongin muncul dari kamar tidurnya.

Setelah jogging Jongin memberikan lambaian setengah hati sambil berjalan ke kamar mandi, dan saat ini ia sudah berada di kamarnya selama setidaknya dua puluh menit, yang artinya 18 menit lebih lama dari biasanya hanya untuk mengganti sebuah celana pendek dan t-shirt. Dan jadi beginilah Kyungsoo sekarang, merasa ketakutan, tentu saja. Tampaknya jatuh cinta bisa mengubahnya menjadi seorang remaja neurotik (gangguan urat saraf). Yippee. (Istilah bersorak)

Akhirnya Kyungsoo mendengar pintu di ujung lorong terbuka. Ia meraih pena dan berpura-pura berkonsentrasi pada teka-teki Sudoku di depannya dan menulis nomor secara acak. Syukurlah mereka tidak pernah membicarakan tentang teka-teki matematika, atau pria itu akan tahu jika ia hanya berpura-pura. Kyungsoo tidak bisa mengerjakan satupun dengan benar meskipun seandainya hidupnya bergantung pada hal itu.

Ketika ia berpura-pura tidak menyadari keberadaan Jongin di ambang pintu dapur Kyungsoo lebih baik mati daripada membiarkan pria itu tahu betapa hadirannya membuatnya gila. ia berdeham.

Kyungsoo mendongak dari korannya dengan sebuah senyuman ... yang langsung menghilang ketika ia melihat tas di tangan Jongin, serta raut wajahnya.

"Apa yang terjadi?"

"Aku mendapat telepon dari Taecyeon kalau Kasper sudah kembali, jadi ia ingin aku kembali ke kamp untuk menyelesaikan pelatihanku sebelum pertarungan melawan Sanchu."

"Oh." Kyungsoo mengabaikan sengatan yang sedikit menghancurkan harga dirinya atas sindiran bahwa ia tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik seperti orang lain, dan memandang situasi itu secara logis. "Well, itu bagus. Sangat penting bagimu untuk kembali ke rutinitas dan lingkungan normalmu."

"Ini tidak ada hubungannya dengan kemampuanmu, Kyung. Kau adalah fisioterapis yang sangat sempurna. Kau sudah menciptakan sebuah keajaiban dengan bahuku. Aku tak mungkin sembuh secepat ini dengan orang lain. Aku sungguh-sungguh."

"Terima kasih." Menenangkan harga dirinya. Kyungsoo tersenyum hangat. "Aku mengerti, sungguh. Dan karena aku masih punya waktu liburan, aku akhirnya bisa melihat Vegas!"

"Aku rasa itu bukan ide yang bagus. Aku tak akan punya waktu untuk bersama denganmu seperti di sini. Semuanya akan sangat berbeda di sana. Aku tak akan bisa membawamu bepergian. Kau akan terjebak di tempatku sepanjang hari, setiap hari."

Ada sesuatu yang salah. Apakah Jongin benar-benar khawatir bahwa dirinya akan membuat Kyungsoo marah jika ia tidak memiliki waktu untuk menghiburnya? "Tidak apa-apa. Aku bisa pergi berkeliling sendiri di siang hari."

Jongin mengusapkan tangannya ke bagian depan rambutnya dan menyeretnya hingga ke wajahnya menandakan kefrustasiannya. "Aku akan menjadi sangat lelah di malam hari untuk bisa menghabiskan waktu bersamamu, Kyungsoo. Ini seakan kau tidak melihatku sama sekali."

No. no, no, no. Ia tidak sedang melakukan apa yang wanita itu pikirkan. Kyungsoo berdiri dan bersidekap, menyipitkan matanya penuh peringatan. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini Jongin? Kau berusaha sangat keras untuk membuatku tetap berada di rumah. Dengan alasan yang benar-benar konyol, jika boleh kutambahkan."

"Dengar, kumohon jangan membuat ini jadi lebih sulit. Kau tahu aku sangat peduli padamu, tapi ini," Jongin menunjuk bolak-balik diri mereka berdua beberapa kali "hanya sementara. Ingat?"

"Ingat? Ya Jongin, aku ingat. Aku juga masih ingat ketika tadi malam semuanya berubah. Kau tidak akan berdiri di sana dan menyangkal semua itu, kan?"

Jongin tidak mengatakan apapun untuk beberapa menit atau detik? Sial, mungkin sudah satu jam, Kyungsoo tak tahu dengan tidak ada gerakan apapun darinya selain gerakan otot-otot di rahangnya. Dan itu hanya memperburuk keadaan. Urusan yang sangat besar. Dan Kyungsoo akan segera meledak.

Akhirnya Jongin memecah keheningan dengan kata-kata setajam samurai. "Semalam sangatlah menyenangkan. Sama seperti semua malam-malam lainnya. Tapi kesepakatan itu berakhir sekarang. Kau menginginkan perhatian dari Sehun dan membuatnya tertarik padamu yang mana semua berhasil aku sudah memenuhi bagian kesepakatan itu. Bagianmu adalah membantuku sembuh pada waktunya untuk kembali bertarung memperebutkan sabuk juara, dan itu juga sudah terpenuhi. Jadi sudah selesai."

"Tidak, ini belum selesai! Kau kabur seperti pengecut terkutuk, itulah yang terjadi. Jangan ada alasan omong kosong bahwa kau mengikuti aturan pada apa yang kau sebut sebagai kesepakatan kita." Adrenalin berdengung melalui pembuluh darahnya, membuatnya sedikit pusing, tapi Kyungsoo hanya sedikit bersandar ke kursi kayu untuk mempertahankan keseimbangannya dan menekankan kata-katanya. "Ada banyak hal yang berubah di antara kita, Jongin. Kau tahu itu, dan aku juga tahu."

"Kuakui semuanya berubah dari urusan klinis menjadi urusan personal, tapi memang akan sangat sulit untuk menghindarinya. Bercinta dengan seseorang yang kau pedulikan adalah hal yang personal. Tapi itu tidak cukup untuk mendasari sebuah hubungan jangka panjang, kau tahu itu."

Suara mereka meninggi, dan di suatu sudut di pikirannya, ada sebuah peringatan yang cukup keras seandainya Mrs. Egan akan mengetuk pintunya. Atau lebih buruk lagi, memanggil kakaknya. Tapi Jongin tak peduli.

"Bagaimana dengan cinta, Brengsek? Bukankah itu cukup? karena aku benar-benar jatuh cinta padamu!"

Dunia terdiam. Bahkan detak jam di dinding pun tidak berani membuat suara ketika mereka berdua saling bersitatap. Mungkin waktu sudah berhenti. Mungkin inilah saatnya di mana malaikat akan muncul tiba-tiba untuk memberikannya nasihat bijak atau memberinya kesempatan untuk memutar balikan waktu ke beberapa menit yang lalu hingga ia bisa menarik semua kata-kata yang membuatnya merasa begitu rapuh di sepanjang hidupnya.

Mata Jongin tampak membeku, mirip seperti apa yang Kyungsoo bayangkan selama ini ketika Jongin menatap lawannya sebelum wasit menyerukan tanda pertarungan dimulai. Kyungsoo tak pernah melihat matanya seperti itu sebelumnya, dan itu membunuhnya. Kemudian Jongin bicara, dan Kyungsoo sadar bahwa ia salah ...

"Kau mencintai mantan suamimu juga, Kyung. Lihatlah apa yang kau dapatkan."

Bukan hanya matanya yang membunuhnya, tapi kata-kata pria itu juga.

"Keluar," Kyungsoo berhasil menyingkirkan gumpalan di tenggorokannya dan berkedip, berusaha menahan air matanya. "Aku tak ingin melihatmu lagi."

Tanpa permintaan maaf. Tanpa keraguan. Jongin berbalik dan enam langkah selanjutnya, ia sudah keluar dari hidup wanita itu. Selamanya.

.

.

.

.

.

T.B.C